This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Monthly Archives: March 2019

BERSUNGUT-SUNGUT ATAU BERSYUKUR?

I Korintus 10:10 Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.

Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Topik yang akan kita pelajari adalah kejadian yang terjadi dalam keseharian. Perlu kita pahami, bahwa ini adalah pilihan. Bersungut-sungut atau bersyukur? Kita tidak bisa menjadikan alasan bahwa semuanya terjadi karena situasi dan kondisi.
Siapa diantara kita yang tidak pernah bersungut? Kita semua pasti pernah bersungut-sungut.
Bersungut adalah keadaan dimana kita tidak dapat menerima realita yang sedang dihadapi secara standar analisa logika. Pada umumnya hal ini dianggap lumrah .
Kalau kita analisa secara pikiran logika ada beberapa tingkatan bersungut. Misalnya ada yang sudah diajar berulang-ulang tapi tetap membangkang dan tidak mau mendengar, hal ini pastinya akan membuat kita bersungut.
Bersungut akan merusak hubungan kita secara vertikal dengan Tuhan dan juga merusak hubungan secara horisontal dengan sesama dan juga merusak pribadi kita dalam pembentukan kepribadian kita.
Jadi apapun alasannya, hal ini tetap merugikan kita dan kerugiannya banyak, bukan hanya vertikal dan horizontal tapi diri sendiri. Apalagi kalau kita sudah sampai pada tingkat persungutan yang sangat berbahaya yang bisa berurusan dengan Tuhan. Inilah yang terjadi pada Bangsa Israel yang mana semua persungutannya disertai dengan reaksi. Sepertinya sasarannya adalah pada Musa dan Harun tetapi padahal sudah tertuju pada Tuhan.
Jadi tidak boleh kita anggap ini adalah hal alamiah saja, karena semua proses yang terjadi secra alamiah merupakan jalan tol Iblis untuk menyentuh kita. Berhati-hatilah dengan segala sesuatu yang alamiah, karena alamiah itu berujung dengan hal yang lumrah dan harap dimaklumi. Misalnya orang memaki kita, maka lumrah-lah kita marah. Ketika bersungut-sungut kita anggap biasa/lumrah, ini yang akan membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang penuh dengan bersungut.
Ada seorang ibu gembala yang sudah berusia lanjut, dimanapun ia berada dan duduk, awalnya yang dia keluarkan adalah bahasa-bahasa rohani selanjutnya adalah kepahitan, dia menceritakan kepahitan dimanapun ia berada. Orang tidak mengira, karena pembawaan ibu itu sangat baik kelihatannya. Karena kami sudah cukup mengenal ibu ini, setiap kali ia mulai menceritakan hal-hal kepahitan, kami langsung mengalihkan ke pembicaraan yang lain atau bahkan meninggalkannya karena kami tidak mau dia berbuat dosa dengan menceritakan kepahitannya. Kenapa bisa ada seorang yang rohani, bahkan ibu gembala (hamba Tuhan), bisa melakukan hal ini? Ini bukti bahwa tidak ada seorangpun yang steril dari bersungut-sungut.
Buat kita yang sudah melayani di gereja, pernahkah Saudara bersungut mengenai pelayanan Saudara? Ingatlah bahwa didalam persungutan, sukacita kita sudah dirampas oleh Iblis. Kepribadiannya terbentuk menjadi “pesungut”.

Keluaran 16:2 Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun;
Persungutan yang bukan hanya dilakukan oleh satu orang tapi segenap/seluruh Jemaah Israel yang menjadi sasaran hanya dua orang yaitu Musa dan Harun.

Keluaan 16:7 Dan besok pagi kamu melihat kemuliaan TUHAN, karena Ia telah mendengar sungut-sungutmu kepada-Nya. Sebab, apalah kami ini maka kamu bersungut-sungut kepada kami?”
Musa tetap dengan sabar menjawab dan mengatakan bahwa Tuhan mendengar persungutan mereka.

Keluaran 17:3 Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?”
Kita berandai saja, ketika hal tersabut tejadi pada fellowship yang biasa kita lakukan setelah ibadah. Tiba-tiba makanan dan minuman tidak tersedia, pastilah akan muncul gejolak diantara kita dan kata-kata yang mengarah ke persungutan. Jangan pernah anggap bersungut-sungut itu hal alamiah tapi itu adalah pilihan. Faktor jiwani kita yang sudah diformat untuk menangani semua masalah, akan otomatis menanggapi semua hal itu.

AKIBAT PERSUNGUTAN
Memang benar bahwa Tuhan sudah mendengar persungutan Bangsa Israel dan inilah jawabannya:
Bilangan 11:1-2 1 Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan. 2 Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu.
Jadi persungutan itu mendatangkan murka Tuhan. Apalagi kalau kita sudah menjadi orang percaya, kita tahu keselamatan hidup yang kekal adalah anugerah, itu yang melebihi segala sesuatu yang kita butuhkan dalam kehidupan kita, kehidupan yang kekal yang Tuhan sediakan dalam Yesus Kristus adalah hal yang luar biasa. Inilah hal yang mendasari dari segala sesuatu bentuk tantangan hidup supaya kita merubah persungutan menjadi bersyukur.
Jadi jangan kita hanya menganggap bahwa Tuhan mendengar persungutan, memang Dia mendengar tapi jawaban Tuhan atas persungutan bisa membangkitkan murka Tuhan.
Mereka bersungut tentang nasib dan keberadaan mereka bahkan mereka mereka sempat berkata lebih baik mati di padang. Kenapa bisa terjadi persungutan ini?

