Monthly Archives: July 2020
MILIKILAH MENTALITAS YANG TERUJI DAN TERPUJI (2)
2 Timotius 2:3-5 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus. Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.
Pendahuluan
Setiap orang percaya harus memiliki mentalitas yang teruji dan terpuji. Gereja seringkali hanya mengajarkan tentang hal-hal rohani, pelayanan dan persyaratannya. Tetapi kita justru menemukan bahwa jabatan rohani ataupun kegiatan kegiatan rohani tidak menjamin mentalitas seseorang juga baik. Iblis terus menerus mengincar orang percaya melalui penerobosan mentalitas.
Gereja Tuhan harus memahami bahwa jemaat yang dilayani adalah manusia lahiriah yang memiliki iman didalam Kristus dan itu adalah iman yang berada dalam diri manusia lahiriah. Di dalam kita membawa/membimbing jemaat Tuhan, harus ada keseimbangan antara iman yang ada dalam manusia lahiriah dan manusia lahiriah yang memiliki iman dengan tidak melupakan “faktor manusiawi”. Perlu ada keseimbangan antara iman dan kemanusiaan.
Mentalitas tidak bisa kita sembunyikan, itu dapat terlihat dalam kehidupan kita sehari-hari dengan setiap bentuk realita yang dihadapi. Mentalitas ada dalam unsur jiwani sedangkan iman ada dalam roh kita. Selama mentalitas tidak bisa kita taklukkan dibawah kehendak Roh maka manusia lahiriah dengan pikiran kehendak dan perasaannya sendiri itulah yang akan bekerja maksimal dalam diri kita.
II. Mentalitas haruslah melalui ujian barulah bisa terpuji
Pada kasus Simon Petrus, Iblis sudah menuntut kepada Tuhan untuk menggarapnya tetapi Yesus sendiri mendoakan Petrus supaya tidak jatuh dan Ia tahu persis apa yang akan terjadi sehingga Yesus mengatakan kepadanya saat itu juga bahwa Petrus akan menyangkal Dia.
Alkitab mencatat segala sesuatu yang sangat seimbang antara keilahian dan hal-hal yang lahiriah, antara iman dan manusia lahiriah.
Paulus memberikan responnya terhadap jemaat Tuhan di Korintus secara iman yang ia miliki. Dengan iman, ia tahu benar maksud dari semua yang ia alami. Paulus dengan sikap etis menyampaikan kepada jemaat di Korintus akan penderitaan dan kesusahan yang ia alami dalam pelayanannya.
2 Korintus 1:8-9 Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.
Paulus menyadari bahwa ia adalah bejana tanah liat yang di dalamnya memiliki kekuatan ilahi yang berasal dari Allah.
2 Korintus 4:7 Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.
2 Korintus 4:8 ⁸Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa;
⁹kami dianiaya, namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. ¹⁰Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.
Pengalaman putus asa secara manusia lahiriah akan hadir, tetapi bagi orang percaya, sekalipun habis akal tidak akan putus asa. Jalan buntu pada umumnya bagi manusia akan menjadi putus asa, tetapi jalan buntu bagi orang percaya adalah kesempatan bagi orang tersebut memperbarui penyerahan dirinya kepada Tuhan.
Kita perlu merenungkan apakah iman kita dapat memahami nilai-nilai ilahi dari setiap realita/peristiwa yang kita alami sehingga kekuatan dari kuasa Allah bekerja dan iman kita menjawab dari setiap hal yang kita hadapi dalam sikap yang mempermuliakan Tuhan, maka kita perlu mengetahui apakah mentalitas kita sudah kita taklukkan dibawah kehendak iman.
Dalam ayat yang lain Paulus memberikan respon yang berbeda sesuai dengan kemanusiaannya. Inilah respon manusia lahiriah Paulus.
2 Korintus 11:23-27 ²³Apakah mereka pelayan Kristus? — aku berkata seperti orang gila — aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.
²⁴Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan, ²⁵tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut.
²⁶Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu. ²⁷Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian, ²⁸dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.
Alat penguji mentalitas adalah realitas sehari-hari. Tidak ada satupun realita yang tidak diresponi oleh manusia. Dan Tuhan memberikan kita peluang untuk menguji diri kita sendiri.
2 Korintus 13:5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.
Hal bijaksana yang perlu kita ketahui ialah,
Mazmur 119:71 Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.
