Monthly Archives: August 2017
“MEMELIHARA KESATUAN ROH”(4): DALAM IBADAH
Efesus 4:3 “Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera”
1 Korintus 14:26-33“ 26Jadibagaimanasekarang, saudara-saudara? Bilamanakamuberkumpul, hendaklahtiap-tiap orang mempersembahkansesuatu: yang seorangmazmur, yang lain pengajaran, ataupenyataan Allah, ataukaruniabahasaroh, ataukaruniauntukmenafsirkanbahasaroh, tetapisemuanyaituharusdipergunakanuntukmembangun.27Jikaada yang berkata-kata denganbahasaroh, biarlahduaatausebanyak-banyaknyatiga orang, seorang demi seorang, danharusadaseorang lain untukmenafsirkannya.28Jikatidakada orang yang dapatmenafsirkannya, hendaklahmerekaberdiamdiridalampertemuanJemaatdanhanyabolehberkata-kata kepadadirinyasendiridankepada Allah.29Tentangnabi-nabi — baiklahduaatautiga orang di antaranyaberkata-kata dan yang lain menanggapiapa yang merekakatakan.30Tetapijikaseoranglain yang duduk di situ mendapatpenyataan, maka yang pertamaituharusberdiamdiri.31Sebabkamusemuabolehbernubuatseorang demi seorang, sehinggakamusemuadapatbelajardanberolehkekuatan.32Karunianabitaklukkepadanabi-nabi.33Sebab Allah tidakmenghendakikekacauan, tetapidamaisejahtera.”
I Korintus14:40 “Tetapisegalasesuatuharusberlangsungdengansopandanteratur.”
Minggu ini kita akan melanjutkan pelajaran kita dari hal memelihara kesatuan roh di dalam ibadah. Jika seseorang tidak menikmati ibadah, maka ibadah tersebut menjadi tidak bergairah baginya bahkan dapat menjadi tekanan.
Ada lagi orang-orang yang berusaha membuat agar ibadah dapat dinikmati dengan menciptakan suatu suasana ibadah. Maksud mereka mungkin baik, namun bukankah ibadah itu dipimpin oleh Roh Kudus dan bukan suasananya dibuat-buat oleh manusia?
Ibadah/Kebaktian artinya berbuat bakti, berarti kita yang mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan. Kitalah yang memiliki kerinduan untuk bertemu Tuhan maka kita bisa menikmati ibadah atau persekutuan pribadi dengan Tuhan. Jika kita memiliki kerinduan kepada Tuhan dan hasilnya kita bisa menikmati ibadah, maka kita menjadi seperti “ketagihan” dengan Tuhan, asyik dengan Tuhan.
Namun demikian kita juga harus berhati-hati agar tidak menjadi ekstrim. Ada hamba Tuhan yang karena terlalu dekat dengan Tuhan akhirnya ia merasa jijik untuk berkumpul dengan istrinya. Seperti yang biasa telah diingatkan kepada kita yaitu kita harus berwaspada karena semua yang positif, iblis punya kemampuan untuk membuatnya menjadi negatif.
Dalam segala hal termasuk di dalam ibadah kita harus berpusat kepada Kristus. Karena manusia cenderung suka pada sesuatu yang sensasional/fenomena padahal fenomena atau sesuatu yang sensasional itu tidak boleh dijadikan dasar pegangan kita sebagai orang percaya. Jika orang percaya terlena dengan fenomena, maka suatu saat apabila Antikris menyatakan dirinya dengan berbagai mujizat, maka akan terlihat siapakah orang percaya yang akan tetap berdiri tegak dan siapakah yang akan tumbang. Alkitab sudah memberitahu kita bahwa Antikris akan muncul dengan berbagai kekaguman termasuk kekaguman spiritual karena memang ia akan diberi kuasa, dan sasarannya adalah menjatuhkan orang-orang percaya bahkan kepada orang-orang pilihan. Namun jangankan nanti pada zaman antikris, sekarang saja banyak orang kristen yang pergi ke dukun karena alasan kemanusiaan misalnya untuk berobat. Tanpa bermaksud menghakimi, kita juga mungkin mendengar atau membaca berita tentang banyak hamba-hamba Tuhan yang jatuh karena godaan-godaan sosial.
