Daily Archives: 17/03/2019
KUASA FIRMAN YANG MENGUBAHKAN
Lukas 5:1-11 1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. 4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” 5 Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” 6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. 8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” 9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.
Ayat 1: Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah
Sejak kita menjadi orang percaya sejauh mana kita memiliki pengalaman iman di dalam mengalami kuasa Firman mengubahkan segala sesuatu?
Beberapa kisah di Alkitab menceritakan bahwa sering terjadi Yesus dikerumuni orang banyak dengan berbagai-bagai motivasi. Ada yang datang karena lapar, ada yang ingin disembuhkan, ada yang datang karena ingin mendengar mujizat dan mendapatkan mujizat, dll. Tapi dalam kisah di atas, orang banyak tersebut datang kepada Yesus karena ingin MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH.
Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Iman timbul dari mendengarkan firman Kristus. Kita yakin dan menerima kebenaran ini, tetapi bagaimana wujud nyatanya dalam hidup sehari-hari? Diurutan keberapakah posisi firman itu dalam hidup kita?
Firman harusnya ada di dalam dan menyatu dengan roh kita dan berada di posisi yang utama dari yang lain.
Ini tidak berarti kita mengabaikan hidup dan tanggungjawab kita sebagai manusia lahiriah yang hidup di dunia.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan beberapa orang percaya yang mengaku tidak membutuhkan firman atau tidak menempatkan firman di posisi utama dalam hidupnya:
1. Karena sama sekali tidak memahami firman karena memang belum mengenal Kristus dan menerima-Nya.
2. Tidak merasakan dan belum pernah mengalami kuasa firman itu mengubah sesuatu dalam hidup dan dirinya, dia hanya mendengar kesaksian dari orang lain.
3. Menganggap firman hanya menyangkut kehidupan etis. Karena mereka melihat di luar kehidupan orang Kristen banyak yang kehidupan etisnya lebih baik dari orang Kristen itu sendiri. Dia merasa bahwa dia tidak membutuhkan Tuhan dan tidak harus menjadi orang percaya karena dia bukan orang jahat. Dan banyak juga filosofi-filosofi etika di dunia ini yang lebih baik dari orang Kristen yang tidak punya etika.
Ada ayat yang mengatakan bahwa pentingnya harus ada filosofi etika dalam kekristenan untuk membawa orang tersebut takluk kepada firman. Ia akan menyambut ketika Allah melawat dia karna melakukan perbuatanmu yang baik
Jika kita benar-benar memahami ayat dalam Roma 10:17 maka kita akan memiliki gaya hidup seperti …. Ada suatu gairah, sukacita, kesukaan untuk mendengar firman Tuhan (Ada dua cara mendengar: mendengar pakai telinga dan mendengar dengan cara membaca). Sebab dengan mendengar firman maka iman itu timbul, bahkan dalam II Petrus 1:5-8 dikatakan bahwa iman juga harus ditambahkan dengan hal-hal yang menyangkut aplikasi dari iman itu sendiri. Dengan demikian barulah kita bisa menjalani hidup kita seperti yang ditetapkan dalam Roma 1:17 yaitu: Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”
Dikatakan “akan hidup oleh iman” tidak dikatakan “akan berdoa oleh iman” yang selama ini umumnya dalam kekristenan hanya menganggap bahwa iman hanya sebatas untuk jawaban doa. Sehingga orang berimanpun ketika ia minta sesuatu, dia paksakan imannya hadir supaya doanya didengar. Walaupun awal pengalaman iman adalah jawaban doa tetapi iman itu sendiri bukanlah hanya sekedar jawaban doa tapi orang percaya ditetapkan untuk HIDUP OLEH IMAN.
