MENGANTISIPASI MASA UJIAN
1 Korintus 10:12,13 12Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh! 13Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan keluar, sehingga kamu dapat menanggungnya.
Filipi 2:5 5Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, 6yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, 7melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. 8Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Ketika kita berbicara mengenai perjalanan hidup maka kita akan menjumpai apa yang namanya pengalaman-pengalaman hidup. Setiap pengalaman hidup akan membawa dampak dalam kehidupan pribadi manusia. Apapun yang kita hadapi selalu berganti-ganti. Walaupun kita terlibat dalam kegiatan rutinitas, masalah yang kita hadapi tidak selalu sama.
Realitas hidup tidak cukup hanya diatasi dengan pikiran atau kekuatan manusia karena kemampuan manusia lahiriah dalam mengelola masalah sangat terbatas. Kita harus mempunyai kemampuan mengubah pengalaman/peristiwa hidup menjadi pengalaman iman, karena selain sebagai manusia lahiriah kita juga adalah orang percaya yang memiliki iman dalam Yesus Kristus yang kemampuannya tidak terbatas.
Mujizat hanya dapat dilakukan oleh Tuhan melalui iman. Ilmu pengetahuan tidak dapat menghadirkan mujizat. Hasil karya menakjubkan/mengagumkan yang sumbernya dari ilmu pengetahuan terikat kepada logika yang dipertimbangkan karena yang menjadi dasar pertimbangan adalah karena hal tersebut baru ditemukan. Hal yang kelihatannya tidak mungkin dilakukan manusia tetapi setelah dilakukan penelitian dan dijelaskan secara pengetahuan, hal tersebut dapat diterima secara akal pikiran manusia yang menunjukkan keterikatan pada hukum logika.
Tuhan mau agar setiap umat percaya menangkap nilai-nilai ilahi ada dalam setiap pengalaman hidup dan merubahnya menjadi pengalaman iman sehingga ia dapat menemukan kehendak Tuhan didalamnya dan menjadi terlatih dalam menghadapi masalah-masalah dengan mengandalkan Tuhan dan melakukan firman-Nya. Hal ini mutlak harus dimiliki karena sangat bermanfaat bagi diri sendiri.
Mengapa harus mengantisipasi masa ujian?
Kita harus memahami kebenaran tentang masa ujian karena pemahaman yang benar akan menghasilkan sikap yang benar dan sikap yang benar akan menghasilkan tindakan yang benar. Jika pemahaman kita keliru, maka sikap dan tindakan kita pun akan keliru dalam hal apapun di dunia ini terlebih dalam memahami kebenaran firman Tuhan. Yang perlu kita pahami adalah bahwa setiap orang percaya pasti diuji imannya.
Hidup dengan iman saja hampir tidak ada orang yang melakukannya apalagi ujian iman. Sebagian besar orang percaya hanya lahir baru tetapi belum menjalani kehidupan lahir barunya. Contoh, seorang percaya masih melakukan kebiasaan tradisi/adat/kebiasaan yang ia percayai sebelum ia lahir baru. Jadi tidak heran masih banyak orang yang tidak dapat mengantisipasi masa ujian ini.
Sebagian orang menganggap masa ujian adalah masa yang menakutkan dan berharap agar Tuhan menjauhkannya dari hal tersebut dengan berpatokkan pada doa “Bapa kami” dimana ada tertulis “Dan janganlah membawa kami kedalam pencobaan tetapi lepaskanlah kami daripada yang jahat…”. Mereka tidak mengantisipasi hal ini karena mereka menolak. Mereka hanya menginginkan berkat Tuhan.
Tuhan menetapkan ujian iman adalah pasti. Ujian iman tidak dapat kita tolak/hentikan sekalipun dengan doa puasa. Ujian iman adalah saat Tuhan memproses pribadi orang tersebut agar lebih meningkat. Keteguhan seseorang akan diuji pada saat ia mengalami masa ujian.
