Monthly Archives: January 2018
JERIH PAYAHMU TIDAK SIA-SIA (4)
I Korintus 15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
Kolose 3:2 Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Kita sudah belajar sebelumnya bahwa jerih payah yang bisa dibawa sampai ke surga adalah jerih payah yang dilakukan untuk kepentingan Tuhan. Berarti Tuhan menyediakan pahala untuk setiap jerih payah yang dilakukan untuk Tuhan. Hal ini dianggap enteng dan ringan bahkan tidak terlalu ditekankan dalam doktrin kekristenan. Inilah yang menyebabkan terbentuknya orang-orang percaya yang tidak dapat berbuat banyak untuk kepentingan Tuhan, padahal ada banyak firman Tuhan yang berbicara mengenai pahala/upah. Dan ini juga yang membuat pergerakan misi sangat lemah. Karena tidak banyak orang percaya yang terpanggil untuk berjerih lelah terjun ke ladang-ladang misi yang terkadang tidak mendapat perhatian. Padahal harusnya hal ini harus dipahami agar ada pribadi yang mau berjerih lelah untuk jiwa-jiwa yang ada disana dan yang pasti ada upah/pahala yang sudah Tuhan siapkan bagi setiap pribadi yang terpanggil tersebut.
Ketika kita membaca Kolose 3:23 hendaknya kita memahami bahwa siapapun yang sudah Tuhan pilih untuk mengerjakan pekerjaan-Nya dibumi, yang disebut pelayanan, itu berarti kita berhadapan dan bertanggungjawab langsung kepada Tuhan dan ini sangat bersifat pribadi dengan Tuhan.
Di dunia kerja sekuler ada yang namanya majikan/pemimpin, setiap pekerjaan yang dilakukan pastilah kita akan bertanggungjawab pada pimpinan atau hirarki yang sudah ditetapkan. Dan pastinya juga kita akan melakukan tugas dengan baik agar pekerjaan kita sesuai dengan apa yang diharapkan. Begitu juga dengan pelayanan, setiap pelayanan yang kita lakukan itu sifatnya sangat pribadi dan ditujukan kepada Tuhan melalui otoritas rohani yang sudah Tuhan tetapkan. Dan ketika kita tahu itu ditujukan kepada Tuhan, oleh sebab itulah Paulus mengingatkan kita pada suratnya di Kolose 3:23.
Mengapa Paulus menulis surat ini, berarti ada orang percaya yang melakukan pekerjaan yang tidak sia-sia, yaitu pelayanan, tapi menjadi sia-sia karena dikerjakan bukan untuk Tuhan tapi untuk manusia/kepujian.
Apa pemahaman yang terkandung di dalam Kolose 3:23? Mengapa Paulus mengadakan perbandingan pekerjaan yang dilakukan untuk manusia dan Tuhan? Ini tidak hanya bicara penilaian dunia akhirat tapi ini berbicara mengenai kualitas kerja.
Banyak orang tidak menyadari bahwa kualitas kerja dan kualitas pribadi orang tersebut tidak dapat dipisahkan. Kita tidak menghakimi Si A atau si B, bagi siapa saja yang sudah terbiasa memimpin, ketika kualitas kerja itu tidak memenuhi standar maka yang dicari adalah orangnya yaitu yang melakukan tugas tersebut, bukannya orang lain.
Jadi kita harus memahami dengan benar, karena kalau kita sudah pahami maka sikap dan tindakan pasti akan benar.
Kualitas Kerja Menunjukkan Kualitas Diri
Seringkali tidak disadari bahwa segala apa yang dikerjakan akan mencerminkan kualitas diri. Kalau kualitas diri terbiasa bekerja dengan rapi berarti seperti itulah orangnya. Tapi kalau kualitas diri kita sembrono/apa adanya/asal-asalan maka hasilnya juga akan apa adanya. Memang kita tidak bisa melihat hati tapi secara alamiah semua yang dikerjakan dengan tulus maka akan terekspresi keluar.
Mengalami Tuhandalam Hidup
Yohanes 12:1-6 1 Enam hari sebelum Paskah Yesus datang ke Betania, tempat tinggal Lazarus yang dibangkitkan Yesus dari antara orang mati. 2 Di situ diadakan perjamuan untuk Dia dan Marta melayani, sedang salah seorang yang turut makan dengan Yesus adalah Lazarus. 3 Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu. 4 Tetapi Yudas Iskariot, seorang dari murid-murid Yesus, yang akan segera menyerahkan Dia, berkata: 5 “Mengapa minyak narwastu ini tidak dijual tiga ratus dinar dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin?” 6 Hal itu dikatakannya bukan karena ia memperhatikan nasib orang-orang miskin, melainkan karena ia adalah seorang pencuri; ia sering mengambil uang yang disimpan dalam kas yang dipegangnya.
