Monthly Archives: August 2018
AGAPE (4) Kasih itu Tidak Memegahkan Diri dan Tidak Sombong
I Korintus 14:1 Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.
I Yohanes 5:3-4 3Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, 4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.
I Korintus 13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Setiap orang yang sudah menjadi percaya yang lahir dari benih Ilahi, dengan sendirinya seharusnya tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Kalau kita hanya membaca sepintas, kita tidak menemukan adanya perbedaan antara “memegahkan diri” dan “tidak sombong”. Ada penempatan kalimat “memegahkan diri” dan “tidak sombong” sesuai dengan situasi dan kondisi kejadian tersebut.
Dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita sebagai mahluk sosial yang berinteraksi sering kita menemukan pribadi-pribadi yang memegahkan diri didalam sikap ataupun cara berbicaranya.
Ada yang berbicara dengan suka melebih-lebihkan, ada juga yang gaya gerak tubuhnya yang kelihatan sombong.
Berikutnya, ada juga yang tidak menyadari bahwa orang lain menganggap dirinya sombong, dikarenakan bahasa tubuhnya menunjukkan sikap yang tidak etis yang dia sendiri kurang memahaminya, karena memang bahasa tubuh tiap-tiap suku bangsa berbeda-beda.
Contoh: di suatu tempat, hal mengangkat kaki adalah hal yang dianggap sombong, tetapi dibeberpa tempat yang lain itu adalah hal yang biasa.
Memegahkan diri sama saja dengan sombong hanya bedanya orang yang memegahkan diri itu lebih banyak di ekspresikan lewat kata- kata. Ada setitik kelebihan yang terlalu dia anggap hebat dan orang lain harus tahu dan iapun mendeklarasikan pada orang lain, supaya orang lain itu tahu tentang kelebihannya, yang kadangkala tidak ada dasarnya. Sedangkan sombong biasanya ada dasarnya. Misalnya ia menyombongkan kepintarannya, karena memang ia pintar, ia menyombongkan kekayaannya karena memang ia adalah seorang yang kaya.
Jangan menganggap remeh hal ini karena ini adalah roh Lucifer. Umumnya dimulai dengan kebiasaan melebih-lebihkan cerita yang ada, terutama yang menyangkut diri sendiri. Ini sangat berbahaya, tanpa disadari menjadi sikap dan tindakan. Teruslah memahami bahwa agape itu tidak memegahkan diri dan tidak sombong
Contoh: seorang pria yang menaksir seorang wanita, karena mau dianggap mampu oleh si wanita dan takut ditolak akhirnya dia bersikap melebih-lebihkan dirinya padahal tidak sesuai dengan kenyataan. Padahal agape itu apa adanya, tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Agape dan asmara adalah hal yang berbeda, Agape tidak memegahkan diri tapi asmara memegahkan diri.
Harus dijaga dengan baik, jangan terbiasa berbicara dengan melebih-lebihkan sesuatu, jangan takut tidak diterima orang lain. Kalau kita tidak mengatasi hal ini, maka kelamaan kesombongan bukan hanya sekedar sikap tapi akan akan menjadi sifat dan akan menjadi gaya hidup.
Ketika sikap memegahkan diri itu dibiasakan itu akan menjadi sifat, kalau sudah menjadi sifat kita akan terbentuk menjadi pribadi yag tidak memusingkan lagi kehadiran Tuhan dan tidak melibatkan Tuhan dalam segal hal.
Yakobus 4:13-17 13 Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”, 14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. 15 Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.”16 Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. 17 Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.
Adakah yang salah dari orang ini. Dia punya perencanaan dan visi yang sudah direncanakan bahkan sampai pada golnya. Ia sudah tau akan pergi kemana dan dia sudah hitung semuanya, ia berdagang dan akan mencapai (Break Event Point (BEP). Dia tidak sadar bahwa malam ini ia akan diambil nyawanya.
Jadi sikap sombong dan memegahkan diri secuilpun tidak boleh tinggal dihati. Karena itu merupakan celah dan pintu masuk bagi si Iblis. Lucifer jatuh dan dicampakkan ke bumi karena kesombongannya.
