This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Monthly Archives: April 2019

PERSEMBAHAN ATAU SUMBANGAN

Suatu saat ada seorang istri datang kepada saya, dia menceritakan suatu pergumulannya yaitu bahwa pada saat dia belum berkeluarga (masih berstatus bujang) segala sesuatu dia bisa memutuskan segala sesuatunya sendiri. Tetapi setelah dia memutuskan untuk menikah, yang berarti dua menjadi satu, segala keputusan harus ada kata sepakat. Nah, kesepakatan inilah yang menjadi suatu pergumulan. Suaminya memiliki suatu pemahaman yang berbeda dengan dirinya, segala sesuatu harus dikonfirmasikan dengan suaminya, jika hal itu tidak sesuai dengan pemahamannya maka akanmenimbulkan suatu permasalahan. Tapi jika ia mengikuti apa yang menjadi pemikiran suaminya, itu juga menjadi pergumulan bagi pribadinya, karena dia adalah pribadi yang ingin menyenangkan hati Tuhan, ketika ia ingin melakukan pemberian sesuatu untuk pekerjaan Tuhan, suaminya tidak sepaham dengan dia dengan berkata “Kita bukan orang kaya”.
Ketika harus makan keluar bersama-sama dengan temannya yang lain, dia juga tidak mau ditraktir terus, maka ia berinisatif untuk membayarnya. Setiba dirumah suaminya marah dan berkata bahwa mereka bukan orang yang kaya dan jangan berlaku boros. Akhirnya sang istri harus membuat kebijakan-kebijakan agar dia tetap bisa berbuat untuk pekerjaan Tuhan.

Banyak orang yang memahami firman tapi belum tentu mau melakukannya, tapi bagi orang yang tahu firman dan memahami serta mau melakukan dan dia tahu bahwa hidup ini hanya sesaat dan adalah suatu kesempatan dan waktu yang Tuhan berikan tidak akan pernah terulang kembali dan disaat kita mau melakukan sesuatu belum tentu waktu itu terulang kembali

Markus 12:41-44 41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. 42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. 43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”

Menurut KBBI:
Arti persembahan adalah:hadiah; pemberian (kepada orang yang terhormat)
Arti Sumbangan adalah:
1.    Pemberian sebagai bantuan
2.    Bantuan; sokongan; manasuka

Apa arti persembahan menurut Yesus?
Persembahan adalah memberikan/mengembalikan yang TERBAIKdari apa yang telah Tuhan berikan.
TERBAIK: Bukan dari nilai jumlahnya tapi nilai pengorbanan yang ada di dalam pemerian tersebut.

Perhatikan ayat berikut ini
Markus 12:41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar

Markus 12:42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.

Dua “peser” bahasa Yunani “lepton” adalah satuan mata uang Yahudi yang nilainya paling kecil. Satu peser (Lepton) nilainya setengah duit, sehingga dua peser berarti satu duit.
Kain itu terbuat dari perunggu digunakan pada masa Alexander Janus, Kaisar Romawi yang berkuasa pada tahun 103-76 SM.
1 Keping Alexander Janus = 1/8 sen.
Jika menggunakan kurs dollar 1 Keping janda miskin nilainya 1/8 dari Rp. 14.185 = + Rp. 1.775
2 x Rp. 1.775 = Rp. 3.550. Koin Alexander Janus yang dikenal dengan Koin Janda Miskin

Markus 12:43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.
Cara pandang Tuhan dan matematikanya Tuhan tidak sama dengan cara pandang dan matematika kita.

Mengapa persembahan janda miskin itu lebih banyak dari semua yang memberi.Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya.Semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya, berarti sama dengan mempersembahkan hidupnya. SIKAP HATI yang TOTAL kepada Allah.Bukan yang sisa, bukan hanya asal memberi. PERSEMBAHAN YANG DIKEHENDAKI TUHAN.

Pada tahun 1993, saya sekolah Alkitab tingkat ke-3 di Surabaya. Selama di sekolah alkitab, saya benar-benar hidup oleh iman. Keluarga besar, sahabat saya dan semua rekan-rekan yang lain tidak menyetujui keputusan saya untuk masuk sekolah alkitab (menjadi hamba Tuhan fulltime), karena mereka menganggap bahwa menjadi hamba Tuhan tidak memiliki  masa depan, bahkan mereka mengeluarkan kata-kata penghakiman bahwa jangan menjadi hamba Tuhan sebagi pelarian saja, karena saya berasal dari keluarga broken home.

