This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

MEMILIKI DAN MENJALANI VISI ALLAH -PENGALAMAN-

Yosua 1:3 Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.
Sebelum Yosua ditugaskan untuk memimpin bangsa Israel menggantikan Musa, ia sudah diperlihatkan satu visi yang sangat jelas bahkan sampai wilayah yang akan ia miliki dan segala sesuatu yang Tuhan telah tetapkan baginya. Tetapi ada satu hal yang bermasalah, yaitu pribadi Yosua sendiri. Ia bukan bermasalah karena berbuat dosa tetapi atas kondisi dirinya sendiri sehingga Tuhan yang mengenal segenap isi hati memperingatkan Yosua berulang-ulang untuk menguatkan hatinya. Tuhan mengatakan kepada Yosua supaya ia jangan tawar hati, jangan kecut hati. Tawar hati bisa diartikan pesimis, patah semangat, kecewa dan lain sebagainya.
Hal ini tidak berbeda atas hidup kita sebagai orang percaya. Apa yang Tuhan janjikan itu pasti terjadi tetapi yang bermasalah adalah diri kita, yaitu masalah internal dalam diri kita. Oleh karena itu, kita masih terus belajar menginventarisir hal-hal apa saja dalam diri manusia lahiriah ini yang menjadi kendala bahkan menjadi penghambat yang membuat rancangan Allah tidak dapat kita capai dan tidak tergenapi. Hal itu tidak terjadi dengan sendirinya. Ada bagiannya Tuhan dan ada bagiannya kita untuk dikerjakan. Oleh karena itu, kita harus memahami bahwa Tuhan memakai apa yang ada pada kita bukan apa yang tidak ada pada kita. Ia berfirman kepada Musa “apa yang ada di tanganmu itu?“ Musa berkata “tongkat.” Tuhan katakan lebih lanjut, agar ia membawa tongkat yang ada di tangannya itu. Tongkat itu harus dipakai untuk membuat tanda-tanda mujizat. Kemampuan/potensi sumber daya yang daripada Tuhan sudah diberikan dalam diri kita masing-masing. Hanya saja sebagian besar umat Tuhan tidak mempergunakannya. Bahkan, seringkali semakin seseorang rohani, semakin ia tidak memakai kemampuan yang Tuhan taruh di dalam dirinya. Karena adanya pengajaran yang keliru bahwa seolah-olah jika kita pakai potensi yang ada dalam diri kita, berarti bekerja menurut kekuatan diri sendiri. Oleh karena itu kita harus pahami apa yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Firman Tuhan mengatakan “kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Dengan mengetahui sumber daya yang Tuhan berikan dalam diri kita, kita dapat mempergunakannya untuk mencapai rancangan Allah.
Pada saat Allah memberikan visi-Nya kepada kita, sesungguhnya Ia telah melengkapi kita dengan sumber daya untuk mewujudkan visi tersebut. Hal ini sangat besar pengaruhnya dalam kita merespon visi Allah. Berhasil tidaknya kita menjalani visi Allah tergantung sejauh mana kita memfungsikan sumber daya yang sudah diberikan Allah. Di dalam pertumbuhan rohani kita untuk lebih semakin dewasa, kita harus ingat bahwa iman ada pada diri seorang manusia lahiriah secara riil. Namun kita juga harus menyadari kelemahan-kelemahan yang ada pada manusia lahiriah ini tidak boleh dijadikan senjata untuk kita pelihara. Kita harus memahami bahwa ada iman yang lebih sanggup melakukan apa yang tidak sanggup dilakukan oleh manusia lahiriah.
Setiap kita mempunyai masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. Kita sekarang ada karena ada masa lalu. Ada masa yang akan datang karena ada masa sekarang. Tuhan memberikan sumber daya dalam diri manusia dimulai dari faktor genetika (bakat, keahlian dan temperamen), faktor didikan dan latihan, anugerah Allah, dan pengalaman. Ini semua Tuhan sudah berikan. Kita tahu bahwa setiap manusia adalah ciptaan Allah. Tetapi banyak anak-anak Tuhan tidak bisa lebih unggul daripada anak-anak dunia. Karena anak-anak Tuhan memendam segala sumber daya yang Tuhan sudah berikan kepadanya dan hanya menjalani saja dengan angan-angan dan meminta agar Tuhan yang bekerja. Kita banyak memendam sumber daya yang Tuhan sudah berikan kepada kita dan tidak mempergunakannya. Bahkan terkdanag kita tidak menyadarinya. Kita tidak perlu ambisi mengejar sesuatu, karena hal ini akan terjadi dengan sendirinya yaitu ketika kita menggunakan sumber daya yang Tuhan sudah tetapkan di dalam kehidupan kita. Pada saat seseorang lahir, ia sudah diberikan bakat dan keahlian, temperamen, dan intelegensia, tinggal bagaimana saat pertumbuhan dan perjalanan hidupnya, apakah dikembangkan atau tidak.
Apakah di dalam kita menjalani hidup sehari-hari, kita sudah mengeluarkan semua kemampuan akal budi? Apakah ketika bekerja atau pun di dalam mengerjakan pelayanan, kita sudah melakukannya dengan segenap kekuatan?
Sejak lahir, Tuhan sudah berikan kepada kita yaitu bakat/keahlian khusus, temperamen dan tingkat kecerdasan. Tinggal kita kembangkan. Selain daripada faktor kelahiran dan genetika, Tuhan juga memberikan dalam lingkungan keluarga kita didikan dan pelatihan, lingkungan gereja, lingkungan pendidikan formal dan non formal, semuanya kita sudah peroleh. Disitulah dibentuk jati diri seseorang. Selain daripada factor-faktor tersebut, kita juga memperoleh anugerah Allah, yaitu kemampuan Allah dan karunia rohani. Kita harus memahami mana kemampuan Allah yang tidak dapat kita kerjakan, dan mana karunia-karunia rohani yang Tuhan sudah berikan kepada kita.

