MEMILIKI DAN MENJALANI VISI ALLAH Anugerah Allah
Visi mutlak kita perlukan dalam menjalani kehidupan pribadi dan rohani. Sayangnya orang dunia lebih mengetahui mengenai pentingnya visi daripada orang percaya. Padahal visi mutlak kita perlukan apalagi bagi para pemimpin.
Setiap orang percaya perlu mengintrospeksi diri: “Sudahkah saya mencapai visi Allah?” Realitanya, tidak banyak orang percaya yang benar-benar mencapai Visi Allah. Dalam Roma 12:1 Alkitab memerintahkan agar kita tidak menjadi serupa dengan dunia. Itu berarti orang percaya mempunyai nilai plus dibandingkan orang dunia. Sayangnya banyak orang percaya yang menjadi ekstrim, yaitu menjadi orang yang sangat vertikalis (hanya memahami bahwa ia manusia rohani) namun melupakan bahwa ia juga adalah manusia lahiriah yang dibekali Tuhan dengan sumber daya yang luar biasa. Orang dunia lebih memahami bahwa mereka memiliki sumber daya sehingga banyak dari mereka yang memaksimalkan sumber dayanya melebihi orang percaya (hanya saja sayangnya mereka mengandalkan diri sendiri karena mereka memang tidak memiliki iman).
Banyak orang rohani saat mengalami suatu masalah kehidupan, mencari jawabannya melalui doa. Karena belum ada jawaban, Hamba Tuhan menasihatinya agar semakin sungguh-sungguh berdoa. Namun jawaban tidak juga datang, akhirnya orang percaya ini menjadi “putus asa di dalam kemampuannya yang dahsyat”. Ia tidak menyadari bahwa jawabannya sebenarnya ada di dalam sumber daya yang dahsyat yang telah Tuhan taruh di dalam dirinya.
Potensi yang luar biasa ada di dalam diri kita. Tinggal keputusan diri kita: Apakah kita mau memakainya ataukah kita mau membiarkannya tertanam. Jika kita tidak mau memaksimalkan potensi diri kita, tidak heran orang-orang meremehkan dan menyisihkan diri kita. Jika kita melihat realita yang terjadi, gereja/umat Tuhan merasa tertekan di negeri ini. Apa penyebabnya? Alkitab berkata bahwa kita adalah garam dunia – camkan: kita bukan garam dapur tetapi garam dunia – jika kita tidak lagi asin, tak heran kita dibuang dan diinjak-injak orang. Itulah yang terjadi.
Kita rohani luar biasa (sangat vertikal) tetapi secara horizontal tidak berguna/tidak bernilai. Apakah di rumah kita disegani karena kita adalah orang yang bernilai? Apakah di tempat kerja, kita adalah orang yang disegani rekan kerja dan dikagumi pimpinan karena kita adalah orang yang bernilai? Atau justru sebaliknya?
ANUGERAH ALLAH
Semua sumber daya yang kita miliki tak sanggup untuk mengatasi semua realita hidup kecuali anugerah Allah.
1. Kemampuan Allah
Setelah menginventarisasi sumber daya yang kita miliki dari faktor genetika, dan latihan, ternyata belum cukup untuk dapat mencapai rancangan allah. Diperlukan adanya anugerah Allah atau kemampuan Allah.
Apa pemahaman kita akan “anugerah Allah”? Saat kita diselamatkan dari maut, diampuni dan dikuduskan dari segala dosa, itulah anugerah Allah. Namun tidak berhenti sampai disitu. Karena dalam menjalani kehidupan sehari-hari kita membutuhkan anugerah Allah.
