This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Category Archives: KOTBAH

TETAPKANLAH LANGKAHMU!

Kita patut mengucap syukur bahwa kita semua masih hidup sampai hari ini dan Tuhan masih memberikan kesempatan anugerah-Nya bagi kita menjalani hidup dan dengan kasih-Nya telah menuntun kita menyelesaikan 2018. Namun tahun 2018 yang baru saja kita lewati itu tidak akan pernah terlupakan khususnya kita semua yang ada di kota Palu karena kita sudah mengalami, merasakan dan melihat sendiri apa yang sudah terjadi atas kota kita dan sekitarnya.
Bagi manusia secara umum, itu adalah trauma yang harus dilupakan, tetapi bagi orang percaya itu bukanlah trauma tetapi kesempatan untuk dapat melihat kedahsyatan Tuhan. Kita tetap dapat bersyukur dan bersukacita karena kita melihat bagaimana kasih Tuhan yang begitu dahsyat sudah menyertai dan memberikan kita kesempatan untuk hidup.
Pesan Tuhanbagi kita di tahun 2019 adalah TETAPKANLAH LANGKAHMU! artinya bahwa ada bagian Tuhan yang sudah disiapkan dan ada bagian kita untuk melangkah sampai mencapai apa yang Tuhan sudah siapkan.

Yosua 1:3 Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.

Alkitab menuliskan bahwa Yosua adalah hamba Musa. Ketika Musa sudah meninggal, Tuhan tidak memilih yang lain. Tuhan justru memilih Yosua yang adalah hamba Musa. Selama kepemimpinan Musa sampai pada akhirnya, kita tahu bagaimana hebat dan banyaknya orang-orang perkasa pada saat itu tetapi mengapa Tuhan tidak memilih mereka? Tuhan justru memilih pembantu Musa. Secara hirarki kehidupan manusia, tidak akan pernah seseorang memberikan perusahaannya atau mewariskan kekayaan kepada pembantunya. Tetapi Tuhan justru melakukan hal ini.
Di dalam kehidupan kita di dunia ada yang namanya strata kehidupan atau tingkat kehidupan (status ekonomi, sosial, dll). Firman Tuhan mengingatkan bahwa kita semua adalah ciptaan yang termulia dari semua ciptaan-Nya dan berharga dimata Tuhan. Tidak perlu melihat keberadaan kita sebagai orang yang tidak mempunyai harta yang berlebihan, derajat kita dan lain sebagainya ataupun pertimbangan-pertimbangan yang lain, karena mata Tuhan tertuju kepada setiap umat-Nya yang sudah ditebus oleh darah Yesus di kayu salib. Oleh karena itu kita perlu menyadari bahwa setiap kita sebagai orang percaya yang sudah ditebus oleh darah Yesus dikatakan oleh firman Tuhan “barangsiapa yang percaya dan menerima Kristus, kepadanya diberi hak menjadi anak-anak Allah. Oleh karena itu tidak ada satu bentuk status atau halangan apapun dalam kehidupan di dunia ini yang bisa menjadi penghalang untuk Tuhan bekerja dan mengangkat kehidupan kita seperti ketika Ia memilih Yosua menggantikan Musa.
Kepemimpinan bukanlah hal yang mudah. Demikian halnya yang terjadi pada Musa dalam menghadapi bangsa yang tegar tengkuk dan sangat menyakiti hati Tuhan. Tuhan harus menghajar mereka begitu rupa tapi karena Ia terikat kepada janji-Nya bahwa Israel adalah umat pilihan, maka Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya.
Kemudian Yosua menggantikan Musa untuk memimpin bangsa ini, mungkinkah mereka akan mendengarkan Yosua yang adalah pembantu Musa? Tetapi Tuhan melakukan seperti itu. Jadi Yosua ditetapkan untuk menjadi pemimpin bagi bangsa Israel. Firman Tuhan mengatakan bahwa tiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakinya akan diberikan kepadanya.

Kita sudah belajar bahwa hidup adalah kesempatan dimana waktu terus berjalan dan terus berganti. Kita yang akan melangkahkan kaki di tahun 2019, tidak tahu apa yang akan terjadi di tahun 2019. Tetapi Tuhan mengingatkan kepada kita agar kita menetapkan langkah kita 2019. Dari mana kita memulainya dan bagaimana kita sebagai orang percaya menjalani dan melangkah di tahun 2019? Kita mulai dari mengenal dan memiliki visi Allah. Ketika Tuhan berpesan dan menetapkan Yosua menggantikan Musa, Tuhan sudah memberikan visi kepada Yosua tentang apa yang harus ia lakukan dan kemana ia harus pergi.
Menurut definisi secara umum, Visi adalah jangkauan melihat kedepan untuk suatu tujuan yang akan dicapai yang sumbernya dari kemampuan orang itu dapat melihat jauh untuk sesuatu yang ia akan capai ke depan. Dalam dunia sekuler, setiap orang yang mau menjadi pemimpin harus menjelaskan tentang visi misi mereka. Visi yang dijelaskan disini berbeda dengan apa yang ada dalam dunia sekuler karena ini berhubungan dengan visi Allah. Visi Allah sumbernya dari Allah, inisiatifnya dari Allah yang diberikan kepada orang percaya yang dipilih-Nya untuk melakukan sampai semuanya tercapai dan tergenapi. Apa yang mau dicapai di depan semuanya berasal dari Allah sendiri.
Kita harus memulai 2019 dengan visi yang dari Allah. Visi Allah tahun 2018 tentang jerih payahmu tidak sia-sia, benar-benar memberkati saya secara pribadi. Setelah sekian puluh tahun menggembalakan, saya melihat di tahun 2018 benih-benih Firman yang ditaburkan itu tidak sia-sia. Firman yang diajarkan lewat pemuridan bertumbuh, berkembang dan berbuah sehingga satupun jemaat tidak ada yang mengalami trauma dengan apa yang sudah terjadi.

