Daily Archives: 12/01/2020
BEKERJALAH SEBAB AKU INI MENYERTAI KAMU
Hagai 2:5 “Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam”
Inilah pesan Tuhan tahun ini kepada kita. Bukan hanya sekedar bekerja, namun bekerja keras! Hal ini perlu kita pahami karena banyak pemahaman yang keliru:
– Ada orang percaya yang berpikir cukup berdoa saja tidak perlu bekerja keras karena doa dapat mengubah segala sesuatu. Pemahaman ini menyebabkan banyak orang percaya yang akhirnya mendapatkan hasil yang tak memuaskan. Padahal Tuhan menetapkan kita untuk Berdoa dan Bekerja (Ora et Labora).
– Ada juga orang percaya yang sudah bekerja keras namun ia bertanya-tanya mengapa ia belum mendapatkan hasil? Kita harus memahami bahwa keberhasilan bukan tujuan melainkan proses.
Kita harus berhati-hati terhadap pemahaman yang keliru, karena pemahaman yang keliru menghasilkan sikap yang keliru. Sikap yang keliru menghasilkan tindakan yang keliru.
Lukas 5:1 “Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah.”
Jangan pernah kita meremehkan Firman Allah. Apakah setiap kali beribadah kita mencari Firman Allah? Apakah setiap hari hati kita haus dan lapar akan Firman Allah? Ataukah kita tidak haus dan lapar akan Firman?
Gereja ini menyediakan pemuridan yaitu doktrin dasar iman Kristen sebagai dasar yang benar. Saat kita memiliki hati yang lapar dan haus akan Firman, kita harus berhati-hati supaya tidak melahap semua ajaran karena banyak ajaran yang menyesatkan.
– Banyak gereja yang meremehkan dan menghina doktrin dasar dan menganggap pengajaran gerejanya sudah sempurna. Padahal pengajaran tidak boleh menggantikan Firman.
– Ada juga hamba Tuhan yang suka sekali berkata “Tuhan bilang…”. Hal ini berbahaya karena hamba Tuhan tersebut bisa “dijadikan nabi” oleh orang percaya yang belum memahami Firman.
Karena itu penting bagi jemaat di tempat ini untuk mengikuti pemuridan.
Lukas 5:2-3 “Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.”
Yesus memilih memakai perahu Simon. Mengapa perahu Simon yang dipakai? Saat diri kita atau milik kita dipakai Tuhan, pernahkah kita berpikir: Mengapa saya terus yang dipakai? Mengapa milikku terus yang dipakai? Ternyata Yesus memakai perahu Simon karena Yesus tahu bahwa Simon memiliki masalah.
Lukas 5:4 “Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.””
Setelah Yesus menyampaikan Firman, Yesus memberikan perintah untuk dilakukan!
Tuhan tidak menghendaki kita menjadi “Kristen tepi pantai”, karena di tepi pantai tidak ada apa-apa. Tuhan menghendaki kita untuk bertolak ke tempat dalam karena disana ada banyak “ikan” yaitu pengalaman-pengalaman iman. Kita dapat menikmati berbagai hal yang Tuhan sediakan di tempat yang dalam. Jadi kita harus berani untuk bertolak ke tempat yang dalam.
Namun kebanyakan orang Kristen hanya mau berada di tepi pantai. Orang Farisi adalah contoh orang-orang yang hanya merasa cukup memiliki pengetahuan Firman tetapi tidak mau melakukan Firman! Mengapa ada orang-orang Kristen yang tidak berani bertolak ke tempat yang dalam?
Lukas 5:5 “Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, …””
Penghalang terbesar untuk bertolak ke tempat dalam adalah pengalaman hidup. Pengalaman hidup Simon yaitu kegagalannya, menjadi penghalang baginya untuk bertolak ke tempat yang dalam. Karena itu ia berargumen seperti diatas kepada Yesus.
Jangan pernah berpikir bahwa sebagai orang percaya kita tidak akan mengalami kegagalan dan keputusasaan. Karena itu kita harus berhati-hati pada pengajaran hamba-hamba Tuhan saat ini yang bukan memberikan Firman namun hanya suka mensugesti orang. Paulus pun tidak steril dari keputusasaan. Bagi orang dunia, jalan buntu adalah keputusasaan. Namun sebagai orang percaya, jalan buntu adalah kesempatan untuk memperbaiki penyerahan diri kepada Allah.
Untuk itu kita harus memiliki kemampuan untuk mengubah pengalaman hidup menjadi pengalaman iman. Sehingga kita tidak lagi mempertahankan argumen kita namun memilih untuk menaati Firman Tuhan, karena hidup oleh iman adalah hidup melakukan Firman Tuhan.