Ingatlah bahwa tafsiran dan fenomena tidak boleh menjadi doktrin. Firman yang murni (susu yang murni) itulah yang boleh menjadi doktrin.
Dari ayat yang kita baca, kita tahu bahwa karunia Roh Kudus mendatangkan damai sejahtera, tidak mendatangkan syak. Maka saat seseorang berkarunia, kita yang mendengar pernyataannya – tanpa bermaksud menghakimi – harusnya bisa mengetahui apakah manifestasi karunia itu berasal dari Tuhan atau bukan dari Tuhan.
Jangan datang ibadah karena rutinitas karena hari Minggu waktunya beribadah. Karena jika kita datang dengan terpaksa atau hanya sekedar datang, menjadi sia-sialah kita beribadah. Alkitab berkata bahwa ibadah berguna dalam segala hal. Namun ibadah baru mendatangkan keuntungan saat kita “beribadah sampai bertemu Tuhan”.
Dalam ibadah, ada saatnya kita bermazmur untuk menyanyikan nyanyian baru yaitu nyanyian yang tidak pernah diciptakan sebelumnya, namun yang mengalir oleh ilham Roh Kudus. Tetapi dalam bermazmur di ibadah bukan dilakukan dengan sembarang. Ada ketetapannya di dalam Alkitab yaitu seorang demi seorang, atau dengan kata lain “jangan rame-rame”.
Maksudnya: saat waktunya bermazmur, kita semua dipersilakan serentak untuk bermazmur. Namun saat tiba-tiba kita mendengar ada seseorang yang bermazmur dengan suara yang lebih keras/menonjol, kita semua harus menundukkan diri untuk berdiam dan mempersilakan orang tersebut bermazmur. Namun dalam memelihara kesatuan roh, kita mengatakan “amin!” terhadap pernyataan-pernyataan dalam mazmur orang tersebut yang kita imani.
Sebaliknya, jika kita adalah orang yang bermazmur tersebut dan ilham Roh Kudus sudah selesai dalam nyanyian baru kita, maka kita berkata, “Haleluya!” dan dengan demikian kita mempersilakan semua jemaat untuk serentak bermazmur kembali sampai ada lagi orang lain yang kita dengar bermazmur dengan suara yang lebih keras/menonjol. Dengan demikian kita juga merendahkan diri untuk mempersilakan orang lain untuk bermazmur dan “tidak memborong” semua kesempatan untuk menyanyikan nyanyian baru.
Untuk worship leader/pemimpin pujian, perlu mengetahui beberapa hal dalam pemilihan lagu ibadah
1. Ada lagu gereja yang bersifat vertikal (liriknya ditujukan kepada Tuhan), ada yang bersifat horizontal (kepada jemaat). Lagu yang bersifat horizontal contohnya adalah lagu “El Shaddai”. Liriknya ditujukan kepada jemaat: “Tak usah kau takut, Allah bersertamu. Tak usah kau bimbang, Yesus p’liharamu.”
2. 2. Saat kita mau menyanyikan suatu lagu di ibadah, kita harus mencari tahu latar belakang lagu tersebut. Sekarang mudah karena ada internet sehingga kita bisa mencari informasi dari internet. Lagu yang berasal dari pengalaman iman penulisa lagu tersebut akan menjadi berkat yang luar biasa, kita pun bisa menikmatinya, dan lagu tersebut akan bertahan lama. Sedangkan lagu-lagu yang diciptakan hanya sekedar untuk tujuan komersial, tidak akan bertahan lama. Saya mengetahui ada pencipta lagu rohani yang menerima orderan dari para penyanyi rohani untuk dibuatkan lagu, dan pencipta lagu rohani tersebut menerima bayaran atas lagu ciptaannya.
