This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Monthly Archives: January 2020

LIVE BY GRAND DESIGN

Mazmur 104:24  Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu.

Hidup kita sudah didesain oleh Tuhan, sudah ada dalam rancangan Tuhan, tetapi masih banyak orang salah berfikir tentang rancangan Tuhan dalam hidupnya atau salah menilai rancangan Tuhan sehingga membuat mereka menjadi lemah,  kecewa bahkan mundur dari imannya dan meninggalkan Tuhan.

Ada 2 paham ekstrim yang sering dianut oleh orang Kristen yang harusnya kita hindari.

1. Fatalisme
Diambil dari kata dasar “fatal”, adalah sebuah sikap seseorang dalam menghadapi permasalahan atau hidup, apabila paham seseorang  dianggap putus asa dalam segala hal maka inilah paham fatalisme. Dalam paham ini, seseorang sudah dikuasai oleh nasib dan tidak dapat mengubahnya. Pandangan ini diambil dari sebuah pemikiran determinisme yang menjelaskan bahwa setiap peristiwa mempunyai penyebabnya. Kaum determis percaya bahwa setiap perbuatan sudah ditentukan, maksudnya apa yang terjadi maka terjadilah. Suatu peristiwa yang terjadi di masa kini, masa lampau, dan masa depan sudah ditentukan oleh Allah atau kekuatan Ilahi lainnya. Di dalam agama atau pandangan Kristen ada yang berpendapat bahwa pandangan ini dikenal dengan istilah predestinasi yaitu percaya bahwa takdir seseorang akan berakhir di sorga atau di neraka sudah ditentukan bahkan sebelum mereka dilahirkan dan tidak dipengaruhi apapun yang menjadi pilihan kita. Jadi orang tersebut percaya akan nasib, jika ia miskin maka ia berpikir bahwa itu sudah nasibnya. Memang sudah takdirnya jadi orang gagal, takdirnya jadi orang susah. Ketika dia melihat orang tuanya gagal/miskin, hidupnya juga miskin maka ia berfikir bahwa sudah takdirnya ia menjadi orang miskin. Tuhan yang selalu menentukan hidup manusia sehingga manusia sendiri tidak dapat menentukan hidupnya. Orang seperti ini cenderung menyerahkan seluruh tanggung jawab kepada Tuhan dan menyalahkan kehendak Tuhan. Jika pernikahannya gagal, maka ia percaya bahwa itu sudah takdirnya. Inilah contoh-contoh dari orang dengan pemahaman fatalisme.

2. Paham kehendak bebas (freewill)
Teori ini menyatakan bahwa manusia memiliki kehendak bebas untuk memilih dan menentukan. Paham ini bertentangan dengan paham determinisme. Sebuah buku The Grand Design di karang oleh Stephen Hawking, menjelaskan bahwa alam semesta tidak diciptakan oleh Tuhan,melainkan terjadi karena adanya suatu ledakan besar atau dikenal dengan istilah Bigbang yang merupakan awal terjadinya alam semesta. Teori ini membantah keterlibatan Tuhan dalam penciptaan alam semesta. Menurutnya Tuhan tidak punya cukup waktu untuk mempersiapkan semuanya itu. Tulisan ini berupaya menganalisa latar belakang pemikiran anti Tuhan. Hawking memaparkan argumentasi pemikirannya serta memberikan kesimpulan atas pandangan tersirat dari karya ilmuwan yang dinobatkan menjadi The Greatest living scientists in the world. Tentang grand design, Hawking berpendapat bahwa dengan adanya hukum gravitasi, semesta akan tercipta dengan sendirinya dari ketiadaan. Tidak perlu melibatkan Tuhan dalam menciptakan semesta ini. Tuhan sama sekali tidak mengatur segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Orang yang memiliki paham ini akan berpikir bahwa Tuhan sama sekali tidak mengatur apa yang terjadi di alam semesta ini, segalanya tergantung pada kehendak bebas manusia, cenderung tidak mengandalkan Tuhan.

Kedua paham ini tentu saja berbeda dengan paham orang percaya secara alkitabiah. Kita percaya akan kehendak Tuhan karena kehendak Tuhan adalah yang sempurna. Tanpa disadari masih banyak orang Kristen yg percaya akan nasib baik dan nasib buruk. Jika dapat pasangan yang kurang baik maka ia percaya bahwa sudah nasibnya seperti itu. Atau Lahir ke dalam dunia dan menjadi orang gagal, menjadi pencuri, koruptor adalah sudah takdirnya.

