This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Category Archives: KOTBAH

MENGKOMUNIKASIKAN KEBAHAGIAAN HIDUP

Mari kita liat bersama kebaikan-kebaikan yang sudah Tuhan berikan pada kita semua. Kita bisa berjalan menurut iman dan hidup menurut panggilan ini adalah warisan yang sudah Tuhan berikan. Berapa banyak dari kita yang hidup tidak berdasarkan fakta? Terkadang fakta hari ini dan kemarin masih ada yang belum pas, tapi kalau kita hidup dengan iman, kita akan menikmati kebahagiaan itu.

Saya bangga punya Allah yang hidup jadi meskipun saya dikirim jauh dari Indonesia, harus ke negeri asing, awalnya di sana tidak ada orang yang bisa diajak berbicara tapi Tuhan selalu ada bersama dengan saya.

Banyak kali orang-orang minta tolong, tapi saya katakan bahwa saya tebatas hanya Tuhan yang bisa. Tuhan bawa kita menjangkau bangsa-bangsa lain. Ditengah kesibukan saya mengurus segala sesuatunya, Tuhan bawa saya juga bisa mengurus jemaat, saya percaya Tuhan tidak kehabisan cara untuk mengurus jemaat-Nya. Melalui sosial media, saya juga berdoa melayani buat mereka yang membutuhkan bantuan doa.

Tuhan itu tidak bisa dipermainkan, ikuti saja apa maunya Tuhan, karena Dia selalu menginginkan agar kebahagiaan selalu itu terjadi dalam hidup kita. Apa yang harus kita lakukan, kita harus awali dengan PERCAYA, kemudian jalanilah kepercaayaan itu, meskipun liku-liku, gelombang hidup, angin ribut datang kita harus tetap berjalan bersama Tuhan.

Saya juga sudah membaca kisah pertolongan Tuhan bagi jemaat di tempat ini di buku kesaksian GPPS Jemaat Palu, dan ternyata Allah kita adalah yang dahsyat dari dulu, sekarang dan selamanya. Kalau kita sudah berjalan bersama Tuhan, jangan pernah putus semangat, tetaplah miliki kemauan dan semangat besar. Tetaplah bergairah untuk mencari Tuhan.

Apa yang harus kita lakukan ketika kita menjadi orang-orang yang sunguh-sungguh hidup dalam rencana Tuhan.
Ketika warisan yang terindah yaitu hidup oleh iman dan bekerja menurut panggilan, kita pegang baik-baik, kita tidak boleh pasif, kita harus melakukan apa yang menjadi panggilan kita. Setiap kita memiliki talenta, jangan sampai ketika diajak melayani tetapi banyak alasan untuk menolak. Sukacita adalah kekuatan dalam hidup kita dan kalau kita serahkan hidup kita maka Tuhan akan memberikan kelegaan bagi kita.

Kami juga pernah menghadapi pergumulan, gereja di Perth sudah selama 20 tahun kami menggumuli sebuah gedung. Sekarang Tuhan sudah adakan buat kami. Banyak cara Tuhan meberkati kami di sana.
Ada sebuah kesaksian dari seseorang yang didoakan dan menjadi sembuh kemudian dia mempersembahkan sebuah emas untuk pengadaan gedung gereja di Perth. Dia tahu emas itu tidak senilai dengan kesembuhan yang sudah dia terima.
Pada waktu kami pengecatan gereja di Perth, ada seorang Indonesia yang menawarkan diri untuk mengecat gereja. Dia mengetahui gereja PIC dari website. Sebelumnya dia seorang yang sedang bergumul dengan dirinya, berbulan-bulan hanya tinggal di mobil dan hidupnya bermasalah ketika ada di Bandung. Dia meminta pelayanan agar hidupnya bisa diubahkan dan hidupnya-pun berubah, dia bisa berumah tangga dengan baik dan memberikan diri untuk menyelesaikan pengerjaan cat di gereja PIC. Dia bukanlah orang yang punya banyak uang, dia menginvestasikan tenaganya, cara berpikirnya untuk pengecatan gereja.

Kita berjalan tidak mengandalakan penglihatan kita tapi iman kita karena kita hidup oleh percaya bukan karena melihat. II Korintus 5:7 — sebab hidup kami ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat —

Mazmur 37:4-5 4dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu. 5 Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;

Percuma saja jika kita mengaku percaya tapi tidak menyerah. Kalau kita percaya kepada Tuhan kita harus menyerahkan hidup kita kepada Tuhan.

Kalau kita sudah serahkan hidup kita pada Tuhan, kita tidak bisa lagi berteman dengan Iblis. Perhambakan hidup pada Tuhan, serahkan hidup kita pada Tuhan.
Hasilnya: Mazmur 37:6 Ia akan memunculkan kebenaranmu seperti terang, dan hakmu seperti siang.

Kalau berdoa mintalah yang spesifik bukan hanya karena ego kita, tapi biarlah semuanya untuk kemuliaan Tuhan.

Roma 12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!
Komunikasikan pada orang lain tentang apa yang sudah kita rasakan.

I Korintus 9:22 Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka.

Ada jemaat yang mempunyai anak autis, dia minta didoakan karena harus pulang dengan mengendarai mobil, sedangkan anak ini jika di mobil dia akan mengamuk bahkan sampai memecahkan kaca mobil. Setelah didoakan dengan menaikkan pujian penyembahan maka anak bisa tenang hingga sampai dirumah dengan selamat.

Cara meningkatkan komunikasi kebahagiaan kepada orang yang kita menangkan:
1. Menanamkan hal-hal yang baik
2. Menciptakan rasa aman dengan membangun komunikasi yang baik. Tidak membicarakan hal-hal negative.
3. Saling menghormati dengan cara menghargainya.

Ketika ada seseorang yang mengalami kelemahan, angkatlah penyembahan. Kita yang kuat menanggung yang lemah, pakailah nama Yesus. Roh Kudus ada dalam kita, ketika kita percaya dan mengaku Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat. Tapi Ibarat air dalam gelas, tidak akan memuaskan kita jika airnya sisa sedikit dan tidak pernah diisi. Begitu juga dengan Roh Kudus, kita perlu diisi terus dipenuhi dengan Roh Kudus supaya kita terus dipuaskan.
Jadi kalau bertemu dengan orang yang lemah, bantulah dia dalam Nama Tuhan Yesus. Jika bertemu dengan orang yang sok kuat, terus doakan dia dan beri teladan. Kita harus tetap menolong mereka yang lemah sampai mereka sendiri juga mampu menolong yang lain.

By : Ps. Meyke Liwandouw
(Perth Indonesian Church)

KUASA FIRMAN YANG MENGUBAHKAN

Lukas 5:1-11 1 Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. 2 Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. 4 Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” 5 Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” 6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. 7 Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. 8 Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” 9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Ayat 1: Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah

Sejak kita menjadi orang percaya sejauh mana kita memiliki pengalaman iman di dalam mengalami kuasa Firman mengubahkan segala sesuatu?
Beberapa kisah di Alkitab menceritakan bahwa sering terjadi Yesus dikerumuni orang banyak dengan berbagai-bagai motivasi. Ada yang datang karena lapar, ada yang ingin disembuhkan, ada yang datang karena ingin mendengar mujizat dan mendapatkan mujizat, dll. Tapi dalam kisah di atas, orang banyak tersebut datang kepada Yesus karena ingin MENDENGARKAN FIRMAN ALLAH.

Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.

