This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Category Archives: KOTBAH

MEMBENTUK MENTALITAS YANG TERUJI DAN TERPUJI DENGAN IMAN

GppsPalu -Lukas 22:31-34 “ Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Jawab Petrus:””Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” Tetapi Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”

Matius 26:31-35 “Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.” Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Kata Petrus kepada-Nya: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Semua murid yang lain pun berkata demikian juga.”

I. PENYEBAB MENTALITAS DAN IMAN TIDAK SEIMBANG
Mentalitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah karakter, personalitas, sifat, watak, dan yang terkait dengan itu.
Realita yang terjadi saat ini adalah tidak ada keseimbangan kekuatan mentalitas dan iman dalam kehidupan orang percaya. Fakta yang terjadi saat ini adalah orang-orang dunia membentuk mentalitasnya secara filosofi-filosofi dunia ternyata mempunyai mentalitas yang teruji dan terpuji dari orang yang beriman. Seharusnya hal ini tidak boleh terjadi. Kenyataan ini sangat memprihatinkan jika mentalitas seorang percaya tidak dibangun dengan iman di dalam Kristus, maka ini sangat berbahaya.
Saat ini banyak motivator yang memberikan seminar untuk pembentukan mentalitas tingkat salesman/marketing, tingkat manager, dan tingkat direktur/owner. Motivator tersebut akan berbicara dengan latar belakang imannya, atau supaya bisa diterima oleh semua kalangan maka ajaran dari semua agama dikumpulkan, kemudian diracik dan dibagikan kepada peserta seminar. Dan kita lihat bahwa ternyata hasilnya baik. Banyak orang yang diubah mindset-nya sehingga ia menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan menjadi tahu bagaimana mengatur atau me-manage usahanya.
Setiap kali kita membaca Akitab, jangan berpikir bahwa kita hanya sekedar membaca ayat, karena Firman Allah itu hidup dan berkuasa. Apa maksudnya? Firman Allah itu hidup berarti Firman Allah itu hadir dalam bentuk peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari. Namun sayang sekali, saat Firman itu hadir dalam realita hidup, banyak orang percaya yang imannya siap namun mentalitasnya hancur. Mengapa dikatakan imannya siap tetapi mentalitasnya hancur? Karena orang percaya tersebut berdoa dan berpuasa tetapi tak ada hasilnya, dan ia kecewa karena Tuhan tidak bertindak apa-apa meskipun ia sudah berdoa dan berpuasa.
Firman Allah hidup berarti Firman bukan hanya sekedar kata-kata. Saat Yesus berkata bahwa iblis meminta untuk menampi Simon seperti gandum, Simon hanya berpikir bahwa perkataan Yesus hanyalah sebatas kata-kata. Namun saat perkataan Yesus hadir dalam bentuk realita, ternyata Simon tidak siap.
Yesus berkata, “Kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku”. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa semua realita hidup punya kemampuan untuk menggoncang iman. Tidak tunggu sampai realita besar, namun realita sekecil apapun sudah bisa menggoyahkan iman. Itulah sebabnya terkadang kita menemukan ada orang yang meninggalkan iman hanya karena hal-hal kecil.
Kualitas diri kita saat kita berada di kamar doa harus sama dengan kualitas diri kita saat kita berada di dalam hidup sehari-hari. Kualitas diri kita saat kita berpuasa harusnya sama dengan kualitas diri kita saat kita berbuka puasa. Mengapa tidak sama? Karena kita tidak menggunakan iman kita untuk membentuk mentalitas kita.

II. CARA MEMBENTUK MENTALITAS YANG TERUJI DAN TERPUJI
Filipi 2:5-6 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.”

Dalam ayat diatas kita belajar dari Yesus Kristus yang tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah. Filipi 2:7 “melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”

Yesus mengosongkan diri-Nya. “Mengosongkan” beda dengan “kosong”. “Kosong” berarti memang tidak ada apa-apa, sedangkan “mengosongkan” berarti ada banyak isinya tetapi dikeluarkan. Apa yang Yesus teladankan ini adalah jawaban dari semua argumen yang selama ini kita lakukan.

Kita bisa merasa senang maupun kesal secara manusia. Yesus pun merasakan demikian sebagai manusia. Namun seperti Yesus, kita harus punya kemampuan untuk mengosongkan diri. Mentalitas harus takluk kepada iman kita sesuai Firman.
Saat Yesus memperingati Simon, Simon tidak menangkap peringatan Tuhan tersebut dengan iman, tetapi dia menangkapnya dengan unsur jiwaninya sehingga ia tersinggung. Umumnya orang yang rohani paling tidak suka disinggung/ “dikorek” rohaninya, berbeda dengan orang yang tidak rohani, umumnya mudah mengakui dosa mereka. Simon yang tersinggung berkata, “Sekalipun murid yang lain tergoncang imannya, aku tidak, dan aku rela mati bersama Engkau.” Tetapi akhirnya, saat Firman Allah hadir dalam bentuk realita hidup yang terjadi dalam kehidupan Simon Petrus, imannya gugur.
Yesus sebenarnya sudah berdoa supaya iman Simon tidak gugur, tetapi mengapa akhirnya iman Simon gugur dan ia menyangkal Yesus? Kita harus memahami bahwa ada bagiannya Tuhan, ada bagiannya kita. Karena itu saat Firman Allah kita baca/dengar, seharusnya yang menangkapnya adalah iman kita sehingga iman kita bisa melakukan Firman tersebut. Dan jangan hanya sekedar memiliki pengalaman hidup tetapi milikilah pengalaman iman sehingga pengalaman itu akan menolong kita untuk memiliki mentalitas yang teruji dan terpuji karena kita melakukan Firman. Dan bukan hanya itu, kita menjadi pribadi yang kokoh karena iman telah membentuk karakter/mentalitas kita.
Filipi 2:8 “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Yesus taat sampai mati di kayu salib. Inilah mentalitas yang teruji dan terpuji. Kuncinya adalah TAAT! Ketaatan kepada apa kata Firman adalah ciri mentalitas yang teruji dan terpuji. Sampai kapan kita taat? Sampai kita mati. Yesus taat sampai mati di kayu salib. Maka seberat apapun tantangan kita akan tetap setia.

III. KUNCINYA ADALAH KETAATAN
Setelah Yesus berkata bahwa iman Petrus akan tergoncang, harusnya Petrus menangkap hal itu dan saat Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus untuk berdoa, harusnya Petrus menangkap bahwa ada peristiwa besar yang akan menimpa dirinya, maka seharusnya ia berdoa tetapi ia malah tertidur.
Di Getsemani Yesus merasakan kesedihan yang besar, tekanan dan depresi yang dalam sehingga Ia merasa seperti mau mati. Maka Yesus berdoa. Namun berdoa yang bagaimana? Yesus berdoa sampai pembuluh darah-Nya pecah sehingga keluar darah. Mengapa itu bisa terjadi? Karena pengaruh dari tekanan ini terhadap fisik dan psikis Yesus sebagai manusia.
Dari peristiwa Getsemani kita memahami bagaimana mentalitas Yesus. Yesus sempat meminta agar cawan penderitaan itu lalu daripada-Nya, tetapi kemudian Ia berkata, “bukan kehendak-Ku tetapi kehendak-Mu yang jadi”.
Banyak hal-hal dalam hidup kita yang terjadi, secara manusia kita tidak rela menerimanya. Karena itu kita harus membentuk mentalitas kita agar tidak terpuruk, tidak kecewa kepada Tuhan, dan tetap teguh dan tak tergoyahkan dengan 1 kata kunci, KETAATAN. Dan seperti Yesus kita pun berkata, “Bukan kehendakku yang jadi tetapi kehendak-Mu.”

Orang tidak melihat saudara berdoa dan berpuasa, tetapi orang melihat kehidupan saudara setiap hari dalam kehidupan real. Karena itu bentuklah mentalitas kita sehingga orang-orang memuliakan Tuhan.

Filipi 2:9-11 “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Realita hidup dalam tahun ini jangan membuat kita menjadi lemah. Jangan membiarkan diri kita dipermain-mainkan oleh realita dan persoalan hidup. Setiap masalah harus tuntas. Iman kita harus bekerja dalam kehidupan nyata bukan hanya di dalam kamar doa.

Pdt. R. F. Martino

SIKAP YANG BIJAK BERHADAPAN DENGAN KEDAULATAN TUHAN

Roma 9:20 “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?”.”