Awal menjadi hamba Tuhan juga adalah pergumulan iman bagi saya. Selama sekolahpun saya juga terus hidup oleh iman. Ibu saya juga sering menanyakan apa yang menjadi kebutuhan saya, saya menjawab bahwa semua sudah tercukupkan, meskipun semua pas-pasan bahkan kurang. Tapi saya mau membuktikan bahwa menjadi hamba Tuhan itu bukan pengemis.
Pada waktu kelas 3 dan mendekati Bulan Juni itu mendekati penamatan, saya dipercayakan untuk melayani musik, yang berarti saya akan tampil di depan. Pergumulan saya waktu itu adalah sepatu saya yang sudah rusak dan tinggal ditambal dengan lem. Baju putih saya juga sudah mulai berubah warna. Saya berdoa untuk minta berkat membeli sepatu dan baju putih. Akhirnya ada om saya datang ke asrama dan memberi berkat buat saya. Selama menjadi hamba Tuhan fulltime itulah awal saya mendapat berkat yang menurut saya cukup banyak. Puji Tuhan saya bisa membeli sepatu dan baju putih yang baru. Malamnya sebelum saya tidur saya mendengar ada suara isak tangis, ternyata itu adalah teman saya yang sedang bergumul karena belum melunasi uang sekolah. Kalau ia tidak membayarnya maka ia tidak akan mengikuti penamatan dan tidak bisa diutus ke ladang pelayanan.
Dalam hati kecil Tuhan berkata bahwa saya harus memberikan uang itu kepadanya. Saya sempat mengabaikan, tapi semalaman saya tidak bisa tidur. Keesokan harinya sebelum berangkat doa pagi, saya berikan amplop berkat itu kepadanya. Dia memeluk saya dan sangat berterima kasih. Saya katakan saya hanya sarana yang Tuhan pakai.
Uang yang sisa sedikit saya belikan lem untuk menambal kembali sepatu agar masih bisa dipakai untuk penamatan.
Setiap acara GPPS secara nasional, saya berjumpadengan teman saya tersebut, hati kami sama-sama bersukacita karena kami sama-sama tetap melayani Tuhan.

Jadi, memberi di tengah-tengah kekurangan bukanlah hal yang mudah dan tidak masuk di akal. Tapi sesungguhnya bukan nilai jumlahnya yang Tuhan perhitungkan tapi nilai pengorbanan yang ada di dalamnya. Firman Tuhan berkata “Tidakkah Aku akanmembukan tingkap-tingkap langitku memberkatimu?”
Berkat kesehatan dan finasial, semuanya itu berasal dari Tuhan. Dan Tuhan menghendaki kita menjadi manajer-manajernya Tuhan yang hidupnya benar dan selalu berpadan pada firman Tuhan.

Janda itu memberikan semuanya untuk Tuhan dia tidak berpikir itu adalah pengorbanan karena hatinya yang mengasihi Tuhan. Janda itu TOTAL dalam memberikan persembahan.
I Raja-Raja 17:1-16 dikisahkan ada seorang janda di Sarfat yang juga mengasihi Tuhan dengan memberikan apa yang ada padanya. Lagi-lagi Tuhan memakai seorang janda miskin. Janda di Sarfat ini juga adalah seorang yang mencintai Tuhan, dapat kita ketahui di 1 Raja-Raja 17:14-15 “Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.” Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.
Jandaitu SEGERA melakukannya.

Tanpadisadari terkadangkita membiarkan kutuk kemiskinan ada pada diri kita sendiri.Menganggap bahwa “saya tidak mampu”, saya bukan orang kaya”, dll sedangkan kita harus mematahkan perkataan tersebut. Jangan pernah punya mental miskin. Andai keadaan kondisi riilnya adalah demikian pandanglah Tuhan yang besar yang mempunyai segala sesuatu. Mungkin sekarang kita belum melihat tapi jangan pernah putus pengharapan. Pengharapan di dalam Tuhan tidak kan pernah sia-sia.