2 Korintus 12:9 “Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.”
Kita tidak boleh salah memahami ayat diatas sebagai alasan untuk memelihara kelemahan diri. Ayat diatas berbicara tentang kemampuan maksimal manusia yang lemah dan tak mampu menyelesaikan masalah manusia. Paulus menghadapi suatu realita yang tidak mampu ia atasi dengan kemampuan maksimalnya. Ia memiliki pengalaman dan prestasi rohani yang luar biasa dan dibawa ke surga. Supaya ia tidak sombong, Tuhan memberinya “duri dalam daging” sebagai alat kontrol.
Ada banyak tafsiran apa yang dimaksud dengan “duri dalam daging yaitu pesuruh iblis untuk menggocoh dirinya”. Kita tidak akan membahas tafsiran itu. Namun Paulus tidak dapat mengatasinya dan ia sudah berdoa beberapa kali kepada Tuhan agar “duri dalam daging” itu diangkat dari dirinya namun jawaban Tuhan padanya seperti pada ayat diatas. Banyak orang rohani yang merasa diri terlalu hebat sehingga tidak menyadari bahwa itu sifat kedagingan yang berasal dari iblis. Alat kontrol apa yang Tuhan taruh dalam hidup saudara sebagai alat kontrol supaya saudara menyadari batas kemampuan anda, menjadi “tahu diri”, tidak menjadi sombong, dan menyadari bahwa semua karena anugerah Tuhan? Dalam kelemahanlah penyerahan diri kita kepada Tuhan menjadi sempurna dan kita mengandalkan Tuhan.
Contoh dari tokoh Alkitab yang mendapat kemampuan dari Allah:
a. Daud selagi masih anak muda, keluar berperang melawan Goliat. Keberhasilannya mengalahkan Goliat adalah kemampuan dari Allah. Mari kita merenungkan bagaimana Goliat menghujat seluruh tentara Israel dan Allah yang hidup, dan tidak satupun tentara Israel yang berani menghadapi Goliat. Ini menunjukkan bahwa semua sumber daya yang kita miliki harus dipakai, tetapi ada batasnya. Kita butuh kemampuan Allah karena semua sumber daya yang kita miliki diikat oleh hukum logika. Namun realita hidup yang kita miliki seringkali tidak bersahabat dengan hukum logika. Ada ayat Alkitab yang berkata “Tuhan akan berperang bagimu dan engkau akan diam saja”. Firman Tuhan ini benar tetapi dalam konteks apa dulu? Contoh jika saat ini kita berada dalam pengungsian bencana, kalau kita hanya berdiam diri menunggu bantuan, kita akan mati. Kita harus bergerak.
b.Yusuf mempunyai latar belakang yang baik dari faktor kelahiran/genetika, tetapi ketika dia masih muda dia dimasukkan dalam penjara. Dia tidak banyak mendapat pendidikan formal. Yusuf mendapatkan anugerah Allah dalam hidupnya yang menyebabkan dia diangkat sebagai perdana menteri di Mesir. Jika kita flashback sejenak kepada kisah hidup Yusuf, Potifar melihat Yusuf disertai Tuhan dari hasil pekerjaannya. Orang dunia tidak melihat hidup kita disertai Tuhan dari banyaknya kita berdoa atau melayani. Penilaian orang luar bahwa kita disertai Tuhan adalah melalui KINERJA kita. Apakah kinerja kita cemerlang atau biasa-biasa saja? Kinerja dimulai dari diri sendiri lebih dulu. Kalau kinerja kita tidak berharga, jangan mengharapkan orang lain akan menghargai kita. Orang menghargai kita bukan karena orang tahu kita selalu berdoa dan selalu berada di gereja, tetapi dari perilaku dan kinerja kita sehari-hari. Alkitab mencatat bahwa Yusuf “elok parasnya dan manis kelakuannya”. Saat istri potifar menggodanya – kita bisa yakin bahwa saat itu ia menggunakan pakaian minim, namun Yusuf menolaknya. Hal ini tidak bisa ia lakukan dengan kekuatan manusia, hanya kekuatan Allah yang memampukan Yusuf untuk lari.