II Samuel 12:13-24 “13Lalu berkatalah Daud kepada Natan: “Aku sudah berdosa kepada TUHAN.” Dan Natan berkata kepada Daud: “TUHAN telah menjauhkan dosamu itu: engkau tidak akan mati. 14Walaupun demikian, karena engkau dengan perbuatan ini telah sangat menista TUHAN, pastilah anak yang lahir bagimu itu akan mati.” 15Kemudian pergilah Natan ke rumahnya. Dan TUHAN menulahi anak yang dilahirkan bekas isteri Uria bagi Daud, sehingga sakit. 16Lalu Daud memohon kepada Allah oleh karena anak itu, ia berpuasa dengan tekun dan apabila ia masuk ke dalam, semalam-malaman itu ia berbaring di tanah. 17Maka datanglah kepadanya para tua-tua yang di rumahnya untuk meminta ia bangun dari lantai, tetapi ia tidak mau; juga ia tidak makan bersama-sama dengan mereka. 18Pada hari yang ketujuh matilah anak itu. Dan pegawai-pegawai Daud takut memberitahukan kepadanya, bahwa anak itu sudah mati. Sebab mereka berkata: “Ketika anak itu masih hidup, kita telah berbicara kepadanya, tetapi ia tidak menghiraukan perkataan kita. Bagaimana kita dapat mengatakan kepadanya: anak itu sudah mati? Jangan-jangan ia mencelakakan diri!” 19Ketika Daud melihat, bahwa pegawai-pegawainya berbisik-bisik, mengertilah ia, bahwa anak itu sudah mati. Lalu Daud bertanya kepada pegawai-pegawainya: “Sudah matikah anak itu?” Jawab mereka: “Sudah.” 20Lalu Daud bangun dari lantai, ia mandi dan berurap dan bertukar pakaian; ia masuk ke dalam rumah TUHAN dan sujud menyembah. Sesudah itu pulanglah ia ke rumahnya, dan atas permintaannya dihidangkan kepadanya roti, lalu ia makan. 21Berkatalah pegawai-pegawainya kepadanya: “Apakah artinya hal yang kauperbuat ini? Oleh karena anak yang masih hidup itu, engkau berpuasa dan menangis, tetapi sesudah anak itu mati, engkau bangun dan makan!” 22Jawabnya: “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup. 23Tetapi sekarang ia sudah mati, mengapa aku harus berpuasa? Dapatkah aku mengembalikannya lagi? Aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku.” 24Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia, dan perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. TUHAN mengasihi anak ini.”

Pendahuluan
Kita sudah belajar memahami tentang suatu kebenaran bahwa ketika kita berhadapan dengan kehendak Tuhan itu berarti kita berhadapan dengan kedaulatan Tuhan.
Kita bersyukur diberikan kesempatan oleh Tuhan menjalani tahun 2016 yang sebentar lagi akan berakhir.
Sebagai manusia lahiriah yang sekaligus juga sebagai orang percaya, tentulah dalam semua pergumulan hidup yang dihadapi, bagi sebagian orang merupakan pengalaman hidup dan bagi sebagian orang lagi merupakan pengalaman iman, tergantung sikap dari orang tersebut dalam menghadapinya.
Adakalanya dalam menghadapi suatu masalah, sebagian orang tidak mau disibukkan dan tidak mau tertekan dengan dampak masalah yang dihadapinya, sehingga orang tersebut mencari akar penyebabnya. Tetapi yang perlu diingat adalah bahwa sekalipun kita menemukan akar penyebabnya, bukan berarti tidak ada akibat dari masalah tersebut.
Dampak dari akibat tersebut adalah penyesalan dari segala yang telah terjadi. Dampak dari masalah tersebut tidak akan merubah akibat yang menimpa, ini berarti dibutuhkan suatu sikap yang bijak dari akibat penyebab masalah tersebut, supaya kita tetap berdiri teguh.

Hukum sebab akibat adalah mutlak (alamiah)
Ada banyak orang yang dalam penyesalannya tidak dapat memahami apa ketetapan Alkitab dan tahapan-tahapan apa yang harus dia jalani supaya ia tetap tegak berdiri. Sangat disayangkan hal ini tidak ditanamkan dalam jemaat. Umumnya orang percaya mempunyai filosofi bahwa apabila kita sudah mengaku dosa kita, maka Tuhan yang setia akan mengampuni kita. Pemahaman tentang pengampunan ini, seolah-olah jika kita sudah minta ampun maka kita diampuni dan sudah tidak ada akibat dari dosa tersebut. Padahal kita tahu bahwa segala sesuatu yang terikat dengan hukum alamiah akan terjadi dengan sendirinya.
Sebagai contoh dalam suatu percakapan tentang kejatuhan Adam dan Hawa. Semua tahu bahwa Adam dam Hawa jatuh dalam dosa, seharusnya Tuhan yang sudah tahu bahwa mereka akan jatuh dalam dosa, tidak usah Tuhan menciptakan pohon yang dilarang itu. Ini menjadi pertanyaan umum yang dianggap ringan dan sebagian orang tidak bisa menjawabnya yang kemudian menyalahkan Tuhan.
Contoh lainnya: di sebuah negera terjadi kerusuhan besar dan banyak perempuan yang diperkosa. Perempuan-perempuan yang diperkosa itu hamil dan melahirkan. Ada yang tabah tapi ada sebagian juga yang tidak. Ada pembahasan seperti ini: “Kalau Tuhan itu baik dan melindungi anak-anak-Nya, seharusnya perempuan-perempuan itu tidak perlu hamil karena akan merusak masa depan mereka, cukuplah mereka menjadi korban kekerasan pemerkosaan.” Bagaimana kita merenungkan pernyataan ini? Sebetulnya sederhana, hal alamiahnya adalah ketika sel telur dan sel sperma bertemu maka akan terjadi pembuahan. Hukum sebab akibat adalah mutlak, ada sebab ada akibat, hal ini sudah alamiah. Anehnya sebagian orang percaya bersikap konyol dan tidak punya sikap yang bijak dalam memahami hal ini.
Dalam suatu kasus pergumulan, beberapa hamba Tuhan memberikan bimbingan agar menggumulinya dengan doa dan puasa, dengan harapan dapat melenyapkan dan merubah sebuah akibat. Ternyata pergumulan tersebut tidak merubah akibat tersebut. Akhirnya terjadi penyesalan karena sudah bergumul begitu rupa. Pengalaman sebab akibat yang dialami dalam hidup kita tidak dapat dibayar dengan doa puasa apapun.
Merasa sudah capek dalam hal ketekunan ternyata Tuhan tidak berbuat apa-apa dan akhirnya kecewa, hal ini berbahaya. Dipenghujung akhir zaman ini dibutuhkan kedewasaan untuk menghadapi semua bentuk pergumulan agar kita tidak menjadi kecewa.
Adanya sikap anak-anak Tuhan seperti ini sangat berbahaya dan sangat menganggap remeh kemurahan Tuhan sebagai barang murahan. Kita tidak perlu tertekan dan di hakimi oleh Iblis, dituding karena melakukan dosa yang akhirnya membuat kita minder secara iman. Minder secara iman juga adalah suatu kesombongan, dimana ia tidak suka kelemahannya diketahui olah orang lain.

Peristiwa Daud
Suatu peristiwa yang dihadapi oleh Raja Daud ketika ia mengambil Batsyeba dari Uria. Tuhan menganggapnya adalah suatu hal yang keji. Kita tidak akan membahas penyebabnya. Tuhan mengirim Nabi Natan untuk berbicara dan menyampaikan teguran Tuhan. Dan akhirnya Daudpun mengakui semua perbuatannya. Sebagai akibat dari perbuatannya itu maka anak yang dilahirkan Batsyeba kena tulah dari Tuhan dan sakit.
Meskipun Tuhan sudah berkata bahwa anak yang dilahirkan baginya itu akan mati, Daud tetap bermohon dengan tekun berdoa dan berpuasa dengan pergumulannya yang sangat hebat sampai ia semalam-malaman berbaring di tanah. Ini bukan hanya pergumulan biasa. Walaupun demikian kedaulatan Tuhan adalah anak itu mati. Pada saat itu tidak ada satupun yang berani mengatakan kepada Daud bahwa anaknya telah mati, karena mereka takut kalau-kalau Daud akan berbuat hal yang mencelakakan dirinya. Pada akhirnya pun Daud tahu bahwa anaknya itu sudah mati. Tapi aneh, justru ia bangkit dari pergumulannya dan membersihkan dirinya, lalu pergi kerumah Tuhan untuk sujud menyembah kemudian ia makan.

II Samuel 12:22 “Jawabnya: “Selagi anak itu hidup, aku berpuasa dan menangis, karena pikirku: siapa tahu TUHAN mengasihani aku, sehingga anak itu tetap hidup.

Ayat ini banyak menjadi konsep dari sebagian anak Tuhan hanya saja tidak sedalam dari konsep yang Daud miliki. Jangan salah paham, bukan berarti kita tidak perlu berdoa dan berpuasa, kita perlu memahami apa yang kita doakan dan puasakan supaya kita tidak kecewa.
Kita juga sudah belajar bahwa rancangan Tuhan dan rancangan manusia jaraknya seperti langit dan bumi. Kita yang harus berusaha untuk mengerti, jadi tidak ada unsur iman yang dipakai untuk memaksa Tuhan mengabulkan permintaan kita.
Daud tidak pernah kecewa ketika menghadapi kenyataan bahwa anaknya mati, karena memang ia sudah tahu bahwa anaknya akan mati. Nah, kalau ia sudah tahu bahwa anaknya itu akan mati, mengapa ia harus bergumul dalam doa dan puasa? Dalam kasus suatu penyakit, ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan tidak ada obatnya, kanker misalnya, meski sudah divonis akan mati, ada beberapa orang yang tetap berusaha untuk mengobatinya, bahkan harus keluar negeri hingga harus dikemoterapi. Itulah usaha manusia untuk tetap mempertahankan hidup.

