Category Archives: KOTBAH
PERJAMUAN KUDUS
1 Korintus 11:23-25 “Sebab apa yang telah kuteruskan kepadamu, telah aku terima dari Tuhan, yaitu bahwa Tuhan Yesus, pada malam waktu Ia diserahkan, mengambil roti dan sesudah itu Ia mengucap syukur atasnya; Ia memecah-mecahkannya dan berkata: “Inilah tubuh-Ku, yang diserahkan bagi kamu; perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku!” Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!””
Gereja-gereja mengadakan Perjamuan Kudus secara bervariasi: ada yang setahun 2x, sebulan sekali, setiap minggu, dan ada yang setiap hari. Tuhan Yesus dan para rasul memang tidak menetapkan Perjamuan Kudus harus dilakukan seberapa sering. Namun dalam peribadatan jemaat mula-mula, mereka mengadakan Perjamuan Kudus setiap hari, baik dalam peribadatan di halaman Bait Allah maupun peribadatan di rumah-rumah.
Kisah Para Rasul 2:46 “Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati”
Pada zaman gereja mula-mula, mereka tidak memiliki gedung gereja. Mereka beribadah di dalam Bait Allah namun hanya di halamannya saja. Selain itu mereka juga beribadah di rumah-rumah. Karena itu kita tidak perlu kecil hati jika saat ini kita belum memiliki gedung gereja. Kemudian pada tahun 70Masehi, Bait Allah dihancurkan, maka orang percaya beribadah di rumah-rumah. Orang percaya baru memiliki gedung gereja yang megah mulai pada zaman Kaisar Constantine di awal abad ke-4 (tahun 300-an Masehi) yang membangun banyak gereja. Di Tiongkok, ada gedung gereja yang diakui pemerintah, namun peribadatannya dan isi khotbahnya sangat diawasi oleh pemerintah. Maka banyak orang Kristen di Tiongkok yang lebih memilih menghadiri “gereja bawah tanah” yang beribadah dengan sembunyi-sembunyi di rumah-rumah karena disana mereka dapat mendengarkan Firman Tuhan yang murni. Namun pilihan itu beresiko karena jika ibadah mereka digerebek dan mereka ditangkap, mereka bisa dijatuhi hukuman dari pemerintah.
A. MENGENAI PERJAMUAN KUDUS
1. Mengadakan Perjamuan Kudus adalah perintah Tuhan (1 Korintus 11:23).
2. Ada 2 unsur yang digunakan yaitu roti dan anggur: – Roti yang digunakan adalah roti yang tidak beragi. – Sedangkan anggur yang digunakan dalam Perjamuan Kudus dalam bahasa aslinya adalah jus anggur segar (anggur yang tidak beralkohol).
3. Maksud perintah Tuhan Yesus untuk kita umat-Nya mengadakan Perjamuan Kudus adalah untuk memperingati kematian Tuhan Yesus di kayu salib, dan bukan hanya mengingatnya namun mengalaminya secara nyata dalam hidup kita.
B. APA YANG DIALAMI OLEH TUHAN YESUS DAN APA YANG DIKERJAKAN-NYA BAGI KITA DI KAYU SALIB?
1. Yesus disiksa sampai tubuh-Nya hancur, sampai rupa-Nya bukan seperti anak manusia lagi.
Yesaya 52:13-14 “Sesungguhnya, hamba-Ku akan berhasil, ia akan ditinggikan, disanjung dan dimuliakan. Seperti banyak orang akan tertegun melihat dia — begitu buruk rupanya, bukan seperti manusia lagi, dan tampaknya bukan seperti anak manusia lagi”
Mengapa demikian? Karena alat penyiksaan bangsa Romawi.
– Mahkota duri yang dikenakan berasal dari tanaman duri yang berukuran besar dan ditancapkan ke kepala-Nya.
-Badan-Nya dicambuk berkali-kali dengan cambuk Romawi yang terdiri atas 5 cabang dengan masing-masing cabang terdapat ujung berduri yang menancap dan mencabik daging tubuh-Nya. Maka setiap 1 cambukan, ada 5 ujung berduri yang mencabik tubuh-Nya. – Paku-paku besar menancap pada tangan dan kaki-Nya.
2. Yesus mengalami penghinaan dan penyiksaan/hukuman yang terberat sekalipun Ia tidak bersalah. Yesus tidak layak dihukum mati, namun Ia mendapat ketidakadilan.
Yesaya 53:3 “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.”
3. Yesus disiksa dan disalibkan karena menanggung penyakit dan kelemahan kita.
Yesaya 53:4 “Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.”
Saat kita melakukan Perjamuan Kudus, imani ada kuasa mujizat kesembuhan atas semua penyakit dan kelemahan kita. Bukan karena roti dan anggurnya, namun oleh karena iman di dalam Yesus, maka kita mengalami kesembuhan.
4. Yesus mati oleh karena kejahatan dan dosa kita.
Yesaya 53:5-7 “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian. Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.”
Mungkin kita tidak melakukan kejahatan yang besar menurut hukum negara, namun di hadapan Tuhan semua dosa upahnya adalah maut. Maka Yesus menebus kita dari segala dosa.
5. Yesus menebus kita agar kita tidak lagi hidup dalam dosa tetapi hidup di dalam kebenaran. Rasul Petrus menegaskannya dalam surat 1 Petrus 2:24 “Ia sendiri telah memikul dosa kita di dalam tubuh-Nya di kayu salib, supaya kita, yang telah mati terhadap dosa, hidup untuk kebenaran. Oleh bilur-bilur-Nya kamu telah sembuh.”
6. Yesus mati untuk membebaskan kita dari segala kutuk.
Galatia 3:13 “Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada tertulis: “Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib!””
Tuhan Yesus membebaskan kita dari kutuk:
– Kutuk nenek moyang akibat pelanggaran kepada hukum-hukum Tuhan misalnya kutuk karena penyembahan berhala.
– Kutuk turunan dari nenek moyang akibat dosa-dosa seperti percabulan/kawin cerai, dll.
– Kutuk kemiskinan, kegagalan, dll.
7. Yesus mati untuk membebaskan kita dari perhambaan dosa.
Ibrani 2:14-15 “Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut; dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.”
Mungkin saat ini ada diantara jemaat yang mengalami keterikatan dengan dosa. Di dalam kematian Yesus di kayu salib, kita dibebaskan dari segala perhambaan/keterikatan dosa.
8. Yesus mati untuk membebaskan kita dari kutuk kemiskinan dan kegagalan.
2 Korintus 8:9 “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.”
Galatia 3:14 “Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.”
Apa berkat Abraham itu? Kejadian 12:1-3 “Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”
Mungkin ada yang sudah bekerja keras namun sepertinya hasilnya tidak maksimal, maka kita perlu meminta Tuhan meatahkan kutuk kemiskinan dan kegagalan dalam hidup kita.
By : Pdt. dr. Mediati Martino
PERSEMBAHAN ATAU SUMBANGAN
Suatu saat ada seorang istri datang kepada saya, dia menceritakan suatu pergumulannya yaitu bahwa pada saat dia belum berkeluarga (masih berstatus bujang) segala sesuatu dia bisa memutuskan segala sesuatunya sendiri. Tetapi setelah dia memutuskan untuk menikah, yang berarti dua menjadi satu, segala keputusan harus ada kata sepakat. Nah, kesepakatan inilah yang menjadi suatu pergumulan. Suaminya memiliki suatu pemahaman yang berbeda dengan dirinya, segala sesuatu harus dikonfirmasikan dengan suaminya, jika hal itu tidak sesuai dengan pemahamannya maka akanmenimbulkan suatu permasalahan. Tapi jika ia mengikuti apa yang menjadi pemikiran suaminya, itu juga menjadi pergumulan bagi pribadinya, karena dia adalah pribadi yang ingin menyenangkan hati Tuhan, ketika ia ingin melakukan pemberian sesuatu untuk pekerjaan Tuhan, suaminya tidak sepaham dengan dia dengan berkata “Kita bukan orang kaya”.