5“Seorang pun tidak akan dapat bertahan menghadap engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau”. 6Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, sebab engkaulah yang akan memimpin bangsa ini memiliki negeri yang Kujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka untuk diberikan kepada mereka.7Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, kemanapun engkau pergi. 8Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung. 9Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, Sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, kemanapun engkau pergi.” (Yosua 1:5-9)
Memulai tahun 2019 dengan visi Allah
Apakah visi Allah itu?
Visi Allah adalah gagasan/pikiran/rencana, kehendak Allah ke depan yang diberikan kepada orang percaya yang dipilih-Nya supaya bekerja sama dengan Allah untuk menggenapi rencana-Nya.
Tuhan tahu siapa Yosua. Yosua adalah manusia lahiriah seperti kita. Ada hal-hal yang merupakan faktor jiwani dalam kehidupan manusia yang harus diatasi dan tidak boleh menjadi faktor penghambat terhadap apa yang Tuhan sudah tetapkan.
Yosua 1:4 Dari padang gurun dan gunung Libanon yang sebelah sana itu sampai ke sungai besar, yakni sungai Efrat, seluruh tanah orang Het, sampai ke Laut Besar di sebelah matahari terbenam, semuanya itu akan menjadi daerahmu.
Yosua baru dipanggil menjadi pemimpin tetapi Tuhan sudah menetapkan apa yang akan diberikan kepadanya. Kita belum menjalani 2019 tapi baru menginjak hari pertama 2019 tetapi sesungguhnya Tuhan sudah menetapkan apa yang ada di 2019. Bahkan sebelum kita lahir, Tuhan sudah menetapkan dan menyediakan. Apalagi setelah kita sudah menjadi orang percaya karena itu adalah hak iman yang sudah Tuhan tetapkan bagi umat-Nya. Yang dimaksudkan dengan visi Allah adalah rancangan Allah, kehendak yang Allah berikan kepada orang percaya untuk dapat menjalani apa yang Tuhan sudah sediakan di depan. Visi Allah diperoleh melalui hubungan pribadi kita dengan Tuhan. Sejauh mana hubungan kita dengan Tuhan secara pribadi akan memudahan kita memperoleh visi Allah.
Peristiwa 28 September 2018 menjadi peringatan keras bagi orang yang masih hidup hari ini untuk direnungkan dan bukan untuk menjadi trauma. Kita perlu memiliki hubungan pribadi dengan Tuhan sampai kepada tingkat keintiman dengan Tuhan. Sehingga dimanapun kita berada kita dapat bercakap-cakap dengan Tuhan bahkan dapat membahas masalah bersama dengan Tuhan. Sehingga pemahaman itu bukanlah secara teologis saja tetapi pengalaman iman. Disitu kita baru dapat menikmati bahwa Tuhan maha hadir. Memang kita butuh saat berdua dengan Tuhan tetapi kita juga perlu untuk berinteraksi dengan sesama kita.
Ada banyak cara Allah menyatakan visi-Nya
1. Melalui firmannya
2. Melalui doa
3. Melalui mimpi atau penglihatan
4. Melalui persekutuan di dalam tubuh Kristus

Jadi kita tidak perlu menunggu suara Tuhan secara audible mengenai apa yang Tuhan siapkan bagi kita di tahun 2019. Yeremia 29:19 Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan.
Yang punya harapan adalah manusia, Iman dimulai dari titik pengharapan. Jika tidak ada pengharapan maka tidak ada iman. Jadi kita harus menghadirkan bentuk apa yang kita harapkan di 2019.
Amsal 23:18 Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang.
Tuhan menyediakan masa depannya dan kita menyediakan harapannya. Bagiannya Tuhan adalah menyediakan masa depan dan bagian kita yang menjalani. Peliharalah harapan itu, jaga dan jangan sampai hilang.

Rancangan Allah Bagi Kita
Ulangan 28:12-13 Tuhan akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman. 13Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kau lakukan dengan setia,
Inilah yang Tuhan sediakan dari visi Allah kepada masing-masing pribadi. Tuhan berikan tergantung bagaimana keintiman hubungan kita dengan Tuhan.