Alkitab menuliskan bahwa pada akhir zaman banyak orang akan gugur imannya. Orang hanya percaya dalam hatinya bahwa Yesus ada di dalam dirinya tetapi ia tidak mengalami Yesus dalam kehidupannya sehari-hari. Hanya orang yang hidup oleh iman akan mengalami Tuhan dalam hidupnya, inilah yang dinamakan hidup baru. Menjalani hidup baru adalah pergumulan iman yang tidak beda dengan ujian iman. Orang yang terlatih dalam menghadapi pergumulan iman tidak akan terkejut ketika mengalami masa ujian iman. Karena ia sudah memiliki pengalaman pikul salib setiap hari.
1 Petrus 4:12 Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.
Kata “heran” menjelaskan suatu peristiwa tentang mengapa sesuatu hal terjadi. Banyak orang tidak memahami bahkan menolak bahwa ada masa ujian iman. Hal ini terjadi karena mereka tidak diajarkan kebenaran ini.
Alkitab menuliskan bahwa Ayub adalah seorang yang saleh, kaya, takut akan Tuhan. Secara horizontal ia sudah menjadi dampak dan berguna bagi orang disekitarnya. Maka yang pantas ia terima dari Tuhan adalah segala yang baik. Ayub diuji imannya bukan pada saat ia hidup dalam dosa tetapi saat ia hidup saleh, saat hidup benar di hadapan Tuhan dan disaat ia hidup memberi dampak positif bagi siapapun yang ada disekelilingnya. Seluruh kekayaan Ayub habis, anak-anaknya mati dan ia mengalami penyakit kulit yang menjijikkan dimana semua orang menjauhinya. Tuhan mengizinkan setan melakukan penerobosan setelah pagar perlindungan diangkat. Kecepatan iblis menerobos orang percaya saat ada celah dan itu melebihi kecepatan apapun yang ada tertulis dalam ilmu pengetahuan.
Secara manusia biasa, Ayub mengeluh dan mengutuk hari kelahirannya. Secara manusia hal tersebut adalah lumrah tetapi secara iman, hal tersebut tidak boleh dilakukan. Hukum logika tidak memiliki kemampuan untuk menembus hukum iman, tetapi hukum iman dapat menembus hukum logika.
Hal inilah yang membuat kita sering heran karena terjadi disaat kita menyangka bahwa kita sedang berdiri teguh. Untuk membuktikan apakah kita adalah pribadi yang teguh berdiri hanya dengan melalui ujian.
Oleh karena itu, antisipasi pertama yang harus ada ialah memiliki pemahaman bahwa setiap orang percaya tidak ada yang lolos/luput dari masa ujian. Tuhan menginginkan kita lulus ujian iman. Oleh karena itu kita harus melalui ujian iman tersebut. Ujian iman tidak terlepas dari mentalitas. Ada banyak orang yang imannya bagus tapi memiliki mentalitas yang dapat merusak imannya. Mentalnya tidak siap menerima/memasuki masa ujian. Iman adalah vertikal tetapi mentalitas adalah horizontal.
1 Petrus 4:13 Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya.
Kita dapat menguji diri sendiri apakah kita berdiri teguh di dalam iman. Menguji diri kita setiap hari terhadap ketaatan firman dalam menghadapi berbagai realita hidup. Orang yang mau melatih imannya akan mengintrospeksi dirinya sendiri bukan orang lain. Apakah saya hidup benar? Apakah saya hidup di dalam iman? Apakah saya melakukan firman? Kita tidak akan heran akan api siksaan jika kita sudah terlatih dengan menguji diri kita sendiri. Iman yang diuji kepada kita adalah ketaatan kita dalam melakukan firman Tuhan. Ketaatan adalah kunci untuk dapat lulus dari ujian. Kekuatan ketaatan ada dalam penyerahan diri dan inilah kunci untuk melakukan ketaatan.
2 Korintus 13:5 Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.
Ketika salah satu bagian dalam hidup kita diterpa badai sampai tidak ada harapan tetapi sebagai orang percaya tetap berharap kepada Tuhan karena mujizat masih ada. Tetapi banyak orang kecewa pada Tuhan karena apa yang terjadi tidak sesuai dengan yang mereka harapkan.
By : Pdt. R F. Martino