Yohanes 11:1-2 1 Ada seorang yang sedang sakit, namanya Lazarus. Ia tinggal di Betania, kampung Maria dan adiknya Marta. 2 Maria ialah perempuan yang pernah meminyaki kaki Tuhan dengan minyak mur dan menyekanya dengan rambutnya.
Kita mari renungkan peristiwa ini. Ternyata Maria ini sudah pernah mengurapi kaki Yesus dengan mur dan menyekanya dengan rambutnya.
Yohanes 12:3 Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu.
Pada zaman itu, satu dinar adalah harga upah harian seorang pekerja buruh yang bekerja dengan berjerih payah. Kalau minyak itu dihargai tiga ratus dinar berarti Maria sudah menghabiskan gaji satu tahunnya untuk meminyaki kaki Yesus. Maria melakukan jerih payah yang tidak main-main dan ini bukan pengorbanan yang kecil
Mengapa Maria bisa melakukan hal ini? Karena ia sudah mengalami Kristus dalam Hidupnya.
Kalau kita membaca kisah di Alkitab, Maria ini adalah pribadi yang sudah ditolong dalam berbagai hal. Ia sudah jumpa dengan Yesus, ia juga sudah mengalami Tuhan dalam hidupnya
Banyak orang percaya, meski sudah lahir baru, tapi belum/tidak mengalami Tuhan dalam hidupnya. Nilai pemahaman tentang kasih karunia tidak akan bermanfaat apa-apa jika kita memahaminya hanya sebatas mati masuk surga. Kita tidak memahami nilai pengampunan penebusan.
Pemahaman tentang kehadiran Tuhan juga harus kita pahami dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang sudah mengalami Tuhan dalam hidupnya akan mengenal siapa Tuhan itu, sehingga iapun tahu pada siapa ia melakukan segala sesuatu itu (contoh: pelayanan). Pribadi yang sudah mengenal dan mengalami Tuhan akan memberikan penghargaan yang luar biasa pada Tuhan, hal ini terekspresi dalam hidup sehari-hari.
Secara pribadi Maria sudah mengalami kasih karunia, bagaimana Tuhan menyembuhkan dan berkarya dalam hidupnya, sehingga tiga ratus dinar, yang merupakan gaji setahunnya, dia anggap layak diberikan. Minyak itu bukan hanya disemprot tetapi dituangkan ke kaki Yesus. Tidak sampai disitu saja, ekspresinya dilanjutkan dengan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya.
Kita semua sudah mengalami penebusan secara pribadi, kalau kita tidak pahami dan masuk dalam mengalami Tuhan, maka lahir baru dan doa terima Yesus hanya sebuah mantera.
Yohanes 11:18-21 18 Betania terletak dekat Yerusalem, kira-kira dua mil jauhnya. 19 Di situ banyak orang Yahudi telah datang kepada Marta dan Maria untuk menghibur mereka berhubung dengan kematian saudaranya. 20 Ketika Marta mendengar, bahwa Yesus datang, ia pergi mendapatkan-Nya. Tetapi Maria tinggal di rumah. 21 Maka kata Marta kepada Yesus: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.
Yohanes 11:28 Dan sesudah berkata demikian ia pergi memanggil saudaranya Maria dan berbisik kepadanya: “Guru ada di sana dan Ia memanggil engkau.”
Yohanes 11:29 Mendengar itu Maria segera bangkit lalu pergi mendapatkan Yesus.
Yohanes 11:32 Setibanya Maria di tempat Yesus berada dan melihat Dia, tersungkurlah ia di depan kaki-Nya dan berkata kepada-Nya: “Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati.”
Kita tidak menghakimi Marta ataupun memuja-muja Maria, karena Tuhan sangat mengasihi ketiga bersaudara itu, tapi apa yang menjadi perbedaan sikap Maria dan Marta?
“Tuhan, sekiranya Engkau ada di sini, saudaraku pasti tidak mati”. Kalimat ini sama-sama diucapkan oleh Maria dan Marta, tetapi sikap dan tindakan Maria yan membuat Yesus segera mengambil tindakan. Sikap dan tindakan Maria berbeda dengan Marta.
Antara Marta dengan Yesus hanya terjadi percakapan yang biasa, tapi tidak dengan Maria. Ketika Maria melihat Yesus, Maria langsung tersungkur di depan kaki Yesus. Maria tahu dengan siapa dia berhadapan. Ada bentuk penyembahan yang dia lakukan.