Kita masih hidup di dunia, jadi jalanilah hidup ini oleh iman. Bagaimana kita menjalani hidup oleh iman sedangkan kita masih manusia lahiriah? Bagaimana kita mau hidup oleh iman sedangkan kita tidak mempunyai firman? Sedangkan dalam Roma 1:7 mengatakan bahwa orang benar akan hidup oleh iman. Jadi sederhanya adalah HIDUP OLEH IMAN ADALAH HIDUP MELAKUKAN FIRMAN DAN TANPA SYARAT (KETAATAN TANPA SYARAT)
I.
Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah
Kita harus punya situasi dan kondisi hidup yang seperti ini, haus dan lapar akan firman, sehingga pribadu kita dan firman boleh menyatu. Sama dengan kebiasaan yang kita lakukan yaitu makan tiga kali sehari. Tubuh ini pastinya harus diberi makan itupun masih ada tuntutannya yaitu makanan yang bergizi supaya ada keseimbangan pertumbuhan. Firman Tuhan juga dikatakan sebagai roti hidup, kitapun butuh, sebab tidak mungkin kita jalani hidup kita untuk mengatakan “jalan dengan iman tanpa memiliki firman”.
II.
Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.
Berbahagialah Simon yang perahunya dipinjam oleh Yesus untuk mengajar banyak orang. Sebelumnya Simon tidak tahu bahwa yang mengajar itu adalah Yesus.
Kira-kira kalau saudara ada pada waktu itu, apakah Saudara mengharapkan perahu Saudara dipakai oleh Yesus?
Nah sekarang andaikan ada barang Saudara dipinjam untuk keperluan gereja, apakah anda meminjamkannya?
Kalau Saudara tahu apa rahasianya, maka Saudara akan berdatangan untuk menawarkan apa yang bisa dipakai oleh gereja. Jangankan barang, diripun kita berikan untuk dipakai oleh Tuhan.
Dalam sebuah pengalaman saya pernah diajak pelayanan besuk oleh seorang hamba Tuhan yang sudah kehilangan dua matanya (buta). Ia adalah mantan pengusaha sukses. Awalnya dia tidak mau menerima panggilan khusus dari Tuhan, pdahal Tuhan mau pakai dia dengan segala hal yang ada padanya waktu itu. Diawali dengan hancurnya usahanya, sampai dua matanya harus buta, barulah ia mau memberi hidupnya sepenuh waktu
Jadi selagi apa yang ada pada kita bahkan diri, waktu, kekayaan, pikiran, tenaga pakailah untuk kepentingan Tuhan. Bersyukurlah masih dipilih oleh Tuhan untuk melayani-Nya, pilihan ini patut dihormati dan dihargai.
Pada waktu itu mereka sudah membasuh/membersihkan jalanya, karena semalam-malaman sudah berusaha keras untuk mencari ikan tapi tidak memperoleh apa-apa.
Dalam kondisi seperti ini kita harus menyadari bahwa dalam kehidupan kita ada saat-saat dimana kita mengalami kegagalan. Banyak kalimat-kalimat filosofi tentang kegagalan. Da yang mengatakan bahwa kegagalan adalan penundaan kesuksesan, ada jug ayang mengatakan semua orang sukses pernah mengalami kegagalan, itu semua penghiburan. Pernahkah Saudara mengalami kegagalan? Kalau sudah pernah mengalami kegagalan dan berhasil dari kegagalan mungkin baru boleh berkata seperti filosofi dunia seperti itu. Tapi kalau belum pernah mengalaminya jangan meminjam kata-kata tersebut. Karena kegagalan itu tidak mudah dirubah menjadi sukses.
Seorang Gembala dari Gereja Kristal Katedral. Dia seorang hamba Tuhan yang dipakai untuk mengubah perekonomian buruk menjadi berhasil. Sehingga ia bukan hanya jadi pengkhotbah tapi dipakai juga oleh para pengusaha-pengusaha terkenal di Amerika, tentu saja dengan dasar firman, untuk menjadi pembicara.