Iman timbul dari mendengarkan firman Kristus. Kita yakin dan menerima kebenaran ini, tetapi bagaimana wujud nyatanya dalam hidup sehari-hari? Diurutan keberapakah posisi firman itu dalam hidup kita?
Firman harusnya ada di dalam dan menyatu dengan roh kita dan berada di posisi yang utama dari yang lain.
Ini tidak berarti kita mengabaikan hidup dan tanggungjawab kita sebagai manusia lahiriah yang hidup di dunia.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan beberapa orang percaya yang mengaku tidak membutuhkan firman atau tidak menempatkan firman di posisi utama dalam hidupnya:
1. Karena sama sekali tidak memahami firman karena memang belum mengenal Kristus dan menerima-Nya.
2. Tidak merasakan dan belum pernah mengalami kuasa firman itu mengubah sesuatu dalam hidup dan dirinya, dia hanya mendengar kesaksian dari orang lain.
3. Menganggap firman hanya menyangkut kehidupan etis. Karena mereka melihat di luar kehidupan orang Kristen banyak yang kehidupan etisnya lebih baik dari orang Kristen itu sendiri. Dia merasa bahwa dia tidak membutuhkan Tuhan dan tidak harus menjadi orang percaya karena dia bukan orang jahat. Dan banyak juga filosofi-filosofi etika di dunia ini yang lebih baik dari orang Kristen yang tidak punya etika.
Ada ayat yang mengatakan bahwa pentingnya harus ada filosofi etika dalam kekristenan untuk membawa orang tersebut takluk kepada firman. Ia akan menyambut ketika Allah melawat dia karna melakukan perbuatanmu yang baik

Jika kita benar-benar memahami ayat dalam Roma 10:17 maka kita akan memiliki gaya hidup seperti …. Ada suatu gairah, sukacita, kesukaan untuk mendengar firman Tuhan (Ada dua cara mendengar: mendengar pakai telinga dan mendengar dengan cara membaca). Sebab dengan mendengar firman maka iman itu timbul, bahkan dalam II Petrus 1:5-8 dikatakan bahwa iman juga harus ditambahkan dengan hal-hal yang menyangkut aplikasi dari iman itu sendiri. Dengan demikian barulah kita bisa menjalani hidup kita seperti yang ditetapkan dalam Roma 1:17 yaitu: Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”

Dikatakan “akan hidup oleh iman” tidak dikatakan “akan berdoa oleh iman” yang selama ini umumnya dalam kekristenan hanya menganggap bahwa iman hanya sebatas untuk jawaban doa. Sehingga orang berimanpun ketika ia minta sesuatu, dia paksakan imannya hadir supaya doanya didengar. Walaupun awal pengalaman iman adalah jawaban doa tetapi iman itu sendiri bukanlah hanya sekedar jawaban doa tapi orang percaya ditetapkan untuk HIDUP OLEH IMAN.
Kita masih hidup di dunia, jadi jalanilah hidup ini oleh iman. Bagaimana kita menjalani hidup oleh iman sedangkan kita masih manusia lahiriah? Bagaimana kita mau hidup oleh iman sedangkan kita tidak mempunyai firman? Sedangkan dalam Roma 1:7 mengatakan bahwa orang benar akan hidup oleh iman. Jadi sederhanya adalah HIDUP OLEH IMAN ADALAH HIDUP MELAKUKAN FIRMAN DAN TANPA SYARAT (KETAATAN TANPA SYARAT)
I.
Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah

Kita harus punya situasi dan kondisi hidup yang seperti ini, haus dan lapar akan firman, sehingga pribadu kita dan firman boleh menyatu. Sama dengan kebiasaan yang kita lakukan yaitu makan tiga kali sehari. Tubuh ini pastinya harus diberi makan itupun masih ada tuntutannya yaitu makanan yang bergizi supaya ada keseimbangan pertumbuhan. Firman Tuhan juga dikatakan sebagai roti hidup, kitapun butuh, sebab tidak mungkin kita jalani hidup kita untuk mengatakan “jalan dengan iman tanpa memiliki firman”.

II.

Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. 3 Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu.

Berbahagialah Simon yang perahunya dipinjam oleh Yesus untuk mengajar banyak orang. Sebelumnya Simon tidak tahu bahwa yang mengajar itu adalah Yesus.
Kira-kira kalau saudara ada pada waktu itu, apakah Saudara mengharapkan perahu Saudara dipakai oleh Yesus?
Nah sekarang andaikan ada barang Saudara dipinjam untuk keperluan gereja, apakah anda meminjamkannya?
Kalau Saudara tahu apa rahasianya, maka Saudara akan berdatangan untuk menawarkan apa yang bisa dipakai oleh gereja. Jangankan barang, diripun kita berikan untuk dipakai oleh Tuhan.

Dalam sebuah pengalaman saya pernah diajak pelayanan besuk oleh seorang hamba Tuhan yang sudah kehilangan dua matanya (buta). Ia adalah mantan pengusaha sukses. Awalnya dia tidak mau menerima panggilan khusus dari Tuhan, pdahal Tuhan mau pakai dia dengan segala hal yang ada padanya waktu itu. Diawali dengan hancurnya usahanya, sampai dua matanya harus buta, barulah ia mau memberi hidupnya sepenuh waktu

Jadi selagi apa yang ada pada kita bahkan diri, waktu, kekayaan, pikiran, tenaga pakailah untuk kepentingan Tuhan. Bersyukurlah masih dipilih oleh Tuhan untuk melayani-Nya, pilihan ini patut dihormati dan dihargai.

Pada waktu itu mereka sudah membasuh/membersihkan jalanya, karena semalam-malaman sudah berusaha keras untuk mencari ikan tapi tidak memperoleh apa-apa.
Dalam kondisi seperti ini kita harus menyadari bahwa dalam kehidupan kita ada saat-saat dimana kita mengalami kegagalan. Banyak kalimat-kalimat filosofi tentang kegagalan. Da yang mengatakan bahwa kegagalan adalan penundaan kesuksesan, ada jug ayang mengatakan semua orang sukses pernah mengalami kegagalan, itu semua penghiburan. Pernahkah Saudara mengalami kegagalan? Kalau sudah pernah mengalami kegagalan dan berhasil dari kegagalan mungkin baru boleh berkata seperti filosofi dunia seperti itu. Tapi kalau belum pernah mengalaminya jangan meminjam kata-kata tersebut. Karena kegagalan itu tidak mudah dirubah menjadi sukses.

Seorang Gembala dari Gereja Kristal Katedral. Dia seorang hamba Tuhan yang dipakai untuk mengubah perekonomian buruk menjadi berhasil. Sehingga ia bukan hanya jadi pengkhotbah tapi dipakai juga oleh para pengusaha-pengusaha terkenal di Amerika, tentu saja dengan dasar firman, untuk menjadi pembicara.
Waktu itu terjadi badai tornado yang melanda wilayahnya, sampai ia jatuh miskin. Kemudian Tuhan memanggil ia menjadi seoang hamba Tuhan lewat malapetaka tersebut. Ada suatu kalimat yang memotivasinya dan mengubah banyak orang yaitu: PENDERITAAN TIDAK AKAN PERNAH BERTAHAN LAMA PADA DIRI ORANG YANG ULET. Dia membagikan pengalaman imannya berdasarkan apa yang ia alami.

Tidaklah mudah bicara mengenai kegagalan, itu sama dengan orang yang sedang mengalami kedukaan, masing-masing datang dan memberikan penghiburan kepada keluarga yang berduka. Yang perlu kita sadari bahwa semua kalimat penghiburan itu tidak akan mampu membangkitkan orang yang sudah meninggal. Semua kalimat penghiburan itu hanya sejenak menghibur tapi tidak menjawab pergumlan itu.

Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.

Inilah kegagalan Simon:
Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.

Ini bukan kegagalan biasa, bukan gagal karena malas, bukan karena tidak punya manajemen hidup. Bisa diistilahkan situasi dan kondisi tidak “bersahabat” dengan mereka. Mereka sudah bekerja keras tapi tetap saja gagal. Bekerja pada malam hari di tengah lautan/danau untuk mecari ikan bukanlah pekerjaan yang mudah, ini pergumulan yang sangat sengit.
Kalau kegagalan itu terjadi tanpa kerja keras, tidak akan terlalu menyakitkan atau melelahkan, tidak menguras energ, tidak banyak menguras waktu dan dana. Tapi ini kegagalan yang sudah digumuli begitu rupa tetapi tetap gagal. Siapa yang bisa menduga, bahwa sesuatu yang kita gumuli, pada suatu hari kegagalan itu menimpa hidup kita. Semua bentuk kegagalan itu menyakitkan, jika orang tidak siap orang itu bisa saja stress, depresi bahkan mengambil tindakan bunuh diri.

Prinsip dasar tentang kerja keras adalah mutlak, tidak boleh tidak. Mungkin kita sempat berkata “Mereka saja sudah bekerja keras tapi tetap gagal” ini tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak bekerja keras.

Mungkin kita sempat berpikir juga bahwa kegagalan itu berasal dari Iblis, ini juga tidak bisa dijadikan alasan sepenuhnya, kita harus mengkoreksi diri kita pribadi, apakah kita sudah bekerja keras?
Yang menarik perhatian Tuhan untuk memulihkan kegagalan kita menjadi keberhasilan adalah ketika kita sudah bekerja keras tapi tetap gagal. Kalau kegagalan itu dikarenakan kemalasan, jangan berharap Tuhan menolong.