Ketika harus makan keluar bersama-sama dengan temannya yang lain, dia juga tidak mau ditraktir terus, maka ia berinisatif untuk membayarnya. Setiba dirumah suaminya marah dan berkata bahwa mereka bukan orang yang kaya dan jangan berlaku boros. Akhirnya sang istri harus membuat kebijakan-kebijakan agar dia tetap bisa berbuat untuk pekerjaan Tuhan.
Banyak orang yang memahami firman tapi belum tentu mau melakukannya, tapi bagi orang yang tahu firman dan memahami serta mau melakukan dan dia tahu bahwa hidup ini hanya sesaat dan adalah suatu kesempatan dan waktu yang Tuhan berikan tidak akan pernah terulang kembali dan disaat kita mau melakukan sesuatu belum tentu waktu itu terulang kembali
Markus 12:41-44 41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar. 42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit. 43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. 44 Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”
Menurut KBBI:
Arti persembahan adalah:hadiah; pemberian (kepada orang yang terhormat)
Arti Sumbangan adalah:
1. Pemberian sebagai bantuan
2. Bantuan; sokongan; manasuka
Apa arti persembahan menurut Yesus?
Persembahan adalah memberikan/mengembalikan yang TERBAIKdari apa yang telah Tuhan berikan.
TERBAIK: Bukan dari nilai jumlahnya tapi nilai pengorbanan yang ada di dalam pemerian tersebut.
Perhatikan ayat berikut ini
Markus 12:41 Pada suatu kali Yesus duduk menghadapi peti persembahan dan memperhatikan bagaimana orang banyak memasukkan uang ke dalam peti itu. Banyak orang kaya memberi jumlah yang besar
Markus 12:42 Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.
Dua “peser” bahasa Yunani “lepton” adalah satuan mata uang Yahudi yang nilainya paling kecil. Satu peser (Lepton) nilainya setengah duit, sehingga dua peser berarti satu duit.
Kain itu terbuat dari perunggu digunakan pada masa Alexander Janus, Kaisar Romawi yang berkuasa pada tahun 103-76 SM.
1 Keping Alexander Janus = 1/8 sen.
Jika menggunakan kurs dollar 1 Keping janda miskin nilainya 1/8 dari Rp. 14.185 = + Rp. 1.775
2 x Rp. 1.775 = Rp. 3.550. Koin Alexander Janus yang dikenal dengan Koin Janda Miskin
Markus 12:43 Maka dipanggil-Nya murid-murid-Nya dan berkata kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan.
Cara pandang Tuhan dan matematikanya Tuhan tidak sama dengan cara pandang dan matematika kita.
Mengapa persembahan janda miskin itu lebih banyak dari semua yang memberi.Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya.Semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya, berarti sama dengan mempersembahkan hidupnya. SIKAP HATI yang TOTAL kepada Allah.Bukan yang sisa, bukan hanya asal memberi. PERSEMBAHAN YANG DIKEHENDAKI TUHAN.
Pada tahun 1993, saya sekolah Alkitab tingkat ke-3 di Surabaya. Selama di sekolah alkitab, saya benar-benar hidup oleh iman. Keluarga besar, sahabat saya dan semua rekan-rekan yang lain tidak menyetujui keputusan saya untuk masuk sekolah alkitab (menjadi hamba Tuhan fulltime), karena mereka menganggap bahwa menjadi hamba Tuhan tidak memiliki masa depan, bahkan mereka mengeluarkan kata-kata penghakiman bahwa jangan menjadi hamba Tuhan sebagi pelarian saja, karena saya berasal dari keluarga broken home.
Awal menjadi hamba Tuhan juga adalah pergumulan iman bagi saya. Selama sekolahpun saya juga terus hidup oleh iman. Ibu saya juga sering menanyakan apa yang menjadi kebutuhan saya, saya menjawab bahwa semua sudah tercukupkan, meskipun semua pas-pasan bahkan kurang. Tapi saya mau membuktikan bahwa menjadi hamba Tuhan itu bukan pengemis.
Pada waktu kelas 3 dan mendekati Bulan Juni itu mendekati penamatan, saya dipercayakan untuk melayani musik, yang berarti saya akan tampil di depan. Pergumulan saya waktu itu adalah sepatu saya yang sudah rusak dan tinggal ditambal dengan lem. Baju putih saya juga sudah mulai berubah warna. Saya berdoa untuk minta berkat membeli sepatu dan baju putih. Akhirnya ada om saya datang ke asrama dan memberi berkat buat saya. Selama menjadi hamba Tuhan fulltime itulah awal saya mendapat berkat yang menurut saya cukup banyak. Puji Tuhan saya bisa membeli sepatu dan baju putih yang baru. Malamnya sebelum saya tidur saya mendengar ada suara isak tangis, ternyata itu adalah teman saya yang sedang bergumul karena belum melunasi uang sekolah. Kalau ia tidak membayarnya maka ia tidak akan mengikuti penamatan dan tidak bisa diutus ke ladang pelayanan.
Dalam hati kecil Tuhan berkata bahwa saya harus memberikan uang itu kepadanya. Saya sempat mengabaikan, tapi semalaman saya tidak bisa tidur. Keesokan harinya sebelum berangkat doa pagi, saya berikan amplop berkat itu kepadanya. Dia memeluk saya dan sangat berterima kasih. Saya katakan saya hanya sarana yang Tuhan pakai.
Uang yang sisa sedikit saya belikan lem untuk menambal kembali sepatu agar masih bisa dipakai untuk penamatan.
Setiap acara GPPS secara nasional, saya berjumpadengan teman saya tersebut, hati kami sama-sama bersukacita karena kami sama-sama tetap melayani Tuhan.
Jadi, memberi di tengah-tengah kekurangan bukanlah hal yang mudah dan tidak masuk di akal. Tapi sesungguhnya bukan nilai jumlahnya yang Tuhan perhitungkan tapi nilai pengorbanan yang ada di dalamnya. Firman Tuhan berkata “Tidakkah Aku akanmembukan tingkap-tingkap langitku memberkatimu?”
Berkat kesehatan dan finasial, semuanya itu berasal dari Tuhan. Dan Tuhan menghendaki kita menjadi manajer-manajernya Tuhan yang hidupnya benar dan selalu berpadan pada firman Tuhan.
Janda itu memberikan semuanya untuk Tuhan dia tidak berpikir itu adalah pengorbanan karena hatinya yang mengasihi Tuhan. Janda itu TOTAL dalam memberikan persembahan.
I Raja-Raja 17:1-16 dikisahkan ada seorang janda di Sarfat yang juga mengasihi Tuhan dengan memberikan apa yang ada padanya. Lagi-lagi Tuhan memakai seorang janda miskin. Janda di Sarfat ini juga adalah seorang yang mencintai Tuhan, dapat kita ketahui di 1 Raja-Raja 17:14-15 “Sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Tepung dalam tempayan itu tidak akan habis dan minyak dalam buli-buli itu pun tidak akan berkurang sampai pada waktu TUHAN memberi hujan ke atas muka bumi.” Lalu pergilah perempuan itu dan berbuat seperti yang dikatakan Elia; maka perempuan itu dan dia serta anak perempuan itu mendapat makan beberapa waktu lamanya.
