Monthly Archives: February 2018
SUKSES BERSAMA TUHAN (Bagian 2)
2 Timotius 2:20-21 20Dalam rumah yang besar bukan hanya terdapat perabot dari emas dan perak, melainkan juga dari kayu dan tanah; yang pertama dipakai untuk maksud yang mulia dan yang terakhir untuk maksud yang kurang mulia. 21Jika seorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan yang mulia.
Prinsip Dasar Kesuksesan
Secara alkitabiah kesuksesan bukan tujuan tetapi suatu proses. Ketika kesuksesan dijadikan tujuan, kita tergoda untuk menghalalkan segala cara demi tercapainya keberhasilan.
Ada yang paham benar mengenai sukses bersama Tuhan, ada juga yang terlalu ekstrim atau terlalu fanatik oleh karena gereja yang mengajarkan sukses dan berhasil sehingga tanpa disadari kesuksesan dijadikan tujuan. Oleh karena itu pola pikirnya terbentukbahwaia harus berhasil.
Secara umum orang berpikir bahwa berhasil identik dengan materi, hal duniawi, fasilitas hidup, segala yang diperlukan dalam hidup secara materi, maupun posisi/jabatan tertentu. Kita tidak perlu terkejut ketika menemukan hamba Tuhan yang materialistis, yang mengutamakan jabatan sebagai suatu kehormatan dan bukan sebagai suatu tanggung jawab. Padahal kita tahu bahwa semakin tinggi jabatan seseorang, semakin besar pula tanggung jawabnya. Oleh karena itu kita perlu kembali kepada kebenaran firman Tuhan.
Ada iman orang percaya yang terlalu ekstrim dalam hal rohani. Dikatakan bahwa Tuhan itu tahu segala apa yang menjadi rancangan masa depan yaitu masa depan yang penuh harapan dan dalam Ulangan 28 dikatakan terus naik dan bukan turun, menjadi kepala dan bukan ekor, tetapi tidak mengerjakan apa yang menjadi bagiannya untuk dikerjakan.
Orang boleh saja menaruh harapan karena iman juga dimulai dari setitik pengharapan. Tetapi ketika mereka mulai menumbuhkan masa depan untuk harapan, bayangan mereka adalah mujizatdan pemahamanmerekatentang mujizat pun keliru.Hanyaberharapsemuanyaterjaditanpaberbuatapa-apa.MemangadakalanyaTuhanmenyuruhkitaberdiamdiridanTuhan yang bekerja, tapiadasaatnyakitamengerjakanapa yang menjadibagiankitadanTuhanmengerjakanbagian-Nya.
Contoh Kasus: Yusuf
Tuhan menyertai Yusuf dan membuat berhasil segala yang diperbuatnya. Tidak ada janji Tuhan yang terjadi dengan sendirinya bahkan keselamatan pun tidak terjadi dengan sendirinya, yaituhanyabagi orang yang percaya, jadibutuhrespondaripenerimaanugerah.
Bagian kita adalah kerja karena salah satu cara Tuhan memberkati kita ialah melalui kita bekerja. Ketika Yusuf ada di rumah Potifar, ia adalah seorang budak belian dan bukan bagian dari keluarga, bukan siapa-siapa dan tidak mungkin menjadi ahli waris. Tetapi Potifar melihat bahwa Tuhan menyertai Yusuf dan membuat berhasil segala yang diperbuatnya sehingga ia menyerahkan segala-galanya di bawah pengaturan Yusuf.
Kejadian 39:2 Tetapi Tuhan menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; makatinggallahia di rumahtuannya, orang Mesiritu. 3Setelah dilihatolehtuannya, bahwa Yusuf disertaiTuhandanbahwaTuhanmembuatberhasilsegalasesuatu yang dikerjakannya, 4maka Yusuf mendapatkasihtuannya, daniabolehmelayanidia; kepada Yusuf diberikannyakuasaatasrumahnyadansegalamiliknyadiserahkannyapadakekuasaan Yusuf.
Tuhan membuat berhasil segala yang dikerjakannya. Jika kita tidak bekerja maka tidak ada yang dapat dihasilkan. Karena kita adalah orang percaya maka ada penyertaan Tuhan pada diri kita. Jika ada penyertaan Tuhan seharusnya orang dapat melihat hal itu. Kita sudah terima Yesus dan kita memiliki Kristus. Orang seharusnya melihat Yesus melalui hasil kerja kita. Jangan bermimpi kita akan terus naik jika kinerja kita buruk. Kata kinerja memiliki makna yang luas mencakup integritas, kejujuran dan lain sebagainya. Jadi kita tidak hanya mengimani tetapi dinyatakan dalam hal bekerja.
Penilaian Kualitas Diri Seseorang
Jangan pernah menilai kualitas seseorang ketika ia sedang berdiri melayani atau sedang melakukan kegiatan-kegiatan rohani melainkan melalui kehidupan sehari-hari di dunia nyata, bagaimana ia berinteraksi dengan orang lain dan menyelesaikan masalah. Kita dapat menilai seseorang jika ada pembanding. Dalam kasusYusuf, walaupun ia hanyalah budak belian tetapi ia berbeda dengan budak-budak lain yang bekerja di rumah Potifar. Budak-budak inilah yang menjadi pembanding.
Dimanapun kita bekerja ataupun melayani, selalu ada pembanding yaitu diantara sesama kita, hal ini lumrah secara logis. Orang melihat Kristus dalam hidup kita bukan di kamar doa tetapi dalam hidup sehari-hari di kehidupan nyata, disitulah penilaiannya. Inilah yang terpenting dari semua, jadi bukan hanya kita berdoa supaya Tuhan memberkati. Semua kegiatan rohani, mutlak memang harus kita miliki karena orang yang mempunyai planning yang bagus dan punya tujuan tetapi tanpa melibatkan Tuhan, dikatakan bahwa hidupnya hanya seperti uap yang sebentar kelihatan lalu lenyap.