Pemahaman kita tentang pertolongan Tuhan juga perlu diubahkan.
Tuhan tahu persis kedua perahu ini. Mengapa perahu Simon yang Tuhan pilih? Keadaan terungkap pada saat Yesus menyuruh untuk bertolak ke tempat yang dalam dan menebarkan jala untuk menangkap ikan.
Ternyata perahu yang dipinjam Tuhan Yesus, pemiliknya bermasalah, pemiliknya adalah seorang yang gagal.

Bersyukurlah kalau ada sesuatu yang Tuhan pilih dan kehendaki dalam kehidupan kita, itu berarti Tuhan punya rencana yang luar biasa.
Tuhan tidak pernah berhutang, begitu Yesus pinjam perahu Dia langsung bayar dengan ikan yang penuh dalam perahu.

“Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.

Sebagai orang percaya kita harus berani MENJADI PASTI DENGAN TUHAN, karena Ia bukan pendusta, ketika Ia berfirman maka firman penuh dengan kuasa.
Apakah Yesus tidak tahu apa yang sudah terjadi pada Simon? Yesus tahu! Tapi Ia memerintahkan:
1. Bertolak ke tempat yang lebih dalam
2. dan tebarkan jala.
Simon mengungkapkan masalah yang telah terjadi semalaman, yaitu kegagalan dalam menangkap ikan yang sedang mereka alami lewat kerja keras.

Ini bertentangan, bagaimana mungkin, semalam-malaman penuh dengan kegagalan dan sekarang disuruh untuk tebarkan jala? Hukum logika tidak bisa menembus hukum iman. Hukum iman menembus hukum logika. Tidak ada yang terlalu sulit kegagalan-kegagalan apapun bentuknya, jika kita bukan hanya mendengar firman tapi mentaati dan melakukannya.
Secara manusia lahiriah yang punya pikiran danpengalaman, tidaklah salah Simon menyampaikan keluhannya, Simon taat melakukan apa yang Yesus katakan.

Sejauh mana kemampuan hukum logika kita menyelesaikan masalah yang sedang kita hadapi? Sejauh mana kemampuan hukum iman yang kita miliki yaitu firman yang ada dalam diri kita, merubah segala sesuatu?

Inilah yang menjadi pergumulan. Sudah melakukan kerja keras tapi gagal. Tapi KArena guru yang menyuruh, kami akan menyebarkan jala.

Antara hasil analisa logika kita dengan firman yang akan menjawab masalah yang sedang kita hadapi dibutuhkan ketaatan. Ini adalah pilihan dan bukan paksaan.

Lama tidaknya persoalan kita selesai itu tergantung penyerahan dan ketaatan pada apa yang Tuhan perintahkan untuk kita lakukan. Bukan lamanya Tuhan menjawab.

Jangan salah beriman pada firman, menganggap bahwa friman terjadi dengan sendirinya tidak!. Harus kita lakukan! Bukan hanya menantikan jawaban Tuhan.

Tidak akan pernah merubah situasi kondisi kegagalan mereka ketik amereka tidak mentaati apa yang Yesus katakan.

HASILNYA
6 Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak.

Firman yang tidak dilakukan, hanyalah sebuah tulisan atau kata=kata, kita tidak akan mendapatkan apa-apa. Kuasa firman itu bekerja, diarasakan hasilnya pada saat kita sedang melakukan firman itu.

Ketika Simon Petrus melihat hal itu ia pun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.”
Percakapan sudah menjadi lain bukan hanya percakapan secara jasmani, tetapi bicara tentang hal rohani. Disitu ia menyadari dan melihat dengan apa yang Yesus lakukan. Dan ia menemukan siapa dirinya dihadapan Tuhan Yesus.
Pemahaman ini sangat mendasar danpenting bagi kita.
Dua percakapan yang sangat berbeda sampai kepada suatu transformasi dan perubahan yang luar biasa. Secara seutuhnya. Tadinya yang menjadi persoalan adalah nafkah, kebutuhan, untung rugi, kegagalan tetapi berubah menjadi perkara keselamatan.
Sayang sekali sebagian besar orang Kristen tidak mengalami ini, yang kita temukan adalah sebagian orang Kristen beriman kepada Kristus hanya sampai ke tingkat perubahan nasib dari orang berdosa yang masuk neraka berubah menjadi orang percaya yang masuk surga, tanpa medalami lebih lanjut.
Demikian juga perubahan nasib di dunia, miskin jadi kaya, gagal jadi berhasil, itulah pemahan yang dimilikilah oleh Kristen pada umumnya.

9 Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; 10 demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” 11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Kuasa firman yang ditaati yang mendatangkan hasil merubah mereka melebihi dari orang yang sukses.
Kesuksesan mereka ini perlu diberi pemahaman. Sayang sekali sudah menjadi sukses yang diawali dengan ketaatan pada firman Tuhan kemudian kesuksesan membuat jauh dari Tuhan bahkan meninggalkan Tuhan.
11 Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, mereka pun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Mereka meninggalkan sesuatu dan mengikut Yesus. Tapi tidak meninggalkan pekerjaan begitu saja.
Banyak orang yang sibuk melayani tapi tidak mengurus apa yang sudah ada, tidak mengurus pekerjaan, tanggungjawab.
Mereka membereskan segala pekerjaan barulah mengikut Yesus.
Ada keseimbangan barulah mengikut Yesus. Mereka tidak meninggalkan tanggungjawab.
Memanage waktu

By : Pdt. R.F. Martino

BEKERJALAH SEBAB AKU MENYERTAI ENGKAU

Hagai 2:5 “Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam,”

I. MEMILIKI IMAN YANG REALISTIS
Saat tembok Yerusalem roboh, dan situasi politik saat itu dimana bangsa Israel berada dalam pembuangan, tidak ada dasar bagi mereka untuk berharap untuk mengerjakan kepentingannya Tuhan yaitu untuk membangun kembali tembok Yerusalem dan Bait Allah. Namun Tuhan berkata pada mereka, “Bekerjalah sebab Aku menyertai engkau.”
Kondisi-kondisi yang ada di depan kita saat ini, mungkin adalah situasi yang secara logika tidak mungkin bisa kita hadapi. Biasanya orang-orang yang rohani imannya akan merespon namun sayangnya mereka seakan berpindah dari alam nyata ke alam roh sehingga mengabaikan hal-hal lahiriah. Memang kita memahami bahwa apa yang ada di alam nyata dikendalikan oleh alam roh. Namun kita harus memahami bahwa kita masih di dunia sehingga kita tidak boleh membutakan diri dengan hal-hal real.
Saat Musa diberi visi oleh Allah, Musa tahu siapakah dirinya yang tidak pandai bicara namun diberi tugas untuk menghadap Firaun. Begitupun saat Yosua diberi visi menggantikan Musa untuk memimpin bangsa Israel. Yosua harus belajar hidup oleh iman sesuai janji Tuhan.

Yesaya 54:2 “Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!”

Ayat diatas bukanlah bagiannya Tuhan untuk Tuhan lakukan, tetapi perintah Tuhan kepada umat Tuhan untuk melakukannya. Namun bagaimana melakukannya sedangkan kondisi sepertinya tidak mungkin?
Karena itulah di gereja ini diajarkan “iman yang realistis” yaitu iman yang mampu menjawab setiap tantangan iman yang real dengan cara mengetahui apa yang Tuhan suruh kita kerjakan. Kita tidak boleh memiliki iman yang tidak realistis, yaitu memiliki sikap iman seakan-akan kita sudah tidak hidup di dunia, sehingga orang seperti ini semakin rohani semakin malas bekerja, semakin tidak realistis. Hanya berdiam diri saja menunggu Tuhan yang bekerja dengan ajaib.

Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”

Pemahaman yang dangkal tentang iman telah membuat iman hanya sebatas jawaban doa, bersikap seperti pengemis, bermimpi menang lotre/undian tanpa bekerja. Semua ini karena didikan yang keliru. Inilah yang menyebabkan kehancuran gereja Tuhan yaitu karena berhenti berkarya dan tidak melakukan apa-apa. Apa yang harusnya dilakukan oleh gereja, telah dirampas iblis dan diberikan kepada dunia, sehingga orang dunia menjadi kepala namun orang percaya tetap menjadi ekor.

Ibrani 11:6 “Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.”

