BEKERJALAH SEBAB AKU INI MENYERTAI KAMU
Hagai 2:5 Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam,
I Tesalonika 5:23 Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.
Ada nilai-nilai ilahi dalam Hagai 2:5 yang memotivasi kita untuk menjalani tahun 2020. Sekaligus menjadi prinsip yang Tuhan berikan baik untuk kehidupan lahiriah maupun rohani.
Matius 28:19-20 19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20 dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
Ketika Tuhan memerintahkan murid-murid-Nya untuk memberitakan Injil, dimulai dengan kata PERGILAH! Tapi gereja membaliknya, harus jadi “sakti” dulu baru bisa keluar untuk memberitakan Injil. Sebagian sekolah alkitab, menyuruh muridnya pergi ke gunung, untuk mendekatkan diri pada Tuhan, kemudian turun gunung supaya bisa menyembuhkan orang sakit, yang buta bisa melihat, bahkan membangkitkan orang mati dan mujizat-mujizat lainnya. Dan ternyata ketika terjun dalam pelayanan, tidak terjadi apa-apa.
Apakah ini tidak terbalik? Sedangkan Tuhan berkata terlebih dulu: “PERGILAH!”
Ternyata hal ini juga melanda dalam aplikasi hidup sehari-hari. Sebuah filosofi hisup berkata: “Dimana ada kemauan disitu ada jalan”. Padahal Tuhan berkata terlebih dahulu: Bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu.
Jadi seharusnya: Bekerjalah! Kemudian Tuhan berkata bahwa kita akan disertai, tapi banyak orang membaliknya.
Dalam Hagai pasal 2, semua orang punya masalah yang sama mengenai pembangunan Bait Suci. Baik bupati, para imam dan semua rakyat. Mereka semua punya masalah dengan kondisi hati mereka. Karena Tuhan berkata: “Kuatkanlah hatimu!”. Ada proyek besar di hadapan mereka yang Tuhan tetapkan untuk dikerjakan dan diselesaikan. Secara akal manusia, pada saat itu tidak ada satu halpun yang dapat menunjang untuk menyelesaikan pembangunan tersebut.
Apa yg dapat kita pelajari dari 3 strata kehidupan baik itu posisi bupati, Imam Besar, rakyat jelata?
Hal ini tidak berbeda dengan kehidupan sehari-hari, bahwa siapapun kita dengan segala keberadaaan kita, sebagai jemaat, pelayan Tuhan, hamba Tuhan, seorang birokrat, atau apapun posisi kita, apakah kita memahami makna dari semua realita yang terjadi dalam kehidupan kita?
Banyak orang percaya tidak bisa menangkap nilai-nilai ilahi dalam setiap realitas kehidupan karena seluruh eksistensi/keberadaannya masih terfokus hanya pada kebutuhan-kebutuhan lahiriah saja. Tidak memperhatikan apa yang menjadi prioritas dalam kehidupannya.
Apakah realitas yang Tuhan hadirkan dalam kehidupan kita, sempat kita mengetahui apa yang Tuhan inginkan dari kita?
Ketiga strata (Bupati, Imam Besar, rakyat jelata) di dalam Hagai pasal 2 menghadapi masalah tentang pembangunan Bait Allah yang terbengkalaikan.
Rakyat Jelata
Bait Allah sudah hancur dan semua pekerjaan terbengkalaikan. Rakyat hanya memikirkan hal-hal lahiriah, yang penting cukup makan dan cukup pakai.
Imam Besar
Imam Besar sama halnya seperti pelayan Tuhan dalam sebuah gereja lokal. Kita harus melayani dengan tulus dan tidak perlu memakai trik-trik pelayanan, supaya tidak melenceng dari motivasi penggilan. Lakukanlah apa yang menjadi bagian panggilan pelayanan kita.
