Monthly Archives: February 2019
MEMILIKI DAN MENJALANI VISI ALLAH -PENGALAMAN-
Yosua 1:3 Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.
Sebelum Yosua ditugaskan untuk memimpin bangsa Israel menggantikan Musa, ia sudah diperlihatkan satu visi yang sangat jelas bahkan sampai wilayah yang akan ia miliki dan segala sesuatu yang Tuhan telah tetapkan baginya. Tetapi ada satu hal yang bermasalah, yaitu pribadi Yosua sendiri. Ia bukan bermasalah karena berbuat dosa tetapi atas kondisi dirinya sendiri sehingga Tuhan yang mengenal segenap isi hati memperingatkan Yosua berulang-ulang untuk menguatkan hatinya. Tuhan mengatakan kepada Yosua supaya ia jangan tawar hati, jangan kecut hati. Tawar hati bisa diartikan pesimis, patah semangat, kecewa dan lain sebagainya.
Hal ini tidak berbeda atas hidup kita sebagai orang percaya. Apa yang Tuhan janjikan itu pasti terjadi tetapi yang bermasalah adalah diri kita, yaitu masalah internal dalam diri kita. Oleh karena itu, kita masih terus belajar menginventarisir hal-hal apa saja dalam diri manusia lahiriah ini yang menjadi kendala bahkan menjadi penghambat yang membuat rancangan Allah tidak dapat kita capai dan tidak tergenapi. Hal itu tidak terjadi dengan sendirinya. Ada bagiannya Tuhan dan ada bagiannya kita untuk dikerjakan. Oleh karena itu, kita harus memahami bahwa Tuhan memakai apa yang ada pada kita bukan apa yang tidak ada pada kita. Ia berfirman kepada Musa “apa yang ada di tanganmu itu?“ Musa berkata “tongkat.” Tuhan katakan lebih lanjut, agar ia membawa tongkat yang ada di tangannya itu. Tongkat itu harus dipakai untuk membuat tanda-tanda mujizat. Kemampuan/potensi sumber daya yang daripada Tuhan sudah diberikan dalam diri kita masing-masing. Hanya saja sebagian besar umat Tuhan tidak mempergunakannya. Bahkan, seringkali semakin seseorang rohani, semakin ia tidak memakai kemampuan yang Tuhan taruh di dalam dirinya. Karena adanya pengajaran yang keliru bahwa seolah-olah jika kita pakai potensi yang ada dalam diri kita, berarti bekerja menurut kekuatan diri sendiri. Oleh karena itu kita harus pahami apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Firman Tuhan mengatakan “kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Dengan mengetahui sumber daya yang Tuhan berikan dalam diri kita, kita dapat mempergunakannya untuk mencapai rancangan Allah.
Pada saat Allah memberikan visi-Nya kepada kita, sesungguhnya Ia telah melengkapi kita dengan sumber daya untuk mewujudkan visi tersebut. Hal ini sangat besar pengaruhnya dalam kita merespon visi Allah. Berhasil tidaknya kita menjalani visi Allah tergantung sejauh mana kita memfungsikan sumber daya yang sudah diberikan Allah. Di dalam pertumbuhan rohani kita untuk lebih semakin dewasa, kita harus ingat bahwa iman ada pada diri seorang manusia lahiriah secara riil. Namun kita juga harus menyadari kelemahan-kelemahan yang ada pada manusia lahiriah ini tidak boleh dijadikan senjata untuk kita pelihara. Kita harus memahami bahwa ada iman yang lebih sanggup melakukan apa yang tidak sanggup dilakukan oleh manusia lahiriah.
Setiap kita mempunyai masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Kita sekarang ada karena ada masa lalu. Ada masa yang akan datang karena ada masa sekarang. Tuhan memberikan sumber daya dalam diri manusia dimulai dari faktor genetika (bakat, keahlian dan temperamen), faktor didikan dan latihan, anugerah Allah, dan pengalaman. Ini semua Tuhan sudah berikan. Kita tahu bahwa setiap manusia adalah ciptaan Allah. Tetapi banyak anak-anak Tuhan tidak bisa lebih unggul daripada anak-anak dunia. Karena anak-anak Tuhan memendam segala sumber daya yang Tuhan sudah berikan kepadanya dan hanya menjalani saja dengan angan-angan dan meminta agar Tuhan yang bekerja. Kita banyak memendam sumber daya yang Tuhan sudah berikan kepada kita dan tidak mempergunakannya. Bahkan terkdanag kita tidak menyadarinya. Kita tidak perlu ambisi mengejar sesuatu, karena hal ini akan terjadi dengan sendirinya yaitu ketika kita menggunakan sumber daya yang Tuhan sudah tetapkan di dalam kehidupan kita. Pada saat seseorang lahir, ia sudah diberikan bakat dan keahlian, temperamen, dan intelegensia, tinggal bagaimana saat pertumbuhan dan perjalanan hidupnya, apakah dikembangkan atau tidak.
Apakah di dalam kita menjalani hidup sehari-hari, kita sudah mengeluarkan semua kemampuan akal budi? Apakah ketika bekerja atau pun di dalam mengerjakan pelayanan, kita sudah melakukannya dengan segenap kekuatan?
Sejak lahir, Tuhan sudah berikan kepada kita yaitu bakat/keahlian khusus, temperamen dan tingkat kecerdasan. Tinggal kita kembangkan. Selain daripada faktor kelahiran dan genetika, Tuhan juga memberikan dalam lingkungan keluarga kita didikan dan pelatihan, lingkungan gereja, lingkungan pendidikan formal dan non formal, semuanya kita sudah peroleh. Disitulah dibentuk jati diri seseorang. Selain daripada factor-faktor tersebut, kita juga memperoleh anugerah Allah, yaitu kemampuan Allah dan karunia rohani. Kita harus memahami mana kemampuan Allah yang tidak dapat kita kerjakan, dan mana karunia-karunia rohani yang Tuhan sudah berikan kepada kita.