Dalam daftar Ibrani 11 kita akan menemukan banyak pahlawan iman yang mengalami mujizat besar oleh karena imannya. Karena itu banyak orang percaya saat ini yang mengharapkan mujizat padahal dimana ada mujizat berarti ada peristiwa yang diluar logika menimpanya. Semakin besar peristiwa tragisnya, semakin besar mujizatnya.
Namun di bagian akhir Ibrani 11 mencatat orang-orang yang beriman namun tidak memperoleh apa yang dijanjikan. Namun Alkitab menulisnya bahwa mereka adalah pahlawan iman juga. Mereka adalah orang yang menerima apapun yang terjadi dalam hidupnya, namun tetap memiliki ketaatan iman kepada Tuhan. Inilah mujizat yang luar biasa: Ketabahan ketekunan menghadapi apapun, tidak menjadi orang Kristen yang cengeng, tetapi tetap berdiri teguh kokoh kuat tak tergoncangkan. Maka akhirnya kita memahami iman secara utuh bahwa: iman adalah ketaatan tanpa syarat kepada Tuhan.

Markus 16:15-18 “Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,
mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.”
Dari ayat diatas kita memahami bahwa semua orang Kristen memiliki kuasa. Namun didikan sekolah Alkitab tempo dulu mengajarkan bahwa untuk memiliki kuasa, harus “bertapa” (doa dan puasa) di atas “gunung” (bukit doa). Ketika turun gunung menjadi “sakti”. Maka ajaran sekolah Alkitab dulu menjadikan
Kekristenan menjadi mirip dengan kebatinan. Padahal sudah jelas dalam ayat diatas bahwa setiap orang kristen memiliki kuasa.
Jika kita sudah memahami bahwa kita memiliki kuasa, maka bekerjalah! Sebab Tuhan berkata, “Bekerjalah sebab Aku menyertai engkau!”

II. IMAN YANG DISERTAI PERBUATAN
Kita harus memahami bahwa: Kualitas doa harus sama dengan kualitas kerja.
Yakobus 2:14 “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?”

Kita tahu bahwa kita diselamatkan oleh iman. Namun iman yang bagaimana yang menyelamatkan? Yaitu iman yang disertai perbuatan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat.
Maka saat kita berkata bahwa kita bersyukur kepada Tuhan, jangan hanya di mulut. Tetapi harus ditunjukkan dalam tindakan yaitu mengerjakan apa yang telah Tuhan berikan sehingga iblis tidak mengambil apa yang menjadi bagian kita.
Saat Tuhan berkata, “Lapangkanlah tempat kemahmu, dan bentangkanlah tenda tempat kediamanmu, janganlah menghematnya; panjangkanlah tali-tali kemahmu dan pancangkanlah kokoh-kokoh patok-patokmu!” maka responilah!
“Jangan menghemat” maksudnya adalah jika kita bisa melakukan lebih banyak, jangan melakukan sedikit. Karena jika kita melakukan sedikit, maka berkat kita hanya sebatas itu. Contohnya:
– Ada warung makan yang cepat tutup padahal ramai dengan pembeli. Mengapa? Ternyata itu karena warung makan itu hanya menyediakan sedikit porsi makanan. Tentu hal ini sangat disayangkan padahal masih banyak orang yang masih mau makan di warung tersebut.
– Dalam pelayanan, dulu pernah ada pekerja gereja yang menyiapkan 5 buah tikar duduk untuk 5 orang yang datang ke pertemuan doa, karena memang biasanya yang hadir hanya 2-5 orang. Akhirnya ia harus ditegur karena imannya terlalu kecil. Seharusnya ia tetap memasang seluruh tikar yang ada di gereja sebagai tindakan imannya bahwa yang datang pertemuan doa akan terus bertambah.

Saat menghadapi peristiwa yang di luar logika untuk diselesaikan, bangsa Israel saat itu diperintahkan Tuhan untuk bekerja dan diberi Tuhan janji yang luar biasa!

Hagai 2:5-10 5 Tetapi sekarang, kuatkanlah hatimu, hai Zerubabel, demikianlah firman TUHAN; kuatkanlah hatimu, hai Yosua bin Yozadak, imam besar; kuatkanlah hatimu, hai segala rakyat negeri, demikianlah firman TUHAN; bekerjalah, sebab Aku ini menyertai kamu, demikianlah firman TUHAN semesta alam, 6 sesuai dengan janji yang telah Kuikat dengan kamu pada waktu kamu keluar dari Mesir. Dan Roh-Ku tetap tinggal di tengah-tengahmu. Janganlah takut! 7 Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam: Sedikit waktu lagi maka Aku akan menggoncangkan langit dan bumi, laut dan darat; 8 Aku akan menggoncangkan segala bangsa, sehingga barang yang indah-indah kepunyaan segala bangsa datang mengalir, maka Aku akan memenuhi Rumah ini dengan kemegahan, firman TUHAN semesta alam. 9 Kepunyaan-Kulah perak dan kepunyaan-Kulah emas, demikianlah firman TUHAN semesta alam. 10 Adapun Rumah ini, kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula, firman TUHAN semesta alam, dan di tempat ini Aku akan memberi damai sejahtera, demikianlah firman TUHAN semesta alam.”

Luar biasa janji penyertaan Tuhan dan berkat-Nya saat kita bekerja. Karena itu, pakailah iman kita untuk menjawab segala tantangan iman yang real, dan kita harus melakukan bagian kita dengan bertindak menurut iman. Ora et Labora – berdoa dan bekerja.

By : Pdt. R. F. Martino

MANAGEMENT OF VISION

Tuhan telah memberikan sumber daya-sumber daya di dalam diri kita untuk memperlengkapi kita mencapai rancangan Allah. Memang sumber daya tidak boleh dijadikan andalan – hanya Tuhan yang harus diandalkan, namun kita harus menggunakannya dengan maksimal. Kita juga tidak mengandalkan pengalaman saja, namun pembelajaran dari pengalaman akan menghasilkan kedewasaan yang menghasilkan hikmat-hikmat, melengkapi anugerah sumber daya yang Tuhan telah berikan.

Ada ribuan janji Tuhan dalam Alkitab namun janji-janji Tuhan tidak terjadi secara otomatis. Ada bagian kita untuk bekerjasama dengan Tuhan. Sama seperti anugrah keselamatan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib tidak otomatis diterima oleh semua manusia, namun hanya dapat diterima oleh manusia yang meresponinya melalui bertobat dan menerima Yesus. Begitupun saat Tuhan menjanjikan “hari depan yang penuh harapan”, maka ada bagian kita yang harus dilakukan yaitu pertama-tama harus memiliki pengharapan. Karena iman dimulai dari setitik pengharapan. Jika kita tidak memahami hal ini jangan salahkan Tuhan jika kita tidak mencapai rancangan Allah atas hidup kita.

A. Manajemen Visi (Mengelola visi Allah)
Visi Allah adalah gagasan/pikiran/kehendak/rancangan Allah yang diberikan kepada orang percaya supaya bekerjasama dengan Allah untuk menggenapkan rencana-Nya. Namun jika kita tidak mengelola Visi Allah, maka kita tidak akan mencapainya.

Tidak ada satupun dalam hidup kita setiap hari yang luput dari manajemen. Kita perlu manajemen yang baik dalam hidup sehari-hari. Jika tidak punya manajemen yang baik maka kita tidak bisa menyelesaikan segala sesuatu dan akhirnya kita menjadi stres, contohnya tidak tepat waktu. Namun orang yang memiliki manajemen yang baik akan mampu menyelesaikan segala sesuatu dengan baik.

1. Manager yang baik

1 Petrus 4:10 “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”

Dari ayat diatas kita ditetapkan untuk menjadi “pengurus” yang baik dari kasih karunia Allah. “Pengurus” (Manager/Steward) adalah orang yang mengelola.

Sebagai orang percaya, kita mengakui bahwa semua yang kita miliki adalah kasih karunia Allah. Karena itu kita harus mengelola kasih karunia Allah tersebut. Seluruh pergerakan hidup manusia adalah manajemen. Mulai dari bangun pagi, menyiapkan sarapan pagi, bekerja / bersekolah, berolahraga, dll. Seorang suami/ayah harus memiliki manajemen mulai dari bangun pagi, menyelesaikan pekerjaan, berfungsi dalam keluarganya, dll. Begitupun ibu harus memiliki manajemen dalam melakukan semua tanggung jawab sesuai kodratnya. Begitupun anak muda harus memiliki manajemen dalam menempuh pendidikan atau bekerja.

Dengan demikian tidak ada seorangpun yang dapat membuat alasan bahwa ia tidak memahami manajemen – kecuali orang itu memang malas! Dan orang malas tidak akan mencapai rancangan Allah!