Bersiaplah Menjalani Visi Allah
Banyak anak Tuhan lebih siap berdoa daripada menerima jawaban. Karena umumnya umat Tuhan ketika berdoa sudah punya konsep sendiri yang mengatur Tuhan. Itu sebabnya, kita hamba Tuhan ataupun pelayan Tuhan makin berhati-hati dan perlu hikmat untuk membimbing setiap pribadi jemaat untuk memiliki iman yang realistis walaupun kita percaya mujizat. Kita perlu menyadari bahwa iman perlu perbuatan.
Mengapa Tuhan katakan untuk menguatkan hati? Karena hati kita yang ada iman didalamnya, bisa saja goyah dan gentar. Seringkali kita merasa terganggu dengan situasi kondisi saat ini. Yesus adalah manusia yang sama seperti kita di mana ia bisa tawar hati dan gentar. Tawar hati atau hambar bisa disebabkan oleh banyak hal. Oleh karena itu, pribadi kita perlu dibereskan dan dipulihkan.
Tahun 2019, Tuhan sudah menyediakan, Tuhan juga berjanji untuk menyertai kita sampai kesudahannya. Jangan apatis atau pun pesimis, berita apapun jangan sampai membuat iman kita goyah. Ada saat dimana Tuhan membawa kita mengalami mujizat dan ada pula saat dimana Tuhan membiarkan kita untuk mengalami sendiri agar kita cakap dalam menjalani hidup kita.

By : Pdt. R.F Martino

MILIKILAH HIKMAT DAN PENGERTIAN

Banyak orang berpendapat bahwa emas adalah sesuatu yang berharga, tetapi tahukah kita bahwa di dalam hidup ini ada yang jauh lebih berharga daripada emas dan permata yaitu hikmat dan pengertian. Kita sangat membutuhkan hikmat Tuhan karena tanpa hikmat Tuhan, kita tidak akan mampu menjalani hari-hari ini.
Tanpa terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2018. Bagi kita yang tinggal di Palu dan sekitarnya, kita sangat mengalami suka dan duka dalam peristiwa besar yang terjadi beberapa bulan yang lalu. Tetapi kita bersyukur kita masih punya sumber pengharapan, sumber dari segalanya yaitu Yesus Kristus sehingga kita bisa melaluinya. Melalui peristiwa 28 September lalu, sesungguhnya kita diberi kesempatan hidup untuk yang kedua kali dan bagi orang yang berhikmat ia akan menghargai kesempatan yang Tuhan berikan.
Dalam segala aspek kehidupan, kita membutuhkan hikmat. Dalam berumah tangga kita butuh hikmat, untuk menghadapi suami atau pun istri, kita membutuhkan hikmat. Jika tidak ada hikmat maka rumah tangga akan mudah cerai. Orang tua membutuhkan hikmat dalam menghadapi anak-anak, contohnya orang tua dapat memberikan pemahaman yang benar kepada anak yang “kritis” atau anak yang memiliki banyak pertanyaan. Dengan demikian sebagai orang tua kita sangat membutuhkan hikmat agar dapat mengkomunikasikan segala sesuatu sehingga anak dapat memahami. Dalam dunia pekerjaan dan dunia bisnis pun kita membutuhkan hikmat.

Amsal 4:5 Perolehlah hikmat, perolehlah pengertian, jangan lupa, dan jangan menyimpang dari perkataan mulutku.

Kata “perolehlah” adalah kata perintah. Artinya kita diperintahkan sampai kita mendapatkannya. Kita harus bertindak secara aktif, ada usaha dari kita sendiri untuk mendapatkan hikmat tersebut. Dalam arti kata jika belum mendapatkannya sampai saat ini usahakan lah sampai engkau mendapatkannya. Salomo berkata demikian karena ada sesuatu yang luar biasa dari kata hikmat dan pengertian ini. Salomo sangat menekankan hal ini dan juga adalah kerinduan hatinya untuk disampaikan kepada setiap orang yang membaca dan mendengar hal ini.

Amsal 3:13 Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, 14karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas. 15Ia lebih berharga dari pada permata; apapun yang kauinginkan, tidak dapat menyamainya.
Amsal 8:11 Karena hikmat lebih berharga daripada permata, apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya.
Itu sebabnya pada saat Tuhan bertanya kepada Salomo perihal apa yang Salomo kehendaki untuk Tuhan berikan kepadanya, maka respon dari pada Salomo di dalam 1 raja-raja 3, Salomo tidak meminta umur panjang, juga tidak mengharapkan takhta dan kejayaan/popularitas/reputasi yang luar biasa, ia tidak meminta kekayaan dan umur panjang tetapi ia berkata “berikanlah kepadaku HIKMAT dan PENGERTIAN”.

APA ITU HIKMAT?
Alkitab mencatat sebelum dan sesudah Salomo tidak ada seorangpun yang memiliki hikmat yang sama seperti Salomo. Tidak seorang pun manusia di muka bumi ini yang hikmatnya menyamai seperti Salomo. Salomo meminta hal yang terpenting, yang paling berharga dan paling bernilai dalam kehidupannya yaitu hikmat dan pengertian. Itu sebabnya ratu Syeba datang kepada Raja Salomo untuk membuktikan bahwa apa yang ia dengar tentang hikmat raja Salomo adalah benar. Ratu Syeba pun mengakui bahwa Raja Salomo memiliki hikmat yang luar biasa.
Hikmat bukanlah pengetahuan. Hikmat tidak sekedar kepintaran atau kepandaian. Orang yang pandai belum tentu ia berhikmat tetapi orang yang berhikmat sudah tentu dia pandai. Hikmat adalah takut akan Tuhan. Jika dalam 364 hari yang sudah kita lalui, kita berjalan dengan takut akan Tuhan sesungguhnya kita adalah orang yang berhikmat.
Jika pengetahuan diibaratkan sebuah kapal maka hikmat adalah kompasnya. Hikmat merupakan arah dan tujuan yang membuat kita dapat sampai pada tujuan yang tepat dengan cara yang tepat.