Pengalaman
Semua kita tentunya sudah mengalami pengalaman hidup sesuai tingkat usia. Tidak seorangpun yang tidak mengalami yang namanya pengalaman hidup. Seturut tingkat usia mulai dari kita kecil sampai kepada usia kita sekarang ini, berbagai macam bentuk pengalaman kita sudah alami dalam kehidupan kita. Pengalaman merupakan salah satu sumber daya yang sudah kita miliki di dalam kehidupan kita. Ada diantaranya beberapa pengalaman manis, pengalaman pahit, pengalaman kekecewaan, keberhasilan dan kita membagikannya kepada orang lain supaya mereka juga memahami apa yang namanya perjalanan hidup dalam segala bentuk realitanya. Didalam kita mengalami berbagai pengalaman itu, di situ kita juga bagikan apa yang namanya putus asa, kecewa, untung, rugi, jalan keluar dan berbagai macam pengalaman lainnya yang hadir dari berbagai realita hidup.
Pengalaman adalah guru yang terbaik, tetapi belajar dari pengalaman orang, jauh lebih baik daripada peristiwa itu menimpa kita sendiri. Itu sebabnya orang dianjurkan banyak membaca buku, supaya orang dapat belajar dari pengalaman yang sudah ada tersebut. Berbagai realitas hidup yang menghasilkan pengalaman itu akan menjadi kekayaan dalam kehidupan kita untuk menjadi lebih matang dan lebih dewasa. Kita menjadikan pengalaman sebagai suatu pembelajaran, atau sejarah yang sudah terjadi. Jika orang tidak mau belajar dari sejarah, maka ia akan mengulangi sejarah tersebut. Dari hal inilah kita banyak dapat belajar, karena hidup adalah realita dan setiap manusia pasti akan menjalani pengalaman hidup. Hal ini terjadi secara alamiah.
Pengalaman hidup bagi orang percaya tidak hanya sekedar romantika kehidupan . Pengalaman hidup orang percaya yang sungguh memiliki iman, berubah menjadi pengalaman iman. Itu sebabnya, setiap orang percaya harus punya kemampuan merubah pengalaman hidupnya menjadi pengalaman iman. Jika hanya berbicara tentang pengalaman, semua orang melakukannya. Beberapa orang menjadikannya metode padahal itu hanyalah suatu pembelajaran dan tidak membawa hasil apa-apa untuk pertumbuhan iman karena dia tidak merubahnya menjadi pengalaman iman.
Tuhan sudah menetapkan bahwa setiap orang yang sudah lahir baru harus hidup oleh iman. Karena bagi manusia pada umumnya, semua masalah yang dihadapi, ia akan meresponnya secara alamiah dengan kekuatan jiwani, atau menurut kemampuan jiwanya. Tetapi bagi orang percaya, dalam menghadapi realita atau masalah, ketika akan merespon secara jiwani, maka iman kita harus segera bertindak. Untuk menaklukkan pikiran, kehendak dan perasaan sendiri, iman kita harus hadir menghadapi masalah. Karena iman itu akan memunculkan Firman sebagai jawaban atas masalah sehingga kita tidak berbuat dosa dan tetap berada di bawah kehendak dan petunjuk Tuhan di dalam kita menyelesaikan masalah. Itulah yang membedakan antara orang percaya dan orang yang tidak percaya. Pengalaman hidup yang dirubah menjadi pengalaman iman akan menghasilkan pertumbuhan rohani, menghasilkan kematangan iman, kematangan dalam penyerahan diri, sehingga kita mengerti arti penyerahan.
Mengandalkan Tuhan bukan berarti menguburkan segala sumber daya yang Tuhan sudah berikan kepada kita.
Pada akhirnya kita perlu mengevaluasi pengalaman hidup kita. Tidak ada yang lebih membahayakan selain daripada orang yang tidak memiliki pengalaman. Tanpa pengalaman kita dapat mendatangkan tragedi bagi diri kita sendiri dan orang lain. Contoh sederhana yaitu ketika kita akan menggunakan satu peralatan baru, kita membutuhkan buku panduan atau orang yang lebih tahu, orang yang sudah punya pengalaman dalam menggunakannya.
1 Raja-raja 20:11 Tetapi raja Israel menjawab, katanya: “Katakanlah! Orang yang baru menyandangkan pedang janganlah memegahkan diri seperti orang yang sudah menanggalkannya.”
Orang yang baru menyandang pedang tidak boleh sombong, jangan memegahkan diri seperti orang yang sudah meninggalkannya artinya ia baru saja memegang senjata sedangkan yang lain sudah menggantungnya karena ia sudah memiliki pengalaman. Jika belum punya pengalaman, belajarlah kepada yang sudah punya pengalaman. Jangan pernah merasa hina untuk belajar dari pengalaman orang lain.
Daud
Daud adalah seorang yang mendapat kemampuan atas anugerah Allah, sehingga ia yang tidak diperhitungkan itu dapat mengalahkan Goliat. Itu karena anugerah Allah. Daud, selain diberi kemampuan yang dari Tuhan, ia juga sudah berpengalaman sebelum ia menjadi prajurit, sebelum ia muncul melawan Goliat. Ia bukanlah seorang prajurit melainkan seorang gembala. Tetapi pengalamannya melebihi seorang prajurit.