Namun anehnya, kita yang sudah memiliki Kristus justru tidak nampak didalam kita bekerja. Apapun dan dimanapun kita bekerja harusnya Kristus Nampak bagi orang lain. Dari hasil kerja Yusuf, Potifar melihat hasilnya sehingga ia menjadi sayang kepada Yusuf. Jika kita dipercaya oleh pimpinan, maka kita akan sering dicari dan sering diberikan pekerjaan karena kinerja yang bagus dan dapat dipercaya tetapi seringkali justru kita mengeluh. Berbahagialah jika Anda sering dicari dan dibuat repot karena hal ini menunjukkan bahwa kinerja Anda baik. Kepercayaan yang sudah kita tanamkan, nilainya melebihi dari nilai uang berapa pun jumlahnya.
Adakalanya hal ini pun terjadi dalam pelayanan. Kualitas rohani kita harus seimbang dengan kinerja kita kalau kita mau menuju puncak. Hal ini tidak terjadi dengan sendirinya. Ada bagiannya kita yang harus dikerjakan.
Apa Hasilnya?
Kejadian 39:5 Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, Tuhan memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat Tuhan ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang.
Ketika kita berada dalam suatu pekerjaan, kehadiran kita seharusnya membawa berkat. Ada Seorang pengusahadari kepercayaan lain. Ia adalah seorang yang sangat baik. Pada suatu saat ia mengalami kebangkrutan, terlilit dengan hutang yang banyak. Tetapi tidak satu pun karyawannya yang di PHK. Jadi orang mengetahui bahwa orang ini bukan bangkrut karena salah berbisnis tetapi karena ia terlalu baik. Puluhan miliar ia harus selesaikan dengan tidak mempunyai apa-apa. Anak buahnya ia tetap gaji sampai kepada suatu saat ia hampir mati karena penyakit kemudian pada saat ia sakit, ia dilayani seorang ibu gembala dan ketika akan dibimbing doa terima Tuhan Yesus, ia mengatakan bahwa biar Tuhan Yesus yang masuk sendiri. Sampai pada saatnya di rumah sakit Tuhan mengunjunginya secara pribadi tetapi ia belum juga memahami. Ia mendengar seorang perawat menyanyikan lagu rohani “Dalam Yesus kita bersaudara”dan di situlah Tuhan melawatnya. Ia menjadi seorang percaya dan sembuh dari sakitnya.
Pada saat itu ia mulai merintis kembali dari nol usahanya dengan hanya bermodalkan kepercayaan. Belum begitu lama menjadi orang percaya, show room yang ia miliki terbakar, mengalami lagi berbagai macam bencana tetapi Tuhan pelihara dan membuat segala yang dikerjakannya berhasil. Ia mempunyai bisnis mobil hingga saat ini. Dengan usianya yang sudah lanjut, ia membuka dealer di mana-mana bahkan sampai ke Maluku. Sudah lanjut usia tetapi ia masih memiliki semangat kerja yang tinggi.
Dalam pergumulan iman pun, kita seperti itu. Ada saatnya kita down. Kita tidak boleh membatasi diri kita dengan rasa minder ataupun sok tahu. Jangan kita menghalangi kemampuan kuasa Allah dengan membatasi iman kita dengan mematok sesuai dengan akal pikiran kita. Kuburkan pemikiran bahwa saya bukan siapa-siapa dan tidak mungkin melakukan sesuatu yang besar. Kita pun tidak boleh beriman konyol hanya dengan duduk diam dan tidak berbuat apa-apa. Kita yang sudah memiliki Kristus harus terus melatih diri untuk mengandalkan Tuhan.
Di dalam sebuah ruangan rumah ada banyak perabot. Ada yang digunakan untuk tujuan mulia dan ditempatkan di tempat tertentu, ada perabot yang dipakai untuk tujuan yang biasa, ditempatkan di tempat yang biasa-biasa saja. Firman Tuhan membawa kita memahami bahwa Tuhan memakai apa yang ada pada kita bukan apa yang tidak ada pada kita. Masing-masing kita ditempatkan sesuai dengan kualitas diri kita. Dengan apa yang ada pada kita, harus dimaksimalkan. Itulah yang dibutuhkan di tempat kita bekerja.
Semua Ada Waktunya
Karir membutuhkan waktu. Tidak ada orang yang melejit dengan tiba-tiba kecuali dengan cara yang tidak benar. Sambil memaksimalkan apa yang ada pada diri kita, kita harus tetap sabar menunggu waktunya Tuhan. Kita tidak bisa mempercepat ataupun memperlambat. Ada keterlibatan Tuhan dan keterlibatan kita. Jika tidak ada keterlibatan Tuhan, maka kita akan keluar dari rancangan Tuhan. Dalam kitab Pengkhotbah dijelaskan bahwa segala sesuatu ada waktunya. Dalam jenjang pendidikan pun ada waktunya. Untuk menyelesaikan tingkat sekolah dasar (SD) dibutuhkan waktu 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun dan S1 kurang lebih 4 tahun. Semua ada waktunya. Dan untuk sampai ke kepala harus dimulai dari ekor tidak ada yang langsung menjadi kepala. Semua pergumulan yang begitu rupa ada waktunya Tuhan. Hal yang menjadi masalah bagi setiap orang percaya ialah seringkali kita tidak sabar.Orang percaya yang memiliki Kristus, ketika ia bekerja tidak perlu pengawas karena ia akan melakukan pekerjaannya dengan takut akan Tuhan. Ada waktunya Tuhan. Jika Tuhan yang membuka pintu tidak seorangpun dapat menutupnya dan jika Ia mengangkat seseorang tidak satupun dapat merendahkannya.
Kesempatan Emas Yang Tidak Dipergunakan
Dalam Alkitab dicatat bahwa ada satu kesempatan emas yang dapat digunakan dengan baik tetapi tidak dipergunakan karena ia tahu bahwa Tuhan tidak menghendaki.