APA KATA ALKITAB TENTANG HIKMAT?
Ayub 28:28 tetapi kepada manusia Ia berfirman: Sesungguhnya, takut akan Tuhan, itulah hikmat, dan menjauhi kejahatan itulah akal budi.

Hikmat adalah takut Tuhan. Menjauhi kejahatan adalah akal budi. Dengan hidup takut akan Tuhan dalam keseharian kita, sesungguhnya kita orang yang berhikmat.

APA ITU TAKUT AKAN TUHAN?
Tuhan bukanlah algojo dimana jika kita salah kita akan dicambuk, jika kita tidak mengembalikan perpuluhan, kita akan dicambuk. Dengan kata lain, kita ke gereja karena takut Tuhan cambuk. Jadi takut akan Tuhan bukan rasa ngeri tetapi yang dimaksud takut akan Tuhan adalah:
– Hidup menghormati Tuhan
– Sikap hati merendahkan hati/tunduk kepada Tuhan

TAKUT AKAN TUHAN = MENGHORMATI TUHAN
Berbicara tentang sikap hormat, saya teringat belasan tahun yang lalu ada seorang ibu dari Jemaat kita bercerita suatu saat dia menjumpai anaknya yang masih SD pulang sekolah dengan baju yang kotor belepotan. Ibu ini bertanya kepada anaknya apakah ia berkelahi dengan temannya di sekolah. Si anak pun menjelaskan bahwa dirinya tersinggung karena temannya mengatai bahwa Yesusnya gondrong. Anak ini tidak terima jika Yesusnya diejek, sehingga ia berkelahi dengan temannya tersebut.
Kita seringkali marah kalau Tuhan Yesus diremehkan atau tidak dihormati, tapi tanpa kita sadari seringkali kita juga tidak menghormati Tuhan kita. Banyak anak-anak Tuhan menganggap datang terlambat ibadah adalah hal yang biasa-biasa. Bagi dia, terlambat itu tidak apa-apa, kan masih puji-pujian. Tetapi seringkali dalam hal bisnis kita justru takut untuk datang terlambat. Karena hal ini berhubungan dengan uang/keuntungan. Hal ini membuktikan seringkali kita sebagai orang percaya tidak menghormati Tuhan. Kita lebih menghormati manusia daripada Tuhan. Hal ini seharusnya KONSISTEN bukan hanya saat-saat tertentu tetapi SETIAP SAAT dalam hidup kita.
BAGAIMANA MEMPEROLEH HIKMAT?
Untuk menghormati satu pribadi, maka kita perlu mengenal pribadi itu. Mengenal dan mengetahui adalah dua hal berbeda. Contohnya banyak dari kita mengetahui Jokowi yaitu presiden kita saat ini tetapi kita hanya sebatas mengetahui tanpa mengenal mereka. Kita hanya tahu orang tersebut tetapi kita tidak mengenal.
Selama menjadi orang percaya apakah kita tahu atau mengenal tentang Yesus? Sangat disayangkan jika di dalam kekristenan, kita hanya sekedar tahu bahwa Yesus mati dikayu salib tetapi kita tidak mengenal Pribadinya.

RESPECT atau RESPON?
Semakin kita mengenal pribadi seseorang maka yang akan terjadi adalah 2 kemungkinan yaitu RESPECT atau RESPON. RESPECT/rasa hormat akan terjadi bila kita menemukan, melihat pribadi tersebut memang patut dihormati bukan hanya sekedar kita responi (jabatan, status, otoritas, dll)

1 Timotius 4:12 Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.

Ketika masih sekolah, saya adalah seorang pribadi yang suka bertanya dan saya akan merasa rugi jika sudah duduk berjam-jam tetapi saya tidak mengerti apa yang sudah diajarkan. Pada saat saya sekolah alkitab, saya mempunyai seorang guru yang sangat pintar, dia lulusan S3. Ketika di kelas, ia mempersilahkan bagi siswa yang ingin bertanya . Saat itu saya berfikir bahwa saya akan selesai sekolah Alkitab, jangan sampai setelah saya menjadi hamba Tuhan ada orang yang bertanya kepada saya kemudian saya tidak dapat menjawab atau saya menjawabnya tetapi salah. Akhirnya saya menanyakan sesuatu hal pada guru tersebut tetapi kemudian karena saya merasa belum jelas lalu saya bertanya lagi dan dijawab tetapi karena masih belum jelas, saya bertanya lagi. Guru tersebut kemudian meng-gebrak mejanya dan bertanya balik kepada saya tentang maksud dari pertanyaan saya. Guru tersebut mengira bahwa saya sedang menguji dia. Setelah melihat kejadian itu, respek saya kemudian berkurang. Tetapi tiga hari berikutnya, saya tidak tahu apa yang terjadi sehingga guru tersebut berubah dan ia menjadi baik sekali terhadap saya bahkan sampai saya selesai pendidikan. Jadilah teladan maka orang akan melihat dan respect terhadap kita, orang akan menghormati kita.