TOTALITAS yang dimaksud adalah: SIKAP HATI yang berkaitan erat dengan KASIH kita kepada Allah.Kasihberbicaratentangpengorbanan.
PERSEMBAHANituberupaapasaja?Waktu, tenaga, danfinansial

Apakah dalam hal-hal di bawah ini kita melakukan PERSEMBAHAN atau SUMBANGAN?
a. Waktu
– Sekolah/kuliah sungguh-sungguh
– Melakukan kodrat tanggungjawab (masing-masing bekerja sesuai kodratnya)
Suami atau istri yang tidak melakukan kodratnya berarti hanya memberikan sumbangan-sumbangan kepada pasangan hidupnya tanpa kasih yang mendasarinya, yang didalamnyaadanilaipengorbanan.
– Pelayanan di gereja lokal (kerja bakti,dll). Jangan jadikan pelayanan sebagai sesuatu yang membebani tapi lakukanlah dengan kasih.
– Berdoa bagi bangsa, persembahkanwaktukitauntukberdoabagibangsadannegeri Indonesia
– Ber-PI, persembahkanwaktu

b.    Tenaga
Bagi generasi remaja, apakah orang tua bangga dengan kita? Bagi generasi dewasa, apakah di pekerjaan kita sudah memuliakan Tuhan. Markus 12:30 “KasihilahTuhan, Allahmu, dengansegenaphatimudandengansegenapjiwamudandengansegenapakalbudimudandengansegenapkekuatanmu.”

c.    Finansial
–    Kolekte, memberikanyang terbaikuntukTuhan. Janganlah memberikan persembahan yang asal-asalan buat Tuhan. Persembahan harus disertai dengan nilai pengorbanan dan yang terbaik
–    Proyek pembangunan gereja, kitasiapmembangundengan target 2 tahun.

Maukah kita memiliki sikap hati seperi janda ini, yang mau memberi total kepada Tuhan tanpa harus menunggu menjadi kaya. Jangan pernah berkata bahwa kita masih pas-pasan. Itu sama dengan mengatakankutuk kemiskinan dan mengijinkan kutuk itu terjadia dalam hidup kita. Kita punya Tuhanyang kaya. Andai berkat itu tertunda, kita perlu intropeksi diri, apakah kita belum siap menerimanya atau ada sesuatu yang Tuhan lakukan indah pada waktunya. Tuhan tidak pernah merancangkan keburukan dalam hidup kita. Berikanlah persembahan kepada Tuhan bukan sumbangan.

By : Pdt. Lea Novitasari

Mengalami Kuasa Kebangkitan Kristus Membentuk Hidup Serupa Dengan Kristus

Filipi 3:1-161a Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. 3:1b Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.2 Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,3 karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.15 Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.

1 Korintus 15:17 Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.

Setiap kita harus dapat mengalami secara riil apa yang menjadi hasil dari pengorbanan Kristus. Bukan hanya urusan akhirat saja yaitu mati masuk surga, tetapi juga kehidupan di dunia yang masih kita jalani.
Tuhan menetapkan bahwa orang percaya harus hidup oleh iman, sementara manusia lahiriah kita sudah terformat hidup dengan unsur jiwani. Orang yang sudah terima Yesus, berarti ia sudah lahir baru maka ia harus hidup oleh iman dimana fungsi roh yang hanya dipakai bernafas harus mengambil alih segala aktivitas, apapun bentuknya, karena itulah yang dapat membawa pribadi tersebut bisa melakukan Firman.
Iman datang dari mendengar firman, ketika Firman hanya sekedar pengetahuan, maka itu hanya akan tersimpan di akal jiwani, sehingga seringkali kita gagal untuk dapat menikmati kuasa kebangkitan Kristus karena kekuatan unsur jiwani ini terbatas untuk melakukan semua perintah Tuhan.

Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kita, menjadi sia-sia karena kita tetap hidup dalam dosa dan status kita tetap orang berdosa. Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, saat itu kita dikuduskan disucikan dari segala dosa. Tetapi jika Yesus tidak bangkit maka sia-sialah apa yang kita percayai karena semua hanyalah peristiwa salib yang tidak menghasilkan apa-apa dan kita semua masih berstatus menjadi orang yang berdosa.