Firman Tuhan mengatakan bahwa pencuri datang hanya untuk mencuri dan membinasakan, tetapi Aku datang untuk memberi hidup dan hidup dalam kelimpahan. Itulah kehendak Tuhan yang sempurna atas hidup kita.
Di Negara-negara maju, orang lebih percaya kepada science. Mereka lebih mempercayai teori evolusi daripada kitab kejadian.Mereka tidak percaya kepada Tuhan. Banyak gereja-gereja yang dulunya terjadi kebangunan rohani, sekarang kosong dan menjadi monumen karena tidak ada lagi orang yang datang beribadah. Bahkan di salh satu negara tetangga, banyak anak muda yang menganut pemikiran free thinker atau berfikir bebas. Jika ia percaya tidak ada Tuhan maka Tuhan tidak ada, jika ia berpikir bahwa neraka tidak ada maka neraka tidak ada. Pemikiran yang beranggapan bahwa tidak ada Tuhan, sangatlah berbahaya. Dari pola hidup seseorang sudah dapat ditentukan apakah dia menganut paham freewill ataukah fatalisme. Dengan adanya paham freewill, Banyak orang tidak mau di atur oleh Tuhan, apalagi diatur oleh gereja. Orang dengan paham freewill sering berpikir bahwa Tuhan sudah tidak perduli atau sibuk, sehingga manusia harus berjuang untuk membela kehidupannya. Firman Tuhan mengatakan diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan yang menaruh harapannya pada Tuhan. Sebaliknya terkutuklah orang yang mengandalkan manusia dan kekuatannya.

Tuhan adalah ahli design
Matius 6:27-30 Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?28Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, 29namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. 30Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya?

Tuhan sudah sangat luar biasa mendesain langit dan bumi sehingga menjadi tempat yang indah tetapi banyak orang Kristen tidak percaya bahwa hidupnya diperhatikan oleh Tuhan bahkan didandani Tuhan. Orang Kristen sering kurang percaya meskipun ia pergi ke gereja, baca Alkitab bahkan pelayanan tetapi iman percayanya masih kurang. Kurang percaya akan janji Tuhan dalam kehidupannya. Firman Tuhan katakan bahwa Allahlah yang mendandani kita. Ketika kita pergi ke sebuah salon, kita mempercayakan rambut kita untuk ditata dan dirancang oleh hairstylist. Tidak mungkin kita akan selalu mengomentari apa yang hairstylist lakukan terhadap rambut kita. Sama halnya ketika kita datang kepada seorang perancang busana, kita akan mempercayakan desain busana kepada siperancang tersebut. Tetapi seringkali kita tidak mempercayakan Tuhan atas hidup kita yang adalah perancang agung.Kita adalah hand-made nya Tuhan. Kita ada bukan karena kebetulan atau keadaan tetapi karena kehendak Tuhan. Kita diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Kita diciptakan menurut peta dan rancangan Allah. Supaya kita berkuasa bukan menjadi budak.

Mazmur 139:13-14  Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. 14Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.
Mazmur 139:16-17  mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya. 17Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!

Ada anak yang lahir dengan anggota tubuh tidak lengkap, Itu pun Tuhan rancang agar anak ini punya cerita tentang rancangan Tuhan dalam kehidupannya. Nick Vujicic lahir dengan kondisi tanpa tangan dan tanpa kaki. Jika orang tua Nick saat itu tidak memahami akan rancangan Tuhan dalam hidup Nick maka bisa saja mereka menjadi orang tua yang kecewa tetapi sekarang justru ia dipakai Tuhan dengan luarbiasa. Ia memberitakan firman dimana-mana. Jadi cacat bukanlah masalah besar selama rancangan Tuhan ada dalam kehidupan orang tersebut. Mungkin dari segi ekonomi, pendidikan kita jauh berbeda dengan orang yang belum percaya Tuhan, tetapi di dalam Tuhan hidup kita sudah dirancang kembali menjadi ciptaan-Nya yang luar biasa sampai kepada kekekalan. Rancangan kita hanyalah rancangan selama kita dibumi tetapi rancangan Tuhan adalah rancangan hingga kepada kekekalan.  Meskipun demikian, banyak orang percaya Tuhan tetapi tidak menyerahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan. Banyak orang tidak mau meninggalkan rancangannya. Firman Tuhan katakan bahwa rancanganmu bukanlah rancanganKu dan jalanmu bukanlah jalanKu. Seperti tingginya langit dari bumi demikianlah rancanganKu dari rancanganmu dan jalanKu di atas jalanmu.

Yeremia 29:11  Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Yesaya 49:8  Beginilah firman TUHAN: “Pada waktu Aku berkenan, Aku akan menjawab engkau, dan pada hari Aku menyelamatkan, Aku akan menolong engkau; Aku telah membentuk dan memberi engkau, menjadi perjanjian bagi umat manusia, untuk membangunkan bumi kembali dan untuk membagi-bagikan tanah pusaka yang sudah sunyi sepi,
Yesaya 25:1 Ya TUHAN, Engkaulah Allahku; aku mau meninggikan Engkau, mau menyanyikan syukur bagi nama-Mu; sebab dengan kesetiaan yang teguh Engkau telah melaksanakan rancangan-Mu yang ajaib yang telah ada sejak dahulu.
Efesus 2:10  Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.
Banyak orang seringkali komplain kepada Tuhan atas hal buruk yang menimpa hidup mereka. Tuhan tidak pernah memaksa kita, Ia tidak menyerahkan hidup kita kepada nasib tetapi kepada ketaatan kita dalam melakukan Firman Tuhan. Jika kita mau taat, maka Tuhan akan memakai hidup kita untuk melakukan pekerjaan yang baik.