Saya begitu terharu karena saya masih bisa merayakan Natal tahun ini. Hidup ini adalah kesempatan dan saya menghargai waktu yang Tuhan berikan kepada saya. Ketika menyaksikan sendiri orang yang saya kasihi meninggal, saya melihat bahwa waktu hidupnya sudah selesai, hal ini membuat saya semakin mau lebih lagi untuk Tuhan dan menghargai waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan. Suatu anugerah Tuhan jika kita masih diberikan kesempatan setelah bencana 28 September. Hati saya sebagai hamba Tuhan sangat sedih saat menyaksikan jemaat yang dikasihi oleh Tuhan masih banyak yang mengabaikan kesempatan itu. Bagi orang yang tidak mengalami peristiwa di Palu mungkin mereka masih bisa mempermainkan waktu tetapi kita yang sudah diberi kesempatan hidup ke dua kali, kita tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan itu. Oleh sebab itu kita membutuhkan hikmat. Karena tanpa hikmat dan pengertian, kita tidak akan pernah sampai kepada tujuan yang tepat.

BAGAIMANA CARA MENGENAL-NYA?
Cara kita mengenal pribadi Allah yaitu melalui firmannya. Yohanes 1:1 Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.
Dengan membaca Firman dan merenungkannya, kita semakin intim dengan pribadi-Nya. Alkitab yang kita baca memang tulisan-tulisan yang ditulis manusia tetapi Firman itu akan jadi rhema dalam hidup kita Karena itu adalah isi hati Allah sendiri. Kita kita tidak akan pernah bisa hidup tanpa Firman. Peristiwa 28 September membawa kita kepada suatu kenyataan bahwa segala sesuatunya adalah fana.
Orang yang hidupnya takut akan Tuhan adalah orang yang berhikmat, karena dalam kesehariannya kehendak Tuhanlah yang ia lakukan. Hikmat tidak perlu kita cari kemana pun juga dengan gelar setinggi apapun. Firman Tuhan adalah pelita bagi kaki dan terang bagi jalan kita. Jangan pernah lupa untuk bersekutu dengan Firman karena Firman adalah pribadi Allah sendiri. Setelah kita mengenal pribadi Allah kita akan merespon dan kita akan tahu kehendak Allah. Dalam menjalani kekristenan, kita tidak melakukannya dengan terpaksa tetapi kita akan konsisten karena kita sudah mengenal pribadi Allah sehingga takut akan Allah ada dalam diri kita. Siapapun kita, apapun jabatan, status dan peranan hidup kita di manapun berada, hiduplah takut akan Tuhan.
Tidak ada seorangpun yang sudah melakukan Firman dengan sempurna tetapi Tuhan menghendaki agar kita terus melakukan kehendak-Nya yaitu melalui firman-Nya. Orang yang hidup takut akan Tuhan adalah orang yang dalam kesehariannya hanya melakukan kehendak Tuhan dan bukan kehendak sendiri.

Orang yang hidupnya takut akan Tuhan = orang yang berhikmat
– Tidak akan disesatkan dan menjadi sesat
– Mempergunakan waktu yang ada
– Selalu dapat menyelesaikan segala bentukpergumulan hidup dengan hasil yang luar biasa melampaui segala akal manusia.

Firman Tuhan yang memampukan kita tetap terus melakukan segala sesuatu untuk kemuliaan Tuhan. Tidak ada sikap merendahkan hati dan merendahkan diri tanpa Hikmat Tuhan. Terus dapatkan hikmat yang dari Tuhan dan jangan pernah lepaskan karena itu yang akan menghantarkan kepada tujuan akhir yaitu berjumpa dengan pribadi Allah. Kita tidak tahu batas umur kita atau kapan akhir waktu kita. Oleh karena itu pergunakanlah waktu yang ada.

1 Petrus 4:2 supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.

Mari kita pergunakan sisa waktu yang ada yang paling berharga dalam menjalani hidup ini untuk kita bisa mencapai kepada tujuan berjumpa dengan Dia. Hiduplah takut akan Tuhan maka hikmat dan pengertian akan menjadi milik kita. Amin

By : Pdt. Lea Novitasari

TEROBOSAN IMAN

Dalam menghadapi tahun depan, setiap kita punya rencana dan target. Sebagai orang percaya yang sudah diberikan kebenaran firman Tuhan, kita memiliki kekuatan yang lebih dari orang lain. Tuhan mau agar kita tetap semangat, tetap kuat didalam kekuatan kuasa Tuhan sehinggga semangat yang ada pada kita dapat terimpartasi kepada orang lain disekitar kita. Kita harus senantiasa mematahkan segala hal yang negatif baik yang ada dipikiran, perasaan maupun tindakan mereka dengan kebenaran firman Tuhan dan kepastian janji Tuhan yang sudah diberikan kepada kita.

