This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Daily Archives: 10/03/2019

BEKERJALAH SEBAB AKU MENYERTAI ENGKAU

Hagai 2:5 “Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam,”

I. MEMILIKI IMAN YANG REALISTIS
Saat tembok Yerusalem roboh, dan situasi politik saat itu dimana bangsa Israel berada dalam pembuangan, tidak ada dasar bagi mereka untuk berharap untuk mengerjakan kepentingannya Tuhan yaitu untuk membangun kembali tembok Yerusalem dan Bait Allah. Namun Tuhan berkata pada mereka, “Bekerjalah sebab Aku menyertai engkau.”
Kondisi-kondisi yang ada di depan kita saat ini, mungkin adalah situasi yang secara logika tidak mungkin bisa kita hadapi. Biasanya orang-orang yang rohani imannya akan merespon namun sayangnya mereka seakan berpindah dari alam nyata ke alam roh sehingga mengabaikan hal-hal lahiriah. Memang kita memahami bahwa apa yang ada di alam nyata dikendalikan oleh alam roh. Namun kita harus memahami bahwa kita masih di dunia sehingga kita tidak boleh membutakan diri dengan hal-hal real.
Saat Musa diberi visi oleh Allah, Musa tahu siapakah dirinya yang tidak pandai bicara namun diberi tugas untuk menghadap Firaun. Begitupun saat Yosua diberi visi menggantikan Musa untuk memimpin bangsa Israel. Yosua harus belajar hidup oleh iman sesuai janji Tuhan.

Yesaya 54:2 “Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!”

Ayat diatas bukanlah bagiannya Tuhan untuk Tuhan lakukan, tetapi perintah Tuhan kepada umat Tuhan untuk melakukannya. Namun bagaimana melakukannya sedangkan kondisi sepertinya tidak mungkin?
Karena itulah di gereja ini diajarkan “iman yang realistis” yaitu iman yang mampu menjawab setiap tantangan iman yang real dengan cara mengetahui apa yang Tuhan suruh kita kerjakan. Kita tidak boleh memiliki iman yang tidak realistis, yaitu memiliki sikap iman seakan-akan kita sudah tidak hidup di dunia, sehingga orang seperti ini semakin rohani semakin malas bekerja, semakin tidak realistis. Hanya berdiam diri saja menunggu Tuhan yang bekerja dengan ajaib.

Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

Pemahaman yang dangkal tentang iman telah membuat iman hanya sebatas jawaban doa, bersikap seperti pengemis, bermimpi menang lotre/undian tanpa bekerja. Semua ini karena didikan yang keliru. Inilah yang menyebabkan kehancuran gereja Tuhan yaitu karena berhenti berkarya dan tidak melakukan apa-apa. Apa yang harusnya dilakukan oleh gereja, telah dirampas iblis dan diberikan kepada dunia, sehingga orang dunia menjadi kepala namun orang percaya tetap menjadi ekor.

Ibrani 11:6 “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”

Dalam daftar Ibrani 11 kita akan menemukan banyak pahlawan iman yang mengalami mujizat besar oleh karena imannya. Karena itu banyak orang percaya saat ini yang mengharapkan mujizat padahal dimana ada mujizat berarti ada peristiwa yang diluar logika menimpanya. Semakin besar peristiwa tragisnya, semakin besar mujizatnya.
Namun di bagian akhir Ibrani 11 mencatat orang-orang yang beriman namun tidak memperoleh apa yang dijanjikan. Namun Alkitab menulisnya bahwa mereka adalah pahlawan iman juga. Mereka adalah orang yang menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya, namun tetap memiliki ketaatan iman kepada Tuhan. Inilah mujizat yang luar biasa: Ketabahan ketekunan menghadapi apapun, tidak menjadi orang Kristen yang cengeng, tetapi tetap berdiri teguh kokoh kuat tak tergoncangkan. Maka akhirnya kita memahami iman secara utuh bahwa: iman adalah ketaatan tanpa syarat kepada Tuhan.

Markus 16:15-18 “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
Dari ayat diatas kita memahami bahwa semua orang Kristen memiliki kuasa. Namun didikan sekolah Alkitab tempo dulu mengajarkan bahwa untuk memiliki kuasa, harus “bertapa” (doa dan puasa) di atas “gunung” (bukit doa). Ketika turun gunung menjadi “sakti”. Maka ajaran sekolah Alkitab dulu menjadikan
Kekristenan menjadi mirip dengan kebatinan. Padahal sudah jelas dalam ayat diatas bahwa setiap orang kristen memiliki kuasa.
Jika kita sudah memahami bahwa kita memiliki kuasa, maka bekerjalah! Sebab Tuhan berkata, “Bekerjalah sebab Aku menyertai engkau!”

II. IMAN YANG DISERTAI PERBUATAN
Kita harus memahami bahwa: Kualitas doa harus sama dengan kualitas kerja.
Yakobus 2:14 “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?”

Kita tahu bahwa kita diselamatkan oleh iman. Namun iman yang bagaimana yang menyelamatkan? Yaitu iman yang disertai perbuatan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Maka saat kita berkata bahwa kita bersyukur kepada Tuhan, jangan hanya di mulut. Tetapi harus ditunjukkan dalam tindakan yaitu mengerjakan apa yang telah Tuhan berikan sehingga iblis tidak mengambil apa yang menjadi bagian kita.
Saat Tuhan berkata, “Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!” maka responilah!
“Jangan menghemat” maksudnya adalah jika kita bisa melakukan lebih banyak, jangan melakukan sedikit. Karena jika kita melakukan sedikit, maka berkat kita hanya sebatas itu. Contohnya:
– Ada warung makan yang cepat tutup padahal ramai dengan pembeli. Mengapa? Ternyata itu karena warung makan itu hanya menyediakan sedikit porsi makanan. Tentu hal ini sangat disayangkan padahal masih banyak orang yang masih mau makan di warung tersebut.
– Dalam pelayanan, dulu pernah ada pekerja gereja yang menyiapkan 5 buah tikar duduk untuk 5 orang yang datang ke pertemuan doa, karena memang biasanya yang hadir hanya 2-5 orang. Akhirnya ia harus ditegur karena imannya terlalu kecil. Seharusnya ia tetap memasang seluruh tikar yang ada di gereja sebagai tindakan imannya bahwa yang datang pertemuan doa akan terus bertambah.

Saat menghadapi peristiwa yang di luar logika untuk diselesaikan, bangsa Israel saat itu diperintahkan Tuhan untuk bekerja dan diberi Tuhan janji yang luar biasa!

Hagai 2:5-10 5 Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, 6 sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut! 7 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; 8 Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. 9 Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam. 10 Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam.”

Luar biasa janji penyertaan Tuhan dan berkat-Nya saat kita bekerja. Karena itu, pakailah iman kita untuk menjawab segala tantangan iman yang real, dan kita harus melakukan bagian kita dengan bertindak menurut iman. Ora et Labora – berdoa dan bekerja.

By : Pdt. R. F. Martino