This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Category Archives: KOTBAH

BERANI MENGAKUI KESALAHAN

Amsal 28:13 “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.”

Tidak ada dari kita yang benar, namun kita menjadi orang benar karena kita dibenarkan. Kita yang sudah dibenarkan pasti berusaha untuk hidup benar, hidup sesuai firman-Nya. Sudah berapa lamakah kita menjadi orang percaya? Apakah kita menyukai firman, tidak bisa melewatkan setiap hari tanpa firman, ataukah kita merasa biasa saja hidup setiap hari tanpa membaca firman? Apakah kita beribadah hanya sebatas kewajiban ataukah karena kita rindu bersekutu dengan Tuhan?

Kita harus memahami bahwa fokus hidup kita adalah Yesus, Tujuan hidup kita adalah Yesus, Dialah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Bukan hanya hidup bersama Dia selama di dunia, namun sampai di kekekalan bersama-sama dengan Dia.

Tetapi seringkali ego kita, kedagingan kita berusaha membawa kita keluar dari kebenaran itu. Mengapa kita bisa keluar dari kebenaran? Karena kita telah melakukan kesalahan.

Tidak ada seorangpun yang luput dari kesalahan, bahkan dalam level pemimpin sekali pun kita masih rentan terhadap kesalahan. Orangtua pun tidak selamanya benar. Suami atau istri pun tidak selamanya benar. Yang merasa dirinya selalu benar adalah orang yang takabur.

Kecenderungan seseorang ketika membuat kesalahan, pada umumnya sangat enggan/takut untuk mengakuinya dengan cara:
– Berdalih. Orang yang suka berdalih membahayakan pertumbuhan rohaninya.
– Bersikap seakan-akan dialah yang benar dengan menyerang balik. Bahkan mengungkit kesalahan-kesalahan orang lain. Orang yang tidak mau mengakui kesalahan dan justru menyerang balik adalah pribadi yang tidak sportif.
– Mencari “kambing hitam” atau mencari orang lain untuk dipersalahkan.
– Menganggap masalah/konflik yang terjadi selesai dengan sendirinya. Suami istri yang sempat bertengkar sudah saling berbicara tetapi konfliknya tidak dibereskan. Secara alam roh, kondisi ini menjadi celah bagi iblis untuk menghancurkan hubungan antara suami dan istri tersebut.

Orang yang melakukan semua perbuatan diatas sesungguhnya telah melawan hati nuraninya. Kita tidak boleh meremehkan akibat dari perilaku yang melawan hati nurani kita. Karena Alkitab berkata dalam 1 Timotius 1:19 “Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka”

Jadi, Tidak mengakui kesalahan = tidak jujur (integritasnya terganggu) = menolak hati nuraninya = imannya kandas = gagal, tidak berhasil, terhenti.

IMAN
Berasal dari bahasa Ibrani: “aman” yang artinya:
1. “Berpegang teguh” pada keyakinan yang dimiliki.
2. Berketetapan hati untuk meyakini sesuatu karena sesuatu itu dapat dipercaya dan diandalkan.

Dan dalam bahasa Yunani: “pistis” dari akar kata “peitho” yang artinya: Bersandar dengan kepastian dari dalam, yakin.

HATI NURANI
Dalam arti teologis:
1. Hati nurani adalah suara dari dalam hati kita yang berfungsi memperingatkan kita jika kita melakukan hal yang salah. Hati nurani akan membuat kita merasa bersalah, tidak nyaman, dan gelisah. Namun sebaliknya ia juga akan memberi damai sejahtera jika kita melakukan hal yang benar.

Jika saat kita melakukan kesalahan hati nurani memperingatkan kita, maka kita bersyukur berarti hati nurani kita masih tajam/berfungsi. Namun keputusan selanjutnya ada pada kita: apakah mau menaati suara hati nurani kita ataukah menolaknya.

2. Hati nurani adalah sebuah sarana untuk Roh Kudus berbicara kepada kita manakah jalan yang harus kita tempuh.

3. Sarana yang menuntun kita ke jalan yang benar supaya kita tidak menyimpang ke kanan maupun ke kiri.

4. Hati nurani adalah tempat dimana Allah berbicara kepada kita. Kita mungkin pernah menonton video kesaksian seorang pilot pesawat yang peka dengan suara Tuhan saat Tuhan berbicara di dalam hati nuraninya untuk segera meninggalkan Palu menjelang gempa bumi dan tsunami yang menghantam kota Palu pada 28 September 2018.

5. Hati nurani adalah alat sensor alamiah untuk menyadarkan bahwa kita sudah berbuat salah.

Kalau kita masih memiliki hati nurani maka mengakui kesalahan itu TIDAK SULIT. Mengakui kesalahan itu perbuatan yang MULIA.

Untuk mengakui kesalahan diperlukan KERENDAHAN HATI dan KEBERANIAN.

