This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Daily Archives: 10/02/2019

MENJALANI DAN MEMILIKI VISI ALLAH — Menemukan Sumber Daya Diri —

Yosua 1:3 Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.

PENDAHULUAN
Semua orang harus memulai hidup barunya dengan visi Allah bukan visi sendiri
Allah tidak hanya memberikan visinya kepada kita, tapi Ia juga sudah memberikan sumber daya dalam diri kita supaya bisa menjalani visi tersebut. Musa sudah diberikan “tongkat” untuk menjalani visi Allah.
Kita harus terus mengingat tentang hal-hal di atas supaya kita memahami bahwa kegagalan-kegalan dalam mencapai visi Allah lebih disebabkan oleh karena faktor-faktor internal yang ada dalam diri kita.
Tuhan tidak memakai apa yang tidak ada pada kita, ketika ada hal yang tidak ada pada diri kita maka Ia akan memberikannya terlebih dahulu.

2 Timotius 2:20-21 21Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. 21 Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.

Demikian juga Tuhan sudah memberikan kejelasan yang sangat nyata dalam hidup kita sehari-hari bahwa di dalam rumah ada perabot yang dipakai dengan biasa dan ada yang dipakai untuk hal yang mulia. Orang-orang yang mau menyucikan diri dari kejahatan pasti ia mendapat tempat yang mulia.

Kita harus bisa menemukan apa saja yang ada pada diri kita pada saat kita lahir di dunia ini, apa saja yang sudah Tuhan tetapkan, baik secara alamiah/genetika/kelahiran itu juga adalah bagian-dari sumber daya-sumber daya yang Tuhan berikan. Bicara tentang hal ini kita harus menengok ke belakang (masa lalu) bukan untuk mengingat pengalaman-pengalaman pahit, tapi bagaimana kita menemukan apa yang sudah ada sejak kita lahir.

Kita sudah belajar untuk memahami bahwa di dalam kehidupan ada masa lalu, masa sekarang dan masa depan. Untuk menjalani masa yang akan datang harus dimulai dengan visi yang dari Allah. Tetapi sebelum kita menjalaninya, Tuhan mau kita menemukan apa yang menjadi sumber daya yang ada pada diri kita yang Tuhan sudah taruhkan pada saat kita lahir. Tuhan sudah menaruh potensi dalam diri setiap orang yaitu bakat atau sesuatu yang khusus.Tidak ada seorangpun lahir ke dunia tanpa memiliki bakat.

Pada saat Allah memberikan visi-Nya kepada kita, sesungguhnya Ia telah melengkapi kita dengan sumber daya untuk mewujudkan visi tersebut. Dan hal ini sangat besar pengaruhnya dalam kita meresponi visi. Berhasil tidaknya kita mewujudkan visi yang kita perolah dari Allah tergantung sejauh mana kita memfungsikan sumber daya yang sudah diberikan kepada kita.
Orang-orang ekstrim menganggap ini adalah hal “dunia” yang menganggap bahwa berarti kita mengandalkan diri sendiri, hal ini keliru. Kita sama sekali tidak mengandalkan diri sendiri atau pikiran diri sendiri atau kemampuan diri sendiri.

DIDIKAN DAN LATIHAN (DIKLAT)
Didikan dan latihan bukan menyangkut berbagai disiplin ilmu pegetahuan, melainkan jati diri yang terbentuk dari didikan dan pelatihan yang telah diperoleh seseorang.

Faktor-faktor berikut akan mempengaruhi kita dalam mencapai visi Allah:
1. Lingkungan Keluarga
2. Lingkungan Gereja
3. Pendidikan Formal dan Non Formal

1. Lingkungan keluarga
Lingkungan keluarga merupakan aspek yang pertama dan utama dalam mempengaruhi perkembangan anak
a. Seorang anak lebih banyak menghabiskan waktunya di lingkungan keluarga, sehingga keluarga mempunyai peran yang banyak dalam membentuk perilaku dan kepribadian anak serta memberi contoh nyata kepada anak

b. Di dalam keluarga, anggota keluarga bertindak secara alamiah apa adanya tanpa dibuat-buat. Dari kelyarga inilah baik dan buruknya perilaku dan kepribadian anak terbentuk
c. Apabila orang tua berperilaku kasar dalam keluarga, maka anak cenderung akan meniru. Begitu juga sebaliknya, orang tua yang berperilaku baik dalam keluarga, maka anak juga cenderung akan berperilaku baik.

d. Cara orang tua mendidik anak juga mempengaruhi perkembangan perilaku dan kepribadian anak. Orang tua yang otoriter sering memaksaanak untuk menaati peraturan-peraturan yang diberikan orang tua kepada anaknya.
Cara seperti ini, jiwa anak akan tertekan akibat paksaan-paksaan, kurangnya kepercayaan diri dalam bergaul, serta kurangnya kebebasan anak dalam bereksplorasi.

e. Sedangkan orang tua yang permisif lebih cenderung memberi kebebasan kepada anaknya tanpa memberi kontrol dan batasan-batasan. Orang tua hanya sedikit memberi nasihat dan bimbingan. Cara didikan ini, mengakibatkan anak cenderung bebas dalam bertingkah laku tanpa adanya kontrol yang kuat pada dirinya. Anak akan terkesan manja karena kebebasan yang diberikan dan kurangnya hukuman atau ganjaran yang ia dapat dari hasil perbuatannya.

f. Cara otorisasi/otoritatif. Orang tua selalu menuntut anaknya untuk mematuhi peraturan, anak juga diberi kesempatan untuk berpikir dan berdiskusi mengenai peraturan-peraturan yang dibuat oleh orang tuanya. Orang tua memberi kebebasan kepada anaknya untuk bereksplorasi, tetapi juga memberikan kontrol kepada anak.

Didikan seperti ini akan membuat anak merasa bagian dari keluarga danikut berperan dalam keluarga. Anak lebih mandiri dan mempunyai pendirian yang kuat, tanggungjawab yang besar, percaya diri dan mempunyai kendali diri yang kuat.

Amsal 4:13 Berpeganglah pada didikan, janganlah melepaskannya, peliharalahdia, karena dialah hidupmu.

Amsal 19:20 Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan.

Amsal 23:13-14 13 Jangan menolak didikan dari anakmu ia tidak akan mati kalau engkau memukulnya dengan rotan. 14 Engkau memukulnya dengan rotan, tetapi engkau menyelamatkan nyawanya dari dunia orang mati.

Amsal 20:20 Siapa mengutuki ayah atau ibunya, pelitanya akan padam pada waktu gelap.

Efesus 6:1-4 1 Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. 2 Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: 3 supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. 4 Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.

(…bersambung)

By : Pdt. RF. Martino