Orang – orang yang mengalami Tuhan tahu persis bagaimana menghadapi Tuhan. Dan Tuhan tidak berlama-lama untuk segera bertindak. Keintiman dengan Tuhan tidak hanya dinilai dari berapa lamanya jam doanya saja.
Orang yang mempunyai keintiman dengan Tuhan membuat Tuhan tidak berlama-lama untuk segera bertindak.
Apakah kita sudah penya pengalaman keintiman dengan Tuhan? Apakah kita sudah mengalami Tuhan dalam hidup kita?
Dengan Senang Hati
DENGAN SENANG HATI
Seorang ibu hendak memberi pelajaran moral kepada anak perempuannya yang masih duduk di kelas 1 SMP. Sebelum berangkat ke gereja sang ibu memberikan dua lembar uang pecahan Rp 1000 dan Rp 5000 kepadanya sambil berpesan, “Pilih salah satu yang kamu mau untuk diberikan sebagai persembahan”.
Sepulang dari gereja ibunya bertanya, “Uang mana yang kamu berikan untuk persembahan?”. Jawab si anak, “Tadinya saya mau kasih yang Rp 5000, tapi sebelum persembahan dipungut saya dengar dari mimbar bahwa Tuhan mau kalau kita memberi dengan senang hati”.
“Terus?”, tanya ibunya.
“Saya merasa lebih senang kalau memberikan Rp 1000, jadi itu yang saya kasih.”
By : Pdt. R.F. Martino
JERIH PAYAHMU TIDAK SIA-SIA (3)
1 Korintus 15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
Roma 16:1-161 Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea,2 supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri.3 Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.4 Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.5 Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus.6 Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu.7 Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku.8 Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan.9 Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi.10 Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus. Salam kepada mereka, yang termasuk isi rumah Aristobulus.11 Salam kepada Herodion, temanku sebangsa. Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Narkisus, yang ada dalam Tuhan.12 Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.13 Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu.14 Salam kepada Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-saudara yang bersama-sama dengan mereka.15 Salam kepada Filologus, dan Yulia, Nereus dan saudaranya perempuan, dan Olimpas, dan juga kepada segala orang kudus yang bersama-sama dengan mereka.16 Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.
Betapa luar biasa bila nama seseorang tertulis di dalam Alkitab, terutama jika namanya tertulis dalam Kerajaan Sorga. Orang-orang yang disebutkan namanya tersebut adalah mereka yang telah berjerih lelah. Meskipun jerih payah yang kita lakukan tidak sebanding dengan apa yang sudah Tuhan lakukan, namun Tuhan sangat menghargai orang yang berjerih lelah.
Namun jika kita mendalami lebih lanjut, ternyata orang-orang dalam ayat yang kita baca bukan hanya berjerih lelah, namun juga membanting tulang dan mempertaruhkan nyawa. Jerih payah yang mereka lakukan bernilai ilahi/kekekalan, karena jerih payah tersebut untuk kepentingannya Tuhan.
Betapa berbahagianya jika sejak remaja kita sudah mengenal Tuhan dan berjerih lelah untuk Tuhan. Namun jika hidup ini kita sia-siakan, bekerja keras hanya untuk urusan dunia, maka jerih payah itu hanya bisa kita nikmati sebatas liang lahat, namun tidak bisa menyertai kita di dalam kekekalan.
Kita harus berwaspada saat kita berjerih lelah karena adalah hal yang etis jika orang memuji kita. Jika kita menerima pujian itu, maka kita sudah menerima upah jerih payah kita di dunia. Karena itu kita harus membendung hati kita saat orang memuji kita supaya pujian itu dikembalikan untuk Tuhan.
Di gereja ini sudah ditanamkan bahwa: “Berkhotbah, memimpin pujian, singers, choirs, musik, penerima tamu, petugas perjamuan kudus, dll bukanlah pelayanan. Itu hanyalah jenis-jenis pelayanan.Pelayanan adalah pengabdian hidup dengan segenap milik.”
Kita harus memahami: semua bidang pelayanan yang seseorang lakukan belum tentu dari hati. Jika bukan dari hati maka apa yang ia kerjakan tersebut bukanlah pelayanan. Bagaimanakah pelayanan itu sebenarnya?