Pengalaman
Semua kita tentunya sudah mengalami pengalaman hidup sesuai tingkat usia. Tidak seorangpun yang tidak mengalami yang namanya pengalaman hidup. Seturut tingkat usia mulai dari kita kecil sampai kepada usia kita sekarang ini, berbagai macam bentuk pengalaman kita sudah alami dalam kehidupan kita. Pengalaman merupakan salah satu sumber daya yang sudah kita miliki di dalam kehidupan kita. Ada diantaranya beberapa pengalaman manis, pengalaman pahit, pengalaman kekecewaan, keberhasilan dan kita membagikannya kepada orang lain supaya mereka juga memahami apa yang namanya perjalanan hidup dalam segala bentuk realitanya. Didalam kita mengalami berbagai pengalaman itu, di situ kita juga bagikan apa yang namanya putus asa, kecewa, untung, rugi, jalan keluar dan berbagai macam pengalaman lainnya yang hadir dari berbagai realita hidup.
Pengalaman adalah guru yang terbaik, tetapi belajar dari pengalaman orang, jauh lebih baik daripada peristiwa itu menimpa kita sendiri. Itu sebabnya orang dianjurkan banyak membaca buku, supaya orang dapat belajar dari pengalaman yang sudah ada tersebut. Berbagai realitas hidup yang menghasilkan pengalaman itu akan menjadi kekayaan dalam kehidupan kita untuk menjadi lebih matang dan lebih dewasa. Kita menjadikan pengalaman sebagai suatu pembelajaran, atau sejarah yang sudah terjadi. Jika orang tidak mau belajar dari sejarah, maka ia akan mengulangi sejarah tersebut. Dari hal inilah kita banyak dapat belajar, karena hidup adalah realita dan setiap manusia pasti akan menjalani pengalaman hidup. Hal ini terjadi secara alamiah.
Pengalaman hidup bagi orang percaya tidak hanya sekedar romantika kehidupan . Pengalaman hidup orang percaya yang sungguh memiliki iman, berubah menjadi pengalaman iman. Itu sebabnya, setiap orang percaya harus punya kemampuan merubah pengalaman hidupnya menjadi pengalaman iman. Jika hanya berbicara tentang pengalaman, semua orang melakukannya. Beberapa orang menjadikannya metode padahal itu hanyalah suatu pembelajaran dan tidak membawa hasil apa-apa untuk pertumbuhan iman karena dia tidak merubahnya menjadi pengalaman iman.
Tuhan sudah menetapkan bahwa setiap orang yang sudah lahir baru harus hidup oleh iman. Karena bagi manusia pada umumnya, semua masalah yang dihadapi, ia akan meresponnya secara alamiah dengan kekuatan jiwani, atau menurut kemampuan jiwanya. Tetapi bagi orang percaya, dalam menghadapi realita atau masalah, ketika akan merespon secara jiwani, maka iman kita harus segera bertindak. Untuk menaklukkan pikiran, kehendak dan perasaan sendiri, iman kita harus hadir menghadapi masalah. Karena iman itu akan memunculkan Firman sebagai jawaban atas masalah sehingga kita tidak berbuat dosa dan tetap berada di bawah kehendak dan petunjuk Tuhan di dalam kita menyelesaikan masalah. Itulah yang membedakan antara orang percaya dan orang yang tidak percaya. Pengalaman hidup yang dirubah menjadi pengalaman iman akan menghasilkan pertumbuhan rohani, menghasilkan kematangan iman, kematangan dalam penyerahan diri, sehingga kita mengerti arti penyerahan.

Mengandalkan Tuhan bukan berarti menguburkan segala sumber daya yang Tuhan sudah berikan kepada kita.
Pada akhirnya kita perlu mengevaluasi pengalaman hidup kita. Tidak ada yang lebih membahayakan selain daripada orang yang tidak memiliki pengalaman. Tanpa pengalaman kita dapat mendatangkan tragedi bagi diri kita sendiri dan orang lain. Contoh sederhana yaitu ketika kita akan menggunakan satu peralatan baru, kita membutuhkan buku panduan atau orang yang lebih tahu, orang yang sudah punya pengalaman dalam menggunakannya.

