Monthly Archives: September 2017
MENGANTISIPASI KEMAPANAN HIDUP (2)
Ulangan 8: 8:1-20 1″Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu. 2 Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. 3 Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. 4 Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini. 5 Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya. 6 Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia. 7 Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; 8 suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; 9 suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga. 10 Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu. 11 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; 12 dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya, 13 dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak, 14 jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan, 15 dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, 16 dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya. 17 Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. 18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. 19 Tetapi jika engkau sama sekali melupakan TUHAN, Allahmu, dan mengikuti allah lain, beribadah kepadanya dan sujud menyembah kepadanya, aku memperingatkan kepadamu hari ini, bahwa kamu pasti binasa; 20 seperti bangsa-bangsa, yang dibinasakan TUHAN di hadapanmu, kamu pun akan binasa, sebab kamu tidak mau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu.”
Pendahuluan
Sebelumnya kita sudah mempelajari beberapa hal yang mendasar tentang mengantisipasi ujian iman. Kebanyakan orang berpikir bahwa ujian iman identik dengan kesusahan, penderitaan, dll. Kemapanan adalah salah satu bentuk ujian iman. Oleh sebab itu setelah mempelajari tantang mengantisipasi ujian iman, maka kita akan pelajari juga cara mengantisipasi kemapanan hidup.
Dengan tidak merencanakan hidup yang mapan, Tuhan sendiri sudah menetapkan bagian kita setelah menjadi orang percaya yaitu masa depan yang penuh harapan, menjadi kepala dan bukan ekor, terus naik dan bukan turun. Sehingga bagi orang percaya, keberhasilan/kemapanan bukanlah tujuan hidup. Jika kemapanan menjadi tujuan maka segala cara akan dihalalkan untuk mencapainya.
Sebagai orang percaya, kita tinggal menjalani semua proses sampai tercapainya rancangan Allah, tidak perlu bercita-cita untuk menjadi kaya, karena Tuhan sendiri telah menetapkan kita untuk menjadi kaya.
Kemapanan bukan sesuatu yang sulit untuk dinikmati dan dicapai, yang sulit adalah menikmati hidup dalam kemapanan, inilah yang jauh lebih berat. Olehnya Tuhan sudah mengingatkan Bangsa Israel jauh sebelum mereka masuk dalam tanah perjanjian. Bukan cuman mengingatkan tapi juga menasihati dan mempersiapkan Bangsa Israel selama empat puluh tahun sebelum mereka dibawa masuk ke tanah perjanjian. Tuhan mempersiapkan mental umat-Nya.
Kebanyakan orang percaya hanya siap berdoa untuk meminta berkat tapi tidak siap ketika Tuhan menjawab doa-doa mereka. Tidak menyiapkan mental untuk menerima jawaban doa dari Tuhan. Hal ini yang akan menggerogoti iman percaya ketika kita sudah sampai pada masa kemapanan.
“Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar… untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN”
Tuhan membiarkan umat-Nya lapar untuk sebuah pelajaran tentang kerendahan hati dan adanya suatu pengakuan iman bahwa manusia hidup bukan hanya dari roti tapi dari apa yang diucapkan Tuhan.
Ada masalah yang bisa ditutupi, tetapi masalah “perut”/kelaparan tidak bisa di tutupi, bahkan kadang menjadi masalah yang memalukan dan tidak bisa ditutupi.
Mengapa Tuhan harus melakukan hal itu? Karena Tuhan tahu persis ada sesuatu yang berbahaya bagi kehidupan manusia ketika masuk dalam masa kemapanan. Pergumulan inilah yang membuat kita semakin dekat dengan Tuhan.
Sekian lamnya Tuhan mendidik umat-Nya hanya untuk masalah karakter yang ada hubungannya dengan kemapanan/zona nyaman.
“Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini”
Ada peringatan yang diserukan oleh Tuhan: “Hati-hati!”. Tuhan mau agar umat-Nya tetap menjaga hati dan tidak mengatakan bahwa semua yang didapat itu adalah hasil usaha kekuatan sendiri. Tapi jika iman kita mengakui bahwa kemapanan yang kita capai karena memang Tuhan yang menetapkan, maka Tuhan yang akan beri kekuatan untuk menjalaninya. Tapi hal itu harus nampak dalam hidup sehari-hari dan bukan hanya pengakuan iman lewat kata-kata saja, karena hal ini tidak ada manfaatnya.