Jangan pernah merampas kemuliaan Tuhan, karena jika Tuhan mengambil kemuliaan-Nya maka kita kan dihinakan. Dalam sebuah kasus ada seorang hamba Tuhan yang jatuh, karena kesombongannya.
Manusia punya sifat dasar membutuhkan pengakuan dari orang lain. Makanya kenapa banyak orang menjadi sombong. Kita hidup hanyalah karena kasih karunia, apakah yang mau kita banggakan? Semua adalah sama di hadapan Tuhan. Memang, keberadaan kita di dunia berbeda-beda, baik itu status sosial, ekonomi, dll. Tapi tu tidak boleh menjadi dasar untuk kita menjadi sombong.
Efesus 2:8-9 8 Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, 9 itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.
Ulangan 8:11-20 11 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; 12 dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, 13 dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, 14 jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, 15 dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, 16 dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya. 17 Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. 18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. 19 Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa; 20 seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamu pun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.”
Keadaan sudah membaik, sudah hidup layak, sudah makan sampai kenyang, sudah punya rumah dan semua sudah ada, artinya Tuhan sudah mengangkat hidup kita. Patutkah ini kita pakai untuk menyombongkan diri dengan sesama dan kepada TUhan? Ini tidak bisa dijadikan dasar.
Yesaya 2:11-12 11 Manusia yang sombong akan direndahkan, dan orang yang angkuh akan ditundukkan; dan hanya TUHAN sajalah yang maha tinggi pada hari itu. 12 Sebab TUHAN semesta alam menetapkan suatu hari untuk menghukum semua yang congkak dan angkuh serta menghukum semua yang meninggikan diri, supaya direndahkan;
Yakobus 4:6 Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: “Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.”
Kesombongan itu bukan hanya sekdear dosa perbuatan, Jadi kita perlu sangat berhati-hati jangan sampai seperti itu.
Tuhan melawan orang farisi dan ahli-ahli taurat, karena sampai dalam hal rohanipun mereka menyombongkan diri (sombong rohani).
Matius 23:1-8 1 Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya: 2 “Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa. 3 Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya. 4 Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya. 5 Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang; 6 mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat; 7 mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi. 8 Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.
Matius 23:11-12 11Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu. 12 Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.
Temukan diri kita ini siapa, baik secara manusia terlebih secara iman. Mungkin secara manusia kita dari keturunan yang baik-baik, tapi begitu kita renungkan kita menemukan dri kita adalah orang yang berdosa. Temukanlah! Kalau kita sudah temukan diri kita, maka ini akan menolong kita untuk tidak mengizinkan kesombongan menguasai kita.
Jangan lupakan Tuhan. Jaga hati, sombong bukan dosa biasa itu, itu benih dari Lucifer. Dengan tetap rendah hati, tidak perlu dan tidak ada gunanya untuk sombong. Begitu juga dalam hal rohani, dalam hal pelayanan apapun.
Andai kita bisa hidup suci, jangan ada yang menyombongkan diri. Kehidupan sehari-harilah yang akan menunjukkan, bukan karena aktifitas-aktifitas rohani.
By : Pdt. R.F.Martino
AGAPE (3)
1 Korintus 14:1 Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.
1 Yohanes 5:3-4 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita.
1 Korintus 13:1-4
Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.
Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Kita sudah mengetahui bahwa iman adalah ketaatan tanpa syarat. Iman hanya dapat menghasilkan perbuatan-perbuatan iman jika ia digerakkan oleh agape. Berdaya tidaknya iman kita didalam suatu ketaatan tergantung kadar agape yang ada pada diri kita.
Allah itu kasih dan kasih tidak cemburu tetapi beberapa ayat di alkitab menunjukkan hal yang sebaliknya. Kita harus memahami ini agar memiliki pemahaman yang benar dan dapat memberikan penjelasan dengan benar.
Keluaran 20:5 Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
Ulangan 4:24 Sebab TUHAN, Allahmu, adalah api yang menghanguskan, Allah yang cemburu.