Daud dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang baik, mendapat didikan dan pelatihan yang benar, minyak urapan sudah dicurahkan kepadanya oleh seorang Nabi. Daud memiliki anugerah Allah dalam dirinya tetapi selain itu ia juga memiliki pengalaman. Anugerah Allah dan kemampuan Allah ada dalam dirinya. Bukan hanya pada saat ia melawan Goliat, tetapi dari sejak ia seorang gembala, anugerah Allah itu sudah ada padanya sehingga hal itu mendatangkan pengalaman iman baginya.
Daud tidak menggembalakan ratusan domba, melainkan hanya beberapa ekor saja. Tetapi ketika ada binatang buas yang datang menerkam dombanya, ia berani mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dombanya itu.
1 Samuel 17:34-36 Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, 35maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.
36Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”
Daud mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk domba yang ia gembalakan. Ia sudah punya pengalaman menghadapi bahaya yang lebih dahsyat. Tuhan sudah menaruhkan keberanian di dalam diri Daud. Ketika pengalaman ini dia munculkan, bukan berarti ia mengandalkan pengalaman itu, ia tahu bahwa kemenangannya berasal dari Tuhan. Itu sebabnya ia mengatakan kepada Saul “Tuhan yang melepaskanku dari cakar singa dan cakar beruang, Ia juga yang akan melepaskanku dari tangan orang Filistin itu.”
Sumber daya yang Tuhan sudah berikan kepada kita, bukan untuk kita pendam, tetapi untuk kita kerahkan seluruhnya di dalam mencapai rancangan Allah. Karena itu adalah untuk kita sendiri didalam menjalani masa depan.
1 Timotius 3:6 Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.
Oleh karena itu ada suatu standar kematangan yang dibutuhkan bagi kita yang melayani. Ketika kita sudah menjadi pelayan Tuhan, hal itu tidak semata-mata hanya ibadah, tetapi kita melayani orang yang beribadah, melayani umat Tuhan. Orang yang baru bertobat saja diberikan peringatan, apalagi yang belum bertobat. Sebab kalau ia baru bertobat, ia hanya bermodalkan suatu gairah yang begitu rupa tetapi masih kurang pengalaman, apalagi jika gereja tidak mendidiknya melainkan hanya memberikannya jabatan, Sehingga orang itu hanya menganggap posisinya sebagai suatu jawatan dan bukan peperangan rohani. Orang tersebut dapat menjadi sombong karena posisi jabatan tersebut dan karena belum adanya pengalaman. Sehingga dikatakan jangan sampai kena hukuman iblis.
Jadi keempat faktor inilah, yaitu kelahiran, didikan, anugerah Allah, dan pengalaman yang membentuk dasar yang diatasnya masa depan kita sedang di bangun. Jika kita mengabaikan 4 faktor ini yang Tuhan sudah berikan, jangan salahkan Tuhan jika kita tidak mencapai apapun. Jadi kita temukan dulu diri kita secara manusia jasmani dan manusia rohani oleh karena iman. Harus ada keseimbangan dalam pertumbuhan kita. Kita akan sulit untuk menetapkan langkah jika kita belum mengetahui sumber daya yang ada dalam diri kita, jika ini kita sudah temukan baru kita bisa melangkah, dan menjalani visi Allah. Jika sudah menginventarisasi hal-hal di atas, berarti kita sudah siap untuk menjalani masa depan dan menghadapi tantangan serta kesempatan-kesempatan. Karena masa depan tetap ada tantangan dan selalu ada kesempatan, karena hidup ini adalah kesempatan. Temukanlah apa yang Tuhan sudah taruh dalam diri kita sehingga kita dapat menjalani masa depan kita dengan visi Allah, terus naik dan tidak turun, menjadi kepala dan bukan ekor.
By : Pdt. R.F Martino
MEMILIKI DAN MENJALANI VISI ALLAH Anugerah Allah
Visi mutlak kita perlukan dalam menjalani kehidupan pribadi dan rohani. Sayangnya orang dunia lebih mengetahui mengenai pentingnya visi daripada orang percaya. Padahal visi mutlak kita perlukan apalagi bagi para pemimpin.
Setiap orang percaya perlu mengintrospeksi diri: “Sudahkah saya mencapai visi Allah?” Realitanya, tidak banyak orang percaya yang benar-benar mencapai Visi Allah. Dalam Roma 12:1 Alkitab memerintahkan agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia. Itu berarti orang percaya mempunyai nilai plus dibandingkan orang dunia. Sayangnya banyak orang percaya yang menjadi ekstrim, yaitu menjadi orang yang sangat vertikalis (hanya memahami bahwa ia manusia rohani) namun melupakan bahwa ia juga adalah manusia lahiriah yang dibekali Tuhan dengan sumber daya yang luar biasa. Orang dunia lebih memahami bahwa mereka memiliki sumber daya sehingga banyak dari mereka yang memaksimalkan sumber dayanya melebihi orang percaya (hanya saja sayangnya mereka mengandalkan diri sendiri karena mereka memang tidak memiliki iman).
Banyak orang rohani saat mengalami suatu masalah kehidupan, mencari jawabannya melalui doa. Karena belum ada jawaban, Hamba Tuhan menasihatinya agar semakin sungguh-sungguh berdoa. Namun jawaban tidak juga datang, akhirnya orang percaya ini menjadi “putus asa di dalam kemampuannya yang dahsyat”. Ia tidak menyadari bahwa jawabannya sebenarnya ada di dalam sumber daya yang dahsyat yang telah Tuhan taruh di dalam dirinya.