Langkah Antisipasi
Langkah antisipasi ini untuk menolong kita agar tidak terjebak dalam kemapanan. “Melupakan Tuhan” itu sulit dideteksi. Sama halnya dengan kesombongan yang juga sulit dideteksi, karena hal itu terjadi secara alamiah dengan sendirinya. Langkah antisipasi yang harus kita lakukan adalah: BEKERJA
Roma 4:4 Kalau ada orang yang bekerja, upahnya tidak diperhitungkan sebagai hadiah, tetapi sebagai haknya.
Bekerja adalah awal Tuhan mulai mengantar kemapanan hidup sebagaimana yang sudah Ia tetapkan. Dimulai dari bekerjalah Tuhan menghadirkan uang dalam hidup kita. Ketika kita tidak bekerja, maka kita tidak akan mendapat apa-apa.
II Tesalonika 33:10-12 10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan. 11 Kami katakan ini karena kami dengar, bahwa ada orang yang tidak tertib hidupnya dan tidak bekerja, melainkan sibuk dengan hal-hal yang tidak berguna. 12 Orang-orang yang demikian kami peringati dan nasihati dalam Tuhan Yesus Kristus, supaya mereka tetap tenang melakukan pekerjaannya dan dengan demikian makan makanannya sendiri. 13Dan kamu, saudara-saudara, janganlah jemu-jemu berbuat apa yang baik.
Yang kita lakukan saat masuk dalam kemapanan
Amsal 3:9-10 9Muliakanlah TUHAN dengan hartamu dan dengan hasil pertama dari segala penghasilanmu, 10maka lumbung-lumbungmu akan diisi penuh sampai melimpah-limpah, dan bejana pemerahanmu akan meluap dengan air buah anggurnya.
Dalam bekerja pastilah ada berkat/uang yang kita dapat. Ketika semuanya itu semakin bertambah dan meningkat, Tuhan memerintahkan agar kita memuliakan Tuhan dengan segala berkat yang kita terima.
Semua berkat itu pasti akan berpengaruh terhadap jiwa kita, ketika finansial kita mulai membaik maka otomatis status sosial kita dengan sendirinya akan naik.
Ini bisa membawa kerugian bagi iman kita. Jika kita tidak memakainya untuk memuliakan Tuhan maka harta itu akan secara alami melekat pada diri sendiri dan untuk kemuliaan diri sendiri. Hal ini akan menimbulkan masalah yang nantinya akan mempengaruhi tingkah laku dan karakter kita karena semua harta yang kita dapat “menghiasi” diri kita. Ini semua terjadi dengan sendirinya tanpa kita sadari. Sangat perlu kita waspadai, oleh karena itu Tuhan memerintahkan untuk memuliakan Tuhan dengan harta kita.
Jadi, apapun yang kita miliki, ketika peruntukannya bukan untuk kemuliaan Tuhan, dengan sendirinya akan kembali untuk kepujian/kemuliaan diri sendiri.
Dalam Alkitab telah dituliskan bahwa akan ada kemakmuran yang berlimpah-limpah sebelum kesukaran besar terjadi. Inilah keadaan yang sangat berbahaya. Oleh sebab itulah melalui kebenaran ini, Tuhan memperingati kita untuk mempersiapkan iman dan mental kita ketika kita dibwa masuk dalam masa kelimpahan ini.
Ibrani 10:25 Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.
Tetaplah berpaut pada Tuhan, janji-janji Tuhan mengenai berkat pasti akan tergenapi atas kita semua, siapkan iman dan mental kita untuk menerima semua berkat-berkat Tuhan.
By. : Pdt. R.F. Martino
MENGANTISIPASI HIDUP MAPAN
Ulangan 8:1-181 “Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu.2 Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.3 Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN.4Pakaianmu tidaklah menjadi buruk di tubuhmu dan kakimu tidaklah menjadi bengkak selama empat puluh tahun ini.5 Maka haruslah engkau insaf, bahwa TUHAN, Allahmu, mengajari engkau seperti seseorang mengajari anaknya.6 Oleh sebab itu haruslah engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia.7 Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung;8 suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya;9 suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga.10 Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu.11 Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini;12 dan supaya, apabila engkau sudah makan dan kenyang, mendirikan rumah-rumah yang baik serta mendiaminya,13 dan apabila lembu sapimu dan kambing dombamu bertambah banyak dan emas serta perakmu bertambah banyak, dan segala yang ada padamu bertambah banyak,14 jangan engkau tinggi hati, sehingga engkau melupakan TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan,15 dan yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras,16 dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek moyangmu, supaya direndahkan-Nya hatimu dan dicobai-Nya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya.17 Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.18 Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.