1. RENDAH HATI
Yesus berkata dalam Matius 11:29 “… belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati…”

Kerendahan hati Yesus tertulis dalam Filipi 2:6-7 “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”

2. BERANI
Berani artinya tidak takut terhadap pendapat orang lain atau terhadap konsekuensi.

Disaat kita mengakui kesalahan kita maka hati kita akan limpah dengan damai sejahtera. Firman Tuhan itu luar biasa jika kita melakukannya dan hidup dalam kebenaran.

Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf merupakan ciri kedewasaan rohani dan kerendahan hati. Oleh karena itu jangan malu meminta maaf kalau memang kita salah dan belajarlah dari kesalahan.

Kalau kita hidup dalam kebenaran, kita tidak perlu repot-repot mengklarifikasi karena kebenaran itu sendiri yang akan mengklarifikasi. Amsal 4:18 “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.”

Orang yang mengakui kesalahan akan memperoleh belas kasihan. Karena itu berjalanlah dengan hati nurani tempat dimana Allah berbicara kepada kita.

By : Pdt. Lea Novitasari, S.Th, Ma

DIDIKAN TUHAN (2)

Ibrani 12:5 “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya”

I. DIDIKAN TUHAN

Alkitab mengajarkan bahwa setiap orang percaya pasti mengalami didikan Tuhan. Karena itu kita perlu menjelaskan pula kepada orang percaya yang baru lahir baru supaya mereka memahami bahwa kehidupan orang percaya tidak hanya mengalami kemudahan-kemudahan, berkat-berkat dari Tuhan, serta doa yang dijawab, namun juga didikan Tuhan. Dengan demikian mereka akan memahami bahwa iman bukan hanya sebatas jawaban doa tetapi ketaatan akan Firman Tuhan.

II. MENGAPA HARUS DIDIKAN?

Ada perbedaan antara “Ajaran” dan “Didikan”. “Ajaran” adalah materi-materi yang diberikan kepada kita dan didalamnya ada petunjuk apa yang harus kita lakukan. Sedangkan “didikan” adalah bentuk nyata secara praktek terhadap materi yang diajarkan, termasuk didalamnya terdapat resiko akibat pelanggaran terhadap materi yang telah diajarkan.

Di dalam “ajaran” sudah ada petunjuk apa yang harus kita lakukan dalam kehidupan kita. Sebagai contoh ketika Allah mengajarkan kita tentang “kesabaran”, kita diajarkan petunjuk-petunjuk untuk menjadi sabar. Ketika Firman itu hadir dalam bentuk realita (hadirnya orang-orang yang menjengkelkan kita), maka kita harus melakukan petunjuk-petunjuk yang telah diajarkan. Roh Kudus akan mengingatkan kita akan Firman yang sudah kita pelajari. Namun ketika kita memutuskan untuk menuruti keinginan daging dan tidak mengikuti petunjuk yang telah Tuhan ajarkan, maka kita akan mengalami hajaran. Hajaran/ganjaran adalah akibat yang akan dialami oleh setiap orang akibat tidak menaati apa yang sudah diajarkan.

Mengapa Tuhan mengajar dan menghajar kita? Karena kita dikasihi dan diterima sebagai anak-Nya.

1 Petrus 4:1 “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, …”

Ayat diatas berkata agar pikiran tersebut harus menjadi senjata dalam pikiran kita. Maka ketika kita menghadapi hajaran dari Tuhan, kita tidak lagi bertanya, “MENGAPA AKU YANG MENGALAMI, TUHAN?” melainkan kita mempersenjatai pikiran kita: “Aku dihajar karena aku dikasihi Tuhan, karena aku adalah anak-Nya”

1 Petrus 4:1b-2 “— karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa —, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.”

Waktu yang sisa dimulai dari waktu kita lahir baru sampai waktu kita dipanggil Tuhan (meninggal). Sebelum lahir baru kita hidup sia-sia. Maka setelah lahir baru sampai dipanggil Tuhan, itu adalah waktu yang tersisa bagi kita untuk melakukan kehendak Allah. Namun banyak dari orang percaya yang masih hidup “semau gue” di dalam waktu yang sisa tersebut, maka Tuhan menghajarnya! Hajaran itu bahkan bisa berbentuk musibah. Tujuannya agar orang tersebut berhenti berbuat dosa. Ada orang yang harus dihajar sampai tidak bisa berbicara karena waktu yang sisa ia pakai untuk menggosip orang, dll.

Jadi mengapa Allah mendidik kita?
1. Karena kita diterima Allah
2. Kita adalah anak yang dikasihi
3. Supaya kita memelihara kekudusan

III. BENTUK DIDIKAN

Bentuk didikan Tuhan meliputi 3 aspek kehidupan kita:
1. Tubuh.
Contohnya pengalaman sakit.

2. Jiwa.
Contohnya mengalami tekanan di jiwa.

3. Roh
Didikan Tuhan hadir berdasarkan tingkat pertumbuhan rohani kita.

Efesus 4:13 “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus,”

Tuhan menghendaki agar kita mencapai kedewasaan penuh.

Efesus 4:14 “sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan,”

Roh kita juga perlu dididik agar kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh angin-angin pengajaran karena iman kita bukan berada di otak kita tetapi di dalam roh kita!