1 Samuel 24:1 1Ketika Saul pulang sesudah memburu orang Filistin itu, diberitahukanlah kepadanya, demikian: ” Ketahuilah,Daud ada di padang gurun En-Gedi.” 2Kemudian Saul mengambil tiga ribu orang yang terpilih dari seluruh orang Israel, lalu pergi mencari Daud dan orang-orangnya di gunung Batu Kambing Hutan. 3Ia sampai ke kandang-kandang domba di tepi jalan. Di sana ada gua dan Saul masuk ke dalamnya untuk membuang hajat, tetapi Daud dan orang-orangnya duduk di bagian belakang gua itu. 4Lalu berkatalah orang-orangnya kepada Daud: “Telah tiba hari yang dikatakan Tuhan kepadamu: Sesungguhnya, Aku menyerahkan musuhmu ke dalam tanganmu, maka perbuatlah kepadanya apa yang kau pandang baik.” Maka Daud bangun, lalu memotong punca jubah Saul dengan diam-diam. 5Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul; 6lalu berkatalah ia kepada orang orangnya: Dijauhkan Tuhanlah kiranya daripadaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi Tuhan, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi Tuhan.” 7Dan Daud mencegah orang-orangnya dengan perkataan itu; ia tidak mengizinkan mereka bangkit menyerang Saul. Sementara itu Saul telah bangun meninggalkangua itu hendak melanjutkan perjalanannya.
Jadi sebenarnya kesempatan ini bisa di pakai oleh Daud untuk membunuh Saul. Bisa saja saat itu Daud langsung menjadi raja dengan melakukan hal yang tidak berkenan kepada Tuhan.Ketika kita bekerja dan Roh Tuhan ada pada kita, kita akan takut melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kebenaran firman. Takut akan Tuhan harus kita miliki di mana pun kita ditempatkan kalau kita mau diberkati.
Kolose 3:23 Apa pun juga yang kamuperbuat, perbuatlahdengansegenaphatimusepertiuntukTuhandanbukanuntukmanusia.
Kita perlu mempersiapkandiri, baik dalam pengetahuan firman dan mentalitas, karena iman sifatnya vertikal dan mentalitas bersifat horisontal. Dengan segala realita yang kita hadapi, kita tidak dapat meminta Tuhan menjadikan kita kepala tanpa ada keterlibatan kita. Di dalam kita bekerja adakalanya kita berhadapan dengan bos yang bengis.
1 Petrus 2:18 Hai kamu, hamba-hamba, tunduklah dengan penuh ketakutan kepada tuanmu, bukan saja kepada yang baik dan peramah, tetapi juga kepada yang bengis.
Kita harus dapat menempatkan diri dengan baik. Tunduk bukan berarti kita menghancurkan iman percaya kita. Didalam kita bekerja, ada prinsip iman dan ini harus seimbang. Tidak boleh sungkanisme mengalahkan prinsip iman. Memang tidak mudah tetapi kita pun tidak boleh arogan karena kita punya prinsip iman. Kita harus menyampaikan dengan baik jika hal tersebut bertentangan dengan prinsip iman kita. Kita harus berani menolak tetapi tetapetis, sehingga orang akan menghargai iman percaya kita bukan sebaliknya membenci kita. Kita harus memiliki semua hal ini untuk bisa dipakai sebagai perabot yang mulia bagi kemuliaan nama Tuhan.
By : Pdt. R.F Martino
SUKSES BERSAMA TUHAN
Matius 24:45-51 45 Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya? 46 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang. 47 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya. 48 Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: 49 Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk, 50 maka tuan hamba itu akan datang pada hari yang tidak disangkakannya, dan pada saat yang tidak diketahuinya, 51 dan akan membunuh dia dan membuat dia senasib dengan orang-orang munafik. Di sanalah akan terdapat ratapan dan kertakan gigi.
Minggu lalu kita sudah belajar tentang kesuksesan yang membawa maut. Sukses menurut filosofi dunia adalah sebuah tujuan. Segala cara akan dilakukan untuk meraihnya dan akibatnya banyak terjadi penyimpangan-penyimpangan seperti korupsi, dll.
Kesuksesan sudah Tuhan sediakan bagi setiap orang percaya yang sudah lahir baru. Untuk dunia akhirat sudah selesai karena ada jaminan beroleh hidup yang kekal, tinggal bagaimana menjalaninya selama masih di dunia. Begitu juga dengan kehidupan sehari-hari, Tuhan berkata bahwa masa depan penuh harapan, menjadi kepala dan bukan ekor, terus naik dan tidak turun, semuanya itu sudah Tuhan sediakan.
Kita tidak boleh salah dalam memahami bahwa ada bagian Tuhan dan ada bagian kita yang harus mengerjakannya. Hal ini harus dipahami dengan benar supaya menghasilkan sikap yang benar karena sikap yang benar akan menghasilkan tindakan yang benar.
Tuhan sudah menyediakan segalanya, Tuhan sendirilah yang mau kita ada didalamnya. Apakah Tuhan membiarkan kita berjuang sendiri?
Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Bagaimana kita memahami arti iman yang dikatakan dalam ayat di atas? Bahasa mimbar yang sering diberitakan adalah: “Imani saja!” Tapi tidak dijelaskan maksudnya hingga banyak orang percaya “mengimani saja” dengan tidak memahami dengan benar.
Yakobus 2:26 Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.
Apa yang kita pahami dengan kalimat “iman yang hidup dan iman yang mati”? di Yakobus sangat jelas bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati, jadi iman itu harus disertai dengan tindakan.
Iman tidak akan sia-sia jika disertai dengan perbuatan sebaliknya iman yang tidak disertai perbuatan adalah iman yang mati yang tidak ada gunanya.
Tapi banyak orang yang tidak mengerti mana yang menjadi bagian Tuhan dan mana bagian kita, sehingga ada beberapa orang percaya yang hanya mengharapkan mujizat datang yang akhirnya memiliki mental yang parah.
Tuhan punya banyak cara untuk bekerja menghadirkan segala sesuatu yang tidak ada menjadi ada, tapi ada bagian kita untuk bekerja dan berbuat. Jadi kita tidak hanya mengatakan “Imani saja” dan selalu membayangkan mujizat dan mengharapkan segala sesuatu terjadi tanpa kita berbuat apa-apa.
