This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Monthly Archives: February 2020

MENJADI GEMBALA YANG BAIK

Yohanes 10:1-10 1 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya siapa yang masuk ke dalam kandang domba dengan tidak melalui pintu, tetapi dengan memanjat tembok, ia adalah seorang pencuri dan seorang perampok; 2 tetapi siapa yang masuk melalui pintu, ia adalah gembala domba. 3 Untuk dia penjaga membuka pintu dan domba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya ke luar. 4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. 5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.” 6 Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka, tetapi mereka tidak mengerti apa maksudnya Ia berkata demikian kepada mereka. 7 Maka kata Yesus sekali lagi: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Akulah pintu ke domba-domba itu. 8 Semua orang yang datang sebelum Aku, adalah pencuri dan perampok, dan domba-domba itu tidak mendengarkan mereka. 9 Akulah pintu; barangsiapa masuk melalui Aku, ia akan selamat dan ia akan masuk dan keluar dan menemukan padang rumput. 10 Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan.

Kita disebut domba kalau kita sudah lahir baru. Domba-domba yang ada dalam kandang Tuhan Yesus hanyalah orang-orang yang melewati pintu yaitu yang sudah mengalami Yesus dalam hidupnya. Yohanes 3:16 (TB) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Kita boleh masuk dalam bilangan domba-domba yang ada dalam pemeliharan-Nya ketika kita telah memiliki Yesus

Yohanes 3:16 Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.

Diperikop ini Tuhan Yesus menyatakan bahwa Akulah Pintu. Ketahuilah orang-orang yang masih diluar kandang tidak dipelihara oleh Tuhan, yang dipelihara dan diproteksi hanyalah orang-orang yang sudah masuk dalam kandang. Kalau kita masih merasa jauh dari Tuhan, kita harus bertanya apakah kita sudah masuk dalam kandang yang pintunya adalah Yesus. Yang harus ditekankan adalah apakah kita sudah jadi domba Tuhan Yesus atau belum? Sudah dalam kandang-Nya Yesus atau belum?

Kita tahu bahwa diluar kandang kondisinya sangat membahayakan. Ada serigala, yang akan menerkam dan memangsa domba-domba itu. Ada saatnya dimana dikatakan domba-domba itu tidak selalu di dalam kandang, ada jam-jam dimana mereka dibawa keluar dibawa kepadang rumput yang hijau untuk diberi makan. Dibawa ke rumput yang hijau bukan berarti dibawa lalu ditinggalkan.

Kita mengambil satu contoh dari Raja Daud. Sebelum ia menjadi raja ia dipercayakan oleh orangtuanya untuk mengembalakan 2, 3 ekor kambing domba. Dalam Mazmur Daud mengatakan, ketika ada serigala mau menerkam domba-dombanya, Ia segera lari dan memukul binatang buas itu, mengusir serigala dan mengalami kemenangan.
Walaupun hanya 2, 3 ekor, tetapi Daud bertanggungjawab penuh menjaganya.

Kalau Saudara betul-betul menjadi domba dari Yesus Kristus dan resmi menjadikan Yesus gembala dalam hidup, Saudara pasti aman. Yang penting Saudara ikut saja kemana Tuhan membawa Saudara dalam jalan Tuhan.

Dalam Yohanes 10:3 ciri dari domba Tuhan adalah dia bisa mengenal suara gembalanya. Gembala yang Agung adalah Tuhan Yesus.

Kita tidak lagi membahas tentang keselamatan dunia akhirat. Pembahasam kita adalah bagaimana kita bisa selamat dari kejahatan dalam dunia ini.
Banyak hal-hal yang mengerikan dalam dunia saat ini, kejahatan dimana-mana. Ketika kita menjadikan diri kita sendiri menjadi domba yang taat pada Tuhan Yesus, pasti kita selamat.

Dalam Yohan 10:4 dikatakan bahwa jika semua dombanya telah dibawanya keluar, ia berjalan didepan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya.

Bagaimana cara mendengarkan suara Tuhan? Bacalah Alkitab, karena Alkitab itu adalah suara Tuhan/perkataan Tuhan.
Kalau kita sungguh-sungguh mendengar dan melakukan apa yang Tuhan katakan, Saudara pasti selamat dari samua kejahatan dalam dunia ini.