Selain sikap yang bijak, mari kita renungkan lagi tentang sebab akibat. Bukankah Daud sudah mengaku dosanya? Tapi mengapa anak itu harus tetap mati? Ada yang berkata bahwa harusnya Daud yang mati bukannya si anak yang menanggungnya, karena memang Daud-lah yang melakukan kesalahan. Tapi itulah kedaulatan Tuhan.

II Samuel 12:24 “Kemudian Daud menghibur hati Batsyeba, isterinya; ia menghampiri perempuan itu dan tidur dengan dia, dan perempuan itu melahirkan seorang anak laki-laki, lalu Daud memberi nama Salomo kepada anak itu. TUHAN mengasihi anak ini.”

Daud berhasil melewati ujian ini dengan tetap menerima kedaulatan Tuhan. Tuhan memberikan Salomo bagi Daud, menggantikan anaknya yang sudah mati.
Ini merupakan hasil dari pergumulan yang begitu berat dalam kehidupan Daud. Ia bisa tetap berdiri tegak lagi menjadi raja yang diurapi dan dipakai untuk memimpin.

Suatu peristiwa lagi akan kita pelajari dan meneliti betapa perlunya kita berhati-hati dalam melakukan kehendak Tuhan.

Daud Menghitung Orang Israel
I Tawarikh 21
“1Iblis bangkit melawan orang Israel dan ia membujuk Daud untuk menghitung orang Israel. 2Lalu berkatalah Daud kepada Yoab dan kepada para pemuka rakyat: “Pergilah, hitunglah orang Israel dari Bersyeba sampai Dan, dan bawalah hasilnya kepadaku, supaya aku tahu jumlah mereka.” 3Lalu berkatalah Yoab: “Kiranya TUHAN menambahi rakyat-Nya seratus kali lipat dari pada yang ada sekarang. Ya tuanku raja, bukankah mereka sekalian, hamba-hamba tuanku? Mengapa tuanku menuntut hal ini? Mengapa orang Israel harus menanggung kesalahan oleh karena hal itu?”

Sikap hati-hati yang harus kita lakukan adalah bujukan Iblis yang bentuknya “positif” dan kita tidak menganggapnya sebagai dosa karena sepertinya hal itu adalah baik.
Menghitung jumlah orang atau apalagi dikatakan kegiatan sensus itu adalah hal yang biasa dilakukan. Tapi hal ini merupakan jahat di mata Tuhan. Iblis bangkit melawan orang Israel dengan cara membujuk rajanya, Daud.
Rupanya Yoab lebih paham dengan ketetapan yang ada. Pada waktu itu adalah zaman Theokrasi, jadi semuanya sudah diatur oleh Tuhan. Yoab sudah menasihati Daud sebelumnya

“4Namun titah raja itu terpaksa diikuti oleh Yoab, maka pergilah Yoab menjelajahi seluruh Israel, kemudian kembali ke Yerusalem. 5Lalu Yoab memberitahukan kepada Daud hasil pendaftaran rakyat. Di antara seluruh orang Israel ada sejuta seratus ribu orang yang dapat memegang pedang, dan orang Yehuda ada empat ratus tujuh puluh ribu orang yang dapat memegang pedang. 6Orang Lewi dan Benyamin tidak dimasukkannya dalam pendaftaran, sebab titah raja itu dianggap keji oleh Yoab. 7Tetapi hal itu jahat di mata Allah, sebab itu dihajar-Nya orang Israel. 8Lalu berkatalah Daud kepada Allah: “Aku telah sangat berdosa karena melakukan hal ini; maka sekarang, jauhkanlah kiranya kesalahan hamba-Mu, sebab perbuatanku itu sangat bodoh.”

Dalam hal ini Tuhan marah tapi Daud mengakui kesalahannya.
Kita harus belajar untuk dapat melihat bentuk-bentuk penerobosan di alam roh ke alam nyata. Perhatikan! Pendataan ini bukanlah kasus kriminal atau pembunuhan atau perzinahan, dsb, ini hanyalah kegiatan mendata penduduk.
Kita butuh kepekaan dari Roh Kudus dan selalu belajar memahami kehendak Tuhan. Apa motivasi Daud sehingga ia mau menghitung pasukannya? Ini bukan soal mendata tapi soal motivasi.

Apa yang terjadi?
“9Tetapi berfirmanlah TUHAN kepada Gad, pelihat Daud: 10 “Pergilah, katakanlah kepada Daud: Beginilah firman TUHAN: tiga perkara Kuhadapkan kepadamu; pilihlah salah satu dari padanya, maka Aku akan melakukannya kepadamu.” 11Kemudian datanglah Gad kepada Daud, lalu berkatalah ia kepadanya: “Beginilah firman TUHAN: Haruslah engkau memilih: 12tiga tahun kelaparan atau tiga bulan lamanya melarikan diri dari hadapan lawanmu, sedang pedang musuhmu menyusul engkau, atau tiga hari pedang TUHAN, yakni penyakit sampar, ada di negeri ini, dan malaikat TUHAN mendatangkan kemusnahan di seluruh daerah orang Israel. Maka sekarang, timbanglah jawab apa yang harus kusampaikan kepada Yang mengutus aku.”

Apa jawab Daud?
“13Lalu berkatalah Daud kepada Gad: “Sangat susah hatiku, biarlah kiranya aku jatuh ke dalam tangan TUHAN, sebab sangat besar kasih sayang-Nya; tetapi janganlah aku jatuh ke dalam tangan manusia.” 14Jadi TUHAN mendatangkan penyakit sampar kepada orang Israel, maka tewaslah dari orang Israel tujuh puluh ribu orang.”

Poin langkah-langkah bijak menghadapi kedaulatan Tuhan
1. Akui kesalahan
Jika kedaulatan Tuhan itu hadir oleh karena perbuatan kita, apalagi karena kesalahan kita, akui kesalahan itu dan menyesalinya. Penyesalan adalah awal dari pertobatan, tapi penyesalan itu sendiri bukanlah pertobatan. Tidak akan ada pemulihan dan jalan keluar yang lebih baik jika hanya sampai tahap penyesalan. Penyesalan itu sendiri merupakan langkah awal untuk memperbaiki diri dan sikap yang bijak. Jadi, menyesali dan bertobat.
2. Menyerah kepada keputusan Tuhan
Jangan memakai doa dan puasa sebagai “alat sogok” untuk melenyapkan akibat. Tuhan tidak bisa disogok. Contoh kasus: pada tahun 1991 sebuah travel, yang bisnisnya mengalami masalah, memberikan kesempatan kepada gembala-gembala gereja untuk berangkat ke korea (yang pada waktu itu pertumbuhan gereja Tuhan sangat pesat). Gembala-gembala ini hanya membayar dengan biaya yang sangat murah dan sisanya disubsidi oleh travel ini. Tapi pada akhirnya travel ini tetap bangkrut. Ini bukan cara untuk memperbaiki bisnis yang sedang bermasalah. Kita tidak boleh melakukan sesuatu yang kita anggap sebagai langkah-langkah iman padahal bukan, ini akan membuat kita kecewa. Meyerahlah pada keputusan Tuhan. Kita harus siap mental untuk apapun yang akan terjadi akibat dari suatu keteledoran yang kita buat, supaya kita tidak kecewa.
3. Jalani keputusan Tuhan
Kedaulatan Tuhan yang menjadi keputusan Tuhan bukanlah sebuah hukuman kekal, itu merupakan sebuah didikan yang membawa kita ke arah dewasa. Jadi jalanilah bersama dengan Tuhan.
4. Jaga persekutuan dengan Tuhan
Tatkala Daud tahu bahwa ternyata anaknya mati, ia segera datang masuk ke rumah Tuhan dan sujud menyembah kepada Tuhan. Persekutuan yang erat dengan Tuhan akan membawa kita peka dengan segala kehendak-Nya.

Dengan jalan demikian, tidak ada kesempatan bagi Iblis untuk merobohkan kita. Mungkin Iblis berhasil membujuk, tapi Tuhan tetap bersama kita dan kita tidak tetap berdiri teguh. Mazmur 37:23 “TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya.”
Jangan pernah merasa bingung dengan keputusan Tuhan, firman-Nya adalah jawaban bagi setiap pergumulan kita. Firman Allah itu hidup kita tinggal jalani saja dan tetap setia kepada-Nya.

Pdt. R.F. Martino

HIDUP DALAM KEHENDAK TUHAN (2)

Yesaya 55:8-9 “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Roma 9:20-21 “Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”

 MEMAHAMI KEDAULATAN TUHAN

Dalam kehidupan orang percaya selama di dunia ini, hadirnya realita-realita hidup – terutama di penghujung akhir zaman – bisa menggoyahkan iman. Sayang sekali banyak umat Tuhan yang tidak siap. Mengapa? Karena banyak gereja yang tidak mempersiapkan mereka. Padahal Hamba Tuhan memiliki tanggung jawab untuk mendidik umat Tuhan masuk dalam keutuhan rencana Allah.