Markus 12:30 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Nilai tertinggi dari sebuah pekerjaan adalah tanggung jawab. Dan nilai tertinggi dari tanggung jawab adalah kasih. Kasih ini berbeda dengan asmara. Perbedaan kasih dan asmara jelas dituliskan dalam 1 Korintus 13. Jika seseorang melakukan tanggung jawabnya dari segenap hati yang mencintai Tuhan, maka tanggung jawabnya pasti baik. Namun jika kasih kita kepada Tuhan sudah menurun/menipis, maka tanggung jawab kita juga semakin menurun dan akhirnya kita mengerjakan segala sesuatu “apa adanya”/”asal-asalan”.
Dan jika kita terus meneruskan melakukannya asal-asalan maka ini adalah kebodohan, karena semua yang kita lakukan tersebut tidak diperhitungkan Tuhan dan tidak bisa kita bawa ke sorga.
1 Korintus 16:14 “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!”
Kolose 3:23 “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Tuhan menghendaki kita melakukan segalanya dengan segenap hati yang mengasihi Tuhan. Karena itu di gereja ini diajarkan: “Lebih baik kita belum melakukan Firman daripada sudah melakukan Firman namun setengah-setengah. Karena jika kita belum melakukan, kita akan selalu teringat bahwa kita belum melakukan. Namun jika kita melakukannya setengah-setengah, kita pikir bahwa kita sudah melakukan seperti yang Tuhan kehendaki, padahal yang kita lakukan tidak seperti yang Tuhan kehendaki.”
Jika kita melakukan dengan segenap hati yang mengasihi Tuhan, maka itulah yang diperhitungkan Tuhan sebagai upah/pahala.
Kolose 3:24 “Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah (Terjemahan Lama: pahala). Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.”
Paulus menghadapi kondisi riil yang berat dalam pelayanan. Namun ia bisa menemukan nilai ilahi dalam pergumulan pelayanannya tersebut.
2 Korintus 1:8-9 “Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.”
Inilah yang ia bagikan kepada jemaat Korintus yang acuh/tidak mau mengerti dan kikir. Jalan buntu bagi orang dunia adalah keputusasaan. Jalan buntu bagi orang percaya adalah kesempatan memperbaiki penyerahan diri kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan.
2 Korintus 1:10 “Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi”
Paulus membagikan apa yang sudah ia alami kepada jemaat Korintus yang acuh tak acuh, bukan untuk kesombongan namun supaya mereka menangkap apa arti jerih payah bagi Kristus.
2 Korintus 11:23-2823 Apakah mereka pelayan Kristus? — aku berkata seperti orang gila — aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.24 Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan,25 tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. 26 Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu.27 Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian,28 dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.
Jerih payah yang sudah kita lakukan belum sebanding dengan apa yang Paulus lakukan dan alami. Hanya orang yang mengasihi Tuhan yang akan memikirkan kepentingan Tuhan. Mulailah menuliskan apa yang menjadi kepentingan Tuhan. Dan Roh Kudus akan membawa hati kita untuk semakin mengasihi Tuhan. Mari renungkan: Apakah yang kita lakukan sudah sampai ke tahap “jerih payah” karena mengasihi Tuhan? Karena kita merindukan jerih payah yang kita lakukan di dunia bagi kepentingan Tuhan bisa kita bawa ke sorga seperti yang Firman Tuhan katakan, “Jerih payahmu tidak sia-sia”.
By : Pdt. R. F. Martino
JERIH PAYAHMU TIDAK SIA-SIA (2)
1 Korintus 15:10 “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”
1 Korintus 15:58 “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”
Bagaimanakah pemahaman Paulus akan kehidupan yang sia-sia? Paulus adalah seorang Farisi. Di satu sisi Yesus banyak mengecam ahli Taurat dan orang Farisi namun Yesus juga berkata jika hidup keagamaan kita tidak lebih benar dari orang Farisi maka kita tidak bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah. Tidak mudah untuk menjadi orang Farisi, karena salah satu persyaratannya adalah harus menghafal 5 Kitab Musa.
Sebagai seorang Farisi, Paulus adalah orang terpelajar dan mencapai posisi “terhormat” sebagai orang Farisi tersebut dengan penuh jerih lelah, ia bukanlah orang yang tidak berguna ataupun seorang penjahat. Namun Paulus berkata bahwa semua pencapaian itu adalah “sampah” dibanding pengenalan akan Kristus. Karena ketika bertemu dengan Kristus, Paulus menemukan bahwa semua yang sudah dia capai hanya berhenti sampai di liang kubur karena ia belum mengenal Kristus. Semua yang telah ia capai tidak sebanding dengan anugerah keselamatan di dalam Yesus. Paulus berkata, “…kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia.” Agar kasih karunia itu tidak menjadi sia-sia maka diperlukan RESPON.