Tidak kebetulan bahwa kita sebagai umat Tuhan digambarkan seperti domba, bukannya kambing, sapi atau atau yang lainnya. Domba memiliki spesifikasi khusus, domba umumnya adalah binatang penurut. Seperti dikatakan Tuhan Yesus bahwa gembala selalu berjalan didepan domba-dombanyanya, dan domba-dombanya mengikuti dia.

Di New Zealand terdapat lebih banyak domba-domba daripada manusia. Di perternakan, domba-domba itu ada gembala yang menjaganya. Gembala-gembala itu memberikan kode-kode panggilan untuk dombanya, sehingga domba itu mendengarkannya. Suatu saat seorang turis yang menirukan cara memanggil domba-domba itu dengan kode-kode yang sudah diajarkan oleh gembala aslinya, bahkan sudah memakai jaket dari gembala asli domba-domba itu, tapi domba-domba itu tidak bergeming dan tetap memakan rumputnya. Ketika ada gembala palsu, domba-domba itu dapat mengetahui perbedaan suaranya .

Jadi dalam hal ini apa yang bisa kita pelajari untuk jadi dombanya Tuhan supaya kita tidak tersesat yaitu tidak jauh dari Tuhan, kita harus dengar suara-Nya, kita membaca Alkitab, kita harus tau apa maunya Tuhan, apa perintah Tuhan, kita harus turuti dan taati, kita pasti selamat.

Yang perlu menjadi perhatian seperti yang Tuhan Yesus katakan, bahwa ada orang-orang yang masuk tidak melalui pintu, atau orang-orang yang menyusup kedalam kandang domba. Dipastikan ia adalah orang yang jahat yang menginginkan domba-domba itu untuk dibunuh. Tuhan memperingati ada banyak penyesat-penyesat, bahkan orang yang mengaku rohani sekalipun.

Setelah mendengar diseminar-seminar tentang bahaya LGBT (Lesbian, Gay, Transgender, Biseksual), ada banyak anak Tuhan yang terlalu lugu/naif tidak tau apa-apa yang terjadi didalam dunia ini. Seorang kepala sekolah yang sekolahnya kami adakan kegiatan seminar LGBT, tidak mengetahu apa itu LGBT, saya berpikir bagaimana ia bisa menjaga dan melindungi murid-muridnya dari bahaya LGBT sedangkan LGBT itu sendiri dia tidak ketahui.
Banyak sekolah-sekolah yang saat ini sudah kebobolan dengan narkoba, pornografi, free sex, bahkan bertambah lagi dengan LGBT.

Yang namanya gembala itu bukan hanya seorang pendeta. Gembala itu menunjukan orang yang punya satu posisi dalam memimpin yang bukan hanya di dunia gereja, tetapi di dunia luar juga. Seperti kepala sekolah Kristen, guru kristen, itu juga adalah gembala bagi domba-dombanya. Dikelompok sel juga disebutkan kita sebagai gembala sel. Gembala sel juga harus melindungi anggota kelompok sel dari serangan-serangan penyesat. Guru Sekolah Minggu juga adalah gembala, yang harus bertanggungjawab menjaga murid-murid Sekolah Minggunya dari penyesat.
Sebagai pemimpin dalam usaha, kita juga adalah gembal-gembala bagi karyawan yanga da di bawah kita.

Tuhan Yesus Kristus adalah Gembala Agung kita, Gembala yang sangat memperhatikan dan menyelematkan domba-dombanya. Tujuan akhir kita adalah menjadi serupa dengan Kristus. Kitapun harus menjadi gembala-gembala yang baik bagi orang-orang yang kita pimpin.

By : Pdt. Mediati Setiawan

MENGIKAT IMAN DENGAN JANJI ALLAH (2)

Ibrani 6:13-17 13 Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, 14 kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” 15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. 16 Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan. 17 Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah,

Sumpah dilakukan ketika ada ketidakpercayaan antara kedua belah pihak. Tuhan sangat memahami manusia dalam kemanusiaannya baik secara psikis maupun iman dimana manusia sangat sulit untuk diyakinkan, sehingga Tuhan memakai salah satu cara yang bisa dipahami oleh manusia yaitu dengan bersumpah sehingga ketidakpercayaan tidak lagi menggerogoti umat-Nya karena itu adalah bagian dari dosa.