Alkitab menjelaskan bahwa kasih tidak cemburu. Tetapi mengapa Allah sendiri pencemburu? sedangkan Allah adalah kasih. Dalam kitab Ulangan, dituliskan bahwa Allah itu pencemburu sekaligus api yang menghanguskan.
Kata cemburu di dalam alkitab tergantung konteks apa yang sedang dibicarakan dan kalimat yang ada pada ayat tersebut. Supaya kita jangan sama ratakan bahwa cemburu ini bagian dari pada panas asmara yang merajalela. Walaupun cinta dan asmara itu berbeda tapi bukan berarti asmara itu dosa. Asmara hanya berlaku di bawah hukum pernikahan. Asmara yang merajalela di luar pernikahan itu adalah dosa.
Ketika Rasul Paulus berbicara/menasehati jemaat Korintus tentang agape, dan di dalamnya rincian tentang spesifikasi, kriteria atau pun juga ciri-ciri khas dari agape, ia katakan bahwa agape itu tidak cemburu.
Sebagian orang menganggap bahwa ayat ini hanya berbicara pada konteks tertentu, tetapi jika kita meneliti dengan sungguh, maka sangat luas apa yang Paulus katakan dan nasehati tentang jemaat di Korintus yang bermasalah dalam hal cemburubaik secara rohani yaitu hubungannya dengan Tuhan maupun antar sesama. Sehingga Paulus menggunakan kata cemburu atau lebih tepatnya adalah iri hati.Kata cemburu tidak berbeda maknanya dengan iri hati tergantung konteksnya. Dalam kamus bahasa Indonesia dikatakan bahwa irihati didefinisikan sebagai tidak senang melihat kelebihan orang lain di dalam aspek apapun; ketidakpercayaan terhadap orang tersebut;
Paulus melihat keberadaan pribadi-pribadi jemaat yang berada dalam kondisi seperti ini, sehingga ia menjelaskan kepada jemaat bahwa tidak boleh ada rasa iri hati satu dengan yang lain. Siapapun itu, baik sesama saudara, antar saudara seiman maupun kepada semua orang.
Melalui kisah jemaat di Korintus, kita sebagai orang percaya yang sudah lahir dari benih Agape, dinasehati untuk tidak cemburu/iri hati. Karna kasih tidak cemburu.
Kita tahu, sejak awal Kain telah membunuh Habel karena iri hati. Persembahan Habel diterima Tuhan dan persembahan Kain tidak diterima Tuhan. Alkitab menulis bahwa Kain menjadi iri hati lalu membunuh Habel, adiknya itu.
Dalam kitab Perjanjian Lama dituliskan juga bahwa Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya karena cemburu. Dalam kitab Kisah Rasul dituliskan “bahwa nenek moyang kami telah menjual Yusuf karena iri hati”.
Iri hati akan merusak pribadi juga sekaligus merusak orang lain. Baik secara horizontal maupun secara vertikal, kita tidak boleh memiliki iri hati.
Cemburu secara Vertikal
Ketika kita bicara secara rohani, maka kita berhadapan dengan Tuhan. Karena semua hal-hal yang berhubungan dengan iman, sangat bersifat pribadi. Ketika kita berhadapan dengan Tuhan, maka kita sedang berhadapan dengan Tuhan yang Pencemburu tetapi bukan dalam konteks iri hati.
2 Korintus 11:2 Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi. Karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.
2 Korintus 11:3Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus, sama seperti Hawa diperdayakan oleh ular itu dengan kelicikannya.
Secara pemahaman alkitab/teologis, gereja diibaratkan sebagai mempelai Kristus/mempelai perempuan, Yesus sebagai mempelai laki-laki. Ia akan datang menjemput mempelai perempuan-Nya, peristiwa itu disebut sebagai pengangkatan gereja, akan ada pertemuan di udara dan pernikahan anak domba.