Kita perlu meresponi kasih karunia tersebut dengan melakukan hal yang tidak sia-sia. Bagaimana melakukannya? Paulus memulainya dari dirinya sendiri yaitu BEKERJA LEBIH KERAS daripada orang lain. Manusia bekerja keras untuk mencapai akhirat dengan membuat agama. Kekristenan bukan agama tetapi keselamatan. Kita hanya perlu menjalani hidup baru. Jika kita sudah menjadi orang percaya tetapi masih menjalani hidup yang lama, maka kita telah menjalani hidup yang sia-sia. Paulus berkata “… aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua”. Siapakah “mereka semua” itu? Para rasul. Dibandingkan rasul-rasul lain, Paulus adalah rasul yang masih baru. Rasul-rasul yang lain sudah bekerja keras dan sudah banyak hasil yang mereka capai dari pelayanan mereka. Maka Paulus bekerja LEBIH keras. Bagaimana Paulus bekerja lebih keras? Ia membuka peta pelayanannya dan bekerja lebih keras dalam pelayanan.
Filipi 1:20 “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.”
Ada 2 hal yang menjadi batas dalam dhidup kita yaitu:
1. Batas usia. Banyak orang Kristen yang memuliakan Kristus saat ia sudah mati dengan upacara pemakaman secara Kristen. Tetapi saat ia hidup, Yesus tidak dimuliakan.
2. Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua (pada masa pengangkatan gereja). Kita harus memahami bahwa kedatangan Tuhan Yesus yang kedua terbagi menjadi 2 tahap. Tahap pertama adalah saat Tuhan Yesus datang “seperti pencuri”. Ia datang di awan-awan untuk mengangkat gereja-Nya. Tahap kedua setelah masa Antikristus, Tuhan Yesus akan datang bersama orang-orang kudus-Nya disaksikan oleh semua manusia untuk memerintah dalam Kerajaan 1000 Tahun Damai di bumi. Sangat disayangkan jika sebagai orang percaya seseorang masih hidup sia-sia.
Perbuatan yang sia-sia ada 2 macam:
1. Perbuatan dosa
2. Perbuatan yang bukan dosa tetapi adalah hal yang sia-sia. Ini yang perlu dicermati.
Filipi 1:21 “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Roma 14:8 “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”
Selama kita hidup di dunia, kita terikat dengan berbagai tanggung jawab. Namun apapun tanggung jawabnya, tujuan hidup orang percaya tidak boleh bergeser.
Filosofi hidup orang percaya adalah “HIDUP UNTUK TUHAN”.
“HIDUP UNTUK TUHAN” adalah:
– Jika sekolah, sekolah untuk Tuhan
– Jika bekerja, bekerja untuk Tuhan
– Jika berumahtangga, berumahtangga untuk Tuhan
Jika kita melakukan semuanya untuk Tuhan, maka kita tidak akan melakukan segala sesuatu dengan asal-asalan. Jadi “HIDUP UNTUK TUHAN” bukan berarti kita tidak melakukan segala tanggung jawab kita selama di dunia. Justru kita melakukan segala tanggung jawab kita untuk Tuhan. Semua sudah diberikan Tuhan termasuk anugerah keselamatan. Masa depan penuh harapan juga sudah Tuhan berikan, kita tinggal menjalaninya.
Filipi 1:22-24 “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus — itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.”
Bekerja yang memberi buah/hasil adalah bekerja keras atau berjerih lelah. Jangan melihat orang yang menikmati hasil dan iri hati, dibaliknya itu karena ia sudah bekerja keras. Milikilah buah/hasil yang bisa berguna untuk orang lain. Apakah kita sudah mencapainya? Tuhan tidak mau membebani kita, namun Tuhan mau kita hidup bijaksana yaitu berjerih lelah untuk kepentingan-Nya Tuhan. Inilah jerih payah/buah yang bernilai kekal.
Kolose 3:1-2 “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.”
Jangan lagi hidup memikirkan perkara di bumi, yaitu selalu meminta Tuhan menolong untuk urusan dunia atau minta Tuhan memberkati. Sudah saatnya kita bertumbuh dewasa dengan memberkati Tuhan. Banyak orang berpikir: “Masakan kita bisa memberkati Tuhan?” Memberkati Tuhan sesungguhnya adalah cara hidup yang menyenangkan Tuhan termasuk saat kita mempersembahkan puji-pujian kepada-Nya dan bekerja keras bagi Tuhan, karena se-sen pun yang kita lakukan buat Tuhan tidak sia-sia.