Kita mengaminkan ayat yang berkata bahwa pencobaan yang kita alami adalah pencobaan biasa dan Tuhan tidak membiarkan kita dicobai melebihi kekuatan kita, namun kita harus tahu bahwa Tuhan juga berdaulat untuk mengizinkan sesuatu hal terjadi di batas kemampuan kita. Jadi jika kita mempunyai kekuatan 100 dan Tuhan memberi kita ujian sebesar 25 dari kemampuan kita seharusnya kita masih mampu menanggungnya, namun seringkali saat baru mendapat ujian sebesar 25 dari kekuatan kita, kita sudah mengomel. Bagaimana jika Tuhan mengizinkan ujian sebesar 95 dari kemampuan kita? Tuhan tahu bahwa kita mampu menanggungnya.

Tuhan mengajar kita sesuai pertumbuhan rohani kita. 3 tingkat pengalaman kasih Tuhan kepada kita:

  1. Kasih dalam bentuk kelembutan (masa bayi) Saat kita baru saja lahir baru, kita adalah bayi-bayi rohani. Semua doa-doa kita mudah dijawab Tuhan. Kita mudah sekali bersaksi betapa baiknya Tuhan dalam hidup kita.
  2. Kasih dalam bentuk didikan (masa remaja). Pada masa ini kita mengalami berbagai bentuk didikan Tuhan yang membawa kita pada proses kedewasaan.
  3. Kasih dalam bentuk tanggung jawab (masa dewasa).

Saat kita menghadapi berbagai realita hidup, jangan hanya berhenti sampai disitu. Jadikanlah pengalaman-pengalaman hidup kita menjadi pengalaman-pengalaman iman, karena dari situlah kita dididik oleh Tuhan untuk menjadi dewasa.

Kita harus memahami hal ini: Saat kita berhadapan dengan kehendak Tuhan, kita berhadapan dengan “KEDAULATAN TUHAN”. Dan saat kita berhadapan dengan “KEDAULATAN TUHAN”, A adalah A, B adalah B, dan tidak ada satupun yang dapat mengubah kedaulatan Tuhan tersebut bahkan oleh doa dan puasa sekalipun.

Dalam hidup ini, ada banyak hal-hal yang tidak diduga yang tidak bisa dianalisa oleh akal pikiran kita, namun hanya bisa dijawab oleh iman kita yang mampu menangkap kehendak Tuhan.

  1. HIDUP MENGANDALKAN TUHAN, MENARUH HARAPAN HANYA KEPADA TUHAN

Yeremia 17:7-8 “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah”

Orang yang percaya pada Tuhan adalah orang yang mengandalkan Tuhan, dan orang yang mengandalkan Tuhan akan diberkati Tuhan sesuai dengan ayat diatas. Namun jika orang percaya keliru memahami ayat tersebut, maka orang itu berpikir karena ia mengandalkan Tuhan maka ia tidak perlu bekerja keras, sebaliknya ia menjadi orang yang pasif/pemalas. Ini tidak benar.

Sebagai manusia lahiriah, setiap orang punya rancangan sendiri dan menjalaninya dengan pikiran sendiri, perasaan sendiri, dan kehendak sendiri. Karena itulah maka rancangan dan jalan kita sendiri tidak bisa ketemu dengan rancangan Tuhan dan jalan Tuhan yang tingginya seperti langit dari bumi dengan rancangan dan jalan kita.

Saat seorang percaya mengalami hal-hal yang diluar rancangan mereka, maka mereka bertanya mengapa Tuhan mengizinkan hal tersebut terjadi dalam hidupnya. Saat ia tidak mampu menangkap kehendak Tuhan, akhirnya ia mengalami kekecewaan kepada Tuhan. Sebagai contoh yang pernah terjadi: Ada keluarga yang cinta Tuhan namun mereka mengalami peristiwa menyedihkan secara manusia yaitu rumahnya disita bank. Mengapa Tuhan mengizinkan umat-Nya masuk dalam pengalaman-pengalaman seperti itu?

Pengalaman rohani selama kita masih bayi rohani adalah kelembutan, kita dimanja oleh Tuhan. Doa kita demikian mudah dijawab oleh Tuhan.

Namun saat kita mulai bertumbuh, kita juga mulai bertumbuh dalam pikiran sendiri, perasaan sendiri, dan kehendak sendiri. Maka kasih Tuhan dinyatakan dalam bentuk didikan.

Ayub 14:19 “seperti batu-batu dikikis air, dan bumi dihanyutkan tanahnya oleh hujan lebat, demikianlah Kauhancurkan harapan manusia”

Ayat ini sedang terjadi di negeri kita, terjadi longsor di banyak tempat dimana batu-batu dikikis oleh air dan tanah hanyut oleh hujan lebat. Lebih lanjut ayat diatas berkata bahwa “demikianlah Kauhancurkan harapan manusia.”

Bukankah setiap manusia punya pengharapan dalam hidupnya? Dan sebagai orang percaya bukankah orang itu menaruh harapannya kepada Tuhan?

Dalam hidup kita sebagai orang percaya dalam unsur jiwani kita masing-masing juga menciptakan harapan-harapan secara manusia dan seringkali kita tidak menyadari bahwa harapan-harapan tersebut sudah lebih besar daripada harapan kita kepada Tuhan. Kadang hal ini beda tipis antara harapan secara manusia dan harapan kepada Tuhan, karena dalam diri kita ada manusia rohani dan ada manusia lahiriah. Kita harus memahami hal ini supaya kita tidak menjadi kecewa. Seringkali kita bertahan dalam harapan-harapan kita sebagai manusia, bahkan kadang kita berpikir bahwa itu sesuai kehendak Tuhan. Padahal jika hal itu tidak sesuai dengan kehendak Tuhan, maka Tuhan bisa menghancurkan harapan kita.

Mengapa Tuhan menghancurkan harapan kita? Supaya kita kembali belajar memperbaiki pengharapan kita kepada Tuhan karena pengharapan kita sudah beralih kepada yang lain yaitu kepada kekuatan diri sendiri.

Ingatlah hal ini: “Jalan buntu bagi manusia biasa adalah putus asa namun jalan buntu bagi orang percaya bukanlah keputusasaan namun kesempatan memperbaiki penyerahan diri kepada Tuhan.”

Jangan lupakan iman sebesar biji sesawi yang dulu pernah kita miliki. Dimana saat itu kita benar-benar mengandalkan Tuhan maka kita melihat banyak perkara yang Tuhan kerjakan dalam hidup kita. Iman sebesar biji sesawi yang membuat kita sudah sampai pada hari ini. Iman ini harus dijaga dan dipelihara.

Roma 8:28 “Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”

Tetaplah mengandalkan Tuhan sehingga kita terlatih dan terjaga untuk tetap berada dalam kehendak Tuhan.

Maka saat kita mengalami harapan kita secara manusia dihancurkan, segeralah bersandar kepada Tuhan supaya kita tidak kecewa. Bersandar kepada Tuham sama seperti kita dengan penuh keyakinan bersandar pada tembok dan kita yakin tembok tersebut kuat untuk menahan tubuh kita sehingga kita takkan terjatuh.

Pdt. DR. R. F. Martino

 

HIDUP DALAM KEHENDAK ALLAH

Yesaya 55:8-9 “ Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. 9 Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.”

Efesus 5:17 “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”

Dalam ayat yang kita baca di atas menjelaskan bahwa ada perbedaan rancangan manusia dan rancangan Allah serta jalan manusia dan jalan Allah. Zaman sekarang, perbedaan dianggap hal yang lumrah, beda pendapat ataupun ide adalah hal yang biasa, bahkan semua perbedaan itu dianggap dapat memperkaya keanekaragaman. Tetapi saat ini kita tidak berbicara mengenai hal itu, kita tidak berbicara mengenai perbedaan yang lumrah.
Pertanyaannya adalah sebegitu sulitkah mengerti kehendak Allah? Mengapa sampai Tuhan berkata “usahakanlah!”
Apakah masuk surga itu lebih gampang dari menjalani hidup di dunia ini? Allah membenci dosa tapi Dia sangat mengasihi orang berdosa. Allah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal untuk menebus orang yang berdosa. Hanya dengan iman percaya orang yang berdosa bisa menerima-Nya sebagai Tuhan dan juruselamat. Surga dan keselamatan sudah ada di tangan! Mudah bukan untuk masuk Surga?
Menurut Saudara manakah yang lebih susah: Masuk surga? Atau Hidup di dunia yang penuh dengan pergumulan? Sayangnya Tuhan tidak mengijinkan bunuh diri, karena bunuh diri berakibat maut/neraka.
Jika masuk surga adalah sesutu yang sangat mudah, mengapa Tuhan masih membuat susah dengan segala peraturan yang harus dilakukan? Inilah yang perlu kita mengerti! Untuk apakah kita hidup di dunia dengan mengikuti kehendak-Nya?
Jika kita tidak memahami hal ini, kita yang sudah sungguh-sungguh dengan iman percaya kita, bisa menjadi kecewa dan akhirnya Iblis mengambil keuntungan. Jika kita memahami Yesaya 55:8-9 memang sulit secara manusia, karena bentuk konkrit dari rancangan Allah tidak akan pernah ketemu, sama seperti jauhnya langit dari bumi. Tetapi dalam Efesus 5:17 mengatakan: “…janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”
Setinggi apapun intelek manusia, tidak akan dapat menanggkap kehendak Allah secara manusia lahiriah. Orang yang sudah menjadi percayapun seringkali mengalami hal itu. Tuhan berkata bahwa kita harus berusaha mengerti kehendak Allah supaya kita menganggap remah hal ini. Sementara kita ada dalam kesetiaan yang luar biasa dan saat itupun menunggu kita terbentur pada suatu masalah, justru yang kita alami adalah Tuhan tidak berbuat apa-apa, tidak ada pembelaan, tidak ada campur tangan dari Tuhan. Kenapa bisa seperti ini?
Inilah cara Iblis untuk mematahkan iman orang-orang yang setia. Dan ini adalah kebenaran fakta yang ada dalam kehidupan setiap orang percaya bahwa rancangan ini bukanlah rancangan Tuhan, jaraknya seperti langit dan bumi. Artinya tidak dapat dijangkau dengan akal pikiran manusia.

Didalam kehidupan manusia ada roh, jiwa dan tubuh. Apa yang Tuhan kehendaki dalam hal ini?
I Tesalonika 5:23 “Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita.”

Belum ada yang sempurna, oleh sebab itulah Tuhan menghendaki agar roh, jiwa dan tubuh terpelihara secara sempurna. Umumnya dan realitanya adalah seluruh pergerakan hidup manusia digerakkan oleh unsur jiwa yang didalamnya ada pikiran, kehendak dan perasaan. Tubuh hanya bertindak sebagai pelaksana dan roh dipakai hanya untuk bernafas. Tuhan tidak menghendaki cara hidup seperti ini!
Tapi, bukankah Tuhan tidak memaksakan kehendak-Nya dan Ia menghargai hak asasi manusia yaitu hak untuk membuat keputusan untuk memilih. Ini memang benar! Tapi jangan campur adukan apa itu hak asasi manusia dan apa itu kehendak Allah yang absolut.
Ketika di Taman Eden Tuhan berkata bahwa semua buah yang ada di taman boleh dimakan, tapi ada satu buah yang jangan dimakan atau sentuh karena akan mengkibatkan kematian. Itulah kehendak Tuhan! Tapi Adam dan Hawa menggunakan hak pilihnya dan mengambil keputusan untuk memakan buah itu dan harus menanggung konsekuensinya. Jangan pernah memaksakan kehendak kepada Allah!
Jika kita berhadapan dengan kehendak Tuhan itu sama dengan kita berhadapan dengan kedaulatan Tuhan. Kedaulatan Tuhan tidak dapat dirubah walaupun dengan doa dan puasa apapun dan tidak dapat diganggu gugat. Kita tidak dapat mengatur Tuhan menurut kehendak kita sendiri. Hal ini harus kita pahami supaya kita tidak menjadi kecewa. Karena tidak semua orang memahami hal ini bahkan hamba Tuhan sekalipun. Ketika ada yang konseling dengan permasalahannya, tidak jarang ada pendeta juga berkata “kamu harus sunguh-sungguh berdoa”, padahal sebenarnya pribadi ini sedang berhadapan dengan kedaulatan Tuhan.
Oleh sebab itulah Tuhan berkata JANGANLAH KAMU BODOH, TETAPI MENGERTI KEHENDAK TUHAN!

Ketika Tuhan memerintahkan kepada Musa untuk membangun Kemah Suci/Kemah Tabernakel, Musa diberikan pola dari proyek pembangunan bait suci. Bukan hanya gambarnya saja tapi jenis-jenis material apa saja yang akan dipakai pada saat pembangunan. Mulai dari warna yang akan dipakai bahkan hal-hal detailnyapun Tuhan sudah tetapkan. Musa TIDAK DIBERI KELONGGARAN SEDIKITPUN untuk merubah ukuran, model ataupun materialnya. Semuanya harus persis seperti petunjuk yang diberikan Tuhan. Inilah kedaulatan Tuhan.
Kedaulatan Allah tidak bisa ditawar dengan negosiasi, Tuhan hanya mau kita melakukan apa yang Tuhan kehendaki. Sekali lagi ini harus kita pahami supaya kita tidak kecewa.
Setiap doa yang kita naikkan pasti dan selalu didengar tapi tidak semua doa dijawab sesuai dengan keinginan kita. Ada 3 cara Tuhan meresponi doa kita, pertama: dijawab, kedua: tidak dijawab, ketiga: dijawab sesuai dengan kehendak Tuhan. Kalau Tuhan yang melakukan pasti itu yang terbaik. Ini yang membuat Iblis tidak akan bisa menerobos kita melalui perasaan kecewa, dsb. Karena kita tahu bahwa kedaulatan Tuhan begitulah adanya.

Mengendalikan Jiwa
Jiwa (pikiran, perasaan, kehendak) mengambil peranan penting dalam mengendalikan semua aktifitas kehidupan. Kita harus mempunyai kemampuan untuk menguasainya dan terus berusaha untuk belajar mengerti apa kehendak Tuhan, sebab jika tidak akan berakibat fatal. Jangan biarkan kita bekerja dan menanggapi dengan pikiran sendiri, perasaan sendiri dan kehendak sendiri.

Musa
Ketika Musa memimpin Bangsa Israel keluar dari Mesir dan melewati suatu daerah yang sangat tandus, bangsa ini protes kepada Musa sebab mereka sudah kehausan dan tidak ada air. Musa menghadap kepada Tuhan dan disuruh untuk membawa tongkat dan memukulnya pada gunung batu itu supaya keluar air. Maka Musa memukul gunung batu itu dan keluarlah air.
Keluarn 17:1-6 “1Kemudian berangkatlah segenap jemaah Israel dari padang gurun Sin, berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, sesuai dengan titah TUHAN, lalu berkemahlah mereka di Rafidim, tetapi di sana tidak ada air untuk diminum bangsa itu. 2Jadi mulailah mereka itu bertengkar dengan Musa, kata mereka: “Berikanlah air kepada kami, supaya kami dapat minum.” Tetapi Musa berkata kepada mereka: “Mengapakah kamu bertengkar dengan aku? Mengapakah kamu mencobai TUHAN?” 3Hauslah bangsa itu akan air di sana; bersungut-sungutlah bangsa itu kepada Musa dan berkata: “Mengapa pula engkau memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membunuh kami, anak-anak kami dan ternak kami dengan kehausan?” 4Lalu berseru-serulah Musa kepada TUHAN, katanya: “Apakah yang akan kulakukan kepada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu!” 15Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Berjalanlah di depan bangsa itu dan bawalah beserta engkau beberapa orang dari antara para tua-tua Israel; bawalah juga di tanganmu tongkatmu yang kaupakai memukul sungai Nil dan pergilah. 6Maka Aku akan berdiri di sana di depanmu di atas gunung batu di Horeb; haruslah kaupukul gunung batu itu dan dari dalamnya akan keluar air, sehingga bangsa itu dapat minum.” Demikianlah diperbuat Musa di depan mata tua-tua Israel.”

Ketika di suatu tempat lagi, mereka kehausan, dan unjuk rasa lagi kepada Musa. Musa datang kepada Tuhan
Dan Tuhanpun memberikan petunjuk kepada Musa agar ia berkata kepada gunung batu agar keluar air dari situ. Tetapi Musa melakukan lain, Musa emosi dan marah sehingga ia memukul gunung batu itu, padahal Tuhan hanya memerintahkan untuk berkata. Maka marahlah Tuhan dan Tuhan berfirman bahwa Musa tidak akan masuk ke Tanah Perjanjian hanya elihat dari kejauhan saja.
Bilangan 20:2-12 “2Pada suatu kali, ketika tidak ada air bagi umat itu, berkumpullah mereka mengerumuni Musa dan Harun, 3dan bertengkarlah bangsa itu dengan Musa, katanya: “Sekiranya kami mati binasa pada waktu saudara-saudara kami mati binasa di hadapan TUHAN! 4Mengapa kamu membawa jemaah TUHAN ke padang gurun ini, supaya kami dan ternak kami mati di situ? 5Mengapa kamu memimpin kami keluar dari Mesir, untuk membawa kami ke tempat celaka ini, yang bukan tempat menabur, tanpa pohon ara, anggur dan delima, bahkan air minum pun tidak ada?” 6Maka pergilah Musa dan Harun dari umat itu ke pintu Kemah Pertemuan, lalu sujud. Kemudian tampaklah kemuliaan TUHAN kepada mereka. 7TUHAN berfirman kepada Musa: 8“Ambillah tongkatmu itu dan engkau dan Harun, kakakmu, harus menyuruh umat itu berkumpul; katakanlah di depan mata mereka kepada bukit batu itu supaya diberi airnya; demikianlah engkau mengeluarkan air dari bukit batu itu bagi mereka dan memberi minum umat itu serta ternaknya.” 9Lalu Musa mengambil tongkat itu dari hadapan TUHAN, seperti yang diperintahkan-Nya kepadanya. 10Ketika Musa dan Harun telah mengumpulkan jemaah itu di depan bukit batu itu, berkatalah ia kepada mereka: “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” 11Sesudah itu Musa mengangkat tangannya, lalu memukul bukit batu itu dengan tongkatnya dua kali, maka keluarlah banyak air, sehingga umat itu dan ternak mereka dapat minum. 12Tetapi TUHAN berfirman kepada Musa dan Harun: “Karena kamu tidak percaya kepada-Ku dan tidak menghormati kekudusan-Ku di depan mata orang Israel, itulah sebabnya kamu tidak akan membawa jemaah ini masuk ke negeri yang akan Kuberikan kepada mereka.”