Yesus adalah mempelai laki-laki, gereja adalah mempelai perempuan. Selama mempelai laki-laki belum datang, gereja Tuhan sebagai mempelai perempuan mempersiapkan diri dalam menanti mempelai laki-laki. Yang dipersiapkan oleh mempelai perempuan ini yaitu menghiasi dirinya dengan segala hal-hal yang rohani atau dengan kata lain gereja disempurnakan sebegitu rupa seperti mempelai wanita sebelum dijemput oleh mempelai pria yaitu tanpa cacat kerut. Dalam bahasa sederhana, kita sedang di proses/dibentuk sehingga tidak ada cacat kerut supaya layak menjadi mempelai Kristus.
Paulus mengatakan tentang cemburu karena ada masalah tentang pencemaran iman, pencemaran cinta Agape. Hal ini dapat menjurus kepada yang namanya perzinahan rohani. Kita bisa sangat malu terhadap hal perzinahan tubuh, tetapi sebagian orang Kristen tidak pernah merasa malu dengan yang namanya perzinahan rohani. Orang yang berzinah secara tubuh mencemari tubuhnya tetapi perzinahan rohani mencemari rohnya dan menyebabkan hubungannya dengan Tuhan menjadi rusak. Hal ini dapat menyebabkan api cemburu Tuhan dapat menghanguskan orang tersebut. Sehingga firman Tuhan katakan “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.” Dengan kata lain, tidak boleh ada yang kita sembah, kita puji, kita agungkan dan menempati hati kita selain dari Yesus Kristus.
Keluaran 20:3-5 Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku. 4Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. 5Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku,
Rasa cemburu Tuhan adalah seperti api yang menghanguskan. Tuhan melakukan pembalasan terhadap keturunan ketiga dan keempat. Jadi kita tidak boleh bermain-main dengan perzinahan rohani. Itu sebabnya harus ada doa pemutusan atas kutuk turunan. Karena kita mengetahui bahwa latar belakang nenek moyang kita adalah penyembah berhala, dari latar belakang animisme.
Api cemburu yang dari Tuhan dapat membakar keturunan kita sampai 160 tahun kedepan. Sehingga kita diperingatkan supaya tidak ada ilah lain. Kristus sebagai mempelai laki-laki yang akan menjemput kita sebagai mempelai perempuan.
Mungkin kita sudah tidak menyembah patung, tidak percaya mitos, hal-hal mistis dan tahayul, tetapi yang menjadi berhala atau ilah adalah apa yang paling kita cintai dalam hidup kita termasuk barang, benda maupun orang. Selain uang yang menjadi ilah dalam hidup banyak orang, handphonedengan berbagai macam aplikasinya dapat menjadi berhala dalam hidup kita saat ini. handphone memang membantu untuk sarana berkomunikasi tetapi juga dapat menjadi ilah yang menggantikan posisi Allah dalam hati kita. Ada juga hobi hobi tertentu yang menjadi berhala dalam hidup kita. Karena setiap zaman ada ilahnya.
Jemaat di Korintus memiliki ketekunan dan kesetiaan yang sangat baik pada awalnya. Tetapi ketika ada pemberitaan Injil yang lain, mereka pun langsung menerima. Berbicara mengenai ketegasan prinsip iman supaya tidak dikalahkan oleh sungkanisme, Tuhan berbicara sangat tegas “Apabila ada orang yang memberitakan Injil yang lain, maka tidak boleh diterima ataupun diberi salam.” Sehingga kita hanya menjadi milik daripada Kristus
Cemburu secara Horisontal
Apakah anda pernah tidak senang dengan kelebihan orang, tidak mengakui kelebihan orang lain? Kita harus mengakui dengan jujur itu adalah ciri khas bangsa kita dan harus kita rubah karena kita sudah menerima Kristus.
Sebagai orang percaya, kita harus memperbaiki diri dari mental iri hati. Rasa iri tidak bisa menerima kemahiran dan kemampuan orang lain ada dimana-mana dan hal ini pun sudah masuk dalam gereja. Kita memahami bahwa gereja-gereja sudah memiliki fungsinya masing-masing sebagai tubuh Kristus. Masing-masing Tuhan sudah berikan tugas dan karunia itu, supaya gereja Kristus menjadi sempurna karena saling melengkapi. Jadi tidak perlu ada rasa iri hati, tidak perlu ada rasa tidak dapat saling menerima atas apa yang Tuhan sudah kerjakan.