Potensi yang luar biasa ada di dalam diri kita. Tinggal keputusan diri kita: Apakah kita mau memakainya ataukah kita mau membiarkannya tertanam. Jika kita tidak mau memaksimalkan potensi diri kita, tidak heran orang-orang meremehkan dan menyisihkan diri kita. Jika kita melihat realita yang terjadi, gereja/umat Tuhan merasa tertekan di negeri ini. Apa penyebabnya? Alkitab berkata bahwa kita adalah garam dunia – camkan: kita bukan garam dapur tetapi garam dunia – jika kita tidak lagi asin, tak heran kita dibuang dan diinjak-injak orang. Itulah yang terjadi.
Kita rohani luar biasa (sangat vertikal) tetapi secara horizontal tidak berguna/tidak bernilai. Apakah di rumah kita disegani karena kita adalah orang yang bernilai? Apakah di tempat kerja, kita adalah orang yang disegani rekan kerja dan dikagumi pimpinan karena kita adalah orang yang bernilai? Atau justru sebaliknya?
ANUGERAH ALLAH
Semua sumber daya yang kita miliki tak sanggup untuk mengatasi semua realita hidup kecuali anugerah Allah.
1. Kemampuan Allah
Setelah menginventarisasi sumber daya yang kita miliki dari faktor genetika, dan latihan, ternyata belum cukup untuk dapat mencapai rancangan allah. Diperlukan adanya anugerah Allah atau kemampuan Allah.
Apa pemahaman kita akan “anugerah Allah”? Saat kita diselamatkan dari maut, diampuni dan dikuduskan dari segala dosa, itulah anugerah Allah. Namun tidak berhenti sampai disitu. Karena dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita membutuhkan anugerah Allah.
2 Korintus 12:9 “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”
Kita tidak boleh salah memahami ayat diatas sebagai alasan untuk memelihara kelemahan diri. Ayat diatas berbicara tentang kemampuan maksimal manusia yang lemah dan tak mampu menyelesaikan masalah manusia. Paulus menghadapi suatu realita yang tidak mampu ia atasi dengan kemampuan maksimalnya. Ia memiliki pengalaman dan prestasi rohani yang luar biasa dan dibawa ke surga. Supaya ia tidak sombong, Tuhan memberinya “duri dalam daging” sebagai alat kontrol.
Ada banyak tafsiran apa yang dimaksud dengan “duri dalam daging yaitu pesuruh iblis untuk menggocoh dirinya”. Kita tidak akan membahas tafsiran itu. Namun Paulus tidak dapat mengatasinya dan ia sudah berdoa beberapa kali kepada Tuhan agar “duri dalam daging” itu diangkat dari dirinya namun jawaban Tuhan padanya seperti pada ayat diatas. Banyak orang rohani yang merasa diri terlalu hebat sehingga tidak menyadari bahwa itu sifat kedagingan yang berasal dari iblis. Alat kontrol apa yang Tuhan taruh dalam hidup saudara sebagai alat kontrol supaya saudara menyadari batas kemampuan anda, menjadi “tahu diri”, tidak menjadi sombong, dan menyadari bahwa semua karena anugerah Tuhan? Dalam kelemahanlah penyerahan diri kita kepada Tuhan menjadi sempurna dan kita mengandalkan Tuhan.
Contoh dari tokoh Alkitab yang mendapat kemampuan dari Allah:
a. Daud selagi masih anak muda, keluar berperang melawan Goliat. Keberhasilannya mengalahkan Goliat adalah kemampuan dari Allah. Mari kita merenungkan bagaimana Goliat menghujat seluruh tentara Israel dan Allah yang hidup, dan tidak satupun tentara Israel yang berani menghadapi Goliat. Ini menunjukkan bahwa semua sumber daya yang kita miliki harus dipakai, tetapi ada batasnya. Kita butuh kemampuan Allah karena semua sumber daya yang kita miliki diikat oleh hukum logika. Namun realita hidup yang kita miliki seringkali tidak bersahabat dengan hukum logika. Ada ayat Alkitab yang berkata “Tuhan akan berperang bagimu dan engkau akan diam saja”. Firman Tuhan ini benar tetapi dalam konteks apa dulu? Contoh jika saat ini kita berada dalam pengungsian bencana, kalau kita hanya berdiam diri menunggu bantuan, kita akan mati. Kita harus bergerak.
b.Yusuf mempunyai latar belakang yang baik dari faktor kelahiran/genetika, tetapi ketika dia masih muda dia dimasukkan dalam penjara. Dia tidak banyak mendapat pendidikan formal. Yusuf mendapatkan anugerah Allah dalam hidupnya yang menyebabkan dia diangkat sebagai perdana menteri di Mesir. Jika kita flashback sejenak kepada kisah hidup Yusuf, Potifar melihat Yusuf disertai Tuhan dari hasil pekerjaannya. Orang dunia tidak melihat hidup kita disertai Tuhan dari banyaknya kita berdoa atau melayani. Penilaian orang luar bahwa kita disertai Tuhan adalah melalui KINERJA kita. Apakah kinerja kita cemerlang atau biasa-biasa saja? Kinerja dimulai dari diri sendiri lebih dulu. Kalau kinerja kita tidak berharga, jangan mengharapkan orang lain akan menghargai kita. Orang menghargai kita bukan karena orang tahu kita selalu berdoa dan selalu berada di gereja, tetapi dari perilaku dan kinerja kita sehari-hari. Alkitab mencatat bahwa Yusuf “elok parasnya dan manis kelakuannya”. Saat istri potifar menggodanya – kita bisa yakin bahwa saat itu ia menggunakan pakaian minim, namun Yusuf menolaknya. Hal ini tidak bisa ia lakukan dengan kekuatan manusia, hanya kekuatan Allah yang memampukan Yusuf untuk lari.
c. Paulus berasal dari keluarga yang baik, keturunan Benyamin. Pendidikannya tidak diragukan lagi, dia belajar kepada Gamaliel dan dididik untuk menjadi anggota Sanhedrin. Untuk dapat diterima dia harus mampu menghafal 5 kitab pertama dari Alkitab dengan lancar. Paulus adalah orang berpendidikan tinggi dan berkualitas. Pengetahuannya tentang Perjanjian Lama cukup kuat dan mendasar. Tetapi justru melalui faktor kelahiran dan pendidikannya dia menjadi seorang pembunuh. Melalui anugerah Allah, ia membawa ribuan orang kepada Tuhan Yesus Kristus dan mendirikan banyak gereja. Tuhan berhadapan langsung dengan Paulus dan memberikan anugerah padanya. Tanpa anugerah Allah Saulus tidak akan menjadi Paulus. Dari semua contoh diatas kita memahami: Sumber daya harus dipakai dan dimaksimalkan tetapi bukan menjadi andalan kita. Kita harus mengandalkan Tuhan.