Kata “mapan” dalam KBBI adalah stabil, permanen, lebih baik dari keadaan semula. Perlunya kita memahami hidup mapan secara kebenaran firman. Ketika pemahaman kita keliru pasti sikap dan tindakan kita keliru. Setiap orang memiliki kerinduan untuk hidup mapan/sukses. Tidak seorang pun manusia menginginkan hidupnya gagal. Seringkali mapan/hidup sukses dijadikan tujuan hidup. Mapan atau sukses bukanlah tujuan hidup tetapi ini adalah suatu proses yang dilalui. Tuhan sudah menetapkan bahwa kita adalah orang-orang yang diberkati, Tuhan membuat segala yang dikerjakannya berhasil, Tuhan sudah menetapkan bahwa anak-anak Tuhan bukanlah ekor tapi kepala. Tetapi ada bagiannya kita bekerja dan ada bagiannya Tuhan memberkati apa yang kita kerjakan. Bekerja adalah salah satu proses yang Tuhan buat agar kita berhasil. Ada saatnya berdoa ada saatnya bekerja.
Kemapanan adalah bagian dari rancangan Allah dan kekristenan bukan untuk merubah nasib dari susah menjadi senang, miskin jadi kaya dan di akhirat beroleh selamat. Kekristenan bukanlah sekedar filosofi hidup tetapi adalah suatu kebenaran tentang apa yang harus kita kerjakan setelah menjadi orang percaya dan bagaimana kita hidup di dunia setelah urusan akhirat beres. Perlunya kita memahami tentang kemapanan menurut kebenaran firman Tuhan. Ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan orang percaya yang sesungguhnya sesuai dengan keadaan apa yang dialami oleh bangsa Israel ketika baru saja keluar dari Mesir.
Umat Tuhan pada zaman Musa sudah diingatkan mengapa mereka mengalami masa-masa sulit?
Ulangan 8:2 “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kau lakukan atas kehendak Tuhan, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.
Tuhan maha tahu apa yang ada dalam hati manusia tetapi Tuhan mau manusia membuktikan apa yang ada dalam hati manusia karena iman dapat dibuktikan ketika manusia sedang menghadapi suatu realita atau peristiwa hidup. Hal ini akan membuktikan apakah manusia tetap berpegang pada perintah Tuhan ataukah tidak. Di dalam kamar doa kita tidak tahu seberapa kuat iman kita. Tetapi keluar dari kamar doa, kualitas iman seseorang akan teruji. Oleh karena itu kita tidak dapat menilai kualitas iman seseorang berdasarkan seringnya ia berdoa, berpuasa, melayani, karena penilaian Tuhan adalah dalam kehidupan sehari-hari, apakah segala kebenaran firman yang sudah didengar ini dapat dilakukan dalam kehidupan nyata.
Bangsa Israel saat itu tidak dapat membuktikan iman mereka kepada Tuhan sehingga Tuhan memproses bangsa ini selama empat puluh tahun untuk merendahkan hati mereka. Kecongkakkan, keangkuhan dan kesombongan adalah musuh Tuhan dan Tuhan sangat membenci hal itu.
Ulangan 8:3“Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kau kenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan Tuhan.”
Setelah melihat kehidupan manusia secara umum termasuk kehidupan orang percaya yang sering menjadikan kemapanan menjadi tujuan hidup karena sudah menjadi filosofi umum dunia, maka yang terjadi adalah ketika ia sudah tiba pada kemapanan itu, ia tidak memiliki suatu antisipasi.
Isi dari Ulangan 8 adalah pesan yang Tuhan berikan kepada manusia mengenai antisipasi hidup mapan karena Tuhan bicara sebelum Bangsa Israel masuk ke negeri yang dijanjikan oleh Tuhan.
Cara orang percaya ingin mencapai kemapanan tidak berbeda dengan orang dunia hanya saja ditambah dengan hal-hal rohani untuk mempercepat agar tujuannya untuk hidup mapan tercapai. Hal ini tanpa disadari menjadikan filosofi kemapanan sebagai tujuan hidup.
Yesaya 55:8,9 “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”
Yeremia 29:11 “Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada padaku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan”
Ulangan 28 menjelaskan bahwa anak Tuhan akan terus naik dan bukan turun, menjadi kepala dan bukan ekor. Ketika Tuhan sudah menempatkan seseorang pada posisi kepala, seharusnya orang tersebut dapat mengatur segala tugasnya karena ia adalah seorang pemilik.