Setiap orang yang sudah mengucapkan sumpah maka ia sudah mengikat dirinya. Allah yang maha mulia, maha kuasa mengikat diri-Nya dengan sumpah hanya untuk membuat umat-Nya memiliki keyakinan akan janji-Nya, meskipun janji Allah sebenarnya tidak perlu dipersoalkan lag karena pasti akan ditepati, justru yangmenjadi persoalan adalah pribadi kita sebagai penerima janji Allah.

Ishak menerima dan menikmati janji Allah tidak dengan sendirinya. Ia mengikat imannya dengan janji Allah melalui ketaatan atas apa yang Tuhan perintahkan atas peristiwa yang sedang ia alami.

Sebagai orang percaya, Tuhan sudah menyediakan jawaban untuk setiap realita hidup yang kita hadapi. Ada jawaban Tuhan yang langsung diberikan dan ada yang tidak, tetapi isinya adalah janji Tuhan seperti yang diberikan kepada Ishak.

Jawaban Tuhan atas masalah kekeringan yang melanda tempat Ishak tinggal ialah perintah untuk ia tetap tinggal dan mengerjakan tanah itu. Untuk dapat memahami perintah atau pun janji Tuhan ini, dibutuhkan iman. Jawaban Tuhan yang bersifat janji masih belum nyata dan terlaksana tetapi butuh waktu, dan tidak tahu kapan akan digenapi.

Bentuk jawaban seperti ini, membutuhkan latihan kita untuk belajar mengikat iman kita dengan janji Allah. Jika tidak, maka kita tidak akan sabar menunggu janji Allah digenapi. Sesuatu yang berasal dari Tuhan, diletakkan dengan sangat kuat di dalam hati kita dan ini bukan hanya suatu perasaan maupun emosi. Dengan kita terlatih menggunakan iman, maka kita akan mengerti apakah ini dari Tuhan atau bukan.

Roma 14:23 Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.

Hal ini dituntut kepada orang yang sudah percaya dimana ada tertulis orang benar akan hidup oleh iman. Tidak boleh ada orang yang sudah lahir baru tetapi tidak memfungsikan imannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu taat terhadap firman Allah; gaya hidup maupun pola hidup harus berdasarkan iman, jadi bukan iman dihadirkan untuk memperoleh sesuatu dari Tuhan.

Tuhan memanggil Abraham dari rumahnya dan dari kaum keluarganya, ke tanah perjanjian dan Tuhan menjanjikan keturunan Abraham akan seperti bintang dilangit, tetapi realitanya adalah Sara dan Abraham telah lanjut usia dan sudah sangat tua.

Roma 4:18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.”

Tidak ada dasar bagi Abraham untuk berharap karena ia sudah mati pucuk demikian juga Sara karena rahimnya sudah tidak dapat melahirkan anak. Namun Abraham berharap dan percaya juga terhadap janji Tuhan. Dalam kondisi seperti ini, mereka masih tetap menunggu janji Tuhan.
Ada saatnya Tuhan menghadapkan kita kepada realita putus asa, untuk membantu kita memindahkan kepercayaan kita hanya kepada Allah. Bagi orang dunia, putus asa adalah jalan buntu karena tidak adalagi pengharapan baginya tetapi bagi orang percaya itu merupakan jalan terbaik untuk ia memperbaiki diri agar tidak menaruh pengharapannya kepada manusia sehingga kita tidak perlu terpuruk ketika berada dalam kondisi seperti ini. Apapun realita hidup yang sedang kita hadapi, jangan pernah menaruh pengharapan kita kepada manusia.

Roma 4:18-19 18 Sebab sekalipun tidak ada dasar untuk berharap, namun Abraham berharap juga dan percaya, bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa, menurut yang telah difirmankan: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” 19Imannya tidak menjadi lemah, walaupun ia mengetahui, bahwa tubuhnya sudah sangat lemah, karena usianya telah kira-kira seratus tahun, dan bahwa rahim Sara telah tertutup.