Mari kita pahami ini supaya kita menemukan dalam diri kita dan melatih mental kita melalui realita hidup sehari-hari dan mempermuliakan Tuhan.
By : Pdt. R.F Martino
“MILIKILAH MENTALITAS YANG TERUJI DAN TERPUJI”
2 Timotius 2:3-4 “3 Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus 4 Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya”
Selama manusia masih hidup dan menjalani hidupnya kita akan berhadapan dengan apa yang namanya realitas hidup. Kenyataan-kenyataan hidup menyenangkan atau tidak menyenangkan, suka atau duka. Seringkali kita lupa, khususnya kita orang-orang percaya, yang selalu hanya menekankan urusan rohani. Ad keterkaitan antara iman dan mentalitas yang tidak dapat dipisahkan.
Di dunia sekuler justru sebaliknya, seminar-seminar motivasi yang membuat banyak orang menjadi kagum oleh karena jarang mendengar kalimat-kalimat hikmat, kalimat-kalimat indah dan mereka terpesona sehingga mereka lupa justru suatu bimbingan atau pelatihan sesungguhnya membentuk mentalitas seseorang sehingga dikenal satu bentuk pengajaran yaitu The Power of Mind. Padahal kita tahu justru mind itu ada di dalam pola pikir (mindset) atau ada dalam unsur jiwani kita, jadi sebenarnya hanya untuk orang yang lemah mental yang dilayani secara psikologis dari sisi itu untuk membawa mereka tidak sampai mentalnya menjadi rapuh.
Mentalitas setiap orang percaya terlebih kita pelayan Tuhan tidak hanya meningkatkan kualitas rohani atau iman melainkan harus memiliki mentalitas yang teruji dan terpuji.
Faktor mentalitas sering tidak menjadi perhatian untuk dikualitaskan, padahal ada begitu banyak orang percaya/pelayan Tuhan yang rohani atau imannya cukup baik, tetapi mentalitasnya parah.
Kegiatan-kegiatan rohani dan jabatan-jabatan rohani tidak menjadi jaminan bahwa mentalitas orang itu baik atau mentalitas orang itu teruji dan terpuji.
Elia dan Yunus adalah nabi Allah, tetapi minta mati.
1 Raja-Raja 19:4 “Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.”
Berapa banyak kita yang gagah perkasa didalam berbicara, berkhotbah, dalam bersaksi, dalam membimbing orang tetapi begitu mengalami masalah justru tidak dapat diselesaikan tidak dapat diatasi dan malah mau mencoba lari dari masalah. Jadi ini juga pelajaran bagi orang-orang yang merasa gagah perkasa dalam hal-hal rohani dengan sangat mudah Iblis bisa mematahkan kita.
Ingat lari dari masalah bukan penyelesaian melainkan awal dari bencana baru! Setiap orang harus memiliki mentalitas yang teruji dan terpuji sebagaimana Kristus
Saya berkata seperti ini bukan berpihak pada kehebatan atau membesar-besarkan kehebatan Iblis, karena Tuhan mengajarkan kita untuk tidak takut kepada Iblis tapi Alkitab juga mengajar kita untuk tidak meremehkan iblis .
Apapun pengalaman iman yang terhebat yang kita miliki kalau kita tidak jadikan itu sebagai suatu pembentukan yang Tuhan berikan secara pribadi kepada kita, maka mentalitas kita akan rusak karena semua yang riil hubungannya kepada kemampuan iman yang dinyatakan didalam mentalitas kita. Jadi bukan mentalitas manusia lahiriah lagi tapi mentalitas yang sudah dipenuhi dengan kekuatan ilahi, hasil daripada pengalaman hidup oleh roh mengandalkan Tuhan dan mentaati Firman.
Setiap hari mungkin kita tidak menyadari tapi ada baiknya kita intropeksi dan mulai menyelidiki diri kita masing-masing bahwa setiap hari kadang kala kita kalah, mentalitas kita dirusak oleh Iblis melalui realitas hidup. Makanya kita hanya tahu memakai bahasa rohani yaitu pembentukan Tuhan. Jadi kalau kita tahu bahasa rohaninya adalah pembentukan Tuhan, apa yang dibentuk? Iman kita sekaligus mentalitas kita karena mentalitas dipakai menghadapi kenyataan-kenyataan hidup yang ada, jadi kalau isinya belum dikuduskan oleh kekuatan roh, iman itu akan menjadi parah.