Matius 6:19-21 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”
Banyak gereja yang tidak menanamkan pemahaman ini kepada umat Tuhan. Yang ditanamkan gereja adalah umat Tuhan diberkati di dunia. Padahal Tuhan memerintahkan kita untuk mengumpulkan harta di surga, bukan fokus mengumpulkan harta di bumi. Tahun 2018 ini kita akan menghadapi proyek yang besar untuk membangun rumah Tuhan. Mari merenungkan cara hidup kita dan bekerja lebih keras selagi ada kesempatan.
By : Pdt. R.F. Martino
JERIH PAYAHMU TIDAK SIA-SIA
1 Korintus 15:58 Karena itu saudara saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh jangan goyah dan giatlah sellau dalam pekerjaan Tuhan sebab kamu tahu bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
Kita tidak boleh keliru dalam memahami pesan Tuhan melalui ayat ini, dimana didalamnya mengandung kata “jerih payah/jerih lelah”.
Pesan Tuhan untuk kita dalam ayat ini tidak bernilai negatif, tidak pula mengandung suatu malapetaka/kesulitan ataupergumulan berat yang akan menimpa kita sepanjang tahun yang akan kita lalui ini sehingga kita dengan susah payah menjalani hidup.
Kita perlu memahami apa yang Tuhan maksudkan dalam kalimat “jerih payahmu tidak sia-sia”, karena ini adalah alamiah dan alkitabiah. Sebagai orang percaya kita harus hidup lebh bijak, sehingga tidak menjalani hidup kita hanya dengan hukum-hukum alamiah seperti “siapa rajin dia berhasil, siapa berjerih payah ia akan memperoleh hasilnya”, karena orang yang belum percaya Tuhanpun melakukan hal tersebut.
Tidak ada orang yang bisa hidup dan menikmati hidupnya secara berlimpah dengan hanya tinggal diam apalagi tinggal tidur. Secara alamiah, orang-orang bukan percaya yang tidak mengerti tentang keselamatan dan kasih Allah punmelakukan segala sesuatudengan filososi alamiahbahwa dengan bekerja keras pasti berhasil, dengan bersusah payah dan berjerih lelah pasti ada hasil yang akan diperoleh.
Kita perlu memahami apakah hukum alamiah ini tidak sia-sia? Orang-orang luar akan menganggap bahwa jerih payah mereka tidak sia-sia karena mereka mendapatkan dan menikmati hasil dari susah payah mereka bekerja. Dari susah, sengsara menjadi berhasil. Tetapi secara kebenaran firman, jerih lelah manusia hanya sampai batas hidupnya di dunia dan tidak ada yang dapat dibawa sampai ke kekekalan.
Melalui pesan Tuhan tahun ini, kita harus hidup dengan bijaksanadengan tidak hanya berjerih lelah untuk kehidupan lahiriah dan jiwani tetapi berjerih lelah dan hasil dari jerih lelah itudapat kita bawa pulang ke sorga. Dengan semakin dinyatakan tanda-tanda zaman yang sedang terjadi saat ini yang menunjukkan semakin dekatnya kedatangan Tuhandankita harus siap sedia. Karena pengangkatan gereja Tuhan/orang-orang kudus bisa terjadi sewaktu-waktu tanpa kita duga. Hidup kita sangatlah terbatas dan dibatasi oleh usia. Alkitab menuliskan usia manusia sampai di 70 tahun, selebihnya adalah bonus.
Jika pada Anda diberikan pilihan “cepat pulang ke sorga atau tinggal lebih lama di dunia?” Rasul Paulus pun bingung untuk menentukan karena ia ingin pergi ke surga tetapi ia berpikir bahwa tinggal di dunia akan lebih berguna bagi orang lain.
Sebagai orang percaya, semakin Tuhan berikan kita kesempatan lebih lama hidup di dunia semakin kita harus berjerih lelah untuk pekerjaan Tuhan. Selagi kita masih hidup, ada banyak hal yang bisa kita lakukan. Mungkin yang kita lakukan tidak sama dengan orang lain seperti orang yang masih bekerja karena fisiknya masih kuat. Untuk orang yang sudah lanjut usia, yang sudah tidak dapat bekerja atau melakukan pelayanan secara fisik, mereka justru memiliki banyak waktu untuk tetap dapat melakukan pelayanan melalui doa karena pelayanan ini dapat menjangkau sampai ke ujung bumi.