3. 3. Ada lagu yang hanya cocok untuk dinyanyikan secara solo/pribadi, ada lagu yang bisa dinyanyikan bersama. Selanjutnya Ibrani 13:15 berkata, “Sebab itu marilah kita, oleh Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya.”
Ayat tersebut mengatakan “senantiasa” berarti setiap saat! Setiap saat dimana saja kita mempersembahkan korban syukur kepada Allah. Dan hal yang paling mudah yang bisa kita ucapkan adalah “Puji Tuhan!”. Kita harus membiasakan diri saat bertemu sesama orang percaya kita mengatakan, “Puji Tuhan!”. Ini adalah ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya!
By : Pdt. DR. R. F. Martino
Garuda di Dadaku
Hari itu, Senin, 21 Agustus 2017, Kebaktian pelajar Kristen Palu diberikan kepercayaan kembali oleh Tuhan untuk mengadakan ibadah. Lebih dari 1000 orang pelajar kristen dari tingkat SMP dan SMA kota Palu dan sekitarnya membanjiri Ibadah yang digelar di gedung Marry Glow Palu.
Pujian dan penyembahan yang dipimpin oleh Tim Pelayan altar dan dilanjutkan Firman yang dibawakan oleh hamba Tuhan Pdm. Feliks M. Sepang yang membawa seluruh pelajar yang hadir agar memiliki jiwa nasionalis, mencintai bangsa dan negara Indonesia, tidak mengeluh, mencibir, atau merasa menyesal lahir dan tinggal di Indonesia karena berbagai problema bangsa ini. tetapi justru sebaliknya bangga dan mencintai bangsa ini sebagaimana hati Tuhan mencintai bangsa ini dan turut berpartisipasi secara aktif dalam mengusahakan kesejahteraan kota dan negeri dimana Tuhan menempatkan serta berdoa bagi bangsa tercinta.
Menyambut bendera kebangsaan Indonesia, MERAH PUTIH yang dibawa oleh pasukan pengibar bendera sambil seluruh peserta menyanyikan lagu kebangsaan : Indonesia Raya yang dipandu oleh dirigen berlangsung khusuk. dilanjutkan lagu Garuda Pancasila dan di medley lagu Tujuh Belas Agustus berlangsung sangat meriah. Seluruh peserta tampak sangat menikmati, bendera merah putih yang dilambaikan diatas kepala menambah serunya lagu-lagu tersebut.
Tidak kalah seru juga, dipenghujung acara, panitia menyiapkan hadiah keren berbentuk topi berwarna merah dan putih yang dibagikan bagi peserta yang berhasil menjawab setiap pertanyaan dari panitia. pertanyaan yang disiapkan oleh panitia adalah seputar Indonesia yang berebutan dijawab oleh seluruh peserta.
Ibadah malam itu dututup dengan doa oleh koordinator Kebaktian Pelajar Kristen Palu, Pdt. Lea Novitasari, S.Th., MA. Seluruh peserta kembali de tempat masing-masing dengan satu komitmen untuk berdiri bagi bangsa dan mempertahankan bangsa Indonesia di hadapan Allah, menjadi generasi penerus bangsa yang tetap tegak berdiri, dan menjadi bintang yang bercahaya di antara angkatan yang bengkok.
By : Admin
HAMBA YANG SETIA
Matius 25:21 “Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.”