Saat ini tidak mudah untuk membedakan angin-angin pengajaran. Karena saat membuka youtube, banyak pendeta-pendeta yang membawa angin-angin pengajaran:
– Ada pendeta yang tidak mengajarkan Tritunggal, tetapi mengajarkan Dwitunggal dan ada lagi yang mengajarkan Jesus Only.
– Dulu dukun mengajarkan untuk mengusir setan dengan garam. Namun saat ini ada pendeta yang mengajarkan untuk mengusir setan dengan garam. Padahal Alkitab sudah mengajar kita bahwa kita mengusir setan-setan dengan nama Yesus! Markus 16:17 “Tanda-tanda ini akan menyertai orang-orang yang percaya: mereka akan mengusir setan-setan demi nama-Ku, mereka akan berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru bagi mereka,”

1 Korintus 10:13 “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.”

Tuhan tidak membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita. Namun didalam beban pergumulan/realita hidup, kita harus menyadari bahwa ada 2 pribadi yang turut serta yaitu:
1. Tuhan yang mendidik kita
2. Iblis yang memanfaatkan beban tersebut untuk menyerang kita.

Iblis ingin mencobai kita melampaui kekuatan kita. Sadrakh, Mesakh, Abednego adalah contoh dimana iblis mau mencobai mereka melampaui kekuatan mereka yaitu mereka dimasukkan ke dalam dapur api. Namun Tuhan bertanggungjawab untuk melindungi saat kita dicobai diluar kemampuan kita. Tuhan turun tangan dan melindungi Sadrakh, Mesakh dan Abednego dari api.

Disaat kita merasa tak berdaya, segera berserah kepada Tuhan, bukan menyerah kepada peristiwa karena disitulah iblis akan ambil kesempatan.

Disaat kita mengalami jalan buntu, ingatlah: “Jalan buntu bagi manusia pada umumnya adalah keputusasaan. Namun jalan buntu bagi orang percaya adalah kesempatan memperbaiki penyerahan hidup kepada Allah.”

Saat kita dicobai Allah akan memberikan kepada kita jalan keluar sehingga kita dapat menanggungnya. Kalimat “sehingga kamu dapat menanggungnya.” dalam terjemahan lain dikatakan “sehingga kamu CAKAP menanggungnya.” Tuhan menghendaki agar kita cakap menghadapi masalah.

Sehingga akhirnya kita memahami bahwa saat kita mengalami beban pencobaan:
1. Pencobaan itu tidak melampaui kekuatan kita
2. Supaya kita cakap menanggungnya
3. Mendatangkan kebaikan, yaitu ujungnya adalah damai sejahtera

By : Pdt. R. F. Martino

DIDIKAN TUHAN

Filipi 1:29-30 29 Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia, 30 dalam pergumulan yang sama seperti yang dahulu kamu lihat padaku, dan yang sekarang kamu dengar tentang aku.

1 Petrus 4:1-2 1 Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, — karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa —, 2 supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.

Setiap orang yang sudah menjadi percaya tidak hanya dipanggil menjadi orang percaya tetapi juga dikaruniakan kepadanya karunia menderita untuk Tuhan. Petrus mengingatkan, sebagaimana Kristus sudah menderita badani maka kita pun harus mempersenjatai diri dengan pikiran seperti itu. Katena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa. Tidak ada seorang percaya akan luput dari didikan Tuhan. Hal ini adalah mutlak.

Ada pemahaman khusus mengenai kata “ajaran” dan “didikan”. Ajaran lebih menunjuk kepada materi/teori/topik yang diajarkan. Sedangkan didikan adalah teori-teori/topik-topik yang diajarkan menjadi riil dialami seseorang, misalnya sebagai orang tua, ada banyak materi-materi yang kita ajarkan kepada anak-anak, seperti mengajar ia bicara dengan mengenalkan berbagai nama dan bentuk benda disekitarnya. Awalnya orang tua mengajar tentang kata “mama”, “papa”, kemudian mengenal hal-hal yang lain, sehingga anak ini mulai tahu dan dapat membedakan mama dan papanya. Ini baru materi/topik/ajaran yang diajarkan. Selanjutnya ketika orang tua menanyakan kepada anak tersebut “yang mana mama”? Lalu si anak menunjuk papa-nya, maka orang tua akan memberikan petunjuk untuk membantu anak itu sampai dia mengenal mama dan papanya supaya ia tidak salah, itulah didikan.

Ketika kita menjadi orang percaya atau lahir baru, pertama-tama kita dibawa masuk ke dalam pengalaman-pengalaman iman, dimana jawaban-jawaban doa begitu cepat terjawab. Jadi tidak heran diwaktu ini, banyak kesaksian-kesaksian tentang mujizat dalam berbagai macam bentuknya, kesembuhan, Tuhan buka jalan, Tuhan beri pengharapan baru saat putus asa, dll, tetapi kita dipanggil bukan hanya menjadi percaya dan menikmati doa-doa yang sudah terjawab tetapi kita pun dipanggil menderita untuk Kristus.