Waktu itu terjadi badai tornado yang melanda wilayahnya, sampai ia jatuh miskin. Kemudian Tuhan memanggil ia menjadi seoang hamba Tuhan lewat malapetaka tersebut. Ada suatu kalimat yang memotivasinya dan mengubah banyak orang yaitu: PENDERITAAN TIDAK AKAN PERNAH BERTAHAN LAMA PADA DIRI ORANG YANG ULET. Dia membagikan pengalaman imannya berdasarkan apa yang ia alami.
Tidaklah mudah bicara mengenai kegagalan, itu sama dengan orang yang sedang mengalami kedukaan, masing-masing datang dan memberikan penghiburan kepada keluarga yang berduka. Yang perlu kita sadari bahwa semua kalimat penghiburan itu tidak akan mampu membangkitkan orang yang sudah meninggal. Semua kalimat penghiburan itu hanya sejenak menghibur tapi tidak menjawab pergumlan itu.
Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.
Inilah kegagalan Simon:
Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.
Ini bukan kegagalan biasa, bukan gagal karena malas, bukan karena tidak punya manajemen hidup. Bisa diistilahkan situasi dan kondisi tidak “bersahabat” dengan mereka. Mereka sudah bekerja keras tapi tetap saja gagal. Bekerja pada malam hari di tengah lautan/danau untuk mecari ikan bukanlah pekerjaan yang mudah, ini pergumulan yang sangat sengit.
Kalau kegagalan itu terjadi tanpa kerja keras, tidak akan terlalu menyakitkan atau melelahkan, tidak menguras energ, tidak banyak menguras waktu dan dana. Tapi ini kegagalan yang sudah digumuli begitu rupa tetapi tetap gagal. Siapa yang bisa menduga, bahwa sesuatu yang kita gumuli, pada suatu hari kegagalan itu menimpa hidup kita. Semua bentuk kegagalan itu menyakitkan, jika orang tidak siap orang itu bisa saja stress, depresi bahkan mengambil tindakan bunuh diri.
Prinsip dasar tentang kerja keras adalah mutlak, tidak boleh tidak. Mungkin kita sempat berkata “Mereka saja sudah bekerja keras tapi tetap gagal” ini tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak bekerja keras.
Mungkin kita sempat berpikir juga bahwa kegagalan itu berasal dari Iblis, ini juga tidak bisa dijadikan alasan sepenuhnya, kita harus mengkoreksi diri kita pribadi, apakah kita sudah bekerja keras?
Yang menarik perhatian Tuhan untuk memulihkan kegagalan kita menjadi keberhasilan adalah ketika kita sudah bekerja keras tapi tetap gagal. Kalau kegagalan itu dikarenakan kemalasan, jangan berharap Tuhan menolong.
Pemahaman kita tentang pertolongan Tuhan juga perlu diubahkan.
Tuhan tahu persis kedua perahu ini. Mengapa perahu Simon yang Tuhan pilih? Keadaan terungkap pada saat Yesus menyuruh untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala untuk menangkap ikan.
Ternyata perahu yang dipinjam Tuhan Yesus, pemiliknya bermasalah, pemiliknya adalah seorang yang gagal.
Bersyukurlah kalau ada sesuatu yang Tuhan pilih dan kehendaki dalam kehidupan kita, itu berarti Tuhan punya rencana yang luar biasa.
Tuhan tidak pernah berhutang, begitu Yesus pinjam perahu Dia langsung bayar dengan ikan yang penuh dalam perahu.
“Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.
Sebagai orang percaya kita harus berani MENJADI PASTI DENGAN TUHAN, karena Ia bukan pendusta, ketika Ia berfirman maka firman penuh dengan kuasa.
Apakah Yesus tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Simon? Yesus tahu! Tapi Ia memerintahkan:
1. Bertolak ke tempat yang lebih dalam
2. dan tebarkan jala.
Simon mengungkapkan masalah yang telah terjadi semalaman, yaitu kegagalan dalam menangkap ikan yang sedang mereka alami lewat kerja keras.