Lukas 5:5 “Simon menjawab: ….. tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.”
Kita mungkin pernah mendengar bahwa “Tuhan bekerja tepat pada waktunya”. Namun apakah kita mengerti: kapankah waktu yang tepat? Banyak orang percaya yang menjadi orang kristen model kebatinan. Mereka berpikir waktu yang tepat adalah suatu hari dan tanggal tertentu, sehingga mereka hanya diam menunggu. Padahal Firman Tuhan mengajarkan bahwa Tuhan bekerja tepat pada waktunya adalah saat kita melakukan Firman Tuhan!
Pergumulan berat untuk melakukan Firman sesungguhnya adalah dari diri kita sendiri. Kitalah yang biasanya justru memperlambat waktu Tuhan untuk bekerja. Karena kita harus bekerja dulu barulah Tuhan akan melakukan bagian-Nya.
Setelah benteng-benteng argumen Simon berguguran dan ada penyerahan dirinya kepada Tuhan untuk melakukan Firman, maka Simon mengalami pengalaman iman disertai Tuhan!
Lukas 5:6-7 “Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam.”
Kita melihat bahwa saat Simon taat, ia mengalami pengalaman iman! Karena itu kita harus melatih diri melakukan Firman dalam kehidupan hari-hari.
Dari peristiwa diatas kita memahami bahwa Tuhan memberi lebih dari apa yang kita butuhkan, bahkan lebih dari yang mampu kita tampung. Namun kita harus berhati-hati: Saat Tuhan menjawab ketaatan kita, kita harus mempersiapkan iman dan mental kita saat menerima berkat-berkat. Situasi diberkati ini adalah situasi riskan yang bisa membuat kita hampir tenggelam. Kemapanan adalah awal kejatuhan jika kita tidak cakap dalam menikmati berkat-berkat Tuhan. Banyak orang setelah diberkati menjadi lupa dengan Sang Pemberi Berkat. Kemapanan banyak membuat orang menjadi sombong dan menjadi suka pamer sehingga hal itu akan mencemari dirinya. Padahal berkat-berkat Tuhan seharusnya membawa kita untuk menemukan anugerah Tuhan dan siapa diri kita sebenarnya.
Lukas 5:8 “Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”
Semakin kita rohani, seharusnya kita semakin tahu diri di hadapan Tuhan, menjadi semakin rendah hati. Menyadari bahwa kita adalah orang berdosa yang telah diselamatkan.
Lukas 5:9-10 “Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap, demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon…”
Maukah kita takjub akan kebesaran Tuhan? Saat Simon taat, maka Tuhan memberinya kesempatan untuk takjub akan perbuatan Tuhan, karena Tuhan melakukan lebih dari apa yang ia duga!
Lukas 5:10 “… Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.””
Akhirnya Simon menyadari bahwa berkat yang begitu banyak ia peroleh dari ketaatan, itu belumlah apa-apa. Ada hal yang lebih berharga daripada ikan/berkat yaitu panggilan Tuhan untuk mengerjakan pekerjaan bukan untuk makanan yang akan binasa namun pekerjaan yang membawa pada hidup yang kekal. Tuhan mau hati kita tidak terpikat dan diambil oleh segala macam hal-hal duniawi dan materi, pula agar hati kita tidak menjadi gudang dari barang-barang yang kita cintai karena semua itu fana. Ada yang lebih dari itu semua yaitu hal-hal yang bernilai rohani.
Apa yang terjadi pada akhirnya?
Lukas 5:11 “Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.”
Setelah Yesus menyampaikan visi Allah kepada Simon, maka Simon meninggalkan semua perahu yang penuh dengan ikan-ikan saat itu juga untuk mengikut Yesus.
Saat ini kita sudah memasuki tahun 2020. Semakin tahun bertambah berarti usia kita semakin bertambah dan begitupun kedatangan Tuhan semakin dekat. Mari membenahi diri karena Tuhan segera datang. Tuhan harus menjadi segalanya dalam hidup kita, dan hati kita harus tertuju kepada perkara-perkara rohani yaitu kerajaan Allah dan kebenaran-Nya. Hal ini bukan berarti kita meninggalkan tanggung jawab kita sebagai manusia lahiriah. Namun hati kita tidak boleh terikat dengan segala hal yang duniawi. Tetaplah bekerja, “sebab Aku ini menyertai engkau”, demikianlah firman Tuhan.
By : Pdt. R. F. Martino