Maleakhi 3:10 Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.
Kalau Tuhan sudah berfirman tentang janji-janji yang akan Dia berikan, seperti dalam Ulangan 28:13 “TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun,…”
Renungkanlah mulai saat ini? Mengapa saya masih menjadi ekor? Mengapa saya masih makan gaji dan bukan pemberi gaji? Tidak ada pekerjaan yang hina, setiap orang yang bekerja memang patut mendapat upah, tapi Tuhan berfirman bahwa setiap orang yang hidup benar akan terus naik dan bukan turun.
Sebuah kesaksian: Seorang pengusaha yang juga adalah anak Tuhan pernah menyaksikan pada saya bagaimana Tuhan menolong perusahaannya dari siasat yang jahat dari pesaing perusahaannya. Syukurlah Puji Tuhan, melalui suatu doa profetik, memberitahukan sebelumnya, sehingga ada langkah antisipasi yang dilakukan. Dan perusahaan yang dia pegang memperoleh laba yang sangat besar di luar dugaannya. Dari kesaksian ini kita belajar bahwa iman harus disertai dengan perbuatan.
Mari mengingat kembali tentang orang yang diberi lima talenta, dua talenta dan satu talenta. Masing-masing diberikan menurut kemampuannya. Yang diberikan lima talenta dan dua talenta mengelolanya dan mengerahkan segala apa yang ia miliki sehingga menghasilkan. Tetapi tidak demikian yang diberikan satu talenta, ia tidak mengelolanya sehingga ia tidak menghasilkan apa-apa.
Apa yang kita mau mimipikan tentang masa depan, kalau kita tidak melakukan apa-apa. Dan apabila kita sudah mengelolanya, sejauh mana kita sudah melakukannya?
KINERJA adalah sesuatu yang dicapai; prestasi yang diperlihatakan; kemampuan kerja kapasitas.
Dari pengertian kinerja tersebut berarti yang diberi lima talenta memiliki kinerja yang cemerlang, karena dia bisa menghasilkan lima talenta.
Bagaimanakah kinerja Anda di tempat pekerjaan Anda? Cemerlang atau buruk? Secara alamiah, jika ada bawahan yang memiliki kinerja cemerlang pasti akan diperhitungkan sehingga bisa naik sampai ke puncak. Tetapi ketika tidak bekerja secara cemerlang tapi menginginkan hasil yang lebih, maka hal itu tidak akan pernah terjadi.
Matius 24:45 Siapakah hamba yang setia dan bijaksana, yang diangkat oleh tuannya atas orang-orangnya untuk memberikan mereka makanan pada waktunya?
Bijaksana adalah penilaian yang tinggi dalam suatu kinerja, kalau kita tidak bijaksana, tidak akan pernah punya kinerja yang cemerlang.
Sikap bijaksana adalah hal yang penting, kita tidak perlu menyalahkan siapapun dalam hidup kita atas apa yang kita alami. Tuhan sudah memberikan hikmat dan akal budi dan diberikan kemampuan, kitalah yang harus berkinerja disitu. Yang diangkat adalah yang setia dan bijaksana karena ada yang sudah sangat setia tapi tidak bijaksana, hal inipun tidak benar.
Matius 24:46 Berbahagialah hamba, yang didapati tuannya melakukan tugasnya itu, ketika tuannya itu datang.
Tidak ada tuntutan yang berlebihan pada tuan ini, dia hanya mau hambanya melakukan tugasnya. Hamba itu harusnya tinggal melaksanakan.
Apa hasilnya?
Matius 24:47 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya tuannya itu akan mengangkat dia menjadi pengawas segala miliknya.
Kinerja yang baik akan membuahkan hasil yang baik pula.
Matius 24: 48-49 48 Akan tetapi apabila hamba itu jahat dan berkata di dalam hatinya: 49 Tuanku tidak datang-datang, lalu ia mulai memukul hamba-hamba lain, dan makan minum bersama-sama pemabuk-pemabuk 8
Orang yang bekerja tanpa diawasi adalah orang yang berkinerja dengan cemerlang, bukan orang yang suka “mencari muka”. Ketika tidak ada pimpinan ia berpikir bahwa tanggungjawabnya semakin besar yang harus ia pikul.
Kolose 3:23 Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.
Sebagai orang percaya kita juga harus melibatkan Tuhan supaya kita sukses bersama Tuhan, bukan dengan cara-cara kita sendiri yang tidak benar. Kita harus percaya apa kata firman.
KEjadian 39:1-6 1 Adapun Yusuf telah dibawa ke Mesir; dan Potifar, seorang Mesir, pegawai istana Firaun, kepala pengawal raja, membeli dia dari tangan orang Ismael yang telah membawa dia ke situ. 2 Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu. 3 Setelah dilihat oleh tuannya, bahwa Yusuf disertai TUHAN dan bahwa TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya, 4 maka Yusuf mendapat kasih tuannya, dan ia boleh melayani dia; kepada Yusuf diberikannya kuasa atas rumahnya dan segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf. 5 Sejak ia memberikan kuasa dalam rumahnya dan atas segala miliknya kepada Yusuf, TUHAN memberkati rumah orang Mesir itu karena Yusuf, sehingga berkat TUHAN ada atas segala miliknya, baik yang di rumah maupun yang di ladang. 6 Segala miliknya diserahkannya pada kekuasaan Yusuf, dan dengan bantuan Yusuf ia tidak usah lagi mengatur apa-apa pun selain dari makanannya sendiri. Adapun Yusuf itu manis sikapnya dan elok parasnya.
Yang membuat Yusuf berhasil adalah Tuhan. Cara Tuhan membuat berhasil adalah melalui kinerjanya yang cemerlang. “TUHAN membuat berhasil segala sesuatu yang dikerjakannya”.
Yusuf berhasil karena Tuhan menyertainya. Inilah yang dikatakan “bersama Tuhan”, bukan iman yang konyol, tapi iman yang disertai dengan kinerja yang cemerlang. Sejak segala sesuatu yang diserahkan Yusuf, semuanya Tuhan buat berhasil, bahkan dikatakan keluarga dimana ia bekerja juga diberkati Tuhan.