Kemapanan tidak perlu dipersoalkan karena sudah menjadi rancangan dan ketetapan Allah bahwa setiap orang percaya dari semula ditetapkan untuk hidup mapan sehingga hal ini tidak perlu menjadi tujuan hidup hanya saja manusia perlu menjalani prosesnya.
Abraham
Abraham yang dipanggil Tuhan keluar dari negerinya Ur-Kasdim menuju ke negeri yang akan Tuhan tunjukkan kepadanya hanya dapat membawa apa saja yang ia dapat bawa. Tuhan sudah mengikat janji kepadanya sebelum ia keluar dan tinggalkan Ur-Kasdim, sebelum ia disebut sebagai bapa orang percaya. “Aku akan memberkati engkau, Aku akan membuat namamu termashyur.” Alkitab menuliskan bahwa Abraham menjadi kaya, makin kaya dan sangat kaya karena Tuhan sudah merancangkan hal itu. Bahkan keturunannya pun mengalami hal yang sama dengan Abraham yakni Ishak menjadi seorang yang kaya. Hal ini menunjukkan bahwa kemapanan adalah sutu rancangan Allah untuk kehidupan orang percaya.
Kemapanan jangan dijadikan tujuan tetapi jalani saja hidup sesuai dengan firman karena itu adalah proses. Yang membuat janji Allah lama baru digenapi dalam hidup adalah karena karakter manusia itu sendiri. Tuhan harus memproses bangsa Israel selama empat puluh tahun hanya untuk membuat mereka rendah hati sebelum memasuki tanah perjanjian.
Daud
Daud sebelum menjadi raja adalah seorang gembala domba. Dipilih Allah pada waktu-Nya. Sekalipun mengalami kesulitan karena Saul mengejar-ngejar Daud untuk dibunuh. Daud menjadi orang yang gagah perkasa dalam menghadapi Goliat dan berhasil mengalahkannya. Selama Daud bersama-sama dengan Saul, perempuan-perempuan pada masa itu memuji Daud dengan mengatakan Saul mengalahkan beribu-ribu sedangkan Daud berlaksa-laksa. Daud selalu keluar berperang dan berhasil. Ia menjadi Raja yang gagah perkasa dan mapan, ia memiliki segala-galanya. Tetapi inilah bahaya kemapanan. Suatu saat ia tidak keluar berperang dan hanya tinggal di istananya. Ia berjalan-jalan di atas sotoh istana dan melihat seorang perempuan sedang mandi. Kemudian Daud jatuh dalam dosa pada saat Ia sudah mapan.
Dosa lain yang ia lakukan adalah memerintahkan panglimanya untuk menghitung jumlah pasukan bangsa Israel. Tuhan marah dan harus menjatuhkan hukuman baginya. Karena segala apa yang Daud peroleh bukanlah karena kekuatan pasukan tetapi karena penyertaan Tuhan. Secara manusia, menghitung jumlah pasukkan bukanlah hal yang salah. Tetapi yang salah adalah motivasinya.
Salomo
Salomo adalah pewaris Daud. Tidak ada orang di dunia yang lebih berhikmat daripada Salomo karena itulah karunia yang Tuhan berikan baginya. Salomo mepunyai istri dan gundik yang sangat banyak. Perempuan-perempuan dari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah dan yang mempengaruhi Salomo untuk menyembah kepada allah-allah mereka. Ini pun terjadi pada saat Salomo hidup mapan.
Dari kisah tokoh-tokoh alkitab di atas, kita dapat mengerti bahwa perlunya berhati-hati dan menjaga hidup ketika kita sudah menjadi mapan. Kemapanan harus dapat diantisipasi karena dapat menjadi awal kejatuhan manusia. Hal ini sudah banyak terjadi baik dalam cerita di alkitab mau pun kehidupan sekarang.
Ketika kita menjadikan kemapanan menjadi tujuan hidup kemudian bekerja sedemikian rupa untuk mencapainya dan berhasil, kita akan mengakui bahwa “inilah hasil usahaku sendiri bukan karena campur tangan Tuhan”. Filosofi dunia mengatakan siapa bekerja keras pasti berhasil. Orang percaya seringkali memiliki iman yang konyol bahwa Tuhan pasti memberkati kehidupannya jadi tidak perlu bekerja keras. Jadi baik orang dunia maupun orang percaya harus bekerja keras. Bedanya ialah setelah mencapai apa yang diinginkan. Orang percaya akan memiliki sikap dan tindakan yang berbeda dari orang dunia terhadap apa yang sudah ia capai. Bagian Tuhan sudah menetapkan kemapanan tinggal bagaimana manusia menjalaninya.