Contoh hidup tidak ter-manage:
– Obesitas.
Jika seseorang tidak me-manage makanannya maka akan mengalami obesitas. Ada seorang hamba Tuhan yang tidak me-manage makanannya, akhirnya suatu ketika ia masuk Rumah Sakit dan meninggal. Ini akibat hidup yang tidak ter-manage.
– Pekerjaan yang menumpuk.
Mengapa bisa bertumpuk? Karena kita suka menunda. Oleh karena itu jangan menunda pekerjaan yang bisa diselesaikan hari ini, karena besok ada pekerjaan baru untuk dilakukan.
– Rumah yang berantakan. Apakah rumah atau di kantor pekerjaan kita menumpuk dan semua menjadi berantakan? Itu karena tidak dikelola. Sadari bahwa setiap orang percaya ditetapkan Tuhan menjadi manager yang baik atas kasih karunia Allah. Camkan baik-baik: Doa dan puasa tidak akan membawa kita untuk mencapai rancangan Allah jika kita malas. Rancangan Allah hanya tergenapi dalam hidup kita jika kita meresponinya.

2. Manajemen yang baik

1 Korintus 14:33 “Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.”
1 Korintus 14:40 “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.”

Mengapa sesuatu menjadi kacau? Karena tidak di-manage. Sebaliknya, mengapa sesuatu menjadi teratur? Karena di-manage. Kita adalah manager atas hidup kita. Manager adalah pengurus, pengelola, pemimpin. Manager yang baik akan menghasilkan manajemen yang baik. “Manajemen” adalah cara mengelola. Kita diberkati Tuhan dengan pekerjaan yang harus kita urus/kelola. Apakah kita sudah memiliki manajemen yang baik? Di Indonesia ada seseorang yang disebut “Manager 1 Milyar”, yaitu manager yang diperebutkan oleh perusahan-perusahaan besar untuk mempekerjakannya dengan gaji/bayaran yang sangat mahal.

a. Memahami Manajemen Allah.
Allah adalah pribadi yang memiliki tujuan dan rencana. Sejak permulaan zaman, Allah telah menyusun rencana. Allah bekerja dengan penuh perencanaan. Allah bekerja untuk menyelesaikan tujuan-Nya di dunia. Dalam Alkitab kita membaca di kitab Kejadian bahwa Allah menciptakan dengan manajemen. Hari pertama sampai hari keenam Allah menciptakan dengan urutan manajemen yang tepat. Manusia tidak diciptakan pada hari pertama karena manusia tidak mungkin bisa hidup saat dunia belum terbentuk. Manusia diciptakan hari keenam. Ini adalah manajemen.

Karena itu, Allah menghendaki agar manusia – sebagai ciptaan termulia – hidup dengan perencanaan, me-manaje waktu dalam: HIDUP KESEHARIAN.

Contoh lainnya: Saat pasangan suami istri akan memiliki buah hati, maka mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya sebelum bayi tersebut lahir. Ini adalah manajemen.

b. Menyadari bahwa semua kegiatan manajemen dipatok oleh WAKTU. Contoh dalam hidup kita: Pendidikan di SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun. Namun bagaimana jika seorang anak menempuh pendidikan di SD selama 12 tahun? Tentu ini menunjukkan bahwa hidup dan pendidikan anak tersebut tidak di-manage dengan baik. Tuhan pun menentukan batas waktu kita di dunia adalah 70 tahun, jika kuat dan sehat adalah 80 tahun. Lebih dari itu adalah kesukaran. Jadi bagaimana kita memaksimalkan waktu yang Tuhan berikan? Kelola/manage dengan baik!

B. Cara Mengelola
Ada orang yang berkata “Di kalangan kita ini, lebih banyak berdoanya daripada bekerja. Saat Tuhan sudah menjawab, orang kalangan kita masih berdoa dan tidak mau bertindak.” Kita harus berhati-hati memahami pernyataan/statement tersebut. Orang yang tidak suka berdoa akan memakai pernyataan itu sebagai alasan untuk bekerja tanpa perlu berdoa. Padahal berdoa itu mutlak. Tetapi meresponi dalam bentuk tindakan juga mutlak. Jika iman kita sudah meresponi visi Allah, maka iman kita itu harus disertai perbuatan. Maka ada motto “Ora et Labora” (Berdoa dan Bekerja). Jangan sampai kita hanya siap berdoa tetapi tidak siap menerima jawaban doa.

Untuk mengelola Visi Allah, ada 5 poin penting yang harus kita perhatikan:

1. APA?
(Bentuk nyata dari visi/perencanaan)
Tanyakan:
– Apa yang akan dikerjakan khususnya di tahun 2019 ini?
– Proyek/program apa untuk tahun 2019 ini?
Dalam pekerjaan/usaha yang harus dikelola, apa yang akan dikerjakan tahun ini? Di gereja kita saat ini – terutama setelah bencana, proyek kita adalah pembangunan fisik gedung gereja.

Kalau kita sudah mampu menjawab pertanyaan itu (sudah jelas pekerjaannya), barulah kita nelanjutkan ke pertanyaan selanjutnya.

2. SIAPA? (Orang yang akan mengerjakan)
Tanyakan:
– Siapa orang yang akan mengerjakannya?
– Berapa orang yang diperlukan untuk mengerjakannya?

Yesus menggunakan orang dalam pelayanan-Nya, 12 orang kemudian 70 orang untuk memberitakan Injil, kemudian semua orang percaya.

3. KAPAN?
(Schedule/Kalender Kerja)
Segala yang akan dikerjakan harus dikalenderkan sehingga dapat diketahui berapa lama hasil dapat diperoleh.

Ingatlah hidup kita dipatok oleh waktu. Saya memotivasi banyak orang dengan perkataan ini: “Jika umur 40 tahun kita belum memiliki apa-apa, jangan salahkan Tuhan jika kita tetap tidak punya apa-apa. Jika usia 50 tahun kita belum punya rumah sendiri/hanya kontrak, maka jangan salahkan Tuhan jika sampai mati tidak punya rumah sendiri.” Mengapa? Karena setelah berusia 40-50 tahun fisik dan kemampuan kita akan menurun. Maka jika saat ini kita adalah anak muda, responi visi Allah, manage visi Allah sehingga mencapai apa yang Tuhan siapkan. Keselamatan sudah kita miliki. Namun jangan sampai kemelut hidup di dunia membuat iman kita lemah sehingga kehilangan apa yang Tuhan siapkan.

4. PRIORITAS (Yang harus didahulukan)
Cara menentukan prioritas: Inventarisasi semua kebutuhan yang akan diproyekkan. Jika ada kebutuhan, hapus sembilan dan tinggalkan satu yang paling penting untuk menjadi urutan yang pertama. Demikian seterusnya.
Ada orang yang hanya berfokus pada 1 tugas dan yang lainnya terbengkalai. Ini karena tidak menentukan prioritas. Saat seorang bujang akhirnya hidup berumah tangga, berubah pula manajemen hidupnya. Saat kemudian pasangan ini memiliki anak, maka berubah pula manajemen hidup mereka.
Dalam hidup kita ada keluarga, pekerjaan, dan pelayanan. Jika semua hal itu tidak ter-manage dengan baik maka pasti ada yang akan terbengkalai. Jadi setiap orang percaya harus cakap menentukan prioritas dan me-manage hidupnya.
Tips: Jika banyak yang harus dilakukan dan kita adalah seorang pelupa, yang bisa menolong kita adalah catatan. Bisa menggunakan catatan manual atau catatan di smartphone yang dilengkapi alarm.
Pesan untuk anak muda: Jika anak muda terus menerus melakukan hal-hal yang tidak penting dan tidak melakukan hal-hal yang penting, maka jangan salahkan Tuhan jika kita tidak mencapai rancangan-Nya. 5. Evaluasi Setelah kita mengerjakan semua tanggung jawab kita, kita perlu mengevaluasi kembali, sudahkah kita memperoleh hasil yang maksimal? Jika belum, apa penyebab/penghalangnya? Bagaimana mengatasinya/memperbaikinya? Jika kita bisa mengelola Visi Allah sebagai respon kita dalam bekerjasama dengan Allah, maka kita akan mencapai rancangan Allah.