Ketika kita berbicara tentang iman, kita semua sudah menjadi orang percaya dan kita semua sudah menjadi anak Tuhan. Bagaimana dengan kedahsyatan kuasa kebangkitan Kristus itu di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya? Apakah kita sudah mengalaminya?  Firman Tuhan berkata bahwa roh yang ada di dalam kamu lebih besar kuasanya daripada segala yang ada dalam dunia, lalu di mana kuasa kebangkitan Kristus dalam hidup sehari-hari?
Kedahsyatan iman masuk surga umumnya dimiliki oleh orang-orang yang sudah lahir baru. Tetapi jangan lupa bahwa kita masih hidup di dunia. Setelah kita menjadi orang percaya kita ditetapkan untuk hidup oleh iman yaitu selama hidup di dunia.

Di dalam Filipi 3,Paulus menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang yang taat dalam menjalani kehidupan Taurat. Latar belakang Paulus adalah seorang yang sangat taat dalam menjalankan kehidupan agama. Secara intelektual, ia adalah orang terpelajar dan memiliki intelektual yang luar biasa. Ia adalah seorang Farisi, sangat terhormat dalam hal kedudukan sebagai seorang pejabat. Setelah ia menjadi orang percaya, apa yang ia miliki dan yang telah ia capai yang dianggap mulia bagi dunia, ia menganggapnya sebagai sampah. Kemuliaan dunia bagi Paulus, ia anggap sebagai sampah karena pengenalan akan Kristus. Apakah kita setelah menjadi orang percaya memiliki pemahaman yang sama seperti Paulus?
Ketika kita sudah sampai kepada pemahaman seperti Paulus, maka tidak ada satupun kemuliaan dunia yang dapat menggugurkan iman kita sebagai orang percaya. Hal ini bukan berarti kita tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk material yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Tetapi kita mengerti bahwa Tuhan jauh lebih utama dari semuanya itu.
Paulus adalah seorang yang taat dalam menjalankan kehidupan agamawinya tetapi kehidupan agamawi yang ia miliki membawanya menjadi seorang penganiaya dan pembunuh jemaat Tuhan. Setelah ia menerima Kristus, ada kuasa kebangkitan yang mengubah hidupnya. Seorang Saulus pembunuh berubah menjadi Paulus,rasul Allah.  Ia menemukan makna kehidupan melalui kuasa kebangkitan Kristus. Jadi kuasa kebangkitan Kristus pun harus nyata di dalam hidup kita sebagai orang percaya.

Dalam Kolose 3:5 dikatakan bahwa orang percaya harus mematikan segala sesuatu yang duniawi. Itu bukanlah bagian Tuhan tetapi bagian kita untuk dikerjakan. Jadi kalau kita tidak bertindak, jangan kecewa jika Tuhan tidak menolong. Harus ada kemauan dari diri kita untuk melakukannya karena Tuhan tidak pernah memaksa kita. Jika Tuhan menyuruh kita untuk melakukan, tentunya hal ini dapat dilakukan karena kita memiliki iman yaitu ketaatan melakukan Firman selama hidup di dunia.

Jika kita mau memiliki karakter Kristus, maka kitaakanmentaatisetiap firman Tuhan danitu yang akan selalu memperbarui kita. Tetapi jika semua karakter manusia lama ini masih ada dalam diri kita berarti kita belum meninggalkannya dan kita belum hidup oleh iman.

Kita perlu hidup oleh iman supaya masalah apapun yang ada dapat kita hadapi dan kita tidak hanyut ataupun hidup didalam pengeluhan dan menghujat Allah. Kuasa kebangkitan Kristus ini harus kita alami karena ada kekuatan dahsyat di dalam diri kita untuk menyelesaikan segala hal, untuk membawa karakter kita terbentuk dalam memuliakan Tuhan. Sehingga kuasa kebangkitan Kristus tidak menjadi sia-sia tetapi kita dapat alami dalam kehidupan kita dan kita menanggalkan semua yang tidak benar itu dan kita dibebaskan dari segala hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Efesus 4:17-24 17Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia 18dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. 19Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. 20Tetapi kamu bukan demikian. 21Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,22yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, 23supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, 24dan mengenakan manusia baru, yang telahdiciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.