Saya percaya melalui gempa yang terjadi dikota Palu, Allah sedang membangunkan dan melawat kita secara pribadi. Jika kita mau merenungkan, melalui kejadian ini kita beroleh berkat-berkat pribadi.
Setelah gempa terjadi, saya mengungsi dan menemani beberapa jemaat yang ada di jalan Kijang selama 1 bulan. Kemudian seorang teman saya yang ada di Jakarta mengirim pesan whatssapp dan bertanya kepada saya apakah saya masih mengungsi? Saya pikir saya sudah keasyikan mengungsi dan saya mulai berpikir untuk menemukan tempat baru untuk ditinggali. Rumah saya di Tendean tidak roboh tetapi dinding retak dan lantai hancur jadi saya merasa was-was untuk tinggal di rumah tersebut. Saya mulai mencari kos-kosan yang cocok untuk ditinggali. Ada 3 orang anak yang masih sekolah tinggal bersama dengan kami saat itu dimana mereka tidak pulang setelah gempa terjadi. Kami mulai mencari kos di beberapa tempat tetapi tidak ada yang berkenan dihati. Ada satu tempat yang kami sudah deal, tiba-tiba si pemilik menawarkan kos yang lain, milik temannya. Saya katakan bahwa saya akan berdoa dulu. Pada akhirnya si pemilik kos mengatakan kepada kami bahwa ada teman mereka yang sudah meminta tempat yang sudah deal tersebut, sehingga pada akhirnya kami tidak jadi untuk menempati kos tersebut. Setelah itu kami pergi ke rumah kami di Tendean dan memikirkan untuk mengatur tempat sedemikian rupa untuk dapat ditinggali. Tetapi kemudian saya mendapatkan kabar bahwa salah seorang jemaat gereja baru saja pindah dari rumah lama ke rumah baru dan mempersilahkan kami untuk melihat kondisi rumah lama dan jika berkenan, kami dipersilahkan untuk tinggal di rumah tersebut. Tuhan sudah menyediakan tempat bagi kami untuk tinggal sehingga 16 rumah yang kami cek sebelumnya tidak ada yang berkenan dihati. Itulah mujizat yang kami alami beberapa waktu lalu.

Dalam doa pagi maupun doa malam di pengungsian, saya selalu katakan satu ayat yaitu apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia. Ternyata ayat tersebut sangat tepat buat saya seperti yang saya alami saat itu.

Kita tidak boleh memiliki semangat kehidupan yang kendor baik secara pribadi maupun pelayanan. Dari segi pelayanan, beberapa ada yang mulai megundurkan diri, ada juga yang minta dipertimbangkan. Saya mengatakan bahwa jangan sampai karena gempa ataupun pergumulan dikehidupan kita, membuat kita jadi lemah dalam hubungan kita secara pribadi maupun pelayanan dengan Tuhan. Tuhan masih memberikan kepercayaan kepada kita untuk melakukan terobosan dalam tindakan iman. Tuhan sudah berikan kita kuasa tetapi jika kita sendiri juga lemah maka tidak akan terjadi apa-apa. Tuhan mau agar kita melakukan apa yang menjadi bagian kita.

Dikatakan bahwa setiap hari Allah memberikan berkat-Nya, selalu baru setiap pagi. Tetapi seringkali kita mengalami masa jenuh dan adakalanya pelayan Tuhan pun mengalami masa-masa seperti ini. Tetapi firman Tuhan tidak dapat dikalahkan dengan argumen apapun ataupun pengaruh dari orang.

Kata “terobos” berarti suatu tindakan aktif untuk menembus/menerobos suatu penghalang, rintangan atau mendobrak barisan musuh atau juga menemukan sesuatu yang baru. Sedangkan “terobosan” adalah hasil dari tindakan aktif yang terus menerus menuju perubahan. Hal ini tidak terjadi secara otomatis dalam diri kita. Tindakan itu adalah bagian kita yaitu melakukan suatu terobosan di dalam iman kita, tidak ada jalan yang tidak bergelombang, tidak ada siang tanpa malam tetapi yang Tuhan janjikan ialah kekuatan. Kita mulai mempelajari hal-hal apa yang akan kita kerjakan melalui tindakan aktif yang terus-menerus menuju perubahan. Demikian halnya didalam pelayanan pasti ada pergumulannya, pasti ada suka dukanya.

Dalam hal apa saja terobosan iman perlu dilakukan?

1. Dalam mengubah prinsip atau konsep hidup kita yang belum sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.
1 Korintus 9:27 Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Dalam merubah orang lain pun kita perlu menyelidiki dalam diri kita sendiri letak-letak kekurangan, kelemahan atau kesalahan yang ada dalam diri kita apakah prinsip yang kita pakai itu sudah sesuai dengan kebenaran Firman.
Tuhan mau bekerja di dalam diri kita, tetapi jika dalam diri kita sudah memiliki firman sendiri maka Tuhan tidak dapat bekerja. Seringkali hal-hal yang kita sukai menghalangi kehendak Tuhan terjadi dalam hidup kita. Karena kita lebih menuruti keinginan kita. Kita susah diubah oleh Allah sehingga apa yang Tuhan inginkan untuk kita lakukan tidak kita lakukan. Atau kita melakukannya tetapi tidak maksimal. Kita mau berdampak dan menjadi berkat bagi orang lain melalui Injil kebenaran, tetapi ketika kita sendiri susah dirubah dalam pola hidup kita, masih terikat dengan cara pandang kita sendiri dan masih menjadi Tuhan atas diri sendiri maka hal ini akan sulit terjadi. Dalam Filipi dikatakan bahwa hendaklah hidup kita berpadanan dengan Injil.