Bahaya iri hati:
1. Mencemari hati dapat merusak roh kita.
2. Mencemari fisik karena dapat mendatangkan penyakit bagi tubuh.
3. Tidak ada tempat di surga bagi orang yang iri hati.
Tuhan tidak mengizinkan kita iri hati kepada siapa pun termasuk kepada orang yang jahat sekalipun.
Amsal 3:31 Janganlah iri hati kepada orang yang melakukan kelaliman, dan janganlah memilih satu pun dari jalannya,
Amsal 14:30 Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.
Galatia 5:19-21 Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,20penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, 21kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu — seperti yang telah kubuat dahulu — bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Sangat jelas yang Alkitab katakan tentang iri hati dan akibatnya secara jiwani maupun rohani. Jadi buanglah semuanya itu.
By : Pdt. R.F Martino
AGAPE (2)
I Korintus 14:1 Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.
I Yohanes 5:3-4 3 Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, 4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita
Sebelumnya kita sudah mempelajari bahwa ada empat macam kasih, yaitu: Eros, Storge, Philia, dan Agape. Sebagian orang menganggap empat macam kasih ini memiliki nilai yang sama (tidak ada yang lebih tinggi atau tidak ada yang lebih rendah) semuanya sama. Tapi tidak menurut Alkitab.
Iman dan agape berbicara mengenai hal-hal yang riil/hal-hal yang nyata dalam hidup sehari-hari, yang disebut realitas. Iman bukan hanya berbicara tentang menerima keselamatan, iman dituntut juga harus disertai dengan perbuatan.
Iman tergantung dari kadar agape yang dimiliki. Ketika iman lumpuh tidak berdaya dan tidak menghasilkan apa-apa, itu berarti agape lagi bermasalah, karena iman tergantung dari kadar agape di dalamnya. Ini perlu dipelihara yaitu agape yang ada dalam hati kita. Makanya ada ayat juga berkata dalam Amsal 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Kita perlu selalu belajar dengan pertolongan Roh Kudus untuk membawa benih agape itu bertumbuh, berfungsi dan menghasilkan buah.
Kita juga harus berhati-hati ketika iman kita melakukan ketaatan. Berdasarkan apa iman kita melakukannya? Apakah storge atau filia?
Sebagian besar ketaatan yang dilakukan oleh orang percaya biasanya hanya karena takut “Tuhan pukul”. Ada juga yang hanya berdasarkan storge dan filia saja
Storge dan filia juga punya kemampuan yang luar biasa. Contohnya saja kita bisa terkagum-kagum dengan perbuatan kasih yang dilakukan oleh orang-orang yang belum percaya, padahal disitu tidak ada agape.
Ada orang tua yang berani mengorbankan nyawanya buat anaknya, ada seorang yang rela berkorban untuk sahabatnya. Meskipun secara kenyataan kita tahu bahwa hal-hal itu bisa saja semakin surut.
Tetapi adalah hal yang sangat aneh jika orang percaya yang lahir dari beih Ilahi yaitu benih agape, kedahsyatan kasihnya kalah oleh kasih storge dan filia. Maka dari itulah Yesus dalam Alkitab mengecam orang Lewi dan Orang Saduki yang tahu banyak firman tapi tidak memiliki kasih. Itulah yang menunjukkan kualitas kasihnya.
Kalau kita tidak melatih diri kita dan tidak memberi kesempatan agape bertumbuh dengan menjawab tantangan-tantangan yang ada, ini bisa bermasalah.
Kita tidak sedang membicarakan iman yang dapat melakukan mujizat-mujizat, orang buta melihat, orang lumpuh bangkit dan berdiri, dll. Kita tidak anti dengan mujizat-mujizat yang seperti itu. Tapi mari kita lebih mendalami bahwa iman ini akan dipakai untuk menjalani kehidupan yang nyata/realitas hidup.
I Korintus 14:1 Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.
