This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

BERANI MENGAKUI KESALAHAN

Amsal 28:13 “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.”

Tidak ada dari kita yang benar, namun kita menjadi orang benar karena kita dibenarkan. Kita yang sudah dibenarkan pasti berusaha untuk hidup benar, hidup sesuai firman-Nya. Sudah berapa lamakah kita menjadi orang percaya? Apakah kita menyukai firman, tidak bisa melewatkan setiap hari tanpa firman, ataukah kita merasa biasa saja hidup setiap hari tanpa membaca firman? Apakah kita beribadah hanya sebatas kewajiban ataukah karena kita rindu bersekutu dengan Tuhan?

Kita harus memahami bahwa fokus hidup kita adalah Yesus, Tujuan hidup kita adalah Yesus, Dialah Jalan dan Kebenaran dan Hidup. Bukan hanya hidup bersama Dia selama di dunia, namun sampai di kekekalan bersama-sama dengan Dia.

Tetapi seringkali ego kita, kedagingan kita berusaha membawa kita keluar dari kebenaran itu. Mengapa kita bisa keluar dari kebenaran? Karena kita telah melakukan kesalahan.

Tidak ada seorangpun yang luput dari kesalahan, bahkan dalam level pemimpin sekali pun kita masih rentan terhadap kesalahan. Orangtua pun tidak selamanya benar. Suami atau istri pun tidak selamanya benar. Yang merasa dirinya selalu benar adalah orang yang takabur.

Kecenderungan seseorang ketika membuat kesalahan, pada umumnya sangat enggan/takut untuk mengakuinya dengan cara:
– Berdalih. Orang yang suka berdalih membahayakan pertumbuhan rohaninya.
– Bersikap seakan-akan dialah yang benar dengan menyerang balik. Bahkan mengungkit kesalahan-kesalahan orang lain. Orang yang tidak mau mengakui kesalahan dan justru menyerang balik adalah pribadi yang tidak sportif.
– Mencari “kambing hitam” atau mencari orang lain untuk dipersalahkan.
– Menganggap masalah/konflik yang terjadi selesai dengan sendirinya. Suami istri yang sempat bertengkar sudah saling berbicara tetapi konfliknya tidak dibereskan. Secara alam roh, kondisi ini menjadi celah bagi iblis untuk menghancurkan hubungan antara suami dan istri tersebut.

Orang yang melakukan semua perbuatan diatas sesungguhnya telah melawan hati nuraninya. Kita tidak boleh meremehkan akibat dari perilaku yang melawan hati nurani kita. Karena Alkitab berkata dalam 1 Timotius 1:19 “Beberapa orang telah menolak hati nuraninya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka”

Jadi, Tidak mengakui kesalahan = tidak jujur (integritasnya terganggu) = menolak hati nuraninya = imannya kandas = gagal, tidak berhasil, terhenti.

IMAN
Berasal dari bahasa Ibrani: “aman” yang artinya:
1. “Berpegang teguh” pada keyakinan yang dimiliki.
2. Berketetapan hati untuk meyakini sesuatu karena sesuatu itu dapat dipercaya dan diandalkan.

Dan dalam bahasa Yunani: “pistis” dari akar kata “peitho” yang artinya: Bersandar dengan kepastian dari dalam, yakin.

HATI NURANI
Dalam arti teologis:
1. Hati nurani adalah suara dari dalam hati kita yang berfungsi memperingatkan kita jika kita melakukan hal yang salah. Hati nurani akan membuat kita merasa bersalah, tidak nyaman, dan gelisah. Namun sebaliknya ia juga akan memberi damai sejahtera jika kita melakukan hal yang benar.

Jika saat kita melakukan kesalahan hati nurani memperingatkan kita, maka kita bersyukur berarti hati nurani kita masih tajam/berfungsi. Namun keputusan selanjutnya ada pada kita: apakah mau menaati suara hati nurani kita ataukah menolaknya.

2. Hati nurani adalah sebuah sarana untuk Roh Kudus berbicara kepada kita manakah jalan yang harus kita tempuh.

3. Sarana yang menuntun kita ke jalan yang benar supaya kita tidak menyimpang ke kanan maupun ke kiri.

4. Hati nurani adalah tempat dimana Allah berbicara kepada kita. Kita mungkin pernah menonton video kesaksian seorang pilot pesawat yang peka dengan suara Tuhan saat Tuhan berbicara di dalam hati nuraninya untuk segera meninggalkan Palu menjelang gempa bumi dan tsunami yang menghantam kota Palu pada 28 September 2018.

5. Hati nurani adalah alat sensor alamiah untuk menyadarkan bahwa kita sudah berbuat salah.

Kalau kita masih memiliki hati nurani maka mengakui kesalahan itu TIDAK SULIT. Mengakui kesalahan itu perbuatan yang MULIA.

Untuk mengakui kesalahan diperlukan KERENDAHAN HATI dan KEBERANIAN.

1. RENDAH HATI
Yesus berkata dalam Matius 11:29 “… belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati…”

Kerendahan hati Yesus tertulis dalam Filipi 2:6-7 “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”

2. BERANI
Berani artinya tidak takut terhadap pendapat orang lain atau terhadap konsekuensi.

Disaat kita mengakui kesalahan kita maka hati kita akan limpah dengan damai sejahtera. Firman Tuhan itu luar biasa jika kita melakukannya dan hidup dalam kebenaran.

Berani mengakui kesalahan dan meminta maaf merupakan ciri kedewasaan rohani dan kerendahan hati. Oleh karena itu jangan malu meminta maaf kalau memang kita salah dan belajarlah dari kesalahan.

Kalau kita hidup dalam kebenaran, kita tidak perlu repot-repot mengklarifikasi karena kebenaran itu sendiri yang akan mengklarifikasi. Amsal 4:18 “Tetapi jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian bertambah terang sampai rembang tengah hari.”

Orang yang mengakui kesalahan akan memperoleh belas kasihan. Karena itu berjalanlah dengan hati nurani tempat dimana Allah berbicara kepada kita.

By : Pdt. Lea Novitasari, S.Th, Ma