This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

MEMBENTUK MENTALITAS YANG TERUJI DAN TERPUJI DENGAN IMAN

GppsPalu -Lukas 22:31-34 “ Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” Jawab Petrus:””Tuhan, aku bersedia masuk penjara dan mati bersama-sama dengan Engkau!” Tetapi Yesus berkata: “Aku berkata kepadamu, Petrus, hari ini ayam tidak akan berkokok, sebelum engkau tiga kali menyangkal, bahwa engkau mengenal Aku.”

Matius 26:31-35 “Maka berkatalah Yesus kepada mereka: “Malam ini kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku. Sebab ada tertulis: Aku akan membunuh gembala dan kawanan domba itu akan tercerai-berai. Akan tetapi sesudah Aku bangkit, Aku akan mendahului kamu ke Galilea.” Petrus menjawab-Nya: “Biarpun mereka semua tergoncang imannya karena Engkau, aku sekali-kali tidak.” Yesus berkata kepadanya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya malam ini, sebelum ayam berkokok, engkau telah menyangkal Aku tiga kali.” Kata Petrus kepada-Nya: “Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau.” Semua murid yang lain pun berkata demikian juga.”

I. PENYEBAB MENTALITAS DAN IMAN TIDAK SEIMBANG
Mentalitas dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah karakter, personalitas, sifat, watak, dan yang terkait dengan itu.
Realita yang terjadi saat ini adalah tidak ada keseimbangan kekuatan mentalitas dan iman dalam kehidupan orang percaya. Fakta yang terjadi saat ini adalah orang-orang dunia membentuk mentalitasnya secara filosofi-filosofi dunia ternyata mempunyai mentalitas yang teruji dan terpuji dari orang yang beriman. Seharusnya hal ini tidak boleh terjadi. Kenyataan ini sangat memprihatinkan jika mentalitas seorang percaya tidak dibangun dengan iman di dalam Kristus, maka ini sangat berbahaya.
Saat ini banyak motivator yang memberikan seminar untuk pembentukan mentalitas tingkat salesman/marketing, tingkat manager, dan tingkat direktur/owner. Motivator tersebut akan berbicara dengan latar belakang imannya, atau supaya bisa diterima oleh semua kalangan maka ajaran dari semua agama dikumpulkan, kemudian diracik dan dibagikan kepada peserta seminar. Dan kita lihat bahwa ternyata hasilnya baik. Banyak orang yang diubah mindset-nya sehingga ia menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah dan menjadi tahu bagaimana mengatur atau me-manage usahanya.
Setiap kali kita membaca Akitab, jangan berpikir bahwa kita hanya sekedar membaca ayat, karena Firman Allah itu hidup dan berkuasa. Apa maksudnya? Firman Allah itu hidup berarti Firman Allah itu hadir dalam bentuk peristiwa-peristiwa hidup sehari-hari. Namun sayang sekali, saat Firman itu hadir dalam realita hidup, banyak orang percaya yang imannya siap namun mentalitasnya hancur. Mengapa dikatakan imannya siap tetapi mentalitasnya hancur? Karena orang percaya tersebut berdoa dan berpuasa tetapi tak ada hasilnya, dan ia kecewa karena Tuhan tidak bertindak apa-apa meskipun ia sudah berdoa dan berpuasa.
Firman Allah hidup berarti Firman bukan hanya sekedar kata-kata. Saat Yesus berkata bahwa iblis meminta untuk menampi Simon seperti gandum, Simon hanya berpikir bahwa perkataan Yesus hanyalah sebatas kata-kata. Namun saat perkataan Yesus hadir dalam bentuk realita, ternyata Simon tidak siap.
Yesus berkata, “Kamu semua akan tergoncang imanmu karena Aku”. Dari sini kita bisa mengetahui bahwa semua realita hidup punya kemampuan untuk menggoncang iman. Tidak tunggu sampai realita besar, namun realita sekecil apapun sudah bisa menggoyahkan iman. Itulah sebabnya terkadang kita menemukan ada orang yang meninggalkan iman hanya karena hal-hal kecil.
Kualitas diri kita saat kita berada di kamar doa harus sama dengan kualitas diri kita saat kita berada di dalam hidup sehari-hari. Kualitas diri kita saat kita berpuasa harusnya sama dengan kualitas diri kita saat kita berbuka puasa. Mengapa tidak sama? Karena kita tidak menggunakan iman kita untuk membentuk mentalitas kita.

II. CARA MEMBENTUK MENTALITAS YANG TERUJI DAN TERPUJI
Filipi 2:5-6 “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan.”

Dalam ayat diatas kita belajar dari Yesus Kristus yang tidak mempertahankan kesetaraan-Nya dengan Allah. Filipi 2:7 “melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.”