Ulangan 8:17,1817Maka janganlah kau katakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini. 18Tetapi haruslah engkau ingat kepada Tuhan, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini.
Oleh karena kerja keras dan berhasil, lalu menimbulkan kecongkakkan. Tuhanlah yang memberimu kekuatan untuk memperoleh kekayaan. Tuhanlah yang memberikan kesehatan, kekuatan fisik, kecakapan sehingga kita dapat mengerjakan banyak hal, tetapi ketika fisik kita mulai melemah, produktifitas kita pun berkurang. Ketika fikiran kita sudah tidak mampu mengelola banyak hal maka kita pun sudah tidak dapat menjadi manusia yang kreatif termasuk menjadi pelupa. Dengan mengingat kepada Allah akan membuat kita selalu mengucap syukur dan mengandalkan Tuhan. Benar kita bekerja tetapi kita mengandalkan Tuhan sehingga Ia menambah hikmat akal budi, menambah kekuatan dan membawa kita masuk untuk menyelesaikan segala sesuatu sampai kepada apa yang Tuhan telah janjikan.
Jangan kecewa jika apa yang Saudara harapkan sampai hari ini belum terwujud karena ingat saja bahwa untuk membuat bangsa Israel rendah hati butuh waktu empat puluh tahun. Koreksi dan benahi diri jika masih ada karakter keras hati/congkak sehingga harus menunggu waktu lebih lama agar janji Allah digenapi dalam kehidupan saudara.
Mengantisipasi Ujian Iman (2)
I Korintus 10:11-13 11Semuanya ini telah menimpa mereka sebagai contoh dan dituliskan untuk menjadi peringatan bagi kita yang hidup pada waktu, di mana zaman akhir telah tiba. 12 Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! 13 Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Filipi 2:5-8 5Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus,6 yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,7 melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.8 Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Sebagian besar pemberitaan firman pada umumnya hanya menyampaikan bagaimana hidup lebih baik, hidup makmur dan berkelimpahan, bebas dari masalah, dll, sehingga umat Tuhan tidak siap menerima apa yang namanya ujian iman. Ini berdampak pada pemahaman bahwa kekristenan hanyalah perubahan nasib dunia akhirat (ketika mati tidak masuk neraka).
Ini yang menyebabkan mengapa banyak orang percaya tidak siap dan tidak dapat mengantisipasi ketika ujian iman hadir dalam hidupnya. Tidak mengharapkan adanya ujian iman bahkan berusaha berdoa dan berpuasa supaya ujian iman dijauhkan dari hidupnya .
Kita yakin apa yang kita baca dalam Alkitab bahwa setiap orang percaya mutlak menghadapi apa yang namanya ujian iman. Dalam perjalanan sebagai orang percaya sudah ditetapkan untuk menjalani hidup baru dengan iman. Ada banyak orang yang lahir baru tapi tidak menjalani hidup barunya. Memang semuanya harus diawali dengan lahir baru tapi jika tidak dijalani dengan hidup baru maka tidak akan membawa dampak apa-apa. Contohnya sudah lahir baru tapi masih berbuat dosa.
Bagaimana kita membuktikan bahwa kehidupan kita sudah lahir baru dan menjalani hidup baru itu? Salah satu cara mendeteksi adalah: apakah masih ada kepercayaan lama dalam kekristenan kita? Contohnya ketika ada kedukaan dan mengadakan peringatan 3 malam, 7 malam, 40 malam, dst. Banyak orang yang mengaku sudah lahir baru tapi masih melakukan hal tersebut. Ini adalah kekristenan yang tidak membawa dampak apa-apa bagi orang lain. Sudah lahir baru tapi masih hidup dengan cara lama hanya ditambah hari Minggu beribadah di gereja dan melayani Tuhan.
Bayangkan saja sepasang suami istri yang baru menikah dan akan menjalani kehidupan rumah tangga yang baru, tapi masih hidup dengan cara pada waktu mereka berdua belum menikah (single), hidup hanya untuk diri sendiri tanpa memikirkan pasangannya, bisa dipastikan rumah tangga ini pasti akan bermasalah. Begitupun dengan kita, kita tidak bisa menjalani kehidupan baru kita dengan cara yang lama.