Ini bertentangan, bagaimana mungkin, semalam-malaman penuh dengan kegagalan dan sekarang disuruh untuk tebarkan jala? Hukum logika tidak bisa menembus hukum iman. Hukum iman menembus hukum logika. Tidak ada yang terlalu sulit kegagalan-kegagalan apapun bentuknya, jika kita bukan hanya mendengar firman tapi mentaati dan melakukannya.
Secara manusia lahiriah yang punya pikiran danpengalaman, tidaklah salah Simon menyampaikan keluhannya, Simon taat melakukan apa yang Yesus katakan.
Sejauh mana kemampuan hukum logika kita menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi? Sejauh mana kemampuan hukum iman yang kita miliki yaitu firman yang ada dalam diri kita, merubah segala sesuatu?
Inilah yang menjadi pergumulan. Sudah melakukan kerja keras tapi gagal. Tapi KArena guru yang menyuruh, kami akan menyebarkan jala.
Antara hasil analisa logika kita dengan firman yang akan menjawab masalah yang sedang kita hadapi dibutuhkan ketaatan. Ini adalah pilihan dan bukan paksaan.
Lama tidaknya persoalan kita selesai itu tergantung penyerahan dan ketaatan pada apa yang Tuhan perintahkan untuk kita lakukan. Bukan lamanya Tuhan menjawab.
Jangan salah beriman pada firman, menganggap bahwa friman terjadi dengan sendirinya tidak!. Harus kita lakukan! Bukan hanya menantikan jawaban Tuhan.
Tidak akan pernah merubah situasi kondisi kegagalan mereka ketik amereka tidak mentaati apa yang Yesus katakan.
HASILNYA
6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.
Firman yang tidak dilakukan, hanyalah sebuah tulisan atau kata=kata, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Kuasa firman itu bekerja, diarasakan hasilnya pada saat kita sedang melakukan firman itu.
Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”
Percakapan sudah menjadi lain bukan hanya percakapan secara jasmani, tetapi bicara tentang hal rohani. Disitu ia menyadari dan melihat dengan apa yang Yesus lakukan. Dan ia menemukan siapa dirinya dihadapan Tuhan Yesus.
Pemahaman ini sangat mendasar danpenting bagi kita.
Dua percakapan yang sangat berbeda sampai kepada suatu transformasi dan perubahan yang luar biasa. Secara seutuhnya. Tadinya yang menjadi persoalan adalah nafkah, kebutuhan, untung rugi, kegagalan tetapi berubah menjadi perkara keselamatan.
Sayang sekali sebagian besar orang Kristen tidak mengalami ini, yang kita temukan adalah sebagian orang Kristen beriman kepada Kristus hanya sampai ke tingkat perubahan nasib dari orang berdosa yang masuk neraka berubah menjadi orang percaya yang masuk surga, tanpa medalami lebih lanjut.
Demikian juga perubahan nasib di dunia, miskin jadi kaya, gagal jadi berhasil, itulah pemahan yang dimilikilah oleh Kristen pada umumnya.
9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.
Kuasa firman yang ditaati yang mendatangkan hasil merubah mereka melebihi dari orang yang sukses.
Kesuksesan mereka ini perlu diberi pemahaman. Sayang sekali sudah menjadi sukses yang diawali dengan ketaatan pada firman Tuhan kemudian kesuksesan membuat jauh dari Tuhan bahkan meninggalkan Tuhan.
11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.
Mereka meninggalkan sesuatu dan mengikut Yesus. Tapi tidak meninggalkan pekerjaan begitu saja.
Banyak orang yang sibuk melayani tapi tidak mengurus apa yang sudah ada, tidak mengurus pekerjaan, tanggungjawab.
Mereka membereskan segala pekerjaan barulah mengikut Yesus.
Ada keseimbangan barulah mengikut Yesus. Mereka tidak meninggalkan tanggungjawab.
Memanage waktu
By : Pdt. R.F. Martino