Umumnya banyak orang percaya yang hanya fokus pada karunia dan nubuat. Padahal yang utama adalah “kejarlah kasih”. Karunia-karunia yang diberikan untuk melengkapi pelayanan.
Kasih agape inilah yang akan menggerakkan iman untuk melakukan perbuatan sehingga yang kita lakukan adalah ketaatan karena kita mengasihi Tuhan tanpa syarat.
I Korintus 13:1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
Walaupun Nampak prestasi-prestasi yang hebat dalam berbagai macam bentuknya, baik dalam bentuk pelayanan, sosial, intelektual, dll, tapi tanpa agape itu nilainya nol. Kenapa orang itu bisa melakukannya? Karena storgepun bisa mencapainya tapi yang Tuhan inginkan adalah agape.
I Korintus 13:2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
Mungkinkah orang-orang rohani ini tidak punya agape? Jawabnya adalah bisa dan ada banyak dimana-dimana. Jangan heran kalo ada orang-orang yang punya karunia-karunia rohani tapi tidak punya agape. Berkarunia tidak menunjukkan kualitas rohani, karunia itu adalah pemberian yang diberikan untuk melengkapi pelayanan.
Tapi orang-orang cenderung hanya fokus dengan orang-orang yang melakukan hal-hal spektakuler/mujizat, bahkan dijadikan “tuhan allah ke -2”
I Korintus 13:3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.
Banyak orang-orang yang memberikan bantuan-bantuan hingga keluar di media massa. Mungkinkah storge dan filia bisa melakukan perbuatan hingga “membakar diri”? Bisa saja. Semua hal tersebut punya kedahsayatan tapi berbeda dengan agape. Semua perbuatan-perbuatan tersebut bekerja dibalik motivasi, sesuai apa motivasinya.
Jadi kita perlu mencermati supaya pada saat kita melakukan ketaatan, kitapun perlu berhati-hati, itulah sebabnya Paulus lebih lanjut merinci apakah agape itu dalam I Korintus 13:4 Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.
Dalam hal ketertarikan dengan lawan jenis yang terjadi pada masa remaja ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Alkitab tidak tidak mengenal kata pacaran tetapi hanya tunangan. Asmara bukan cinta dan cinta bukan asmara. Ayat ini juga sekaligus menjelaskan apa itu asmara dan apa itu cinta.
Agape selalu sabar, tetapi asmara selalu menginginkan hal-hal yang mengarah dalam hal yang tidak kudus.
Agape itu murah hati. Menurut kamus murah hati itu tidak pelit/kikir.
Dalam Alkitab Tuhan sengaja memakai orang bukan percaya lebih punya kasih daripada orang percaya. Harusnya orang percaya dapat melakukan hal-hal yang lebih dari orang-orang yang belum didalam Kristus, karena lahir dari benih agape.
Dalam suatu kisah di Alkitab Tuhan memberikan contoh kasus dalam Lukas 7:1-10 seorang perwira Romawi yang ingin Yesus menyembuhkan hamba-nya, dia berkata bahwa ia tidak layak menerima Yesus ketempatnya, dia hanya meminta Tuhan mengatakan sepatah kata untuk hambanya yang sedang sakit, maka pasti akan sembuh. Dan Tuhan memuji iman perwira itu. Ini adalah perbandingan yang Yesus berikan. Sesungguhnya kita harus bisa lebih dari itu
Bukan berarti filia dan storge tidak punya kedahsyatan, tapi semuanya terbatas.
Dalam sebuah kasus juga yang terjadi di sebuah Negara, seorang kakek yang sudah lanjut usia yang pekerjaannya adalah tukang becak (tetapi bukan yang dikayuh dengan kendaraan) dengan latar belakang keluarga miskin, dia sudah menolong banyak orang dengan penghasilan yang ia dapat.
Banyak orang percaya yang mengecam bahwa orang diluar Tuhan tidak akan mendapat bagian dalam kerajaan surga, tapi orang percaya itu sendiri tidak bisa melakukan perbuatan kasih meski hidup dalam kelimpahan.
Kalau didunia saja bisa menghadirkan kedahsyatan filia mengapa kita sebagai orang percaya tidak bisa memperlihatkan menyatakan kedahsyatan agape?