Tuhan menetapkan setiap orang percaya untuk hidup oleh iman makanya ada yang namanya ujian iman. Saat kita berhadapan dengan ujian iman kita sedang berhadapan dengan kedaualatan Allah. Tidak ada siapapun atau apapun yang dapat merubahnya. Oleh sebab itu kita perlu mempunyai pemahaman yang benar mengenai ujian iman, supaya kita punya sikap dan tindakan yang benar. Karena jika punya pemahaman yang keliru tentang ujian iman ini maka sikap dan tindakan yang kita ambil pasti akan keliru juga.
Ketika seorang percaya menghadapi ujian iman, ia mengambil tindakan untuk berdoa. Dia berdoa agar ujian iman itu dihindarkan dari dia. Tapi tidak ada perubahan, maka iapun kecewa.
Setiap orang percaya harus mempunyai pemahaman yang benar yaitu bahwa setiap orang percaya pasti akan diuji.
Maksud dan tujuan ujian iman
I Perus 1:7 1:7 Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.
Tujuan ujian iman adalah untuk memurnikan iman kita. Ini berarti iman kita belum murni, makanya harus diuji.
Ketika kita hidup tidak melakukan firman maka yang kita lakukan adalah dosa, sebaliknya jika kita hidup melakukan firman berarti kita hidup oleh iman dan tidak berbuat dosa. Ketika kita melakukan firman tidak ada terobosan yang dilakukan oleh pencemar apapun bentuknya, karena kita terproteksi oleh firman Tuhan dan dengan sendirinya kita disebut pelaku-pelaku firman. Jika kita memahami hal ini maka kita akan dapat mengantisipasi bentuk-bentuk ujian iman. Setiap saat kita harus mengantisipasinya karena ujian iman bisa hadir dalam segala bentuk.
I Korintus 10:12 Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!
Bagaimana sikap kita dalam menghadapi ujian iman?
Jangan pernah mempunyai sikap bahwa Tuhan tidak pernah melakukan ujian iman. Kita harus bisa memahami antara kedaulatan Allah dan anugerah kasih karunia.
Pada umumnya setiap orang hanya mau mengalami kasih karunia Tuhan saja tapi tidak mau mendalami kedaulatan Tuhan. Sehingga banyak yang menjadi kecewa ketika diperhadapkan dengan ujian iman yang merupakan bagian dari kedaulatan Tuhan. Mengapa? Karena ia tidak menduga bahwa Tuhan menginjikan semua itu terjadi.
I Petrus 4:12-14 12Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu. 13Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. 14Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.
Ayat diatas sepertinya tidak manusiawi dan tidak masuk akal karena tidak masuk di logika manusia. Tapi ini bisa diterima tatkala kita sudah memahaminya. Manusia lahiriah tidak dapat melakukan hal ini, hanya iman percaya yang dapat melakukan hal ini. Kapan kita bisa menikmati bahagia di tengah badai? Hanya iman dan karya Roh Kudus yang dapat lakukan ini. Roh Kudus sebagai penolong akan membantu kita menjalani semuanya itu, supaya yang tidak bisa dilakukan oleh hukum logika bisa dilakukan oleh iman.
I Petrus 4:15-16 15Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. 16Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu. 17Karena sekarang telah tiba saatnya penghakiman dimulai, dan pada rumah Allah sendiri yang harus pertama-tama dihakimi. Dan jika penghakiman itu dimulai pada kita, bagaimanakah kesudahannya dengan mereka yang tidak percaya pada Injil Allah?
Tuhan menginginkan kita memiliki tindakan yang benar dalam setiap ujian iman yang kita hadapi.
Doa dan puasa adalah tindakan yang benar, tapi doa dan puasa tidak akan dapat membuat kita lolos dari ujian tapi bisa membuat kita lulus dari ujian. Kebanyakan orang akan berpikir bahwa ketika saya mengambil langkah rohani pastilah Tuhan akan campur tangan, ini yang dikatakan tindakan rohani sudah benar tapi dilakukan dari pemahaman dan sikap yang keliru. Dan ketika Tuhan tidak menjawab sesuai keinginannya, maka iapun kecewa.
Ujian tidak dapat dihindari oleh siapapun. Contohnya tidak akan ada orang tua yang melarang anaknya mengikuti ujian kenaikan kelas. Apa jadinya kalau orang tua melarang anaknya mengikuti ujian kenaikan kelas?
Kita tidak bisa menghindari setiap ujian. Terkadang kita juga berdoa kepada Tuhan agar ujian/persoalan diangkat dari kehidupan kita. Tapi ingatlah! Bahwa Tuhan tidak pernah berurusan dengan persoalan kita, tapi Tuhan berurusan dengan pribadi kita yang mempunyai persoalan. Tuhan menginginkan kita yang dipulihkan agar bisa tetap menjalani ujian iman itu.