2. Karunia Rohani
Karunia rohani berbeda dengan bakat yang kita peroleh secara genetika ataupun keterampilan yang kita peroleh melalui didikan/latihan. Setiap anggota tubuh Kristus harus melekat pada tubuh dan berfungsi. Sebagai anggota tubuh Kristus, Tuhan telah memberikan kepada kita masing-masing secara khusus suatu tempat pada tubuh.
1 Korintus 12:18 “Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.”
Kita juga menerima karunia-karunia rohani sehingga kita dapat saling melayani dalam tubuh Kristus.
1 Petrus 4:10 “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”
Kita perlu berfungsi/melayani di gereja lokal masing-masing. Sudah berapa lama kita berjemaat di GPPS Palu? Apakah kita sudah berfungsi?
CARA MENEMUKAN KARUNIA-KARUNIA ROHANI
1. Anggota tubuh harus melekat pada tubuh dan berfungsi dalam pelayanan. Berarti kita harus mengambil komitmen untuk melayani.
2. Laksanakan tanggung jawab pelayanan yang dipercayakan. Jadi apapun pelayanan yang saat ini dipercayakan, lakukan saja dulu dengan bertanggung jawab.
3. Dari berbagai bidang pelayanan yang dipercayakan maka akan menghasilkan apa yang paling “disukai” dalam tubuh Kristus. Maka dari semua pelayanan yang telah kita lakukan, kita akan menemukan ada pelayanan tertentu yang paling kita “sukai”.
4. Apa yang dimintakan dari saya dalam tubuh Kristus/gereja? Saat kita diminta gereja untuk melakukan suatu jenis pelayanan, janganlah berkata, “Mengapa selalu saya yang ditugaskan untuk pelayanan itu?” Kita harus mengintrospeksi, mungkin disitulah karunia pelayanan kita.
5. Apa buah rohani dalam pergaulan saya dengan orang lain? Contohnya saat kita bergaul dengan si A. Hal-hal baik apa saja yang ia peroleh dari kita? Hal-hal tersebut di atas akan membantu anda menemukan karunia-karuna rohani anda.
Roma 12:4-8 “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.”
Pada ayat diatas disebutkan tentang “karunia melayani” – ini perlu dijelaskan agar kita tidak salah memahami. “Karunia Melayani” adalah karunia rohani hospitality, yaitu senang menolong dan “direpotkan”, siap membantu kapan saja dan apa saja saat diperlukan. Dari keseluruhan ayat diatas kita memahami bahwa setiap kita memiliki karunia pelayanan yang berbeda-beda. Melayanilah sesuai karunia kita masing-masing. Hidup ini adalah kesempatan. Maksimalkan sumber daya kita dan layanilah Tuhan dengan karunia rohani yang diberikan kepada kita selagi masih ada kesempatan.
By : Pdt. DR. R. F. Martino
MENJALANI DAN MEMILIKI VISI ALLAH — Menemukan Sumber Daya Diri —
Yosua 1:3 Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.
PENDAHULUAN
Semua orang harus memulai hidup barunya dengan visi Allah bukan visi sendiri
Allah tidak hanya memberikan visinya kepada kita, tapi Ia juga sudah memberikan sumber daya dalam diri kita supaya bisa menjalani visi tersebut. Musa sudah diberikan “tongkat” untuk menjalani visi Allah.
Kita harus terus mengingat tentang hal-hal di atas supaya kita memahami bahwa kegagalan-kegalan dalam mencapai visi Allah lebih disebabkan oleh karena faktor-faktor internal yang ada dalam diri kita.
Tuhan tidak memakai apa yang tidak ada pada kita, ketika ada hal yang tidak ada pada diri kita maka Ia akan memberikannya terlebih dahulu.
2 Timotius 2:20-21 21Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. 21 Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.
Demikian juga Tuhan sudah memberikan kejelasan yang sangat nyata dalam hidup kita sehari-hari bahwa di dalam rumah ada perabot yang dipakai dengan biasa dan ada yang dipakai untuk hal yang mulia. Orang-orang yang mau menyucikan diri dari kejahatan pasti ia mendapat tempat yang mulia.
Kita harus bisa menemukan apa saja yang ada pada diri kita pada saat kita lahir di dunia ini, apa saja yang sudah Tuhan tetapkan, baik secara alamiah/genetika/kelahiran itu juga adalah bagian-dari sumber daya-sumber daya yang Tuhan berikan. Bicara tentang hal ini kita harus menengok ke belakang (masa lalu) bukan untuk mengingat pengalaman-pengalaman pahit, tapi bagaimana kita menemukan apa yang sudah ada sejak kita lahir.