Jandaitu SEGERA melakukannya.
Tanpadisadari terkadangkita membiarkan kutuk kemiskinan ada pada diri kita sendiri.Menganggap bahwa “saya tidak mampu”, saya bukan orang kaya”, dll sedangkan kita harus mematahkan perkataan tersebut. Jangan pernah punya mental miskin. Andai keadaan kondisi riilnya adalah demikian pandanglah Tuhan yang besar yang mempunyai segala sesuatu. Mungkin sekarang kita belum melihat tapi jangan pernah putus pengharapan. Pengharapan di dalam Tuhan tidak kan pernah sia-sia.
TOTALITAS yang dimaksud adalah: SIKAP HATI yang berkaitan erat dengan KASIH kita kepada Allah.Kasihberbicaratentangpengorbanan.
PERSEMBAHANituberupaapasaja?Waktu, tenaga, danfinansial
Apakah dalam hal-hal di bawah ini kita melakukan PERSEMBAHAN atau SUMBANGAN?
a. Waktu
– Sekolah/kuliah sungguh-sungguh
– Melakukan kodrat tanggungjawab (masing-masing bekerja sesuai kodratnya)
Suami atau istri yang tidak melakukan kodratnya berarti hanya memberikan sumbangan-sumbangan kepada pasangan hidupnya tanpa kasih yang mendasarinya, yang didalamnyaadanilaipengorbanan.
– Pelayanan di gereja lokal (kerja bakti,dll). Jangan jadikan pelayanan sebagai sesuatu yang membebani tapi lakukanlah dengan kasih.
– Berdoa bagi bangsa, persembahkanwaktukitauntukberdoabagibangsadannegeri Indonesia
– Ber-PI, persembahkanwaktu
b. Tenaga
Bagi generasi remaja, apakah orang tua bangga dengan kita? Bagi generasi dewasa, apakah di pekerjaan kita sudah memuliakan Tuhan. Markus 12:30 “KasihilahTuhan, Allahmu, dengansegenaphatimudandengansegenapjiwamudandengansegenapakalbudimudandengansegenapkekuatanmu.”
c. Finansial
– Kolekte, memberikanyang terbaikuntukTuhan. Janganlah memberikan persembahan yang asal-asalan buat Tuhan. Persembahan harus disertai dengan nilai pengorbanan dan yang terbaik
– Proyek pembangunan gereja, kitasiapmembangundengan target 2 tahun.
Maukah kita memiliki sikap hati seperi janda ini, yang mau memberi total kepada Tuhan tanpa harus menunggu menjadi kaya. Jangan pernah berkata bahwa kita masih pas-pasan. Itu sama dengan mengatakankutuk kemiskinan dan mengijinkan kutuk itu terjadia dalam hidup kita. Kita punya Tuhanyang kaya. Andai berkat itu tertunda, kita perlu intropeksi diri, apakah kita belum siap menerimanya atau ada sesuatu yang Tuhan lakukan indah pada waktunya. Tuhan tidak pernah merancangkan keburukan dalam hidup kita. Berikanlah persembahan kepada Tuhan bukan sumbangan.
By : Pdt. Lea Novitasari
Mengalami Kuasa Kebangkitan Kristus Membentuk Hidup Serupa Dengan Kristus
Filipi 3:1-161a Akhirnya, saudara-saudaraku, bersukacitalah dalam Tuhan. 3:1b Menuliskan hal ini lagi kepadamu tidaklah berat bagiku dan memberi kepastian kepadamu.2 Hati-hatilah terhadap anjing-anjing, hati-hatilah terhadap pekerja-pekerja yang jahat, hati-hatilah terhadap penyunat-penyunat yang palsu,3 karena kitalah orang-orang bersunat, yang beribadah oleh Roh Allah, dan bermegah dalam Kristus Yesus dan tidak menaruh percaya pada hal-hal lahiriah.4 Sekalipun aku juga ada alasan untuk menaruh percaya pada hal-hal lahiriah. Jika ada orang lain menyangka dapat menaruh percaya pada hal-hal lahiriah, aku lebih lagi:5 disunat pada hari kedelapan, dari bangsa Israel, dari suku Benyamin, orang Ibrani asli, tentang pendirian terhadap hukum Taurat aku orang Farisi,6 tentang kegiatan aku penganiaya jemaat, tentang kebenaran dalam mentaati hukum Taurat aku tidak bercacat.7 Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.8 Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,9 dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.10 Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,11 supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.12 Bukan seolah-olah aku telah memperoleh hal ini atau telah sempurna, melainkan aku mengejarnya, kalau-kalau aku dapat juga menangkapnya, karena aku pun telah ditangkap oleh Kristus Yesus.13 Saudara-saudara, aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku,14 dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.15 Karena itu marilah kita, yang sempurna, berpikir demikian. Dan jikalau lain pikiranmu tentang salah satu hal, hal itu akan dinyatakan Allah juga kepadamu.16 Tetapi baiklah tingkat pengertian yang telah kita capai kita lanjutkan menurut jalan yang telah kita tempuh.
1 Korintus 15:17 Dan jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kamu dan kamu masih hidup dalam dosamu.
Setiap kita harus dapat mengalami secara riil apa yang menjadi hasil dari pengorbanan Kristus. Bukan hanya urusan akhirat saja yaitu mati masuk surga, tetapi juga kehidupan di dunia yang masih kita jalani.
Tuhan menetapkan bahwa orang percaya harus hidup oleh iman, sementara manusia lahiriah kita sudah terformat hidup dengan unsur jiwani. Orang yang sudah terima Yesus, berarti ia sudah lahir baru maka ia harus hidup oleh iman dimana fungsi roh yang hanya dipakai bernafas harus mengambil alih segala aktivitas, apapun bentuknya, karena itulah yang dapat membawa pribadi tersebut bisa melakukan Firman.
Iman datang dari mendengar firman, ketika Firman hanya sekedar pengetahuan, maka itu hanya akan tersimpan di akal jiwani, sehingga seringkali kita gagal untuk dapat menikmati kuasa kebangkitan Kristus karena kekuatan unsur jiwani ini terbatas untuk melakukan semua perintah Tuhan.
Jika Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah kepercayaan kita, menjadi sia-sia karena kita tetap hidup dalam dosa dan status kita tetap orang berdosa. Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselamat, saat itu kita dikuduskan disucikan dari segala dosa. Tetapi jika Yesus tidak bangkit maka sia-sialah apa yang kita percayai karena semua hanyalah peristiwa salib yang tidak menghasilkan apa-apa dan kita semua masih berstatus menjadi orang yang berdosa.
Ketika kita berbicara tentang iman, kita semua sudah menjadi orang percaya dan kita semua sudah menjadi anak Tuhan. Bagaimana dengan kedahsyatan kuasa kebangkitan Kristus itu di dalam kehidupan kita sebagai orang percaya? Apakah kita sudah mengalaminya? Firman Tuhan berkata bahwa roh yang ada di dalam kamu lebih besar kuasanya daripada segala yang ada dalam dunia, lalu di mana kuasa kebangkitan Kristus dalam hidup sehari-hari?