Ada 3 hal yang Tuhan rancangkan dan kerjakan dalam Yesus bagi hidup kita:

1. Kita dirancang untuk hidup dalam kasih
1 Yohanes 4 :10-12 inilah kasih itu bukan kita yang telah mengasihi Allah tetapi Allah yang mengasihi kita dan yang telah mengutus anakNya sebagai pendamaian atas dosa-dosa kita.
Jika Allah sedemikian mengasihi kita maka kita pun harus saling mengasihi. Tidak seorang pun pernah melihat Allah tetapi jika kita saling mengasihi, maka Allah tetap di dalam kita dan kasihNya sempurna di dalam kita. Orang bisa bicara atau pun berkhotbah tentang kasih tetapi belum tentu orang tersebut hidup dalam kasih karena ia sendiri tidak mengalami kasih Allah dalam hidupnya. Kasih itu sabar, tetapi  jika kita sudah tau akan firman ini tetapi tidak melakukannya maka kita belum hidup dalam kasih. Orang yang hidup dalam kasih, ia memiliki suatu prestasi yang besar.

2. Kita dirancang untuk hidup Kudus
Efesus 1:4-5  Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya,
Kudus bukan berbicara tentang baju yang putih tetapi tentang hati, pikiran dan perbuatan yang kudus. hal ini tidak bisa dilakukan diluar Yesus.
1 Petrus 1:3-4 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan,untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.
1 Petrus 1:15-16  tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu, 16sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.

3. Kita dirancang untuk hidup mulia
Hidup mulia bukanlah mengejar kedudukan dan jabatan. Banyak pemimpin dunia yang dictator atau pun hakim yang  disebut mulia tetapi tidak sesuai dengan perbuatannya.

Wahyu 5:9-10  Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa. 10Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan, dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai raja di bumi.”
Wahyu 4:11  “Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan.”
Roma 8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.
Roma 8:18  Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.
Matius 19:28  Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel

Seringkali kita tidak sadar bahwa kita adalah pejabat yang di pilih Allah untuk Kerajaannya. Kita dipilih untuk memerintah bersama dengan Dia. Seorang raja atau pejabat Allah tidak akan berkata kotor, kelakuannya tidak hina tetapi penuh penghargaan kepada Tuhan. Jadi hiduplah dengan tidak hina dan penuh penghargaan kepada Tuhan.
By : Pdt. Tjahya Djaja Soetrisno S.Th

BEKERJALAH SEBAB AKU INI MENYERTAI KAMU (4)

Hagai 2:5  Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam,

Tuhan tidak pernah tertarik dengan orang yang malas. Hal mendasar yang perlu kita pahami ialah tidak akan ada keberhasilan tanpa bekerja. Secara filosofi orang percaya ada istilah “Ora Et labora” yaitu berdoa dan bekerja. Tidak hanya berdoa saja kemudian berkat kita terima dan bukan hanya bekerja saja tanpa berdoa sehingga kita hanya mengandalkan kekuatan dan segala apa yang ada pada kita, maka kita pun akan gagal.

Iman yang harus kita miliki adalah bagaimana menjalani hidup di dunia karena urusan akhirat sudah beres, kita sudah menerima Yesus secara pribadi dan keselamatan kekal sudah menjadi bagian kita, tetapi iman untuk menjalani hidup sehari-hari yang seringkali tidak dapat kita lakukan dan seringkali menggoyahkan keberadaan kita tentang akhirat. Oleh karenanya kita perlu pemahaman yang benar tentang hidup oleh iman dalam kehidupan sehari-hari.

Kita harus punya kemampuan merubah pengalaman hidup menjadi pengalaman iman. Jika hanya mengandalkan pengalaman hidup saja maka kita akan terjebak dengan mengulangi kegagalan yang sama oleh karena berdasarkan pengalaman dari kekuatan, pikiran dan kehendak sendiri.

Pengalaman iman adalah hasil bergaul dengan Allah. Hal ini tidak bisa di identikkan dengan 6 jam berdoa di kamar. Tetapi pengalaman iman dalam hidup sehari-hari yaitu iman dalam bekerja, dalam beraktifitas dan iman dalam melakukan segala sesuatu. Banyak orang yang nampak rohanitapigagal dalam kehidupan nyata, gagal menyatakan Kristus dalam hidupnya karena pergaulannya hanya di dalam kamar dengan Tuhan, maksudnya ialah imannya tidak digunakan dalam menghadapi realitas hidup. Mereka gugur dalam iman karena tidak dapat menghadapi hal-hal riil dalam hidupnya.

Peristiwa kegagalan Simon dan teman-temannya dalam bekerja keras tidak menghasilkan apa-apa karena tidak disertai Tuhan. Tetapi ketika Tuhan campur tangan dan Simon taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan maka iadan teman-temannya menjadi berhasil bahkan berkelimpahan.

