This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Daily Archives: 23/09/2018

AGAPE TIDAK PEMARAH

1 Korintus 13:5 Ia (Agape) tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain.
Setiap kita berinteraksi dengan orang lain dalam tatanan kehidupan sehari-hari, pada akhirnya orang akan mengetahui bahwa kita adalah orang Kristen. Saat kita diketahui sebagai orang Kristen, apakah kita dapat mempertanggungjawabkan iman kita bahwa kita adalah orang percaya yang telah lahir baru?
Ketika kita membahas mengenai Agape, kita membahas mengenai tatanan hidup sehari-hari, dan dalam hal ini adalah mengenai “tidak pemarah” dan dilanjutkan “tidak menyimpan kesalahan orang lain”. Seorang pemarah mudah diketahui, namun bagaimana dengan seorang yang menyimpan kesalahan orang lain? Apakah itu tidak dapat diketahui karena berada di dalam hati? Sekalipun berada di dalam hati, pada akhirnya hal itu dapat diketahui karena apa yang berada di dalam hati akan diekspresikan/dilampiaskan keluar dalam bentuk:
– Ekspresi wajah
– Ekspresi tubuh
– Mulut yaitu kata-kata kotor, kata-kata makian, dan puncaknya adalah kata-kata kutuk.
Sebenarnya marah adalah hal yang sangat manusiawi dan pasti terjadi pada setiap orang. “Marah” beda dengan “Pemarah”. Pemarah berarti tukang marah, setiap hari pasti marah.
Kita perlu memahami bahwa kemarahan berdampak/berpengaruh negatif tak hanya terhadap roh, hati dan kejiwaan, namun juga berpengaruh negatif kepada kesehatan fisik/organ tubuh. Seorang pemarah/orang yang suka marah, akan mengalami tarikan otot otot di wajahnya dan secara alamiah akan membuat bentuk wajah baru yang kurang baik di pandang.
Karena itu kita perlu merenungkan: Tidak bisakah kita mengkaji manakah hal yang pantas untuk marah dan hal yang tidak pantas untuk marah? Karena kita tidak perlu marah untuk segala hal.

A. Marah yang diizinkan Alkitab
Bagaimana kata Alkitab? Sebenarnya Alkitab tidak melarang kita marah, namun ada syaratnya:
1. Jangan simpan amarah.
Efesus 4:26 (Terjemahan Baru) “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu”
Dalam Terjemahan Lama artinya lebih jelas: “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa, jangan kamu simpan kemarahanmu sehingga matahari masuk”. Berarti Alkitab menasihatkan agar jangan menyimpan kemarahan sampai matahari terbenam. Namun sayangnya yang banyak terjadi adalah orang menyimpan kemarahan sampai beberapa hari.

2. Memiliki alasan / motivasi yang benar yang mendasari kita untuk marah.
Alkitab mencatat bahwa Tuhan Yesus juga pernah beberapa kali marah. Apa alasan Tuhan Yesus marah?
a. Markus 3:5 “Ia berdukacita karena kedegilan mereka dan dengan marah Ia memandang sekeliling-Nya kepada mereka lalu Ia berkata kepada orang itu: “Ulurkanlah tanganmu!” Dan ia mengulurkannya, maka sembuhlah tangannya itu. ”
Tuhan Yesus marah karena orang-orang Farisi lebih menghargai binatang daripada manusia. Mereka mengklaim sangat menaati Sabat dan tidak bekerja saat hari Sabat. Nyatanya saat ada binatang mereka yang terperosok, mereka menolong binatang itu agar tidak mati. Namun saat ada orang yang sakit, mereka tidak ingin orang sakit itu disembuhkan pada hari Sabat. Tuhan Yesus marah karena apa yang orang-orang Farisi lakukan itu tidak benar.

b. Markus 8:33 “Maka berpalinglah Yesus dan sambil memandang murid-murid-Nya Ia memarahi Petrus, kata-Nya: “Enyahlah Iblis, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia.””
Saat Yesus menceritakan penderitaan yang akan dialami-Nya, Petrus memberikan kalimat penghiburan kepada Yesus dan ini sangatlah etis. Namun Yesus justru marah dan menghardik Petrus: “Enyahlah Iblis!”. Kita harus memahami maksud Yesus supaya kita jangan memakai ayat ini menjadi pembenaran buat kita untuk mengatai orang “Iblis” saat kita marah. Tuhan Yesus mengetahui bahwa perkataan empati Petrus itu berasal dari Iblis. Dari sini kita juga memahami bahwa saat konseling, jangan hanya memberikan kalimat penghiburan yang kosong tetapi kebenaran Firman-lah yang harus ditegakkan. Sungkanisme tidak boleh mengalahkan prinsip iman.
Ada seorang pengusaha yang akan bangkrut dan rumahnya akan disita bank. Ia datang kepada hamba Tuhan. Hamba Tuhan itu memberi kalimat penghiburan lalu berdiri di depan pintu rumah sambil berdoa agar rumah tersebut tidak disita. Namun apa yang terjadi? Besoknya rumah pengusaha itu disita bank. Seharusnya hamba Tuhan itu menguatkan pengusaha itu bahwa apapun yang terjadi, atas seizin Tuhan, dan ia harus tetap kuat.