Ayat diatas merupakan ayat yang berbicara tentang talenta. Talenta disini adalah uang, bukan bakat. Kita tentu sudah pernah membaca kisah ini secara keseluruhan dimana sang tuan mempercayakan talenta kepada hamba-hambanya. Yang seorang dipercayakan 5 talenta, yang seorang 2 talenta, dan seorang lagi 1 talenta. Saat tuannya kembali ternyata hamba yang mendapat 5 talenta menghasilkan 5 talenta, yang mendapat 2 talenta menghasilkan 2 talenta, namun hamba yang mendapat 1 talenta tidak menghasilkan apa-apa karena ia menanam talentanya. Dua orang hamba yang mendapat 5 dan 2 talenta itu menghasilkan laba 100%. 100% ini berarti maksimal. Maka saat mereka menghadapi penilaian akhir tuannya, mereka mendapatkan pujian “Baik sekali perbuatanmu hambaku yang baik dan setia” dan mereka pun masuk dalam kebahagiaan tuannya.
Namun hamba yang menerima 1 talenta tidak mendapat hasil, maka talenta yang ada padanya diambil daripadanya dan ia sendiri dicampakkan ke dalam kegelapan dimana terdapat ratap dan kertak gigi.
Apa yang bisa kita pelajari dari kisah diatas?
1. Tuhan tidak menuntut apa yang tidak ada pada kita tetapi Tuhan menuntut apa yang sudah Ia percayakan kepada kita.
2. Tuhan tidak pernah mau dirugikan. Ketika kita tidak produktif, membuang-buang waktu dengan sia-sia dan tidak menghasilkan apa-apa, apalagi saat kita sudah melayani dan diberi kepercayaan oleh Tuhan namun kita menyia-nyiakannya, berarti kita sudah merugikan Tuhan maka Tuhan akan berurusan dengan kita! Namun banyak orang yang beralasan “beda orang, beda kemampuan”. Ini adalah alasan yang dibuat-buat oleh orang yang tidak mau memaksimalkan kemampuannya. Menurut penelitian, seumur hidup manusia, manusia pada umumnya mempergunakan hanya sebagian kecil dari kemampuan otaknya. Dua hamba itu memaksimalkan diri sehingga hasil yang mereka dapatkan pun maksimal. Karena itu jangan malas! Orang yang tidak mau dididik dengan kata-kata, akan dididik dengan peristiwa. Lebih baik belajar dari pengalaman orang lain daripada pengalaman itu menimpa kita. Orang-orang yang tidak mau dididik dengan kata-kata atau tidak mau belajar dari pengalaman orang lain adalah orang-orang yang tidak mau belajar. Alkitab berkata bahwa hamba yang menerima 1 talenta menanam talentanya. Padahal kalau dipikir secara logika, menggali tanah dan menanam itu butuh kerja juga! Berarti hamba itu bekerja namun bekerja sia-sia.
3. Untuk menjadi hamba yang setia membutuhkan proses. Setia berbeda dengan rajin. Rajin bisa dipatahkan menjadi malas dan kemudian menjadi merosot.
Definisi kata “Setia” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah “berpegang teguh (pada janji, pendirian, dan sebagainya); patuh; taat.” Dengan demikian, “Setia” tidak seindah kalimat yang mengikutinya untuk menjadi suatu kalimat yang puitis. Namun kesetiaan ada saat kita menghadapi kehidupan nyata dengan segala realitanya. Setia tidak hadir di pesta pernikahan tetapi teruji saat melewati badai kehidupan. Setia tidak hadir saat suami istri dalam saat-saat bahagia. Setia hadir dalam sungai air mata dan pengalamam-pengalaman memilukan. Setia hadir dan muncul di tengah badai dan keadaan huru hara. Setia bersaudara kembar dengan penderitaan dan bukan hanya penderitaan biasa tetapi penghancuran segala-galanya, termasuk pengkhianatan yang menyakitkan. Setia juga hadir saat kita berniat untuk mengangkat koper dan meninggalkan pelayanan, disitulah kesetiaan diperlukan.
4. Setia dan tanggung jawab saling berkaitan dan tak bisa dipisahkan.
Kalau kita membaca kisah diatas, setelah sang tuan menerima laba dari hamba-hambanya, maka hamba-hamba yang menghasilkan laba 5 dan 2 talenta diberikan kepercayaan yang lebih besar.