Kita sudah belajar untuk memahami bahwa di dalam kehidupan ada masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Untuk menjalani masa yang akan datang harus dimulai dengan visi yang dari Allah. Tetapi sebelum kita menjalaninya, Tuhan mau kita menemukan apa yang menjadi sumber daya yang ada pada diri kita yang Tuhan sudah taruhkan pada saat kita lahir. Tuhan sudah menaruh potensi dalam diri setiap orang yaitu bakat atau sesuatu yang khusus.Tidak ada seorangpun lahir ke dunia tanpa memiliki bakat.
Pada saat Allah memberikan visi-Nya kepada kita, sesungguhnya Ia telah melengkapi kita dengan sumber daya untuk mewujudkan visi tersebut. Dan hal ini sangat besar pengaruhnya dalam kita meresponi visi. Berhasil tidaknya kita mewujudkan visi yang kita perolah dari Allah tergantung sejauh mana kita memfungsikan sumber daya yang sudah diberikan kepada kita.
Orang-orang ekstrim menganggap ini adalah hal “dunia” yang menganggap bahwa berarti kita mengandalkan diri sendiri, hal ini keliru. Kita sama sekali tidak mengandalkan diri sendiri atau pikiran diri sendiri atau kemampuan diri sendiri.
DIDIKAN DAN LATIHAN (DIKLAT)
Didikan dan latihan bukan menyangkut berbagai disiplin ilmu pegetahuan, melainkan jati diri yang terbentuk dari didikan dan pelatihan yang telah diperoleh seseorang.
Faktor-faktor berikut akan mempengaruhi kita dalam mencapai visi Allah:
1. Lingkungan Keluarga
2. Lingkungan Gereja
3. Pendidikan Formal dan Non Formal
1. Lingkungan keluarga
Lingkungan keluarga merupakan aspek yang pertama dan utama dalam mempengaruhi perkembangan anak
a. Seorang anak lebih banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga, sehingga keluarga mempunyai peran yang banyak dalam membentuk perilaku dan kepribadian anak serta memberi contoh nyata kepada anak
b. Di dalam keluarga, anggota keluarga bertindak secara alamiah apa adanya tanpa dibuat-buat. Dari kelyarga inilah baik dan buruknya perilaku dan kepribadian anak terbentuk
c. Apabila orang tua berperilaku kasar dalam keluarga, maka anak cenderung akan meniru. Begitu juga sebaliknya, orang tua yang berperilaku baik dalam keluarga, maka anak juga cenderung akan berperilaku baik.
d. Cara orang tua mendidik anak juga mempengaruhi perkembangan perilaku dan kepribadian anak. Orang tua yang otoriter sering memaksaanak untuk menaati peraturan-peraturan yang diberikan orang tua kepada anaknya.
Cara seperti ini, jiwa anak akan tertekan akibat paksaan-paksaan, kurangnya kepercayaan diri dalam bergaul, serta kurangnya kebebasan anak dalam bereksplorasi.
e. Sedangkan orang tua yang permisif lebih cenderung memberi kebebasan kepada anaknya tanpa memberi kontrol dan batasan-batasan. Orang tua hanya sedikit memberi nasihat dan bimbingan. Cara didikan ini, mengakibatkan anak cenderung bebas dalam bertingkah laku tanpa adanya kontrol yang kuat pada dirinya. Anak akan terkesan manja karena kebebasan yang diberikan dan kurangnya hukuman atau ganjaran yang ia dapat dari hasil perbuatannya.
f. Cara otorisasi/otoritatif. Orang tua selalu menuntut anaknya untuk mematuhi peraturan, anak juga diberi kesempatan untuk berpikir dan berdiskusi mengenai peraturan-peraturan yang dibuat oleh orang tuanya. Orang tua memberi kebebasan kepada anaknya untuk bereksplorasi, tetapi juga memberikan kontrol kepada anak.
Didikan seperti ini akan membuat anak merasa bagian dari keluarga danikut berperan dalam keluarga. Anak lebih mandiri dan mempunyai pendirian yang kuat, tanggungjawab yang besar, percaya diri dan mempunyai kendali diri yang kuat.
Amsal 4:13 Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalahdia, karena dialah hidupmu.
Amsal 19:20 Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.
Amsal 23:13-14 13 Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. 14 Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.
Amsal 20:20 Siapa mengutuki ayah atau ibunya, pelitanya akan padam pada waktu gelap.
Efesus 6:1-4 1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2 Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. 4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.
(…bersambung)
By : Pdt. RF. Martino
PEMBOROSAN
Tanpa kita sadari seringkali kita berbelanja dan pada akhirnya kita terkejut karena uang di dompet sudah habis. Betapa kita seringkali memboroskan apa yang Tuhan percayakan dalam hidup kita.
Yohanes 12:1-8 Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. 2Di situ di Betania diadakan perjamuan untuk Yesus dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. 3Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. 4Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: 5″Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” 6Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya. 7Maka kata Yesus: “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku. 8Karena orang-orang miskin selalu ada pada kamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada pada kamu.”
Maria mempersembahkan minyak narwastu seharga 300 dinar kepada Tuhan Yesus dan Yudas menyaksikannya dan menyebut bahwa itu adalah suatu pemborosan. Benarkah itu adalah suatu pemborosan? Yudas katakan jika minyak narwastu 300 dinnar dijual lalu dibagi-bagikan kepada orang miskin, itu akan dapat menolong mereka. Tetapi Tuhan Yesus mengetahui dengan benar bahwa bukan itu maksud Yudas. Yudas dengan cepat mengatakan bahwa itu adalah suatu pemborosan karena dicurahkan di kaki kemudian hilang begitu saja jadi lebih baik dijual kemudian hasilnya diberikan kepada orang miskin sehingga dapat menolong mereka. Tetapi kita mau belajar apa kata Yesus dan bukan apa kata Yudas. Kita banyak kali mendengar dari orang-orang di sekitar kita, tetapi mari kita belajar kepada firman Tuhan, belajar dengar apa kata Yesus. Apa yang dilakukan Maria dipuji oleh Tuhan Yesus dengan menyebut bahwa itu adalah perbuatan yang baik, persembahan yang harum. Dengan hati yang tulus Maria melakukan itu dan Tuhan tahu sampai kedalaman hatinya. Semua kita tentu merindukan bahwa apa yang kita lakukan buat Tuhan adalah perbuatan yang baik bukan sesuatu untuk cari muka dan cari nama tetapi hanya untuk kemuliaan Tuhan.
