JERIH PAYAHMU TIDAK SIA-SIA (3)
1 Korintus 15:58 Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.
Roma 16:1-161 Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea,2 supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri.3 Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus.4 Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi.5 Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus.6 Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu.7 Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku.8 Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan.9 Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi.10 Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus. Salam kepada mereka, yang termasuk isi rumah Aristobulus.11 Salam kepada Herodion, temanku sebangsa. Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Narkisus, yang ada dalam Tuhan.12 Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan.13 Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu.14 Salam kepada Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-saudara yang bersama-sama dengan mereka.15 Salam kepada Filologus, dan Yulia, Nereus dan saudaranya perempuan, dan Olimpas, dan juga kepada segala orang kudus yang bersama-sama dengan mereka.16 Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.
Betapa luar biasa bila nama seseorang tertulis di dalam Alkitab, terutama jika namanya tertulis dalam Kerajaan Sorga. Orang-orang yang disebutkan namanya tersebut adalah mereka yang telah berjerih lelah. Meskipun jerih payah yang kita lakukan tidak sebanding dengan apa yang sudah Tuhan lakukan, namun Tuhan sangat menghargai orang yang berjerih lelah.
Namun jika kita mendalami lebih lanjut, ternyata orang-orang dalam ayat yang kita baca bukan hanya berjerih lelah, namun juga membanting tulang dan mempertaruhkan nyawa. Jerih payah yang mereka lakukan bernilai ilahi/kekekalan, karena jerih payah tersebut untuk kepentingannya Tuhan.
Betapa berbahagianya jika sejak remaja kita sudah mengenal Tuhan dan berjerih lelah untuk Tuhan. Namun jika hidup ini kita sia-siakan, bekerja keras hanya untuk urusan dunia, maka jerih payah itu hanya bisa kita nikmati sebatas liang lahat, namun tidak bisa menyertai kita di dalam kekekalan.
Kita harus berwaspada saat kita berjerih lelah karena adalah hal yang etis jika orang memuji kita. Jika kita menerima pujian itu, maka kita sudah menerima upah jerih payah kita di dunia. Karena itu kita harus membendung hati kita saat orang memuji kita supaya pujian itu dikembalikan untuk Tuhan.
Di gereja ini sudah ditanamkan bahwa: “Berkhotbah, memimpin pujian, singers, choirs, musik, penerima tamu, petugas perjamuan kudus, dll bukanlah pelayanan. Itu hanyalah jenis-jenis pelayanan.Pelayanan adalah pengabdian hidup dengan segenap milik.”
Kita harus memahami: semua bidang pelayanan yang seseorang lakukan belum tentu dari hati. Jika bukan dari hati maka apa yang ia kerjakan tersebut bukanlah pelayanan. Bagaimanakah pelayanan itu sebenarnya?
Markus 12:30 “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Nilai tertinggi dari sebuah pekerjaan adalah tanggung jawab. Dan nilai tertinggi dari tanggung jawab adalah kasih. Kasih ini berbeda dengan asmara. Perbedaan kasih dan asmara jelas dituliskan dalam 1 Korintus 13. Jika seseorang melakukan tanggung jawabnya dari segenap hati yang mencintai Tuhan, maka tanggung jawabnya pasti baik. Namun jika kasih kita kepada Tuhan sudah menurun/menipis, maka tanggung jawab kita juga semakin menurun dan akhirnya kita mengerjakan segala sesuatu “apa adanya”/”asal-asalan”.
Dan jika kita terus meneruskan melakukannya asal-asalan maka ini adalah kebodohan, karena semua yang kita lakukan tersebut tidak diperhitungkan Tuhan dan tidak bisa kita bawa ke sorga.