c. Markus 10:14 “Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: “Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah.””
Dalam kasus ini Yesus marah karena orang-orang itu menghalang-halangi anak-anak untuk bertemu dengan Yesus.

3. Kemarahan itu untuk perbaikan. Harus ada hasil akhir yaitu perubahan.
Mari kita kembali kepada pengalaman kita masing-masing dalam mendidik anak. Ada kalanya dalam mendidik kita sampai memukul anak. Alkitab mengajarkan bahwa “di ujung rotan ada pengajaran” berarti jangan memukul anak pakai tangan. Mengapa? Karena kemarahan itu mengalir dan tersalurkan ke seluruh tubuh. Maka jika kita memukul dengan tangan, pukulan itu akan sangat kuat dan membekas sampai ke dalam kulit. Sebaliknya jika kita memukul dengan ujung rotan, itu hanya melukai permukaan kulit saja. Dalam memukul anak, orangtua juga jangan dikuasai oleh emosi. Sebaiknya memukul tembok lebih dulu supaya kita tidak dikuasai emosi dalam memukul anak. Bukankah Firman Tuhan juga mengajarkan: “Ayah-ayah jangan sakiti hati anakmu”? Namun dalam pelayanan di Jambore Pelajar maupun Jambore Pemuda Remaja, banyak anak-anak yang sakit hati dengan orangtua. Sebaliknya anak-anak jangan menghancurkan masa depanmu dengan cara berontak pada orang tua karena Alkitab berkata “pelitamu akan padam”.

4. Menggunakan cara yang Alkitabiah.
Kita harus memahami bahwa kemarahan adalah jalan tol menuju dosa. Maka tidak semua hal harus disalurkan dengan kemarahan. Jika ada yang berbuat dosa atau kesalahan, Alkitab mengajarkan:
a. Panggil 4 mata dan tegur. Jika ia bertobat maka tugas kita selesai.
b. Jika belum bertobat, maka kita perlu menegurnya disaksikan oleh 2 orang saksi. Mengapa saat kita memberi nasihat perlu ada saksi? Agar orang yang ditegur tidak memutar cerita/memutarbalikkan fakta.
c. Jika orang itu tetap tidak mau bertobat maka langkah akhir adalah orang itu ditertibkan lalu diumumkan di depan jemaat. Mengapa? Supaya cukup hanya ia yang ditertibkan, jangan sampai membawa-bawa orang lain ke dalam kesalahannya.

B. Bagaimana cara mengatasi marah?
1. Cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata dan lambat untuk marah.
Yakobus 1:19-20 “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.”
Banyak orang yang malas belajar untuk menyelidiki suatu hal, namun terlalu cepat berkata-kata/marah (apalagi ada media sosial untuk orang bebas berpendapat) yang justru mempertontonkan kebodohannya.
Amarah hanya boleh berdasarkan kebenaran dan itupun terkendali sesuai aturan-aturan tatanan hidup dimana kita berada.

2. Datang kepada Tuhan
Mazmur 37:1-2, 7-8 “Dari Daud. Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang; sebab mereka segera lisut seperti rumput dan layu seperti tumbuh-tumbuhan hijau. Berdiam dirilah di hadapan TUHAN dan nantikanlah Dia; jangan marah karena orang yang berhasil dalam hidupnya, karena orang yang melakukan tipu daya. Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.”
Salah satu buah Roh Kudus adalah “penguasaan diri” dan juga “kesabaran”. Cara Tuhan memproses agar kita sabar adalah menghadirkan orang-orang yang menjengkelkan sampai kita menjadi orang yang sabar. Saat orang-orang tersebut hadir dalam hidup kita, cara mengatasinya adalah datang kepada Tuhan dan berdiam diri di hadapan Tuhan. Roh Kudus akan menolong kita untuk meninggalkan kemarahan.

By : Pdt. R. F. Martino