Apa yang dapat kita lakukan agar cakap menanggung setiap ujian iman
II Korintus 13:5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.
Lakukan apapun yang firman yang Tuhan katakan. Pada saat kita melakukan firman maka akan ada pergumulan antara manusia daging kita dengan manusia rohani kita. Manusia rohani harus dapat menaklukan keinginan daging.
Ada jaminan ketika kita melakukan firman, yaitu bahwa Roh Kudus akan mengambil alih dengan memberikan kekuatan kepada kita untuk menanggungnya. Jika kita tetap menuruti keinginan daging, maka Roh Kudus tidak akan melakukan apa-apa.
Inilah yang harus dilatih setiap hari untuk menguji ketaatan kita. Ketaatan tergantung penyerahan diri kita. Penyerahan diri adalah langkah membawa kita pada ketaatan dan ketaatan adalah kuncu lulus dari ujian iman. Jadi bersyukurlah untuk setiap ujian iman yang Tuhan hadirkan dalam hidup kita sehingga kita tidak menyangkal iman kita.
By. : Pdt. RF. Martino
MENGANTISIPASI MASA UJIAN
1 Korintus 10:12,13 12Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! 13Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Filipi 2:5 5Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Ketika kita berbicara mengenai perjalanan hidup maka kita akan menjumpai apa yang namanya pengalaman-pengalaman hidup. Setiap pengalaman hidup akan membawa dampak dalam kehidupan pribadi manusia. Apapun yang kita hadapi selalu berganti-ganti. Walaupun kita terlibat dalam kegiatan rutinitas, masalah yang kita hadapi tidak selalu sama.
Realitas hidup tidak cukup hanya diatasi dengan pikiran atau kekuatan manusia karena kemampuan manusia lahiriah dalam mengelola masalah sangat terbatas. Kita harus mempunyai kemampuan mengubah pengalaman/peristiwa hidup menjadi pengalaman iman, karena selain sebagai manusia lahiriah kita juga adalah orang percaya yang memiliki iman dalam Yesus Kristus yang kemampuannya tidak terbatas.
Mujizat hanya dapat dilakukan oleh Tuhan melalui iman. Ilmu pengetahuan tidak dapat menghadirkan mujizat. Hasil karya menakjubkan/mengagumkan yang sumbernya dari ilmu pengetahuan terikat kepada logika yang dipertimbangkan karena yang menjadi dasar pertimbangan adalah karena hal tersebut baru ditemukan. Hal yang kelihatannya tidak mungkin dilakukan manusia tetapi setelah dilakukan penelitian dan dijelaskan secara pengetahuan, hal tersebut dapat diterima secara akal pikiran manusia yang menunjukkan keterikatan pada hukum logika.
Tuhan mau agar setiap umat percaya menangkap nilai-nilai ilahi ada dalam setiap pengalaman hidup dan merubahnya menjadi pengalaman iman sehingga ia dapat menemukan kehendak Tuhan didalamnya dan menjadi terlatih dalam menghadapi masalah-masalah dengan mengandalkan Tuhan dan melakukan firman-Nya. Hal ini mutlak harus dimiliki karena sangat bermanfaat bagi diri sendiri.
Mengapa harus mengantisipasi masa ujian?
Kita harus memahami kebenaran tentang masa ujian karena pemahaman yang benar akan menghasilkan sikap yang benar dan sikap yang benar akan menghasilkan tindakan yang benar. Jika pemahaman kita keliru, maka sikap dan tindakan kita pun akan keliru dalam hal apapun di dunia ini terlebih dalam memahami kebenaran firman Tuhan. Yang perlu kita pahami adalah bahwa setiap orang percaya pasti diuji imannya.
Hidup dengan iman saja hampir tidak ada orang yang melakukannya apalagi ujian iman. Sebagian besar orang percaya hanya lahir baru tetapi belum menjalani kehidupan lahir barunya. Contoh, seorang percaya masih melakukan kebiasaan tradisi/adat/kebiasaan yang ia percayai sebelum ia lahir baru. Jadi tidak heran masih banyak orang yang tidak dapat mengantisipasi masa ujian ini.
Sebagian orang menganggap masa ujian adalah masa yang menakutkan dan berharap agar Tuhan menjauhkannya dari hal tersebut dengan berpatokkan pada doa “Bapa kami” dimana ada tertulis “Dan janganlah membawa kami kedalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat…”. Mereka tidak mengantisipasi hal ini karena mereka menolak. Mereka hanya menginginkan berkat Tuhan.