Dalam kitab Kejadian pasal 26 dituliskan tentang penyertaan Tuhan dalam kehidupan Ishak. Dari zaman Abraham, ayah Ishak,sudah sering terjadi kelaparan di negeri Filistin. Dan ketika kembali terjadi kelaparan di negeri itu, Tuhan melarang Ishak pergi ke Mesir dimana di zaman itu bangsa Mesir dikenal dengan persediaan gandum yang cukup. Tuhan justru memerintahkan ia untuk pergi ke Gerar, kepada raja orang Filistin dan menyuruhnya untuk tetap tinggal di negeri itu. Bukan tanpa sebab Tuhan berfirman kepada Ishak dengan melarang ia pergi ke Mesir dan tetap tinggal di negeri orang Filistin. Tetapi Tuhan mempunyai suatu rencana dalam kehidupan Ishak.

Alasan Tuhanberfirman kepada Ishak dan melarang ia pergi ke Mesir:
1. Tuhan sedang berurusan dengan Ishak karena sumpahNya kepada Abraham
Benar ada kelaparan yang hebat terjadi saat itu, tetapi Tuhan berfirman kepada Ishak bukan karena kelaparannya atau masalahnya tetapi karena Tuhan pernah mengikat diri-Nya dengan sumpah kepada Abraham dengan perjanjian turun-temurun, dan Ishak adalah keturunan Abraham.

Sebagai orang percaya, kita sudah ditebus oleh darah Yesus, maka kita pun adalah anak yang dikasihi Tuhan. Oleh karena itu Tuhan mengasihi kita bukan karena persoalan yang ada pada diri kita tetapi karena kita adalah anak-anakNya yang Ia kasihi. Jika kita memahami hal ini, kita akan tahu bagaimana seharusnya kita menghormati Tuhan. Tidak seorang pun mau hidup tertekan dengan masalah-masalah tetapi Tuhan berurusan dengan pribadi-pribadi bukan dengan masalah. Oleh karena itu hubungan pribadi kita dengan Tuhan tidak boleh bermasalah.

Ketika kita mau masuk ke dalam pengalaman iman, kita harus mengerti apa maunya Tuhan. Tetapi mampukah kita tetap tinggal menantikan janji Tuhan digenapi sekalipun dalam situasi ketidakpastian dan ketidakjelasan? Sekalipun perasaan, kehendak dan pikiran menyatu dengan manusia, tetapi iman tidak boleh ditunggangi oleh emosional kita.

Kita adalah turunan ilahi makanya Allah mengasihi  kita. Allah tidak pernah berdusta atau beringkar janji. Ketika kita menghadapi masalah separah/seberat apapun, jangan pernah mengeluarkan kalimat “mengapa hal ini menimpaku Tuhan”  tetapi gantilahkalimat tersebut menjadi “apakah yang Kau kehendaki dalam diriku sehingga hal ini menimpa aku, ya Tuhan”

Tidak banyak umat Tuhan yang dapat berkata demikian, karena secara manusia lebih sering terfokus kepada beban/masalah karena pemahamannya hanya sampai disitu. Oleh karenanya latihlah diri untuk datang kepada Tuhan dengan iman.Serahkan kuatirmu tidak sama dengan serahkan bebanmu, karena yang punya kuatir adalah pribadi manusia. Sehingga pribadi ini yang berurusan dengan Tuhan. Perasaan tidak boleh menguasai diri kita.

2. Ada rancangan khusus Allah bagi Ishak
Maksud dan rencana Tuhan ini tidak mudah dipahami secara akal sehat bagi manusia. Tuhan berfirman kepada Ishak “Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing,maka Aku akan menyertai dan memberkati engkau sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.” Tuhan sendiri punya dasar ketika Ia berfirman kepada Ishak. Mungkin kita berkata bahwa kita bukanlah Ishak sehingga tidak memiliki hak atas janji-janji Allah. Tetapi karena kita adalah orang percaya yang sudah menerima Yesus dalam hidup kita maka kita disebut anak-anak ketebusan Tuhan dan berhak atas janji-janji Allah dalam hidup kita.

Roma 8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya juga kita dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Orang percaya jangan pernah bertanya kepada “dukun-dukun Kristen” tentang janji Allah dalam hidupnya karena semuanya itu sudah ada tertulis dalam alkitab. Oleh karenanya, seringlah membaca alkitab. Sementara kita membaca alkitab, Roh kudus akan menuntun dan meneguhkan firmanNya dalam hidup kita.

Tuhan berurusan dengan oknum diri kita. Ketika kita mendapat masalah dan menghadapi beban yang berat, cari lebih dulu janji Tuhan atas masalah tersebut. Ayat firman Tuhan mana yang berhubungan dengan masalah kita saat itu. Sehingga kita datang kepada Tuhan dengan iman, karena Tuhan mengikat diriNya dengan firmanNya sendiri sehingga kita akan dikuatkan. Jika kita tidak datang pada Tuhan dengan iman maka kita akan datang kepada Tuhan dengan emosional. Hal ini yang sering terjadi kepada umat Tuhan. Oleh karenanya kita harus melatih diri untuk datang kepada Tuhan dengan iman.
Sebagai orang percaya, kita perlu belajar mengenal apa rancangan Allah melalui segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita, karena seringkali perintah Allah sukar dimengerti oleh akal pikiran manusia. Rancangan Allah dala hidup kita dapat kita pahami jika kita memiliki pergaulan yang akrab dengan Allah.