Ketaatan adalah pergumulan yang tak terhingga. Kita dibentuk dan diproses dengan ketaatan. Iman Abraham pun tidak selalu aman dalam segala bentuk realitas. Setelah menanti akan janji Tuhan dengan penuh keyakinan bahwa Allah berkuasa untuk melaksanakan janji-Nya, lalu Hagar hamba perempuan Sara tampil menjadi suatu realita dalam hidup Abraham dan mengalahkan imannya yang teguh sehingga menghadirkan masalah baru hingga turun-temurun bahkan sampai hari ini. Abraham lalu menyadari bahwa bukan itu yang Allah maksudkan. Sekalipun iman sudah diikat dengan janji Tuhan tetapi masih butuh waktu untuk penggenapannya.

Ibrani 6:15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya.

Kita tahu bahwa dalam masa penantian akan penggenapan janji Tuhan, ketaatan kita diuji. Ketaatan tetap ada dalam masa menanti janji Allah digenapi. Seperti seorang petani yang menabur hari ini tidak akan menuai hasil esok harinya, tetapi menanti saatnya berbuah hingga panen.

Galatia 6:9 Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.

Yakobus 5:7 karena itu, saudara-saudara, bersabarlah sampai kepada kedatangan Tuhan! Sesungguhnya petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya dan ia sabar sampai telah turun hujan musim gugur dan hujan musim semi.

Jika setelah sekian lama anda belum menikmati janji Tuhan digenapi maka bersabarlah. Karena di masa penantian, ada banyak pelajaran berharga dari Tuhan sampai penggenapan terjadi.
TAKE THE BLAME

Ada toko bunga di Inggris yang menyediakan layanan “penyelamatan hubungan” saat Valentine lalu. Maksudnya, orang-orang yang lupa mengirim bunga Valentine pada pasangan atau kekasihnya, dapat memesan bunga di toko tersebut hari berikutnya, lalu toko bunga tersebut menyertakan sebuah surat permohonan maaf bahwa bunga terlambat dikirim karena pengantar bunga digigit anjing, “Jadi, jangan salahkan pasangan Anda. Itu bukan salah mereka.” Toko bunga yang cerdas, dapat melihat kesempatan dan kenyataan bahwa banyak orang butuh orang lain untuk dipersalahkan!

Bukankah kita sering demikian? Ketika kita keliru membuat laporan, kita menyalahkan atasan yang memberi terlalu banyak pekerjaan. Ketika masakan kita gosong, kita menyalahkan anak-anak yang ribut. Ketika kita terpeleset kulit pisang di garasi, kita menyalahkan tetangga yang mendadak menyapa, bukannya mengambil tanggung jawab menyapu garasi kita. Semua bisa dipersalahkan, dari anak, tetangga, hingga Tuhan. Mempersalahkan adalah membuat orang lain bertanggung jawab untuk kesalahan atau hal-hal yang tidak menyenangkan yang terjadi dalam hidup kita.

Mengapa kita mempersalahkan orang lain? Karena hal itu menyelamatkan harga diri kita, tidak perlu merasa diri buruk dan tidak perlu mengakui kelemahan kita. Selain itu, kita ingin menang dalam konflik. Tetapi justru orang-orang yang sering mempersalahkan orang lain tidak punya kegigihan untuk berjuang. Ketika kita membuat orang lain bertanggung jawab atas kesalahan kita, berarti kita menyerahkan kuasa padanya, sehingga kita merasa tidak mampu melakukan perbaikan dan perubahan yang dibutuhkan. Jadi kita kehilangan kesempatan untuk memperbaiki diri dan bertumbuh. Belum lagi hubungan menjadi retak, dan kehilangan kepercayaan. Mari berhenti menyalahkan orang lain, mulai mengambil tanggung jawab. (Esther Idayanti)

HIDUPMU ADALAH HASIL DARI PERBUATANMU. TIDAK ADA YANG BISA DIPERSALAHKAN KECUALI DIRI ANDA SENDIRI. (Joseph Campbell)

By : Pdt. R.F Martino

MENGIKAT IMAN DENGAN JANJI ALLAH

Kejadian 22:2-6 2 Lalu TUHAN menampakkan diri kepadanya serta berfirman: “Janganlah pergi ke Mesir, diamlah di negeri yang akan Kukatakan kepadamu. 3 Tinggallah di negeri ini sebagai orang asing, maka Aku akan menyertai engkau dan memberkati engkau, sebab kepadamulah dan kepada keturunanmu akan Kuberikan seluruh negeri ini, dan Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu. 4 Aku akan membuat banyak keturunanmu seperti bintang di langit; Aku akan memberikan kepada keturunanmu seluruh negeri ini, dan oleh keturunanmu semua bangsa di bumi akan mendapat berkat, 5 karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.” 6 Jadi tinggallah Ishak di Gerar.