Kenapa Elia bisa seperti itu? Seperti itulah kemanusiaannya, kemanusiaan yang dikendalikan oleh semua unsur jiwani: kehendak sendiri, pikiran sendiri, perasaan sendiri. Kenapa Yunus bisa seperti itu? Sama halnya dengan Nabi Elia, itulah kemanusiaannya.
Oleh karena itu kita memahami hal ini agar supaya kita bukan hanya menganggap bahwa kalau saya urus rohani saya dengan sendirinya mentalitas itu jadi teruji, tidak! Tidak terjadi dengan sendirinya karena ia akan diuji oleh realitas hidup kita, dan kalau kita lulus barulah teruji.
Salah satu pembentukan mentalitas yang teruji dan terpuji ini adalah penderitaan.
Mengapa Harus Memiliki Mental Prajurit
Hidup oleh iman adalah medan peperangan rohani. Oleh karena itu, kalau kita sudah memiliki dan memahami ini adalah pergumulan iman dalam hidup ini, supaya hidup kita tetap layak dan berkenan dihadapan Tuhan sesuai dengan FirmanNya dan kita hidup di dalamNya mari kita menyadari bahwa itu tidak bisa terlepas dengan apa yang namanya mentalitas.
Lukas 22 : 31-34 “31 Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, 32 tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.”33 Jawab Petrus: “Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” 34 Tetapi Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”
Jangan menganggap diri terlalu kuat sehingga mengira tidak ada Iblis yang bisa mencobai saudara, Iblis tidak pernah kehilangan cara untuk menghancurkan umat Tuhan. Bahkan, cara etispun iblis bisa lakukan untuk menjatuhkan anak Tuhan.
Iblis tidak punya hak untuk merasuki kita, tetapi ia bisa merasuki kita kalau kita buka celah! Yaitu melalui unsur jiwani. Kalau kita tidak mau menaklukan unsur jiwani kita kepada unsur Roh
II. Inilah Situasi dan kondisinya
2 Korintus 1 : 8-9 “8 Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. 9 Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati”.
Setiap orang akan mengalami, tetapi kalau kita memahami secara iman kita tahu bahwa putus asa bukan jalan buntu.
By : Pdt. R.F Martino
BENTUK-BENTUK JAWABAN DOA
Filipi 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.
Saat ini yang akan kita bahas adalah “Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”
Topik mengenai jangan kuatir sudah dibahas sebelumnya. Sekarang ini yang kita pelajari adalah kalimat lanjutan dari “Jangan Kuatir”. Kita sangat bersyukur bahwa Tuhan bukan hanya melarang jangan kuatir, tetapi ada jalan keluar dan petunjuk yang diberikan oleh Tuhan.
Bagaimana menyelesaikan hal-hal dalam kehidupan kita yang membuat kita menjadi kuatir.
Ayat ini sangat jelas bahwa yang kuatir adalah manusianya bukan persoalannya. Sekalipun dalam bahasa mimbar yang diajarkan adalah terbalik, sehingga akhirnya juga nyanyian-nyanyian rohani membingungkan kita, dan akhirnya bahasa mimbar itu membingungkan kita dan membuat kita menjadi kecewa.
Kalimat itu adalah: “Datang kepada Yesus. Bawa persoalanmu! Letakkan persoalanmu di bawah kaki Yesus!”
Jadi seolah-olah kita hanya minta Tuhan menyelesaikan persoalan. Padahal yang punya persoalan itu bukan persoalan itu sendiri, tetapi orang yang mempunyai persoalan itu. Hal inilah yang membuat banyak orang menjadi kecewa. Padahal yang Tuhan tetapkan dalam Alkitab adalah apabila orang mau menghadap kepada Tuhan, harus datang dengan iman, bukan dengan persoalan. Tuhan tidak berurusan dengan persoalan tapi Tuhan berurusan dengan orang yang punya persoalan itu.
Semua hal ini yang perlu kita pahami dengan benar supaya tidak kecewa, apalagi ada ayat yang menunjukan jalan keluar dari realitas yang kita hadapi adalah dengan berdoa. Topik yang akan kita bahas adalah bentuk-bentuk jawaban doa. Kenapa ini perlu? Bahasa-bahasa mimbar dengan tujuan yang baik membimbing umat Tuhan untuk dapat memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan, persekutuan pribadi dengan Tuhan, yaitu Doa. Konteks doa sering diistilahkan nafas kehidupan orang percaya, untuk memberi gambaran bahwa jika tidak matilah iman itu. Jika tidak bersekutu dengan Tuhan maka iman akan mati. Jadi berbagai ungkapan yang mengungkapkan betapa pentingnya doa itu.
