This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Daily Archives: 12/07/2020

BENTUK-BENTUK JAWABAN DOA

Filipi 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur.

Saat ini yang akan kita bahas adalah “Nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur”

Topik mengenai jangan kuatir sudah dibahas sebelumnya. Sekarang ini yang kita pelajari adalah kalimat lanjutan dari “Jangan Kuatir”. Kita sangat bersyukur bahwa Tuhan bukan hanya melarang jangan kuatir, tetapi ada jalan keluar dan petunjuk yang diberikan oleh Tuhan.

Bagaimana menyelesaikan hal-hal dalam kehidupan kita yang membuat kita menjadi kuatir.
Ayat ini sangat jelas bahwa yang kuatir adalah manusianya bukan persoalannya. Sekalipun dalam bahasa mimbar yang diajarkan adalah terbalik, sehingga akhirnya juga nyanyian-nyanyian rohani membingungkan kita, dan akhirnya bahasa mimbar itu membingungkan kita dan membuat kita menjadi kecewa.
Kalimat itu adalah: “Datang kepada Yesus. Bawa persoalanmu! Letakkan persoalanmu di bawah kaki Yesus!”
Jadi seolah-olah kita hanya minta Tuhan menyelesaikan persoalan. Padahal yang punya persoalan itu bukan persoalan itu sendiri, tetapi orang yang mempunyai persoalan itu. Hal inilah yang membuat banyak orang menjadi kecewa. Padahal yang Tuhan tetapkan dalam Alkitab adalah apabila orang mau menghadap kepada Tuhan, harus datang dengan iman, bukan dengan persoalan. Tuhan tidak berurusan dengan persoalan tapi Tuhan berurusan dengan orang yang punya persoalan itu.

Semua hal ini yang perlu kita pahami dengan benar supaya tidak kecewa, apalagi ada ayat yang menunjukan jalan keluar dari realitas yang kita hadapi adalah dengan berdoa. Topik yang akan kita bahas adalah bentuk-bentuk jawaban doa. Kenapa ini perlu? Bahasa-bahasa mimbar dengan tujuan yang baik membimbing umat Tuhan untuk dapat memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan, persekutuan pribadi dengan Tuhan, yaitu Doa. Konteks doa sering diistilahkan nafas kehidupan orang percaya, untuk memberi gambaran bahwa jika tidak matilah iman itu. Jika tidak bersekutu dengan Tuhan maka iman akan mati. Jadi berbagai ungkapan yang mengungkapkan betapa pentingnya doa itu.

Tetapi yang aneh kita memiliki pengalaman-pengalaman yang berbeda tentang doa. Ada yang punya pengalaman doa yang semakin menguatkan dia, semakin membuat dia bertumbuh, semakin dia merasakan ia hidup dekat Tuhan tapi ada juga yang justru membawa dia kecewa karena doanya tidak dijawab sesuai dengan apa yang dia inginkan bahkan ada doa yang tidak dijawab. Padahal dia lupa bahwa “Tidak” itu juga adalah jawaban. Nah inilah yang menjadi pergumulan orang percaya. Kita akan pelajari bentuk-bentuk jawaban doa yang bukan hanya satu bentuknya, bukan hanya “Ya”. Kita harus mulai mengerti akan hal ini sebab kadangkala kita dibingungkan oleh hal-hal ini.

Matius 6:5 “Dan apabila kamu berdoa, janganlah berdoa seperti orang munafik. Mereka suka mengucapkan doanya dengan berdiri dalam rumah-rumah ibadat dan pada tikungan-tikungan jalan raya, supaya mereka dilihat orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya.”

Doa pribadi, doa kelompok sampai kepada pelayanan doa dan juga doa syafaat. Jika kita membaca Alkitab doa itu adalah pergerakan rahasia baik pribadi maupun dalam doa bersama-sama.
Dikatakan dalam firman Tuhan bahwa doa adalah kunci pintu. Berarti ini adalah hal yang sangat pribadi dengan Tuhan. Dan hubungan pribadi ketika diadakan secara kelompokpun juga sama, karena ini suatu pelayanan dibalik panggung.

Contoh kasus:
Suatu saat ada kelopok doa yang akan membuat seragam karena akan tampil untuk menyanyi di depan umum. Ketika tiba saatnya untuk tampil, pembawa acara berkata: “Kita akan mendengarkan Vokal Grup dari “PENDOA SYAFAAT AGAPE” (Bukan nama sebenarnya). Ini kurang tepat karena mereka seolah-olah menunjukkan bahwa merekalah yang berdoa, padahal pelayanan doa itu adalah pelayanan yang tersembunyi

Ada juga yang kadang membuat kita bingung, ketika ada bencana dan bencana itu berhenti, ada berbagai kelompok doa yang meng-claim bahwa itu adalah hasil dari doa mereka.