Kita jangan hanya mengkritik tempat dimana kita bekerja, tapi berdoalah juga untuknya.
Sebelum saya menjadi hamba Tuhan, dan saya adalah seorang yatim yang harus bekerja, saya pernah bekerja pada seseorang. Akhirnya saya harus keluar. Majikan saya menyuruh saya mencari pengganti yang berkinerja seperti saya
Jangan hanya mengerjakan sukses tanpa melibatkan Tuhan, kita harus mengerjakan bersama Tuhan, Tuhan membuat berhasil apa yang kita kerjakan. Yang dibuat berhasil adalah apa yang dikerjakan. Tuhan memberikan kekuatan untuk melakukan apa yang kita kerjakan dengan kinerja yang cemerlang.
By : Pdt. R.F. Martino
KESUKSESAN YANG MEMBAWA MAUT
Lukas 12:16-2116Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya.17Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku.18Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku.19Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah!20Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh,pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti?21Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.
Yakobus 4:13-1613Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: “Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung”,14sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.15Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya,kami akan hidup dan berbuat ini dan itu.” 16Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah.
Tidak seorang pun dari kita yang mengharapkan kegagalan. Semua manusia mau berhasildan sukses, itu sebabnya kita berusaha demikian rupa supaya berhasil dengan segala daya upaya dan dengan segala macam cara sampai kepada menghalalkan segala cara. Hal ini sudahterjadi dalam kehidupan manusia. Terjebak dalam yang namanya kesuksesan atau keberhasilan, bahkan gereja pun kadang kala ada yang melakukan itu, membimbing jemaat fokus pada keberhasilan menjadikannya tujuan. Inilah cara konyol yang sudah dilakukan oleh gereja juga terhadap umatnya. Secara filosofi dunia sekuler, kesuksesan ditanamkan untuk menjadi tujuan hidup, supaya orang dapat hidup suksestetapi mereka lupa bagaimana untuk mencapai atau sampai kepada keberhasilan sehingga orang-orang percaya pun terjebak di dalam menjadikan kesuksesan itu sebagai tujuan hidup dan mereka tidak menyadarinya.
Kesuksesan bukanlah suatu tujuan tetapi adalah proses. Selama kesuksesan kita jadikan tujuan kita akan terjebak dengan menghalalkan segala cara dan yang penting berhasil/tercapai.Tanpa kita ingin pun, Tuhan sudah menetapkan bahwa setiap orang yang sudah menjadi percaya hidup dalam rancangan Tuhan sudah menyediakannya di depan. Jika keberhasilan dibuat dalam bentuk matematika, sebagai contoh 50+20=70. 70 adalah hasil dari penjumlahan angka 50 dan 20. Angka 70 tidak muncul dengan sendirinya. Tidak pernah ada angka 70 kalau tidak ada proses di depannya. Jika tidak ada proses, angka 70 adalah nomor urut yang ke 70. Inilah matematika kesuksesan.
Ketika Tuhan sudah menjanjikan segala sesuatu tentang keberhasilan, jalani prosesnya sampai kepada terwujudnya keberhasilan itu. Kita harus sangat hati-hati,karena kadangkala tidak dapat membedakan mana bagian Tuhan dan mana bagian kita seolah-olah terima beres semua, ketika Tuhan tidak melakukan itu ia menjadi kecewa. Tetapi kalau kita jadikan keberhasilan sebagai tujuan, maka kita akan melakukan segala macam cara supaya berhasil dan sampai di situ. Tidak mau berlelah-lelah, tidak mau kerja banting tulang dan akhirnya membawa maut.
Dalam Yakobus 4:13 dituliskan bahwa ada seorang yang sudah merencanakan akan pergi ke suatu kota dan sudah membuat jadwal keberangkatannya. Orang ini mempunyai perencanaan dan tujuan yang sangat jelas. Ia sudah rencanakan begitu rupa, kota tujuan(tidak disebutkan nama kota karena ini adalah suatu perumpamaan), waktu keberangkatan, target waktu ia akan tinggal di kota tersebut dan yang akan dikerjakannya bahkan sudah menghitung, bahwa ia akan mendapat untung.
Umumnya para pengkotbah tidak membahas hal ini, yang dibahas justru orang ini adalah orang yang tidak benar karena hidup dengan kekuatan dan dengan caranya sendiri. Tetapi yang dimiliki oleh orang tersebut ialah pribadi yang cemerlang. Ini adalah bagian dari manajemen yang seringkali diabaikan oleh banyak anak-anak Tuhan. Dan kadangkala yang menyedihkan ialah makin rohani makin bodoh manajemen. Sehingga pada akhirnya ia kecewa bukan karena tidak punya iman tetapi iman yang konyol padahal ada bagiannya Tuhan ada bagiannya kita dan Tuhan juga memberikan hikmat akal budi apa yang harus kita lakukan dan bagaimana dan kapan kita melakukan dan harus ada perhitungan.
Yakobus 4:13Menunjukkan apa yang diperbuat oleh orang tersebut bukanlah hal yang salah. Sudah ada perencanaan ada pengaturan waktu yang baik ada kota tujuan. Jika dalam pelayanan, sudah membuat peta pelayanan. Jika itu adalah perusahaan, ia sudah memetakan pemasarannya, keadaan pasarnya, apakah kelas menengah, kelas tinggi atau kelas bawah dan ketika produk ini di pasarkan, ia mendapat untung. Jadi, semuanya sudah dihitung. Tetapi sebagian hamba Tuhan menyalahkan orang ini di atas mimbar, sehingga akhirnya jemaat tidak memiliki manajemen, tidak biasa dalam perencanaan dan tidak tahu apa yang mau dikerjakan. Tidak tahu apa yang mau dikerjakan dengan bahasa rohani mengatakan mengalir saja.