Ada tiga hal yang dilakukan oleh Maria.
1. Ungkapan hati yang penuh dengan ucapan syukur
Ia merasakan bahwa ada sesuatu yang Tuhan kerjakan dalam hidupnya. Itu yang disadari oleh Maria sehingga ia melakukannya sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Maria dan Marta baru saja menerima mujizat bahwa saudara mereka Lazarus yang sudah 4 hari mati, dibangkitkan oleh kuasa Tuhan. Ini adalah hal yang luar biasa dimana orang pada zaman itu terperangah karena bukan hanya orang sakit disembuhkan, yang buta dicelikkan matanya, yang tuli dibuat bisa mendengar tetapi mereka melihat ada orang mati yang Yesus sanggup bangkitkan. Itu sebabnya Maria mengadakan ucapan syukur. Banyak dari kita lupa untuk berterima kasih kepada Tuhan, karena yang terpenting bagi kita adalah apa yang saya rindukan, Tuhan sudah menjawabnya. Setelah itu kita lupa untuk berterima kasih. Mari belajar untuk tahu mengucap syukur ketika kita menikmati apa yang Tuhan sudah berikan kepada kita.
1 Tesalonika 5:18 Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.
Mengucap syukur tidak hanya pada saat diberkati oleh Tuhan tetapi juga pada saat kita berada dalam pergumulan, di saat kita menghadapi tantangan hidup, kita tetap menaikan syukur kepada Tuhan. Dalam keadaan sepi, dalam keadaan yang tidak mungkin dan dalam keadaan yang begitu sulit, Paulus dan Silas tetap memuji Tuhan. Di tempat yang tidak memungkinkan sekalipun mereka tetap menaikkan pujian dan syukur kepada Tuhan.
Beberapa waktu lalu kita menghadapi sesuatu yang besar yang Tuhan izinkan terjadi bagi kota Palu tetapi kita masih. Tentunya bukan karena kekuatan atau hebat kita tetapi karena Tuhan Yesus yang mengasihi kita. Oleh sebab itu hari-hari dalam perjalanan hidup, kita harus mengucap syukur kepada Tuhan.
Minyak Narwastu dalam tradisi Israel disiapkan oleh seorang gadis untuk menghadapi saat-saat ia akan menikah. Pada saat ia menikah minyak narwastu ini akan dicurahkan di tubuhnya sehingga menjadi harum. Itulah yang dilakukan oleh Maria dengan sepenuh hati kepada Yesus. Pengorbanan yang tulus dari seorang Maria berkenan dihadapan Tuhan. Apapun persembahan atau pengorbanan yang kita lakukan dengan tulus hati kepada Tuhan, hal itu berkenan di hadapan Tuhan. Kita semua telanjang di hadapan Tuhan, tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya. Apa yang kita buat bisa saja orang lain tidak mengetahuinya tetapi Tuhan maha mengetahui sampai ke dalam hati kita masing-masing.
Ibrani 4:13 Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.
2. Ungkapan hati yang mengerti firman Tuhan (ayat 7; Mat 26:10,12)
Matius 26:10, 12 Tetapi Yesus mengetahui pikiran mereka lalu berkata: “Mengapa kamu menyusahkan perempuan ini? Sebab ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku. 12Sebab dengan mencurahkan minyak itu ke tubuh-Ku, ia membuat suatu persiapan untuk penguburan-Ku.
Tuhan tahu setiap perbuatan kita. Meminyaki kaki Yesus dengan minyak Narwastu adalah bagian dari pemahaman Maria terhadap firman Tuhan. Ia telah duduk di kaki Yesus untuk mendengarkan firman Tuhan. Maria tahu persis apa yang Yesus ajarkan. Maria selalu mengingat apa yang akan dialami oleh Tuhan Yesus yaitu tentang kematiannya.
Jika kita senantiasa dekat dengan Tuhan dan menerima firman Tuhan dengan sungguh-sungguh, ada sesuatu yang akan terjadi dalam hidup kita. Tanpa kita memiliki Firman, segala sesuatu kita akan lakukan menurut kehendak kita. Firman Tuhan adalah kompas dalam perjalanan hidup kita. Yesus sudah tersalib dan mati bagi kita semua. Kita ditebus bukan oleh emas dan perak tetapi dibayar lunas dengan darah anak domba yang mahal harganya. Itu sebabnya kita perlu menyadari bahwa bersyukur untuk segala sesuatu yang Tuhan lakukan dalam hidup kita adalah penting terlebih untuk hormat kemuliaan nama Tuhan.
Ketika kekasih kita menulis surat untuk kita tentu kita akan membacanya berulang-ulang. Saya pun pernah mengalami hal ini. Jika surat dari kekasih kita begitu indah untuk dibaca tetapi mengapa seringkali surat dari Tuhan Yesus kita enggan untuk membacanya. Padahal disitulah seluruh isi hati Tuhan yang Ia rindu untuk kita lakukan dalam kehidupan kita. Ini adalah suatu tantangan buat kita. Kita perlu belajar dekat dan mengerti firman Tuhan supaya kita tahu lakukan yang terbaik untuk Tuhan.