By : Pdt. R.F Martino

BEKERJALAH SEBAB AKU INI MENYERTAI KAMU

Hagai 2:5 “Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam”

Inilah pesan Tuhan tahun ini kepada kita. Bukan hanya sekedar bekerja, namun bekerja keras! Hal ini perlu kita pahami karena banyak pemahaman yang keliru:
– Ada orang percaya yang berpikir cukup berdoa saja tidak perlu bekerja keras karena doa dapat mengubah segala sesuatu. Pemahaman ini menyebabkan banyak orang percaya yang akhirnya mendapatkan hasil yang tak memuaskan. Padahal Tuhan menetapkan kita untuk Berdoa dan Bekerja (Ora et Labora).
– Ada juga orang percaya yang sudah bekerja keras namun ia bertanya-tanya mengapa ia belum mendapatkan hasil? Kita harus memahami bahwa keberhasilan bukan tujuan melainkan proses.

Kita harus berhati-hati terhadap pemahaman yang keliru, karena pemahaman yang keliru menghasilkan sikap yang keliru. Sikap yang keliru menghasilkan tindakan yang keliru.

Lukas 5:1 “Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.”

Jangan pernah kita meremehkan Firman Allah. Apakah setiap kali beribadah kita mencari Firman Allah? Apakah setiap hari hati kita haus dan lapar akan Firman Allah? Ataukah kita tidak haus dan lapar akan Firman?

Gereja ini menyediakan pemuridan yaitu doktrin dasar iman Kristen sebagai dasar yang benar. Saat kita memiliki hati yang lapar dan haus akan Firman, kita harus berhati-hati supaya tidak melahap semua ajaran karena banyak ajaran yang menyesatkan.
– Banyak gereja yang meremehkan dan menghina doktrin dasar dan menganggap pengajaran gerejanya sudah sempurna. Padahal pengajaran tidak boleh menggantikan Firman.
– Ada juga hamba Tuhan yang suka sekali berkata “Tuhan bilang…”. Hal ini berbahaya karena hamba Tuhan tersebut bisa “dijadikan nabi” oleh orang percaya yang belum memahami Firman.
Karena itu penting bagi jemaat di tempat ini untuk mengikuti pemuridan.

Lukas 5:2-3 “Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.”

Yesus memilih memakai perahu Simon. Mengapa perahu Simon yang dipakai? Saat diri kita atau milik kita dipakai Tuhan, pernahkah kita berpikir: Mengapa saya terus yang dipakai? Mengapa milikku terus yang dipakai? Ternyata Yesus memakai perahu Simon karena Yesus tahu bahwa Simon memiliki masalah.

Lukas 5:4 “Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.””

Setelah Yesus menyampaikan Firman, Yesus memberikan perintah untuk dilakukan!

Tuhan tidak menghendaki kita menjadi “Kristen tepi pantai”, karena di tepi pantai tidak ada apa-apa. Tuhan menghendaki kita untuk bertolak ke tempat dalam karena disana ada banyak “ikan” yaitu pengalaman-pengalaman iman. Kita dapat menikmati berbagai hal yang Tuhan sediakan di tempat yang dalam. Jadi kita harus berani untuk bertolak ke tempat yang dalam.

Namun kebanyakan orang Kristen hanya mau berada di tepi pantai. Orang Farisi adalah contoh orang-orang yang hanya merasa cukup memiliki pengetahuan Firman tetapi tidak mau melakukan Firman! Mengapa ada orang-orang Kristen yang tidak berani bertolak ke tempat yang dalam?

Lukas 5:5 “Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, …””

Penghalang terbesar untuk bertolak ke tempat dalam adalah pengalaman hidup. Pengalaman hidup Simon yaitu kegagalannya, menjadi penghalang baginya untuk bertolak ke tempat yang dalam. Karena itu ia berargumen seperti diatas kepada Yesus.

Jangan pernah berpikir bahwa sebagai orang percaya kita tidak akan mengalami kegagalan dan keputusasaan. Karena itu kita harus berhati-hati pada pengajaran hamba-hamba Tuhan saat ini yang bukan memberikan Firman namun hanya suka mensugesti orang. Paulus pun tidak steril dari keputusasaan. Bagi orang dunia, jalan buntu adalah keputusasaan. Namun sebagai orang percaya, jalan buntu adalah kesempatan untuk memperbaiki penyerahan diri kepada Allah.

Untuk itu kita harus memiliki kemampuan untuk mengubah pengalaman hidup menjadi pengalaman iman. Sehingga kita tidak lagi mempertahankan argumen kita namun memilih untuk menaati Firman Tuhan, karena hidup oleh iman adalah hidup melakukan Firman Tuhan.

Lukas 5:5 “Simon menjawab: ….. tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”

Kita mungkin pernah mendengar bahwa “Tuhan bekerja tepat pada waktunya”. Namun apakah kita mengerti: kapankah waktu yang tepat? Banyak orang percaya yang menjadi orang kristen model kebatinan. Mereka berpikir waktu yang tepat adalah suatu hari dan tanggal tertentu, sehingga mereka hanya diam menunggu. Padahal Firman Tuhan mengajarkan bahwa Tuhan bekerja tepat pada waktunya adalah saat kita melakukan Firman Tuhan!