Dengan demikian saat kita mengimani janji Tuhan bahwa kita akan diangkat menjadi kepala dan bukan ekor, naik dan tidak turun, jangan berpikir bahwa naik menjadi kepala itu naik mobil mewah, dihormati dimana-mana, dan segala kesenangan lainnya. Naik menjadi kepala sesungguhnya adalah mendapat kepercayaan/tanggung jawab yang lebih besar. Maka saat Tuhan mendapati kita setia, kita akan dipercayakan hal-hal yang lebih besar lagi.
By : Pdt. DR. R. F.Martino
KEJARLAH KEKUDUSAN
Ibrani 12:14b “…sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.”
Ayat ini adalah kriteria jika kita ingin bertemu Tuhan secara muka dengan muka. Tuhan pertetapkan hal ini yaitu KEJARLAH KEKUDUSAN!
Hal ini bukanlah kebetulan untuk disampaikan, masing-masing kita harus intropeksi diri. Sampai dimana kadar rohan kita, jika belum mencapai target yang sesuai dengan kehendak Tuhan, berusahalah untuk mengejarnya.
Kita harus siap sedia dalam segala kondisi, karena kedatangan Tuhan untuk menjemput kita sudah sangat dekat. Pastikan kita terangkat bersama sama dengan Dia
I Tesalonika 5:23 Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.
Untuk bisa mengalami pengangkatan kita harus mengalami pengudusan dalam segala hal yaitu: tubuh, jiwa dan roh kita harus kudus dalam segala hal
1. Jiwa yang terdiri dari pikiran, perasaan dan kehendak semua itu harus kudus
2. Tubuh yang terdiri dari panca indra juga harus dalam keadaan kudus. Dalam segala aspek kehidupan. Bagi yang sudah berumah tangga, pernikahan Saudara harus kudus, tidak boleh ada hal-hal yang menyimpang, semua harus mengikuti standar Alkitab. Jika berbisnis, Tuhan mau usaha bisnis Saudara juga harus kudus, bukan bisnis yang abal-abal yang tidak mengikuti prinsip Alkitab. Kita tidak bisa mengikuti cara dunia dalam berbisnis yang menghalalkan segala cara untuk mendapat keuntungan. Ada cara Tuhan yang sudah Tuhan atur.
3. Roh kita juga harus kudus dari segala pencemaran-pencemaran.
Ulangan 8:1 “Segenap perintah, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, haruslah kamu lakukan dengan setia, supaya kamu hidup dan bertambah banyak dan kamu memasuki serta menduduki negeri yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu.
Prinsip Tuhan sudah sangat jelas tertulis, bahwa kita harus dengan setia melakukan semua perintah Tuhan agar semua yang menjadi hak kita dapat kita terima menjadi bagian kita. Janji Tuhan tidak pernah gagal, asal saja kita mau ikut dengan setia segala yang Dia perintahkan.
Pernikahan Kudus
Dalam kesempatan ini saya secara khusus mengingatkan buat Saudara yang sudah hidup dalam pernikahan.
Hidup pernikahan Saudara harus benar-benar kudus. Pernikahan yang sah adalah pernikahan yang diakui oleh Tuhan melalui pihak gereja dan diakui oleh pemerintah melalui catatan sipil. Ada banyak pernikahan yang disahkan hanya secara adat tanpa pengesahan dari pihak gereja dan catatan sipil, pernikahan ini belum dikatakan sah. Dalam sebuah kasus, bagi Saudara yang sudah menikah secara peraturan gereja tapi belum pernah mendaftarkannya dalam catatan sipil, Saudara harus segera mengurusnya, jika tidak, hal ini bisa menjadi celah dalam kehidupan pernikahan Saudara.