2. Dalam keluarga kita (kebiasaan-kebiasaan/tradisi-tradisi yang bertentangan dengan firman Allah)
Ada banyak kebiasaan juga tradisi-tradisi yang bertentangan dengan firman Allah. Dalam keluarga saya pun masih dijumpai hal-hal seperti itu dalam acara pemberkatan nikah misalnya, masih juga dilakukan acara-acara adat. Inilah yang perlu kita terobos yaitu memperbaiki cara-cara yang keliru. Tradisi-tradisi yang tidak ada dasar kebenaran Firman perlu diterobos. Ketika kita mau ikut Tuhan maka harus segenap hati, tidak setengah-setengah. Firman Tuhan katakan “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu , dengan segenap jiwamu, segenap akal budimu dan segenap kekuatanmu. Dalam satu hal kita melakukan Firman tetapi Firman yang lain kita kaburkan. Hal ini tidak boleh terjadi. Memang tidak mudah untuk dilakukan tetapi dalam Tuhan kita dapat melakukan apa saja.

3. Terobosan melalui doa-doa (syafaat) terhadap orang-orang kafir & orang fasik
Syafaat bukan hanya tentang melipat tangan saja tapi tentang sikap kita, tindakan, peringatan dan nasihat kita kepada mereka. Orang kafir adalah orang yang sama sekali belum percaya kepada Tuhan. Sedangkan orang fasik ialah mereka yang sudah mengetahui Firman tetapi melakukan yang lain. Ini adalah bagian dari tugas kita yang menerobos melalui doa. Adakah gerakan Allah dalam diri kita untuk berdoa bagi kota Palu, kota yang Tuhan berikan kepada kita? Tuhan mau melawat kota Palu melalui kehidupan kita. Doa dapat meruntuhkan benteng-benteng/penghalang/kubu-kubu yang dibangun atas dasar keangkuhan manusia, menawan segala pikiran dan menaklukkannya bagi Kristus. Inilah tindakan-tindakan yang dapat kita kerjakan di dalam alam roh.

(Baca Yehezkiel 3:16-21)

Jadi kita tidak boleh hanya diam diam saja melihat orang yang hidup dalam dosa, karena kita akan diminta pertanggungjawaban dari Tuhan. Ketika orang benar melakukan kecurangan, melakukan kesalahan, berbohong/berdusta atau melakukan hal jahat lainnya dan kita melihatnya tetapi kita mendiamkannya, ketika masanya tiba dan terjadi sesuatu, maka yang bertanggung jawab atas nyawa orang itu adalah kita yang mengetahuinya. Dalam Amsal dikatakan bahwa lebih baik teguran yang nyata-nyata daripada kasih yang tersembunyi. Tuhan mau bekerja melalui kita. Rasa sungkan, malas atau tidak peduli adalah hal-hal yang perlu kita terobos dalam hidup kita. Tuhan sudah mengutus kita untuk menjadi berkat bagi orang lain.

4. Terobosan dalam dunia kerja atau usaha
Dalam hal apa saja yang Tuhan percayakan untuk kita kerjakan, temukan ide-ide baru di dalamnya. Di dalam pelayanan pun seperti itu. Mulai memikirkan untuk hari esok, tahun yang akan datang bagaimana kita bisa membawa suatu hal-hal yang baru di dalam kehidupan kita. Dalam lingkungan tempat tinggal, di tempat kerja, di gereja dan dimana pun kita berada.

Ketika Tuhan Yesus menyembuhkan orang yang lumpuh, orang-orang yang melihat mujizat itu berkata bahwa yang seperti ini belum pernah mereka lihat. Ada hal baru yang Yesus kerjakan. Mujizat atau perkara-perkara besar yang Tuhan lakukan melalui orang-orang percaya selalu membuat orang takjub dan menjadi berkat bagi orang lain. Yosua dan Kaleb adalah 2 orang yang melakukan terobosan Iman. Mereka dikatakan memiliki roh yang berbeda dan mereka mengikut Tuhan dengan sepenuhnya sehingga Tuhan membawa mereka ke negeri yang Tuhan janjikan. Inilah yang Tuhan ingin kerjakan di kota Palu melalui perantaraan kita. Jangan sampai kita bergantung dengan pengalaman atau cara-cara kita sendiri tetapi bersama Tuhan kita akan melihat hal-hal heran yang Tuhan kerjakan.

Di dalam segala hal dalam setiap hari kita harus minta penyertaan Tuhan, kita juga tidak boleh cepat putus asa dan tawar hati. Kitab Amsal mengatakan orang yang tawar hati pada masa kesesakan kecillah kekuatannya. Kitab Mazmur katakan berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.

Jangan menganggap diri sendiri bijak dan jangan bersandar kepada pengertian sendiri tetapi milikilah persekutuan dengan Firman. Jangan takut dan kuatir ketika ada tantangan tetapi tetaplah berdoa. Setiap hari kita harus berada di dalam hadirat Allah, harus berada dalam persekutuan dengan Tuhan. Karena setiap kali kita putus hubungan dengan hadirat Allah, hal ini sudah membuka celah bagi iblis. Bekerjasama dengan Roh Kudus akan menolong dan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Kita berasal dari Allah karena kita telah dijadikan ciptaan yang baru dan kita juga diberi kuasa Allah sehingga roh yang ada dalam diri kita lebih besar dari roh yang ada di dalam dunia. Jangan mau dikalahkan oleh dunia atau oleh kata-kata orang lain tetapi kalahkan dunia dengan firman Tuhan, hadapi segala sesuatu dengan kekuatan yang Allah berikan kepada kita maka kita akan melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar karena tidak ada yang mustahil bagi orang percaya.