Dikatakan bahwa manusia baru diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Hal ini berarti berarti ada kekudusan yang tidak sungguh yaitu kemunafikan. Karena terselubung dan tidak diketahui aslinya. Karena orang ini tidak mau menanggalkan manusia lama, sehingga ia sendiri tidak bersedia dibaharui oleh Tuhan. Kita akan dibaharui kalau kita ada kemauan untuk menanggalkan hal itu.

Orang yang mencuri jangan mencuri lagi tetapi ia harus bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. Dalam ayat ini dapat kita lihat bahwa Tuhan sangat menghargai orang yang bekerja keras.
Jangan ada perkataan kotor yang keluar dari mulut kita. Selain mulut, kita juga harus menjaga jari-jari tangan kita ketika menggunakan media sosial. Ketika kita mendapatkan suatu postingan dimana ada unsur-unsur menyinggung pihak-pihak tertentu, tidak perlu disebarkan. Karena dalam perundang-undangan penyebar informasi yang tidak benar dapat dijerat oleh hukum. Sebaliknya, kita harus memberikan pencerahan yang benar sesuai kebenaran. Kita percaya bahwa segala apa yang Tuhan berikan adalah baik, hal ini berarti kita tidak bisa memaksa Tuhan untuk memenuhi keinginan kita.
Kuasa kebangkitan Kristus ini harus kita alami, supaya ada kemenangan atas diri sendiri untuk taat kepada Firman baru kita bisa melakukan hal-hal berikutnya.

By : Pdt. R.F Martino

JANJI IMAN / NAZAR (Bagian2)

1 Korintus 11:25 “Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!””

Betapa dahsyat perjanjian Tuhan kepada kita: Perjanjian Baru yang dimeteraikan dengan darah Kristus sehingga kita tidak lagi disebut “orang berdosa” tetapi disebut “anak-anak Allah”. Dalam ayat lain dikatakan bahwa perjanjian Tuhan diikat oleh sumpah sehingga tidak ada alasan lagi bagi kita untuk meragukan janji Allah.

Minggu lalu kita sudah belajar bahwa nazar adalah janji kita (kepada Tuhan) untuk melakukan sesuatu jika apa yang kita harapkan terkabul. Janji Tuhan pasti Ia tepati namun bagaimana dengan janji kita kepada Tuhan? Sebagian orang percaya sudah menepati janjinya kepada Tuhan, tetapi sebagian orang percaya belum menepati janji mereka kepada Tuhan. Padahal kita harus memahami bahwa janji iman/nazar adalah utang.

Ulangan 23:21-23 “Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu. Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri.”

Jika seseorang salah mengerti dengan ayat diatas maka orang menjadi takut bernazar. Padahal maksud ayat diatas adalah supaya:
– Kita tidak terburu-buru bernazar
– Bila bernazar, kita harus menepatinya.

Pemahaman yang keliru akan menghasilkan sikap yang keliru. Sikap yang keliru akan menghasilkan perbuatan yang keliru. Maka kita perlu memahami perihal nazar dengan benar.

1. Nazar umumnya dilaksanakan dalam masa-masa sukar, tetapi bukan jalan pintas untuk menyelesaikan masalah.

Sekalipun nazar bukan jalan pintas untuk menyelesaikan masalah, namun kita telah memahami bahwa kedahsyatan nazar dapat menyelesaikan masalah. Selain itu, dalam bernazar kita harus melakukannya dengan iman, bukan hanya karena sekedar terdesak oleh tekanan masalah.

Bagaimana dengan “janji iman”? Janji iman seringkali dianggap enteng oleh orang percaya karena tidak dilakukan oleh mereka pada masa sukar. Padahal “janji iman” yang kita lakukan bukanlah janji kepada manusia/gereja tetapi janji kepada Tuhan.

2. Nazar dilakukan dengan segenap eksistensi diri.

Jadi nazar itu dilakukan dari hati dengan melibatkan segenap keberadaan/apa yang ada pada kita, untuk menepati apa yang kita nazarkan.Jadi dalam melakukan nazar tidak ada tekanan/paksaan.