Untuk memahami ini, orang percaya perlu diajar firman Allah dalam berbagai topik supaya ketika menghadapi berbagai macam realita hidup, maka jawaban sudah ada di dalam ajaran-ajaran tersebut. Ketika realita itu menjadi nyata, maka kita bukan hanya diajar Tuhan tetapi kita dididik Tuhan. Karena didikan itu nyata, hadir dalam bentuk peristiwa. Materi/ajaran bisa kita dengar sambil duduk dengan tenang seperti dalam ibadah, pemuridan dan dimanapun firman diberitakan. Ketika semua topik2/ajaran yang diajarkan hadir dalam kehidupan kita, di situlah Tuhan mendidik kita. Apakah kita hanya mendengar saja atau bisa melakukan sesuai dengan ajaran yang sudah diterima.

Tetapi mengapa ada orang-orang yang tidak berubah setelah menerima firman? Karena orang tersebut hanya sekedar belajar atau sekedar tahu tetapi tidak mau dididik Tuhan. Kita tidak bisa menutup telinga untuk mendengar atau menutup mulut orang lain untuk menilai kita. Orang yang belajar banyak dan tahu banyak tetapi tidak mau dididik Tuhan maka ia akan luput dari didikan Tuhan.

Seharusnya kita bersyukur karena semua yang diajarkan tentang materi-materi firman untuk kehidupan kita, itulah jawaban untuk kita pakai. Ketika yang diajarkan adalah topik setia maka itulah jawaban yang seharusnya kita praktikkan ketika ada realita yang membutuhkan kita untuk setia, itulah didikan Tuhan dan dari sinilah kita akan bertumbuh. Tetapi sebagian umat Tuhan, tidak mau dididik Tuhan. Hal ini tidak sepenuhnya salah umat Tuhan tetapi dapat juga disebabkan oleh pemberitaan firman yang tidak tuntas dalam gereja, karena materi-materi yang disampaikan di mimbar akan mempengaruhi bobot/kualitas orang-orang percaya ketika menjalani didikan Tuhan.

Ada gembala yang hanya mengkhotbahi jemaat tetapi tidak mendidik jemaatnya. Ada kekeliruan dari pihak gereja, ada juga kekeliruan yang terjadi dari pihak orang percaya. Ada oknum-oknum yg tidak mau diajar, walaupun ada juga yang dengan tekun dan setia tetapi tidak mendapat apa pun.

Ketika orang percaya awal mengalami banyak mujizat, ia memahami bahwa apa yang diminta akan diberikan sehingga pengertian iman baru sebatas jawaban doa, tetapi begitu ia mengalami didikan Tuhan yang namanya penderitaan, ia tidak siap karena pemahamannya baru sampai disitu. Penderitaan yang dimaksud adalah penderitaan karena Kristus bukan penderitaan karena dosa. Ketika dihukum karena perbuatan-perbuatan jahat maka kita harus punya rasa malu, tetapi penderitaan karena Kristus, kita tidak perlu merasa malu.

1 Petrus 4:14 Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.

Ada orang-orang yang dengan tekun dan setia justru dibawa ke dalam penderitaan untuk Kristus. Inilah penderitaan yang nilainya mulia. Beda halnya dengan orang yang dihukum karena kejahatan. Tetapi inilah yang tidak dipersiapkan oleh gereja.

Jauh lebih terhormat ketika dihukum karena berbuat benar dibandingkan dihukum karena berbuat jahat. Oleh karena itu dibutuhkan kekuatan ilahi dalam diri kita untuk menjalani hal ini. Karena ini akan membangkitkan kemarahan yang dahsyat dalam diri manusia atau tidak dapat diterima manusia lahiriah karena diri memang benar.

Ibrani 12:5 Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena TUhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.”

Tuhan mengingatkan setiap orang percaya untuk tidak menganggap enteng didikan Tuhan. Ini ditujukan bagi setiap orang yang tidak mau dididik oleh Tuhan. Ketika materi diajarkan, maka belum ada yang namanya ganjaran karena ini baru diajarkan. Ketika sudah masuk dalam proses didikan, ajaran menjadi hajaran. Ini adalah ganjaran yang diterima ketika ajaran tidak dilakukan. Hal ini pernah kita lakukan sebagai orang tua.

Tuhan mendidik setiap orang yang diakuinya sebagai anak. Hal inilah yang perlu dipahami oleh setiap orang percaya dan semua hamba Tuhan. Tidak seorang pun luput, bahwa sesudah kita diajar, kita akan masuk ke dalam praktek sesuai materi yang sudah kita terima. Tuhan menghajar kita untuk kebaikkan kita supaya kita mendapat bagian dalam kekudusan-Nya. Orang–orang yang meluputkan diri dari ganjaran dan hajaran Tuhan adalah orang-orang yang tidak mau dibentuk dan diproses Tuhan untuk masuk dalam kekudusan. Tuhan melakukan ini karena Ia mengasihi kita.