Tetapi yang aneh kita memiliki pengalaman-pengalaman yang berbeda tentang doa. Ada yang punya pengalaman doa yang semakin menguatkan dia, semakin membuat dia bertumbuh, semakin dia merasakan ia hidup dekat Tuhan tapi ada juga yang justru membawa dia kecewa karena doanya tidak dijawab sesuai dengan apa yang dia inginkan bahkan ada doa yang tidak dijawab. Padahal dia lupa bahwa “Tidak” itu juga adalah jawaban. Nah inilah yang menjadi pergumulan orang percaya. Kita akan pelajari bentuk-bentuk jawaban doa yang bukan hanya satu bentuknya, bukan hanya “Ya”. Kita harus mulai mengerti akan hal ini sebab kadangkala kita dibingungkan oleh hal-hal ini.
Matius 6:5 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.”
Doa pribadi, doa kelompok sampai kepada pelayanan doa dan juga doa syafaat. Jika kita membaca Alkitab doa itu adalah pergerakan rahasia baik pribadi maupun dalam doa bersama-sama.
Dikatakan dalam firman Tuhan bahwa doa adalah kunci pintu. Berarti ini adalah hal yang sangat pribadi dengan Tuhan. Dan hubungan pribadi ketika diadakan secara kelompokpun juga sama, karena ini suatu pelayanan dibalik panggung.
Contoh kasus:
Suatu saat ada kelopok doa yang akan membuat seragam karena akan tampil untuk menyanyi di depan umum. Ketika tiba saatnya untuk tampil, pembawa acara berkata: “Kita akan mendengarkan Vokal Grup dari “PENDOA SYAFAAT AGAPE” (Bukan nama sebenarnya). Ini kurang tepat karena mereka seolah-olah menunjukkan bahwa merekalah yang berdoa, padahal pelayanan doa itu adalah pelayanan yang tersembunyi
Ada juga yang kadang membuat kita bingung, ketika ada bencana dan bencana itu berhenti, ada berbagai kelompok doa yang meng-claim bahwa itu adalah hasil dari doa mereka.
Ketika seseorang yang mengalami problema hidup datang kepada seorang konselor (Hamba Tuhan/pembimbing rohani untuk meminta bimbingan, ujung-ujungnya akan diberi nasihat untuk berdoa. Bukan diberi jalan keluar tapi disuruh berdoa. Dan ketika ia datang lagi karena doanya belum dijawab, maka konselor berkata bahwa ia harus sungguh-sungguh berdoa. Dan suatu saat ia datang kembali karena doanya belum dijawab, dan konselor tetap menjawab agar ia berdoa lebih sungguh-sungguh lagi dan bila perlu ditambah dengan puasa dan juga mengikuti doa semalaman. Hal inilah yang menciptakan suatu pemahaman bahwa iman digunakan hanya untuk sebatas jawaban doa saja, padahal iman digunakan untuk menjalani hidup realita sehari-hari. Ketika iman hanya dipakai untuk jawaban sebuah doa dan jawabannya adalah “tidak” hal ini bisa membuat orang tersebut menjadi kecewa.
Roma 9:20-21 20Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?”21Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?
Tukang periuk berhak membuat segala sesuatu menurut kehendaknya. Begitupun Tuhan yang menciptakan kita.
Hal ini harus kita pahami, yaitu bahwa ketika kita menghadap kepada Tuhan, dengan iman sekalipun, kita sedang berhadapan dengan Allah yang maha kudus, Allah yang maha mulia, Allah yang maha kuasa, maha segalanya, Ia punya kedaulatan yang tidak bisa diganggu gugat. Tetapi bukan berarti karena ada kedaulatan-Nya kemudian kita tidak sungguh-sungguh. Kita harus tetap bersungguh-sungguh, karena dalam kesungguhan itulah kita memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan. Sehingga apapun bentuk jawaban doa yang Tuhan jawab, kita dapat menerima dan semakin meneguhkan iman kita.
BENTUK-BENTUK JAWABAN DOA
1. Jawaban: Ya (Artinya dikabulkan)
Matius 21:22 “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.”