Pergumulan berat untuk melakukan Firman sesungguhnya adalah dari diri kita sendiri. Kitalah yang biasanya justru memperlambat waktu Tuhan untuk bekerja. Karena kita harus bekerja dulu barulah Tuhan akan melakukan bagian-Nya.

Setelah benteng-benteng argumen Simon berguguran dan ada penyerahan dirinya kepada Tuhan untuk melakukan Firman, maka Simon mengalami pengalaman iman disertai Tuhan!

Lukas 5:6-7 “Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.”

Kita melihat bahwa saat Simon taat, ia mengalami pengalaman iman! Karena itu kita harus melatih diri melakukan Firman dalam kehidupan hari-hari.

Dari peristiwa diatas kita memahami bahwa Tuhan memberi lebih dari apa yang kita butuhkan, bahkan lebih dari yang mampu kita tampung. Namun kita harus berhati-hati: Saat Tuhan menjawab ketaatan kita, kita harus mempersiapkan iman dan mental kita saat menerima berkat-berkat. Situasi diberkati ini adalah situasi riskan yang bisa membuat kita hampir tenggelam. Kemapanan adalah awal kejatuhan jika kita tidak cakap dalam menikmati berkat-berkat Tuhan. Banyak orang setelah diberkati menjadi lupa dengan Sang Pemberi Berkat. Kemapanan banyak membuat orang menjadi sombong dan menjadi suka pamer sehingga hal itu akan mencemari dirinya. Padahal berkat-berkat Tuhan seharusnya membawa kita untuk menemukan anugerah Tuhan dan siapa diri kita sebenarnya.

Lukas 5:8 “Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”

Semakin kita rohani, seharusnya kita semakin tahu diri di hadapan Tuhan, menjadi semakin rendah hati. Menyadari bahwa kita adalah orang berdosa yang telah diselamatkan.

Lukas 5:9-10 “Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap, demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon…”

Maukah kita takjub akan kebesaran Tuhan? Saat Simon taat, maka Tuhan memberinya kesempatan untuk takjub akan perbuatan Tuhan, karena Tuhan melakukan lebih dari apa yang ia duga!

Lukas 5:10 “… Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.””

Akhirnya Simon menyadari bahwa berkat yang begitu banyak ia peroleh dari ketaatan, itu belumlah apa-apa. Ada hal yang lebih berharga daripada ikan/berkat yaitu panggilan Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan bukan untuk makanan yang akan binasa namun pekerjaan yang membawa pada hidup yang kekal. Tuhan mau hati kita tidak terpikat dan diambil oleh segala macam hal-hal duniawi dan materi, pula agar hati kita tidak menjadi gudang dari barang-barang yang kita cintai karena semua itu fana. Ada yang lebih dari itu semua yaitu hal-hal yang bernilai rohani.

Apa yang terjadi pada akhirnya?

Lukas 5:11 “Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.”

Setelah Yesus menyampaikan visi Allah kepada Simon, maka Simon meninggalkan semua perahu yang penuh dengan ikan-ikan saat itu juga untuk mengikut Yesus.

Saat ini kita sudah memasuki tahun 2020. Semakin tahun bertambah berarti usia kita semakin bertambah dan begitupun kedatangan Tuhan semakin dekat. Mari membenahi diri karena Tuhan segera datang. Tuhan harus menjadi segalanya dalam hidup kita, dan hati kita harus tertuju kepada perkara-perkara rohani yaitu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Hal ini bukan berarti kita meninggalkan tanggung jawab kita sebagai manusia lahiriah. Namun hati kita tidak boleh terikat dengan segala hal yang duniawi. Tetaplah bekerja, “sebab Aku ini menyertai engkau”, demikianlah firman Tuhan.

By : Pdt. R. F. Martino

BEKERJALAH SEBAB AKU INI MENYERTAI KAMU

Hagai 2:5  Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam,

I Tesalonika 5:23 Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Ada nilai-nilai ilahi dalam Hagai 2:5 yang memotivasi kita untuk menjalani tahun 2020. Sekaligus menjadi prinsip yang Tuhan berikan baik untuk kehidupan lahiriah maupun rohani.

Matius 28:19-20 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Ketika Tuhan memerintahkan murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil, dimulai dengan kata PERGILAH! Tapi gereja membaliknya, harus jadi “sakti” dulu baru bisa keluar untuk memberitakan Injil. Sebagian sekolah alkitab, menyuruh muridnya pergi ke gunung, untuk mendekatkan diri pada Tuhan, kemudian turun gunung supaya bisa menyembuhkan orang sakit, yang buta bisa melihat, bahkan membangkitkan orang mati dan mujizat-mujizat lainnya. Dan ternyata ketika terjun dalam pelayanan, tidak terjadi apa-apa.
Apakah ini tidak terbalik? Sedangkan Tuhan berkata terlebih dulu: “PERGILAH!”

Ternyata hal ini juga melanda dalam aplikasi hidup sehari-hari. Sebuah filosofi hisup berkata: “Dimana ada kemauan disitu ada jalan”. Padahal Tuhan berkata terlebih dahulu: Bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu.
Jadi seharusnya: Bekerjalah! Kemudian Tuhan berkata bahwa kita akan disertai, tapi banyak orang membaliknya.