Kedahsyatan iman masuk surga umumnya dimiliki oleh orang-orang yang sudah lahir baru. Tetapi jangan lupa bahwa kita masih hidup di dunia. Setelah kita menjadi orang percaya kita ditetapkan untuk hidup oleh iman yaitu selama hidup di dunia.
Di dalam Filipi 3,Paulus menjelaskan bahwa dirinya adalah seorang yang taat dalam menjalani kehidupan Taurat. Latar belakang Paulus adalah seorang yang sangat taat dalam menjalankan kehidupan agama. Secara intelektual, ia adalah orang terpelajar dan memiliki intelektual yang luar biasa. Ia adalah seorang Farisi, sangat terhormat dalam hal kedudukan sebagai seorang pejabat. Setelah ia menjadi orang percaya, apa yang ia miliki dan yang telah ia capai yang dianggap mulia bagi dunia, ia menganggapnya sebagai sampah. Kemuliaan dunia bagi Paulus, ia anggap sebagai sampah karena pengenalan akan Kristus. Apakah kita setelah menjadi orang percaya memiliki pemahaman yang sama seperti Paulus?
Ketika kita sudah sampai kepada pemahaman seperti Paulus, maka tidak ada satupun kemuliaan dunia yang dapat menggugurkan iman kita sebagai orang percaya. Hal ini bukan berarti kita tidak bertanggung jawab terhadap segala bentuk material yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Tetapi kita mengerti bahwa Tuhan jauh lebih utama dari semuanya itu.
Paulus adalah seorang yang taat dalam menjalankan kehidupan agamawinya tetapi kehidupan agamawi yang ia miliki membawanya menjadi seorang penganiaya dan pembunuh jemaat Tuhan. Setelah ia menerima Kristus, ada kuasa kebangkitan yang mengubah hidupnya. Seorang Saulus pembunuh berubah menjadi Paulus,rasul Allah. Ia menemukan makna kehidupan melalui kuasa kebangkitan Kristus. Jadi kuasa kebangkitan Kristus pun harus nyata di dalam hidup kita sebagai orang percaya.
Dalam Kolose 3:5 dikatakan bahwa orang percaya harus mematikan segala sesuatu yang duniawi. Itu bukanlah bagian Tuhan tetapi bagian kita untuk dikerjakan. Jadi kalau kita tidak bertindak, jangan kecewa jika Tuhan tidak menolong. Harus ada kemauan dari diri kita untuk melakukannya karena Tuhan tidak pernah memaksa kita. Jika Tuhan menyuruh kita untuk melakukan, tentunya hal ini dapat dilakukan karena kita memiliki iman yaitu ketaatan melakukan Firman selama hidup di dunia.
Jika kita mau memiliki karakter Kristus, maka kitaakanmentaatisetiap firman Tuhan danitu yang akan selalu memperbarui kita. Tetapi jika semua karakter manusia lama ini masih ada dalam diri kita berarti kita belum meninggalkannya dan kita belum hidup oleh iman.
Kita perlu hidup oleh iman supaya masalah apapun yang ada dapat kita hadapi dan kita tidak hanyut ataupun hidup didalam pengeluhan dan menghujat Allah. Kuasa kebangkitan Kristus ini harus kita alami karena ada kekuatan dahsyat di dalam diri kita untuk menyelesaikan segala hal, untuk membawa karakter kita terbentuk dalam memuliakan Tuhan. Sehingga kuasa kebangkitan Kristus tidak menjadi sia-sia tetapi kita dapat alami dalam kehidupan kita dan kita menanggalkan semua yang tidak benar itu dan kita dibebaskan dari segala hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan.
Efesus 4:17-24 17Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia 18dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka. 19Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran. 20Tetapi kamu bukan demikian. 21Kamu telah belajar mengenal Kristus. Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,22yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, 23supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, 24dan mengenakan manusia baru, yang telahdiciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
Dikatakan bahwa manusia baru diciptakan menurut kehendak Allah dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya. Hal ini berarti berarti ada kekudusan yang tidak sungguh yaitu kemunafikan. Karena terselubung dan tidak diketahui aslinya. Karena orang ini tidak mau menanggalkan manusia lama, sehingga ia sendiri tidak bersedia dibaharui oleh Tuhan. Kita akan dibaharui kalau kita ada kemauan untuk menanggalkan hal itu.
Orang yang mencuri jangan mencuri lagi tetapi ia harus bekerja keras dan melakukan pekerjaan yang baik dengan tangannya sendiri supaya ia dapat membagikan sesuatu kepada orang yang berkekurangan. Dalam ayat ini dapat kita lihat bahwa Tuhan sangat menghargai orang yang bekerja keras.
Jangan ada perkataan kotor yang keluar dari mulut kita. Selain mulut, kita juga harus menjaga jari-jari tangan kita ketika menggunakan media sosial. Ketika kita mendapatkan suatu postingan dimana ada unsur-unsur menyinggung pihak-pihak tertentu, tidak perlu disebarkan. Karena dalam perundang-undangan penyebar informasi yang tidak benar dapat dijerat oleh hukum. Sebaliknya, kita harus memberikan pencerahan yang benar sesuai kebenaran. Kita percaya bahwa segala apa yang Tuhan berikan adalah baik, hal ini berarti kita tidak bisa memaksa Tuhan untuk memenuhi keinginan kita.
Kuasa kebangkitan Kristus ini harus kita alami, supaya ada kemenangan atas diri sendiri untuk taat kepada Firman baru kita bisa melakukan hal-hal berikutnya.
By : Pdt. R.F Martino
JANJI IMAN / NAZAR (Bagian2)
1 Korintus 11:25 “Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!””
Betapa dahsyat perjanjian Tuhan kepada kita: Perjanjian Baru yang dimeteraikan dengan darah Kristus sehingga kita tidak lagi disebut “orang berdosa” tetapi disebut “anak-anak Allah”. Dalam ayat lain dikatakan bahwa perjanjian Tuhan diikat oleh sumpah sehingga tidak ada alasan lagi bagi kita untuk meragukan janji Allah.
Minggu lalu kita sudah belajar bahwa nazar adalah janji kita (kepada Tuhan) untuk melakukan sesuatu jika apa yang kita harapkan terkabul. Janji Tuhan pasti Ia tepati namun bagaimana dengan janji kita kepada Tuhan? Sebagian orang percaya sudah menepati janjinya kepada Tuhan, tetapi sebagian orang percaya belum menepati janji mereka kepada Tuhan. Padahal kita harus memahami bahwa janji iman/nazar adalah utang.
Ulangan 23:21-23 “Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu. Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri.”
Jika seseorang salah mengerti dengan ayat diatas maka orang menjadi takut bernazar. Padahal maksud ayat diatas adalah supaya:
– Kita tidak terburu-buru bernazar
– Bila bernazar, kita harus menepatinya.
Pemahaman yang keliru akan menghasilkan sikap yang keliru. Sikap yang keliru akan menghasilkan perbuatan yang keliru. Maka kita perlu memahami perihal nazar dengan benar.
1. Nazar umumnya dilaksanakan dalam masa-masa sukar, tetapi bukan jalan pintas untuk menyelesaikan masalah.
Sekalipun nazar bukan jalan pintas untuk menyelesaikan masalah, namun kita telah memahami bahwa kedahsyatan nazar dapat menyelesaikan masalah. Selain itu, dalam bernazar kita harus melakukannya dengan iman, bukan hanya karena sekedar terdesak oleh tekanan masalah.
Bagaimana dengan “janji iman”? Janji iman seringkali dianggap enteng oleh orang percaya karena tidak dilakukan oleh mereka pada masa sukar. Padahal “janji iman” yang kita lakukan bukanlah janji kepada manusia/gereja tetapi janji kepada Tuhan.