Mari berpikir dengan akal sehat, masakan hanya dengan memukul gunung batu itu, Tuhan harus menghukum Musa dengan tidak dapat masuk ke Tanah Perjanjian. Apakah Tuhan tidak mengingat semua jasa-jasa Musa selama ia memimpin Bangsa Israel.
Kita berpikir bahwa substansinya adalah air bisa keluar dari gunung batu, bukan soal tehnis mengeluarkan air dari gunung batu. Tapi bagi Allah substansinya adalah KETAATAN.
Inilah perbedaannya, kita menghalalkan substansi yang ada dengan mengharamkan kehendak Tuhan yang tidak dilakukan. Padahal itu adalah sebuah pelanggaran. Bagi Tuhan subtansinya bukanlah air, Tuhan hanya memerintahkan untuk berkata bukan memerintahkan untuk memukul.
Betapa seringnya kita keliru dalam memahami apa kehendak Tuhan. Karena pikiran sendiri kemudian kita marah kepada Tuhan. Karena kita mengalami masalah dalam pribadi, rumah tangga, usaha, pekerjaan, dll, maka kita salah meletakkan substansi.
KETAATAN KITA KEPADA TUHAN MELEBIHI SEGALA-GALANYA. Apapun bentuk persembahan tidak akan melebihi dari sebuah ketaatan yang menyenangkan hati Tuhan. Kita tidak menjadi lemah ketika doa kita belum terjawab bahkan tidak terjawab.
Ketika kita berhadapan dengan kedaulatan Allah, kita harus menanggalkan kehendak kita supaya kehendak Allah yang jadi.

Yusuf dan Maria
Dalam Perjanjian Baru juga Tuhan memberikan contoh kepada kita. Yusuf yang harus berhadapan dengan kedaulatan Tuhan. Yusuf yang waktu itu masih bertunangan dengan Maria harus menerima kenyataan bahwa Maria sudah mengandung. Yusuf memilih untuk taat pada kedaulatan Tuhan. Ia bisa menerimanya. Dan luar biasa hal yang terjadi, karena bayi yang dikandungoleh Maria adalah Sang Juruselamat (Matius 1:18-25)

Hidup berserah dalam kedaulatan Tuhan tidaklah semudah yang kita duga, namun lebih indah dari yang kita duga.
Belajarlah meyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan. –rfm

Roma 9:20-21 “20 Siapakah kamu, hai manusia, maka kamu membantah Allah? Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: “Mengapakah engkau membentuk aku demikian?” 21Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa?”

Jangan pernah kecewa, sepertinya Tuhan begitu jauh. Percayalah Tuhan ada di dalam kita. Apa yang sedang Tuhan siapkan bagi kita adalah hal yang terbaik dan termulia bagi mereka yang mengasihi-Nya.

Pdt. R.F. Martino

BERTUMBUH DALAM KASIH KEPADA ALLAH

Kasih kepada Allah adalah hal yang dalam dan besar. Tahukah kita: Kasih itu memiliki kuasa yang besar. Kita tahu bahwa dalam setiap pernikahan kasih antara satu dan lain (suami dan istri) yang membuat pernikahan tetap bertahan. Jika tidak ada kasih dalam rumah tangga, bagaikan 2 orang asing yang tinggal di dalam satu rumah, dan anak-anak pun tidak mendapat tempat disitu. Kadang-kadang ada satu rumah/keluarga dimana segala kebutuhannya ada/tersedia tetapi tidak ada kasih. Seorang istri mungkin bertanya apakah sang suami benar-benar mencintainya sekalipun sang suami mungkin sudah melakukan banyak hal baginya. Allah sudah menunjukkan kasih-Nya kepada kita melalui Anak-Nya yang tunggal. Gereja harus menjadi tempat dimana ada kasih. Hidup kekristenan kita di dunia ini diawali oleh kasih dan dijalani sampai pada akhirnya juga dengan kasih.
Allah telah menaruh kasih-Nya dalam hati kita. Jika seorang suami adalah seorang yang suka memukul istri, lalu ia mengalami kasih Allah maka hidupnya akan diubahkan. Kasih saudara kepada Allah harus bertumbuh. Apakah kasih saudara kepada Allah semakin dalam?

BELAJAR DARI KISAH SALOMO
1 Raja-raja 3:1-5“Lalu Salomo menjadi menantu Firaun, raja Mesir; ia mengambil anak Firaun, dan membawanya ke kota Daud, sampai ia selesai mendirikan istananya dan rumah TUHAN dan tembok sekeliling Yerusalem. Hanya, bangsa itu masih mempersembahkan korban di bukit-bukit pengorbanan, sebab belum ada didirikan rumah untuk nama TUHAN sampai pada waktu itu. Dan Salomo menunjukkan kasihnya kepada TUHAN dengan hidup menurut ketetapan-ketetapan Daud, ayahnya; hanya, ia masih mempersembahkan korban sembelihan dan ukupan di bukit-bukit pengorbanan. Pada suatu hari raja pergi ke Gibeon untuk mempersembahkan korban, sebab di situlah bukit pengorbanan yang paling besar; seribu korban bakaran dipersembahkan Salomo di atas mezbah itu. Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: “Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu.”

Tahukah saudara bahwa sebagai orang tua Anda sedang memberi contoh kepada anak-anak Anda? Saat Anda di dalam gereja/di rumah maka anak-anak Anda akan memperhatikan apa yang Anda lakukan. Jika Anda adalah seorang yang murah hati maka anak Anda juga akan menjadi seorang yang murah hati.
Salomo menunjukkan kasih-Nya kepada Allah dari apa yang ia lihat dari Daud, ayahnya. Sekalipun Salomo juga pernah melakukan kesalahan, sama seperti kita juga masih melakukan kesalahan, namum kita bisa belajar dari kehidupan Salomo. Salomo mengasihi Allah bukan karena mengharapkan berkat. Biasanya orang mengasihi Allah untuk mendapatkan keuntungan. Kasih yang kuat dari ayahnya kepada Allah dilihat oleh Salomo dan Salomo menjadi tahu bagaimana menyenangkan hati Tuhan. Salomo mempersembahkan 1.000 ekor domba jantan kepada Tuhan. Salomo memenuhi udara dengan asap korban bakaran karena kasihnya kepada Allah. Saudara sebagai orang percaya pada satu titik harus bertanya pada diri saudara: “Apakah semua yang saya lakukan ini karena saya mengasihi Tuhan?”
Setelah Salomo mempersembahkan semua korban bakaran itu, ia lelah dan tidur di tempat tidurnya. Saat itu Allah melangkah turun dan pergi menemui Salomo. Allah datang ke rumahnya! Allah bertanya pada Salomo, “Apa yang kau inginkan?” Karena Salomo menyenangkan hati Tuhan. Kita diciptakan untuk menyukakan Dia. Allah menuntut suatu hubungan. Dia menuntut kita untuk mencintai Dia.

Ulangan 6:4-5 “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.”
Bagi orang Israel ini adalah perintah untuk mengasihi Allah. Tetapi bagi kita Tuhan memberi kita hati yang baru dan mencurahkan kasih-Nya pada hati kita sehingga kita bisa mudah mengasihi Allah.
Saat kita jatuh cinta kepada Allah, kita akan selalu ingin menunggu Dia dan merasakan hadirat-Nya. Karena kasih Salomo pada Allah, Tuhan memberikan kepadanya hikmat dan pengertian. Salomo tidak meminta tetapi Allah memberikan kepadanya karena Salomo sungguh-sungguh mengasihi Tuhan. Seringkali kita meminta berteriak kepada Tuhan tetapi Tuhan tahu bahwa kita tidak sungguh-sungguh mengasihi-Nya. Karena Salomo mengasihi Allah maka Allah memberikannya hikmat dan tidak ada raja yang lebih berhikmat daripadanya.

1 Raja-raja 9:1-5 “Ketika Salomo selesai mendirikan rumah TUHAN dan istana raja dan membuat segala yang diinginkannya, maka TUHAN menampakkan diri kepada Salomo untuk kedua kalinya seperti Ia sudah menampakkan diri kepadanya di Gibeon. Firman TUHAN kepadanya: “Telah Kudengar doa dan permohonanmu yang kausampaikan ke hadapan-Ku; Aku telah menguduskan rumah yang kaudirikan ini untuk membuat nama-Ku tinggal di situ sampai selama-lamanya, maka mata-Ku dan hati-Ku akan ada di situ sepanjang masa. Mengenai engkau, jika engkau hidup di hadapan-Ku sama seperti Daud, ayahmu, dengan tulus hati dan dengan benar, dan berbuat sesuai dengan segala yang Kuperintahkan kepadamu, dan jika engkau tetap mengikuti segala ketetapan dan peraturan-Ku, maka Aku akan meneguhkan takhta kerajaanmu atas Israel untuk selama-lamanya seperti yang telah Kujanjikan kepada Daud, ayahmu, dengan berkata: Keturunanmu takkan terputus dari takhta kerajaan Israel.”