Jika Anda diberikan uang satu miliar, apa yang Anda maulakukandenganuangitu? Hal ini sama dengan 5 talenta 2 talenta dan 1 talenta. Mungkin anda menjawab akan menyimpannya di bank, jadi tinggal makan bunganya saja. Jika mindset seperti ini, jangan pernah bermimpi Tuhan akan mempercayakan lebih banyak untuk dikelola dan untuk di bawa sampai kepada yang lebih lagi. Jika di dalam bisnis Anda, usaha Anda makin diberkati, Anda dapat untung, apa yang akanAndalakukandenganuntungitu?
Jika mindsethanya sampai disitu dan tidak ada pemikiran untuk mengembangkan usaha lebih lagi dan lebih lagi, maka dari ekor tidak akan naik menjadi kepala. Bukan Tuhan yang tidak memberikan berkat-Nya, tetapi kita yang belum siap untuk mengelola karena beberapa faktor salah satunya ialah mindset kita, bahkan ada banyak orang yang membuang peluang. Kita tidak boleh tamak tetapi kita juga harus mengembangkan lebih lagi. Tuhan tidak hanya mau memberkati kita dengan cukup makan dan cukup pakai tetapi ia mau memberkati kita lebih daripada cukup bahkan berkelimpahan. Jadi kita yang harus siap dan mau, bukan Tuhan yang tidak mau memberikan tetapi harus ada perencanaan dan tahu jelas apa yang akan dikerjakan.
Yang salah dari pribadi orang yang sudah membuat perencanaan ini yaitudalam Yakobuss 4:14 sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
Ia belum memahami makna hidup yang sebenarnya dan belum tahu bahwa hidup itu seperti uap yang kelihatan lalu lenyap. Inilah yang ia tidak miliki. Tetapi kita yang sudah mengetahui bahwa hidup hanya seperti uap tetapi sayangnya kita justru pasrah dengan kondisi dan keadaan, tidak mau direpotkan, tidak mau disusahkan dan tidak mau dipusingkan sehingga menjadi apa adanya. Bahkan dengan menggunakan ayatuntukmendukungalasan, seperti: kesusahan sehari cukuplah sehari sedangkan Tuhan menetapkan terus naik dan tidak turun, jadi kepala dan bukan ekor.
Itu sebabnya Rasul Paulus memberikan teguran yang sangat keras karena ia melihat beberapa orang yang hidupnya tidak tertib sehingga ia katakan yang tidak kerja jangan makan.
Apa yang Tuhan percayakan, kelola itu dengan sungguh-sungguh dengan satu manajemen yang baik karena manajemen terkait dengan segala aspek yang ada. Kita tidak boleh seadanya. Mungkin kita sudah jungkir balik berdoa tetapi tidak melakukan apa yang menjadi bagian kita, hal ini tidaklahbolehdemikian. Jangan miliki iman yang konyol, karena perintah Tuhanyaitu kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap akal budi mu. Bagiannya kita, kita yang kerjakan dan bagiannya Tuhan, Tuhan yang mengerjakan sampai kepada apa yang namanya berhasil.
Yakobus 4:15 Sebenarnya kamu harus berkata: “Jika Tuhan menghendakinya,kami akan hidup dan berbuat ini dan itu. Kesalahan orang ini ialah melupakan Tuhan dalam perencanaan. Ia mengerjakan dengan kekuatannya sendiri. Tetapi yang mengherankan ialah kita sudah berdoa harusnya lebih berhasil tetapi tidak sampai kepada keberhasilan itu karena kita lemah dalam mengelola. Padahal itu adalah bagian kita yang Tuhan perintahkan untuk kita lakukan. Kita pun dapat menjadi kecewa karena sudah berdoa dengan sungguh-sungguh tetapi belum juga berhasil. Kita harus periksa apa yang menjadi penyebab kekurangan yang ada pada kita.
Kita harus melibatkan Tuhan ketika kita dipercayakan sesuatu yang membawa kita kepada keberhasilan dengan melibatkan iman dan memanage dengan baik termasuk merencanakan dengan baik langkah-langkah berikutnya. Jika bagiannya kita, kita tidak kerjakan dalam kondisi dunia sekarang ini Iblis bisa menjebak kita dengan membuat kita kecewa kepada Tuhan karena seolah-olah Tuhan tidak turun tangan dan tidak campur tangan. Persaingan akan semakin ketat, bukan hanya toko-toko online tetapi juga perusahaan retail, dari negara-negara lain juga sudah banyak yang membuka gerainya di Indonesia. Hal ini tidak dapat dihindari karena kita sudah masuk dalam pasaran bebas Asia dan akan menuju kepada pasaran bebas secara global. Dengan sendirinya kondisi akan seperti itu, kita tidak bisa hindari. Bagaimanapun juga kita harus memperhatikan dengan begitu rupa.
Dalam Lukas 12:16-21 seringkali kita hanya terfokus dengan dosa orang tersebut, tetapi secara manusia ia sudah melaksanakan apa yang baik. Kita menemukan seorang pribadi yang cemerlang, yang mempunyai tanah yang berlimpah limpah hasilnya. Hal ini sudah pasti karena ia sudah berjerih lelah menggarap tanahnya sehingga memiliki hasil yang berlimpah. Ketika ia melihat hasilnya berlimpah limpah, dia sudah tidak tahu akan disimpan di mana hasilnya tersebut. Kemudian ia berkata bahwa ia akan membangun lumbung/gudang yang lebih besar untuk menyimpan hasildari tanahnya itu. Ini adalah bagian dari manajemen antisipasi terhadap apa yang sedang dihadapi sehingga tidak menjadi pribadi yang tiba masa tiba akal. Sebab dengan ia melakukan itu, hasilnya terpelihara dan tidak busuk karena ada tempat penyimpanan. Ia sudah dapat mengatasi keberhasilannya atau ada jalan keluar, karena setiap permasalahan butuh jawaban sebagai jalan keluar.