2. Nazar dilakukan dengan segenap eksistensi diri.
Jadi nazar itu dilakukan dari hati dengan melibatkan segenap keberadaan/apa yang ada pada kita, untuk menepati apa yang kita nazarkan.Jadi dalam melakukan nazar tidak ada tekanan/paksaan.
Saat ini nazar dalam istilah lain “janji iman”, justru dianggap ringan oleh banyak orang percaya. Mereka berpikir “tulis saja dulu sekian yang akan saya berikan nanti kapan-kapan baru dilunasi”. Ini menyebabkan banyak orang percaya tidak berusaha untuk melunasi/melakukan apa yang dijanjikan/dinazarkan. Padahal seharusnya setiap orang percaya berupaya untuk melunasi/melakukan nazarnya.
3. Nazar dilakukan dari iman yang tulus ikhlas.
Jadi saat bernazar, itu bukan hanya perkataan biasa yang diucapkan kepada Tuhan tetapi perkataan yang disertai oleh iman yang tulus ikhlas.
Iman yang tulus ikhlas adalah iman yang melakukan segala sesuatu karena mengasihi Tuhan, bukan karena ada maksud tersembunyi. Dan iman yang tulus ikhlas pasti disertai perbuatan.
2 Timotius 1:5 “Sebab aku teringat akan imanmu yang tulus ikhlas, yaitu iman yang pertama-tama hidup di dalam nenekmu Lois dan di dalam ibumu Eunike dan yang aku yakin hidup juga di dalam dirimu.”
Nilai iman tidak bisa dilihat dari peragaan dari kegiatan-kegiatan rohani seperti doa dan puasa sekalipun doa dan puasa adalah bagian dari perbuatan iman. Nilai iman hanya bisa dilihat melalui perbuatan yang nyata. Maka jika Paulus berkata bahwa nenek Lois dan ibu Eunike memiliki iman yang tulus ikhlas, berarti Paulus pernah merasakan/menikmati kebaikan hati nenek Lois dan ibu Eunike.
Jika ayat diatas berkata ada iman yang tulus ikhlas, berarti ada iman yang tidak tulus ikhlas yaitu iman yang melakukan segala sesuatu untuk maksud lain misalnya untuk kepujian.
Filipi 1:15-18 “Ada orang yang memberitakan Kristus karena dengki dan perselisihan, tetapi ada pula yang memberitakan-Nya dengan maksud baik. Mereka ini memberitakan Kristus karena kasih, sebab mereka tahu, bahwa aku ada di sini untuk membela Injil, tetapi yang lain karena kepentingan sendiri dan dengan maksud yang tidak ikhlas, sangkanya dengan demikian mereka memperberat bebanku dalam penjara. Tetapi tidak mengapa, sebab bagaimanapun juga, Kristus diberitakan, baik dengan maksud palsu maupun dengan jujur. Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita”
Jadi sejak zaman dulu Paulus menemukan ada hamba Tuhan atau pelayan Tuhan yang melayani tetapi masih memiliki dengki dan perselisihan.
Pada masa sekarang ini kita menemukan ada gereja yang berdiri diatas dasar perselisihan dengan gereja sebelumnya. Selain itu, dalam gerakan/pelayanan oikumene, ada juga hamba Tuhan/gereja yang memiliki maksud yang tidak tulus ikhlas yaitu melakukan kegiatan kebersamaan dengan tujuan untuk menjaring jemaat gereja orang lain. Karena itu kita perlu memahami pentingnya berkoordinasi dengan Tim Penggembalaan GPPS Palu jika hendak mengikuti atau melayani suatu acara oikumene (KKR/Seminar) karena Tim Penggembalaan GPPS Palu akan menolong kita memahami hal ini. Pelayanan oikumene seharusnya dilakukan dengan kemurnian.
Begitupun nazar/janji iman harus dilakukan diatas dasar ketulusan karena mengasihi Tuhan. Maka kita harus segera melakukan apa yang kita nazarkan dengan ketulusan kita.
4. Nazar membawa kita melatih diri dalam iman menjadi pasti dengan Tuhan.
Memang kita memahami bahwa janji Tuhan ya dan amin. Tetapi untuk kita mencapai tingkat keyakinan penuh pada janji Tuhan ada proses. Nazar adalah salah satu pelatihan bagi kita untuk menjadi pasti dengan Tuhan.
5.Nazar membawa kita masuk dalam pengalaman iman bersama Tuhan.
Kita telah memahami bahwa Iman bertumbuh melalui pengalaman iman – bukan hanya pengalaman hidup tetapi pengalaman iman. Melalui nazar kita akan melihat kedahsyatan Tuhan atas hidup kita. Maka nazar akan membawa kita masuk dalam pengalaman iman bersama Tuhan sehingga iman kita semakin bertumbuh di dalam Dia.
By : Pdt. R. F. Martino
JANJI IMAN = NAZAR
1 Korintus 11:25 “Demikian juga Ia mengambil cawan, sesudah makan, lalu berkata: “Cawan ini adalah perjanjian baru yang dimeteraikan oleh darah-Ku; perbuatlah ini, setiap kali kamu meminumnya, menjadi peringatan akan Aku!”
Melalui penebusan darah Kristus dengan ikatan perjanjian darah, kita bukan lagi orang berdosa namun menjadi anak-anak Allah. Bahkan Allah bersumpah demi diri-Nya sendiri. Seharusnya kita tidak perlu mempersoalkan janji Tuhan karena janji Tuhan begitu kuat dan Tuhan tidak mungkin ingkar janji. Jika ada janji Tuhan belum tercapai dalam hidup kita, persoalannya bukan pada Tuhan namun pada kita. Jadi kita-lah yang harus mencari tahu dari diri kita mengapa sampai janji Tuhan itu belum tergenapi.
Jadi, tidak ada masalah dengan janji dari pihak Tuhan, namun bagaimana dengan janji kita kepada Tuhan?
I. APA ITU NAZAR?
Istilah “Janji Iman” saat ini lebih populer dikalangan Kristen. Namun sayangnya istilah ini seakan dianggap ringan. Padahal sesungguhnya “Janji Iman” sama dengan “Nazar” bahkan arti “Janji Iman” lebih dalam.
“Nazar” (menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah akan berbuat/melakukan sesuatu apabila suatu maksudnya tercapai. Secara rohani, “Nazar” adalah ikatan janji dengan Tuhan. Bentuknya bermacam-macam. Ada yang bentuknya uang, ada yang bentuknya suatu perbuatan, ada yang bentuknya diri kita, dll.
Orang-orang yang bernazar adalah orang-orang yang sedang mengalami masa yang sulit. Mereka menghadapi jalan buntu dan harus mengambil keputusan untuk menyelesaikan persoalan itu. Namun karena mereka menyadari bahwa hanya Tuhan yang bisa menolong mereka, maka mereka menyampaikan maksudnya kepada Tuhan, dan disitulah ia berjanji kepada Tuhan apa yang akan ia lakukan apabila Tuhan menolongnya untuk menyelesaikan masalahnya.