Sederhana, kita tidak perlu sampai pada puncak kayu salib, karena Yesus sudah melakukannya. Tuhan mau kita melakukan hal-hal yang riil sebagi bukti iman kita yang didasari agape.
Murah hati adalah hati yang peduli dan peka dengan apa yang kita lihat. Kalau kita tidak terbiasa dengan murah hati dalam hal-hal yang kecil maka kan sulit kita melakukannya saat kita dalam berkelimpahan.
Ada yang dahsyat dalam diri kita yang lahir dari benih agape. Benih akan bertumbuh kalau dirawat dan akan menghasilkan. Kekuatan agape melebihi kekuatan yang lain.
By : Pdt. R.F.Martino
AGAPE (1)
1 Yohanes 5:3 “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat”
1 Korintus 14:1 “Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.”
“Agape adalah cinta tanpa syarat”. Dan jika kita mempelajari mengenai iman di dalam Ibrani pasal 11, kita akan menemukan ada pahlawan-pahlawan iman yang karena imannya memperoleh kemenangan yang Tuhan janjikan. Namun di bagian akhir Ibrani pasal 11 kita juga menemukan ada pahlawan-pahlawan iman yang sekalipun mereka beriman, mereka tidak memperoleh apa yang Tuhan janjikan selama mereka hidup di dunia – mereka justru mengalami aniaya dan kematian karena iman. Maka dari keseluruhan Ibrani pasal 11 kita memperoleh definisi yang lengkap tentang iman yaitu “Iman adalah ketaatan tanpa syarat”.
Sayangnya banyak orang percaya yang memiliki pemahaman iman yang sangat dangkal yaitu iman hanya sebatas jawaban doa. Akibatnya, orang percaya yang lahir baru dari benih Agape (melalui pengorbanan Yesus di kayu salib), tidak menjalani hidup barunya yaitu “Hidup Oleh Iman” atau “Hidup Dalam Dimensi Iman” (Roma 1:17).
Hidup oleh iman berarti hidup melakukan perintah Tuhan tanpa syarat. Orang percaya seharusnya berkata, “Siap! Laksanakan!” terhadap segala perintah Allah. Namun banyak orang percaya yang tidak melakukannya karena perintah Allah itu tidak masuk akal. Contohnya: Dalam Perjanjian Lama, Tuhan memerintahkan Nuh membangun bahtera di tempat yang tidak ada air. Ini perintah yang tidak masuk akal sehingga Nuh diolok-olok. Dalam Perjanjian Baru, ada perintah “Kasihilah (Agapao) musuhmu!”. Ini tidak masuk akal. Lalu bagaimana mungkin kita bisa melakukan Firman Tuhan yang tidak masuk akal? Itulah Hidup Oleh Iman!
Hidup manusia diikat oleh hukum logika. Secanggih apapun teknologi yang dibuat manusia, namun semuanya masih berdasarkan hukum logika dan tidak akan dapat menembus hukum iman.
Kasih dalam bahasa aslinya memiliki 4 macam yaitu Eros, Storge, Philia, dan Agape:
1. Eros.
Remaja yang telah akil balig akan mengalami perasaan ketertarikan kepada lawan jenis dan menganggapnya cinta/kasih. Padahal perasaan itu hanyalah eros. Eros itu adalah asmara yang mengarah kepada sentuhan-sentuhan fisik. Apakah eros itu tidak boleh? Boleh, tetapi pada tempatnya, yaitu di dalam ikatan pernikahan. Para pembicara motivasi (umum) maupun pembicara rohani seringkali memakai istilah umum “pacaran”, padahal Alkitab sebenarnya tidak pernah memakai istilah “pacaran” melainkan “tunangan”. “Pacaran” sebenarnya adalah istilah yang kurang baik karena merupakan sarana penyaluran eros. Padahal Eros sebenarnya adalah nafsu birahi antara laki-laki dan perempuan di dalam ikatan pernikahan yaitu antara suami istri.