Kebodohannya ialah ia tidak punya mindset rohani, tidak memiliki filosofi yang benar tentang makna hidupnya. Itu sebabnya ia kerja banting tulang dengan begitu rupa dan memeras otak dengan begitu rupa tetapi ia lupa bahwa hidup manusia seperti uap. Hal ini bukan berarti tidak ada suatu pembelajaran dari ayat tersebut. Tentu kita tidak mau menjadi pribadi yang seperti itu dalam kebodohannya akan nilai-nilai kekekalan. Tetapi justru kita harus bertanya mengapa kita yang sudah punya nilai-nilai kekekalan justru keberhasilan itu hanyalah sebuah mimpi. Hal ini disebabkan karena kita lebih banyak bermimpi dengan cerita kosong dan lain sebagainya. Tidak boleh ada kesuksesan yang membawa kita kepada maut. Kita sebagai orang percaya sudah tidak ada urusan dengan maut karena barangsiapa yang percaya kepada-Nya diberikan hidup yang kekal yaitu mereka yang percaya dalam nama Yesus Kristus. Tetapi di sisi lain kita lemah, dibagian kita yang seharusnya kita kerjakan. Inilah yang harus kita sadari dan kita ubah supaya Iblis tidak mengambil keuntungan dengan membuat kita kecewa karena menganggap Tuhan tidak berbuat sesuatu.
Bukan Tuhan yang tidak mau memberi tetapi kita yang belum siap mengelola apa yang akan Tuhan percayakan. Oleh karena itu kita harus siap dan juga harus mengerti apa yang akan Tuhan berikan ke depan, jika itu bentuknya hal rohani kita pun harus siap secara iman, jika Tuhan mau memberikan kita sesuatu yang berbentuk finansial ataupun juga hal-hal lahiriah untuk kebutuhan hidup, kita pun harus siap. Oleh karena itu kita harus memiliki manajemen yang baik. Dalam hal 5 talenta, 2 talenta dan satu talenta, pada akhirnya Tuhan akan meminta pertanggungjawaban masing-masing pribadi dengan talentanya. Kita tidak boleh hidup dengan tidak memusingkan tentang perencanaan, tujuan, target dan lain sebagainya karena Tuhan akan meminta pertanggungjawaban pada setiap pribadi manusia. Hamba Tuhan pun akan diminta pertanggungjawaban oleh Tuhan. Hal-hal rohani pun tidak luput dari yang namanya manajemen karena hal-hal tersebut masih dikerjakan di dunia. Kita yang sudah tahu akan nilai-nilai kekekalan, seharusnya lebih siap dan mempersiapkan diri mengembangkan apa yang Tuhan akan percayakan untuk kita kelola dan miliki supaya kita tidak usah mengalami kesuksesan yang membawa maut.
By : Pdt. R.F Martino
MERESPONI KASIH KARUNIA ALLAH
Lukas 10:27 Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Mazmur 116:12-14 Bagaimana akan kubalas kepada TUHAN segala kebajikan-Nya kepadaku? Aku akan mengangkat piala keselamatan, dan akan menyerukan nama TUHAN, akan membayar nazarku kepada TUHAN di depan seluruh umat-Nya.
Tuhan menghendaki agar jerih payah kita bagi kepentingan-Nya tidak sia-sia karena setiap jerih payah kita bagi Tuhan ada pahala di sorga. Ada sebagian orang percaya yang sudah lahir baru, namun tidak mau berjerih payah bagi Tuhan. Sebagian lagi sudah berjerih payah bagi Tuhan sebagai bentuk kasihnya kepada Tuhan tetapi kemudian “patah di tengah jalan.” Namun mari kita melihat apa yang terjadi dengan jemaat Efesus.
Wahyu 2:1-5 Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
Kita tidak bisa membuat tuduhan bahwa jemaat Efesus adalah jemaat yang tidak berguna. Semua yang baik ada di jemaat Efesus:
1. Berjerih lelah
2. Tekun
3. Tidak kompromi
4. Sabar dan menderita oleh karena nama Tuhan
5. Tidak mengenal lelah
Namun Tuhan mencela mereka karena mereka telah meninggalkan kasih mereka yang semula kepada Tuhan. Jika kita sudah berjerih payah namun kita dicela, betapa kecewanya kita. Jadi kita bisa membayangkan betapa kecewanya mereka karena Tuhan mencela mereka. Namun sebenarnya Tuhan menegur mereka supaya mereka bertobat.
Perintah Tuhan adalah supaya kita mengasihi Dia dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan. Mengapa Tuhan seakan-akan menekan kita? Mengapa mengikut Tuhan sepertinya susah? Kita akan mengetahui jawabannya.
Pemahaman yang benar seharusnya menghasilkan sikap iman yang benar, dan sikap iman yang benar menghasilkan respon/tindakan iman yang benar.
Rasul Paulus meresponi kasih karunia Allah dengan bekerja keras lebih daripada para rasul. Mengapa ia bisa seperti itu? Karena ia paham, ia dulunya bernama Saulus yang menganiaya orang percaya namun oleh kasih karunia Allah ia diselamatkan.
Begitupun sebelum mengenal Kristus, kita adalah orang berdosa dengan beban yang berat, dan upah dosa ialah maut /neraka/kebinasaan kekal. Tetapi karunia Allah adalah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Apa respon kita setelah kita memahami hal diatas? Kita bertobat, membuka hati dan menerima Yesus, maka kita menjadi anak-anak Allah. Inilah yang disebut Kelahiran Baru. Maka kita yakin setelah kita mati maka kita akan masuk surga.
Apakah sudah selesai? Belum, karena kita belum mati. Lalu respon apa yang kita harus lakukan dalam menjalani hidup di dunia? Dengan mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa, segenap akal budi, dan segenap kekuatan kita. Perintah ini adalah untuk kita lakukan selama di dunia.