PENYEBAB PERSUNGUTAN
Kita harus selidiki secara seksama dalam diri kita masing-masing. Darimana awal persungutan yang kita lakukan? Apa penyebabnya? Kita tidak bisa hidup bermasa bodoh, kita harus mengintropkesi diri, minta Tuhan menyelidiki keberadaan kita, supaya kita mendapat jawaban. Dan ternayata jawaban yang Tuhan berikan ada pada diri kita masing-masing. Persungutan ini adalah sesuatu faktor kejiwaaan yang kemudian akan mengganggu roh. Realita-realita yang harusnya dihadapi tapi tidak mau dihadapinya.
Ada banyak bentuk persungutan. Kadangkala kita berfikir bahwa yang kita lakukan sasaranya tidak mengarah pada Tuhan, kemudian selalu cari kambing hitam.
Persungutan juga bisa menandakan sejauh mana tingkat kedewasaan iman atau rohani.
Mujizat apa yang tidak dialami oleh Bangsa Israel? Belum keluar dari Mesir saja sudah ada sepuluh tulah mujizat besar yang terjadi di negeri itu. Apakah itu tidak cukup? Luar biasa kuat kuasa Allah yang sudah dinayatakan didalam menyelesaikan segala yang dihadapi, tetapi hanya karena perkara kecil (soal makan dan minum/selera) sudah menjadi persungutan Bangsa Israel.
Persungutan bisa terlontar hanya di dalam hal yang kita anggap sepele. Di suatu kota ada kekacauan, ada orang datang berbelanja disebuah toko, dia menawar tapi tidak terlayani dengan baik bahkan penjaga toko balik memaki pembeli. Dia pulang dan tidak menerima perlakuaan penjaga toko tsb, kemudian balik dan menyelesaikannya dengan kekacauan. Mengapa hal ini terjadi? Kata makian bagi penjaga toko sudah terbiasa.
Kalau kita sudah terbiasa menggerutu, mengomel, memaki lama kelamaan kita anggap itu hal biasa. Tetapi bagi orang lain yang mendengar itu sesuatu yang sangat luar biasa.
Kondisi seperti ini bisa mendatangkan bahaya bagi diri kita juga hubungan kita dengan Tuhan, karena ternyata Tuhan melakukan yang sangat luar biasa. Mungkin kita berfikir dan berkata: “pantaskah orang yang yang hanya minta air dibakar dengan nyala api dari Tuhan”?

LEPAS DARI PERSUNGUTAN
Apa sebenarnya yang sudah memenuhi kehidupan kita?
Yohanes 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
Pada saat kita terima Yesus urusan akhirat sudah dibereskan, seharusnya, ini sungguh membuat kita hidup penuh dengan syukur dan penuh dengan damai sejahtera. Tapi Tuhan tahu bahwa kita hidup di dunia yang memegang kendali adalah faktor jiwani, makanya dikatakann “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” Inilah yang harus terjadi. Tetapi sejauh mana kekuatan damai sejahtera yang ada pada kita? Sebab kalau ini tidak ada maka yang ada terjadi secara alamiah adalah persungutan, kegelisahan, pikiran kacau, dan segala sesuatunya tidak mendatangkan hal yang baik. Tuhan menghendaki kita menikmati apa yang namanya damai sejahtera.
Jangan kita menganggap hal ini alamiah, seringkali kita tidak menikmatinya, karena kita lebih berikan prioritas utama pada faktor jiwani kita yang mengambil alih segala kegiatan jasmani kita.

Ini akan menggeser semua persungutan itu.
Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.

Dimana kita menempatkan damai sejahatera? Apakah damai sejahtera memegang pucuk pemerintahan dalam hati kita. Kalau kita sudah sampai pada tingkat ini barulah kita bisa hidup dalam hidup yang penuh dengan syukur dan persungutan itu tidak akan diijinkan hadir. Tapi selama damai sejahtera Kristus tidak memerintah karena kita tidak berikan kesempatan dan peluang untuk memerintah yang keluar pasti persungutan.

Mari kita pahami apa itu hidup oleh iman yang menjadi bagian kita apa itu bagian Tuhan yang menggenapi janji-janji iman yang Dia berikan pada kita. Seringkali orang percaya dididik hanya untuk menerima apa yang menjadi bagian Tuhan tapi bagiannya ia tidak pernah berbuat apa-apa.
Ada saat-saat memang kita tidak bisa mampu berbuat apa-apa karena hal itu sudah diluar kemampuan dan Tuhan yang melakukan dan itu yang disebut mujizat, akan tetapi ini tidak selamanya Tuhan membimbing kita seperti itu.
Ketika rohani kita masih bayi pengalaman iman kita yang pertama adalah jawaban doa yang begitu mudah dijawab. Sehingga banyak orang berhenti sampai disitu yaitu iman hanya sebatas jawaban doa, dia belum sampai ke tingkat berikutnya bahwa ada kalanya Tuhan tidak berbuat sesuatu untuk mendidik kita yang belum memahami apa itu proses untuk penyerahan apa itu proses penghancuran daging. Tuhan memperkenalkan diri-Nya dulu dengan maha dahsyat, kuasa, hebat, sesudah itu memperkenalkan diriNya sebagai maha kudus dan kita harus memahaminya.
Jadi kita dibawa pada tingkatan yang lebih lagi. Ini yang patut kita pahami.

Kolose 3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
Selama firman Tuhan tidak dilakukan, maka hanya sebuah kalimat tulisan tidak ada artinya apa-apanya. Kita bisa menikmati kedahsayatan firman Allah itu pada saat kita lakukan.

Hasilnya:
Kolose 3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Mengucap syukur juga bukan kalimat indah. Mengucap syukur ini adalah hal yang sangat menyakitkan daging dan menyakiti jiwani. Karena hanya dengan mengucap syukur itu yang bisa mengikis segala kehendak jiwani menjadi kehendak Tuhan/firman.
Banyak perintah firman Tuhan yang tidak masuk akal, karena hanya bisa dilakukan dengan iman. Kalau iman dapat melakukannya bagaimana proses realitasnya dalam diri kita secara pribadi teratasinya segala unsur jiwani dengan kehendak firman?
Contoh:
Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi berbuatlah baik. Ini bukanlah hal yang masuk akal. Nah, kalau tidak masuk akal, mengapa Tuhan jadikan perintah untuk kita lakukan?
Bagaimana iman ini dapat melakukan? Sedangkan tidak masuk akal. Disinilah peranan kekuatan pengucapan syukur itu. Persungutan merupakan suatu pilihan yang dilakukan oleh unsur jiwani kita karena tidak bisa menerima dan menolak realitas yang sedang kita hadapi.
Tetapi ketika firman Tuhan itu melimpah dalam diri kita dan kita mau mentaati firman pada saat kita mau melakukannya sesungguhnya halangan utama itu ada pada diri sendiri (unsur jiwani)
Roh Kudus sebagai roh penolong yang akan menolong kita melakukan firman dalam kelemahan kita. Firman sebagai jalan keluar maka itulah yang akan kita lakukan sehingga persungutan tidak akan jadi tetapi firman yang akan kita lakukan. Ketika persungutan itu keluar kuasa kita semakin lemah. Ketika persungutan ini sudah keluar kekuatan iman kita juga semakin lemah. Karena kita tidak dapat menerima kondisi riil yang ada, tapi kekuatan awal dari pengucapan syukur adalah menerima setiap realitas apapun .

By : Pdt. R.F. Martino

MENGKOMUNIKASIKAN KEBAHAGIAAN HIDUP

Mari kita liat bersama kebaikan-kebaikan yang sudah Tuhan berikan pada kita semua. Kita bisa berjalan menurut iman dan hidup menurut panggilan ini adalah warisan yang sudah Tuhan berikan. Berapa banyak dari kita yang hidup tidak berdasarkan fakta? Terkadang fakta hari ini dan kemarin masih ada yang belum pas, tapi kalau kita hidup dengan iman, kita akan menikmati kebahagiaan itu.