Saat ini nazar dalam istilah lain “janji iman”, justru dianggap ringan oleh banyak orang percaya. Mereka berpikir “tulis saja dulu sekian yang akan saya berikan nanti kapan-kapan baru dilunasi”. Ini menyebabkan banyak orang percaya tidak berusaha untuk melunasi/melakukan apa yang dijanjikan/dinazarkan. Padahal seharusnya setiap orang percaya berupaya untuk melunasi/melakukan nazarnya.

3. Nazar dilakukan dari iman yang tulus ikhlas.

Jadi saat bernazar, itu bukan hanya perkataan biasa yang diucapkan kepada Tuhan tetapi perkataan yang disertai oleh iman yang tulus ikhlas.

Iman yang tulus ikhlas adalah iman yang melakukan segala sesuatu karena mengasihi Tuhan, bukan karena ada maksud tersembunyi. Dan iman yang tulus ikhlas pasti disertai perbuatan.

2 Timotius 1:5 “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.”

Nilai iman tidak bisa dilihat dari peragaan dari kegiatan-kegiatan rohani seperti doa dan puasa sekalipun doa dan puasa adalah bagian dari perbuatan iman. Nilai iman hanya bisa dilihat melalui perbuatan yang nyata. Maka jika Paulus berkata bahwa nenek Lois dan ibu Eunike memiliki iman yang tulus ikhlas, berarti Paulus pernah merasakan/menikmati kebaikan hati nenek Lois dan ibu Eunike.

Jika ayat diatas berkata ada iman yang tulus ikhlas, berarti ada iman yang tidak tulus ikhlas yaitu iman yang melakukan segala sesuatu untuk maksud lain misalnya untuk kepujian.

Filipi 1:15-18 “Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita”

Jadi sejak zaman dulu Paulus menemukan ada hamba Tuhan atau pelayan Tuhan yang melayani tetapi masih memiliki dengki dan perselisihan.

Pada masa sekarang ini kita menemukan ada gereja yang berdiri diatas dasar perselisihan dengan gereja sebelumnya. Selain itu, dalam gerakan/pelayanan oikumene, ada juga hamba Tuhan/gereja yang memiliki maksud yang tidak tulus ikhlas yaitu melakukan kegiatan kebersamaan dengan tujuan untuk menjaring jemaat gereja orang lain. Karena itu kita perlu memahami pentingnya berkoordinasi dengan Tim Penggembalaan GPPS Palu jika hendak mengikuti atau melayani suatu acara oikumene (KKR/Seminar) karena Tim Penggembalaan GPPS Palu akan menolong kita memahami hal ini. Pelayanan oikumene seharusnya dilakukan dengan kemurnian.

Begitupun nazar/janji iman harus dilakukan diatas dasar ketulusan karena mengasihi Tuhan. Maka kita harus segera melakukan apa yang kita nazarkan dengan ketulusan kita.

4. Nazar membawa kita melatih diri dalam iman menjadi pasti dengan Tuhan.

Memang kita memahami bahwa janji Tuhan ya dan amin. Tetapi untuk kita mencapai tingkat keyakinan penuh pada janji Tuhan ada proses. Nazar adalah salah satu pelatihan bagi kita untuk menjadi pasti dengan Tuhan.

5.Nazar membawa kita masuk dalam pengalaman iman bersama Tuhan.

Kita telah memahami bahwa Iman bertumbuh melalui pengalaman iman – bukan hanya pengalaman hidup tetapi pengalaman iman. Melalui nazar kita akan melihat kedahsyatan Tuhan atas hidup kita. Maka nazar akan membawa kita masuk dalam pengalaman iman bersama Tuhan sehingga iman kita semakin bertumbuh di dalam Dia.

By : Pdt. R. F. Martino

JANJI IMAN = NAZAR

1 Korintus 11:25 “Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”

Melalui penebusan darah Kristus dengan ikatan perjanjian darah, kita bukan lagi orang berdosa namun menjadi anak-anak Allah. Bahkan Allah bersumpah demi diri-Nya sendiri. Seharusnya kita tidak perlu mempersoalkan janji Tuhan karena janji Tuhan begitu kuat dan Tuhan tidak mungkin ingkar janji. Jika ada janji Tuhan belum tercapai dalam hidup kita, persoalannya bukan pada Tuhan namun pada kita. Jadi kita-lah yang harus mencari tahu dari diri kita mengapa sampai janji Tuhan itu belum tergenapi.