Banyak sekali ayat yang sehubungan dengan jawaban “ya”. Bahkan ada ayat yang meneguhkan yaitu: “Apa saja yang kamu minta dalam namaKu, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, itu akan diberikan kepadamu”, “Apa saja yang kamu minta harus seolah-olah kamu telah menerimanya” .
Karena ayat inilah membuat beberapa hamba Tuhan bersikap ekstrim . Mereka memberikan arahan bahwa ketika menginginkan sesuatu barang atau lainnya, maka harus menumpangkan tangan ke barang milik orang lain, kemudian mendoakannya untuk segera memiliki barang tersebut untuk diri sendiri.
Pengajaran seperti ini dalam teori kemakmuran sudah merajalela diseluruh dunia. Mereka salah menangkap maksud dari ayat tersebut dan itu diistilahkan meng-imani. Padahal ada ayat lain yang berkata, “jangan mengingini kepunyaan sesamamu”. Jika menginginkan yang seperti itu, maka kerja keras, banting tulang, kumpul dana lalu milikilah apa yang kau ingin miliki. Kenapa dengan bekerja dan banting tulang? Karena dengan bekerja disitulah Tuhan menghadirkan uang.
Didalam kondisi bagaimanakah sehingga jawaban doa itu sangat mudah diperoleh? Yaitu ketika kita baru menjadi orang percaya, pengalaman iman bersama dengan Tuhan adalah doa yang sangat mudah dijawab.
Mengapa? Karena Tuhan sedang memperkenalkan dirinya dengan segala kedahsyatannya. Setelah Dia memperkenalkan dirinya dengan segala kedahsyatanNya, maka giliran kita mulai mengerti, memahami lebih lanjut, supaya kita tahu, bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita.
Jadi saudara, walaupun ada ayat ini dengan jawaban doa yang selalu “ya” dan dikabulkan bukan berarti itu adalah satu-satunya jawaban. Kenapa? Karena setiap kita datang kepadaNya, kita berhadapan dengan kedaulatan Allah.
2. Jawaban: Tidak
Adalah mengejutkan kalau kita katakan Yesus berdoa suatu saat dan Bapa menjawab tidak. Peristiwa ini saat Yesus ditaman getsemani.
Doa Yesus: “Kalo boleh cawan ini lalu daripada-Ku” itu kemanusiaan Yesus dan Ia tidak mampu menerima itu dan kita harus memahami bahwa Yesus sangat menderita padasaat itu. Alkitab menulis bahwa Yesus sangat ketakutan sedangkan guru sekolah minggu mengajar bahwa Yesus itu hebat, luar biasa, Dia berkuasa. Alkitab mencatat bahwa Ia berteriak dengan sangat luar biasa sebelum nyawa-Nya terlepas.
Jika kita berpikir pendek dan berkata: “Kalau toh jawabannya tidak, untuk apa kita berdoa?”
2 Samuel 12:15-20 15Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit. 16Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah. 17Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka. 18Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: “Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!” 19Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: “Sudah matikah anak itu?” Jawab mereka: “Sudah.” 20Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan.
Kisah sebelumnya menjelaskan bahwa pada saat semua pergi berperang, Daud tidak pergi dan sedang berjalan-jalan di atas sotoh rumah, sementara itupun Daud melihat Batsyeba sedang mandi dan iapun menghampiri Batsyeba dan melahirkan seorang anak. Pada waktu itu Daud menugaskan uria untuk ikut berperang dan menempatkannya digaris terdepan agar ia mati dan istrinya, Batsyeba menjadi janda supaya Daud dianggap tidak bersalah.
Mari kita pelajari bersama, pada saat anaknya sakit, Daud mengambil langkah rohani. Banyak kali kita mengambil langkah rohani sebelum menyelesaikan persoalannya dulu (menyelesaikan masalah inti). Padahal persoalan yang tidak beres itu dibereskan lebih dulu baru mengambil langkah rohani.
Langkah rohani tidak dapat membereskan yang tidak beres, jika kita tidak bereskan dulu. Makanya jangan anggap menyiksa diri dengan cara rohani dapat membereskan masalah.
Kembali kepada kisah Daud, setelah Daud sudah bersungguh-sungguh dengan ketekunanyang luar biasa, justru pada hari yang ke tujuh, matilah anak itu. Doanya dijawab ? Ya dijawab, tapi jawabannya adalah “tidak”. Hal penting yang kita pelajari dari Daud, bahwa walaupun jawabannya “tidak”, Daud tidak menjadi kecewa.
