Category Archives: KOTBAH
“MILIKILAH MENTALITAS YANG TERUJI DAN TERPUJI”
2 Timotius 2:3-4 “3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus 4 Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya”
Selama manusia masih hidup dan menjalani hidupnya kita akan berhadapan dengan apa yang namanya realitas hidup. Kenyataan-kenyataan hidup menyenangkan atau tidak menyenangkan, suka atau duka. Seringkali kita lupa, khususnya kita orang-orang percaya, yang selalu hanya menekankan urusan rohani. Ad keterkaitan antara iman dan mentalitas yang tidak dapat dipisahkan.
Di dunia sekuler justru sebaliknya, seminar-seminar motivasi yang membuat banyak orang menjadi kagum oleh karena jarang mendengar kalimat-kalimat hikmat, kalimat-kalimat indah dan mereka terpesona sehingga mereka lupa justru suatu bimbingan atau pelatihan sesungguhnya membentuk mentalitas seseorang sehingga dikenal satu bentuk pengajaran yaitu The Power of Mind. Padahal kita tahu justru mind itu ada di dalam pola pikir (mindset) atau ada dalam unsur jiwani kita, jadi sebenarnya hanya untuk orang yang lemah mental yang dilayani secara psikologis dari sisi itu untuk membawa mereka tidak sampai mentalnya menjadi rapuh.
Mentalitas setiap orang percaya terlebih kita pelayan Tuhan tidak hanya meningkatkan kualitas rohani atau iman melainkan harus memiliki mentalitas yang teruji dan terpuji.
Faktor mentalitas sering tidak menjadi perhatian untuk dikualitaskan, padahal ada begitu banyak orang percaya/pelayan Tuhan yang rohani atau imannya cukup baik, tetapi mentalitasnya parah.
Kegiatan-kegiatan rohani dan jabatan-jabatan rohani tidak menjadi jaminan bahwa mentalitas orang itu baik atau mentalitas orang itu teruji dan terpuji.
Elia dan Yunus adalah nabi Allah, tetapi minta mati.
1 Raja-Raja 19:4 “Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”
Berapa banyak kita yang gagah perkasa didalam berbicara, berkhotbah, dalam bersaksi, dalam membimbing orang tetapi begitu mengalami masalah justru tidak dapat diselesaikan tidak dapat diatasi dan malah mau mencoba lari dari masalah. Jadi ini juga pelajaran bagi orang-orang yang merasa gagah perkasa dalam hal-hal rohani dengan sangat mudah Iblis bisa mematahkan kita.
Ingat lari dari masalah bukan penyelesaian melainkan awal dari bencana baru! Setiap orang harus memiliki mentalitas yang teruji dan terpuji sebagaimana Kristus
Saya berkata seperti ini bukan berpihak pada kehebatan atau membesar-besarkan kehebatan Iblis, karena Tuhan mengajarkan kita untuk tidak takut kepada Iblis tapi Alkitab juga mengajar kita untuk tidak meremehkan iblis .
Apapun pengalaman iman yang terhebat yang kita miliki kalau kita tidak jadikan itu sebagai suatu pembentukan yang Tuhan berikan secara pribadi kepada kita, maka mentalitas kita akan rusak karena semua yang riil hubungannya kepada kemampuan iman yang dinyatakan didalam mentalitas kita. Jadi bukan mentalitas manusia lahiriah lagi tapi mentalitas yang sudah dipenuhi dengan kekuatan ilahi, hasil daripada pengalaman hidup oleh roh mengandalkan Tuhan dan mentaati Firman.
Setiap hari mungkin kita tidak menyadari tapi ada baiknya kita intropeksi dan mulai menyelidiki diri kita masing-masing bahwa setiap hari kadang kala kita kalah, mentalitas kita dirusak oleh Iblis melalui realitas hidup. Makanya kita hanya tahu memakai bahasa rohani yaitu pembentukan Tuhan. Jadi kalau kita tahu bahasa rohaninya adalah pembentukan Tuhan, apa yang dibentuk? Iman kita sekaligus mentalitas kita karena mentalitas dipakai menghadapi kenyataan-kenyataan hidup yang ada, jadi kalau isinya belum dikuduskan oleh kekuatan roh, iman itu akan menjadi parah.
Kenapa Elia bisa seperti itu? Seperti itulah kemanusiaannya, kemanusiaan yang dikendalikan oleh semua unsur jiwani: kehendak sendiri, pikiran sendiri, perasaan sendiri. Kenapa Yunus bisa seperti itu? Sama halnya dengan Nabi Elia, itulah kemanusiaannya.
Oleh karena itu kita memahami hal ini agar supaya kita bukan hanya menganggap bahwa kalau saya urus rohani saya dengan sendirinya mentalitas itu jadi teruji, tidak! Tidak terjadi dengan sendirinya karena ia akan diuji oleh realitas hidup kita, dan kalau kita lulus barulah teruji.
Salah satu pembentukan mentalitas yang teruji dan terpuji ini adalah penderitaan.
Mengapa Harus Memiliki Mental Prajurit
Hidup oleh iman adalah medan peperangan rohani. Oleh karena itu, kalau kita sudah memiliki dan memahami ini adalah pergumulan iman dalam hidup ini, supaya hidup kita tetap layak dan berkenan dihadapan Tuhan sesuai dengan FirmanNya dan kita hidup di dalamNya mari kita menyadari bahwa itu tidak bisa terlepas dengan apa yang namanya mentalitas.
Lukas 22 : 31-34 “31 Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, 32 tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”33 Jawab Petrus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” 34 Tetapi Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”
Jangan menganggap diri terlalu kuat sehingga mengira tidak ada Iblis yang bisa mencobai saudara, Iblis tidak pernah kehilangan cara untuk menghancurkan umat Tuhan. Bahkan, cara etispun iblis bisa lakukan untuk menjatuhkan anak Tuhan.
Iblis tidak punya hak untuk merasuki kita, tetapi ia bisa merasuki kita kalau kita buka celah! Yaitu melalui unsur jiwani. Kalau kita tidak mau menaklukan unsur jiwani kita kepada unsur Roh
II. Inilah Situasi dan kondisinya
2 Korintus 1 : 8-9 “8 Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. 9 Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati”.
Setiap orang akan mengalami, tetapi kalau kita memahami secara iman kita tahu bahwa putus asa bukan jalan buntu.
By : Pdt. R.F Martino
BENTUK-BENTUK JAWABAN DOA
Filipi 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
Saat ini yang akan kita bahas adalah “Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”
Topik mengenai jangan kuatir sudah dibahas sebelumnya. Sekarang ini yang kita pelajari adalah kalimat lanjutan dari “Jangan Kuatir”. Kita sangat bersyukur bahwa Tuhan bukan hanya melarang jangan kuatir, tetapi ada jalan keluar dan petunjuk yang diberikan oleh Tuhan.
Bagaimana menyelesaikan hal-hal dalam kehidupan kita yang membuat kita menjadi kuatir.