c. Paulus berasal dari keluarga yang baik, keturunan Benyamin. Pendidikannya tidak diragukan lagi, dia belajar kepada Gamaliel dan dididik untuk menjadi anggota Sanhedrin. Untuk dapat diterima dia harus mampu menghafal 5 kitab pertama dari Alkitab dengan lancar. Paulus adalah orang berpendidikan tinggi dan berkualitas. Pengetahuannya tentang Perjanjian Lama cukup kuat dan mendasar. Tetapi justru melalui faktor kelahiran dan pendidikannya dia menjadi seorang pembunuh. Melalui anugerah Allah, ia membawa ribuan orang kepada Tuhan Yesus Kristus dan mendirikan banyak gereja. Tuhan berhadapan langsung dengan Paulus dan memberikan anugerah padanya. Tanpa anugerah Allah Saulus tidak akan menjadi Paulus. Dari semua contoh diatas kita memahami: Sumber daya harus dipakai dan dimaksimalkan tetapi bukan menjadi andalan kita. Kita harus mengandalkan Tuhan.
2. Karunia Rohani
Karunia rohani berbeda dengan bakat yang kita peroleh secara genetika ataupun keterampilan yang kita peroleh melalui didikan/latihan. Setiap anggota tubuh Kristus harus melekat pada tubuh dan berfungsi. Sebagai anggota tubuh Kristus, Tuhan telah memberikan kepada kita masing-masing secara khusus suatu tempat pada tubuh.
1 Korintus 12:18 “Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya.”
Kita juga menerima karunia-karunia rohani sehingga kita dapat saling melayani dalam tubuh Kristus.
1 Petrus 4:10 “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.”
Kita perlu berfungsi/melayani di gereja lokal masing-masing. Sudah berapa lama kita berjemaat di GPPS Palu? Apakah kita sudah berfungsi?
CARA MENEMUKAN KARUNIA-KARUNIA ROHANI
1. Anggota tubuh harus melekat pada tubuh dan berfungsi dalam pelayanan. Berarti kita harus mengambil komitmen untuk melayani.
2. Laksanakan tanggung jawab pelayanan yang dipercayakan. Jadi apapun pelayanan yang saat ini dipercayakan, lakukan saja dulu dengan bertanggung jawab.
3. Dari berbagai bidang pelayanan yang dipercayakan maka akan menghasilkan apa yang paling “disukai” dalam tubuh Kristus. Maka dari semua pelayanan yang telah kita lakukan, kita akan menemukan ada pelayanan tertentu yang paling kita “sukai”.
4. Apa yang dimintakan dari saya dalam tubuh Kristus/gereja? Saat kita diminta gereja untuk melakukan suatu jenis pelayanan, janganlah berkata, “Mengapa selalu saya yang ditugaskan untuk pelayanan itu?” Kita harus mengintrospeksi, mungkin disitulah karunia pelayanan kita.
5. Apa buah rohani dalam pergaulan saya dengan orang lain? Contohnya saat kita bergaul dengan si A. Hal-hal baik apa saja yang ia peroleh dari kita? Hal-hal tersebut di atas akan membantu anda menemukan karunia-karuna rohani anda.
Roma 12:4-8 “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.”
Pada ayat diatas disebutkan tentang “karunia melayani” – ini perlu dijelaskan agar kita tidak salah memahami. “Karunia Melayani” adalah karunia rohani hospitality, yaitu senang menolong dan “direpotkan”, siap membantu kapan saja dan apa saja saat diperlukan. Dari keseluruhan ayat diatas kita memahami bahwa setiap kita memiliki karunia pelayanan yang berbeda-beda. Melayanilah sesuai karunia kita masing-masing. Hidup ini adalah kesempatan. Maksimalkan sumber daya kita dan layanilah Tuhan dengan karunia rohani yang diberikan kepada kita selagi masih ada kesempatan.
By : Pdt. DR. R. F. Martino










Leave a Reply