Seks Kudus Dalam Pernikahan
Pornografi tidak bisa dihadirkan dalam pernikahan. Pornografi cara Iblis merusak pernikahan yang sudah dikuduskan oleh Tuhan. Suami istri harus tetap menjaga kekudusan dengan melakukan apa yang wajar tanpa harus melibatkan dosa pornografi dalam rumah tangga mereka.
Roma 1:22-28 22 Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. 23 Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar. 24 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran, sehingga mereka saling mencemarkan tubuh mereka. 25 Sebab mereka menggantikan kebenaran Allah dengan dusta dan memuja dan menyembah makhluk dengan melupakan Penciptanya yang harus dipuji selama-lamanya, amin. 26 Karena itu Allah menyerahkan mereka kepada hawa nafsu yang memalukan, sebab isteri-isteri mereka menggantikan persetubuhan yang wajar dengan yang tak wajar. 27 Demikian juga suami-suami meninggalkan persetubuhan yang wajar dengan isteri mereka dan menyala-nyala dalam berahi mereka seorang terhadap yang lain, sehingga mereka melakukan kemesuman, laki-laki dengan laki-laki, dan karena itu mereka menerima dalam diri mereka balasan yang setimpal untuk kesesatan mereka. 28 Dan karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah, maka Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas:
Suami adalah kepala/imam dalam sebuah keluarga, sudah seharusnya menjadi teladan bagi keluarga. Tidak boleh ada hal-hal yang dilanggar. Ada banyak suami-suami yang mempunyai Wanita Idaman Lain (WIL), hal ini adalah celah besar yang dipakai Iblis untuk menghancurkan rumah tangga. Begitupun sebaliknya para istri, harus menjadi penolong yang sesuai diajarkan oleh Alkitab. Sehingga kodrat dalamberumah tangga bisa berjalan dengan baik sesuai pimpinan Tuhan
Kudus Dalam Masa Menjalin Hubungan (Pra-Nikah)
Bagi pasangan muda-mudi yang sedang menjalin hubungan harus tetap menjaga kekudusan. Ada banyak pasangan yang sudah melakukan hubungan seks di luar nikah.
Beberapa alasan yang sering dikemukakan bahwa rasa kasih sayang ditunjukkan dengan meminta apa saja yang diminta oleh pasangannya (termasuk berhubungan seks di luar nikah). Melakukan hal-hal yang mengarah ke percabulan juga biasa dilakukan oleh pasangan muda mudi. Memakai dan melakukan hal-hal yang tidak wajar untuk mencegah kehamilan.
Janganlah merendahkan diri dengan melakukan hal-hal yang rendah. Kasih persaudaraan harus tetap terjalin. Sang pemuda harus mengasihi pemudi tersebut sama seperti ia mengasihi adik kandungnya, sehingga tidak melakukan hal-hal yang tidak wajar
Matius 55:27-29 27 Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. 28 Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya. 29 Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka. 30 Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka.
Kekudusan Dalam Masa Remaja
Para Remaja jangan mengotori otak dengan tontonan, tontonan pornografi. Menurut penelitian, orang yang kecanduan pornografi, otaknya mengalami kerusakan yang lebih parah dari otak orang yang kecanduan narkoba.
Tontonan-tontonan yang tidak wajar, games yang mengandung unsur pornografi harus dihindari.
Hal ini akan membuat banyak kasus-kasus yang menyebabkan orang tersebut melakukan masturbasi/onani. Hal ini adalah perzinahan. Jauhilah!
Jika masih video porno di gadget segera hapus. Ini akan menolong Anda untuk tetap hidup dalamkekudusan.
Para orang tua harus maksimal dalam memperhatikan anak-anaknya. Ada banyak kasus penyimpangan seksual yang terjadi dimana-mana yang menimpa anak-anak di bawah umur, seperti:pedofilia, gay, lesbian, dll
Keluaran 20:14 Jangan berzinah.
Firman Tuhan dengan tegas berbicara mengenai larangan perzinahan.
Perzinahan upahnya adalah neraka
I Korintus 6:9-10 9 Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, 10 pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.