Ayat ini sangat jelas bahwa yang kuatir adalah manusianya bukan persoalannya. Sekalipun dalam bahasa mimbar yang diajarkan adalah terbalik, sehingga akhirnya juga nyanyian-nyanyian rohani membingungkan kita, dan akhirnya bahasa mimbar itu membingungkan kita dan membuat kita menjadi kecewa.
Kalimat itu adalah: “Datang kepada Yesus. Bawa persoalanmu! Letakkan persoalanmu di bawah kaki Yesus!”
Jadi seolah-olah kita hanya minta Tuhan menyelesaikan persoalan. Padahal yang punya persoalan itu bukan persoalan itu sendiri, tetapi orang yang mempunyai persoalan itu. Hal inilah yang membuat banyak orang menjadi kecewa. Padahal yang Tuhan tetapkan dalam Alkitab adalah apabila orang mau menghadap kepada Tuhan, harus datang dengan iman, bukan dengan persoalan. Tuhan tidak berurusan dengan persoalan tapi Tuhan berurusan dengan orang yang punya persoalan itu.
Semua hal ini yang perlu kita pahami dengan benar supaya tidak kecewa, apalagi ada ayat yang menunjukan jalan keluar dari realitas yang kita hadapi adalah dengan berdoa. Topik yang akan kita bahas adalah bentuk-bentuk jawaban doa. Kenapa ini perlu? Bahasa-bahasa mimbar dengan tujuan yang baik membimbing umat Tuhan untuk dapat memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan, persekutuan pribadi dengan Tuhan, yaitu Doa. Konteks doa sering diistilahkan nafas kehidupan orang percaya, untuk memberi gambaran bahwa jika tidak matilah iman itu. Jika tidak bersekutu dengan Tuhan maka iman akan mati. Jadi berbagai ungkapan yang mengungkapkan betapa pentingnya doa itu.
Tetapi yang aneh kita memiliki pengalaman-pengalaman yang berbeda tentang doa. Ada yang punya pengalaman doa yang semakin menguatkan dia, semakin membuat dia bertumbuh, semakin dia merasakan ia hidup dekat Tuhan tapi ada juga yang justru membawa dia kecewa karena doanya tidak dijawab sesuai dengan apa yang dia inginkan bahkan ada doa yang tidak dijawab. Padahal dia lupa bahwa “Tidak” itu juga adalah jawaban. Nah inilah yang menjadi pergumulan orang percaya. Kita akan pelajari bentuk-bentuk jawaban doa yang bukan hanya satu bentuknya, bukan hanya “Ya”. Kita harus mulai mengerti akan hal ini sebab kadangkala kita dibingungkan oleh hal-hal ini.
Matius 6:5 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.”
Doa pribadi, doa kelompok sampai kepada pelayanan doa dan juga doa syafaat. Jika kita membaca Alkitab doa itu adalah pergerakan rahasia baik pribadi maupun dalam doa bersama-sama.
Dikatakan dalam firman Tuhan bahwa doa adalah kunci pintu. Berarti ini adalah hal yang sangat pribadi dengan Tuhan. Dan hubungan pribadi ketika diadakan secara kelompokpun juga sama, karena ini suatu pelayanan dibalik panggung.
Contoh kasus:
Suatu saat ada kelopok doa yang akan membuat seragam karena akan tampil untuk menyanyi di depan umum. Ketika tiba saatnya untuk tampil, pembawa acara berkata: “Kita akan mendengarkan Vokal Grup dari “PENDOA SYAFAAT AGAPE” (Bukan nama sebenarnya). Ini kurang tepat karena mereka seolah-olah menunjukkan bahwa merekalah yang berdoa, padahal pelayanan doa itu adalah pelayanan yang tersembunyi
Ada juga yang kadang membuat kita bingung, ketika ada bencana dan bencana itu berhenti, ada berbagai kelompok doa yang meng-claim bahwa itu adalah hasil dari doa mereka.
Ketika seseorang yang mengalami problema hidup datang kepada seorang konselor (Hamba Tuhan/pembimbing rohani untuk meminta bimbingan, ujung-ujungnya akan diberi nasihat untuk berdoa. Bukan diberi jalan keluar tapi disuruh berdoa. Dan ketika ia datang lagi karena doanya belum dijawab, maka konselor berkata bahwa ia harus sungguh-sungguh berdoa. Dan suatu saat ia datang kembali karena doanya belum dijawab, dan konselor tetap menjawab agar ia berdoa lebih sungguh-sungguh lagi dan bila perlu ditambah dengan puasa dan juga mengikuti doa semalaman. Hal inilah yang menciptakan suatu pemahaman bahwa iman digunakan hanya untuk sebatas jawaban doa saja, padahal iman digunakan untuk menjalani hidup realita sehari-hari. Ketika iman hanya dipakai untuk jawaban sebuah doa dan jawabannya adalah “tidak” hal ini bisa membuat orang tersebut menjadi kecewa.
Roma 9:20-21 20Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?”21Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?
Tukang periuk berhak membuat segala sesuatu menurut kehendaknya. Begitupun Tuhan yang menciptakan kita.
Hal ini harus kita pahami, yaitu bahwa ketika kita menghadap kepada Tuhan, dengan iman sekalipun, kita sedang berhadapan dengan Allah yang maha kudus, Allah yang maha mulia, Allah yang maha kuasa, maha segalanya, Ia punya kedaulatan yang tidak bisa diganggu gugat. Tetapi bukan berarti karena ada kedaulatan-Nya kemudian kita tidak sungguh-sungguh. Kita harus tetap bersungguh-sungguh, karena dalam kesungguhan itulah kita memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan. Sehingga apapun bentuk jawaban doa yang Tuhan jawab, kita dapat menerima dan semakin meneguhkan iman kita.
BENTUK-BENTUK JAWABAN DOA
1. Jawaban: Ya (Artinya dikabulkan)
Matius 21:22 “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.”
Banyak sekali ayat yang sehubungan dengan jawaban “ya”. Bahkan ada ayat yang meneguhkan yaitu: “Apa saja yang kamu minta dalam namaKu, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, itu akan diberikan kepadamu”, “Apa saja yang kamu minta harus seolah-olah kamu telah menerimanya” .
Karena ayat inilah membuat beberapa hamba Tuhan bersikap ekstrim . Mereka memberikan arahan bahwa ketika menginginkan sesuatu barang atau lainnya, maka harus menumpangkan tangan ke barang milik orang lain, kemudian mendoakannya untuk segera memiliki barang tersebut untuk diri sendiri.
Pengajaran seperti ini dalam teori kemakmuran sudah merajalela diseluruh dunia. Mereka salah menangkap maksud dari ayat tersebut dan itu diistilahkan meng-imani. Padahal ada ayat lain yang berkata, “jangan mengingini kepunyaan sesamamu”. Jika menginginkan yang seperti itu, maka kerja keras, banting tulang, kumpul dana lalu milikilah apa yang kau ingin miliki. Kenapa dengan bekerja dan banting tulang? Karena dengan bekerja disitulah Tuhan menghadirkan uang.