Ketika seseorang yang mengalami problema hidup datang kepada seorang konselor (Hamba Tuhan/pembimbing rohani untuk meminta bimbingan, ujung-ujungnya akan diberi nasihat untuk berdoa. Bukan diberi jalan keluar tapi disuruh berdoa. Dan ketika ia datang lagi karena doanya belum dijawab, maka konselor berkata bahwa ia harus sungguh-sungguh berdoa. Dan suatu saat ia datang kembali karena doanya belum dijawab, dan konselor tetap menjawab agar ia berdoa lebih sungguh-sungguh lagi dan bila perlu ditambah dengan puasa dan juga mengikuti doa semalaman. Hal inilah yang menciptakan suatu pemahaman bahwa iman digunakan hanya untuk sebatas jawaban doa saja, padahal iman digunakan untuk menjalani hidup realita sehari-hari. Ketika iman hanya dipakai untuk jawaban sebuah doa dan jawabannya adalah “tidak” hal ini bisa membuat orang tersebut menjadi kecewa.

Roma 9:20-21 20Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?”21Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?

Tukang periuk berhak membuat segala sesuatu menurut kehendaknya. Begitupun Tuhan yang menciptakan kita.
Hal ini harus kita pahami, yaitu bahwa ketika kita menghadap kepada Tuhan, dengan iman sekalipun, kita sedang berhadapan dengan Allah yang maha kudus, Allah yang maha mulia, Allah yang maha kuasa, maha segalanya, Ia punya kedaulatan yang tidak bisa diganggu gugat. Tetapi bukan berarti karena ada kedaulatan-Nya kemudian kita tidak sungguh-sungguh. Kita harus tetap bersungguh-sungguh, karena dalam kesungguhan itulah kita memahami apa yang menjadi kehendak Tuhan. Sehingga apapun bentuk jawaban doa yang Tuhan jawab, kita dapat menerima dan semakin meneguhkan iman kita.

BENTUK-BENTUK JAWABAN DOA

1. Jawaban: Ya (Artinya dikabulkan)
Matius 21:22 “Dan apa saja yang kamu minta dalam doa dengan penuh kepercayaan, kamu akan menerimanya.”

Banyak sekali ayat yang sehubungan dengan jawaban “ya”. Bahkan ada ayat yang meneguhkan yaitu: “Apa saja yang kamu minta dalam namaKu, dalam nama Tuhan Yesus Kristus, itu akan diberikan kepadamu”, “Apa saja yang kamu minta harus seolah-olah kamu telah menerimanya” .
Karena ayat inilah membuat beberapa hamba Tuhan bersikap ekstrim . Mereka memberikan arahan bahwa ketika menginginkan sesuatu barang atau lainnya, maka harus menumpangkan tangan ke barang milik orang lain, kemudian mendoakannya untuk segera memiliki barang tersebut untuk diri sendiri.
Pengajaran seperti ini dalam teori kemakmuran sudah merajalela diseluruh dunia. Mereka salah menangkap maksud dari ayat tersebut dan itu diistilahkan meng-imani. Padahal ada ayat lain yang berkata, “jangan mengingini kepunyaan sesamamu”. Jika menginginkan yang seperti itu, maka kerja keras, banting tulang, kumpul dana lalu milikilah apa yang kau ingin miliki. Kenapa dengan bekerja dan banting tulang? Karena dengan bekerja disitulah Tuhan menghadirkan uang.

Didalam kondisi bagaimanakah sehingga jawaban doa itu sangat mudah diperoleh? Yaitu ketika kita baru menjadi orang percaya, pengalaman iman bersama dengan Tuhan adalah doa yang sangat mudah dijawab.
Mengapa? Karena Tuhan sedang memperkenalkan dirinya dengan segala kedahsyatannya. Setelah Dia memperkenalkan dirinya dengan segala kedahsyatanNya, maka giliran kita mulai mengerti, memahami lebih lanjut, supaya kita tahu, bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita.

Jadi saudara, walaupun ada ayat ini dengan jawaban doa yang selalu “ya” dan dikabulkan bukan berarti itu adalah satu-satunya jawaban. Kenapa? Karena setiap kita datang kepadaNya, kita berhadapan dengan kedaulatan Allah.