Dalam Hagai pasal 2, semua orang punya masalah yang sama mengenai pembangunan Bait Suci. Baik bupati, para imam dan semua rakyat. Mereka semua punya masalah dengan kondisi hati mereka. Karena Tuhan berkata: “Kuatkanlah hatimu!”. Ada proyek besar di hadapan mereka yang Tuhan tetapkan untuk dikerjakan dan diselesaikan. Secara akal manusia, pada saat itu tidak ada satu halpun yang dapat menunjang untuk menyelesaikan pembangunan tersebut.

Apa yg dapat kita pelajari dari 3 strata kehidupan baik itu posisi bupati, Imam Besar, rakyat jelata?
Hal ini tidak berbeda dengan kehidupan sehari-hari, bahwa siapapun kita dengan segala keberadaaan kita, sebagai jemaat, pelayan Tuhan, hamba Tuhan, seorang birokrat, atau apapun posisi kita, apakah kita memahami makna dari semua realita yang terjadi dalam kehidupan kita?

Banyak orang percaya tidak bisa menangkap nilai-nilai ilahi dalam setiap realitas kehidupan karena seluruh eksistensi/keberadaannya masih terfokus hanya pada kebutuhan-kebutuhan lahiriah saja. Tidak memperhatikan apa yang menjadi prioritas dalam kehidupannya.
Apakah realitas yang Tuhan hadirkan dalam kehidupan kita, sempat kita mengetahui apa yang Tuhan inginkan dari kita?

Ketiga strata (Bupati, Imam Besar, rakyat jelata) di dalam Hagai pasal 2 menghadapi masalah tentang pembangunan Bait Allah yang terbengkalaikan.

Rakyat Jelata
Bait Allah sudah hancur dan semua pekerjaan terbengkalaikan. Rakyat hanya memikirkan hal-hal lahiriah, yang penting cukup makan dan cukup pakai.

Imam Besar
Imam Besar sama halnya seperti pelayan Tuhan dalam sebuah gereja lokal. Kita harus  melayani dengan tulus dan tidak perlu memakai trik-trik pelayanan, supaya tidak melenceng dari motivasi penggilan. Lakukanlah apa yang menjadi bagian panggilan pelayanan kita.

Bupati
Jika Tuhan memanggil dan mempercayakan kita untuk duduk dalam struktur pemerintahan, kita harus memahami bahwa jabatan adalah kepercayaan yang Tuhan berikan dan itu merupakan pengabdian atau ibadah. Mari menghargai dan melaksanakan dengan baik apa yang Tuhan percayakan. Jika tidak kita akan menjadi orang-orang yang tidak berguna sama seperti garam yang sudah tawar yang tidak ada gunanya dan diinjak-injak orang dan tidak memberikan rasa lagi.

I Tesalonika 5:23 Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.

Pada saat kita mengalami kelahiran kembali (lahir baru) yang diperbaharui adalah roh kita, sedangkan tubuh dan jiwa kita tetap sama.

Terpelihara Sempurna
Siapa yang mengaambil bagian dan  punya tanggung jawab dalam  memeliharanya? Itu sebabnya mengapa Tuhan berkata: “Bekerjalah!”
Ketika kita tidak bekerja untuk jiwani kita, maka jiwa kita akan bermasalah, kita bisa punya mental yang  rusak.
Ketika kita tidak bekerja untuk kebutuhan tubuh kita, maka kita akan sakit bahkan bisa mati karena tidak dipelihara dan tidak diberi makan. Ketika kita tidak bekerja untuk kebutuhan rohani kita, maka kita akan punya rohani yang bermasalah. Ketiga hal ini perlu kita kerjakan dengan baik dan ingatlah bukan hanya menggunakan tenaga tapi menggunakan ongkos (uang). Semua yang melekat pada tubuh kita pasti menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhannya supaya bisa terpelihara dengan baik.

Bagaimana Caranya?
Dengan BEKERJA KERAS
I Korintus 15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.

Bentuk-Bentuk KERJA KERAS
II Korintus 11:27 Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaia,…

Inilah yang dinamakan bekerja keras, jadi kita tidak boleh malas dan selalu beralasan: “Mengalir bersama Tuhan” dan tidak berbuat apa-apa.
Paulus bukan hanya berkata KERJA KERAS tapi juga KERJA BERAT. Yang artinya, jika berat yang diukur dengan timbangan berarti memakai kekuatan fisik tapi jika itu berat dalam persoalan berarti harus pakai kekuatan berpikir yang tentunya dengan cara yang Tuhan berikan.