Yesus mengosongkan diri-Nya. “Mengosongkan” beda dengan “kosong”. “Kosong” berarti memang tidak ada apa-apa, sedangkan “mengosongkan” berarti ada banyak isinya tetapi dikeluarkan. Apa yang Yesus teladankan ini adalah jawaban dari semua argumen yang selama ini kita lakukan.

Kita bisa merasa senang maupun kesal secara manusia. Yesus pun merasakan demikian sebagai manusia. Namun seperti Yesus, kita harus punya kemampuan untuk mengosongkan diri. Mentalitas harus takluk kepada iman kita sesuai Firman.
Saat Yesus memperingati Simon, Simon tidak menangkap peringatan Tuhan tersebut dengan iman, tetapi dia menangkapnya dengan unsur jiwaninya sehingga ia tersinggung. Umumnya orang yang rohani paling tidak suka disinggung/ “dikorek” rohaninya, berbeda dengan orang yang tidak rohani, umumnya mudah mengakui dosa mereka. Simon yang tersinggung berkata, “Sekalipun murid yang lain tergoncang imannya, aku tidak, dan aku rela mati bersama Engkau.” Tetapi akhirnya, saat Firman Allah hadir dalam bentuk realita hidup yang terjadi dalam kehidupan Simon Petrus, imannya gugur.
Yesus sebenarnya sudah berdoa supaya iman Simon tidak gugur, tetapi mengapa akhirnya iman Simon gugur dan ia menyangkal Yesus? Kita harus memahami bahwa ada bagiannya Tuhan, ada bagiannya kita. Karena itu saat Firman Allah kita baca/dengar, seharusnya yang menangkapnya adalah iman kita sehingga iman kita bisa melakukan Firman tersebut. Dan jangan hanya sekedar memiliki pengalaman hidup tetapi milikilah pengalaman iman sehingga pengalaman itu akan menolong kita untuk memiliki mentalitas yang teruji dan terpuji karena kita melakukan Firman. Dan bukan hanya itu, kita menjadi pribadi yang kokoh karena iman telah membentuk karakter/mentalitas kita.
Filipi 2:8 “Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.”
Yesus taat sampai mati di kayu salib. Inilah mentalitas yang teruji dan terpuji. Kuncinya adalah TAAT! Ketaatan kepada apa kata Firman adalah ciri mentalitas yang teruji dan terpuji. Sampai kapan kita taat? Sampai kita mati. Yesus taat sampai mati di kayu salib. Maka seberat apapun tantangan kita akan tetap setia.

III. KUNCINYA ADALAH KETAATAN
Setelah Yesus berkata bahwa iman Petrus akan tergoncang, harusnya Petrus menangkap hal itu dan saat Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus untuk berdoa, harusnya Petrus menangkap bahwa ada peristiwa besar yang akan menimpa dirinya, maka seharusnya ia berdoa tetapi ia malah tertidur.
Di Getsemani Yesus merasakan kesedihan yang besar, tekanan dan depresi yang dalam sehingga Ia merasa seperti mau mati. Maka Yesus berdoa. Namun berdoa yang bagaimana? Yesus berdoa sampai pembuluh darah-Nya pecah sehingga keluar darah. Mengapa itu bisa terjadi? Karena pengaruh dari tekanan ini terhadap fisik dan psikis Yesus sebagai manusia.
Dari peristiwa Getsemani kita memahami bagaimana mentalitas Yesus. Yesus sempat meminta agar cawan penderitaan itu lalu daripada-Nya, tetapi kemudian Ia berkata, “bukan kehendak-Ku tetapi kehendak-Mu yang jadi”.
Banyak hal-hal dalam hidup kita yang terjadi, secara manusia kita tidak rela menerimanya. Karena itu kita harus membentuk mentalitas kita agar tidak terpuruk, tidak kecewa kepada Tuhan, dan tetap teguh dan tak tergoyahkan dengan 1 kata kunci, KETAATAN. Dan seperti Yesus kita pun berkata, “Bukan kehendakku yang jadi tetapi kehendak-Mu.”

Orang tidak melihat saudara berdoa dan berpuasa, tetapi orang melihat kehidupan saudara setiap hari dalam kehidupan real. Karena itu bentuklah mentalitas kita sehingga orang-orang memuliakan Tuhan.

Filipi 2:9-11 “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!
Realita hidup dalam tahun ini jangan membuat kita menjadi lemah. Jangan membiarkan diri kita dipermain-mainkan oleh realita dan persoalan hidup. Setiap masalah harus tuntas. Iman kita harus bekerja dalam kehidupan nyata bukan hanya di dalam kamar doa.

Pdt. R. F. Martino

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *