BERSUNGUT-SUNGUT ATAU BERSYUKUR?
I Korintus 10:10 Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.
Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
Topik yang akan kita pelajari adalah kejadian yang terjadi dalam keseharian. Perlu kita pahami, bahwa ini adalah pilihan. Bersungut-sungut atau bersyukur? Kita tidak bisa menjadikan alasan bahwa semuanya terjadi karena situasi dan kondisi.
Siapa diantara kita yang tidak pernah bersungut? Kita semua pasti pernah bersungut-sungut.
Bersungut adalah keadaan dimana kita tidak dapat menerima realita yang sedang dihadapi secara standar analisa logika. Pada umumnya hal ini dianggap lumrah .
Kalau kita analisa secara pikiran logika ada beberapa tingkatan bersungut. Misalnya ada yang sudah diajar berulang-ulang tapi tetap membangkang dan tidak mau mendengar, hal ini pastinya akan membuat kita bersungut.
Bersungut akan merusak hubungan kita secara vertikal dengan Tuhan dan juga merusak hubungan secara horisontal dengan sesama dan juga merusak pribadi kita dalam pembentukan kepribadian kita.
Jadi apapun alasannya, hal ini tetap merugikan kita dan kerugiannya banyak, bukan hanya vertikal dan horizontal tapi diri sendiri. Apalagi kalau kita sudah sampai pada tingkat persungutan yang sangat berbahaya yang bisa berurusan dengan Tuhan. Inilah yang terjadi pada Bangsa Israel yang mana semua persungutannya disertai dengan reaksi. Sepertinya sasarannya adalah pada Musa dan Harun tetapi padahal sudah tertuju pada Tuhan.
Jadi tidak boleh kita anggap ini adalah hal alamiah saja, karena semua proses yang terjadi secra alamiah merupakan jalan tol Iblis untuk menyentuh kita. Berhati-hatilah dengan segala sesuatu yang alamiah, karena alamiah itu berujung dengan hal yang lumrah dan harap dimaklumi. Misalnya orang memaki kita, maka lumrah-lah kita marah. Ketika bersungut-sungut kita anggap biasa/lumrah, ini yang akan membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang penuh dengan bersungut.
Ada seorang ibu gembala yang sudah berusia lanjut, dimanapun ia berada dan duduk, awalnya yang dia keluarkan adalah bahasa-bahasa rohani selanjutnya adalah kepahitan, dia menceritakan kepahitan dimanapun ia berada. Orang tidak mengira, karena pembawaan ibu itu sangat baik kelihatannya. Karena kami sudah cukup mengenal ibu ini, setiap kali ia mulai menceritakan hal-hal kepahitan, kami langsung mengalihkan ke pembicaraan yang lain atau bahkan meninggalkannya karena kami tidak mau dia berbuat dosa dengan menceritakan kepahitannya. Kenapa bisa ada seorang yang rohani, bahkan ibu gembala (hamba Tuhan), bisa melakukan hal ini? Ini bukti bahwa tidak ada seorangpun yang steril dari bersungut-sungut.
Buat kita yang sudah melayani di gereja, pernahkah Saudara bersungut mengenai pelayanan Saudara? Ingatlah bahwa didalam persungutan, sukacita kita sudah dirampas oleh Iblis. Kepribadiannya terbentuk menjadi “pesungut”.
Keluaran 16:2 Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun;
Persungutan yang bukan hanya dilakukan oleh satu orang tapi segenap/seluruh Jemaah Israel yang menjadi sasaran hanya dua orang yaitu Musa dan Harun.
Keluaan 16:7 Dan besok pagi kamu melihat kemuliaan TUHAN, karena Ia telah mendengar sungut-sungutmu kepada-Nya. Sebab, apalah kami ini maka kamu bersungut-sungut kepada kami?”
Musa tetap dengan sabar menjawab dan mengatakan bahwa Tuhan mendengar persungutan mereka.
Keluaran 17:3 Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?”
Kita berandai saja, ketika hal tersabut tejadi pada fellowship yang biasa kita lakukan setelah ibadah. Tiba-tiba makanan dan minuman tidak tersedia, pastilah akan muncul gejolak diantara kita dan kata-kata yang mengarah ke persungutan. Jangan pernah anggap bersungut-sungut itu hal alamiah tapi itu adalah pilihan. Faktor jiwani kita yang sudah diformat untuk menangani semua masalah, akan otomatis menanggapi semua hal itu.
AKIBAT PERSUNGUTAN
Memang benar bahwa Tuhan sudah mendengar persungutan Bangsa Israel dan inilah jawabannya:
Bilangan 11:1-2 1 Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan. 2 Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu.
Jadi persungutan itu mendatangkan murka Tuhan. Apalagi kalau kita sudah menjadi orang percaya, kita tahu keselamatan hidup yang kekal adalah anugerah, itu yang melebihi segala sesuatu yang kita butuhkan dalam kehidupan kita, kehidupan yang kekal yang Tuhan sediakan dalam Yesus Kristus adalah hal yang luar biasa. Inilah hal yang mendasari dari segala sesuatu bentuk tantangan hidup supaya kita merubah persungutan menjadi bersyukur.
Jadi jangan kita hanya menganggap bahwa Tuhan mendengar persungutan, memang Dia mendengar tapi jawaban Tuhan atas persungutan bisa membangkitkan murka Tuhan.
Mereka bersungut tentang nasib dan keberadaan mereka bahkan mereka mereka sempat berkata lebih baik mati di padang. Kenapa bisa terjadi persungutan ini?
PENYEBAB PERSUNGUTAN
Kita harus selidiki secara seksama dalam diri kita masing-masing. Darimana awal persungutan yang kita lakukan? Apa penyebabnya? Kita tidak bisa hidup bermasa bodoh, kita harus mengintropkesi diri, minta Tuhan menyelidiki keberadaan kita, supaya kita mendapat jawaban. Dan ternayata jawaban yang Tuhan berikan ada pada diri kita masing-masing. Persungutan ini adalah sesuatu faktor kejiwaaan yang kemudian akan mengganggu roh. Realita-realita yang harusnya dihadapi tapi tidak mau dihadapinya.
Ada banyak bentuk persungutan. Kadangkala kita berfikir bahwa yang kita lakukan sasaranya tidak mengarah pada Tuhan, kemudian selalu cari kambing hitam.
Persungutan juga bisa menandakan sejauh mana tingkat kedewasaan iman atau rohani.
Mujizat apa yang tidak dialami oleh Bangsa Israel? Belum keluar dari Mesir saja sudah ada sepuluh tulah mujizat besar yang terjadi di negeri itu. Apakah itu tidak cukup? Luar biasa kuat kuasa Allah yang sudah dinayatakan didalam menyelesaikan segala yang dihadapi, tetapi hanya karena perkara kecil (soal makan dan minum/selera) sudah menjadi persungutan Bangsa Israel.
Persungutan bisa terlontar hanya di dalam hal yang kita anggap sepele. Di suatu kota ada kekacauan, ada orang datang berbelanja disebuah toko, dia menawar tapi tidak terlayani dengan baik bahkan penjaga toko balik memaki pembeli. Dia pulang dan tidak menerima perlakuaan penjaga toko tsb, kemudian balik dan menyelesaikannya dengan kekacauan. Mengapa hal ini terjadi? Kata makian bagi penjaga toko sudah terbiasa.
Kalau kita sudah terbiasa menggerutu, mengomel, memaki lama kelamaan kita anggap itu hal biasa. Tetapi bagi orang lain yang mendengar itu sesuatu yang sangat luar biasa.
Kondisi seperti ini bisa mendatangkan bahaya bagi diri kita juga hubungan kita dengan Tuhan, karena ternyata Tuhan melakukan yang sangat luar biasa. Mungkin kita berfikir dan berkata: “pantaskah orang yang yang hanya minta air dibakar dengan nyala api dari Tuhan”?
LEPAS DARI PERSUNGUTAN
Apa sebenarnya yang sudah memenuhi kehidupan kita?
Yohanes 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
Pada saat kita terima Yesus urusan akhirat sudah dibereskan, seharusnya, ini sungguh membuat kita hidup penuh dengan syukur dan penuh dengan damai sejahtera. Tapi Tuhan tahu bahwa kita hidup di dunia yang memegang kendali adalah faktor jiwani, makanya dikatakann “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” Inilah yang harus terjadi. Tetapi sejauh mana kekuatan damai sejahtera yang ada pada kita? Sebab kalau ini tidak ada maka yang ada terjadi secara alamiah adalah persungutan, kegelisahan, pikiran kacau, dan segala sesuatunya tidak mendatangkan hal yang baik. Tuhan menghendaki kita menikmati apa yang namanya damai sejahtera.