Betapa tak terhitung jumlahnya orang-orang yang kecewa oleh karena jawaban Tuhan adalah “tidak”. Dan jawaban “tidak” ini dia anggap bukan jawaban. Padahal “tidak” juga merupakan jawaban. Jangan berpikir kalau begitu tak ada gunanya kita berdoa, tak ada gunanya kita berpuasa, tak ada gunanya kita semalam suntuk\, taka da gunanya bersungguh-sungguh. Semua itu bukan tidak ada gunanya, tetapi kedaulatan Allah tidak bisa kita lawan dengan cara apapun, bahkan kadangkala imanpun tak berdaya karena kedaulatan Allah.
Hal ini yang akan saya beritahu kepada para pendoa syafaat, karena pendoa syafaat mengambil alih pergumulan orang untuk dibawa kepada Tuhan, mengambil alih persoalan negeri untuk menggumulinya dihadapan Tuhan.
Tapi jangan lupa, semua orang yang datang kepada Tuhan bukan hanya berhadapan dengan kemahakuasaan-Nya tetapi juga kedaulatan- Nya.
3. Terpaksa dijawab dengan resiko
Ini adalah orang-orang yang “menyerbu” hadirat Tuhan dengan keinginan-keinginan sendiri. Banyak pendoa seperti ini bahkan mungkin kita sudah pernah lakukan yaitu memaksakan kehendak kepada Tuhan untuk dikabulkan.
Baca: 1 Samuel 8
Ini kisah mengenai umat israel yang meminta raja, padahal Tuhan mau, agar Tuhan sendiri yang menjadi raja bagi mereka dan menjadikan mereka umat kerajaan-Nya. Tetapi bangsa Israel tetap ingin memiliki raja. Sebab didalam berperang dan didalam segala sesuatu yang mereka alami, mereka melihat ada bangsa-bangsa yang memiliki raja dan hanya mereka yang tidak memiliki raja. Jadi, mereka mendesak untuk meminta seorang raja.
Pada akhirnya setelah mereka mendapat raja, Tuhan menyuruh Musa kembali kepada bangsa itu dan katakanlah kepada mereka resiko apa yang mereka dapatkan setelah mereka memiliki raja.
1 Samuel 10:19 Tetapi sekarang kamu menolak Allahmu yang menyelamatkan kamu dari segala malapetaka dan kesusahanmu, dengan berkata: Tidak, angkatlah seorang raja atas kami. Maka sebab itu, berdirilah kamu di hadapan TUHAN, menurut sukumu dan menurut kaummu.”
Memaksakan kehendak didalam doa bisa terjadi, dan Tuhan “mengabulkannya” (tanda kutip), tapi ada resiko yng harus ditanggung. Dan jika kita baca daftar kesukaran yang mereka alami sesudah mendapat raja yang seorang manusia, betapa mengerikkan, tetapi mereka rela, karena sudah dijawab.
Jadi kita harus waspada, jangan pernah memaksakan Tuhan dalam meminta sesuatu. Ketika kita sudah menerimanya kita berkata: “Puji Tuhan, setelah kami bergumul sekian lamanya, ternyata akhirnya Tuhan mengabulkan”. Bukan masalah tentang lamanya pergumulan doa itu, tetapi ingat bahwa Tuhan sudah mengingatkan kita untuk datang dengan iman, bukan datang dengan persoalan, bukan datang dengan keinginan, bukan datang dengan permintaan. Tidak dilarang untuk meminta, tetapi perlu kita pahami supaya tidak kecewa, ada resiko dan resiko itu diluar tanggungjawab Tuhan.
Resiko itu adalah akibat yang kita lakukan dengan memaksa Tuhan. Mungkin kita akan bertanya: “Oh apakah Tuhan bisa dipaksa?” Tuhan tidak bisa dipaksa, tetapi Tuhan melakukan ini untuk mengajar dan menghajar kita dengan permintaan sendiri. Jadi permintaan kita yang “dijawab” (tanda kutip) oleh Tuhan, itu juga yang menimpa kita sebagai hukuman. Hal ini bukan berarti Tuhan bisa di atur. Tetapi ini sudah yang sering saya katakan bahwa orang yang tidak bisa dididik dengan kata-kata akan dididik dengan peristiwa.