Tiap-tiap ganjaran yang diberikan tidak mendatangkan sukacita melainkan dukacita. Ganjaran dari Tuhan bisa saja terjadi dengan sendirinya tetapi bisa juga karena Tuhan secara khusus menghadirkannya. Sebagai seorang manusia, ganjaran ada macam bentuknya. Tetapi semunya adalah penderitaan badani karena penderitaan ini membuat orang berhenti berbuat dosa. Seluruh eksistensi kehidupan kita dalam berbagai aspek kehidupan, mengalami penderitaan badani. Bisa saja bukan sakit penyakit melainkan sakit hati. Sejauh mana ketahanan roh kita menghadapinya.

Tuhan memberikan firman-Nya supaya Roh Kudus membantu kita memunculkan firman yang sudah kita terima saat harus mempraktekan didikan Tuhan. Karena didikan Tuhan akan sepanjang hidup kita. Hal ini terjadi setiap hari. Tuhan mendidik kita sesuai dengan apa yang sudah kita terima. Oleh karena itu ada tertulis siapa menerima banyak kepadanya akan dituntut lebih banyak.

Menjalani hidup baru adalah berbeda dengan pertobatan. Karena menjalani hidup adalah diproses oleh Tuhan sepanjang umur hidup manusia. Jika setelah lahir baru, namun tidak menjalani hidup barunya maka diragukan pertobatannya. Tujuan lahir baru adalah menjalani kehidupan lahir baru.

Ibrani 12:12,13 Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.
Kitalah yang punya pergumulan dan perjuangan ini sehingga kita harus mau dididik oleh Tuhan supaya kita tidak “terpelecok”. Walaupun pada kenyataannya tidak semua orang mau dididik Tuhan. Karena hasil dari didikan Tuhan adalah sukacita dan berkat yang kita alami dalam kehidupan kita.
By : Pdt. R.F Martino

PEMBAWA DAMAI

Matius 5:9 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.

Roma 14:19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.

Salah satu identitas diri dari umat Tuhan adalah pribadi yang menjadi pembawa damai. Dua minggu berturut-turut kita telah belajar dalam hal memelihara kasih persaudaraan dimana semuanya dimulai dari keluarga tempat dimana kita berada.

Setelah kita membaca Roma 14:19 menjadi pembawa damai ini tidaklah terjadi dengan sendirinya atas setiap orang percaya, bisa saja ia pembawa damai tapi mungkin ia belum punya damai.

Sejauhmana kita dapat memahami arti damai di dalam iman kepada Kristus?
Sebelum kita menjadi orang percaya, kita adalah seteru Allah karena setiap orang sudah berdosa. Kemudian oleh anugerah Allah, kita diperdamaikan oleh darah Yesus, oleh karena Ia mengasihi kita, barulah kita berubah status menjadi anak-anak Allah. Hal ini harus kita pahami terlebih dahulu agar kita bisa mengaplikasikan hidup sebagai pembawa damai. Jika kita belum memahami tentang anugerah Allah, akan sulit kita mengaplikasikan tentang hidup pembawa damai.

Ketika seseorang mempunyai masalah dengan orang lain, berarti hidupnya juga sedang bermasalah dengan perihal kedamaian/perdamaian. Dalam hidupnya ada perselisihan dan ada sesuatu yang belum dibereskan dalam hubungannya dengan sesama.

Pembawa damai berarti bukan pembuat rusuh, bukan pembawa berita bohong, atau bahkan sebagai provokator.

Ibrani 12:14 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.

Jika memiliki masalah dengan sesama rekan atau keluarga dan belum terselaikan, hal ini tidak boleh dianggap remeh. Damai tidak akan terjadi dengan sendirinya sebelum masalah yang menggangu tersebut teratasi. Selama masih ada benih-benih atau hal apa saja bentuknya yang mengganggu damai sejahtera, maka hal itu akan merusak kekudusan.

Kalau pemahaman bahwa damai itu kita sadari adalah karunia, maka kekuatan yang dahsyat itu oleh agape maka akan bekerja, karena kita dipenuhi dengan damai, jadi kita tidak bisa berbicara secara vertikal (hubungan dengan Tuhan) jika hubungan dengan sesama tidak dibereskan.

Apakah secara lahiriah dalam hidup sehari-hari kita disenangi oleh orang-orang yang ada di sekitar kita? Atau sebaliknya kita dikenal orang yang selalu membawa hal-hal yang tidak baik?

Roma 14:19 Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.

Hal inipun tidak terjadi dengan sendirinya, pribadi kita dulu yang harus tuntas dengan Tuhan, karena begitu kita berdamai dengan Allah, status berubah sebagai anak Tuhan, gaya yang paling nampak adalah menjadi pembawa damai.

Ada nilai-nilai Ilahi yang ada pada diri kita karena itu sudah kita terima dari Allah, sehingga dimanapun kita berada, kita dapat diterima. Kita bukan hanya berdamai dengan orang tersebut, tapi kita juga bisa jadi berkat untuk orang lain yang mempunyai masalah yang sama.

Dalam menjadi pembawa damai kita tidak bisa memakai cara dan kekuatan sendiri atau cara diplomasi dunia. Meskipun maksud baik tapi cara salah, maka akan menghasilkan hasil yang salah.