Dengan belajar firman Tuhan, kita semakin memahami dan mengenal siapa Tuhan. Sehingga dengan mudah kita mempersembahkan persembahan yang terbaik untuk Tuhan. Jika kita tidak tahu isi hati Tuhan maka kita tidak tahu persembahan apa yang baik untuk Tuhan dan kita mulai hitung-hitung. Kita bersyukur bahwa kita selalu diingatkan bahwa apa yang ada pada kita adalah punya Tuhan. Kalau kita tidak memahami ini kita akan salah melangkah.
Maria mengasihi Yesus karena ia melihat bahwa guru dan Tuhannya itu mengasihi dia. Maria tahu bahwa Yesus mati untuk dia. Kita pun tahu bahwa Yesus mati untuk kita. Tetapi apakah kita mau mengasihi Yesus seperti Maria mengasihi Yesus? Ini adalah suatu pilihan. Tuhan tidak pernah memaksa kita tetapi Ia rindu dari dasar hati yang dalam supaya kita mau melakukannya untuk Tuhan. Ketika seorang anak memberikan sesuatu yang baik untuk orang tuanya, tentu orang tua itu akan merasa senang. Begitu pun halnya Tuhan senang ketika anak-anak-Nya memberikan sesuatu yang baik kepada-Nya.
Yudas melihat hal tersebut dan berpendapat bahwa itu adalah suatu pemborosan karena ia tidak pernah mengerti dan memahami firman Tuhan, juga tidak mengenal kasih Yesus yang terdalam. Itu sebabnya ia tidak mengetahui arti memberi yang sesungguhnya. Kita sepatutnya memberi dengan menyadari kalau bukan karena Tuhan, kita sementara antri masuk neraka, tetapi oleh karena korban Yesus di kayu salib, Ia telah merebut kita dari kebinasaan.
Kolose 1:13 Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih;
Kita seharusnya mati dan binasa, tetapi Ia menempatkan kita di tempat yang terbaik. Seseorang yang memahami firman Tuhan, jika melihat ada orang lain yang mau berkorban melakukan sesuatu untuk Tuhan, ia tidak akan berani mengatakan bahwa itu adalah pemborosan atau cari muka, tetapi ia akan berdoa untuk orang tersebut. Di tengah-tengah pergumulan yang ada saat ini, jangan pernah mengambil sikapnya Yudas. Karena ia tidak mengerti secara mendasar apa yang Maria lakukan. Ketika kita melihat bahwa ada orang-orang yang tergerak hatinya untuk pekerjaan Tuhan, mari kita berdoa untuk mereka agar Tuhan berkati. Orang yang digerakkan hatinya dengan tulus, tatkala ia melakukan sesuatu untuk pekerjaan Tuhan maka hal itu indah di pemandangan Tuhan. Mari kita belajar seperti Maria. Bukan pemborosan tetapi untuk kemuliaan nama Tuhan.
3. Ungkapan hati yang mengasihi Tuhan Yesus (ayat 1,2,8)
Hari ini kita ada dalam pemeliharaan Tuhan, mari kita setia dan sungguh-sungguh dengan Tuhan. Bukan saja kita diberkati jika kita dekat dengan Tuhan tetapi sekalipun dalam bayang-bayang maut, jika Tuhan ada di sana, maka kita diluputkan.
Kami mempunyai seorang guru, ketika ia akan berangkat untuk mengajar di satu tempat, ia sudah memesan bus. Tetapi pada saat itu, kursi yang ia telah pesan, sudah diduduki oleh orang lain. Istri dari bapak tersebut mengatakan kenapa tempat yang sudah ia pesan, justru diduduki oleh orang lain. Kemudian mereka pergi dengan bus yang lain. Ternyata bus pertama yang tadinya mereka akan tumpangi, mengalami kecelakaan yaitu tertimpa pohon dan tempat dimana mereka seharusnya duduk itu hancur.
Jika kita setia kepada Tuhan maka Ia akan pelihara hidup kita. Dalam kondisi apa pun Tuhan pasti pelihara. Kesaksian lain dimana saya bersama keluarga sedang dalam perjalanan di daerah pantai selatan Bolaang Mongondow, tiba-tiba ombak begitu besar lalu mesin motor kami mati. Kira-kira 10 meter lagi, ombak dapat menghempaskan kami ke sana dan bisa saja kami mati. Perjalanan ini yang seharusnya ditempuh hanya 2 jam setengah kemudian menjadi 5 jam setengah karena ombak yang begitu besar, dan kalau bukan karena Tuhan, maka kami sudah mati.
Dalam perjalanan hidup, jika kita dekat dengan Tuhan dan mengutamakan Dia dalam hidup kita maka ia tidak akan pernah melepaskan kita. Ia pasti menolong kita. Mari kita berbuat sesuatu untuk Tuhan, hanya karena kemurahan Tuhan kita ada sebagaimana kita ada. Hidup ini mari kita taruhkan untuk memuliakan Tuhan. Maria tidak “hitung-hitung” ketika ia “buang” 300 dinar begitu saja. Bahkan lebih dari itu ia gunakan rambutnya dan menggosok-gosokkannya di kaki Yesus. Ia tidak mengandalkan kehormatan dirinya tetapi ia mengetahui bahwa Yesus lebih mulia daripada dirinya.
Untuk Tuhan tidak ada pemborosan. Mari kita lakukan dengan sungguh- sungguh. Berikan pada Tuhan maka Ia akan membukakan berkat-berkat-Nya pada kita. Jika kita mau berbuat untuk Tuhan seperti Maria maka kita akan menikmati berkat-berkat yang indah dari Raja diatas segala raja. Tuhan memberkati, amin.
By : Pdt. Adrian L. Manikome, B.Sc.