Kejadian 26:1 Maka timbullah kelaparan di negeri itu. — Ini bukan kelaparan yang pertama, yang telah terjadi dalam zaman Abraham. Sebab itu Ishak pergi ke Gerar, kepada Abimelekh, raja orang Filistin.

Apa yang akan kita pelajari sangat penting untuk dipahami. Dalam menjalani hidup sebagai orang percaya, tidak banyak yang memahami bagaimana hidup oleh iman. Setiap orang yang sudah lahir baru sudah ditetapkan untuk hidup oleh iman. Tetapi ketika dia lahir baru dia lupa bahwa masih ada jalan panjang ke depan yang akan penuh dengan realitas pergumulan. Begitu semua realitas itu diijinkan Tuhan untuk hadir, maka diapun bingung, karena sangkanya hidupnya akan mulus. Akhirnya ia menjadi kecewa, tawar hati, menjadi lemah dan akhirya menjauh dari Tuhan

Ketika masih lahir baru diperlakukan dengan segala macam kelembutan, dan tidak ada kata tidak untuknya.
Inilah yang kemudian menjadi masalah kedepannya. Sehingga gereja tidak punya orang-orang yang teguh, kokoh, kuat dan tidak tergoncangkan. Ingatlah semua masalah yang akan terjadi kedepan ini ukan hanya masalah finasial, masalah kehidupan sehari, dll. Tetapi hadirnya berbagai ajaran-ajaran sesat yang kita tidak pernah memahami.

Itu sebabnya kita harus memahami bahwa belajar hidup oleh iman itu dilakukan sampai mati (seumur hidup). Sepanjang kita hidup di dunia kita harus hidup di dalam iman. Iman bukan hanya sekedar terjawabnya sebuah pergumulan, tetapi iman dipakai untuk menjalani hidup selama kita masih berada di dunia.

Dalam Ibrani 11banyak menjelaskan tentang iman dan pribadi-pribadi yang hidup oleh iman. Semua pahlawan-pahwalan iman yang dijelaskan di Ibrani pasal 11 melakukan KETAATAN tanpa SYARAT. Doa dikabulkan atau tidak dikabulkan tetap berpegang pada Yesus Tuhan

Yang memprihatinkan adalah ketika seseorang baru sampai pada tingkatan bahwa iman hanya sebatas terjawabnya suatu pergumulan itupun masih banyak yang salah dalam bertindak, karena banyak hal yang belum diketahui dan masih bayi rohani.
Kita harus dituntun oleh Tuhan dan dibawa pada pengalaman-pengalaman iman yang berikutnya, sehingga boleh memahami bentuk-bentuk ketaatan pada Tuhan.

SETIAP JANJI ALLAH TIDAK DAPAT DIPISAHKAN DENGAN KETAATAN. Hal ini tidak dapat terjadi dengan sendirinya

Kejadian 2:5 “karena Abraham telah mendengarkan firman-Ku dan memelihara kewajibannya kepada-Ku, yaitu segala perintah, ketetapan dan hukum-Ku.”

Dimana ada perintah ada disitu ada ketetapan. Allah menetapkan janji-Nya bukan karena Ishak tapi karena Allah sudah berjanji Abrahan dan Abraham sudah mendengar dan memelihara segala perintah, ketetapan dan hukum Allah.

Ada janji Tuhan dan ada kewajiban yang sudah ditetapkan untuk ditaati. Tapi kadangkala hal ini jarang bahkan tidak diajarkan. Jemaat hanya diajar dan dibawa kepada pengalaman mujizat. Teologia mujizat ini bisa membawa orang percaya memiliki iman yang pasif. Oleh sebab itu di gereja ini sangat menekankan program pemuridan, supaya setiap orang memiliki dasar yang kuat.