Keterbukaan adalah awal pemulihan
Sikap terbuka dibutuhkan dalam setiap penyelesaian masalah. Tapi tidak semua orang siap terbuka dan tidak semua orang siap untuk mendengar dan menerima keterbukaan.

Setiap masalah tidak bisa dianggap bahwa akan selesai dengan sendirinya. Segala sesuatu harus diselesaikan denagn baik. Ada satu kata yang yang diucapkan untuk sebuah penyelesaian masalah, yaitu: MAAF. Tidak ada pengampunan yang terjadi secara otomatis tanpa pengakuan

Siapa yang harus memulai untuk mengatakan “MAAF”? Hal ini tidak semudah yangdibayangkan, dibutuhkan kerendahan hati untuk memulai mengatakannya.

Roma 12:18 Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!
Jika sesuatu yang tidak dibereskan dan tidak ada keterbukaan, maka hal itu akan menjadi sesuatu yang bergejolak di hati, karena kedua pihak saling berpikir negatif. Ketika hal itu dibiarkan maka hal ini bisa menjadi kepahitan dalam hati.

Kekuatan pembawa damai terletak bagaimana ia telah memahami bagaimana dirinya dan juga sebagai orang berdosa yang telah diampuni dan ditebus serta telah didamaikan dan menjadi status sebagai anak Tuhan.

Yakobus 3:17 Tetapi hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik.

Tuhan akan memberikan kita hikmat agar kita bisa bijak dalam membimbing orang untuk berdamai. Kita tidak boleh mendengar secara sepihak, harus kita dengar dari kedua belah pihak.

I Petrus 3:10-11 10 Siapa yang mau mencintai hidup dan mau melihat hari-hari baik, ia harus menjaga lidahnya terhadap yang jahat dan bibirnya terhadap ucapan-ucapan yang menipu. 11 Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.

Pembawa damai akan ada masa depan yang baik
Mazmur 37:37-38 37 Perhatikanlah orang yang tulus dan lihatlah kepada orang yang jujur, sebab pada orang yang suka damai akan ada masa depan; 38 tetapi pendurhaka-pendurhaka akan dibinasakan bersama-sama, dan masa depan orang-orang fasik akan dilenyapkan.

Jadi pembawa damai ada hubungannya dengan masa depan. Ada hubungan dengan hari yang baik. Ini merupakan hidup yang diberkati Tuhan dan menjadi berkat bagi siapaun.

By : Pdt. R.F. Martino

PELIHARALAH KASIH PERSAUDARAAN (2)

Ibrani 13:1 “Peliharalah kasih persaudaraan!”

Setiap orang percaya lahir dari benih Agape dan setiap orang percaya harus mempraktekkan Agape. Namun kita tidak mungkin bisa mempraktekkan Agape jika kasih persaudaraan (filia) saja tidak bisa kita lakukan.

A. PERSATUAN DAN KESATUAN
Persatuan dan kesatuan adalah pola Allah.

1. Kejadian 1:26 “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” ”

Kata “Kita” pada ayat diatas bermakna bahwa Allah kita adalah Allah Tritunggal yaitu Bapa, Putra, Roh Kudus. Jadi persatuan dan kesatuan adalah pola Allah.

Namun kita perlu berhati-hati karena di akhir zaman ini muncul angin-angin pengajaran yang mau menggoyahkan doktrin Tritunggal, yaitu pengajaran “Jesus Only” dan pengajaran Dwi Tunggal. Karena itu penting bagi kita untuk mengikuti pemuridan.

2. Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan kemudian mempersatukan mereka sehingga keduanya menjadi satu daging dan menghasilkan keturunan.

3. Doa didalam kesatuan bukan hanya didengar tetapi dikabulkan Tuhan.
Matius 18:19 “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.”

4. Tuhan hadir di tengah-tengah umat-Nya yang berada dalam kesatuan.
Matius 18:20 “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

5. Kesatuan dapat menghasilkan sesuatu yang sangat besar. Saat manusia masih satu bahasa, mereka mendirikan menara Babel yang tingginya sampai ke langit. Ini luar biasa. Namun Tuhan mengacaukan bahasa mereka.

Iblis tidak takut saat orang percaya banyak berdoa dan berpuasa. Iblis takut jika gereja bersatu. Iblis memahami dengan baik seperti peristiwa menara babel, bahwa jika komunikasi terganggu maka kesatuan tidak mungkin terjadi. Maka iblis pun berusaha menghancurkan komunikasi agar tidak terjadi kesatuan.

Matius 5:23-24 “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”

Ayat diatas mengajarkan bahwa penyelesaian konflik lebih baik daripada melayani. Namun banyak jemaat yang bisa tenang-tenang beribadah padahal sedang berkonflik dengan sesamanya. Begitupun pelayan Tuhan yang bisa tenang-tenang melayani padahal sedang bermasalah dengan orang lain. Bahkan ada hamba Tuhan yang didisiplinkan dari pelayanan oleh organisasi gereja supaya ia dapat menyelesaikan konflik, namun ia justru mencari pelayanan diluar gerejanya.