Bupati
Jika Tuhan memanggil dan mempercayakan kita untuk duduk dalam struktur pemerintahan, kita harus memahami bahwa jabatan adalah kepercayaan yang Tuhan berikan dan itu merupakan pengabdian atau ibadah. Mari menghargai dan melaksanakan dengan baik apa yang Tuhan percayakan. Jika tidak kita akan menjadi orang-orang yang tidak berguna sama seperti garam yang sudah tawar yang tidak ada gunanya dan diinjak-injak orang dan tidak memberikan rasa lagi.
I Tesalonika 5:23 Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.
Pada saat kita mengalami kelahiran kembali (lahir baru) yang diperbaharui adalah roh kita, sedangkan tubuh dan jiwa kita tetap sama.
Terpelihara Sempurna
Siapa yang mengaambil bagian dan punya tanggung jawab dalam memeliharanya? Itu sebabnya mengapa Tuhan berkata: “Bekerjalah!”
Ketika kita tidak bekerja untuk jiwani kita, maka jiwa kita akan bermasalah, kita bisa punya mental yang rusak.
Ketika kita tidak bekerja untuk kebutuhan tubuh kita, maka kita akan sakit bahkan bisa mati karena tidak dipelihara dan tidak diberi makan. Ketika kita tidak bekerja untuk kebutuhan rohani kita, maka kita akan punya rohani yang bermasalah. Ketiga hal ini perlu kita kerjakan dengan baik dan ingatlah bukan hanya menggunakan tenaga tapi menggunakan ongkos (uang). Semua yang melekat pada tubuh kita pasti menggunakan uang untuk memenuhi kebutuhannya supaya bisa terpelihara dengan baik.
Bagaimana Caranya?
Dengan BEKERJA KERAS
I Korintus 15:10 Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.
Bentuk-Bentuk KERJA KERAS
II Korintus 11:27 Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaia,…
Inilah yang dinamakan bekerja keras, jadi kita tidak boleh malas dan selalu beralasan: “Mengalir bersama Tuhan” dan tidak berbuat apa-apa.
Paulus bukan hanya berkata KERJA KERAS tapi juga KERJA BERAT. Yang artinya, jika berat yang diukur dengan timbangan berarti memakai kekuatan fisik tapi jika itu berat dalam persoalan berarti harus pakai kekuatan berpikir yang tentunya dengan cara yang Tuhan berikan.
Tingkat kerja keras bentuknya adalah JERIH LELAH. Apakah sudah bekerja sampai berjerih lelah? Atau hasil yang kita dapatkan dari hasil dengan cara yang tidak benar, misalnya: korupsi, dll. Banyak orang yang sudah memamerkan barang-barang yang sebenarnya belum bisa dimiliki karena tidak sebanding dengan pemasukan.
“Jangan ba aksi sebelum waktunya”. Tapi tidak juga mempermalukan nama Tuhan dengan memakai berpenampilan apa adanya, supaya orang berbelas kasihan
Dimanakah terjadi realitas jerih lelah itu?
Ketika realitas hidup itu hadir dan sangat berat untuk kita hadapi secara fisik, maka disinilah yang namanya pergumulan jerih lelah. Pernahkan Anda melihat orang yang mengangkat barang yang sangat berat? Dia bisa pikul tapi tidak bisa memikulnya dengan lincah berjalan, karena beratnya beban itu. Ia pikul beban yang berat itu, dengan keringat yang bercucuran begitu rupa. Sementara ia memikul beban yang berat ini, maka nafasnya pun terengah-engah. Inilah yang dinamakan pengalaman jerih lelah.
Uji Jerih lelah melalui realitas hidup. Kalau realitas hidup itu belum sampai seperti yang dikatakan dalam II Korintus 11:27 kita belum bisa dikatakan sampai pada pengalaman jerih lelah.
Sama juga dengan yang menyerang jiwa, ketika realitas hidup itu bukan merupakan tekanan-tekanan jiwa, batin, kita belum bisa mengatakan bahwa jiwa kita lelah. Jangan kecewa karena Tuhan akan bawa masuk pada realitas itu.
Mazmur 42: 4 Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?”
