This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

JERIH PAYAHMU TIDAK SIA-SIA (2)

1 Korintus 15:10 “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.”

1 Korintus 15:58 “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

Bagaimanakah pemahaman Paulus akan kehidupan yang sia-sia? Paulus adalah seorang Farisi. Di satu sisi Yesus banyak mengecam ahli Taurat dan orang Farisi namun Yesus juga berkata jika hidup keagamaan kita tidak lebih benar dari orang Farisi maka kita tidak bisa masuk ke dalam Kerajaan Allah. Tidak mudah untuk menjadi orang Farisi, karena salah satu persyaratannya adalah harus menghafal 5 Kitab Musa.
Sebagai seorang Farisi, Paulus adalah orang terpelajar dan mencapai posisi “terhormat” sebagai orang Farisi tersebut dengan penuh jerih lelah, ia bukanlah orang yang tidak berguna ataupun seorang penjahat. Namun Paulus berkata bahwa semua pencapaian itu adalah “sampah” dibanding pengenalan akan Kristus. Karena ketika bertemu dengan Kristus, Paulus menemukan bahwa semua yang sudah dia capai hanya berhenti sampai di liang kubur karena ia belum mengenal Kristus. Semua yang telah ia capai tidak sebanding dengan anugerah keselamatan di dalam Yesus. Paulus berkata, “…kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia.” Agar kasih karunia itu tidak menjadi sia-sia maka diperlukan RESPON.
Kita perlu meresponi kasih karunia tersebut dengan melakukan hal yang tidak sia-sia. Bagaimana melakukannya? Paulus memulainya dari dirinya sendiri yaitu BEKERJA LEBIH KERAS daripada orang lain. Manusia bekerja keras untuk mencapai akhirat dengan membuat agama. Kekristenan bukan agama tetapi keselamatan. Kita hanya perlu menjalani hidup baru. Jika kita sudah menjadi orang percaya tetapi masih menjalani hidup yang lama, maka kita telah menjalani hidup yang sia-sia. Paulus berkata “… aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua”. Siapakah “mereka semua” itu? Para rasul. Dibandingkan rasul-rasul lain, Paulus adalah rasul yang masih baru. Rasul-rasul yang lain sudah bekerja keras dan sudah banyak hasil yang mereka capai dari pelayanan mereka. Maka Paulus bekerja LEBIH keras. Bagaimana Paulus bekerja lebih keras? Ia membuka peta pelayanannya dan bekerja lebih keras dalam pelayanan.

Filipi 1:20 “Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.”

Ada 2 hal yang menjadi batas dalam dhidup kita yaitu:
1. Batas usia. Banyak orang Kristen yang memuliakan Kristus saat ia sudah mati dengan upacara pemakaman secara Kristen. Tetapi saat ia hidup, Yesus tidak dimuliakan.
2. Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua (pada masa pengangkatan gereja). Kita harus memahami bahwa kedatangan Tuhan Yesus yang kedua terbagi menjadi 2 tahap. Tahap pertama adalah saat Tuhan Yesus datang “seperti pencuri”. Ia datang di awan-awan untuk mengangkat gereja-Nya. Tahap kedua setelah masa Antikristus, Tuhan Yesus akan datang bersama orang-orang kudus-Nya disaksikan oleh semua manusia untuk memerintah dalam Kerajaan 1000 Tahun Damai di bumi. Sangat disayangkan jika sebagai orang percaya seseorang masih hidup sia-sia.

Perbuatan yang sia-sia ada 2 macam:
1. Perbuatan dosa
2. Perbuatan yang bukan dosa tetapi adalah hal yang sia-sia. Ini yang perlu dicermati.

Filipi 1:21 “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan.”
Roma 14:8 “Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan.”

Selama kita hidup di dunia, kita terikat dengan berbagai tanggung jawab. Namun apapun tanggung jawabnya, tujuan hidup orang percaya tidak boleh bergeser.
Filosofi hidup orang percaya adalah “HIDUP UNTUK TUHAN”.
“HIDUP UNTUK TUHAN” adalah:
– Jika sekolah, sekolah untuk Tuhan
– Jika bekerja, bekerja untuk Tuhan
– Jika berumahtangga, berumahtangga untuk Tuhan
Jika kita melakukan semuanya untuk Tuhan, maka kita tidak akan melakukan segala sesuatu dengan asal-asalan. Jadi “HIDUP UNTUK TUHAN” bukan berarti kita tidak melakukan segala tanggung jawab kita selama di dunia. Justru kita melakukan segala tanggung jawab kita untuk Tuhan. Semua sudah diberikan Tuhan termasuk anugerah keselamatan. Masa depan penuh harapan juga sudah Tuhan berikan, kita tinggal menjalaninya.
Filipi 1:22-24 “Tetapi jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. Jadi mana yang harus kupilih, aku tidak tahu. Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus — itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.”

Bekerja yang memberi buah/hasil adalah bekerja keras atau berjerih lelah. Jangan melihat orang yang menikmati hasil dan iri hati, dibaliknya itu karena ia sudah bekerja keras. Milikilah buah/hasil yang bisa berguna untuk orang lain. Apakah kita sudah mencapainya? Tuhan tidak mau membebani kita, namun Tuhan mau kita hidup bijaksana yaitu berjerih lelah untuk kepentingan-Nya Tuhan. Inilah jerih payah/buah yang bernilai kekal.

Kolose 3:1-2 “Karena itu, kalau kamu dibangkitkan bersama dengan Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.”

Jangan lagi hidup memikirkan perkara di bumi, yaitu selalu meminta Tuhan menolong untuk urusan dunia atau minta Tuhan memberkati. Sudah saatnya kita bertumbuh dewasa dengan memberkati Tuhan. Banyak orang berpikir: “Masakan kita bisa memberkati Tuhan?” Memberkati Tuhan sesungguhnya adalah cara hidup yang menyenangkan Tuhan termasuk saat kita mempersembahkan puji-pujian kepada-Nya dan bekerja keras bagi Tuhan, karena se-sen pun yang kita lakukan buat Tuhan tidak sia-sia.

Matius 6:19-21 “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”

Banyak gereja yang tidak menanamkan pemahaman ini kepada umat Tuhan. Yang ditanamkan gereja adalah umat Tuhan diberkati di dunia. Padahal Tuhan memerintahkan kita untuk mengumpulkan harta di surga, bukan fokus mengumpulkan harta di bumi. Tahun 2018 ini kita akan menghadapi proyek yang besar untuk membangun rumah Tuhan. Mari merenungkan cara hidup kita dan bekerja lebih keras selagi ada kesempatan.

By : Pdt. R.F. Martino