II. TOKOH ALKITAB YANG PERNAH BERNAZAR
Kita akan melihat contoh 2 tokoh Alkitab yang pernah bernazar:
1. Yakub
Kejadian 28:18-22 “Keesokan harinya pagi-pagi Yakub mengambil batu yang dipakainya sebagai alas kepala dan mendirikan itu menjadi tugu dan menuang minyak ke atasnya. Ia menamai tempat itu Betel; dahulu nama kota itu Lus. Lalu bernazarlah Yakub: “Jika Allah akan menyertai dan akan melindungi aku di jalan yang kutempuh ini, memberikan kepadaku roti untuk dimakan dan pakaian untuk dipakai, sehingga aku selamat kembali ke rumah ayahku, maka TUHAN akan menjadi Allahku. Dan batu yang kudirikan sebagai tugu ini akan menjadi rumah Allah. Dari segala sesuatu yang Engkau berikan kepadaku akan selalu kupersembahkan sepersepuluh kepada-Mu.”
Yakub berada dalam bayang-bayang maut karena dikejar Esau untuk dibunuh. Maka Yakub bernazar kepada Tuhan. Namun apakah masalah Yakub langsung selesai? Tidak! Ia harus bekerja sekian lama dan ditipu oleh Laban, berjuang untuk mendapatkan Rahel sebagai istrinya, dll. Setelah bekerja sekian lama, barulah ia kembali ke negerinya dengan keluarga dan ternak yang sangat banyak. Apa yang Yakub harapkan terjadi / dikabulkan oleh Tuhan dan ia membayar nazarnya. Jadi untuk suatu nazar terjadi, kita tetap harus melakukan bagian kita.
2. Yefta
Saat itu bangsa Israel menghadapi musuh yang kuat yaitu bani Amon, dan Yefta diangkat menjadi pemimpin bagi mereka. Maka Yefta bernazar kepada Tuhan.
Hakim-hakim 11:30-36 “Lalu bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.” Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangannya. Ia menimbulkan kekalahan yang amat besar di antara mereka, mulai dari Aroër sampai dekat Minit — dua puluh kota banyaknya — dan sampai ke Abel-Keramim, sehingga bani Amon itu ditundukkan di depan orang Israel. Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: “Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur.” Tetapi jawabnya kepadanya: “Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena TUHAN telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu.”
Dari kisah diatas kita menemukan bahwa:
– Terlalu mudah bagi Tuhan untuk menepati janji-Nya menolong kita. Jadi jangan mempersoalkan janji Tuhan dalam hidup kita.
– Yefta akhirnya menepati nazarnya kepada Tuhan sekalipun keputusan itu tidak mudah baginya.
III. JANJI TUHAN
Kekuatan janji Tuhan luar biasa dan sudah dibuktikan dan dinyatakan melalui pengorbanan Kristus di kayu salib. Dan perjanjian Tuhan kepada kita bukan hanya persoalan keselamatan di akhirat, namun juga perjanjian bagi kehidupan kita di dunia.
Galatia 3:29 “Dan jikalau kamu adalah milik Kristus, maka kamu juga adalah keturunan Abraham dan berhak menerima janji Allah.”
2 Korintus 1:20 “Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah.”
Jika ada seseorang berutang kepada kita dan sekian lama ia tidak membayar, kita mengultimatum dia untuk membayar utangnya. Saat ia berjanji ia akan membayar besok pukul 8 pagi, maka kita percaya pada janjinya dan kita pasti akan datang lebih awal (misalkan jam 7 pagi). Renungkanlah: Saat manusia berjanji kita mudah sekali percaya. Namun mengapa saat Tuhan berjanji kita tidak percaya?
Dari 2 ayat diatas sekali lagi kita melihat ada jaminan Tuhan bahwa janji-Nya pasti tergenapi dalam hidup orang percaya. Maka kita tidak perlu meragukan dan mempersoalkan janji Tuhan.
IV. SIKAP IMAN ORANG PERCAYA TERHADAP NAZAR
Lalu bagaimana dengan janji/nazar kita kepada Tuhan? Kita perlu memahami bahwa:
1. Nazar tidak dapat ditarik lagi dan nazar itu harus ditepati.
Ulangan 23:21-23 “Apabila engkau bernazar kepada TUHAN, Allahmu, janganlah engkau menunda-nunda memenuhinya, sebab tentulah TUHAN, Allahmu, akan menuntutnya dari padamu, sehingga hal itu menjadi dosa bagimu. Tetapi apabila engkau tidak bernazar, maka hal itu bukan menjadi dosa bagimu. Apa yang keluar dari bibirmu haruslah kaulakukan dengan setia, sebab dengan sukarela kaunazarkan kepada TUHAN, Allahmu, sesuatu yang kaukatakan dengan mulutmu sendiri.”
Seseorang yang bernazar tidak boleh mempedulikan yang lain tetapi fokus untuk menepati nazarnya dan jangan menunda-nunda untuk menepatinya karena kita berdosa jika menunda untuk menepatinya.
Contoh kasus perihal bernazar:
a. Jika nazar itu berbentuk uang, maka kita bisa membayar nazar itu dengan 2 cara. Pertama, kita mulai mencicil membayar nazar itu sedikit demi sedikit, atau cara kedua, kita bisa mengumpulkannya di suatu tabungan sedikit demi sedikit dan setelah jumlahnya cukup/genap sesuai yang kita nazarkan, baru kita serahkan sekaligus.
b. Ada pasangan suami istri yang sekian lama menanti untuk memiliki anak. Karena sekian lama belum mendapatkan maka mereka bernazar kepada Tuhan yaitu apabila Tuhan memberi mereka anak maka anak itu akan diserahkan menjadi hamba Tuhan fulltime / sepenuh waktu. Maka pada kasus seperti ini, orangtua harus menjelaskan kepada anak itu sejak ia masih kecil bahwa ia telah dinazarkan menjadi hamba Tuhan sepenuh waktu supaya ia memahaminya dan tidak menjadi masalah di kemudian hari.
c. Ada anak muda yang sedang putus cinta, bernazar kepada Tuhan bahwa ia akan membujang seumur hidup dan mempersembahkan hidupnya untuk melayani Tuhan. Ternyata setelah beberapa saat, ia melihat lawan jenis dan tertarik padanya. Akhirnya ia menyesali nazarnya. Maka berhati-hatilah dalam bernazar karena nazar tidak dapat ditarik/dibatalkan/”diputihkan”. d. Ada orang yang menjadikan nazar seperti permainan. Seorang pria bernazar bahwa siapa yang keluar pertama kali dari pintu gereja itulah yang akan menjadi pasangan hidupnya. Cara ini tidak benar dan ini adalah orang yang tidak mempergunakan akal sehatnya. Nazar tidak boleh dianggap dan dijadikan mainan seperti kasus diatas.
2. Setiap nazar yang tidak ditepati ada sanksinya.
Pengkhotbah 5:3-5 (Alkitab cetak) / 5:4-6 (Alkitab online) “Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu. Lebih baik engkau tidak bernazar dari pada bernazar tetapi tidak menepatinya. Janganlah mulutmu membawa engkau ke dalam dosa, dan janganlah berkata di hadapan utusan Allah bahwa engkau khilaf. Apakah perlu Allah menjadi murka atas ucapan-ucapanmu dan merusakkan pekerjaan tanganmu?”
Kita selalu berdoa agar Tuhan memberkati pekerjaan tangan kita. Namun ini sanksi dari janji iman/nazar yang tidak ditepati: Tuhan bisa murka dan merusak pekerjaan tangan kita.
V. RAHASIA DIBALIK NAZAR
Jadi jika demikian, apakah lebih baik kita tidak usah bernazar?
Kita perlu memahami bahwa memang ada akibat jika kita tidak menepati nazar, namun bukan berarti kita tidak perlu bernazar! Ada rahasia dibalik nazar.