Allah sekali lagi menampakkan diri kepada Salomo. Kadang-kadang kita mungkin berpikir bahwa Allah itu terlalu besar sehingga tidak mungkin Ia mendekat kepada manusia.
Dalam Perjanjian Lama, Allah menampakkan diri kepada orang-orang tertentu dan melalui malaikat. Bagaimana dengan kita di Perjanjian Baru? Tuhan menyatakan diri-Nya dalam hidup kita sehari-hari.

Yohanes 14:15-21 “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku. Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu sebagai yatim piatu. Aku datang kembali kepadamu. Tinggal sesaat lagi dan dunia tidak akan melihat Aku lagi, tetapi kamu melihat Aku, sebab Aku hidup dan kamu pun akan hidup. Pada waktu itulah kamu akan tahu, bahwa Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Aku pun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.”

Kita perlu semakin bertumbuh dan semakin dalam cinta kita kepada Tuhan dengan menaati perintah-Nya. Yesus berkata bahwa dunia tidak akan melihat Dia tetapi kita akan melihat Dia. Allah yang menampakkan diri kepada Salomo rindu menampakkan diri kepada kita.
Orang-orang yang ada dihidup Anda adalah orang-orang yang Anda kasihi. Orang-orang yang tidak Anda kasihi akan menjauhkan dirinya dari Anda. Maka kita tahu bahwa “kasih itu menarik”.
Sebagai orang percaya seharusnya kita mengasihi Tuhan bukan karena ada uang/tidak ada uang, tetapi karena kita tahu bahwa Ia mengasihi kita sebelum kita mengasihi Dia. Ia telah menebus dan menyucikan kita.

Yohanes 14:22-23 “Yudas, yang bukan Iskariot, berkata kepada-Nya: “Tuhan, apakah sebabnya maka Engkau hendak menyatakan diri-Mu kepada kami, dan bukan kepada dunia?” Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia.”

Di taman Eden Allah datang mengunjungi Adam dan Hawa. Tuhan juga rindu mengunjungi rumahmu, dan juga tempat usahamu.
TUHAN HARUS BERADA DI TEMPAT YANG PERTAMA
Tuhan Yesus pernah berkata, “Jikalau Engkau mengasihi ayahmu atau ibumu, anakmu laki-laki atau anakmu perempuan lebih dari pada-Ku, engkau tidak bisa menjadi pengikut-Ku”. Lebih jauh lagi jika Anda mengasihi suami/istri/usaha/harta atau apapun juga lebih dari pada Tuhan, maka Anda tidak dapat menjadi pengikut-Nya. Tuhan berkata demikian bukan karena Ia ingin memisahkan kita dari semuanya itu melainkan agar kita mengasihi-Nya secara mendalam. Ini adalah hal yang serius.
Apa yang kita kasihi akan menarik seluruh hidup kita dan mempengaruhi keseharian kita. Jika kita mencintai pengetahuan maka kita akan terus belajar atau ke sekolah. Jika kita mencintai urapan, maka kita akan terus berdoa dan berpuasa. Ada banyak orang mencintai sepakbola lebih daripada Tuhan. Ini tidak boleh terjadi. Yesus harus berada di tempat yang pertama.

Kisah cinta Salomo dengan Tuhan adalah kisah cinta yang indah namun akhirnya memilukan.
1 Raja-raja 11:1-5 “Adapun raja Salomo mencintai banyak perempuan asing. Di samping anak Firaun ia mencintai perempuan-perempuan Moab, Amon, Edom, Sidon dan Het, padahal tentang bangsa-bangsa itu TUHAN telah berfirman kepada orang Israel: “Janganlah kamu bergaul dengan mereka dan mereka pun janganlah bergaul dengan kamu, sebab sesungguhnya mereka akan mencondongkan hatimu kepada allah-allah mereka.” Hati Salomo telah terpaut kepada mereka dengan cinta. Ia mempunyai tujuh ratus isteri dari kaum bangsawan dan tiga ratus gundik; isteri-isterinya itu menarik hatinya dari pada TUHAN. Sebab pada waktu Salomo sudah tua, isteri-isterinya itu mencondongkan hatinya kepada allah-allah lain, sehingga ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, ayahnya. Demikianlah Salomo mengikuti Asytoret, dewi orang Sidon, dan mengikuti Milkom, dewa kejijikan sembahan orang Amon,…”

Apa yang Anda cintai menarik perhatian Anda dan mengontrol Anda. Apa yang Anda sukai bisa membebaskan Anda atau justru memenjarakan Anda. Tuhan sudah memperingatkan bangsa Israel agar tidak mencintai perempuan-perempuan asing. Namun hati Salomo telah terpaut dengan mereka dengan cinta. Hati Salomo menjadi terikat dengan istri-istrinya dan allah-allah asing. Anda menjadi budak dari apa yang Anda cintai. Salomo akhirnya menjadi budak dari allah-allah asing. Betapa menyedihkan. Namun kita bisa belajar dari rasul Paulus yang berkata bahwa ia menjadi hamba/budak dari Yesus Kristus karena ia mencintai Tuhan.

1 Raja-raja 11:7-12 “Pada waktu itu Salomo mendirikan bukit pengorbanan bagi Kamos, dewa kejijikan sembahan orang Moab, di gunung di sebelah timur Yerusalem dan bagi Molokh, dewa kejijikan sembahan bani Amon. Demikian juga dilakukannya bagi semua isterinya, orang-orang asing itu, yang mempersembahkan korban ukupan dan korban sembelihan kepada allah-allah mereka. Sebab itu TUHAN menunjukkan murka-Nya kepada Salomo, sebab hatinya telah menyimpang dari pada TUHAN, Allah Israel, yang telah dua kali menampakkan diri kepadanya, dan yang telah memerintahkan kepadanya dalam hal ini supaya jangan mengikuti allah-allah lain, akan tetapi ia tidak berpegang pada yang diperintahkan TUHAN. Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Salomo: “Oleh karena begitu kelakuanmu, yakni engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku yang telah Kuperintahkan kepadamu, maka sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari padamu dan akan memberikannya kepada hambamu. Hanya, pada waktu hidupmu ini Aku belum mau melakukannya oleh karena Daud, ayahmu; dari tangan anakmulah Aku akan mengoyakkannya.”

Apakah Anda mengasihi suami/istri/bisnismu lebih dari pada Allah? Allah ingin menjadi yang pertama dalam hidup Anda. Banyak orang percaya yang setengah kakinya di gereja, setengah kakinya di dunia. Ini memang tidak mudah. Namun ini yang Tuhan inginkan. Berdoalah supaya Anda bisa jatuh cinta dengan Allah. Salomo awalnya jatuh cinta dengan Allah. Ia membangun Bait Allah dengan sangat megahnya. Saat Bait Allah ditahbiskan, kemuliaan Tuhan turun di tengah-tengah mereka. Tetapi ketika ia mulai mengasihi wanita-wanita asing, ia membangun bait untuk berhala-berhala, karena setiap wanita datang dengan berhala-berhalanya masing-masing. Akhirnya hati Salomo berpaling dari Allah kepada berhala dan menjadi budak berhala.
Karena Salomo meninggalkan Tuhan maka Tuhan berkata pada Salomo bahwa Ia akan mengoyakkan kerajaan Salomo pada masa anak-anak Salomo. Apa yang Anda lakukan saat ini akan berdampak terhadap anak-anak Anda, apakah berkat ataukah bencana.

KESIMPULAN DARI KISAH SALOMO
1. Apa yang sangat Anda cintai akan menunjukkan komitmen dan loyalitas Anda.
2. Apapun yang mengikuti/mengontrol orang yang Anda ikuti, akan juga mengontrol hidup Anda. Sama seperti Salomo yang mencintai perempuan-permpuan asing, maka pada akhirnya Salomo menjadi budak dari berhala-berhala wanita-wanita itu. Yosua mengikuti Musa yang memiliki Roh Allah. Elisa mengikuti Elia. 12 murid mengikuti Yesus namun Yudas Iskariot jatuh dan keluar dari kasih kepada Yesus, ia mengkhianati Yesus.
3. Dosa memasuki hidup Anda sebagai hamba, namun pada akhirnya ia akan menjadi tuan dalam hidup Anda. Salomo menganggap remeh akan cintanya pada perempuan-permpuan asing, namun akhirnya ia terjerat.
4. Jangan mengikuti keinginan hatimu karena hatimu bisa menipu engkau. Ikutilah Yesus!
5. Ketika Anda berhenti membangun Bait Allah, ketika Anda berhenti melakukan pekerjaan-pekerjaan Allah, maka Anda akan melakukan pekerjaan-pekerjaan untuk iblis. Salomo tidak lagi membangun Bait Allah, akhirnya ia membangun rumah ibadah bagi berhala-berhala, bagi setan-setan. Bisakah saudara bayangkan hal itu? Untuk memberi bagi Allah, mulailah dari hati yang mengasihi Allah.
6. Pengalaman-pengalamanmu dengan Allah tidak menjamin bahwa Anda sungguh-sungguh mengasihi Allah. Dua kali Allah datang menjumpai Salomo. Ini adalah pengalaman rohani kelas tinggi. Namun pada akhirnya kasih Salomo kepada Allah memudar. Anda bisa saja diberkati dengan luar biasa tetapi Anda tidak mengasihi Allah. Ketahuilah ada banyak orang yang ingin diberkati seperti Anda padahal mereka sungguh-sungguh mengasihi Allah. Jikalau Allah sudah memberkati engkau, bertumbuhlah dalam kasih kepada Allah.
7. Pelayananmu pada Allah saat ini, pada akhirnya berdampak kepada anak-anakmu. Investasi Anda pada pekerjaan Allah akan membuka pintu berkat bagi anak-anakmu. Kerajaan Salomo dipecahkan pada masa anak-anaknya. Jika Anda melayani Allah sungguh-sungguh saat ini, maka hidup anak-anak Anda pasti akan diberkati.