by : Pdt. R. F. Martino

MEMILIKI DAN MENJALANI VISI ALLAH -PENGALAMAN-

Yosua 1:3 Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.
Sebelum Yosua ditugaskan untuk memimpin bangsa Israel menggantikan Musa, ia sudah diperlihatkan satu visi yang sangat jelas bahkan sampai wilayah yang akan ia miliki dan segala sesuatu yang Tuhan telah tetapkan baginya. Tetapi ada satu hal yang bermasalah, yaitu pribadi Yosua sendiri. Ia bukan bermasalah karena berbuat dosa tetapi atas kondisi dirinya sendiri sehingga Tuhan yang mengenal segenap isi hati memperingatkan Yosua berulang-ulang untuk menguatkan hatinya. Tuhan mengatakan kepada Yosua supaya ia jangan tawar hati, jangan kecut hati. Tawar hati bisa diartikan pesimis, patah semangat, kecewa dan lain sebagainya.
Hal ini tidak berbeda atas hidup kita sebagai orang percaya. Apa yang Tuhan janjikan itu pasti terjadi tetapi yang bermasalah adalah diri kita, yaitu masalah internal dalam diri kita. Oleh karena itu, kita masih terus belajar menginventarisir hal-hal apa saja dalam diri manusia lahiriah ini yang menjadi kendala bahkan menjadi penghambat yang membuat rancangan Allah tidak dapat kita capai dan tidak tergenapi. Hal itu tidak terjadi dengan sendirinya. Ada bagiannya Tuhan dan ada bagiannya kita untuk dikerjakan. Oleh karena itu, kita harus memahami bahwa Tuhan memakai apa yang ada pada kita bukan apa yang tidak ada pada kita. Ia berfirman kepada Musa “apa yang ada di tanganmu itu?“ Musa berkata “tongkat.” Tuhan katakan lebih lanjut, agar ia membawa tongkat yang ada di tangannya itu. Tongkat itu harus dipakai untuk membuat tanda-tanda mujizat. Kemampuan/potensi sumber daya yang daripada Tuhan sudah diberikan dalam diri kita masing-masing. Hanya saja sebagian besar umat Tuhan tidak mempergunakannya. Bahkan, seringkali semakin seseorang rohani, semakin ia tidak memakai kemampuan yang Tuhan taruh di dalam dirinya. Karena adanya pengajaran yang keliru bahwa seolah-olah jika kita pakai potensi yang ada dalam diri kita, berarti bekerja menurut kekuatan diri sendiri. Oleh karena itu kita harus pahami apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Firman Tuhan mengatakan “kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Dengan mengetahui sumber daya yang Tuhan berikan dalam diri kita, kita dapat mempergunakannya untuk mencapai rancangan Allah.
Pada saat Allah memberikan visi-Nya kepada kita, sesungguhnya Ia telah melengkapi kita dengan sumber daya untuk mewujudkan visi tersebut. Hal ini sangat besar pengaruhnya dalam kita merespon visi Allah. Berhasil tidaknya kita menjalani visi Allah tergantung sejauh mana kita memfungsikan sumber daya yang sudah diberikan Allah. Di dalam pertumbuhan rohani kita untuk lebih semakin dewasa, kita harus ingat bahwa iman ada pada diri seorang manusia lahiriah secara riil. Namun kita juga harus menyadari kelemahan-kelemahan yang ada pada manusia lahiriah ini tidak boleh dijadikan senjata untuk kita pelihara. Kita harus memahami bahwa ada iman yang lebih sanggup melakukan apa yang tidak sanggup dilakukan oleh manusia lahiriah.
Setiap kita mempunyai masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Kita sekarang ada karena ada masa lalu. Ada masa yang akan datang karena ada masa sekarang. Tuhan memberikan sumber daya dalam diri manusia dimulai dari faktor genetika (bakat, keahlian dan temperamen), faktor didikan dan latihan, anugerah Allah, dan pengalaman. Ini semua Tuhan sudah berikan. Kita tahu bahwa setiap manusia adalah ciptaan Allah. Tetapi banyak anak-anak Tuhan tidak bisa lebih unggul daripada anak-anak dunia. Karena anak-anak Tuhan memendam segala sumber daya yang Tuhan sudah berikan kepadanya dan hanya menjalani saja dengan angan-angan dan meminta agar Tuhan yang bekerja. Kita banyak memendam sumber daya yang Tuhan sudah berikan kepada kita dan tidak mempergunakannya. Bahkan terkdanag kita tidak menyadarinya. Kita tidak perlu ambisi mengejar sesuatu, karena hal ini akan terjadi dengan sendirinya yaitu ketika kita menggunakan sumber daya yang Tuhan sudah tetapkan di dalam kehidupan kita. Pada saat seseorang lahir, ia sudah diberikan bakat dan keahlian, temperamen, dan intelegensia, tinggal bagaimana saat pertumbuhan dan perjalanan hidupnya, apakah dikembangkan atau tidak.
Apakah di dalam kita menjalani hidup sehari-hari, kita sudah mengeluarkan semua kemampuan akal budi? Apakah ketika bekerja atau pun di dalam mengerjakan pelayanan, kita sudah melakukannya dengan segenap kekuatan?
Sejak lahir, Tuhan sudah berikan kepada kita yaitu bakat/keahlian khusus, temperamen dan tingkat kecerdasan. Tinggal kita kembangkan. Selain daripada faktor kelahiran dan genetika, Tuhan juga memberikan dalam lingkungan keluarga kita didikan dan pelatihan, lingkungan gereja, lingkungan pendidikan formal dan non formal, semuanya kita sudah peroleh. Disitulah dibentuk jati diri seseorang. Selain daripada factor-faktor tersebut, kita juga memperoleh anugerah Allah, yaitu kemampuan Allah dan karunia rohani. Kita harus memahami mana kemampuan Allah yang tidak dapat kita kerjakan, dan mana karunia-karunia rohani yang Tuhan sudah berikan kepada kita.

Pengalaman
Semua kita tentunya sudah mengalami pengalaman hidup sesuai tingkat usia. Tidak seorangpun yang tidak mengalami yang namanya pengalaman hidup. Seturut tingkat usia mulai dari kita kecil sampai kepada usia kita sekarang ini, berbagai macam bentuk pengalaman kita sudah alami dalam kehidupan kita. Pengalaman merupakan salah satu sumber daya yang sudah kita miliki di dalam kehidupan kita. Ada diantaranya beberapa pengalaman manis, pengalaman pahit, pengalaman kekecewaan, keberhasilan dan kita membagikannya kepada orang lain supaya mereka juga memahami apa yang namanya perjalanan hidup dalam segala bentuk realitanya. Didalam kita mengalami berbagai pengalaman itu, di situ kita juga bagikan apa yang namanya putus asa, kecewa, untung, rugi, jalan keluar dan berbagai macam pengalaman lainnya yang hadir dari berbagai realita hidup.
Pengalaman adalah guru yang terbaik, tetapi belajar dari pengalaman orang, jauh lebih baik daripada peristiwa itu menimpa kita sendiri. Itu sebabnya orang dianjurkan banyak membaca buku, supaya orang dapat belajar dari pengalaman yang sudah ada tersebut. Berbagai realitas hidup yang menghasilkan pengalaman itu akan menjadi kekayaan dalam kehidupan kita untuk menjadi lebih matang dan lebih dewasa. Kita menjadikan pengalaman sebagai suatu pembelajaran, atau sejarah yang sudah terjadi. Jika orang tidak mau belajar dari sejarah, maka ia akan mengulangi sejarah tersebut. Dari hal inilah kita banyak dapat belajar, karena hidup adalah realita dan setiap manusia pasti akan menjalani pengalaman hidup. Hal ini terjadi secara alamiah.
Pengalaman hidup bagi orang percaya tidak hanya sekedar romantika kehidupan . Pengalaman hidup orang percaya yang sungguh memiliki iman, berubah menjadi pengalaman iman. Itu sebabnya, setiap orang percaya harus punya kemampuan merubah pengalaman hidupnya menjadi pengalaman iman. Jika hanya berbicara tentang pengalaman, semua orang melakukannya. Beberapa orang menjadikannya metode padahal itu hanyalah suatu pembelajaran dan tidak membawa hasil apa-apa untuk pertumbuhan iman karena dia tidak merubahnya menjadi pengalaman iman.
Tuhan sudah menetapkan bahwa setiap orang yang sudah lahir baru harus hidup oleh iman. Karena bagi manusia pada umumnya, semua masalah yang dihadapi, ia akan meresponnya secara alamiah dengan kekuatan jiwani, atau menurut kemampuan jiwanya. Tetapi bagi orang percaya, dalam menghadapi realita atau masalah, ketika akan merespon secara jiwani, maka iman kita harus segera bertindak. Untuk menaklukkan pikiran, kehendak dan perasaan sendiri, iman kita harus hadir menghadapi masalah. Karena iman itu akan memunculkan Firman sebagai jawaban atas masalah sehingga kita tidak berbuat dosa dan tetap berada di bawah kehendak dan petunjuk Tuhan di dalam kita menyelesaikan masalah. Itulah yang membedakan antara orang percaya dan orang yang tidak percaya. Pengalaman hidup yang dirubah menjadi pengalaman iman akan menghasilkan pertumbuhan rohani, menghasilkan kematangan iman, kematangan dalam penyerahan diri, sehingga kita mengerti arti penyerahan.