Jangan kita menganggap hal ini alamiah, seringkali kita tidak menikmatinya, karena kita lebih berikan prioritas utama pada faktor jiwani kita yang mengambil alih segala kegiatan jasmani kita.
Ini akan menggeser semua persungutan itu.
Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
Dimana kita menempatkan damai sejahatera? Apakah damai sejahtera memegang pucuk pemerintahan dalam hati kita. Kalau kita sudah sampai pada tingkat ini barulah kita bisa hidup dalam hidup yang penuh dengan syukur dan persungutan itu tidak akan diijinkan hadir. Tapi selama damai sejahtera Kristus tidak memerintah karena kita tidak berikan kesempatan dan peluang untuk memerintah yang keluar pasti persungutan.
Mari kita pahami apa itu hidup oleh iman yang menjadi bagian kita apa itu bagian Tuhan yang menggenapi janji-janji iman yang Dia berikan pada kita. Seringkali orang percaya dididik hanya untuk menerima apa yang menjadi bagian Tuhan tapi bagiannya ia tidak pernah berbuat apa-apa.
Ada saat-saat memang kita tidak bisa mampu berbuat apa-apa karena hal itu sudah diluar kemampuan dan Tuhan yang melakukan dan itu yang disebut mujizat, akan tetapi ini tidak selamanya Tuhan membimbing kita seperti itu.
Ketika rohani kita masih bayi pengalaman iman kita yang pertama adalah jawaban doa yang begitu mudah dijawab. Sehingga banyak orang berhenti sampai disitu yaitu iman hanya sebatas jawaban doa, dia belum sampai ke tingkat berikutnya bahwa ada kalanya Tuhan tidak berbuat sesuatu untuk mendidik kita yang belum memahami apa itu proses untuk penyerahan apa itu proses penghancuran daging. Tuhan memperkenalkan diri-Nya dulu dengan maha dahsyat, kuasa, hebat, sesudah itu memperkenalkan diriNya sebagai maha kudus dan kita harus memahaminya.
Jadi kita dibawa pada tingkatan yang lebih lagi. Ini yang patut kita pahami.
Kolose 3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
Selama firman Tuhan tidak dilakukan, maka hanya sebuah kalimat tulisan tidak ada artinya apa-apanya. Kita bisa menikmati kedahsayatan firman Allah itu pada saat kita lakukan.
Hasilnya:
Kolose 3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Mengucap syukur juga bukan kalimat indah. Mengucap syukur ini adalah hal yang sangat menyakitkan daging dan menyakiti jiwani. Karena hanya dengan mengucap syukur itu yang bisa mengikis segala kehendak jiwani menjadi kehendak Tuhan/firman.
Banyak perintah firman Tuhan yang tidak masuk akal, karena hanya bisa dilakukan dengan iman. Kalau iman dapat melakukannya bagaimana proses realitasnya dalam diri kita secara pribadi teratasinya segala unsur jiwani dengan kehendak firman?
Contoh:
Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi berbuatlah baik. Ini bukanlah hal yang masuk akal. Nah, kalau tidak masuk akal, mengapa Tuhan jadikan perintah untuk kita lakukan?
Bagaimana iman ini dapat melakukan? Sedangkan tidak masuk akal. Disinilah peranan kekuatan pengucapan syukur itu. Persungutan merupakan suatu pilihan yang dilakukan oleh unsur jiwani kita karena tidak bisa menerima dan menolak realitas yang sedang kita hadapi.
Tetapi ketika firman Tuhan itu melimpah dalam diri kita dan kita mau mentaati firman pada saat kita mau melakukannya sesungguhnya halangan utama itu ada pada diri sendiri (unsur jiwani)
Roh Kudus sebagai roh penolong yang akan menolong kita melakukan firman dalam kelemahan kita. Firman sebagai jalan keluar maka itulah yang akan kita lakukan sehingga persungutan tidak akan jadi tetapi firman yang akan kita lakukan. Ketika persungutan itu keluar kuasa kita semakin lemah. Ketika persungutan ini sudah keluar kekuatan iman kita juga semakin lemah. Karena kita tidak dapat menerima kondisi riil yang ada, tapi kekuatan awal dari pengucapan syukur adalah menerima setiap realitas apapun .
By : Pdt. R.F. Martino