Ketika kita menerima pesan dan janji Tuhan untuk kita itu tidak akn terjadi dengan sendirinya. Kita sudah yakin tapi tidak ada tindakan untuk melakukan apa yang diperintahkan. Adakalanya belum ada keyakinan, tapi sudah melakukan.

Kejadian 26:6 Jadi tinggallah Ishak di Gerar.

Kata “Jadi” berarti ia yakin percaya akan apa yang menjadi janji Tuhan. Oleh karena itu ia melakukan suatu keputusan iman untuk tetap tinggal di Gerar. Inilah yang namanya memelihara kewajiban. Inilah yang dinamakan juga dengan ketaatan.
Manakah yang lebih mudah: “Yakin” atau “Taat”. Sebenarnya kedua hal ini tidak bisa dipisahkan

Ketaatan tidak dilakukan di dunia akhirat tapi selama kita masih tinggal di dunia, dalam kehidupan sehari-hari sementara kita menghadapi realitas.

Masalahnya adalah bagaimana Ishak berani tinggal dan mentaati firman Tuhan dan tidak kemana-mana, tapi keadaan riil semua yang nampak tidak ada harapan. Semua sumur-sumur sudah tertutup, tanah begitu tandus. Tidak ada harapan untuk melanjutkan kehidupan.

Kejadian 26:12 Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN.

Ishak memulai dengan bekerja. Dia tidak memiliki iman yang konyol. Dia yakin melakukannya karena Tuhan sudah berfirman tentang janji-Nya. Meyakini firman dan melakukan firman harus sama-sama, tidak bisa dialkukan dengan sendiri-sendiri.

Kejadian 26:15 Segala sumur, yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, oleh hamba-hamba ayahnya itu, telah ditutup oleh orang Filistin dan ditimbun dengan tanah.

Kejadian 26:18-19 18 Kemudian Ishak menggali kembali sumur-sumur yang digali dalam zaman Abraham, ayahnya, dan yang telah ditutup oleh orang Filistin sesudah Abraham mati; disebutkannyalah nama sumur-sumur itu menurut nama-nama yang telah diberikan oleh ayahnya. 19 Ketika hamba-hamba Ishak menggali di lembah itu, mereka mendapati di situ mata air yang berbual-bual airnya.

Jangan pernah melakukan KETATAAN TANPA IMAN.

Kejadian 26:12-13 12Maka menaburlah Ishak di tanah itu dan dalam tahun itu juga ia mendapat hasil seratus kali lipat; sebab ia diberkati TUHAN. 13 Dan orang itu menjadi kaya, bahkan kian lama kian kaya, sehingga ia menjadi sangat kaya.

Roma 8:17 Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Orang percaya punya hak atas janji-janji Allah.

CARI JANJI ALLAH! CARI TAHU PETUNJUKANYA BERDASARKAN FIRMAN! Dan LAKUKAN!

Mazmur 126:5-6 5 Orang-orang yang menabur dengan mencucurkan air mata, akan menuai dengan bersorak-sorai. 6 Orang yang berjalan maju dengan menangis sambil menabur benih, pasti pulang dengan sorak-sorai sambil membawa berkas-berkasnya.

Sejauhmana kekuatan janji Allah ini?

Ibrani 6:13-17 13 Sebab ketika Allah memberikan janji-Nya kepada Abraham, Ia bersumpah demi diri-Nya sendiri, karena tidak ada orang yang lebih tinggi dari pada-Nya, 14 kata-Nya: “Sesungguhnya Aku akan memberkati engkau berlimpah-limpah dan akan membuat engkau sangat banyak.” 15 Abraham menanti dengan sabar dan dengan demikian ia memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya. 16 Sebab manusia bersumpah demi orang yang lebih tinggi, dan sumpah itu menjadi suatu pengokohan baginya, yang mengakhiri segala bantahan. 17 Karena itu, untuk lebih meyakinkan mereka yang berhak menerima janji itu akan kepastian putusan-Nya, Allah telah mengikat diri-Nya dengan sumpah,

Kekuatan janji Allah diikat dengan sumpah, pada orang percaya ia harus dapat mengikat imannya dengan janji Allah, maka janjipun akan digenapi

Galatia 6:7 Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya.