Tuhan mau agar kita hidup lebih bijaksana di tahun 2018. Kita telah banyak mengetahui apa yang sedang terjadi di dunia ini baik melalui media sosial, berita-berita di koran serta majalah dantelevisi. Kita harus menyadari bahwa yang terjadi dari tahun ke tahun bahkan sepanjang tahun 2018 yang kita tidak tahu apa yang akan terjadi, ini bukan hanya sekedar peristiwa yang terjadi begitu saja melainkan merupakan bagian dari tanda-tanda yang Tuhan berikan kepada manusia bahwa kedatangan Tuhan untuk menjemput gerejanya sudah di ambang pintu dan sewaktu-waktu bisa terjadi.
Waktu untuk berjerih lelah tidaklah banyak. Oleh karena itu, jerih payah yang kita lakukan jangan hanya jerih payah menurut filosofi hidup alamiah di dunia ini, karena itu hanya sebatas sampai di liang kubur.
Wahyu 14:13 Dan aku mendengar suara dari sorga berkata: Tuliskan: “Berbahagialah orang-orang yang mati dalam Tuhan, sejak sekarang ini.” “Sungguh,“ kata Roh, “supaya mereka boleh beristirahat dari jerih lelah mereka, karena segala perbuatan mereka menyertai mereka.”
Melalui ayat ini, membawa kita kepada suatu pemahaman bahwa kita tidak mau cepat-cepat pulang ke surga, karenamasihharusberjerihlelahuntukTuhan.
Kondisi kita berbeda-beda pekerjaan, tetapi yang jelas kita tidak akan bangun jam 10 pagi karena tidak akanada hasil yang didapat. Filosofi dunia saja mengatakan “bangun ketika matahari sudah terbit, rejeki sudah diambil orang lain.” Terlebih kita sebagai orang percaya, harusnya lebih berjerih lelah.
Ada seorangkepalarumahtangga yang pekerjaannya cukup berat mengatakan bahwa iaberangkat dengan matahari dan pulang dengan bulan. Maksudnya ialah ketika matahari terbit, ia sudah pergi bekerja dan pulang ketika bulan sudah keluar. Seorang bapak yang bertanggung jawab untuk rumah tangga dan keluarganya. Bahkan ada pula yang bekerja di rumah ketika matahari belum muncul, ia sudah harus bangun dan juga termasuk banyak ibu-ibu yang melakukan ini dimana ia harus menopang suami dalam tanggung jawabnya.
Hal-hal di atas adalah sesuatu yang positif dan Tuhan senang kita bertanggung jawab dalam bekerja. Tetapi hal tersebut tidak berlaku dalam Wahyu 14:13.
Apakah jerih lelah yang sudah dilakukan oleh bapak tersebut dapat dibawa pulang sampai ke sorga? Ia tidak dapat membawa pulang hasil jerih lelahnya selama di dunia karena tanggung jawab yang dilakukan hanyalah sebatas tanggung jawab ketika ia hidup di dunia secara lahiriah.
Yang perlu kita renungkan adalah perbuatan yang menyertai kita ketika sudah meninggal.
Kita perlu menikmati hasil dari jerih lelah kita selama bekerja tetapi tidak dengan memaksakan diri. Jika belum waktunya memiliki, jangan mengingini. Semua orang punya keinginan tetapi tidak boleh memaksakan diri karena Tuhan tau apa yang kita butuhkan. Memang benar firman Tuhan menyatakan “Nyatakanlah kepada Tuhan didalam doa segala keinginanmu” tetapi harus berdasarkan kehendak Tuhan bukan untuk memenuhi nafsu kedagingan kita.
Semakin lama kita hidup di dunia, semakin banyak kesempatan untuk melakukan kepentingan Tuhan. Kepentingan kita sudah pasti dengan sendirinya kita kerjakan. Kepentingan Tuhan yang kita lakukan inilah yang diperhitungkan untuk dapat dibawa pulang.
Ada peristiwa yang dikerjakan oleh manusia selama masa hidupnya di dunia yang ia tidak sadari bahwa pada akhirnya ada perhitungan terakhir.