4. Tuhan menjawab dengan cara lain
Mari kita semua jujur, setiap kali kita berdoa dan minta sesuatu, kita sudah punya konsep. Dan ternyata, ketika Tuhan menjawab dengan cara lain, maka kita menjadi kecewa, karena jawabannya tidak sesuai dengan yang kita konsepkan. Jangan datang dengan konsep tetapi datang dengan iman.
2 Korintus 12:8-10 8Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. 9Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 10Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.
Paulus memiliki duri dalam tubuhnya, dan dia tau bahwa itu suruhan iblis. Kemudian Paulus berdoa karena Paulus tahu ini jalan yang akan menyelesaikan secara iman. Apalagi ada ayat yang berkata doa mengubah segala sesuatu. Dan 3 kali ia berdoa supaya pesuruh Iblis ini dicabut dari padanya. Tetapi Tuhan berkata, cukuplah kasih karunia-Ku bagimu. Sebab dalam kelemahanmulah KUASAKU MENJADI SEMPURNA. Dan setelah kita baca lebih lanjut, kenapa ini ada dan tidak dicabut? dia memahami, supaya aku tidak menyombongkan diri.
Itulah Tuhan berkata, adalah lebih baik kita menguji diri kita sendiri, Tuhan berikan kita kesempatan dan kemurahan-Nya, daripada Tuhan yang harus melakukan sesuatu ujian atas kita mungkin kita tidak akan mampu.
Jadi rupanya duri ini adalah alat untuk mengingatkan dia, ternyata saya masih ada kelemahan, dan segala kekuatan hanya daripada Tuhan datangnya. Artinya jawaban Tuhan dengan cara lain ini, mempunyai maksud dan tujuan yang baik untuk diri yang meminta doa seperti yang dialami oleh Rasul Paulus. Jadi ketika kita minta sesuatu, Tuhan menjawabnya lain dari konsep kita, ketahuilah ada maksud baik untuk kebaikan kita.
Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Mari kita pahami dan syukuri, supaya pada saat kita berdoa dan apapun permintaan kita, kita sedang berhadapan dengan kedaulatan Allah. Tidak dilarang meminta, tidak dilarang bertekun, tetapi ketika jawaban datang, biarkan Tuhan menjawab menurut cara-Nya.
Dan ketika jawaban datang, tidak ada sesuatu yang kita banggakan, karena jawaban itu berasal dari tahta kemuliaan Allah yang penuh kedaulatan. Tetaplah berdoa! Dan nyatakanlah kepada Allah segala keinginan dalam doa, permintaan dan ucapan syukur . Persilahkan Tuhan menjawab sesuai kehendakNya.
By : Pdt. R.F. Martino
MEMAHAMI LEBAR, PANJANG, TINGGI, DAN DALAMNYA KASIH KRISTUS
Dalam menghadapi New Normal di masa pandemi, kita harus tetap disiplin terhadap protokol kesehatan. Kita tak boleh acuh tak acuh seperti banyak orang yang tak mempedulikan protokol kesehatan. Semua yang menjadi format alamiah tidak dapat dilanggar. Maka kita tidak bisa berdoa minta perlindungan Tuhan lalu kita merasa bisa bebas tidak memakai masker, tidak menjaga jarak, dll.
Banyak orang percaya yang bingung mengapa dimasa pandemi ini Tuhan seakan berdiam diri? Mengapa ada orang percaya yang sakit bahkan ada hamba Tuhan yang meninggal karena Covid-19 ? Disinilah kita harus memahami bahwa saat berhadapan dengan kedaulatan Tuhan, iman seakan-akan menjadi “tidak berguna”. Doa tidak dapat memaksa untuk mengubah apa yang menjadi kedaulatan Tuhan. Maka sikap paling bijak saat berhadapan dengan kedaulatan Tuhan adalah menyerah/berserah pada kedaulatan Tuhan sampai Tuhan selesai melakukan apa yang dikehendaki-Nya.
Efesus 3:18-19 “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah.”
Umumnya umat Tuhan hanya mengerti KASIH ALLAH hanya pada satu sisi saja yaitu saat mengalami peristiwa-peristiwa yang menyenangkan. Namun ayat diatas berkata supaya kita dapat mengenal betapa lebar, panjang, tinggi, dan dalamnya kasih Kristus. Jika kita hanya mengenal “lebar” nya saja, dan tidak mengenal “panjang”, “tinggi”, dan “dalam”nya kasih Kristus, maka kita belum mengenal keseluruhan isi kasih Kristus. Sebagai contoh banyak orang tidak memahami peristiwa yang menimpa Ayub juga merupakan bentuk dari kasih Allah.