Kudus Dalam Berpakaian
I Timotius 2:9 Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaklah ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana,…
Hal ini juga harus menjadi perhatian bagi para perempuan agar berdandan secara wajar. Tidak perlu memakai pakaian-pakaian yang membuat orang lain jatuh dalam dosa.
Marilah kita terus bijaksana dalam menjalani kehidupan pada akhir zaman, tetap kejarlah kekudusan, agar kita bisa bertemu dengan Allah di Surga.
By : Pdt. Mediati Martino
MEMELIHARA KESATUAN ROH (Bagian 3)
Efesus 4:3 Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:
Matius 18:19,20 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. 20Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.
Ibrani 11:6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
Yang ada hubungannya dengan kesatuan roh adalah hal-hal yang menyangkut kebersamaan antar sesama orang percaya disaat mereka sedang memuji menyembah Tuhan dan dalam hal beribadah. Jika kesatuan Roh ini dapat dipelihara dengan baik di hadapan Tuhan, maka dengan sangat mudah dinikmati dalam kehidupan sehari-hari.
Jika di hadapan Tuhan dan di dalam hadirat-Nya kita tidak bisa menjaga kesatuan Roh apalagi di dalam kehidupan nyata. Sebab untuk menyatukan Roh (sepakat), setiap pribadiharus“menghancurkan” dirinya sendiriuntuksaling menaklukkan diri.
Kita bisa menikmati hasil dari iman percaya kita sehingga itu bukan suatu pergumulan yang sangat berat melainkan sesuatu yang dapat kita nikmati baik dalam kehidupan nyata dan juga di hadirat Tuhan sehingga tidak ada lagi ibadah agamawi, tidak ada orang yang datang beribadah hanya membawa beban kepada Tuhan dan mengharapkan sesuatu yang dapat dibawa pulang melainkan orang datang kepada Tuhan untuk berbakti, memuji, menyembah Tuhan.Orang datang mengharapkan untuk mendapatkan sesuatu sedangkan alkitab menuliskan orang datang beribadah dengan membawa persembahan rohani.
1 Korintus 14:26 Jadi bagaimana sekarang, saudara-saudara? Bilamana kamu berkumpul, hendaklah tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu: yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa Roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa Roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.
Hal ini menyebabkan banyak orang tidak menikmati ibadahnya,sehingga parapelayan di mimbar harus mempunyai kemampuan khusus untuk membakargairah orang-orang untuk memuji Tuhan agar mereka dibawa kepada suatu pikiran yang terfokus, sehingga bukan lagi Roh Kudus yang bekerja melainkan kalimat-kalimat sugesti.
Inilah pemahaman manusia padaumumnya, secara psikologis dimana setiap orang datang dengan kepentingan, persoalan dan keberadaan yang berbeda-beda. Tetapi orang-orang ini datang bukanlah untuk mengahdiri sebuah konser. Artis dalam sebuah konser memiliki kemampuan sugesti yang kuat sehingga tidak mengherankan ketika penonton menjadi histeris. Secara psikologis hal ini wajar terjadi tetapi kita menginginkan yang murni. Orang yang ahli dalam tata suara seringkali tidak dapat menerima fenomena-fenomena yang terjadi dalam suatu ibadah karena mereka memahami bahwa ada frekuensi tertentu yang dapat mempengaruhi saraf seseorang sehingga dapat membangkitkan sesuatu dalam diri orang tersebut. Sebagai contoh ketika seseorang mendengarkan lagu keroncong setelah makan siang, ia akan segera mengantuk ataupun ketika mendengarkan lagu yang riang, secara otomatis tubuh kita akan memberi respon.
Kita tentu menginginkan hal yang murni dimana Roh Kudus saja yang bekerja. Orang yang tidak dapat memelihara kesatuan Roh tidak akan dapat menikmati ibadahnya. Ketika orang tidak dapat menikmati iman percaya, aktifitas rohani dan ibadah-ibadahnya, orang tersebut akan menjadi jenuh sehingga ia akan katakan bahwa ia tidak mendapatkan “apa-apa”dari ibadahnya.