Didalam kondisi bagaimanakah sehingga jawaban doa itu sangat mudah diperoleh? Yaitu ketika kita baru menjadi orang percaya, pengalaman iman bersama dengan Tuhan adalah doa yang sangat mudah dijawab.
Mengapa? Karena Tuhan sedang memperkenalkan dirinya dengan segala kedahsyatannya. Setelah Dia memperkenalkan dirinya dengan segala kedahsyatanNya, maka giliran kita mulai mengerti, memahami lebih lanjut, supaya kita tahu, bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita.
Jadi saudara, walaupun ada ayat ini dengan jawaban doa yang selalu “ya” dan dikabulkan bukan berarti itu adalah satu-satunya jawaban. Kenapa? Karena setiap kita datang kepadaNya, kita berhadapan dengan kedaulatan Allah.
2. Jawaban: Tidak
Adalah mengejutkan kalau kita katakan Yesus berdoa suatu saat dan Bapa menjawab tidak. Peristiwa ini saat Yesus ditaman getsemani.
Doa Yesus: “Kalo boleh cawan ini lalu daripada-Ku” itu kemanusiaan Yesus dan Ia tidak mampu menerima itu dan kita harus memahami bahwa Yesus sangat menderita padasaat itu. Alkitab menulis bahwa Yesus sangat ketakutan sedangkan guru sekolah minggu mengajar bahwa Yesus itu hebat, luar biasa, Dia berkuasa. Alkitab mencatat bahwa Ia berteriak dengan sangat luar biasa sebelum nyawa-Nya terlepas.
Jika kita berpikir pendek dan berkata: “Kalau toh jawabannya tidak, untuk apa kita berdoa?”
2 Samuel 12:15-20 15Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit. 16Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah. 17Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka. 18Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: “Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!” 19Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: “Sudah matikah anak itu?” Jawab mereka: “Sudah.” 20Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan.
Kisah sebelumnya menjelaskan bahwa pada saat semua pergi berperang, Daud tidak pergi dan sedang berjalan-jalan di atas sotoh rumah, sementara itupun Daud melihat Batsyeba sedang mandi dan iapun menghampiri Batsyeba dan melahirkan seorang anak. Pada waktu itu Daud menugaskan uria untuk ikut berperang dan menempatkannya digaris terdepan agar ia mati dan istrinya, Batsyeba menjadi janda supaya Daud dianggap tidak bersalah.
Mari kita pelajari bersama, pada saat anaknya sakit, Daud mengambil langkah rohani. Banyak kali kita mengambil langkah rohani sebelum menyelesaikan persoalannya dulu (menyelesaikan masalah inti). Padahal persoalan yang tidak beres itu dibereskan lebih dulu baru mengambil langkah rohani.
Langkah rohani tidak dapat membereskan yang tidak beres, jika kita tidak bereskan dulu. Makanya jangan anggap menyiksa diri dengan cara rohani dapat membereskan masalah.
Kembali kepada kisah Daud, setelah Daud sudah bersungguh-sungguh dengan ketekunanyang luar biasa, justru pada hari yang ke tujuh, matilah anak itu. Doanya dijawab ? Ya dijawab, tapi jawabannya adalah “tidak”. Hal penting yang kita pelajari dari Daud, bahwa walaupun jawabannya “tidak”, Daud tidak menjadi kecewa.
Betapa tak terhitung jumlahnya orang-orang yang kecewa oleh karena jawaban Tuhan adalah “tidak”. Dan jawaban “tidak” ini dia anggap bukan jawaban. Padahal “tidak” juga merupakan jawaban. Jangan berpikir kalau begitu tak ada gunanya kita berdoa, tak ada gunanya kita berpuasa, tak ada gunanya kita semalam suntuk\, taka da gunanya bersungguh-sungguh. Semua itu bukan tidak ada gunanya, tetapi kedaulatan Allah tidak bisa kita lawan dengan cara apapun, bahkan kadangkala imanpun tak berdaya karena kedaulatan Allah.
Hal ini yang akan saya beritahu kepada para pendoa syafaat, karena pendoa syafaat mengambil alih pergumulan orang untuk dibawa kepada Tuhan, mengambil alih persoalan negeri untuk menggumulinya dihadapan Tuhan.
Tapi jangan lupa, semua orang yang datang kepada Tuhan bukan hanya berhadapan dengan kemahakuasaan-Nya tetapi juga kedaulatan- Nya.
3. Terpaksa dijawab dengan resiko
Ini adalah orang-orang yang “menyerbu” hadirat Tuhan dengan keinginan-keinginan sendiri. Banyak pendoa seperti ini bahkan mungkin kita sudah pernah lakukan yaitu memaksakan kehendak kepada Tuhan untuk dikabulkan.
Baca: 1 Samuel 8
Ini kisah mengenai umat israel yang meminta raja, padahal Tuhan mau, agar Tuhan sendiri yang menjadi raja bagi mereka dan menjadikan mereka umat kerajaan-Nya. Tetapi bangsa Israel tetap ingin memiliki raja. Sebab didalam berperang dan didalam segala sesuatu yang mereka alami, mereka melihat ada bangsa-bangsa yang memiliki raja dan hanya mereka yang tidak memiliki raja. Jadi, mereka mendesak untuk meminta seorang raja.
Pada akhirnya setelah mereka mendapat raja, Tuhan menyuruh Musa kembali kepada bangsa itu dan katakanlah kepada mereka resiko apa yang mereka dapatkan setelah mereka memiliki raja.
1 Samuel 10:19 Tetapi sekarang kamu menolak Allahmu yang menyelamatkan kamu dari segala malapetaka dan kesusahanmu, dengan berkata: Tidak, angkatlah seorang raja atas kami. Maka sebab itu, berdirilah kamu di hadapan TUHAN, menurut sukumu dan menurut kaummu.”
Memaksakan kehendak didalam doa bisa terjadi, dan Tuhan “mengabulkannya” (tanda kutip), tapi ada resiko yng harus ditanggung. Dan jika kita baca daftar kesukaran yang mereka alami sesudah mendapat raja yang seorang manusia, betapa mengerikkan, tetapi mereka rela, karena sudah dijawab.
Jadi kita harus waspada, jangan pernah memaksakan Tuhan dalam meminta sesuatu. Ketika kita sudah menerimanya kita berkata: “Puji Tuhan, setelah kami bergumul sekian lamanya, ternyata akhirnya Tuhan mengabulkan”. Bukan masalah tentang lamanya pergumulan doa itu, tetapi ingat bahwa Tuhan sudah mengingatkan kita untuk datang dengan iman, bukan datang dengan persoalan, bukan datang dengan keinginan, bukan datang dengan permintaan. Tidak dilarang untuk meminta, tetapi perlu kita pahami supaya tidak kecewa, ada resiko dan resiko itu diluar tanggungjawab Tuhan.
Resiko itu adalah akibat yang kita lakukan dengan memaksa Tuhan. Mungkin kita akan bertanya: “Oh apakah Tuhan bisa dipaksa?” Tuhan tidak bisa dipaksa, tetapi Tuhan melakukan ini untuk mengajar dan menghajar kita dengan permintaan sendiri. Jadi permintaan kita yang “dijawab” (tanda kutip) oleh Tuhan, itu juga yang menimpa kita sebagai hukuman. Hal ini bukan berarti Tuhan bisa di atur. Tetapi ini sudah yang sering saya katakan bahwa orang yang tidak bisa dididik dengan kata-kata akan dididik dengan peristiwa.
4. Tuhan menjawab dengan cara lain
Mari kita semua jujur, setiap kali kita berdoa dan minta sesuatu, kita sudah punya konsep. Dan ternyata, ketika Tuhan menjawab dengan cara lain, maka kita menjadi kecewa, karena jawabannya tidak sesuai dengan yang kita konsepkan. Jangan datang dengan konsep tetapi datang dengan iman.
2 Korintus 12:8-10 8Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. 9Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 10Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Paulus memiliki duri dalam tubuhnya, dan dia tau bahwa itu suruhan iblis. Kemudian Paulus berdoa karena Paulus tahu ini jalan yang akan menyelesaikan secara iman. Apalagi ada ayat yang berkata doa mengubah segala sesuatu. Dan 3 kali ia berdoa supaya pesuruh Iblis ini dicabut dari padanya. Tetapi Tuhan berkata, cukuplah kasih karunia-Ku bagimu. Sebab dalam kelemahanmulah KUASAKU MENJADI SEMPURNA. Dan setelah kita baca lebih lanjut, kenapa ini ada dan tidak dicabut? dia memahami, supaya aku tidak menyombongkan diri.
Itulah Tuhan berkata, adalah lebih baik kita menguji diri kita sendiri, Tuhan berikan kita kesempatan dan kemurahan-Nya, daripada Tuhan yang harus melakukan sesuatu ujian atas kita mungkin kita tidak akan mampu.
Jadi rupanya duri ini adalah alat untuk mengingatkan dia, ternyata saya masih ada kelemahan, dan segala kekuatan hanya daripada Tuhan datangnya. Artinya jawaban Tuhan dengan cara lain ini, mempunyai maksud dan tujuan yang baik untuk diri yang meminta doa seperti yang dialami oleh Rasul Paulus. Jadi ketika kita minta sesuatu, Tuhan menjawabnya lain dari konsep kita, ketahuilah ada maksud baik untuk kebaikan kita.
Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Mari kita pahami dan syukuri, supaya pada saat kita berdoa dan apapun permintaan kita, kita sedang berhadapan dengan kedaulatan Allah. Tidak dilarang meminta, tidak dilarang bertekun, tetapi ketika jawaban datang, biarkan Tuhan menjawab menurut cara-Nya.
Dan ketika jawaban datang, tidak ada sesuatu yang kita banggakan, karena jawaban itu berasal dari tahta kemuliaan Allah yang penuh kedaulatan. Tetaplah berdoa! Dan nyatakanlah kepada Allah segala keinginan dalam doa, permintaan dan ucapan syukur . Persilahkan Tuhan menjawab sesuai kehendakNya.
By : Pdt. R.F. Martino
MEMAHAMI LEBAR, PANJANG, TINGGI, DAN DALAMNYA KASIH KRISTUS
Dalam menghadapi New Normal di masa pandemi, kita harus tetap disiplin terhadap protokol kesehatan. Kita tak boleh acuh tak acuh seperti banyak orang yang tak mempedulikan protokol kesehatan. Semua yang menjadi format alamiah tidak dapat dilanggar. Maka kita tidak bisa berdoa minta perlindungan Tuhan lalu kita merasa bisa bebas tidak memakai masker, tidak menjaga jarak, dll.
Banyak orang percaya yang bingung mengapa dimasa pandemi ini Tuhan seakan berdiam diri? Mengapa ada orang percaya yang sakit bahkan ada hamba Tuhan yang meninggal karena Covid-19 ? Disinilah kita harus memahami bahwa saat berhadapan dengan kedaulatan Tuhan, iman seakan-akan menjadi “tidak berguna”. Doa tidak dapat memaksa untuk mengubah apa yang menjadi kedaulatan Tuhan. Maka sikap paling bijak saat berhadapan dengan kedaulatan Tuhan adalah menyerah/berserah pada kedaulatan Tuhan sampai Tuhan selesai melakukan apa yang dikehendaki-Nya.
Efesus 3:18-19 “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”
Umumnya umat Tuhan hanya mengerti KASIH ALLAH hanya pada satu sisi saja yaitu saat mengalami peristiwa-peristiwa yang menyenangkan. Namun ayat diatas berkata supaya kita dapat mengenal betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus. Jika kita hanya mengenal “lebar” nya saja, dan tidak mengenal “panjang”, “tinggi”, dan “dalam”nya kasih Kristus, maka kita belum mengenal keseluruhan isi kasih Kristus. Sebagai contoh banyak orang tidak memahami peristiwa yang menimpa Ayub juga merupakan bentuk dari kasih Allah.
1 Korintus 10:13 “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (Terjemahan Lama = “sehingga kamu cakap menanggungnya”).
MEMAHAMI LEBAR, PANJANG, TINGGI, DAN DALAMNYA KASIH KRISTUS
A. LEBAR
Ini adalah pengalaman awal menjadi orang percaya. Pada pengalaman awal ini Allah memperkenalkan diri-Nya sedahsyat-dahsyatnya sehingga kita dapat mengenal-Nya. Pada pengalaman ini doa kita cepat dijawab “YA” oleh Tuhan.
B. PANJANG
Pada pengalaman ini Tuhan mengajar seseorang akan bentuk kasih-Nya yang lain. Saat seorang percaya menghadapi pergumulan yang berkepanjangan, seseorang mungkin saja akan meragukan kasih Allah. Namun kita harusnya bersyukur karena kita bisa memahami kasih Kristus lebih lama lagi bahwa kasih Kristus tidak hanya sebatas jawaban doa. Kita diajar untuk tak hanya berdoa namun juga menyembah.
C. TINGGI
Saat Tuhan membawa hidup seorang percaya naik membumbung tinggi sehingga strata sosial hidupnya naik, maka ada 2 kemungkinan yang dapat terjadi:
– Orang itu memuji-muji/memuliakan Tuhan karena memahami bahwa semua yang diperoleh adalah anugrah Tuhan.
– Orang itu justru melupakan Tuhan. Maka disini kita memahami: kemapanannya menjadi awal kejatuhan.
D. DALAM
Sebagian orang percaya tidak dapat menerima saat Tuhan membawa mereka pada pengalaman masuk ke tubir yang dalam supaya memahami dalamnya kasih Kristus.
Mazmur 107:23-24 “Ada orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas; mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam.”
Kita perlu memahami kasih Kristus lebih dalam lagi, tidak hanya meminta Tuhan yang memahami kedalaman isi hati kita.
Firman Tuhan berkata “Allah adalah kasih”. Pemahaman ini harus tertanam dalam hati kita dan tak boleh lenyap:
1. Kasih Kristus telah dibuktikan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.
1 Yohanes 4:9 “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.”
2. Kasih Kristus dibuktikan dengan mengutus Penolong yaitu Roh Kudus.
Yohanes 14:16-17 “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”
3. Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.
Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
II. MENGENAL KASIH KRISTUS YANG MELAMPAUI SEGALA PENGETAHUAN
1. Masalah hidup adalah hal biasa yang dialami oleh setiap orang
2. Tuhan tahu batas kemampuan setiap orang
3. Masalah hidup yang kita alami tidak melampaui kekuatan kita sehingga kita dapat menanggungnya.
4. Dalam menghadapi masalah hidup, ada jalan keluar yang Tuhan berikan, maka jangan buat jalan sendiri misalnya meninggalkan iman atau bunuh diri.
Apabila seorang memiliki kekuatan mengangkat beban 100kg, saat ia memiliki beban 20kg, lalu bertambah menjadi 50kg, 80kg, lalu 99,99 kg, maka mungkin saja ia sudah merasa tidak mampu lagi, padahal berat beban itu belum melampaui kekuatannya. Namun disaat beban itu sudah melebihi kekuatannya, maka Tuhan turun tangan menyatakan mujizat-Nya. Sama seperti Sadrakh, Mesakh, Abednego yang dilempar ke dapur api, dimana saat itu beban yang mereka hadapi melampaui kekuatan mereka, maka Tuhan turun tangan hadir disana. Inilah bukti kesetiaan Tuhan.
Dengan memahami hal ini maka dalam menghadapi pandemi ini kita tidak perlu lagi bertanya “Kapan ya semua masalah/pandemi ini berakhir?” Jalani saja kehidupan kita saat ini bersama Tuhan, namun tetap perlu bekerjasama dengan Tuhan yaitu dengan cara tetap memperhatikan protokol kesehatan.
By : Pdt. R. F. Martino
YANG TERPENTING UNTUK DIMILIKI
Mazmur 90:12 Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Efesus 5:15 Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,
Saat saat ini kita mengetahui dan mengalami bersama suatu situasi dan kondisi yang mendunia yaitu wabah penyakit global atau yang disebut pandemi, sebagai orang percaya, kalau kita kembali pada kebenaran firman mungkin kita tidak terlalu kaget akan hal ini, tetapi secara manusia kita juga dibuat terkejut karena terjadi secara tiba-tiba. Mau tidak mau kita dibawa kepda situasi, kondisi dan kebiasaan-kebiasaan hidup yang berbeda.
Dalam menghadapi masa-masa seperti ini ada banyak pertanyaan-pertanyaan, diataranya:
BAGAIMANA KITA MENJALANI HARI-HARI KEDEPAN?
Belajar dari satu tokoh Alkitab, dia adalah seorang pemimpin, seorang hamba Tuhan, seorang nabi yang Tuhan pakai secara luarbiasa, yaitu Musa. Dia mempin suatu bangsa yang besar yaitu Bangsa Israel, keluar dari perbudakan di tanah Mesir menuju Tanah Perjanjian. Bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk, tentunya memimpin bangsa yang tidak taat ini tidaklah muda. Dan kalau kita baca dalam kitab taurat, banyak peristiwa-peristiwa yang dialami Musa dalam kepemimpinannya membawa Bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, selain itu juga banyak pengalaman-pengalaman iman yang luar biasa yang Musa lihat dan alami secara langsung, namun dengan situasi dan kondisi yang seperti itu, musa tetap berusaha meminta kepada Tuhan bagian yang terpenting yang harus ia miliki di dalam hidupnya, yaitu: HATI yang BIJAKSANA.
BIJAKSANA
Selalu menggunakan akal budinya, arif.
Pandai dan hati-hati apabila mengalami kesulita dan sebagainya.
BIJAKSANA MENURUT FIRMAN ALLAH
Bijaksana menurut firman Allah bukan sekedar kepandaian atau kecakapan saja, tetapi merupakan suatu ketaatan yang didasarkan dari pengertian /pemahaman yang baik terhadap Firman Tuhan.
SIAPAKAH ORANG YANG BIJAKSANA
Mazmur 119:97-98 97Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari. 98Perintah-Mu membuat aku lebih bijaksana dari pada musuh-musuhku, sebab selama-lamanya itu ada padaku.
Matius 7:24 “Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu.
Orang yang mencintai taurat Tuhan, mendengar perkataan-Nya (firman-Nya), merenungkannya sepanjang hari dan melakukannya.
Orang yang bijaksana dalam kesehariannnya apapun yang ia pikirkan, yang ia putuskan, yang ia lakukan, dasar kebenarannya adalah Firman Tuhan bukan kebenaran menurut kondep pikirannya sendiri. Karena banyak orang merasa benar, bertahan dengan pemikirannya sendiri.
Dampak dari masa pandemi ini sangat dirasakan dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan.
Masa ini adalah masa yang Tuhan izinkan, masa untuk kebersamaan dengan keluarga kita, termasuk dengan anak-anak. Rumah juga merupakan tempat pendidikan, kesempatan kita bersama-sama dengan mereka, mendidik, dan memperkenalkan siapa Tuhan dalam keseharian kita, jadi jangan ada pengeluhan disaat kita harus mendampingi anak-anak dalam masa-masa ini, dan ini harus menjadi suatu kesukaan bagi kita.
Dampak dari masa pandemic ini juga adalah pekerjaan, usaha, permasalahan ekonomi terjadi, baik yang dirumahkan.
Dampak dalam pelayanan juga ada, kita sudah tidak bisa ber-fellowship bersama ataupun beribadah secara langsung.
Ini merupakan suatu dampak dari masa pandemi ini yang sangat dirasakan. Nah dalam masa-masa seperti ini hal terpenting yang harus kita miliki adalah HATI yang BIJAKSANA. Sehingga kita hidup bijaksana.
DALAM HAL APA SAJA KITA HARUS HIDUP BIJAKSANA?
1 Tesalonika 5:23 Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.
Berbicara mengenai hidup, manusia terdiri dari 3 bagian yaitu tubuh, jiwa dan roh. Hidup bijaksana berarti kita bijaksana dalam memelihara roh, jiwa, tubuh sehingga tetap terpelihara dengan sempurna sampai pada kedatangan-Nya kembali dan kita boleh berjumpa bersama-sama dengan Dia.
BIJAKSANA DALAM MEMELIHARA ROH
Kita tahu bahwa hidup kita di dunia ini hanya sementara, selanjutnya kita akan masuk dalam kekekalan, hidup kekal atau kebinasaan kekal.
“SEMENTARA” dan “KEKAL” berbicara tentang WAKTU
WAKTU tidak akan terulang kembali, waktu Tuhan berikan sebagai kesempatan bagi kita. Berapa lama kesempatan yang Tuhan berikan, satupun dari kita tidak ada yang tahu.
Semakin bertambahnya usia semakin berkurang kesempatan hidup, dengan kata lain semakin dekat dengan batas waktu yang Tuhan tetapkan.
Karena setiap kita tidak hidup untuk selama-lamanya, kita hanya sementara. Maka kita harus lebih bijaksana dengan demikian kita harus bijaksana dengan hal waktu, sebagaimana waktu terus berjalan, roh kita juga harus semakin dekat, semakin intim dengan Tuhan, dan kedekatan itu bukan hanya secara rutinitas, tubuh kita berdoa, kita punya jam-jam rutin untuk berdoa dan akhirnya hanya menjadi rutinitas. Kedekatan itu bukan secara rutinitas, kita berdoa, baca Alkitab, bahkan dengan bangga kita berkata bawa kita sudah menyelesaikan pembacaan Alkitab.
Kita beribadah, kita pelayanan, rutinitas rohani bukan kedekatan, keintiman secara roh. Rutinitas rohani ialah fisik kita, jasmani kita memang melakukannya, mungkin disebatas jiwa, terkadang saat kita berdoa, kita bisa meneteskan air mata, kita bisa menangis, tetapi apakah itu sampai di roh kita? Belum tentu.
Yohanes 4:24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.
Bijaksana dalam memelihara roh jangan melakukan hal-hal yang rohani sebagai rutinitas, melainkan bahwa roh kita benar-benar semakin dekat, semakin intim dengan Tuhan, seiring denga waktu, atau kesempatan yang Tuhan berikan, jangan kita terjebak dengan rutinitas. Maka kita akan disebut orang yang bijaksana dalam memelihara roh.
BIJAKSANA DALAM MEMELIHARA JIWA
JIWA:
PIKIRAN, manusia dapat berpikir.
PERASAAN, manusia dapat merasakan.
KEHENDAK, manusia dapat memilih.
Bijaksana dalam berfikir
Amsal 13:16 Orang cerdik bertindak dengan pengetahuan, tetapi orang bebal membeberkan kebodohan.
Bagaimana bijaksana dalam berfikir?
Dasar pemikiran selalu Kebenaran Firman Tuhan. Jadi yang tidak sesuai dengan kebenarn Firman Tuhan jangan dipikirkan, sehingga tidak membuat kita terbawa dalam dosa pikiran dan dosa perbuatan.
Bijaksana dalam perasaan
1 Petrus 4:7 Kesudahan segala sesuatu sudah dekat. Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.
Disaat perasaan kita sedang terganggu, dasarnya selalu Firman Tuhan. Sehingga jangan kita berdosa melalui pikiran dan perasaan. Pikiran dan perasaan selalu behubungan, disaat perasaan kita terganggu, ingat kita harus kembali kepada firman Tuhan betapa pentingnya kita bergaul dengan Tuhan bukan sekedar kita berkomunikasi lewat doa tetapi kita membaca, merenungkan firman-Nya, apalagi dengan kemajuan teknologi, kita bisa mengakses berbagai macam renungan, khotbah yang membuat iman kita bertumbuh, tentunya juga kita harus punya filter, setiap renungan, khotbah yang kita dengar, apakah alkitabiah atau tidak.
Saat perasaan kita terganggu, jangan hanya ikuti emosi, tetapi apa kata firman, jangan hanya comot-comot saja, jangan hanya setengah-setengah. karena firman Tuhan itu tidak pernah kontradiksi, tetapi kita pahami secara keseluruhan Firman Tuhan, kita renungkan dan kita lakukan, maka kita dikatakan orang yang bijaksana, dan inilah yang dibutuihkan di masa-masa akhir ini dalam menjalani hari-hari ini.
Setiap kita berkerinduan untuk berjumpa dengan Dia. Di dunia ini penuh dengan ratap dan tangis, banyak penderitaan dan kita bersyukur disini hanya sementara, ada kekalan kedepannya yaitu kehidupan yang kekal yang kita rindukan.
Bijaksana dalam berkehendak
Mengapa harus bijaksana dalam berkehendak?
1 Yohanes 2:16 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.
Galatia 5:16 Maksudku ialah: hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging.
Kalau orang tidak hidup dalam Roh, maka ia akan hidup dalam keinginan daging, dan sudah jelas ini akan membawa kita dalam kebinasaan yang kekal.
Bijaksanalah dalam berkehendak, contoh: ibu- ibu yang sudah stres menghadapi anak-anak yang sekolah dari rumah, dan bertanya-tanya kapan kita bisa ber-fellowship lagi? Kapan kita bisa ibadah secara langsung? Kapan kita bisa berpegian lagi? sudah lama kita tidak pergi ke mall, kulineran, berbelanja dll.
Dalam masa-masa pandemi ini banyak konflik, banyak permasalahan rumah tangga. Kita harus bijaksana dalam berkehendak, yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan jangan dilakukan, jangan ada dikehidupan kita, tetapi apa yang Tuhan rindukan, perintahkan, kehendaki, itulah yang kita lakukan. Kita harus menaklukan keinginan-keinginan daging kita, kehendak kita dan kita lebih mengutamakan kehendak Tuhan ini berbicara mengenai penyangkalan diri. Tuhan Yesus berkata, barangsiapa yang mau mengikut Aku, ia harus memikul salib-Nya dan menyangkal diri, menaklukkan kehendak kita, kehendak Tuhan yang kita utamakan.
Bijaksana dalam memelihara tubuh
1 Korintus 3:16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?
Bait Allah adalah kita, Bait Allah tempat itu tempat Allah berdiam, tubuh kita adalah Bait Allah, jadi kita wajib untuk memelihara tubuh kita sebagai Bait Allah, inilah yang kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan.
Dalam masa-masa pandemi ini ada beberapa anjuran pemerintah yang kita harus ikuti, yaitu pakai masker, kalau dulu hanya orang-orang tertentu saja yang menggunakan masker, sekarang mau tidak mau kita harus menggunakan masker. Yang berikutnya mewajibkan untuk cuci tangan sebelum memasuki suatu tempat. Menjaga jarak dan berjemur. Inilah kebiasaan-kebiasaan yang mungkin selama ini belum terjadi dalam kehidupan kita, namun mau tidak mau harus dilakukan. Aturan-aturan ini jika kita lakukan, maka kita dikataan bijaksana dalam memelihara tubuh. Karena kalau tubuh kita sakit, berarti kita tidak bijaksana dalam memelihara tubuh
Bijaksana dalam memelihara tubuh, termasuk makanan minuman yang menjadi pantangan kita jangan dilanggar. Dengan bahasa rohani kita berkata makan dengan iman, minum dengan iman. Tapi akalau kita sudah mengetahui bahwa makanan/minuman itu tidak bisa untuk kita konsumsi karena mengganguu kesehatan kita. Makadari itu kita bekerjasama dengan Tuhan, kita harus bijaksana dalam memelihra tubuh, diantarannya adalah jam istirahat, sekuat-kuatnya kita kita harus bijaksana dalam memelihara tubuh kita, sehingga kita menjaga tubuh kita sebagai Bait Allah, jangan sampai Tuhan menjumpai dalam 1 korintus 3:17. Tuhan mau kita merawat, menjaga, hal ini berbicara mengenai hati yang bijaksana, kita bijak dalam merawat tubuh kita sehingga terpelihara dengan sempurna dan tak bercacat sampai pada waktunya Tuhan datang, semuanya bisa kita pertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.