2. Jawaban: Tidak
Adalah mengejutkan kalau kita katakan Yesus berdoa suatu saat dan Bapa menjawab tidak. Peristiwa ini saat Yesus ditaman getsemani.
Doa Yesus: “Kalo boleh cawan ini lalu daripada-Ku” itu kemanusiaan Yesus dan Ia tidak mampu menerima itu dan kita harus memahami bahwa Yesus sangat menderita padasaat itu. Alkitab menulis bahwa Yesus sangat ketakutan sedangkan guru sekolah minggu mengajar bahwa Yesus itu hebat, luar biasa, Dia berkuasa. Alkitab mencatat bahwa Ia berteriak dengan sangat luar biasa sebelum nyawa-Nya terlepas.

Jika kita berpikir pendek dan berkata: “Kalau toh jawabannya tidak, untuk apa kita berdoa?”

2 Samuel 12:15-20 15Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit. 16Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah. 17Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka. 18Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: “Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!” 19Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: “Sudah matikah anak itu?” Jawab mereka: “Sudah.” 20Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan.

Kisah sebelumnya menjelaskan bahwa pada saat semua pergi berperang, Daud tidak pergi dan sedang berjalan-jalan di atas sotoh rumah, sementara itupun Daud melihat Batsyeba sedang mandi dan iapun menghampiri Batsyeba dan melahirkan seorang anak. Pada waktu itu Daud menugaskan uria untuk ikut berperang dan menempatkannya digaris terdepan agar ia mati dan istrinya, Batsyeba menjadi janda supaya Daud dianggap tidak bersalah.

Mari kita pelajari bersama, pada saat anaknya sakit, Daud mengambil langkah rohani. Banyak kali kita mengambil langkah rohani sebelum menyelesaikan persoalannya dulu (menyelesaikan masalah inti). Padahal persoalan yang tidak beres itu dibereskan lebih dulu baru mengambil langkah rohani.
Langkah rohani tidak dapat membereskan yang tidak beres, jika kita tidak bereskan dulu. Makanya jangan anggap menyiksa diri dengan cara rohani dapat membereskan masalah.

Kembali kepada kisah Daud, setelah Daud sudah bersungguh-sungguh dengan ketekunanyang luar biasa, justru pada hari yang ke tujuh, matilah anak itu. Doanya dijawab ? Ya dijawab, tapi jawabannya adalah “tidak”. Hal penting yang kita pelajari dari Daud, bahwa walaupun jawabannya “tidak”, Daud tidak menjadi kecewa.

Betapa tak terhitung jumlahnya orang-orang yang kecewa oleh karena jawaban Tuhan adalah “tidak”. Dan jawaban “tidak” ini dia anggap bukan jawaban. Padahal “tidak” juga merupakan jawaban. Jangan berpikir kalau begitu tak ada gunanya kita berdoa, tak ada gunanya kita berpuasa, tak ada gunanya kita semalam suntuk\, taka da gunanya bersungguh-sungguh. Semua itu bukan tidak ada gunanya, tetapi kedaulatan Allah tidak bisa kita lawan dengan cara apapun, bahkan kadangkala imanpun tak berdaya karena kedaulatan Allah.

Hal ini yang akan saya beritahu kepada para pendoa syafaat, karena pendoa syafaat mengambil alih pergumulan orang untuk dibawa kepada Tuhan, mengambil alih persoalan negeri untuk menggumulinya dihadapan Tuhan.
Tapi jangan lupa, semua orang yang datang kepada Tuhan bukan hanya berhadapan dengan kemahakuasaan-Nya tetapi juga kedaulatan- Nya.

3. Terpaksa dijawab dengan resiko

Ini adalah orang-orang yang “menyerbu” hadirat Tuhan dengan keinginan-keinginan sendiri. Banyak pendoa seperti ini bahkan mungkin kita sudah pernah lakukan yaitu memaksakan kehendak kepada Tuhan untuk dikabulkan.
Baca: 1 Samuel 8
Ini kisah mengenai umat israel yang meminta raja, padahal Tuhan mau, agar Tuhan sendiri yang menjadi raja bagi mereka dan menjadikan mereka umat kerajaan-Nya. Tetapi bangsa Israel tetap ingin memiliki raja. Sebab didalam berperang dan didalam segala sesuatu yang mereka alami, mereka melihat ada bangsa-bangsa yang memiliki raja dan hanya mereka yang tidak memiliki raja. Jadi, mereka mendesak untuk meminta seorang raja.
Pada akhirnya setelah mereka mendapat raja, Tuhan menyuruh Musa kembali kepada bangsa itu dan katakanlah kepada mereka resiko apa yang mereka dapatkan setelah mereka memiliki raja.