Matius 5:25-26 “Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”

Ayat diatas mengingatkan kita bahwa penyelesaian konflik bisa saja diselesaikan secara hukum, dan ini tidak berdosa.

B. CARA MEMBANGUN KESATUAN

1. Memahami Siapa Kita/identitas kita.

Kita adalah saudara di dalam Tuhan karena memiliki satu Bapa yaitu Allah Bapa.
Maleakhi 2:10 “Bukankah kita sekalian mempunyai satu bapa? Bukankah satu Allah menciptakan kita? Lalu mengapa kita berkhianat satu sama lain dan dengan demikian menajiskan perjanjian nenek moyang kita?”

Jika kita tidak memahami hal ini maka kita akan mudah menghakimi orang lain.
Matius 7:1-5 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Ayat diatas mengajarkan bahwa kita tidak usah mengurus kekurangan/urusan orang lain, karena itu urusannya sendiri. Banyak orang yang hanya pandai melihat kekurangan orang lain (melihat selumbar di mata saudaranya) tetapi tidak pandai melihat kekurangan dirinya sendiri (balok di matanya sendiri). Karena itu orang ini akan suka mengoreksi orang lain namun ia tidak mengoreksi diri sendiri. Uruslah kekurangan diri kita sendiri.

2. Saling mengasihi

Roma 12:9-10 “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”

Dalam ayat diatas kita diajari nilai-nilai etis. Untuk itu jangan jadi orang yang vertikalis (kelihatannya sangat rohani tetapi mengabaikan nilai-nilai etis dengan sesama). Camkanlah: jangan sampai nilai-nilai rohani menjadi alasan untuk tidak memiliki nilai-nilai etis. Mengapa? Karena sesungguhnya nilai-nilai ilahi yang kita terima bertujuan supaya kita memiliki sifat-sifat ilahi dan dipraktekkan di alam nyata sebagai nilai-nilai etis.

Pura-pura mengasihi itu mudah dilakukan sehingga banyak orang yang melakukannya. Padahal Tuhan memperingatkan kita melalui ayat diatas agar jangan mengaishi hanya untuk diperagakan.

3. Perlu selalu introspeksi diri. Jangan menganggap diri terlalu berarti.
Galatia 6:3-4 “Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.”

4. Kita perlu menyenangkan semua orang tanpa kompromi dengan dosa.
Jangan menyenangkan sesama karena ada udang dibalik batu/ada maunya. Kita harus mengasihi tanpa ada keinginan terselubung.
1 Korintus 10:32 “Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah.”

5. Memikirkan kepentingan orang lain.
Filipi 2:3-4 “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”

By : Pdt. R. F. Martino

PELIHARALAH KASIH PERSAUDARAAN

Ibrani 13:1 “Peliharalah kasih persaudaraan!”

Efesus 2:19 “Demikianlah kamu bukan lagi orang asing dan pendatang, melainkan kawan sewarga dari orang-orang kudus dan anggota-anggota keluarga Allah”

Orang-orang percaya yang sudah diselamatkan hidup di dalam 1 Rumah Besar yaitu Ekklesia/Jemaat Allah bukan sebagai orang asing tetapi sebagai anggota-anggota keluarga Allah. Ketika anggota-anggota keluarga Allah ini berkumpul bersama maka harus ada gaya hidup sebagai keluarga.

1 Timotius 3:15 “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.”

Dalam kehidupan sehari-hari setiap orang sudah mengetahui bagaimana hidup sebagai keluarga. Dalam keluarga tidak hanya ada kasih, tetapi juga ada peraturan dimana setiap anggota tidak boleh melanggarnya. Ada keluarga yang harus makan bersama, tetapi ada keluarga yang boleh makan masing-masing. Ada keluarga yang jam 10 malam pintu rumah sudah ditutup, namun ada keluarga yang membawa kunci rumah masing-masing.

Kasih persaudaraan tidak berat untuk dilakukan. Mengapa? Karena kasih persaudaraan tidak seberat kasih Agape untuk dilakukan. Kasih persaudaraan sering saya istilahkan “panada dibalas onde-onde”, dan tidak bisa dipisahkan dengan persekutuan, kesatuan, fellowship. Arti fellowship bukan sekedar kumpul-kumpul dan makan-makan. Arti fellowship sesungguhnya adalah seperti anyaman tikar yang akhirnya tidak terlihat lagi masing-masing bagiannya namun yang terlihat adalah satu kesatuan sebuah tikar. Bahkan seorang Hamba Tuhan pernah berkata bahwa “Fellowship lebih penting dari pelayanan dan ber-PI”. Mengapa? Karena jiwa-jiwa yang dimenangkan dari ber-PI, saat ia bergabung didalam gereja, jika tidak ada fellowship/kasih persaudaraan disana, maka ia akan kecewa dan hasil PI itu menjadi tidak ada artinya.

Tuhan memerintahkan: “Peliharalah kasih persaudaraan”. Karena itu diantara anggota jangan ada penyalahgunaan kasih.