1 Raja-raja 20:11 Tetapi raja Israel menjawab, katanya: “Katakanlah! Orang yang baru menyandangkan pedang janganlah memegahkan diri seperti orang yang sudah menanggalkannya.”

Orang yang baru menyandang pedang tidak boleh sombong, jangan memegahkan diri seperti orang yang sudah meninggalkannya artinya ia baru saja memegang senjata sedangkan yang lain sudah menggantungnya karena ia sudah memiliki pengalaman. Jika belum punya pengalaman, belajarlah kepada yang sudah punya pengalaman. Jangan pernah merasa hina untuk belajar dari pengalaman orang lain.

Daud
Daud adalah seorang yang mendapat kemampuan atas anugerah Allah, sehingga ia yang tidak diperhitungkan itu dapat mengalahkan Goliat. Itu karena anugerah Allah. Daud, selain diberi kemampuan yang dari Tuhan, ia juga sudah berpengalaman sebelum ia menjadi prajurit, sebelum ia muncul melawan Goliat. Ia bukanlah seorang prajurit melainkan seorang gembala. Tetapi pengalamannya melebihi seorang prajurit.
Daud dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang baik, mendapat didikan dan pelatihan yang benar, minyak urapan sudah dicurahkan kepadanya oleh seorang Nabi. Daud memiliki anugerah Allah dalam dirinya tetapi selain itu ia juga memiliki pengalaman. Anugerah Allah dan kemampuan Allah ada dalam dirinya. Bukan hanya pada saat ia melawan Goliat, tetapi dari sejak ia seorang gembala, anugerah Allah itu sudah ada padanya sehingga hal itu mendatangkan pengalaman iman baginya.
Daud tidak menggembalakan ratusan domba, melainkan hanya beberapa ekor saja. Tetapi ketika ada binatang buas yang datang menerkam dombanya, ia berani mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan dombanya itu.

1 Samuel 17:34-36 Tetapi Daud berkata kepada Saul: “Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, 35maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya.
36Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup.”

Daud mempertaruhkan nyawanya sendiri hanya untuk domba yang ia gembalakan. Ia sudah punya pengalaman menghadapi bahaya yang lebih dahsyat. Tuhan sudah menaruhkan keberanian di dalam diri Daud. Ketika pengalaman ini dia munculkan, bukan berarti ia mengandalkan pengalaman itu, ia tahu bahwa kemenangannya berasal dari Tuhan. Itu sebabnya ia mengatakan kepada Saul “Tuhan yang melepaskanku dari cakar singa dan cakar beruang, Ia juga yang akan melepaskanku dari tangan orang Filistin itu.”
Sumber daya yang Tuhan sudah berikan kepada kita, bukan untuk kita pendam, tetapi untuk kita kerahkan seluruhnya di dalam mencapai rancangan Allah. Karena itu adalah untuk kita sendiri didalam menjalani masa depan.

1 Timotius 3:6 Janganlah ia seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman Iblis.

Oleh karena itu ada suatu standar kematangan yang dibutuhkan bagi kita yang melayani. Ketika kita sudah menjadi pelayan Tuhan, hal itu tidak semata-mata hanya ibadah, tetapi kita melayani orang yang beribadah, melayani umat Tuhan. Orang yang baru bertobat saja diberikan peringatan, apalagi yang belum bertobat. Sebab kalau ia baru bertobat, ia hanya bermodalkan suatu gairah yang begitu rupa tetapi masih kurang pengalaman, apalagi jika gereja tidak mendidiknya melainkan hanya memberikannya jabatan, Sehingga orang itu hanya menganggap posisinya sebagai suatu jawatan dan bukan peperangan rohani. Orang tersebut dapat menjadi sombong karena posisi jabatan tersebut dan karena belum adanya pengalaman. Sehingga dikatakan jangan sampai kena hukuman iblis.
Jadi keempat faktor inilah, yaitu kelahiran, didikan, anugerah Allah, dan pengalaman yang membentuk dasar yang diatasnya masa depan kita sedang di bangun. Jika kita mengabaikan 4 faktor ini yang Tuhan sudah berikan, jangan salahkan Tuhan jika kita tidak mencapai apapun. Jadi kita temukan dulu diri kita secara manusia jasmani dan manusia rohani oleh karena iman. Harus ada keseimbangan dalam pertumbuhan kita. Kita akan sulit untuk menetapkan langkah jika kita belum mengetahui sumber daya yang ada dalam diri kita, jika ini kita sudah temukan baru kita bisa melangkah, dan menjalani visi Allah. Jika sudah menginventarisasi hal-hal di atas, berarti kita sudah siap untuk menjalani masa depan dan menghadapi tantangan serta kesempatan-kesempatan. Karena masa depan tetap ada tantangan dan selalu ada kesempatan, karena hidup ini adalah kesempatan. Temukanlah apa yang Tuhan sudah taruh dalam diri kita sehingga kita dapat menjalani masa depan kita dengan visi Allah, terus naik dan tidak turun, menjadi kepala dan bukan ekor.

By : Pdt. R.F Martino