Inilah rahasia itu: “Salah satu pembuka jalan dalam hidup kita adalah nazar. Salah satu yang membuat Tuhan membuka jalan bagi seseorang adalah saat orang itu bernazar.”
Kita melihat bahwa Yefta sesungguhnya tidak mungkin memenangkan pertempuran melawan bani Amon. Namun saat ia bernazar, Tuhan membuka jalam untuknya. Sayangnya yang terjadi pada banyak orang Kristen adalah setelah Tuhan membuka jalannya, ia berjalan terus dan lupa pada nazarnya. Padahal saat Tuhan sudah membuka jalan, kita harus mengingat nazar kita dan bertindak untuk menepati nazar kita tersebut.
By : Pdt. R. F. Martino
BERSUNGUT-SUNGUT ATAU BERSYUKUR?
I Korintus 10:10 Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilakukan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.
Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
Topik yang akan kita pelajari adalah kejadian yang terjadi dalam keseharian. Perlu kita pahami, bahwa ini adalah pilihan. Bersungut-sungut atau bersyukur? Kita tidak bisa menjadikan alasan bahwa semuanya terjadi karena situasi dan kondisi.
Siapa diantara kita yang tidak pernah bersungut? Kita semua pasti pernah bersungut-sungut.
Bersungut adalah keadaan dimana kita tidak dapat menerima realita yang sedang dihadapi secara standar analisa logika. Pada umumnya hal ini dianggap lumrah .
Kalau kita analisa secara pikiran logika ada beberapa tingkatan bersungut. Misalnya ada yang sudah diajar berulang-ulang tapi tetap membangkang dan tidak mau mendengar, hal ini pastinya akan membuat kita bersungut.
Bersungut akan merusak hubungan kita secara vertikal dengan Tuhan dan juga merusak hubungan secara horisontal dengan sesama dan juga merusak pribadi kita dalam pembentukan kepribadian kita.
Jadi apapun alasannya, hal ini tetap merugikan kita dan kerugiannya banyak, bukan hanya vertikal dan horizontal tapi diri sendiri. Apalagi kalau kita sudah sampai pada tingkat persungutan yang sangat berbahaya yang bisa berurusan dengan Tuhan. Inilah yang terjadi pada Bangsa Israel yang mana semua persungutannya disertai dengan reaksi. Sepertinya sasarannya adalah pada Musa dan Harun tetapi padahal sudah tertuju pada Tuhan.
Jadi tidak boleh kita anggap ini adalah hal alamiah saja, karena semua proses yang terjadi secra alamiah merupakan jalan tol Iblis untuk menyentuh kita. Berhati-hatilah dengan segala sesuatu yang alamiah, karena alamiah itu berujung dengan hal yang lumrah dan harap dimaklumi. Misalnya orang memaki kita, maka lumrah-lah kita marah. Ketika bersungut-sungut kita anggap biasa/lumrah, ini yang akan membentuk kita menjadi pribadi-pribadi yang penuh dengan bersungut.
Ada seorang ibu gembala yang sudah berusia lanjut, dimanapun ia berada dan duduk, awalnya yang dia keluarkan adalah bahasa-bahasa rohani selanjutnya adalah kepahitan, dia menceritakan kepahitan dimanapun ia berada. Orang tidak mengira, karena pembawaan ibu itu sangat baik kelihatannya. Karena kami sudah cukup mengenal ibu ini, setiap kali ia mulai menceritakan hal-hal kepahitan, kami langsung mengalihkan ke pembicaraan yang lain atau bahkan meninggalkannya karena kami tidak mau dia berbuat dosa dengan menceritakan kepahitannya. Kenapa bisa ada seorang yang rohani, bahkan ibu gembala (hamba Tuhan), bisa melakukan hal ini? Ini bukti bahwa tidak ada seorangpun yang steril dari bersungut-sungut.
Buat kita yang sudah melayani di gereja, pernahkah Saudara bersungut mengenai pelayanan Saudara? Ingatlah bahwa didalam persungutan, sukacita kita sudah dirampas oleh Iblis. Kepribadiannya terbentuk menjadi “pesungut”.
Keluaran 16:2 Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun;
Persungutan yang bukan hanya dilakukan oleh satu orang tapi segenap/seluruh Jemaah Israel yang menjadi sasaran hanya dua orang yaitu Musa dan Harun.
Keluaan 16:7 Dan besok pagi kamu melihat kemuliaan TUHAN, karena Ia telah mendengar sungut-sungutmu kepada-Nya. Sebab, apalah kami ini maka kamu bersungut-sungut kepada kami?”
Musa tetap dengan sabar menjawab dan mengatakan bahwa Tuhan mendengar persungutan mereka.
Keluaran 17:3 Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?”
Kita berandai saja, ketika hal tersabut tejadi pada fellowship yang biasa kita lakukan setelah ibadah. Tiba-tiba makanan dan minuman tidak tersedia, pastilah akan muncul gejolak diantara kita dan kata-kata yang mengarah ke persungutan. Jangan pernah anggap bersungut-sungut itu hal alamiah tapi itu adalah pilihan. Faktor jiwani kita yang sudah diformat untuk menangani semua masalah, akan otomatis menanggapi semua hal itu.
AKIBAT PERSUNGUTAN
Memang benar bahwa Tuhan sudah mendengar persungutan Bangsa Israel dan inilah jawabannya:
Bilangan 11:1-2 1 Pada suatu kali bangsa itu bersungut-sungut di hadapan TUHAN tentang nasib buruk mereka, dan ketika TUHAN mendengarnya bangkitlah murka-Nya, kemudian menyalalah api TUHAN di antara mereka dan merajalela di tepi tempat perkemahan. 2 Lalu berteriaklah bangsa itu kepada Musa, dan Musa berdoa kepada TUHAN; maka padamlah api itu.
Jadi persungutan itu mendatangkan murka Tuhan. Apalagi kalau kita sudah menjadi orang percaya, kita tahu keselamatan hidup yang kekal adalah anugerah, itu yang melebihi segala sesuatu yang kita butuhkan dalam kehidupan kita, kehidupan yang kekal yang Tuhan sediakan dalam Yesus Kristus adalah hal yang luar biasa. Inilah hal yang mendasari dari segala sesuatu bentuk tantangan hidup supaya kita merubah persungutan menjadi bersyukur.
Jadi jangan kita hanya menganggap bahwa Tuhan mendengar persungutan, memang Dia mendengar tapi jawaban Tuhan atas persungutan bisa membangkitkan murka Tuhan.
Mereka bersungut tentang nasib dan keberadaan mereka bahkan mereka mereka sempat berkata lebih baik mati di padang. Kenapa bisa terjadi persungutan ini?
PENYEBAB PERSUNGUTAN
Kita harus selidiki secara seksama dalam diri kita masing-masing. Darimana awal persungutan yang kita lakukan? Apa penyebabnya? Kita tidak bisa hidup bermasa bodoh, kita harus mengintropkesi diri, minta Tuhan menyelidiki keberadaan kita, supaya kita mendapat jawaban. Dan ternayata jawaban yang Tuhan berikan ada pada diri kita masing-masing. Persungutan ini adalah sesuatu faktor kejiwaaan yang kemudian akan mengganggu roh. Realita-realita yang harusnya dihadapi tapi tidak mau dihadapinya.
Ada banyak bentuk persungutan. Kadangkala kita berfikir bahwa yang kita lakukan sasaranya tidak mengarah pada Tuhan, kemudian selalu cari kambing hitam.