Matius 25:31-4631Apabila Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya dan semua malaikat bersama-sama dengan Dia, maka Ia akan bersemayam di atas takhta kemuliaan-Nya.32Lalu semua bangsa akan dikumpulkan dihadapan-Nya dan Ia akan memisahkan mereka seprang daripada seorang, sama seperti gembala memisahkan domba dari kambing, 33dan Ia akan menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya dan kambing-kambing di sebelah kiri-Nya. 34Dan raja itu akan berkata kepada mereka yang disebelah kanan-Nya: Mari, hai kamu yang diberkati oleh Bapa-Ku, terimalah kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan. 35Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus; kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; 36Ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.37Maka orang-orang benar itu akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar dan kami memberi Engkau makan, atau haus dan kami memberi Engkau minum?38Bilamanakah kami melihat Engkau sebagai orang asing, dan kami memberi Engkau tumpangan, atau telanjang dan kami memberi Engkau pakaian?39Bilamanakah kami melihat Engkau sakit atau dalam penjara dan kami mengunjungi Engkau?40Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salh seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku. 41Dan Ia akan berkata juga kepada mereka yang di sebelah kiri-Nya: Enyahlah dari hadapan-Ku, hai kamu orang-orang terkutuk, enyahlah ke dalam api yang kekal yang telah sedia untuk iblis dan malaikat-malaikatnya. 42Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; 43ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku. 44lalu mereka pun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau? 45Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku. 46Dan mereka ini akan masuk ke tempat siksaan yang kekal, tetapi orang benar ke dalam hidup yang kekal.”
Semua yang dilakukan oleh kelompok sebelah kanan ini, Tuhan mengatakan bahwa mereka melakukannya untuk Tuhan. Orang yang ada di kelompok sebelah kiri bertanya “kapan mereka tidak melakukannya untuk Tuhan?” mereka merasa melakukan tetapi Tuhan tidak memperhitungkannya karena Tuhan tidak menikmatinya.
Adaperhitungan-perhitungan yang dilakukan oleh Tuhan oleh karena adanya perbuatan-perbuatan yang dilakukan yang merupakan perbuatan iman. Ayat-ayat tersebut menunjukkan perbuatan iman dimana mereka melakukan segala perbuatannya kepada Tuhan. Mereka dan kita adalah sama. Kita tidak dapat melakukan secara langsung dengan nyata secara lahiriah kepada Tuhan. Tetapi Tuhan punya banyak kepentingan-Nya di bumi untuk gereja-Nya, untuk umat-Nya. Jadi kita harus bijaksana dalam memahami apa yang merupakan kepentingannya Tuhan di muka bumi ini. Sebab jika tidak memahami ini, kita akan hidup di dunia dengan susah payah membanting tulang tetapi tidak diperhitungkan Tuhan.
Jika Anda punya uangRp. 5 Miliar lalu saudarameninggaltanpemenikmatisebelumnya, betapa ruginya Anda karena secara lahiriah bukan saudara yang menikmati, yang kedua saudara pulang ke sorga tidak bisa harta saudara sampai ke surga karena Rp. 5 M mati percuma tidak menghasilkan apa-apa untuk kepentingannya Tuhan.
Kita berjerih payah di dunia ini hanya sampai sebatas liang lahat. Apakah diantara jerih payah itu ada diantaranya yang kita lakukan untuk kepentingannya Tuhan? Kepentingan Tuhan di bumi sangat banyak dan Tuhan melaksanakan kepentingan-Nya melalui keberadaan kita masing-masing dengan apa yang ada pada kita bukan apa yang tidak ada pada kita.
Ada jalan yang Tuhan sediakan untuk kita dapat melakukan kepada Tuhan kepentingan-Nya yaitu melalui pelayanan. Sesungguhnya kita jangan menganggap remeh pelayanan. Banyak orang memahami bahwa pelayanan hanyalah sekedar kegiatan yang dilakukan. Pada saat kita melayani berarti kita sedang menunjukkan kasih kita kepadaTuhan melalui pelayanan itu dan juga merupakan investasi dunia akhirat dalam bentuk jasmani, rohani, jiwani. Inilah yang perlu kita renungkan.
Matius 6:19 “janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. 20Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.” 21Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.
Tahun 2018, Tuhan memberikan saudara kesempatan untuk melakukan perkara-perkara besar. Tetapi jika saudara tidak memahami kebenaran firman ini maka saudara akan melakukan dengan cara yang lain.
Bukan berarti karena ada kepentingannya Tuhandalam pelayanan kemudian tanggung jawab lahiriah tidak dikerjakan. Tanggung jawab lahiriah tetap harus dilakukan sesuai ketetapan Tuhan. Kita hanya sementara di bumi tetapi kita tidak akan pulang dengan tangan kosong. Dan pada saat Tuhan beri kesempatan untuk kita melayani Dia, lakukanlah dengan jerih lelah bukan dengan asal-asalan supaya semua yang kita berikan adalah yang terbaik. Sekarang di tahun 2018, kita masih hidup, masih diberi kesempatan, mari kita jadi berkat, memberikan yang terbaik dengan segenap apa yang ada pada kita dan kumpulkanlah harta di sorga karena di mana hartamu berada di situ pula hatimu berada.
By : Pdt. R.F Martino













