This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Daily Archives: 14/04/2019

JANJI IMAN / NAZAR (Bagian2)

1 Korintus 11:25 “Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!””

Betapa dahsyat perjanjian Tuhan kepada kita: Perjanjian Baru yang dimeteraikan dengan darah Kristus sehingga kita tidak lagi disebut “orang berdosa” tetapi disebut “anak-anak Allah”. Dalam ayat lain dikatakan bahwa perjanjian Tuhan diikat oleh sumpah sehingga tidak ada alasan lagi bagi kita untuk meragukan janji Allah.

Minggu lalu kita sudah belajar bahwa nazar adalah janji kita (kepada Tuhan) untuk melakukan sesuatu jika apa yang kita harapkan terkabul. Janji Tuhan pasti Ia tepati namun bagaimana dengan janji kita kepada Tuhan? Sebagian orang percaya sudah menepati janjinya kepada Tuhan, tetapi sebagian orang percaya belum menepati janji mereka kepada Tuhan. Padahal kita harus memahami bahwa janji iman/nazar adalah utang.

Ulangan 23:21-23 “Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu. Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri.”

Jika seseorang salah mengerti dengan ayat diatas maka orang menjadi takut bernazar. Padahal maksud ayat diatas adalah supaya:
– Kita tidak terburu-buru bernazar
– Bila bernazar, kita harus menepatinya.

Pemahaman yang keliru akan menghasilkan sikap yang keliru. Sikap yang keliru akan menghasilkan perbuatan yang keliru. Maka kita perlu memahami perihal nazar dengan benar.

1. Nazar umumnya dilaksanakan dalam masa-masa sukar, tetapi bukan jalan pintas untuk menyelesaikan masalah.

Sekalipun nazar bukan jalan pintas untuk menyelesaikan masalah, namun kita telah memahami bahwa kedahsyatan nazar dapat menyelesaikan masalah. Selain itu, dalam bernazar kita harus melakukannya dengan iman, bukan hanya karena sekedar terdesak oleh tekanan masalah.

Bagaimana dengan “janji iman”? Janji iman seringkali dianggap enteng oleh orang percaya karena tidak dilakukan oleh mereka pada masa sukar. Padahal “janji iman” yang kita lakukan bukanlah janji kepada manusia/gereja tetapi janji kepada Tuhan.

2. Nazar dilakukan dengan segenap eksistensi diri.

Jadi nazar itu dilakukan dari hati dengan melibatkan segenap keberadaan/apa yang ada pada kita, untuk menepati apa yang kita nazarkan.Jadi dalam melakukan nazar tidak ada tekanan/paksaan.

Saat ini nazar dalam istilah lain “janji iman”, justru dianggap ringan oleh banyak orang percaya. Mereka berpikir “tulis saja dulu sekian yang akan saya berikan nanti kapan-kapan baru dilunasi”. Ini menyebabkan banyak orang percaya tidak berusaha untuk melunasi/melakukan apa yang dijanjikan/dinazarkan. Padahal seharusnya setiap orang percaya berupaya untuk melunasi/melakukan nazarnya.

3. Nazar dilakukan dari iman yang tulus ikhlas.

Jadi saat bernazar, itu bukan hanya perkataan biasa yang diucapkan kepada Tuhan tetapi perkataan yang disertai oleh iman yang tulus ikhlas.

Iman yang tulus ikhlas adalah iman yang melakukan segala sesuatu karena mengasihi Tuhan, bukan karena ada maksud tersembunyi. Dan iman yang tulus ikhlas pasti disertai perbuatan.

2 Timotius 1:5 “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.”

Nilai iman tidak bisa dilihat dari peragaan dari kegiatan-kegiatan rohani seperti doa dan puasa sekalipun doa dan puasa adalah bagian dari perbuatan iman. Nilai iman hanya bisa dilihat melalui perbuatan yang nyata. Maka jika Paulus berkata bahwa nenek Lois dan ibu Eunike memiliki iman yang tulus ikhlas, berarti Paulus pernah merasakan/menikmati kebaikan hati nenek Lois dan ibu Eunike.

Jika ayat diatas berkata ada iman yang tulus ikhlas, berarti ada iman yang tidak tulus ikhlas yaitu iman yang melakukan segala sesuatu untuk maksud lain misalnya untuk kepujian.

Filipi 1:15-18 “Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita”

Jadi sejak zaman dulu Paulus menemukan ada hamba Tuhan atau pelayan Tuhan yang melayani tetapi masih memiliki dengki dan perselisihan.

Pada masa sekarang ini kita menemukan ada gereja yang berdiri diatas dasar perselisihan dengan gereja sebelumnya. Selain itu, dalam gerakan/pelayanan oikumene, ada juga hamba Tuhan/gereja yang memiliki maksud yang tidak tulus ikhlas yaitu melakukan kegiatan kebersamaan dengan tujuan untuk menjaring jemaat gereja orang lain. Karena itu kita perlu memahami pentingnya berkoordinasi dengan Tim Penggembalaan GPPS Palu jika hendak mengikuti atau melayani suatu acara oikumene (KKR/Seminar) karena Tim Penggembalaan GPPS Palu akan menolong kita memahami hal ini. Pelayanan oikumene seharusnya dilakukan dengan kemurnian.

Begitupun nazar/janji iman harus dilakukan diatas dasar ketulusan karena mengasihi Tuhan. Maka kita harus segera melakukan apa yang kita nazarkan dengan ketulusan kita.

4. Nazar membawa kita melatih diri dalam iman menjadi pasti dengan Tuhan.

Memang kita memahami bahwa janji Tuhan ya dan amin. Tetapi untuk kita mencapai tingkat keyakinan penuh pada janji Tuhan ada proses. Nazar adalah salah satu pelatihan bagi kita untuk menjadi pasti dengan Tuhan.

5.Nazar membawa kita masuk dalam pengalaman iman bersama Tuhan.

Kita telah memahami bahwa Iman bertumbuh melalui pengalaman iman – bukan hanya pengalaman hidup tetapi pengalaman iman. Melalui nazar kita akan melihat kedahsyatan Tuhan atas hidup kita. Maka nazar akan membawa kita masuk dalam pengalaman iman bersama Tuhan sehingga iman kita semakin bertumbuh di dalam Dia.

By : Pdt. R. F. Martino