Oleh: Rev. Thomas Faith Hayes
(Fountain of Life Mission Church in Accra, Ghana, Africa)

PEMULIHAN KELUARGA

Keluarga adalah ciptaan Tuhan. Kita semua rindu agar keluarga kita mengalami pemulihan. Pemulihan yang diambil dari kata dasar “pulih” berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), “pulih” berarti kembali baik seperti semula, menjadi baik atau baru lagi. Pemulihan keluarga artinya proses memulihkan keluarga menjadi baik atau baru seperti semula sesuai rancangan Allah sebagai pencipta keluarga

Kejadian 1:26-28“Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Apa Rancangan Allah Semula Untuk Keluarga?
Kejadian 1:26-28“26 Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” 27 Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka. 28 Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi”.

Rancangan Allah untuk keluarga adalah keluarga yang diberkati untuk memuliakan Tuhan dan menjadi berkat. Sebagai contoh: sebuah keluarga yang amburadul (kacau) sudah mengalami banyak tekanan, problem, konflik bahkan terancam dalam perceraian kemudian menjadi baik seperti semula. Inilah pemulihan.

Sejak awal Allah merancangkan dan membentuk keluarga agar menjadi berkat dan seluruh bumi penuh dengan kemuliaan-Nya. Namun rancangan baik ini hancur karena kegagalan Adam dan Hawa dan kita keturunannya seringkali juga mengalami kegagalan. Oleh karena itu kita rindu kembali pada rancangan Allah semula.

Keluarga di Surga
Bapa
Anak Roh Kudus

Dalam gambar di atas dijelaskan bahwa ada dua keluarga, yaitu keluarga di Surga dan keluarga di bumi. Sejak awal Tuhan ingin menjadikan keluarga di Surga juga terjadi di bumi seperti dalam doa “Bapa Kami” yang mengatakan: “Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga”. Jika ini di terjemahkan untuk keluarga maka menjadi “Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di keluarga saya seperti di sorga”.

Bagaimana Pancaran Keluarga Surga Terjadi di Bumi?
1. Bapa di Surga itu mengasihi
Anak akan melihat bagaimana karakter seorang ayah, sikap dan cara mendidik dalam keluarga. Ayah harusmemancarkan hati seorang Bapa.

2. Ibu sebagai gambaran dari Roh Kudus
Roh Kudus disebut Penolong (Yohanes 14:16). Sikap karakter Roh Kudus akan terpancar dalam hidup keluarga melalui seorang ibu yaitu sebagai penolong Kejadian 2:18 “TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia”.
Fungsi yang benar dari seorang ibu adalah menolong, menopang, dan mendoakan suaminya. Selain sebagai Penolong, Roh Kudus juga bekerja dalam diri kita sehingga kita dilahirkan kembali. Yohanes 3:5 “Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah”. Sama halnya seorang ibu yang melahirkan (bukan ayah yang melahirkan) hendaknya para ibu memancarkan kebaikan, penolong bagi suami dan anak-anak menjadi contoh teladan dan berkat.

3. Anak harus taat
Yesus disebut Anak Allah. Dikatakan bahwa Yesus taat pada Bapa-Nya bahkan sampai mati di kayu salib. Ia taat. Ia taat dalam seluruh aspek kehidupan-Nya. Keluarga Surga akan terpancar melalui karakter seorang anak yang taat.
Jika ayah, ibu dan anak memiliki pancaran keluarga Surga orang lain akan melihat bahwa keluarga ini adalah keluarga yang diberkati, menjadi contoh dan teladan sehingga orang akan memuliakan Tuhan.
Dalam Alkitab, dicatat bahwa keluarga Yusuf dan Maria menjadi contoh dan teladan yang baik. Dikatakan bahwa Yusuf adalah seorang tulus hati, memancarkan karakter Bapa di Surga, memancarkan bahwa ia adalah seorang suami yang baik. Yusuf membatalkan rencananya untuk menceraikan Maria yang sudah menjadi tunangannya, setelah diperingatkan lewat mimpi. Saat itu, dalam budaya Israel, ketika ada dua orang yang sudah bertunangan sudah dapat dikatakan sebagai suami dan istri, seperti halnya Yusuf dan Maria. Tetapi Yusuf adalah seorang yang taat dan ia melakukan apa yang Tuhan perintahkan melalui mimpi sama halnya dengan Yusuf, Mariapun taat (Lukas 1:38). Yesus sebagai Anak adalah teladan yang baik. Keluarga ini memancarkan keluarga Surga.

Kita tidak dapat menjadikan keluarga hamba Tuhan sebagai patokan/standar keluarga yang bahagia karena manusia masih memiliki kelemahan. Tetapi ikutlah keteladanan Firman sehingga kita tidak akan menjadi lemah.

Mengapa Harus Ada Pemulihan Keluarga
Karena keluarga sudah berdosa dan berada di bawah kutuk.
Kejadian 3:16“Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.”

Bagaimana Supaya Terjadi Pemulihan Keluarga?
Efesus 5:22-23 “22 Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan, 23 karena suami adalah kepala isteri sama seperti Kristus adalah kepala jemaat. Dialah yang menyelamatkan tubuh”.

1. Peranan Keluarga Harus Dipulihkan
– Kecenderungan istri adalah ingin menguasai suami. Kejadian 3:16 “Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.”Kata “berahi”bukan hanya berbicara mengenai seks tetapi juga berarti “mau menguasai”. Tetapi firman katakan bahwa istri harus tunduk kepada suami.
Efesus 5:22“Hai isteri, tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan”.
Efesus 5:24 “Karena itu sebagaimana jemaat tunduk kepada Kristus, demikian jugalah isteri kepada suami dalam segala sesuatu”.

– Kecenderungan suami adalah diktator. Suami cenderung kasar dan selalu ingin berkuasa. Setelah dipulihkan Suami akan mengasihi istri dan anak-anak.

Efesus 5:25 “Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya”

Efesus 5:28 “Demikian juga suami harus mengasihi isterinya sama seperti tubuhnya sendiri: Siapa yang mengasihi isterinya mengasihi dirinya sendiri.”

Efesus 5:33 “Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya”.

2. Kasih Yesus menjadi satu-satunya sumber dalam pemulihan keluarga seperti Kristus mengasihi jemaat demikian hendaknya para suami mengasihi istri dan istri tunduk kepada suami sehingga kasih Kristus yang menyatukan.

3. Hidup dalam pengudusan dan penghormatan atas keluarga

Efesus 5:26-27 “26 untuk menguduskannya, sesudah Ia menyucikannya dengan memandikannya dengan air dan firman, 27 supaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.”

I Tesalonika 4:3-8 “3 Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu, yaitu supaya kamu menjauhi percabulan, 4 supaya kamu masing-masing mengambil seorang perempuan menjadi isterimu sendiri dan hidup di dalam pengudusan dan penghormatan, 5 bukan di dalam keinginan hawa nafsu, seperti yang dibuat oleh orang-orang yang tidak mengenal Allah, 6 dan supaya dalam hal-hal ini orang jangan memperlakukan saudaranya dengan tidak baik atau memperdayakannya. Karena Tuhan adalah pembalas dari semuanya ini, seperti yang telah kami katakan dan tegaskan dahulu kepadamu. 7 Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus. 8 Karena itu siapa yang menolak ini bukanlah menolak manusia, melainkan menolak Allah yang telah memberikan juga Roh-Nya yang kudus kepada kamu”.

Keluaran 20:5 “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku”.

Kolose 3:5-6 “5 Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, 6 semuanya itu mendatangkan murka Allah [atas orang-orang durhaka]”.
4. Pemulihan Hubungan Keluarga dengan Kristus
Kembalike Taman Eden. Taman Eden artinyatitikhadirat Allah atautempatkemuliaan Allah (the spot of presence God)
Matius 18:19-20 “19 Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. 20 Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Jika suami, istri dan anak sepakat meminta kepada Tuhan, maka keluarga akan diberkati, dilindungi dan penuh kemuliaan Tuhan.

Pdt. FilipusWidijanto, S.Th.