1 Korintus 16:14 “Lakukanlah segala pekerjaanmu dalam kasih!”
Kolose 3:23 “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
Tuhan menghendaki kita melakukan segalanya dengan segenap hati yang mengasihi Tuhan. Karena itu di gereja ini diajarkan: “Lebih baik kita belum melakukan Firman daripada sudah melakukan Firman namun setengah-setengah. Karena jika kita belum melakukan, kita akan selalu teringat bahwa kita belum melakukan. Namun jika kita melakukannya setengah-setengah, kita pikir bahwa kita sudah melakukan seperti yang Tuhan kehendaki, padahal yang kita lakukan tidak seperti yang Tuhan kehendaki.”
Jika kita melakukan dengan segenap hati yang mengasihi Tuhan, maka itulah yang diperhitungkan Tuhan sebagai upah/pahala.
Kolose 3:24 “Kamu tahu, bahwa dari Tuhanlah kamu akan menerima bagian yang ditentukan bagimu sebagai upah (Terjemahan Lama: pahala). Kristus adalah tuan dan kamu hamba-Nya.”
Paulus menghadapi kondisi riil yang berat dalam pelayanan. Namun ia bisa menemukan nilai ilahi dalam pergumulan pelayanannya tersebut.
2 Korintus 1:8-9 “Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami. Bahkan kami merasa, seolah-olah kami telah dijatuhi hukuman mati. Tetapi hal itu terjadi, supaya kami jangan menaruh kepercayaan pada diri kami sendiri, tetapi hanya kepada Allah yang membangkitkan orang-orang mati.”
Inilah yang ia bagikan kepada jemaat Korintus yang acuh/tidak mau mengerti dan kikir. Jalan buntu bagi orang dunia adalah keputusasaan. Jalan buntu bagi orang percaya adalah kesempatan memperbaiki penyerahan diri kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan.
2 Korintus 1:10 “Dari kematian yang begitu ngeri Ia telah dan akan menyelamatkan kami: kepada-Nya kami menaruh pengharapan kami, bahwa Ia akan menyelamatkan kami lagi”
Paulus membagikan apa yang sudah ia alami kepada jemaat Korintus yang acuh tak acuh, bukan untuk kesombongan namun supaya mereka menangkap apa arti jerih payah bagi Kristus.
2 Korintus 11:23-2823 Apakah mereka pelayan Kristus? — aku berkata seperti orang gila — aku lebih lagi! Aku lebih banyak berjerih lelah; lebih sering di dalam penjara; didera di luar batas; kerap kali dalam bahaya maut.24 Lima kali aku disesah orang Yahudi, setiap kali empat puluh kurang satu pukulan,25 tiga kali aku didera, satu kali aku dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal, sehari semalam aku terkatung-katung di tengah laut. 26 Dalam perjalananku aku sering diancam bahaya banjir dan bahaya penyamun, bahaya dari pihak orang-orang Yahudi dan dari pihak orang-orang bukan Yahudi; bahaya di kota, bahaya di padang gurun, bahaya di tengah laut, dan bahaya dari pihak saudara-saudara palsu.27 Aku banyak berjerih lelah dan bekerja berat; kerap kali aku tidak tidur; aku lapar dan dahaga; kerap kali aku berpuasa, kedinginan dan tanpa pakaian,28 dan, dengan tidak menyebut banyak hal lain lagi, urusanku sehari-hari, yaitu untuk memelihara semua jemaat-jemaat.
Jerih payah yang sudah kita lakukan belum sebanding dengan apa yang Paulus lakukan dan alami. Hanya orang yang mengasihi Tuhan yang akan memikirkan kepentingan Tuhan. Mulailah menuliskan apa yang menjadi kepentingan Tuhan. Dan Roh Kudus akan membawa hati kita untuk semakin mengasihi Tuhan. Mari renungkan: Apakah yang kita lakukan sudah sampai ke tahap “jerih payah” karena mengasihi Tuhan? Karena kita merindukan jerih payah yang kita lakukan di dunia bagi kepentingan Tuhan bisa kita bawa ke sorga seperti yang Firman Tuhan katakan, “Jerih payahmu tidak sia-sia”.
By : Pdt. R. F. Martino