Bisakah Saudara menggambarkan, kira-kira realitas apa yang sedang dihapai oleh Daud sehingga air matanya menjadi makanannya setiap hari? Inilah pengalaman jerih lelah tingkat jiwa.
Oleh karena itu supaya jiwa kuat dan mempunyai mentalitas yang teruji maka bukan hanya kebutuhan lahiriah yang diurus tetapi kebutuhan jiwa supaya tetap sehat dan sempurna. Jangan lupa bahwa realitas dalam bentuk apapun punya kemampuan untukmenggoyahkan iman supaya dapat menerobos masuk. Iblis tidak berhak menyentuh roh kita, kecuali kita mempersilahkannya.
Kita senantiasa harus dapat menikmati pengalaman DISERTAI TUHAN.
Roma 16:21 21 Salam kepada kamu dari Timotius, temanku sekerja, dan dari Lukius, Yason dan Sosipater, teman-temanku sebangsa:22 Salam dalam Tuhan kepada kamu dari Tertius, yaitu aku, yang menulis surat ini. 23 Salam kepada kamu dari Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan kepada seluruh jemaat. Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri, dan dari Kwartus, saudara kita.
Roma 16:1-10 1 Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea,
2 supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri. 3 Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.
4 Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi. 5 Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus. 6 Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu. 7 Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku. 8 Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan. 9 Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi. 10 Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus. Salam kepada mereka, yang termasuk isi rumah Aristobulus.
Di atas adalah daftar orang-orang yang bekerja keras.
Jadi Alkitab sudah menetapkan bahwa tidak ada berkat tanpa kerja keras, tidak ada jalan terbuka tanpa kerja keras, tidak ada penyertaan Tuhan tanpa kerja keras dan KERJA KERAS itu adalah JERIH LELAH.
Kalau kita hanya berbicara sampai disini orang-orang rohani yang gagal paham akan menganggap dan berkata: “Dimana kamu memposisikan Tuhan?” Justru kata KERJA KERAS adalah perintah Tuhan, bukan berarti kita meninggalkan Tuhan, malah ada janji bahwa hanya pekerja keras yang disertai Tuhan. Dan jangan lupa Tuhan juga berkata dalam Yohanes 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya. Berarti kita yang sudah lahir baru dan menerima Kristus, Kristus itu tinggal dalam kita dan menyertai kita. Ada sumber daya alamiah yang Tuhan yang tidak terbatas yang Tuhan berikan pada kita.
Yang bahaya adalah ketika kita bekerja tapi Tuhan tidak menretai kita. Contoh kasus pada Raja Saul, ketika Raja Saul melanggar perintah Tuhan, Tuhan menolaknya dan mengurapi Daud. Daud belum menjadi raja, masih tetap Saul, tapi pada saat itu Roh Allah sudah undur daripada Saul.
Efesus 4:30 Dan janganlah kamu mendukakan Roh Kudus Allah, yang telah memeteraikan kamu menjelang hari penyelamatan.
Jangan mendukakan Roh Kudus supaya kitatidak kehilangan peranannya dalam menyertai kita.
Daud juga pernah jatuh dalam dosa, tapi Daud berkata bahwa semua boleh diambil dari padanya, tapi dia tidak ingin Roh Kudus diambil dari dalam dirinya.
Penyertaan Tuhan sebenarnya tidak perlu lagi diundang, kita sudah terima Yesus dan Yesus ada dalam diri kita. Nah, kalau penyertaan ini ada, mengapa tidak ada aksi dalam diri kita? Mengapa justru semakin rohani semakin kita menghindari kerja keras/kerja berat?
Begitu kita bergerak, kita akan melihat bagian Tuhan, dan penyertaan-Nya akan dinyatakan. Dengan pertolongan Roh Kudus, itu yang akan menolong kita melakukan perintah Tuhan. Tidak ada pelanggaran, tapi ketaatan. Karena iman bukan hanya sekedar terjwabnya sebuah doa, tapi iman adalah ketaatan tanpa syarat.
By : Pdt. R.F. Martino










Leave a Reply