Apa yang Ishak taati, Tuhan genapi maka itulah sebabnya karena ia menabur maka ia menuai, krn ada hukum tabur tuai. Tidak menabur tidak ada apa-apa.

Yang dituai sesuai jenis yang ditabur. Menabur hal-hal rohani menuai hal-hal rohani pula. Menabur hal-hal jasmani akan menuai hal-hal jasmani. Jangan pernah berharap mendapat berkat finasial dengan hanya berdoa saja. Banyak kita jumpai semakin seseoarang rohani, semakin kikir.

II Korintus 9:6-7 6 Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. 7 Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.

By : Pdt. R. F. Martino

ASAL MULA GPPS-PALU

GPPS-PALU memulai pelayanannya di awal tahun 1974.
Tanggal 18 April 1974 GPPS-PALU terdaftar secara resmi di Bimas Kristen Protestan pada Kantor Wilayah Departemen Agama Propinsi Sulawesi Tengah.
Pembangunan gedung gereja dimulai Agustus 1974. Selesai dan ditahbiskan pada bulan Januari 1978.

BEKERJALAH SEBAB AKU INI MENYERTAI KAMU (5)

Hagai 2:4 “Tetapisekarang, kuatkanlahhatimu, haiZerubabel, demikianlahfirman TUHAN; kuatkanlahhatimu, haiYosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlahhatimu, haisegalarakyatnegeri, demikianlahfirman TUHAN; bekerjalah, sebabAkuinimenyertaikamu, demikianlahfirman TUHAN semestaalam”

Dalambagianakhirayat di atas, Allah TIDAK berkata “Bekerjalah, NANTI Akumenyertaiengkau”, atau “Bekerjalah, Aku AKAN menyertaiengkau”, tetapi Allah berkata “Bekerjalah, SEBAB Akumenyertaiengkau”. Hal ini yang perlukitaperhatikan.

SelanjutnyamarikitamerenungkanbagaimanaTuhanmenyertaiIshak.

Kejadian 26:1-6″1 Makatimbullahkelaparan di negeriitu. — Inibukankelaparan yang pertama, yang telahterjadidalamzaman Abraham. SebabituIshakpergikeGerar, kepadaAbimelekh, raja orang Filistin.2Lalu TUHAN menampakkandirikepadanyasertaberfirman: “JanganlahpergikeMesir, diamlah di negeri yang akanKukatakankepadamu.3Tinggallah di negeriinisebagai orang asing, makaAkuakanmenyertaiengkaudanmemberkatiengkau, sebabkepadamulahdankepadaketurunanmuakanKuberikanseluruhnegeriini, danAkuakanmenepatisumpah yang telahKuikrarkankepada Abraham, ayahmu. 4Akuakanmembuatbanyakketurunanmusepertibintang di langit; Akuakanmemberikankepadaketurunanmuseluruhnegeriini, danolehketurunanmusemuabangsa di bumiakanmendapatberkat,5karena Abraham telahmendengarkanfirman-Ku danmemeliharakewajibannyakepada-Ku, yaitusegalaperintah, ketetapandanhukum-Ku.”6JaditinggallahIshak di Gerar.”

Dalammenjalanihidup, kitaharusmemahamibahwasebagai orang percaya, kitahidupdalam 2 dimensi:
1. Lahiriah, yang diikatolehhukumlogika
2. Iman, yang diikatolehhukumiman, yang di dalamnyaadaFirman Allah

Banyak orang percaya yang gagalkarenahanyamenekankansalah 1 dimensisaja.Ada orang percaya yang sangatvertikalis, seakan-akantidaklagihidup di bumi.Sebaliknyaada pula orang percaya yang tidakpercayapadakuasadoa.

Imankitaharusmampumenjawabsegalabentukrealitashidup.Caranyaadalahkitaharusmampumengubahrealitashidupmenjadirealitasiman.IniberartikitamenghadapirealitasdenganimanyaituharusadaFirman Allah yang menjawabsetiaprealitas.

Ishakmenghadapirealitassebagaimanusialahiriah yang terbatasnamunjugamenghadapinyadenganimanakanjanji Allah. Sejauhmanaimankitadapatmenangkapjanji Allah?