Tingkat kerja keras bentuknya adalah JERIH LELAH. Apakah sudah bekerja sampai berjerih lelah? Atau hasil yang kita dapatkan dari hasil dengan cara yang tidak benar, misalnya: korupsi, dll. Banyak orang yang sudah memamerkan barang-barang yang sebenarnya belum bisa dimiliki karena tidak sebanding dengan pemasukan.
“Jangan ba aksi sebelum waktunya”. Tapi tidak juga mempermalukan nama Tuhan dengan memakai berpenampilan apa adanya, supaya orang berbelas kasihan
Dimanakah terjadi realitas jerih lelah itu?
Ketika realitas hidup itu hadir dan sangat berat untuk kita hadapi secara fisik, maka disinilah yang namanya pergumulan jerih lelah. Pernahkan Anda melihat orang yang mengangkat barang yang sangat berat? Dia bisa pikul tapi tidak bisa memikulnya dengan lincah berjalan, karena beratnya beban itu. Ia pikul beban yang berat itu, dengan keringat yang bercucuran begitu rupa. Sementara ia memikul beban yang berat ini, maka nafasnya pun terengah-engah. Inilah yang dinamakan pengalaman jerih lelah.

Uji Jerih lelah melalui realitas hidup. Kalau realitas hidup itu belum sampai seperti yang dikatakan dalam II Korintus 11:27 kita belum bisa dikatakan sampai pada pengalaman jerih lelah.
Sama juga dengan yang menyerang jiwa, ketika realitas hidup itu bukan merupakan tekanan-tekanan jiwa, batin, kita belum bisa mengatakan bahwa jiwa kita lelah. Jangan kecewa karena Tuhan akan bawa masuk pada realitas itu.

Mazmur 42: 4 Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?”

Bisakah Saudara menggambarkan, kira-kira realitas apa yang sedang dihapai oleh Daud sehingga air matanya menjadi makanannya setiap hari? Inilah pengalaman jerih lelah tingkat jiwa.

Oleh karena itu supaya jiwa kuat dan mempunyai mentalitas yang teruji maka bukan hanya kebutuhan lahiriah yang diurus tetapi kebutuhan jiwa supaya tetap sehat dan sempurna. Jangan lupa bahwa realitas dalam bentuk apapun punya kemampuan untukmenggoyahkan iman supaya dapat menerobos masuk. Iblis tidak berhak menyentuh roh kita, kecuali kita mempersilahkannya.

Kita senantiasa harus dapat menikmati pengalaman DISERTAI TUHAN.

Roma 16:21 21 Salam kepada kamu dari Timotius, temanku sekerja, dan dari Lukius, Yason dan Sosipater, teman-temanku sebangsa:22 Salam dalam Tuhan kepada kamu dari Tertius, yaitu aku, yang menulis surat ini. 23 Salam kepada kamu dari Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan kepada seluruh jemaat. Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri, dan dari Kwartus, saudara kita.

Roma 16:1-10 1 Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea,
2 supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri. 3 Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.
4 Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi. 5 Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus. 6 Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu. 7 Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku. 8 Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan. 9 Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi. 10 Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus. Salam kepada mereka, yang termasuk isi rumah Aristobulus.

Di atas adalah daftar orang-orang yang bekerja keras.
Jadi Alkitab sudah menetapkan bahwa tidak ada berkat tanpa kerja keras, tidak ada jalan terbuka tanpa kerja keras, tidak ada penyertaan Tuhan tanpa kerja keras dan KERJA KERAS itu adalah JERIH LELAH.

Kalau kita hanya berbicara sampai disini orang-orang rohani yang gagal paham akan menganggap dan berkata: “Dimana kamu memposisikan Tuhan?” Justru kata KERJA KERAS adalah perintah Tuhan, bukan berarti kita meninggalkan Tuhan, malah ada janji bahwa hanya pekerja keras yang disertai Tuhan. Dan jangan lupa Tuhan juga berkata dalam Yohanes 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. Berarti kita yang sudah lahir baru dan menerima Kristus, Kristus itu tinggal dalam kita dan menyertai kita. Ada sumber daya alamiah yang Tuhan yang tidak terbatas yang Tuhan berikan pada kita.

Yang bahaya adalah ketika kita bekerja tapi Tuhan tidak menretai kita. Contoh kasus pada Raja Saul, ketika Raja Saul melanggar perintah Tuhan, Tuhan menolaknya dan mengurapi Daud. Daud belum menjadi raja, masih tetap Saul, tapi pada saat itu Roh Allah sudah undur daripada Saul.

Efesus 4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.

Jangan mendukakan Roh Kudus supaya kitatidak kehilangan peranannya dalam menyertai kita.
Daud juga pernah jatuh dalam dosa, tapi Daud berkata bahwa semua boleh diambil dari padanya, tapi dia tidak ingin Roh Kudus diambil dari dalam dirinya.

Penyertaan Tuhan sebenarnya tidak perlu lagi diundang, kita sudah terima Yesus dan Yesus ada dalam diri kita. Nah, kalau penyertaan ini ada, mengapa tidak ada aksi dalam diri kita? Mengapa justru semakin rohani semakin kita menghindari kerja keras/kerja berat?

Begitu kita bergerak, kita akan melihat bagian Tuhan, dan penyertaan-Nya akan dinyatakan. Dengan pertolongan Roh Kudus, itu yang akan menolong kita melakukan perintah Tuhan. Tidak ada pelanggaran, tapi ketaatan. Karena iman bukan hanya sekedar terjwabnya sebuah doa, tapi iman adalah ketaatan tanpa syarat.
By : Pdt. R.F. Martino