Saya bangga punya Allah yang hidup jadi meskipun saya dikirim jauh dari Indonesia, harus ke negeri asing, awalnya di sana tidak ada orang yang bisa diajak berbicara tapi Tuhan selalu ada bersama dengan saya.

Banyak kali orang-orang minta tolong, tapi saya katakan bahwa saya tebatas hanya Tuhan yang bisa. Tuhan bawa kita menjangkau bangsa-bangsa lain. Ditengah kesibukan saya mengurus segala sesuatunya, Tuhan bawa saya juga bisa mengurus jemaat, saya percaya Tuhan tidak kehabisan cara untuk mengurus jemaat-Nya. Melalui sosial media, saya juga berdoa melayani buat mereka yang membutuhkan bantuan doa.

Tuhan itu tidak bisa dipermainkan, ikuti saja apa maunya Tuhan, karena Dia selalu menginginkan agar kebahagiaan selalu itu terjadi dalam hidup kita. Apa yang harus kita lakukan, kita harus awali dengan PERCAYA, kemudian jalanilah kepercaayaan itu, meskipun liku-liku, gelombang hidup, angin ribut datang kita harus tetap berjalan bersama Tuhan.

Saya juga sudah membaca kisah pertolongan Tuhan bagi jemaat di tempat ini di buku kesaksian GPPS Jemaat Palu, dan ternyata Allah kita adalah yang dahsyat dari dulu, sekarang dan selamanya. Kalau kita sudah berjalan bersama Tuhan, jangan pernah putus semangat, tetaplah miliki kemauan dan semangat besar. Tetaplah bergairah untuk mencari Tuhan.

Apa yang harus kita lakukan ketika kita menjadi orang-orang yang sunguh-sungguh hidup dalam rencana Tuhan.
Ketika warisan yang terindah yaitu hidup oleh iman dan bekerja menurut panggilan, kita pegang baik-baik, kita tidak boleh pasif, kita harus melakukan apa yang menjadi panggilan kita. Setiap kita memiliki talenta, jangan sampai ketika diajak melayani tetapi banyak alasan untuk menolak. Sukacita adalah kekuatan dalam hidup kita dan kalau kita serahkan hidup kita maka Tuhan akan memberikan kelegaan bagi kita.

Kami juga pernah menghadapi pergumulan, gereja di Perth sudah selama 20 tahun kami menggumuli sebuah gedung. Sekarang Tuhan sudah adakan buat kami. Banyak cara Tuhan meberkati kami di sana.
Ada sebuah kesaksian dari seseorang yang didoakan dan menjadi sembuh kemudian dia mempersembahkan sebuah emas untuk pengadaan gedung gereja di Perth. Dia tahu emas itu tidak senilai dengan kesembuhan yang sudah dia terima.
Pada waktu kami pengecatan gereja di Perth, ada seorang Indonesia yang menawarkan diri untuk mengecat gereja. Dia mengetahui gereja PIC dari website. Sebelumnya dia seorang yang sedang bergumul dengan dirinya, berbulan-bulan hanya tinggal di mobil dan hidupnya bermasalah ketika ada di Bandung. Dia meminta pelayanan agar hidupnya bisa diubahkan dan hidupnya-pun berubah, dia bisa berumah tangga dengan baik dan memberikan diri untuk menyelesaikan pengerjaan cat di gereja PIC. Dia bukanlah orang yang punya banyak uang, dia menginvestasikan tenaganya, cara berpikirnya untuk pengecatan gereja.

Kita berjalan tidak mengandalakan penglihatan kita tapi iman kita karena kita hidup oleh percaya bukan karena melihat. II Korintus 5:7 — sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat —

Mazmur 37:4-5 4dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. 5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;

Percuma saja jika kita mengaku percaya tapi tidak menyerah. Kalau kita percaya kepada Tuhan kita harus menyerahkan hidup kita kepada Tuhan.

Kalau kita sudah serahkan hidup kita pada Tuhan, kita tidak bisa lagi berteman dengan Iblis. Perhambakan hidup pada Tuhan, serahkan hidup kita pada Tuhan.
Hasilnya: Mazmur 37:6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.

Kalau berdoa mintalah yang spesifik bukan hanya karena ego kita, tapi biarlah semuanya untuk kemuliaan Tuhan.

Roma 12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!
Komunikasikan pada orang lain tentang apa yang sudah kita rasakan.

I Korintus 9:22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.

Ada jemaat yang mempunyai anak autis, dia minta didoakan karena harus pulang dengan mengendarai mobil, sedangkan anak ini jika di mobil dia akan mengamuk bahkan sampai memecahkan kaca mobil. Setelah didoakan dengan menaikkan pujian penyembahan maka anak bisa tenang hingga sampai dirumah dengan selamat.

Cara meningkatkan komunikasi kebahagiaan kepada orang yang kita menangkan:
1. Menanamkan hal-hal yang baik
2. Menciptakan rasa aman dengan membangun komunikasi yang baik. Tidak membicarakan hal-hal negative.
3. Saling menghormati dengan cara menghargainya.

Ketika ada seseorang yang mengalami kelemahan, angkatlah penyembahan. Kita yang kuat menanggung yang lemah, pakailah nama Yesus. Roh Kudus ada dalam kita, ketika kita percaya dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Tapi Ibarat air dalam gelas, tidak akan memuaskan kita jika airnya sisa sedikit dan tidak pernah diisi. Begitu juga dengan Roh Kudus, kita perlu diisi terus dipenuhi dengan Roh Kudus supaya kita terus dipuaskan.
Jadi kalau bertemu dengan orang yang lemah, bantulah dia dalam Nama Tuhan Yesus. Jika bertemu dengan orang yang sok kuat, terus doakan dia dan beri teladan. Kita harus tetap menolong mereka yang lemah sampai mereka sendiri juga mampu menolong yang lain.

By : Ps. Meyke Liwandouw
(Perth Indonesian Church)

KUASA FIRMAN YANG MENGUBAHKAN

Lukas 5:1-11 1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. 4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” 5 Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” 6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. 8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” 9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Ayat 1: Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah

Sejak kita menjadi orang percaya sejauh mana kita memiliki pengalaman iman di dalam mengalami kuasa Firman mengubahkan segala sesuatu?
Beberapa kisah di Alkitab menceritakan bahwa sering terjadi Yesus dikerumuni orang banyak dengan berbagai-bagai motivasi. Ada yang datang karena lapar, ada yang ingin disembuhkan, ada yang datang karena ingin mendengar mujizat dan mendapatkan mujizat, dll. Tapi dalam kisah di atas, orang banyak tersebut datang kepada Yesus karena ingin MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH.

Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Iman timbul dari mendengarkan firman Kristus. Kita yakin dan menerima kebenaran ini, tetapi bagaimana wujud nyatanya dalam hidup sehari-hari? Diurutan keberapakah posisi firman itu dalam hidup kita?
Firman harusnya ada di dalam dan menyatu dengan roh kita dan berada di posisi yang utama dari yang lain.
Ini tidak berarti kita mengabaikan hidup dan tanggungjawab kita sebagai manusia lahiriah yang hidup di dunia.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan beberapa orang percaya yang mengaku tidak membutuhkan firman atau tidak menempatkan firman di posisi utama dalam hidupnya:
1. Karena sama sekali tidak memahami firman karena memang belum mengenal Kristus dan menerima-Nya.
2. Tidak merasakan dan belum pernah mengalami kuasa firman itu mengubah sesuatu dalam hidup dan dirinya, dia hanya mendengar kesaksian dari orang lain.
3. Menganggap firman hanya menyangkut kehidupan etis. Karena mereka melihat di luar kehidupan orang Kristen banyak yang kehidupan etisnya lebih baik dari orang Kristen itu sendiri. Dia merasa bahwa dia tidak membutuhkan Tuhan dan tidak harus menjadi orang percaya karena dia bukan orang jahat. Dan banyak juga filosofi-filosofi etika di dunia ini yang lebih baik dari orang Kristen yang tidak punya etika.
Ada ayat yang mengatakan bahwa pentingnya harus ada filosofi etika dalam kekristenan untuk membawa orang tersebut takluk kepada firman. Ia akan menyambut ketika Allah melawat dia karna melakukan perbuatanmu yang baik

Jika kita benar-benar memahami ayat dalam Roma 10:17 maka kita akan memiliki gaya hidup seperti …. Ada suatu gairah, sukacita, kesukaan untuk mendengar firman Tuhan (Ada dua cara mendengar: mendengar pakai telinga dan mendengar dengan cara membaca). Sebab dengan mendengar firman maka iman itu timbul, bahkan dalam II Petrus 1:5-8 dikatakan bahwa iman juga harus ditambahkan dengan hal-hal yang menyangkut aplikasi dari iman itu sendiri. Dengan demikian barulah kita bisa menjalani hidup kita seperti yang ditetapkan dalam Roma 1:17 yaitu: Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

Dikatakan “akan hidup oleh iman” tidak dikatakan “akan berdoa oleh iman” yang selama ini umumnya dalam kekristenan hanya menganggap bahwa iman hanya sebatas untuk jawaban doa. Sehingga orang berimanpun ketika ia minta sesuatu, dia paksakan imannya hadir supaya doanya didengar. Walaupun awal pengalaman iman adalah jawaban doa tetapi iman itu sendiri bukanlah hanya sekedar jawaban doa tapi orang percaya ditetapkan untuk HIDUP OLEH IMAN.
Kita masih hidup di dunia, jadi jalanilah hidup ini oleh iman. Bagaimana kita menjalani hidup oleh iman sedangkan kita masih manusia lahiriah? Bagaimana kita mau hidup oleh iman sedangkan kita tidak mempunyai firman? Sedangkan dalam Roma 1:7 mengatakan bahwa orang benar akan hidup oleh iman. Jadi sederhanya adalah HIDUP OLEH IMAN ADALAH HIDUP MELAKUKAN FIRMAN DAN TANPA SYARAT (KETAATAN TANPA SYARAT)
I.
Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah

Kita harus punya situasi dan kondisi hidup yang seperti ini, haus dan lapar akan firman, sehingga pribadu kita dan firman boleh menyatu. Sama dengan kebiasaan yang kita lakukan yaitu makan tiga kali sehari. Tubuh ini pastinya harus diberi makan itupun masih ada tuntutannya yaitu makanan yang bergizi supaya ada keseimbangan pertumbuhan. Firman Tuhan juga dikatakan sebagai roti hidup, kitapun butuh, sebab tidak mungkin kita jalani hidup kita untuk mengatakan “jalan dengan iman tanpa memiliki firman”.

II.

Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

Berbahagialah Simon yang perahunya dipinjam oleh Yesus untuk mengajar banyak orang. Sebelumnya Simon tidak tahu bahwa yang mengajar itu adalah Yesus.
Kira-kira kalau saudara ada pada waktu itu, apakah Saudara mengharapkan perahu Saudara dipakai oleh Yesus?
Nah sekarang andaikan ada barang Saudara dipinjam untuk keperluan gereja, apakah anda meminjamkannya?
Kalau Saudara tahu apa rahasianya, maka Saudara akan berdatangan untuk menawarkan apa yang bisa dipakai oleh gereja. Jangankan barang, diripun kita berikan untuk dipakai oleh Tuhan.

Dalam sebuah pengalaman saya pernah diajak pelayanan besuk oleh seorang hamba Tuhan yang sudah kehilangan dua matanya (buta). Ia adalah mantan pengusaha sukses. Awalnya dia tidak mau menerima panggilan khusus dari Tuhan, pdahal Tuhan mau pakai dia dengan segala hal yang ada padanya waktu itu. Diawali dengan hancurnya usahanya, sampai dua matanya harus buta, barulah ia mau memberi hidupnya sepenuh waktu

Jadi selagi apa yang ada pada kita bahkan diri, waktu, kekayaan, pikiran, tenaga pakailah untuk kepentingan Tuhan. Bersyukurlah masih dipilih oleh Tuhan untuk melayani-Nya, pilihan ini patut dihormati dan dihargai.

Pada waktu itu mereka sudah membasuh/membersihkan jalanya, karena semalam-malaman sudah berusaha keras untuk mencari ikan tapi tidak memperoleh apa-apa.
Dalam kondisi seperti ini kita harus menyadari bahwa dalam kehidupan kita ada saat-saat dimana kita mengalami kegagalan. Banyak kalimat-kalimat filosofi tentang kegagalan. Da yang mengatakan bahwa kegagalan adalan penundaan kesuksesan, ada jug ayang mengatakan semua orang sukses pernah mengalami kegagalan, itu semua penghiburan. Pernahkah Saudara mengalami kegagalan? Kalau sudah pernah mengalami kegagalan dan berhasil dari kegagalan mungkin baru boleh berkata seperti filosofi dunia seperti itu. Tapi kalau belum pernah mengalaminya jangan meminjam kata-kata tersebut. Karena kegagalan itu tidak mudah dirubah menjadi sukses.