Mengandalkan Tuhan bukan berarti menguburkan segala sumber daya yang Tuhan sudah berikan kepada kita.
Pada akhirnya kita perlu mengevaluasi pengalaman hidup kita. Tidak ada yang lebih membahayakan selain daripada orang yang tidak memiliki pengalaman. Tanpa pengalaman kita dapat mendatangkan tragedi bagi diri kita sendiri dan orang lain. Contoh sederhana yaitu ketika kita akan menggunakan satu peralatan baru, kita membutuhkan buku panduan atau orang yang lebih tahu, orang yang sudah punya pengalaman dalam menggunakannya.

1 Raja-raja 20:11 Tetapi raja Israel menjawab, katanya: “Katakanlah! Orang yang baru menyandangkan pedang janganlah memegahkan diri seperti orang yang sudah menanggalkannya.”

Orang yang baru menyandang pedang tidak boleh sombong, jangan memegahkan diri seperti orang yang sudah meninggalkannya artinya ia baru saja memegang senjata sedangkan yang lain sudah menggantungnya karena ia sudah memiliki pengalaman. Jika belum punya pengalaman, belajarlah kepada yang sudah punya pengalaman. Jangan pernah merasa hina untuk belajar dari pengalaman orang lain.

Daud
Daud adalah seorang yang mendapat kemampuan atas anugerah Allah, sehingga ia yang tidak diperhitungkan itu dapat mengalahkan Goliat. Itu karena anugerah Allah. Daud, selain diberi kemampuan yang dari Tuhan, ia juga sudah berpengalaman sebelum ia menjadi prajurit, sebelum ia muncul melawan Goliat. Ia bukanlah seorang prajurit melainkan seorang gembala. Tetapi pengalamannya melebihi seorang prajurit.
Daud dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang baik, mendapat didikan dan pelatihan yang benar, minyak urapan sudah dicurahkan kepadanya oleh seorang Nabi. Daud memiliki anugerah Allah dalam dirinya tetapi selain itu ia juga memiliki pengalaman. Anugerah Allah dan kemampuan Allah ada dalam dirinya. Bukan hanya pada saat ia melawan Goliat, tetapi dari sejak ia seorang gembala, anugerah Allah itu sudah ada padanya sehingga hal itu mendatangkan pengalaman iman baginya.
Daud tidak menggembalakan ratusan domba, melainkan hanya beberapa ekor saja. Tetapi ketika ada binatang buas yang datang menerkam dombanya, ia berani mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dombanya itu.

1 Samuel 17:34-36 Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, 35maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.
36Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”

Daud mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk domba yang ia gembalakan. Ia sudah punya pengalaman menghadapi bahaya yang lebih dahsyat. Tuhan sudah menaruhkan keberanian di dalam diri Daud. Ketika pengalaman ini dia munculkan, bukan berarti ia mengandalkan pengalaman itu, ia tahu bahwa kemenangannya berasal dari Tuhan. Itu sebabnya ia mengatakan kepada Saul “Tuhan yang melepaskanku dari cakar singa dan cakar beruang, Ia juga yang akan melepaskanku dari tangan orang Filistin itu.”
Sumber daya yang Tuhan sudah berikan kepada kita, bukan untuk kita pendam, tetapi untuk kita kerahkan seluruhnya di dalam mencapai rancangan Allah. Karena itu adalah untuk kita sendiri didalam menjalani masa depan.

1 Timotius 3:6 Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.

Oleh karena itu ada suatu standar kematangan yang dibutuhkan bagi kita yang melayani. Ketika kita sudah menjadi pelayan Tuhan, hal itu tidak semata-mata hanya ibadah, tetapi kita melayani orang yang beribadah, melayani umat Tuhan. Orang yang baru bertobat saja diberikan peringatan, apalagi yang belum bertobat. Sebab kalau ia baru bertobat, ia hanya bermodalkan suatu gairah yang begitu rupa tetapi masih kurang pengalaman, apalagi jika gereja tidak mendidiknya melainkan hanya memberikannya jabatan, Sehingga orang itu hanya menganggap posisinya sebagai suatu jawatan dan bukan peperangan rohani. Orang tersebut dapat menjadi sombong karena posisi jabatan tersebut dan karena belum adanya pengalaman. Sehingga dikatakan jangan sampai kena hukuman iblis.
Jadi keempat faktor inilah, yaitu kelahiran, didikan, anugerah Allah, dan pengalaman yang membentuk dasar yang diatasnya masa depan kita sedang di bangun. Jika kita mengabaikan 4 faktor ini yang Tuhan sudah berikan, jangan salahkan Tuhan jika kita tidak mencapai apapun. Jadi kita temukan dulu diri kita secara manusia jasmani dan manusia rohani oleh karena iman. Harus ada keseimbangan dalam pertumbuhan kita. Kita akan sulit untuk menetapkan langkah jika kita belum mengetahui sumber daya yang ada dalam diri kita, jika ini kita sudah temukan baru kita bisa melangkah, dan menjalani visi Allah. Jika sudah menginventarisasi hal-hal di atas, berarti kita sudah siap untuk menjalani masa depan dan menghadapi tantangan serta kesempatan-kesempatan. Karena masa depan tetap ada tantangan dan selalu ada kesempatan, karena hidup ini adalah kesempatan. Temukanlah apa yang Tuhan sudah taruh dalam diri kita sehingga kita dapat menjalani masa depan kita dengan visi Allah, terus naik dan tidak turun, menjadi kepala dan bukan ekor.

By : Pdt. R.F Martino

MEMILIKI DAN MENJALANI VISI ALLAH Anugerah Allah

Visi mutlak kita perlukan dalam menjalani kehidupan pribadi dan rohani. Sayangnya orang dunia lebih mengetahui mengenai pentingnya visi daripada orang percaya. Padahal visi mutlak kita perlukan apalagi bagi para pemimpin.
Setiap orang percaya perlu mengintrospeksi diri: “Sudahkah saya mencapai visi Allah?” Realitanya, tidak banyak orang percaya yang benar-benar mencapai Visi Allah. Dalam Roma 12:1 Alkitab memerintahkan agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia. Itu berarti orang percaya mempunyai nilai plus dibandingkan orang dunia. Sayangnya banyak orang percaya yang menjadi ekstrim, yaitu menjadi orang yang sangat vertikalis (hanya memahami bahwa ia manusia rohani) namun melupakan bahwa ia juga adalah manusia lahiriah yang dibekali Tuhan dengan sumber daya yang luar biasa. Orang dunia lebih memahami bahwa mereka memiliki sumber daya sehingga banyak dari mereka yang memaksimalkan sumber dayanya melebihi orang percaya (hanya saja sayangnya mereka mengandalkan diri sendiri karena mereka memang tidak memiliki iman).
Banyak orang rohani saat mengalami suatu masalah kehidupan, mencari jawabannya melalui doa. Karena belum ada jawaban, Hamba Tuhan menasihatinya agar semakin sungguh-sungguh berdoa. Namun jawaban tidak juga datang, akhirnya orang percaya ini menjadi “putus asa di dalam kemampuannya yang dahsyat”. Ia tidak menyadari bahwa jawabannya sebenarnya ada di dalam sumber daya yang dahsyat yang telah Tuhan taruh di dalam dirinya.
Potensi yang luar biasa ada di dalam diri kita. Tinggal keputusan diri kita: Apakah kita mau memakainya ataukah kita mau membiarkannya tertanam. Jika kita tidak mau memaksimalkan potensi diri kita, tidak heran orang-orang meremehkan dan menyisihkan diri kita. Jika kita melihat realita yang terjadi, gereja/umat Tuhan merasa tertekan di negeri ini. Apa penyebabnya? Alkitab berkata bahwa kita adalah garam dunia – camkan: kita bukan garam dapur tetapi garam dunia – jika kita tidak lagi asin, tak heran kita dibuang dan diinjak-injak orang. Itulah yang terjadi.
Kita rohani luar biasa (sangat vertikal) tetapi secara horizontal tidak berguna/tidak bernilai. Apakah di rumah kita disegani karena kita adalah orang yang bernilai? Apakah di tempat kerja, kita adalah orang yang disegani rekan kerja dan dikagumi pimpinan karena kita adalah orang yang bernilai? Atau justru sebaliknya?