Matius 18:19,20 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. 20Sebab dimana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.
Kalimat“Aku ada di tengah-tengah mereka” menunjukkan bahwa
1. Yesus hadir dan kita harus berpusat kepada Kristus
2. Bahwa setiap pribadi di dalam menjaga kesatuan Roh maka mereka harus sepakat. Hal ini hanya dapat terjadi jika setiap pribadi saling menaklukkan diri.
Salah satu kata kunci untuk memelihara kesatuan Roh yaitu dengan merespon setiap kalimat yang benar adanya dengan kata “amin” karena berkata “amin” tidak dibutuhkan suatu temperamen tertentu, setiap orang dapat melakukannya dan tidak perlu menunggu ditanya “ada amin?”. Jadi biasakanlah agar kita menyatu dengan firman dengan melatih diri supaya dalam diri kita ini selalu ada hal yang positif.
Selain kata sepakat, perlu ada ketertiban di dalam operasional karunia-karunia Roh Kudus. Tiap-tiap orang mempersembahkan sesuatu; yang seorang mazmur, yang lain pengajaran, atau penyataan Allah, atau karunia bahasa roh, atau karunia untuk menafsirkan bahasa roh, tetapi semuanya itu harus dipergunakan untuk membangun.
Tiap-tiap orang datang beribadah bukan karena jadwal ibadah tetapi karena sudah menyiapkan hati untuk beribadah, sudah mempersiapkan diri dengan persembahan rohani sehingga tidak seorang pun yang pasif ataupun duduk melamun terlebih kita yang sudah lahir baru dan sudah dibaptis Roh Kudus.
Kita patut bersyukur oleh karena pengorbanan Yesus yang sudah memperdamaikan dan menebus kita dari segala dosa sehingga tiap pribadi dapat menjadi Imam di hadapan-Nya.
Ibrani 12:1,2 1 Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. 2Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus, yang memimpin kita dalam iman, dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan, yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
Persoalan selalu melekat pada diri setiap orang dan Tuhanpun tahu. Tuhan tidak berurusan dengan persoalan kita tetapi pribadi kita. Ketika Tuhan memberkati hidup kita, menyembuhkan kita bahkan membuka jalan bagi kita, hal itu terjadi karena Ia mengasihi kita. Diri kita lebih penting daripada semuapersoalankita.
Iblis tidak berurusan dengan kekayaan Ayub untuk dihancurkan atau pun dengan anak-anak Ayub untuk dimatikan tetapi iblis punya satu tujuan yaitu agar Ayub menyangkal imannya.
1 Korintus 14:31 Sebab kamu semua boleh bernubuat seorang demi seorang, sehingga kamu semua dapat belajar dan beroleh kekuatan.
1 Korintus 14:33 Sebab Allah tidak menghendaki kekacauan, tetapi damai sejahtera.
1 Korintus 14:40 Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur.
Pada saat kita sudah mempersiapkan diri, disitulah Roh kudus bekerja melalui karunia-karunia. Jika ada yang bernubuat dalam suatu pertemuan ibadah maka yang lain harus berdiam diri, kemudian jika ada lagi yang bernubuat, maka orang pertama harus berdiam diri.Orang-orang yang penuh Roh Kudus mempunyai penaklukkan diri yang tinggi. Ketika seseorang bermazmur atau bernyanyi dalam Roh, ia akan mengalir begitu rupa karena bukan lagu yang dikarang manusia yang ia nyanyikan. Ada tanda ketika seseorang sudah selesai dalam menyampaikan ilham yaitu dengan sendirinya ia akan mengatakan “haleluya”. Dihadirat Tuhan kita belajar untuk mengendalikan emosi kita.
By : Pdt. R. F. Martino