Lalu mengapa ada sebagian yang sudah merespon dengan menerima Yesus untuk urusan akhirat (masuk surga) namun tidak nampak responnya dalam menaati Firman Allah dalam kehidupannya di dunia? Kita akan memahaminya dari kisah berikut ini:
Lukas 17:11-19 Dalam perjalanan-Nya ke Yerusalem Yesus menyusur perbatasan Samaria dan Galilea. Ketika Ia memasuki suatu desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka tinggal berdiri agak jauh dan berteriak: “Yesus, Guru, kasihanilah kami!” Lalu Ia memandang mereka dan berkata: “Pergilah, perlihatkanlah dirimu kepada imam-imam.” Dan sementara mereka di tengah jalan mereka menjadi tahir. Seorang dari mereka, ketika melihat bahwa ia telah sembuh, kembali sambil memuliakan Allah dengan suara nyaring, lalu tersungkur di depan kaki Yesus dan mengucap syukur kepada-Nya. Orang itu adalah seorang Samaria. Lalu Yesus berkata: “Bukankah kesepuluh orang tadi semuanya telah menjadi tahir? Di manakah yang sembilan orang itu? Tidak adakah di antara mereka yang kembali untuk memuliakan Allah selain dari pada orang asing ini?” Lalu Ia berkata kepada orang itu: “Berdirilah dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Orang kusta pada zaman dulu langsung disingkirkan/diasingkan, dan mereka harus berseru, “Najis! Najis!” supaya orang tahu bahwa mereka kusta. Kusta juga dianggap kutuk pada masa itu. Jadi singkatnya, mereka adalah orang terkutuk. Mereka berteriak dari jauh memohon belas kasihan Yesus dan Yesus menyembuhkan mereka. Ternyata hanya 1 orang yang kembali dan berterima kasih, dan orang itu adalah orang Samaria – orang yang tidak dianggap oleh orang Yahudi. Yesus mencari 9 orang yang lain dan bertanya mengapa yang 9 orang tidak kembali berterima kasih padahal mereka juga sudah disembuhkan?
Inilah yang banyak terjadi dalam kehidupan kita. Tidak semua dari 10 orang kusta yang disembuhkan yang kembali berterimakasih.
Semua kita yang ada disini adalah orang-orang yang sudah merespon menerima Kristus, ditahirkan dari dosa dan diselamatkan dari hukuman kekal. Namun itu respon untuk urusan akhirat. Bagaimana dengan urusan di dunia? Jangan lupa bahwa iblis selalu mengincar kita untuk menjatuhkan kita agar kembali kepada kebinasaan. Iblis sakit hati karena seharusnya kita orang berdosa layak dihukum dan dibinasakan, namun Tuhan membebaskan kita dari hukuman maut melalui pengorbanan-Nya di kayu salib saat kita menerima Yesus. Maka perlu kita pahami bahwa cara iblis mengincar kita tidak harus dengan malapetaka besar seperti yang dialami Ayub, namun cukup hal-hal biasa yang bisa mengubah hati kita!
Sebenarnya iblis tidak punya hak menyentuh hati kita. Tetapi saat kita membuka celah bagi iblis, maka ia akan menerobos masuk melalui unsur jiwani yaitu pikiran, perasaan, dan kehendak. Jangan berpikir bahwa orang percaya bahkan yang sudah dibaptis Roh Kudus steril dari dosa dan godaan iblis. Setiap realita hidup punya kemampuan menggoyahkan iman dan bahkan bisa menumbangkan iman. Dan langkah pertama seseorang goyah dalam iman adalah saat ia menolak hati nuraninya, maka pada akhirnya kandaslah imannya. Ia memang tidak murtad, namun ia tidak melakukan perintah Tuhan. Ia sudah lahir baru dan mungkin saja sudah dibaptis Roh Kudus namun ia menolak suara Roh Kudus yang berbicara kepadanya. Jadi jangan kecewa jika kita menemukan orang-orang yang harusnya jadi panutan namun tidak menjadi panutan karena memang mereka lahir baru tetapi tidak menjalani hidup barunya.
Lebih lanjut, kita menemukan bahwa ahli Taurat yang bertanya kepada Yesus tersebut berusaha membela diri, dan bagaimana Yesus mengajar dia. Lukas 10:27-37 “Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Yesus menggunakan contoh orang Samaria yang merupakan orang yang tidak dianggap oleh orang Yahudi tetapi bisa menunjukkan kasih kepada orang lain, sebenarnya ini adalah templakan bagi ahli Taurat tersebut. Bagaimana mungkin orang Samaria memiliki kasih lebih besar kepada sesamanya daripada ahli Taurat dan imam Lewi? Apakah ahli Taurat dan imam Lewi tidak memiliki hati nurani melihat orang yang dirampok? Ada! Namun mereka menolak hati nuraninya sehingga kandaslah iman mereka.
Kita harus memahami urutan peristiwa akhir zaman supaya tidak dibingungkan. Sebelum masuk ke dalam kekekalan, Yesus datang kembali menjemput gereja-Nya untuk meluputkan mereka dari masa antikristus. Setelah masa antikristus, Yesus datang kembali bersama orang-orang kudus-Nya untuk memerintah selama 1000 tahun di bumi. Saat Kerajaan 1000 Tahun Damai menjadi apakah kita?
Mengapa Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap unsur hidup kita? Karena ada kasih yang lain yang menghadang kita dan punya kemampuan menerobos masuk ke hati kita, yaitu kasih akan dunia!
1 Yohanes 2:15 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu.
Kasih akan dunia bisa menguasai pikiran, perasaan, kehendak (seluruh unsur jiwani) kita. Karena itu mengapa Tuhan melindungi diri kita dengan cara kita harus mengasihi Dia dengan segenap unsur hidup kita! Jangan anggap remeh kasih akan dunia! Cinta akan dunia luar biasa kuatnya dan bisa menerobos unsur jiwani, karena kehidupan kita sehari-hari dimotori oleh unsur jiwani. Jika cinta akan dunia sudah berhasil menerobos unsur jiwani, maka ia berhasil menembus ke hati kita.
1 Yohanes 2:16-17 Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.
Beri selalu respon untuk mengasihi Tuhan. Saat cinta bersemi di hati, maka akan menghasilkan respon yang kemampuannya melampaui hukum logika, karena Hukum Kasih dan Hukum Iman melebihi Hukum Logika.
By : Pdt.R. F. Martino