Tuhan menetapkan ujian iman adalah pasti. Ujian iman tidak dapat kita tolak/hentikan sekalipun dengan doa puasa. Ujian iman adalah saat Tuhan memproses pribadi orang tersebut agar lebih meningkat. Keteguhan seseorang akan diuji pada saat ia mengalami masa ujian.
Alkitab menuliskan bahwa pada akhir zaman banyak orang akan gugur imannya. Orang hanya percaya dalam hatinya bahwa Yesus ada di dalam dirinya tetapi ia tidak mengalami Yesus dalam kehidupannya sehari-hari. Hanya orang yang hidup oleh iman akan mengalami Tuhan dalam hidupnya, inilah yang dinamakan hidup baru. Menjalani hidup baru adalah pergumulan iman yang tidak beda dengan ujian iman. Orang yang terlatih dalam menghadapi pergumulan iman tidak akan terkejut ketika mengalami masa ujian iman. Karena ia sudah memiliki pengalaman pikul salib setiap hari.
1 Petrus 4:12 Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.
Kata “heran” menjelaskan suatu peristiwa tentang mengapa sesuatu hal terjadi. Banyak orang tidak memahami bahkan menolak bahwa ada masa ujian iman. Hal ini terjadi karena mereka tidak diajarkan kebenaran ini.
Alkitab menuliskan bahwa Ayub adalah seorang yang saleh, kaya, takut akan Tuhan. Secara horizontal ia sudah menjadi dampak dan berguna bagi orang disekitarnya. Maka yang pantas ia terima dari Tuhan adalah segala yang baik. Ayub diuji imannya bukan pada saat ia hidup dalam dosa tetapi saat ia hidup saleh, saat hidup benar di hadapan Tuhan dan disaat ia hidup memberi dampak positif bagi siapapun yang ada disekelilingnya. Seluruh kekayaan Ayub habis, anak-anaknya mati dan ia mengalami penyakit kulit yang menjijikkan dimana semua orang menjauhinya. Tuhan mengizinkan setan melakukan penerobosan setelah pagar perlindungan diangkat. Kecepatan iblis menerobos orang percaya saat ada celah dan itu melebihi kecepatan apapun yang ada tertulis dalam ilmu pengetahuan.
Secara manusia biasa, Ayub mengeluh dan mengutuk hari kelahirannya. Secara manusia hal tersebut adalah lumrah tetapi secara iman, hal tersebut tidak boleh dilakukan. Hukum logika tidak memiliki kemampuan untuk menembus hukum iman, tetapi hukum iman dapat menembus hukum logika.
Hal inilah yang membuat kita sering heran karena terjadi disaat kita menyangka bahwa kita sedang berdiri teguh. Untuk membuktikan apakah kita adalah pribadi yang teguh berdiri hanya dengan melalui ujian.
Oleh karena itu, antisipasi pertama yang harus ada ialah memiliki pemahaman bahwa setiap orang percaya tidak ada yang lolos/luput dari masa ujian. Tuhan menginginkan kita lulus ujian iman. Oleh karena itu kita harus melalui ujian iman tersebut. Ujian iman tidak terlepas dari mentalitas. Ada banyak orang yang imannya bagus tapi memiliki mentalitas yang dapat merusak imannya. Mentalnya tidak siap menerima/memasuki masa ujian. Iman adalah vertikal tetapi mentalitas adalah horizontal.
1 Petrus 4:13 Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.
Kita dapat menguji diri sendiri apakah kita berdiri teguh di dalam iman. Menguji diri kita setiap hari terhadap ketaatan firman dalam menghadapi berbagai realita hidup. Orang yang mau melatih imannya akan mengintrospeksi dirinya sendiri bukan orang lain. Apakah saya hidup benar? Apakah saya hidup di dalam iman? Apakah saya melakukan firman? Kita tidak akan heran akan api siksaan jika kita sudah terlatih dengan menguji diri kita sendiri. Iman yang diuji kepada kita adalah ketaatan kita dalam melakukan firman Tuhan. Ketaatan adalah kunci untuk dapat lulus dari ujian. Kekuatan ketaatan ada dalam penyerahan diri dan inilah kunci untuk melakukan ketaatan.
2 Korintus 13:5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.
Ketika salah satu bagian dalam hidup kita diterpa badai sampai tidak ada harapan tetapi sebagai orang percaya tetap berharap kepada Tuhan karena mujizat masih ada. Tetapi banyak orang kecewa pada Tuhan karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.
By : Pdt. R F. Martino