1 Samuel 10:19 Tetapi sekarang kamu menolak Allahmu yang menyelamatkan kamu dari segala malapetaka dan kesusahanmu, dengan berkata: Tidak, angkatlah seorang raja atas kami. Maka sebab itu, berdirilah kamu di hadapan TUHAN, menurut sukumu dan menurut kaummu.”

Memaksakan kehendak didalam doa bisa terjadi, dan Tuhan “mengabulkannya” (tanda kutip), tapi ada resiko yng harus ditanggung. Dan jika kita baca daftar kesukaran yang mereka alami sesudah mendapat raja yang seorang manusia, betapa mengerikkan, tetapi mereka rela, karena sudah dijawab.

Jadi kita harus waspada, jangan pernah memaksakan Tuhan dalam meminta sesuatu. Ketika kita sudah menerimanya kita berkata: “Puji Tuhan, setelah kami bergumul sekian lamanya, ternyata akhirnya Tuhan mengabulkan”. Bukan masalah tentang lamanya pergumulan doa itu, tetapi ingat bahwa Tuhan sudah mengingatkan kita untuk datang dengan iman, bukan datang dengan persoalan, bukan datang dengan keinginan, bukan datang dengan permintaan. Tidak dilarang untuk meminta, tetapi perlu kita pahami supaya tidak kecewa, ada resiko dan resiko itu diluar tanggungjawab Tuhan.
Resiko itu adalah akibat yang kita lakukan dengan memaksa Tuhan. Mungkin kita akan bertanya: “Oh apakah Tuhan bisa dipaksa?” Tuhan tidak bisa dipaksa, tetapi Tuhan melakukan ini untuk mengajar dan menghajar kita dengan permintaan sendiri. Jadi permintaan kita yang “dijawab” (tanda kutip) oleh Tuhan, itu juga yang menimpa kita sebagai hukuman. Hal ini bukan berarti Tuhan bisa di atur. Tetapi ini sudah yang sering saya katakan bahwa orang yang tidak bisa dididik dengan kata-kata akan dididik dengan peristiwa.

4. Tuhan menjawab dengan cara lain

Mari kita semua jujur, setiap kali kita berdoa dan minta sesuatu, kita sudah punya konsep. Dan ternyata, ketika Tuhan menjawab dengan cara lain, maka kita menjadi kecewa, karena jawabannya tidak sesuai dengan yang kita konsepkan. Jangan datang dengan konsep tetapi datang dengan iman.

2 Korintus 12:8-10 8Tentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan Iblis itu mundur dari padaku. 9Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.” Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. 10Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat.

Paulus memiliki duri dalam tubuhnya, dan dia tau bahwa itu suruhan iblis. Kemudian Paulus berdoa karena Paulus tahu ini jalan yang akan menyelesaikan secara iman. Apalagi ada ayat yang berkata doa mengubah segala sesuatu. Dan 3 kali ia berdoa supaya pesuruh Iblis ini dicabut dari padanya. Tetapi Tuhan berkata, cukuplah kasih karunia-Ku bagimu. Sebab dalam kelemahanmulah KUASAKU MENJADI SEMPURNA. Dan setelah kita baca lebih lanjut, kenapa ini ada dan tidak dicabut? dia memahami, supaya aku tidak menyombongkan diri.

Itulah Tuhan berkata, adalah lebih baik kita menguji diri kita sendiri, Tuhan berikan kita kesempatan dan kemurahan-Nya, daripada Tuhan yang harus melakukan sesuatu ujian atas kita mungkin kita tidak akan mampu.

Jadi rupanya duri ini adalah alat untuk mengingatkan dia, ternyata saya masih ada kelemahan, dan segala kekuatan hanya daripada Tuhan datangnya. Artinya jawaban Tuhan dengan cara lain ini, mempunyai maksud dan tujuan yang baik untuk diri yang meminta doa seperti yang dialami oleh Rasul Paulus. Jadi ketika kita minta sesuatu, Tuhan menjawabnya lain dari konsep kita, ketahuilah ada maksud baik untuk kebaikan kita.

Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Mari kita pahami dan syukuri, supaya pada saat kita berdoa dan apapun permintaan kita, kita sedang berhadapan dengan kedaulatan Allah. Tidak dilarang meminta, tidak dilarang bertekun, tetapi ketika jawaban datang, biarkan Tuhan menjawab menurut cara-Nya.
Dan ketika jawaban datang, tidak ada sesuatu yang kita banggakan, karena jawaban itu berasal dari tahta kemuliaan Allah yang penuh kedaulatan. Tetaplah berdoa! Dan nyatakanlah kepada Allah segala keinginan dalam doa, permintaan dan ucapan syukur . Persilahkan Tuhan menjawab sesuai kehendakNya.
By : Pdt. R.F. Martino