Bijaksana juga dalam menggunakan anggota-anggota tubuh, gunakan mata dan telinga kita dengan bijaksana, maka kita akan bijaksana menggunakan lidah kita, karena dengan mata melihat, telinga mendengar akan sesuatu, kalau kita tidak bijaksana, maka akan menimbulkan dosa perkataan lewat lidah kita. Anggota tubuh yang lain, tangan, kaki kita serahkan kepada Tuhan, gunakan sebagai senjata kebenaran. Bagaiamana menggunakan sebagai senjata kebenaran? Dasarnya adalah Firman Tuhan, karena berbicara mengenai hati yang bijaksana, orang yang bijaksana, dia selalu bertindak dengan dasarnya adalah Firman Tuhan. Di pahami, renungkan, dan lakukan dalam hidup sehari-hari.
Roma 6:13 Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran.
YANG TERPENTING UNTUK DIMILIKI DALAM MENJALANI HARI-HARI INI:
MILIKILAH HATI YANG BIJAKSANA Sehingga kita hidup bijaksana, roh, jiwa dan tubuh kita terpelihara dengan sempurna dan tak bercacact sampai pada kedatanga Tuhan Yesus yang kedua kalinya, kita bisa berjumpa dengan Dia dan kita bersama-sama dengan Dia dalam kehidupan yang kekal.
By : Pdt. Lea Novitasari, S.Th., MA
SEMUA DALAM KENDALI TUHAN
Hal yg perlu kita yakini berdasarkan Firman Tuhan mengenai apa yang sedang kita hadapi saat ini, yaitu wabah pandemi dimana kita tidak mengetahui kapan wabah ini akan berhenti adalah bahwa semua ada dalam kendali Tuhan.
Dalam kitab Wahyu pasal yang keenam dijelaskan mengenai pembukaan materai-materai pertama dimana ada banyak hal yang akan terjadi di muka bumi; penyesatan-penyesatan yang digambarkan sebagai kuda putih dan penunggangnya, roh-roh antiKris, peperangan yang digambarkan sebagai kuda merah, kesulitan ekonomi yang digambarkan dengan kuda hitam.
Saat ini pun kita sudah merasakan akibat dari wabah yang terjadi tetapi kita tetap harus berdoa dan mengucap syukur kepada Allah sekalipun di rumah saja, tetapi ini tidak membatasi kita untuk terus berdoa. Bukan hanya berdoa di kelompok kecil saja tetapi kita dapat berdoa dalam kelompok yang lebih besar dalam jaringan-jaringan doa yang ada di seluruh Indonesia, berdoa dengan seluruh denominasi gereja yang ada di seluruh kota, agar terjadi lawatan Tuhan di tengah pandemi yang terjadi.
Dalam Kitab Wahyu pasal 6 dijelaskan bahwa Anak Domba-lah yang membuka keenam meterai tersebut, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Tuhan mengetahui apa yang sedang terjadi saat ini baik bencana, kesulitan ekonomi dan lainnya. Roh mautlah yang menyebabkan kematian dan segala hal buruk yang terjadi termasuk wabah saat ini. Tetapi hal ini terjadi setelah Anak Domba membuka meterai tersebut yang artinya tetap dalam kendali Tuhan. Untuk kita orang-percaya, ada jaminan perlindungan Tuhan, ada pembatasan yang Tuhan lakukan bagi umat Nya.
Dalam Wahyu pasal 7, baik tujuh meterai, tujuh sangkakala dan tujuh cawan murka Allah, bagian yang ketujuh fokusnya selalu ke Tuhan. Saat meterai keenam dibuka, ada orang-orang yang dimeteraikan oleh Allah. Dalam surat yang ditulis oleh Paulus dikatakan bahwa kita yang percaya kepada Kristus adalah juga keturunan Abraham, yaitu Israel secara rohani. Kita yang sungguh sungguh percaya dan hidup dalam kebenaran Tuhan, diberikan tanda meterai dari Allah yang secara jasmani tidak kelihatan. Orang orang yang memiliki meterai ini terluput dari bencana yang memang harus terjadi.
Jaminan perlindungan Tuhan atas wabah yang sedang kita hadapi sekarang ini.
Mazmur 91:5-6 ⁵Engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang,
⁶terhadap penyakit sampar yang berjalan di dalam gelap, terhadap penyakit menular yang mengamuk di waktu petang.
Ada kriteria dari orang-orang yang mendapat jaminan perlindungan Tuhan, yaitu dijelaskan dalam
Mazmur 91:1, 2 “¹Orang yang duduk dalam lindungan Yang Mahatinggi dan bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa ²akan berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai.”
Mazmur 91:14 “Sungguh, hatinya melekat kepada-Ku, maka Aku akan meluputkannya, Aku akan membentenginya, sebab ia mengenal nama-Ku.
Sudah waktunya masa kesulitan ini terjadi. Baik bencana, penyesatan, peperangan dan lainnya. Kita harus siap sedia akan hal ini, yang adalah agenda dari Tuhan sendiri. Dan sekalipun ada jaminan perlindungan Tuhan, kita tidak boleh ceroboh tetapi harus berjaga-jaga, mengikuti aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah khususnya mengenai protokol kesehatan.
Adanya wabah Covid tidak menghalangi kita melakukan pelayanan. Semuanya bisa dilakukan. Semua yang terjadi ada maksud dan tujuan Tuhan. Ada lawatan Tuhan yang terjadi dalam keluarga-keluarga. Kita jangan hanya fokus kepada ketakutan terhadap wabah tetapi fokuslah kepada jiwa-jiwa yang ketakutan itu untuk diperkenalkan kepada Tuhan Yesus. Keselamatan harus diberitakan kepada jiwa-jiwa sebab pengangkatan sudah tidak lama lagi dan dapat terjadi kapan pun di waktu yang tidak kita duga. Pengangkatan akan terjadi sesaat sebelum bait Allah selesai dibangun dan Apa yang dinubuatkan dalam Yesaya 42 pun harus digenapi terlebih dahulu barulah terjadi pengangkatan.
Yesaya 42:10-12 “10 Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN dan pujilah Dia dari ujung bumi! Baiklah laut bergemuruh serta segala isinya dan pulau-pulau dengan segala penduduknya. ¹¹ Baiklah padang gurun menyaringkan suara dengan kota-kotanya dan dengan desa-desa yang didiami Kedar! Baiklah bersorak-sorai penduduk Bukit Batu, baiklah mereka berseru-seru dari puncak gunung-gunung! ¹² Baiklah mereka memberi penghormatan kepada TUHAN, dan memberitakan pujian yang kepada-Nya di pulau-pulau.