ANUGERAH ALLAH
Semua sumber daya yang kita miliki tak sanggup untuk mengatasi semua realita hidup kecuali anugerah Allah.
1. Kemampuan Allah
Setelah menginventarisasi sumber daya yang kita miliki dari faktor genetika, dan latihan, ternyata belum cukup untuk dapat mencapai rancangan allah. Diperlukan adanya anugerah Allah atau kemampuan Allah.
Apa pemahaman kita akan “anugerah Allah”? Saat kita diselamatkan dari maut, diampuni dan dikuduskan dari segala dosa, itulah anugerah Allah. Namun tidak berhenti sampai disitu. Karena dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita membutuhkan anugerah Allah.

2 Korintus 12:9 “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”

Kita tidak boleh salah memahami ayat diatas sebagai alasan untuk memelihara kelemahan diri. Ayat diatas berbicara tentang kemampuan maksimal manusia yang lemah dan tak mampu menyelesaikan masalah manusia. Paulus menghadapi suatu realita yang tidak mampu ia atasi dengan kemampuan maksimalnya. Ia memiliki pengalaman dan prestasi rohani yang luar biasa dan dibawa ke surga. Supaya ia tidak sombong, Tuhan memberinya “duri dalam daging” sebagai alat kontrol.
Ada banyak tafsiran apa yang dimaksud dengan “duri dalam daging yaitu pesuruh iblis untuk menggocoh dirinya”. Kita tidak akan membahas tafsiran itu. Namun Paulus tidak dapat mengatasinya dan ia sudah berdoa beberapa kali kepada Tuhan agar “duri dalam daging” itu diangkat dari dirinya namun jawaban Tuhan padanya seperti pada ayat diatas. Banyak orang rohani yang merasa diri terlalu hebat sehingga tidak menyadari bahwa itu sifat kedagingan yang berasal dari iblis. Alat kontrol apa yang Tuhan taruh dalam hidup saudara sebagai alat kontrol supaya saudara menyadari batas kemampuan anda, menjadi “tahu diri”, tidak menjadi sombong, dan menyadari bahwa semua karena anugerah Tuhan? Dalam kelemahanlah penyerahan diri kita kepada Tuhan menjadi sempurna dan kita mengandalkan Tuhan.

Contoh dari tokoh Alkitab yang mendapat kemampuan dari Allah:
a. Daud selagi masih anak muda, keluar berperang melawan Goliat. Keberhasilannya mengalahkan Goliat adalah kemampuan dari Allah. Mari kita merenungkan bagaimana Goliat menghujat seluruh tentara Israel dan Allah yang hidup, dan tidak satupun tentara Israel yang berani menghadapi Goliat. Ini menunjukkan bahwa semua sumber daya yang kita miliki harus dipakai, tetapi ada batasnya. Kita butuh kemampuan Allah karena semua sumber daya yang kita miliki diikat oleh hukum logika. Namun realita hidup yang kita miliki seringkali tidak bersahabat dengan hukum logika. Ada ayat Alkitab yang berkata “Tuhan akan berperang bagimu dan engkau akan diam saja”. Firman Tuhan ini benar tetapi dalam konteks apa dulu? Contoh jika saat ini kita berada dalam pengungsian bencana, kalau kita hanya berdiam diri menunggu bantuan, kita akan mati. Kita harus bergerak.

b.Yusuf mempunyai latar belakang yang baik dari faktor kelahiran/genetika, tetapi ketika dia masih muda dia dimasukkan dalam penjara. Dia tidak banyak mendapat pendidikan formal. Yusuf mendapatkan anugerah Allah dalam hidupnya yang menyebabkan dia diangkat sebagai perdana menteri di Mesir. Jika kita flashback sejenak kepada kisah hidup Yusuf, Potifar melihat Yusuf disertai Tuhan dari hasil pekerjaannya. Orang dunia tidak melihat hidup kita disertai Tuhan dari banyaknya kita berdoa atau melayani. Penilaian orang luar bahwa kita disertai Tuhan adalah melalui KINERJA kita. Apakah kinerja kita cemerlang atau biasa-biasa saja? Kinerja dimulai dari diri sendiri lebih dulu. Kalau kinerja kita tidak berharga, jangan mengharapkan orang lain akan menghargai kita. Orang menghargai kita bukan karena orang tahu kita selalu berdoa dan selalu berada di gereja, tetapi dari perilaku dan kinerja kita sehari-hari. Alkitab mencatat bahwa Yusuf “elok parasnya dan manis kelakuannya”. Saat istri potifar menggodanya – kita bisa yakin bahwa saat itu ia menggunakan pakaian minim, namun Yusuf menolaknya. Hal ini tidak bisa ia lakukan dengan kekuatan manusia, hanya kekuatan Allah yang memampukan Yusuf untuk lari.

c. Paulus berasal dari keluarga yang baik, keturunan Benyamin. Pendidikannya tidak diragukan lagi, dia belajar kepada Gamaliel dan dididik untuk menjadi anggota Sanhedrin. Untuk dapat diterima dia harus mampu menghafal 5 kitab pertama dari Alkitab dengan lancar. Paulus adalah orang berpendidikan tinggi dan berkualitas. Pengetahuannya tentang Perjanjian Lama cukup kuat dan mendasar. Tetapi justru melalui faktor kelahiran dan pendidikannya dia menjadi seorang pembunuh. Melalui anugerah Allah, ia membawa ribuan orang kepada Tuhan Yesus Kristus dan mendirikan banyak gereja. Tuhan berhadapan langsung dengan Paulus dan memberikan anugerah padanya. Tanpa anugerah Allah Saulus tidak akan menjadi Paulus. Dari semua contoh diatas kita memahami: Sumber daya harus dipakai dan dimaksimalkan tetapi bukan menjadi andalan kita. Kita harus mengandalkan Tuhan.

2. Karunia Rohani
Karunia rohani berbeda dengan bakat yang kita peroleh secara genetika ataupun keterampilan yang kita peroleh melalui didikan/latihan. Setiap anggota tubuh Kristus harus melekat pada tubuh dan berfungsi. Sebagai anggota tubuh Kristus, Tuhan telah memberikan kepada kita masing-masing secara khusus suatu tempat pada tubuh.

1 Korintus 12:18 “Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.”

Kita juga menerima karunia-karunia rohani sehingga kita dapat saling melayani dalam tubuh Kristus.

1 Petrus 4:10 “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”

Kita perlu berfungsi/melayani di gereja lokal masing-masing. Sudah berapa lama kita berjemaat di GPPS Palu? Apakah kita sudah berfungsi?

CARA MENEMUKAN KARUNIA-KARUNIA ROHANI
1. Anggota tubuh harus melekat pada tubuh dan berfungsi dalam pelayanan. Berarti kita harus mengambil komitmen untuk melayani.
2. Laksanakan tanggung jawab pelayanan yang dipercayakan. Jadi apapun pelayanan yang saat ini dipercayakan, lakukan saja dulu dengan bertanggung jawab.
3. Dari berbagai bidang pelayanan yang dipercayakan maka akan menghasilkan apa yang paling “disukai” dalam tubuh Kristus. Maka dari semua pelayanan yang telah kita lakukan, kita akan menemukan ada pelayanan tertentu yang paling kita “sukai”.
4. Apa yang dimintakan dari saya dalam tubuh Kristus/gereja? Saat kita diminta gereja untuk melakukan suatu jenis pelayanan, janganlah berkata, “Mengapa selalu saya yang ditugaskan untuk pelayanan itu?” Kita harus mengintrospeksi, mungkin disitulah karunia pelayanan kita.
5. Apa buah rohani dalam pergaulan saya dengan orang lain? Contohnya saat kita bergaul dengan si A. Hal-hal baik apa saja yang ia peroleh dari kita? Hal-hal tersebut di atas akan membantu anda menemukan karunia-karuna rohani anda.

Roma 12:4-8 “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.”

Pada ayat diatas disebutkan tentang “karunia melayani” – ini perlu dijelaskan agar kita tidak salah memahami. “Karunia Melayani” adalah karunia rohani hospitality, yaitu senang menolong dan “direpotkan”, siap membantu kapan saja dan apa saja saat diperlukan. Dari keseluruhan ayat diatas kita memahami bahwa setiap kita memiliki karunia pelayanan yang berbeda-beda. Melayanilah sesuai karunia kita masing-masing. Hidup ini adalah kesempatan. Maksimalkan sumber daya kita dan layanilah Tuhan dengan karunia rohani yang diberikan kepada kita selagi masih ada kesempatan.

By : Pdt. DR. R. F. Martino