Seorang Gembala dari Gereja Kristal Katedral. Dia seorang hamba Tuhan yang dipakai untuk mengubah perekonomian buruk menjadi berhasil. Sehingga ia bukan hanya jadi pengkhotbah tapi dipakai juga oleh para pengusaha-pengusaha terkenal di Amerika, tentu saja dengan dasar firman, untuk menjadi pembicara.
Waktu itu terjadi badai tornado yang melanda wilayahnya, sampai ia jatuh miskin. Kemudian Tuhan memanggil ia menjadi seoang hamba Tuhan lewat malapetaka tersebut. Ada suatu kalimat yang memotivasinya dan mengubah banyak orang yaitu: PENDERITAAN TIDAK AKAN PERNAH BERTAHAN LAMA PADA DIRI ORANG YANG ULET. Dia membagikan pengalaman imannya berdasarkan apa yang ia alami.

Tidaklah mudah bicara mengenai kegagalan, itu sama dengan orang yang sedang mengalami kedukaan, masing-masing datang dan memberikan penghiburan kepada keluarga yang berduka. Yang perlu kita sadari bahwa semua kalimat penghiburan itu tidak akan mampu membangkitkan orang yang sudah meninggal. Semua kalimat penghiburan itu hanya sejenak menghibur tapi tidak menjawab pergumlan itu.

Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.

Inilah kegagalan Simon:
Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.

Ini bukan kegagalan biasa, bukan gagal karena malas, bukan karena tidak punya manajemen hidup. Bisa diistilahkan situasi dan kondisi tidak “bersahabat” dengan mereka. Mereka sudah bekerja keras tapi tetap saja gagal. Bekerja pada malam hari di tengah lautan/danau untuk mecari ikan bukanlah pekerjaan yang mudah, ini pergumulan yang sangat sengit.
Kalau kegagalan itu terjadi tanpa kerja keras, tidak akan terlalu menyakitkan atau melelahkan, tidak menguras energ, tidak banyak menguras waktu dan dana. Tapi ini kegagalan yang sudah digumuli begitu rupa tetapi tetap gagal. Siapa yang bisa menduga, bahwa sesuatu yang kita gumuli, pada suatu hari kegagalan itu menimpa hidup kita. Semua bentuk kegagalan itu menyakitkan, jika orang tidak siap orang itu bisa saja stress, depresi bahkan mengambil tindakan bunuh diri.

Prinsip dasar tentang kerja keras adalah mutlak, tidak boleh tidak. Mungkin kita sempat berkata “Mereka saja sudah bekerja keras tapi tetap gagal” ini tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak bekerja keras.

Mungkin kita sempat berpikir juga bahwa kegagalan itu berasal dari Iblis, ini juga tidak bisa dijadikan alasan sepenuhnya, kita harus mengkoreksi diri kita pribadi, apakah kita sudah bekerja keras?
Yang menarik perhatian Tuhan untuk memulihkan kegagalan kita menjadi keberhasilan adalah ketika kita sudah bekerja keras tapi tetap gagal. Kalau kegagalan itu dikarenakan kemalasan, jangan berharap Tuhan menolong.

Pemahaman kita tentang pertolongan Tuhan juga perlu diubahkan.
Tuhan tahu persis kedua perahu ini. Mengapa perahu Simon yang Tuhan pilih? Keadaan terungkap pada saat Yesus menyuruh untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala untuk menangkap ikan.
Ternyata perahu yang dipinjam Tuhan Yesus, pemiliknya bermasalah, pemiliknya adalah seorang yang gagal.

Bersyukurlah kalau ada sesuatu yang Tuhan pilih dan kehendaki dalam kehidupan kita, itu berarti Tuhan punya rencana yang luar biasa.
Tuhan tidak pernah berhutang, begitu Yesus pinjam perahu Dia langsung bayar dengan ikan yang penuh dalam perahu.

“Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.

Sebagai orang percaya kita harus berani MENJADI PASTI DENGAN TUHAN, karena Ia bukan pendusta, ketika Ia berfirman maka firman penuh dengan kuasa.
Apakah Yesus tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Simon? Yesus tahu! Tapi Ia memerintahkan:
1. Bertolak ke tempat yang lebih dalam
2. dan tebarkan jala.
Simon mengungkapkan masalah yang telah terjadi semalaman, yaitu kegagalan dalam menangkap ikan yang sedang mereka alami lewat kerja keras.

Ini bertentangan, bagaimana mungkin, semalam-malaman penuh dengan kegagalan dan sekarang disuruh untuk tebarkan jala? Hukum logika tidak bisa menembus hukum iman. Hukum iman menembus hukum logika. Tidak ada yang terlalu sulit kegagalan-kegagalan apapun bentuknya, jika kita bukan hanya mendengar firman tapi mentaati dan melakukannya.
Secara manusia lahiriah yang punya pikiran danpengalaman, tidaklah salah Simon menyampaikan keluhannya, Simon taat melakukan apa yang Yesus katakan.

Sejauh mana kemampuan hukum logika kita menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi? Sejauh mana kemampuan hukum iman yang kita miliki yaitu firman yang ada dalam diri kita, merubah segala sesuatu?

Inilah yang menjadi pergumulan. Sudah melakukan kerja keras tapi gagal. Tapi KArena guru yang menyuruh, kami akan menyebarkan jala.

Antara hasil analisa logika kita dengan firman yang akan menjawab masalah yang sedang kita hadapi dibutuhkan ketaatan. Ini adalah pilihan dan bukan paksaan.

Lama tidaknya persoalan kita selesai itu tergantung penyerahan dan ketaatan pada apa yang Tuhan perintahkan untuk kita lakukan. Bukan lamanya Tuhan menjawab.

Jangan salah beriman pada firman, menganggap bahwa friman terjadi dengan sendirinya tidak!. Harus kita lakukan! Bukan hanya menantikan jawaban Tuhan.

Tidak akan pernah merubah situasi kondisi kegagalan mereka ketik amereka tidak mentaati apa yang Yesus katakan.

HASILNYA
6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.

Firman yang tidak dilakukan, hanyalah sebuah tulisan atau kata=kata, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Kuasa firman itu bekerja, diarasakan hasilnya pada saat kita sedang melakukan firman itu.

Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”
Percakapan sudah menjadi lain bukan hanya percakapan secara jasmani, tetapi bicara tentang hal rohani. Disitu ia menyadari dan melihat dengan apa yang Yesus lakukan. Dan ia menemukan siapa dirinya dihadapan Tuhan Yesus.
Pemahaman ini sangat mendasar danpenting bagi kita.
Dua percakapan yang sangat berbeda sampai kepada suatu transformasi dan perubahan yang luar biasa. Secara seutuhnya. Tadinya yang menjadi persoalan adalah nafkah, kebutuhan, untung rugi, kegagalan tetapi berubah menjadi perkara keselamatan.
Sayang sekali sebagian besar orang Kristen tidak mengalami ini, yang kita temukan adalah sebagian orang Kristen beriman kepada Kristus hanya sampai ke tingkat perubahan nasib dari orang berdosa yang masuk neraka berubah menjadi orang percaya yang masuk surga, tanpa medalami lebih lanjut.
Demikian juga perubahan nasib di dunia, miskin jadi kaya, gagal jadi berhasil, itulah pemahan yang dimilikilah oleh Kristen pada umumnya.

9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Kuasa firman yang ditaati yang mendatangkan hasil merubah mereka melebihi dari orang yang sukses.
Kesuksesan mereka ini perlu diberi pemahaman. Sayang sekali sudah menjadi sukses yang diawali dengan ketaatan pada firman Tuhan kemudian kesuksesan membuat jauh dari Tuhan bahkan meninggalkan Tuhan.
11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Mereka meninggalkan sesuatu dan mengikut Yesus. Tapi tidak meninggalkan pekerjaan begitu saja.
Banyak orang yang sibuk melayani tapi tidak mengurus apa yang sudah ada, tidak mengurus pekerjaan, tanggungjawab.
Mereka membereskan segala pekerjaan barulah mengikut Yesus.
Ada keseimbangan barulah mengikut Yesus. Mereka tidak meninggalkan tanggungjawab.
Memanage waktu

By : Pdt. R.F. Martino

BEKERJALAH SEBAB AKU MENYERTAI ENGKAU

Hagai 2:5 “Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam,”

I. MEMILIKI IMAN YANG REALISTIS
Saat tembok Yerusalem roboh, dan situasi politik saat itu dimana bangsa Israel berada dalam pembuangan, tidak ada dasar bagi mereka untuk berharap untuk mengerjakan kepentingannya Tuhan yaitu untuk membangun kembali tembok Yerusalem dan Bait Allah. Namun Tuhan berkata pada mereka, “Bekerjalah sebab Aku menyertai engkau.”
Kondisi-kondisi yang ada di depan kita saat ini, mungkin adalah situasi yang secara logika tidak mungkin bisa kita hadapi. Biasanya orang-orang yang rohani imannya akan merespon namun sayangnya mereka seakan berpindah dari alam nyata ke alam roh sehingga mengabaikan hal-hal lahiriah. Memang kita memahami bahwa apa yang ada di alam nyata dikendalikan oleh alam roh. Namun kita harus memahami bahwa kita masih di dunia sehingga kita tidak boleh membutakan diri dengan hal-hal real.
Saat Musa diberi visi oleh Allah, Musa tahu siapakah dirinya yang tidak pandai bicara namun diberi tugas untuk menghadap Firaun. Begitupun saat Yosua diberi visi menggantikan Musa untuk memimpin bangsa Israel. Yosua harus belajar hidup oleh iman sesuai janji Tuhan.

Yesaya 54:2 “Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!”

Ayat diatas bukanlah bagiannya Tuhan untuk Tuhan lakukan, tetapi perintah Tuhan kepada umat Tuhan untuk melakukannya. Namun bagaimana melakukannya sedangkan kondisi sepertinya tidak mungkin?
Karena itulah di gereja ini diajarkan “iman yang realistis” yaitu iman yang mampu menjawab setiap tantangan iman yang real dengan cara mengetahui apa yang Tuhan suruh kita kerjakan. Kita tidak boleh memiliki iman yang tidak realistis, yaitu memiliki sikap iman seakan-akan kita sudah tidak hidup di dunia, sehingga orang seperti ini semakin rohani semakin malas bekerja, semakin tidak realistis. Hanya berdiam diri saja menunggu Tuhan yang bekerja dengan ajaib.

Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

Pemahaman yang dangkal tentang iman telah membuat iman hanya sebatas jawaban doa, bersikap seperti pengemis, bermimpi menang lotre/undian tanpa bekerja. Semua ini karena didikan yang keliru. Inilah yang menyebabkan kehancuran gereja Tuhan yaitu karena berhenti berkarya dan tidak melakukan apa-apa. Apa yang harusnya dilakukan oleh gereja, telah dirampas iblis dan diberikan kepada dunia, sehingga orang dunia menjadi kepala namun orang percaya tetap menjadi ekor.

Ibrani 11:6 “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”

Dalam daftar Ibrani 11 kita akan menemukan banyak pahlawan iman yang mengalami mujizat besar oleh karena imannya. Karena itu banyak orang percaya saat ini yang mengharapkan mujizat padahal dimana ada mujizat berarti ada peristiwa yang diluar logika menimpanya. Semakin besar peristiwa tragisnya, semakin besar mujizatnya.
Namun di bagian akhir Ibrani 11 mencatat orang-orang yang beriman namun tidak memperoleh apa yang dijanjikan. Namun Alkitab menulisnya bahwa mereka adalah pahlawan iman juga. Mereka adalah orang yang menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya, namun tetap memiliki ketaatan iman kepada Tuhan. Inilah mujizat yang luar biasa: Ketabahan ketekunan menghadapi apapun, tidak menjadi orang Kristen yang cengeng, tetapi tetap berdiri teguh kokoh kuat tak tergoncangkan. Maka akhirnya kita memahami iman secara utuh bahwa: iman adalah ketaatan tanpa syarat kepada Tuhan.

Markus 16:15-18 “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
Dari ayat diatas kita memahami bahwa semua orang Kristen memiliki kuasa. Namun didikan sekolah Alkitab tempo dulu mengajarkan bahwa untuk memiliki kuasa, harus “bertapa” (doa dan puasa) di atas “gunung” (bukit doa). Ketika turun gunung menjadi “sakti”. Maka ajaran sekolah Alkitab dulu menjadikan
Kekristenan menjadi mirip dengan kebatinan. Padahal sudah jelas dalam ayat diatas bahwa setiap orang kristen memiliki kuasa.
Jika kita sudah memahami bahwa kita memiliki kuasa, maka bekerjalah! Sebab Tuhan berkata, “Bekerjalah sebab Aku menyertai engkau!”

II. IMAN YANG DISERTAI PERBUATAN
Kita harus memahami bahwa: Kualitas doa harus sama dengan kualitas kerja.
Yakobus 2:14 “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?”

Kita tahu bahwa kita diselamatkan oleh iman. Namun iman yang bagaimana yang menyelamatkan? Yaitu iman yang disertai perbuatan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Maka saat kita berkata bahwa kita bersyukur kepada Tuhan, jangan hanya di mulut. Tetapi harus ditunjukkan dalam tindakan yaitu mengerjakan apa yang telah Tuhan berikan sehingga iblis tidak mengambil apa yang menjadi bagian kita.
Saat Tuhan berkata, “Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!” maka responilah!
“Jangan menghemat” maksudnya adalah jika kita bisa melakukan lebih banyak, jangan melakukan sedikit. Karena jika kita melakukan sedikit, maka berkat kita hanya sebatas itu. Contohnya:
– Ada warung makan yang cepat tutup padahal ramai dengan pembeli. Mengapa? Ternyata itu karena warung makan itu hanya menyediakan sedikit porsi makanan. Tentu hal ini sangat disayangkan padahal masih banyak orang yang masih mau makan di warung tersebut.
– Dalam pelayanan, dulu pernah ada pekerja gereja yang menyiapkan 5 buah tikar duduk untuk 5 orang yang datang ke pertemuan doa, karena memang biasanya yang hadir hanya 2-5 orang. Akhirnya ia harus ditegur karena imannya terlalu kecil. Seharusnya ia tetap memasang seluruh tikar yang ada di gereja sebagai tindakan imannya bahwa yang datang pertemuan doa akan terus bertambah.

Saat menghadapi peristiwa yang di luar logika untuk diselesaikan, bangsa Israel saat itu diperintahkan Tuhan untuk bekerja dan diberi Tuhan janji yang luar biasa!

Hagai 2:5-10 5 Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, 6 sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut! 7 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; 8 Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. 9 Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam. 10 Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam.”

Luar biasa janji penyertaan Tuhan dan berkat-Nya saat kita bekerja. Karena itu, pakailah iman kita untuk menjawab segala tantangan iman yang real, dan kita harus melakukan bagian kita dengan bertindak menurut iman. Ora et Labora – berdoa dan bekerja.

By : Pdt. R. F. Martino

MANAGEMENT OF VISION

Tuhan telah memberikan sumber daya-sumber daya di dalam diri kita untuk memperlengkapi kita mencapai rancangan Allah. Memang sumber daya tidak boleh dijadikan andalan – hanya Tuhan yang harus diandalkan, namun kita harus menggunakannya dengan maksimal. Kita juga tidak mengandalkan pengalaman saja, namun pembelajaran dari pengalaman akan menghasilkan kedewasaan yang menghasilkan hikmat-hikmat, melengkapi anugerah sumber daya yang Tuhan telah berikan.

Ada ribuan janji Tuhan dalam Alkitab namun janji-janji Tuhan tidak terjadi secara otomatis. Ada bagian kita untuk bekerjasama dengan Tuhan. Sama seperti anugrah keselamatan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib tidak otomatis diterima oleh semua manusia, namun hanya dapat diterima oleh manusia yang meresponinya melalui bertobat dan menerima Yesus. Begitupun saat Tuhan menjanjikan “hari depan yang penuh harapan”, maka ada bagian kita yang harus dilakukan yaitu pertama-tama harus memiliki pengharapan. Karena iman dimulai dari setitik pengharapan. Jika kita tidak memahami hal ini jangan salahkan Tuhan jika kita tidak mencapai rancangan Allah atas hidup kita.

A. Manajemen Visi (Mengelola visi Allah)
Visi Allah adalah gagasan/pikiran/kehendak/rancangan Allah yang diberikan kepada orang percaya supaya bekerjasama dengan Allah untuk menggenapkan rencana-Nya. Namun jika kita tidak mengelola Visi Allah, maka kita tidak akan mencapainya.

Tidak ada satupun dalam hidup kita setiap hari yang luput dari manajemen. Kita perlu manajemen yang baik dalam hidup sehari-hari. Jika tidak punya manajemen yang baik maka kita tidak bisa menyelesaikan segala sesuatu dan akhirnya kita menjadi stres, contohnya tidak tepat waktu. Namun orang yang memiliki manajemen yang baik akan mampu menyelesaikan segala sesuatu dengan baik.

1. Manager yang baik

1 Petrus 4:10 “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”

Dari ayat diatas kita ditetapkan untuk menjadi “pengurus” yang baik dari kasih karunia Allah. “Pengurus” (Manager/Steward) adalah orang yang mengelola.

Sebagai orang percaya, kita mengakui bahwa semua yang kita miliki adalah kasih karunia Allah. Karena itu kita harus mengelola kasih karunia Allah tersebut. Seluruh pergerakan hidup manusia adalah manajemen. Mulai dari bangun pagi, menyiapkan sarapan pagi, bekerja / bersekolah, berolahraga, dll. Seorang suami/ayah harus memiliki manajemen mulai dari bangun pagi, menyelesaikan pekerjaan, berfungsi dalam keluarganya, dll. Begitupun ibu harus memiliki manajemen dalam melakukan semua tanggung jawab sesuai kodratnya. Begitupun anak muda harus memiliki manajemen dalam menempuh pendidikan atau bekerja.

Dengan demikian tidak ada seorangpun yang dapat membuat alasan bahwa ia tidak memahami manajemen – kecuali orang itu memang malas! Dan orang malas tidak akan mencapai rancangan Allah!

Contoh hidup tidak ter-manage:
– Obesitas.
Jika seseorang tidak me-manage makanannya maka akan mengalami obesitas. Ada seorang hamba Tuhan yang tidak me-manage makanannya, akhirnya suatu ketika ia masuk Rumah Sakit dan meninggal. Ini akibat hidup yang tidak ter-manage.
– Pekerjaan yang menumpuk.
Mengapa bisa bertumpuk? Karena kita suka menunda. Oleh karena itu jangan menunda pekerjaan yang bisa diselesaikan hari ini, karena besok ada pekerjaan baru untuk dilakukan.
– Rumah yang berantakan. Apakah rumah atau di kantor pekerjaan kita menumpuk dan semua menjadi berantakan? Itu karena tidak dikelola. Sadari bahwa setiap orang percaya ditetapkan Tuhan menjadi manager yang baik atas kasih karunia Allah. Camkan baik-baik: Doa dan puasa tidak akan membawa kita untuk mencapai rancangan Allah jika kita malas. Rancangan Allah hanya tergenapi dalam hidup kita jika kita meresponinya.

2. Manajemen yang baik

1 Korintus 14:33 “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.”
1 Korintus 14:40 “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”

Mengapa sesuatu menjadi kacau? Karena tidak di-manage. Sebaliknya, mengapa sesuatu menjadi teratur? Karena di-manage. Kita adalah manager atas hidup kita. Manager adalah pengurus, pengelola, pemimpin. Manager yang baik akan menghasilkan manajemen yang baik. “Manajemen” adalah cara mengelola. Kita diberkati Tuhan dengan pekerjaan yang harus kita urus/kelola. Apakah kita sudah memiliki manajemen yang baik? Di Indonesia ada seseorang yang disebut “Manager 1 Milyar”, yaitu manager yang diperebutkan oleh perusahan-perusahaan besar untuk mempekerjakannya dengan gaji/bayaran yang sangat mahal.

a. Memahami Manajemen Allah.
Allah adalah pribadi yang memiliki tujuan dan rencana. Sejak permulaan zaman, Allah telah menyusun rencana. Allah bekerja dengan penuh perencanaan. Allah bekerja untuk menyelesaikan tujuan-Nya di dunia. Dalam Alkitab kita membaca di kitab Kejadian bahwa Allah menciptakan dengan manajemen. Hari pertama sampai hari keenam Allah menciptakan dengan urutan manajemen yang tepat. Manusia tidak diciptakan pada hari pertama karena manusia tidak mungkin bisa hidup saat dunia belum terbentuk. Manusia diciptakan hari keenam. Ini adalah manajemen.

Karena itu, Allah menghendaki agar manusia – sebagai ciptaan termulia – hidup dengan perencanaan, me-manaje waktu dalam: HIDUP KESEHARIAN.

Contoh lainnya: Saat pasangan suami istri akan memiliki buah hati, maka mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya sebelum bayi tersebut lahir. Ini adalah manajemen.

b. Menyadari bahwa semua kegiatan manajemen dipatok oleh WAKTU. Contoh dalam hidup kita: Pendidikan di SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun. Namun bagaimana jika seorang anak menempuh pendidikan di SD selama 12 tahun? Tentu ini menunjukkan bahwa hidup dan pendidikan anak tersebut tidak di-manage dengan baik. Tuhan pun menentukan batas waktu kita di dunia adalah 70 tahun, jika kuat dan sehat adalah 80 tahun. Lebih dari itu adalah kesukaran. Jadi bagaimana kita memaksimalkan waktu yang Tuhan berikan? Kelola/manage dengan baik!

B. Cara Mengelola
Ada orang yang berkata “Di kalangan kita ini, lebih banyak berdoanya daripada bekerja. Saat Tuhan sudah menjawab, orang kalangan kita masih berdoa dan tidak mau bertindak.” Kita harus berhati-hati memahami pernyataan/statement tersebut. Orang yang tidak suka berdoa akan memakai pernyataan itu sebagai alasan untuk bekerja tanpa perlu berdoa. Padahal berdoa itu mutlak. Tetapi meresponi dalam bentuk tindakan juga mutlak. Jika iman kita sudah meresponi visi Allah, maka iman kita itu harus disertai perbuatan. Maka ada motto “Ora et Labora” (Berdoa dan Bekerja). Jangan sampai kita hanya siap berdoa tetapi tidak siap menerima jawaban doa.

Untuk mengelola Visi Allah, ada 5 poin penting yang harus kita perhatikan:

1. APA?
(Bentuk nyata dari visi/perencanaan)
Tanyakan:
– Apa yang akan dikerjakan khususnya di tahun 2019 ini?
– Proyek/program apa untuk tahun 2019 ini?
Dalam pekerjaan/usaha yang harus dikelola, apa yang akan dikerjakan tahun ini? Di gereja kita saat ini – terutama setelah bencana, proyek kita adalah pembangunan fisik gedung gereja.

Kalau kita sudah mampu menjawab pertanyaan itu (sudah jelas pekerjaannya), barulah kita nelanjutkan ke pertanyaan selanjutnya.

2. SIAPA? (Orang yang akan mengerjakan)
Tanyakan:
– Siapa orang yang akan mengerjakannya?
– Berapa orang yang diperlukan untuk mengerjakannya?

Yesus menggunakan orang dalam pelayanan-Nya, 12 orang kemudian 70 orang untuk memberitakan Injil, kemudian semua orang percaya.

3. KAPAN?
(Schedule/Kalender Kerja)
Segala yang akan dikerjakan harus dikalenderkan sehingga dapat diketahui berapa lama hasil dapat diperoleh.

Ingatlah hidup kita dipatok oleh waktu. Saya memotivasi banyak orang dengan perkataan ini: “Jika umur 40 tahun kita belum memiliki apa-apa, jangan salahkan Tuhan jika kita tetap tidak punya apa-apa. Jika usia 50 tahun kita belum punya rumah sendiri/hanya kontrak, maka jangan salahkan Tuhan jika sampai mati tidak punya rumah sendiri.” Mengapa? Karena setelah berusia 40-50 tahun fisik dan kemampuan kita akan menurun. Maka jika saat ini kita adalah anak muda, responi visi Allah, manage visi Allah sehingga mencapai apa yang Tuhan siapkan. Keselamatan sudah kita miliki. Namun jangan sampai kemelut hidup di dunia membuat iman kita lemah sehingga kehilangan apa yang Tuhan siapkan.

4. PRIORITAS (Yang harus didahulukan)
Cara menentukan prioritas: Inventarisasi semua kebutuhan yang akan diproyekkan. Jika ada kebutuhan, hapus sembilan dan tinggalkan satu yang paling penting untuk menjadi urutan yang pertama. Demikian seterusnya.
Ada orang yang hanya berfokus pada 1 tugas dan yang lainnya terbengkalai. Ini karena tidak menentukan prioritas. Saat seorang bujang akhirnya hidup berumah tangga, berubah pula manajemen hidupnya. Saat kemudian pasangan ini memiliki anak, maka berubah pula manajemen hidup mereka.
Dalam hidup kita ada keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Jika semua hal itu tidak ter-manage dengan baik maka pasti ada yang akan terbengkalai. Jadi setiap orang percaya harus cakap menentukan prioritas dan me-manage hidupnya.
Tips: Jika banyak yang harus dilakukan dan kita adalah seorang pelupa, yang bisa menolong kita adalah catatan. Bisa menggunakan catatan manual atau catatan di smartphone yang dilengkapi alarm.
Pesan untuk anak muda: Jika anak muda terus menerus melakukan hal-hal yang tidak penting dan tidak melakukan hal-hal yang penting, maka jangan salahkan Tuhan jika kita tidak mencapai rancangan-Nya. 5. Evaluasi Setelah kita mengerjakan semua tanggung jawab kita, kita perlu mengevaluasi kembali, sudahkah kita memperoleh hasil yang maksimal? Jika belum, apa penyebab/penghalangnya? Bagaimana mengatasinya/memperbaikinya? Jika kita bisa mengelola Visi Allah sebagai respon kita dalam bekerjasama dengan Allah, maka kita akan mencapai rancangan Allah.

by : Pdt. R. F. Martino