Teruslah hidup dipimpin oleh Roh Kudus dan menjadi bejana kemuliaan yang siap dipakai Allah untuk penuaian besar.
By : Pdt. Mediati Setiawan
JANGAN KHAWATIR
Kata khawatir ini dalam kehidupan pribadi tidak hanya sekali terjadi pada orang-orang tertentu saja, tetapi hampir semua orang pernah dihinggapi dengan rasa khawatir baik dari anak-anak sampai kalangan dewasa dan bahkan segala situasi keadaan apakah dia orang percaya atau belum percaya kepada Yesus Kristus pasti suatu saat pernah dihinggapi oleh rasa khawatir. Tetapi kita harus memiliki sikap yang bijak didalam menanggapi ketika hal itu hinggap dihati dan pikiran kita.
Khawatir/kha’wa’tir/ a takut (gelisah, cemas) terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti; Pandangan negative yang tidak terkendali pada masalah dengan akibat yang tidak pasti, suatu akibat yang bagi penguatir pasti akan terjadi kekacauan.
Kuatir hampir sama dengan gelisah atau cemas. Kecemasan/anxieties adalah rasa khawatir, takut yang tidak jelas sebabnya.
Gelisah/ge`li`sah/ a tidak tentram, selalu merasa khawatir (tentang suasana hati).
Mengapa sampai Tuhan mengatakan jangan khawatir? Sementara kalau kita memperhatikan bahwa hampir semua orang pernah dihinggapi dengan rasa khawatir.
Mengapa timbul rasa khawatir?
Kata khawatir berasal dari akar kata Yunani “merimnao”. “Merimnao” berarti pikiran yang bercabang, pikiran yang tidak konsentrasi, pikiran yang pecah, pikiran yang tidak menyatu.
Terlalu berlebihan memikirkan hal-hal yang tertentu/memikirkan lebih dari yang patut kita pikirkan. Keragu-raguan yang mulai mengontrol/menguasi pikiran atau perasaan.
Lumrah kita mendengar kabar yang tidak menyenangkan seperti bencana atau bahkan wabah virus corona ini, kalau terlalu kita pikirkan lama-lama, hal-hal yang kecil itu bertambah dan terus bertambah besar sampai kemudian membuat kita jadi hilang control dan tidak bisa lagi mengendalikan hati dan pikiran kita akhirnya dari kuatir bisa menjadi stress.
Kita sebagai orang percaya harus bersyukur bahwa kita memiliki firman dan juga memiliki cara-cara yang Tuhan berikan kepada kita untuk kita pakai membawa kehidupan kita di dalam damai sejahtera Allah.
Akan sangat besar dampak kuatir ini dalam kehidupan kita jika kita tidak atasi dengan cepat. Dampak negatif menurut riset 83% penyakit diakibatkan oleh kekuatiran.
Amsal 12 : 25 “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang bak menggembirakan dia”.
Terjemahan lain dituliskan bahwa kekuatiran dalam hati manusia menyebabkan depresi/tekanan pada jiwa. Kompas.com
Rasa khawatir juga berakibat pada peningkatan hormone stress kortisol yang menyebabkan ketegangan pada otot yang menyebabkan sakit punggung, sakit kepala dan lainnya.
Kekhawatiran juga berdampak pada kesehatan jantung. Perasaan khawatir ini dalam jangka panjang mampu meningkatkan hormone kortisol yang dapat menyebabkan pembengkakan pada pembuluh darah.
Dampak lain dari kekhawatiran adalah gangguan tidur. Hal ini mengakibatkan ketidakseimbangan hormone dan kenaikan kadar gula darah. Inilah menyebabkan terjadinya komplikasi seperti diabetes, resiko stroke, masalah ginjal dan sebagainya.
*) Hormon Kortisol atau juga dikenal secara luas sebagai hormone stress, karena hormone ini akan diproduksi lebih banyak saat tubuh mengalami stress, baik fisik maupun emosional.
Berdampak pada saluran pencernaan. Ini juga memiliki pengaruh pada sirkulasi darah di dalam tubuh. Seringkali gangguan saluran cerna, asam lambung/maag yang bersumber dari kekuatiran.
Mari saudara, kalau kita sudah mengetahui dampaknya seperti ini mengapa kita mau menyimpan dan menjadikan tubuh kita ini tercemar dengan hal-hal seperti itu?
Matius 6:19 dan 24, Lukas 12:22-34
Jangan menimbun harta di Bumi. Lukas 12:16, 21 “Orang kaya yang bodoh”
Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan (Allah dan Mamon)
Dimana hartamu berada disitu juga hatimu berada, Matius 6:21, Lukas 12:34
Apa nasehat Tuhan tentang kekuatiran?
Matius 6 : 25-34
25 “Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” 26 “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?”27 “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”28”Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal,”29 “namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu”. 30 “Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?”31 “Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai?32 “Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu”.33 “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”. 34 ”Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.”
Hidup dan tubuh lebih penting dari pada makanan dan pakaian ayat: 25, 28-30
Kata “hidup” dalam teks ini adalah psuke, yang artinya jiwa/nyawa Matius 16:25
Artinya apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan nyawanya?
Tubuh adalah bait Allah, senjata-senjata kebenaran. Jangan sampai tujuan hidup, waktu, pikiran kita hanya untuk mencari harta.
Ayat 26, Kita jauh lebih berharga di mata Bapa daripada burung-burung/ciptaan lain.
Ayat 27, Kekuatiran adalah hal yang sia-sia. Tidak menambah sedikitpun pada umurmu tapi justru memperburuk keadaan.
Ay 30b-33, kekuatiran adalah sikap yang kurang percaya “Hai kamu yang kurang percaya” = Sikap bangsa-bangsa/orang yang TIDAK MENGENAL ALLAH.
Janganlah kamu Menjadi Hamba Uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu.
Diperbudak oleh uang atau harta
Menghalalkan segala cara
Mengorbankan keluarga, nama baik
Melupakan kebutuhan rohani
Bagaimana menjaga sikap yang benar
Matius 6:33. “Tetapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu”.
Roma 14:17 “Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus.
1 Tawarikh 16:11 dan Mazmur 105:4 Carilah Tuhan dan kekuatan-Nya, carilah wajah-Nya selalu!
Mazmur 62:2-3 Hanya dekat dengan Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku. Hanya dialah gunung batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah (melekat/mengikatkan diri)
Filipi 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur
Memikirkan perkara-perkara yang di atas. Filipi 4 : 8. “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu”.
Karena Allah telah berfirman: “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau. Jadi jangan kuatir, Allah beserta kita, Allah memelihara kita, bertanggungjawab atas kehidupan kita. Firman Allah berkata Bapa tau kita memerlukan semuanya itu tapi carilah dahulu kerajaan Allah dan kebenarannya dekatlah dengan Tuhan dan andalkan Dia.
By : Pdt. Milkha Samaa