2. Storge.
Storge adalah kasih antar keluarga. Kasih orangtua kepada anak termasuk storge. Ada pepatah berkata bahwa “surga di bawah telapak kaki ibu” namun berita akhir-akhir ini menunjukkan bahwa ibu dan ayah justru menyiksa anaknya. Meskipun kasih storge itu terkadang mengagumkan, namun ada batasnya. Di dalam kehidupan rohani, kadang kita hanya mengasihi Tuhan dengan kualitas Storge karena saat kita memanggilnya “Bapa”, kita menganggap Tuhan hanya cukup dikasihi dengan Storge. Padahal Tuhan menghendaki kita mengasihi-Nya lebih dari itu.
3. Philia.
Philia adalah kasih persahabatan. Meskipun kasih persahabatan itu terkadang juga mengagumkan, namun kasih ini juga ada batasnya. Ada lagu rohani yang berkata “Yesus adalah Sobat kita”. Namun yang Tuhan mau kita dalam mengasihi-Nya tidak hanya sebatas philia. Memang dalam Alkitab, Tuhan juga menyuruh kita mengasihi-Nya dengan kasih philia namun ada tempatnya.
1 Korintus 16:22 “Siapa yang tidak mengasihi (PHILEO) Tuhan, terkutuklah ia. Maranata!”
Maksudnya ayat ini adalah jika seorang percaya tidak mencapai Philia kepada Tuhan, maka terkutuklah dia. Namun Tuhan menghendaki agar kasih kita meningkat kadarnya kepada tingkat kasih Agape, karena hanya Agape yang dapat melakukan perintah-perintah Tuhan yang tidak masuk akal!
1 Yohanes 5:3 “Sebab inilah kasih (AGAPE) kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat”
4. Agape.
Jadi kita bisa melakukan segala perintah Tuhan dengan kualitas kasih Agape, bukan karena takut hukuman Tuhan. Tak heran jika kita menjalani hidup baru bukan dengan kasih Agape, kita akan menjadi orang Kristen yang hidup dibawah tekanan! Kita merasa tertekan/disusahkan dalam melakukan perintah Tuhan, ini bukan Agape!
Dalam 1 Korintus 13 ada banyak tindakan-tindakan hebat yang dilakukan namun bukan karena Agape.
1 Korintus 13:1-3 “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.”
Lalu dengan apa mereka melakukan tindakan-tindakan hebat jika bukan karena Agape? Tanpa menghakimi, semua tindakan itu bisa dilakukan untuk kepujian diri, atau dilakukan karena mengalami keputusasaan, dll.
Dalam bahasa Indonesia, “Kasih/Cinta” itu identik dengan “memberi”. Namun Agape lebih dari itu. Agape bukan saat seorang suami membelikan tas seharga ratusan juta atau mobil yang seharga milyaran Rupiah kepada istrinya, ataupun sebaliknya. Agape ada didalam air mata, penderitaan, dan siksaan – yang semuanya dapat kita simpulkan sebagai “Pengorbanan”.
1 Korintus 13:4 “Kasih itu sabar…”
Berarti jika kita mengasihi (agapao), kita akan sabar, karena kasih itu panjang sabar. Pernahkah kita menyakiti Tuhan? Lalu bagaimana kesabaran Tuhan atas kita? Kita harus memahami bahwa Tuhan begitu sabar kepada kita.
Dalam hubungan kita dengan sesama, terkadang ada orang yang begitu menjengkelkan. Misalnya anak yang menjengkelkan hati orangtuanya, pengendara yang ugal-ugalan di jalan sehingga membahayakan orang lain, dll. Untuk menahan sabar dan tidak mengata-ngatai orang itu tidak mudah! Namun kasih itu panjang sabar.
Maka dengan kualitas kasih Agape (kasih tanpa syarat) kepada Tuhan, kita akan dapat melakukan perintah-perintah-Nya sekalipun perintah itu tidak masuk diakal kita. Namun kita melakukannya bukan karena tertekan melainkan karena Agapao kepada Tuhan.
By : Pdt. DR. R. F. Martino