Kita juga perlu memahami mengenai manajemen konflik:

(1) Apabila ada suami dan istri yang bertengkar, itu adalah pergumulan pribadi/rahasia pribadi dari keluarga itu. Tidak perlu mengumbar kesalahan/kejelekan suami/istri sendiri di mimbar gereja. Karena ada beberapa istri yang suka bersaksi menceritakan keburukan suaminya. Demikian juga ada beberapa suami yang bersaksi menjelekkan istrinya. Ini tidak seharusnya dilakukan. Mengapa? Saat pasangannya akhirnya bertobat dan datang beribadah, maka jemaat akan mengetahui pribadi orang yang sebelumnya pernah dijelekkan di mimbar oleh suami/istrinya.

Galatia 6:1 “Saudara-saudara, kalaupun seorang kedapatan melakukan suatu pelanggaran, maka kamu yang rohani, harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh lemah lembut, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan.”

(2) Konflik didalam sesama anggota jemaat adalah hal biasa/lumrah – namun bukan berarti boleh dibiasakan. Apa kata Firman Tuhan mengenai konflik di dalam sesama anggota keluarga Allah?

1 Korintus 6:1-5 “Apakah ada seorang di antara kamu, yang jika berselisih dengan orang lain, berani mencari keadilan pada orang-orang yang tidak benar, dan bukan pada orang-orang kudus? Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia? Dan jika penghakiman dunia berada dalam tangan kamu, tidakkah kamu sanggup untuk mengurus perkara-perkara yang tidak berarti? Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat? Jadi apalagi perkara-perkara biasa dalam hidup kita sehari-hari. Sekalipun demikian, jika kamu harus mengurus perkara-perkara biasa, kamu menyerahkan urusan itu kepada mereka yang tidak berarti dalam jemaat? Hal ini kukatakan untuk memalukan kamu. Tidak adakah seorang di antara kamu yang berhikmat, yang dapat mengurus perkara-perkara dari saudara-saudaranya?”

Gereja Tuhan harus punya kemahiran dalam menyelesaikan konflik diantara anggota jemaat, namun tidak menutup kemungkinan boleh saja berperkara melalui jalur hukum, karena berperkara melalui jalur hukum merupakan hak kita sebagai warga negara.

1 Korintus 6:6-7 “Adakah saudara yang satu mencari keadilan terhadap saudara yang lain, dan justru pada orang-orang yang tidak percaya? Adanya saja perkara di antara kamu yang seorang terhadap yang lain telah merupakan kekalahan bagi kamu. Mengapa kamu tidak lebih suka menderita ketidakadilan? Mengapakah kamu tidak lebih suka dirugikan?”

Saat sesama orang percaya berselisih, dua-duanya sudah kalah, karena sama-sama adalah saudara dalam Tuhan dan sesama anggota keluarga Allah. Seharusnya konflik itu bisa diselesaikan dengan Firman yaitu setiap pribadi harus menanggalkan kebenaran diri sendiri dan melakukan introspeksi diri. Masalahnya banyak orang yang merasa dirinya rohani justru makin sulit menyelesaikan konflik. Ia berdalih bahwa ia tidak bersalah. Orang rohani yang memiliki banyak prestasi rohani ini berusaha menutupi segala kesalahannya dengan jubah pelayanannya. Padahal perilakunya sehari-hari telah menelanjangi dirinya.

1 Korintus 6:8-10 “Tetapi kamu sendiri melakukan ketidakadilan dan kamu sendiri mendatangkan kerugian, dan hal itu kamu buat terhadap saudara-saudaramu. Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, banci, orang pemburit, pencuri, orang kikir, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.”

Persoalan lainnya adalah orang-orang rohani di gereja yang biasanya menjadi tempat curhatan/konseling orang lain, justru bocor mulut! Maka saya menasihati agar tidak konseling kepada orang lain selain Tim Penggembalaan.

Roma 12:9-10 “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”

Kasih yang tidak berpura-pura berbicara tentang integritas/kejujuran. Sebagai contoh: apabila ada kasus perselisihan, maka masalah ini dapat mudah diselesaikan bila ada kejujuran.

Dalam penyelesaian konflik kita harus memahami:
1. Ada bagiannya kita.
Gereja dan orang percaya harus menyelesaikan persoalan secara rohani.
2. Ada bagiannya hukum.
Namun bila tidak dapat dilakukan penyelesaian secara rohani, maka boleh diselesaikan secara hukum.
3. Ada bagiannya Tuhan.

Tetapi jika kita tidak mau menyelesaikan persoalan itu secara hukum dan menyerahkannya ke tangan Tuhan, karena kita tahu bahwa ada bagiannya Tuhan sebab ada tertulis: “Pembalasan adalah hak-Ku”, firman Tuhan. Pembalasan dari Tuhan memang tidak langsung terjadi, namun saat Tuhan turun tangan dan melakukan pembalasan, maka justru terkadang kitalah yang tidak sampai hati terhadap apa yang menimpa orang tersebut. Namun itulah yang terjadi saat Tuhan melakukan bagian-Nya melakukan pembalasan.

By : Pdt. R. F. Martino