Allah berkatakepadaIshakbahwaIamenyertaiIshak. Mengapa Allah menyertaiIshak?Karena Allah sudahberjanjikepada Abraham danketurunannya, dan Allah ingatakanjanji-Nya. Makakitamemahamimengapa Allah menolongkita?Bukankarenabesarnyapersoalankita, namunkarenakitaadalahanak-anak yang dikasihi-Nya.

Banyak orang percayasaatmenghadapipergumulanmelampiaskanemosinyadalamdoadenganletupan-letupantangisansehinggajiwanyamenjadilega, namuniaberdoatanpaiman! PadahalsuratYakobusberkatabahwakitaharusdatangpadaTuhandenganiman. BagaimanacaradatangpadaTuhandenganiman? Kita harusmencariFirman Allah mengenaimasalah yang kitahadapi, pegangjanji Allah mengenaimasalahtersebutbarulahkitabawa di dalamdoa. JikakitadatangpadaTuhandenganmelampiaskanemositanpamemegangFirman, berartikitahanyaberdoa di dalamdaging.KarenaituuntukdapatdatangpadaTuhandenganFirman, kitaharusmembacaFirman, belajarFirman, danmerenungkanFirman.

BagaimanaIshaksebagaimanusialahiriahmenerimapesanTuhan?Ketika Allah berfirman agar janganpergi, makaIshak pun tinggalmeskipunsaatitu di negeritersebutterjadikelaparan.Secaralahiriah, apa yang Allah perintahkankadangkalatidakmenarik. Saatkitamelangkahdenganiman, makaimanitudifungsikanmelaluiketaatan, karenaimanbukanhanyasebatasjawabandoaataskeinginanhati, namunImanadalahketaatantanpasyarat. Untukitu Allah menuntunkitadalampengalamanimantahap demi tahap.Tahapantersebutdimulaidariimanbayi.Pengalamanimanbayiadalahterimabereshanyadenganbahasatangisan.DalamtahapaninikitamemilikipengalamandimanadoakitacepatsekalidijawabTuhan. Namunseiringberjalanwaktukitamemasukitahapiman yang berikutnya.

Kejadian 26:7 “Ketika orang-orang di tempatitubertanyatentangisterinya, berkatalahia: “Diasaudaraku,” sebabiatakutmengatakan: “Iaisteriku,” karenapikirnya: “Jangan-janganakudibunuholehpenduduktempatinikarenaRibka, sebabelokparasnya.””

Kita melihatkejujuranAlkitabmenuliskesalahanIshak.KesalahanIshakdiatasberasaldarikemanusiaannya yang takutmati. Ada banyakpenundaan-penundaantergenapinyajanji Allah atashidupkitakarenakitamenghadapirealitasdengankeinginankitasendiridancarakitasendiri.

Kejadian 26:8-11 “8Setelahbeberapa lama iaada di sana, padasuatu kali menjenguklahAbimelekh, raja orang Filistinitudarijendela, makadilihatnyaIshaksedangbercumbu-cumbuandenganRibka, isterinya.9LaluAbimelekhmemanggilIshakdanberkata: “Sesungguhnyadiaisterimu, masakanengkauberkata: Diasaudaraku?” JawabIshakkepadanya: “Karenapikirku: Jangan-janganakumatikarena dia.”10TetapiAbimelekhberkata: “Apakahjuga yang telahkauperbuatiniterhadap kami? Mudahsekaliterjadi, salahseorangdaribangsainitidurdenganisterimu, sehinggadengandemikianengkaumendatangkankesalahanatas kami.”11LaluAbimelekhmemberiperintahkepadaseluruhbangsaitu: “Siapa yang mengganggu orang iniatauisterinya, pastilahiaakandihukummati.””

MakajanganpernahraguakanpenyertaanTuhan. Tuhantidakselalumengirimkanmalaikat, namunTuhanbisamemakai orang yang tidakmengenal Allah untukmenolongumat-Nya, sepertiTuhanmemakaiAbimelekhuntukmenolongIshak.KarenaTuhanpunyabanyakcarauntukmelindungidanmenolongumat-Nya.

By : Pdt. R. F. Martino