Persungutan juga bisa menandakan sejauh mana tingkat kedewasaan iman atau rohani.
Mujizat apa yang tidak dialami oleh Bangsa Israel? Belum keluar dari Mesir saja sudah ada sepuluh tulah mujizat besar yang terjadi di negeri itu. Apakah itu tidak cukup? Luar biasa kuat kuasa Allah yang sudah dinayatakan didalam menyelesaikan segala yang dihadapi, tetapi hanya karena perkara kecil (soal makan dan minum/selera) sudah menjadi persungutan Bangsa Israel.
Persungutan bisa terlontar hanya di dalam hal yang kita anggap sepele. Di suatu kota ada kekacauan, ada orang datang berbelanja disebuah toko, dia menawar tapi tidak terlayani dengan baik bahkan penjaga toko balik memaki pembeli. Dia pulang dan tidak menerima perlakuaan penjaga toko tsb, kemudian balik dan menyelesaikannya dengan kekacauan. Mengapa hal ini terjadi? Kata makian bagi penjaga toko sudah terbiasa.
Kalau kita sudah terbiasa menggerutu, mengomel, memaki lama kelamaan kita anggap itu hal biasa. Tetapi bagi orang lain yang mendengar itu sesuatu yang sangat luar biasa.
Kondisi seperti ini bisa mendatangkan bahaya bagi diri kita juga hubungan kita dengan Tuhan, karena ternyata Tuhan melakukan yang sangat luar biasa. Mungkin kita berfikir dan berkata: “pantaskah orang yang yang hanya minta air dibakar dengan nyala api dari Tuhan”?
LEPAS DARI PERSUNGUTAN
Apa sebenarnya yang sudah memenuhi kehidupan kita?
Yohanes 14:27 Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.
Pada saat kita terima Yesus urusan akhirat sudah dibereskan, seharusnya, ini sungguh membuat kita hidup penuh dengan syukur dan penuh dengan damai sejahtera. Tapi Tuhan tahu bahwa kita hidup di dunia yang memegang kendali adalah faktor jiwani, makanya dikatakann “Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu” Inilah yang harus terjadi. Tetapi sejauh mana kekuatan damai sejahtera yang ada pada kita? Sebab kalau ini tidak ada maka yang ada terjadi secara alamiah adalah persungutan, kegelisahan, pikiran kacau, dan segala sesuatunya tidak mendatangkan hal yang baik. Tuhan menghendaki kita menikmati apa yang namanya damai sejahtera.
Jangan kita menganggap hal ini alamiah, seringkali kita tidak menikmatinya, karena kita lebih berikan prioritas utama pada faktor jiwani kita yang mengambil alih segala kegiatan jasmani kita.
Ini akan menggeser semua persungutan itu.
Kolose 3:15 Hendaklah damai sejahtera Kristus memerintah dalam hatimu, karena untuk itulah kamu telah dipanggil menjadi satu tubuh. Dan bersyukurlah.
Dimana kita menempatkan damai sejahatera? Apakah damai sejahtera memegang pucuk pemerintahan dalam hati kita. Kalau kita sudah sampai pada tingkat ini barulah kita bisa hidup dalam hidup yang penuh dengan syukur dan persungutan itu tidak akan diijinkan hadir. Tapi selama damai sejahtera Kristus tidak memerintah karena kita tidak berikan kesempatan dan peluang untuk memerintah yang keluar pasti persungutan.
Mari kita pahami apa itu hidup oleh iman yang menjadi bagian kita apa itu bagian Tuhan yang menggenapi janji-janji iman yang Dia berikan pada kita. Seringkali orang percaya dididik hanya untuk menerima apa yang menjadi bagian Tuhan tapi bagiannya ia tidak pernah berbuat apa-apa.
Ada saat-saat memang kita tidak bisa mampu berbuat apa-apa karena hal itu sudah diluar kemampuan dan Tuhan yang melakukan dan itu yang disebut mujizat, akan tetapi ini tidak selamanya Tuhan membimbing kita seperti itu.
Ketika rohani kita masih bayi pengalaman iman kita yang pertama adalah jawaban doa yang begitu mudah dijawab. Sehingga banyak orang berhenti sampai disitu yaitu iman hanya sebatas jawaban doa, dia belum sampai ke tingkat berikutnya bahwa ada kalanya Tuhan tidak berbuat sesuatu untuk mendidik kita yang belum memahami apa itu proses untuk penyerahan apa itu proses penghancuran daging. Tuhan memperkenalkan diri-Nya dulu dengan maha dahsyat, kuasa, hebat, sesudah itu memperkenalkan diriNya sebagai maha kudus dan kita harus memahaminya.
Jadi kita dibawa pada tingkatan yang lebih lagi. Ini yang patut kita pahami.
Kolose 3:16 Hendaklah perkataan Kristus diam dengan segala kekayaannya di antara kamu, sehingga kamu dengan segala hikmat mengajar dan menegur seorang akan yang lain dan sambil menyanyikan mazmur, dan puji-pujian dan nyanyian rohani, kamu mengucap syukur kepada Allah di dalam hatimu.
Selama firman Tuhan tidak dilakukan, maka hanya sebuah kalimat tulisan tidak ada artinya apa-apanya. Kita bisa menikmati kedahsayatan firman Allah itu pada saat kita lakukan.
Hasilnya:
Kolose 3:17 Dan segala sesuatu yang kamu lakukan dengan perkataan atau perbuatan, lakukanlah semuanya itu dalam nama Tuhan Yesus, sambil mengucap syukur oleh Dia kepada Allah, Bapa kita.
Mengucap syukur juga bukan kalimat indah. Mengucap syukur ini adalah hal yang sangat menyakitkan daging dan menyakiti jiwani. Karena hanya dengan mengucap syukur itu yang bisa mengikis segala kehendak jiwani menjadi kehendak Tuhan/firman.
Banyak perintah firman Tuhan yang tidak masuk akal, karena hanya bisa dilakukan dengan iman. Kalau iman dapat melakukannya bagaimana proses realitasnya dalam diri kita secara pribadi teratasinya segala unsur jiwani dengan kehendak firman?
Contoh:
Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi berbuatlah baik. Ini bukanlah hal yang masuk akal. Nah, kalau tidak masuk akal, mengapa Tuhan jadikan perintah untuk kita lakukan?
Bagaimana iman ini dapat melakukan? Sedangkan tidak masuk akal. Disinilah peranan kekuatan pengucapan syukur itu. Persungutan merupakan suatu pilihan yang dilakukan oleh unsur jiwani kita karena tidak bisa menerima dan menolak realitas yang sedang kita hadapi.
Tetapi ketika firman Tuhan itu melimpah dalam diri kita dan kita mau mentaati firman pada saat kita mau melakukannya sesungguhnya halangan utama itu ada pada diri sendiri (unsur jiwani)
Roh Kudus sebagai roh penolong yang akan menolong kita melakukan firman dalam kelemahan kita. Firman sebagai jalan keluar maka itulah yang akan kita lakukan sehingga persungutan tidak akan jadi tetapi firman yang akan kita lakukan. Ketika persungutan itu keluar kuasa kita semakin lemah. Ketika persungutan ini sudah keluar kekuatan iman kita juga semakin lemah. Karena kita tidak dapat menerima kondisi riil yang ada, tapi kekuatan awal dari pengucapan syukur adalah menerima setiap realitas apapun .
By : Pdt. R.F. Martino