Jadi, tidak ada masalah dengan janji dari pihak Tuhan, namun bagaimana dengan janji kita kepada Tuhan?

I. APA ITU NAZAR?
Istilah “Janji Iman” saat ini lebih populer dikalangan Kristen. Namun sayangnya istilah ini seakan dianggap ringan. Padahal sesungguhnya “Janji Iman” sama dengan “Nazar” bahkan arti “Janji Iman” lebih dalam.
“Nazar” (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah akan berbuat/melakukan sesuatu apabila suatu maksudnya tercapai. Secara rohani, “Nazar” adalah ikatan janji dengan Tuhan. Bentuknya bermacam-macam. Ada yang bentuknya uang, ada yang bentuknya suatu perbuatan, ada yang bentuknya diri kita, dll.

Orang-orang yang bernazar adalah orang-orang yang sedang mengalami masa yang sulit. Mereka menghadapi jalan buntu dan harus mengambil keputusan untuk menyelesaikan persoalan itu. Namun karena mereka menyadari bahwa hanya Tuhan yang bisa menolong mereka, maka mereka menyampaikan maksudnya kepada Tuhan, dan disitulah ia berjanji kepada Tuhan apa yang akan ia lakukan apabila Tuhan menolongnya untuk menyelesaikan masalahnya.

II. TOKOH ALKITAB YANG PERNAH BERNAZAR
Kita akan melihat contoh 2 tokoh Alkitab yang pernah bernazar:
1. Yakub
Kejadian 28:18-22 “Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus. Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”

Yakub berada dalam bayang-bayang maut karena dikejar Esau untuk dibunuh. Maka Yakub bernazar kepada Tuhan. Namun apakah masalah Yakub langsung selesai? Tidak! Ia harus bekerja sekian lama dan ditipu oleh Laban, berjuang untuk mendapatkan Rahel sebagai istrinya, dll. Setelah bekerja sekian lama, barulah ia kembali ke negerinya dengan keluarga dan ternak yang sangat banyak. Apa yang Yakub harapkan terjadi / dikabulkan oleh Tuhan dan ia membayar nazarnya. Jadi untuk suatu nazar terjadi, kita tetap harus melakukan bagian kita.

2. Yefta
Saat itu bangsa Israel menghadapi musuh yang kuat yaitu bani Amon, dan Yefta diangkat menjadi pemimpin bagi mereka. Maka Yefta bernazar kepada Tuhan.

Hakim-hakim 11:30-36 “Lalu bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.” Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangannya. Ia menimbulkan kekalahan yang amat besar di antara mereka, mulai dari Aroër sampai dekat Minit — dua puluh kota banyaknya — dan sampai ke Abel-Keramim, sehingga bani Amon itu ditundukkan di depan orang Israel. Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: “Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur.” Tetapi jawabnya kepadanya: “Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena TUHAN telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu.”

Dari kisah diatas kita menemukan bahwa:
– Terlalu mudah bagi Tuhan untuk menepati janji-Nya menolong kita. Jadi jangan mempersoalkan janji Tuhan dalam hidup kita.
– Yefta akhirnya menepati nazarnya kepada Tuhan sekalipun keputusan itu tidak mudah baginya.

III. JANJI TUHAN
Kekuatan janji Tuhan luar biasa dan sudah dibuktikan dan dinyatakan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Dan perjanjian Tuhan kepada kita bukan hanya persoalan keselamatan di akhirat, namun juga perjanjian bagi kehidupan kita di dunia.

Galatia 3:29 “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.”

2 Korintus 1:20 “Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah.”

Jika ada seseorang berutang kepada kita dan sekian lama ia tidak membayar, kita mengultimatum dia untuk membayar utangnya. Saat ia berjanji ia akan membayar besok pukul 8 pagi, maka kita percaya pada janjinya dan kita pasti akan datang lebih awal (misalkan jam 7 pagi). Renungkanlah: Saat manusia berjanji kita mudah sekali percaya. Namun mengapa saat Tuhan berjanji kita tidak percaya?