1 Korintus 10:13 “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (Terjemahan Lama = “sehingga kamu cakap menanggungnya”).
MEMAHAMI LEBAR, PANJANG, TINGGI, DAN DALAMNYA KASIH KRISTUS
A. LEBAR
Ini adalah pengalaman awal menjadi orang percaya. Pada pengalaman awal ini Allah memperkenalkan diri-Nya sedahsyat-dahsyatnya sehingga kita dapat mengenal-Nya. Pada pengalaman ini doa kita cepat dijawab “YA” oleh Tuhan.
B. PANJANG
Pada pengalaman ini Tuhan mengajar seseorang akan bentuk kasih-Nya yang lain. Saat seorang percaya menghadapi pergumulan yang berkepanjangan, seseorang mungkin saja akan meragukan kasih Allah. Namun kita harusnya bersyukur karena kita bisa memahami kasih Kristus lebih lama lagi bahwa kasih Kristus tidak hanya sebatas jawaban doa. Kita diajar untuk tak hanya berdoa namun juga menyembah.
C. TINGGI
Saat Tuhan membawa hidup seorang percaya naik membumbung tinggi sehingga strata sosial hidupnya naik, maka ada 2 kemungkinan yang dapat terjadi:
– Orang itu memuji-muji/memuliakan Tuhan karena memahami bahwa semua yang diperoleh adalah anugrah Tuhan.
– Orang itu justru melupakan Tuhan. Maka disini kita memahami: kemapanannya menjadi awal kejatuhan.
D. DALAM
Sebagian orang percaya tidak dapat menerima saat Tuhan membawa mereka pada pengalaman masuk ke tubir yang dalam supaya memahami dalamnya kasih Kristus.
Mazmur 107:23-24 “Ada orang-orang yang mengarungi laut dengan kapal-kapal, yang melakukan perdagangan di lautan luas; mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam.”
Kita perlu memahami kasih Kristus lebih dalam lagi, tidak hanya meminta Tuhan yang memahami kedalaman isi hati kita.
Firman Tuhan berkata “Allah adalah kasih”. Pemahaman ini harus tertanam dalam hati kita dan tak boleh lenyap:
1. Kasih Kristus telah dibuktikan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib.
1 Yohanes 4:9 “Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.”
2. Kasih Kristus dibuktikan dengan mengutus Penolong yaitu Roh Kudus.
Yohanes 14:16-17 “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.”
3. Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan.
Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”
II. MENGENAL KASIH KRISTUS YANG MELAMPAUI SEGALA PENGETAHUAN
1. Masalah hidup adalah hal biasa yang dialami oleh setiap orang
2. Tuhan tahu batas kemampuan setiap orang
3. Masalah hidup yang kita alami tidak melampaui kekuatan kita sehingga kita dapat menanggungnya.
4. Dalam menghadapi masalah hidup, ada jalan keluar yang Tuhan berikan, maka jangan buat jalan sendiri misalnya meninggalkan iman atau bunuh diri.
Apabila seorang memiliki kekuatan mengangkat beban 100kg, saat ia memiliki beban 20kg, lalu bertambah menjadi 50kg, 80kg, lalu 99,99 kg, maka mungkin saja ia sudah merasa tidak mampu lagi, padahal berat beban itu belum melampaui kekuatannya. Namun disaat beban itu sudah melebihi kekuatannya, maka Tuhan turun tangan menyatakan mujizat-Nya. Sama seperti Sadrakh, Mesakh, Abednego yang dilempar ke dapur api, dimana saat itu beban yang mereka hadapi melampaui kekuatan mereka, maka Tuhan turun tangan hadir disana. Inilah bukti kesetiaan Tuhan.
Dengan memahami hal ini maka dalam menghadapi pandemi ini kita tidak perlu lagi bertanya “Kapan ya semua masalah/pandemi ini berakhir?” Jalani saja kehidupan kita saat ini bersama Tuhan, namun tetap perlu bekerjasama dengan Tuhan yaitu dengan cara tetap memperhatikan protokol kesehatan.
By : Pdt. R. F. Martino