Dari 2 ayat diatas sekali lagi kita melihat ada jaminan Tuhan bahwa janji-Nya pasti tergenapi dalam hidup orang percaya. Maka kita tidak perlu meragukan dan mempersoalkan janji Tuhan.

IV. SIKAP IMAN ORANG PERCAYA TERHADAP NAZAR
Lalu bagaimana dengan janji/nazar kita kepada Tuhan? Kita perlu memahami bahwa:
1. Nazar tidak dapat ditarik lagi dan nazar itu harus ditepati.
Ulangan 23:21-23 “Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu. Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri.”

Seseorang yang bernazar tidak boleh mempedulikan yang lain tetapi fokus untuk menepati nazarnya dan jangan menunda-nunda untuk menepatinya karena kita berdosa jika menunda untuk menepatinya.

Contoh kasus perihal bernazar:
a. Jika nazar itu berbentuk uang, maka kita bisa membayar nazar itu dengan 2 cara. Pertama, kita mulai mencicil membayar nazar itu sedikit demi sedikit, atau cara kedua, kita bisa mengumpulkannya di suatu tabungan sedikit demi sedikit dan setelah jumlahnya cukup/genap sesuai yang kita nazarkan, baru kita serahkan sekaligus.
b. Ada pasangan suami istri yang sekian lama menanti untuk memiliki anak. Karena sekian lama belum mendapatkan maka mereka bernazar kepada Tuhan yaitu apabila Tuhan memberi mereka anak maka anak itu akan diserahkan menjadi hamba Tuhan fulltime / sepenuh waktu. Maka pada kasus seperti ini, orangtua harus menjelaskan kepada anak itu sejak ia masih kecil bahwa ia telah dinazarkan menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu supaya ia memahaminya dan tidak menjadi masalah di kemudian hari.
c. Ada anak muda yang sedang putus cinta, bernazar kepada Tuhan bahwa ia akan membujang seumur hidup dan mempersembahkan hidupnya untuk melayani Tuhan. Ternyata setelah beberapa saat, ia melihat lawan jenis dan tertarik padanya. Akhirnya ia menyesali nazarnya. Maka berhati-hatilah dalam bernazar karena nazar tidak dapat ditarik/dibatalkan/”diputihkan”. d. Ada orang yang menjadikan nazar seperti permainan. Seorang pria bernazar bahwa siapa yang keluar pertama kali dari pintu gereja itulah yang akan menjadi pasangan hidupnya. Cara ini tidak benar dan ini adalah orang yang tidak mempergunakan akal sehatnya. Nazar tidak boleh dianggap dan dijadikan mainan seperti kasus diatas.

2. Setiap nazar yang tidak ditepati ada sanksinya.
Pengkhotbah 5:3-5 (Alkitab cetak) / 5:4-6 (Alkitab online) “Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu?”

Kita selalu berdoa agar Tuhan memberkati pekerjaan tangan kita. Namun ini sanksi dari janji iman/nazar yang tidak ditepati: Tuhan bisa murka dan merusak pekerjaan tangan kita.

V. RAHASIA DIBALIK NAZAR
Jadi jika demikian, apakah lebih baik kita tidak usah bernazar?
Kita perlu memahami bahwa memang ada akibat jika kita tidak menepati nazar, namun bukan berarti kita tidak perlu bernazar! Ada rahasia dibalik nazar.

Inilah rahasia itu: “Salah satu pembuka jalan dalam hidup kita adalah nazar. Salah satu yang membuat Tuhan membuka jalan bagi seseorang adalah saat orang itu bernazar.”

Kita melihat bahwa Yefta sesungguhnya tidak mungkin memenangkan pertempuran melawan bani Amon. Namun saat ia bernazar, Tuhan membuka jalam untuknya. Sayangnya yang terjadi pada banyak orang Kristen adalah setelah Tuhan membuka jalannya, ia berjalan terus dan lupa pada nazarnya. Padahal saat Tuhan sudah membuka jalan, kita harus mengingat nazar kita dan bertindak untuk menepati nazar kita tersebut.

By : Pdt. R. F. Martino