By : Pdt Milkha Samaa

SABARLAH DALAM KESESAKAN DAN BERTEKUNLAH DALAM DOA

Roma 12:12 “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”

I. APA RESPON KITA SAAT BERADA DALAM KESESAKAN?
Ada kesukaran yang tidak dapat kita hindari dan harus kita hadapi. Tetapi ada kesukaran yang sebenarnya terjadi atau disebabkan oleh kesalahan diri kita sendiri. Karena kurang bijak maka kesukaran hadir dalam keluarga kita. Karena kurang bijak maka kesukaran hadir dalam usaha/karier kita. Tidak banyak orang yang menyadari banyak kesukaran yang terjadi dalam hidupnya oleh karena kesalahannya sendiri. Mengapa? Karena orang seperti ini memiliki konsep sendiri dalam pikirannya sehingga saat ia mengalami kesukaran maka ia tidak mengoreksi dirinya sendiri tetapi menyalahkan orang lain yang dianggapnya sebagai penyebab kesukaran. Saat ia dinasihati, ia berbalik menasihati orang yang menasihatinya. Sikap seperti ini tidak patut untuk ditiru. Ayat diatas berkata “Sabarlah dalam kesesakan”. Kesesakan itu bukan hanya kesukaran/kesulitan biasa. Kesesakan adalah kesukaran yang sangat hebat, yang sangat berat, dan tragis sehingga membuat orang bisa mengalami depresi. Orang yang mengalami kesesakan ingin segera lepas dari kesesakannya. Dan orang-orang rohani akan segera “menyerbu” sorga dengan doa-doa. Namun Allah memerintahkan agar kita “sabar dalam kesesakan”. Umumnya memang orang akan memberi kata-kata penghiburan, “Sabar, ya” kepada sesamanya yang sedang mengalami kesesakan. Namun kata-kata itu tak lebih dari sebuah kalimat etis yang tidak menyelesaikan masalah. Saat Tuhan berkata, “Sabarlah dalam kesesakan”, itu seakan berarti agar kita lebih lama “menikmati” kesesakan tersebut. Ini perintah Tuhan yang secara logika tidak masuk akal. Yang memotori kehidupan kita adalah faktor jiwani yang terdiri dari pikiran, perasaan, dan kehendak dimana 3 bagian ini berhubungan satu sama lain. Sabar ada di dalam perasaan/emosi kita, yang kemudian berhubungan dengan pikiran dan kehendak kita. Ketika ada yang menyakiti, memfitnah atau memaki, apakah kita bisa bersabar? Apakah pikiran kita tidak terganggu? Sesungguhnya saat Tuhan memerintahkan kita untuk bersabar, itu bukan hanya tentang menunda atau memperpanjang waktu, tetapi ada nilai rohani di dalamnya!

II. APA NILAI ROHANI DI DALAM PERINTAH “SABARLAH DALAM KESESAKAN”?
Nilai Ilahi di dalam bersabar yaitu supaya manusia rohani mengambil alih untuk menguasai tubuh jasmani yang selama ini dikuasai oleh unsur jiwani. Bersabar di dalam kesesakan akan melatih dan membentuk diri kita untuk menaklukkan kehendak jiwani kepada kehendak Roh yang isinya adalah firman Tuhan. Jadi di dalam kesabaran ada nilai ilahi yang berkaitan dengan pembentukan diri. Sabar dalam kesesakan juga merupakan salah satu tindakan iman untuk tidak melakukan dosa batin dan dosa tindakan. Dimana kita menahan diri untuk tidak membalas saat disakiti dan tidak membiarkan manusia lahiriah untuk meluap/menguasai diri kita melainkan menuruti kehendak Allah dan Firman-Nya.

Filipi 1:29 “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia”

Firman Tuhan mengajarkan bahwa kita akan dibawa bukan hanya masuk ke dalam pengalaman hidup tetapi pengalaman iman yang namanya: “menderita demi Kristus”. Suka dan duka seperti saudara kembar yang pasti hadir dalam kehidupan manusia sebagai akibat dari dosa yang masuk dalam hidup manusia sejak zaman manusia pertama. Untuk itu Tuhan mengajarkan kita agar selalu bersukacita.

1 Petrus 4:1 “Jadi, karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamu pun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, — karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa”

Ketika seseorang tidak bisa dibentuk oleh Tuhan dan tidak mau di-cover oleh tudung otoritas maka Iblis akan menggocoh tubuhnya. Mengapa tubuhnya perlu digocoh? Agar ia berhenti berbuat dosa. Bagi beberapa orang, saat dalam kesesakan dan unsur jiwani menjadi tak berdaya-lah ia berbalik kepada Tuhan. Ada wanita yang mengalami sariawan agar ia berhenti bergosip. Ada juga kisah nyata seorang suami yang sering dinas keluar kota namun diluar kota ia justru memesan kamar hotel beserta wanita untuk “menemaninya”. Ternyata suatu ketika saat berduaan dengan seorang wanita, suami itu menjadi “tak berdaya”. Ternyata pada saat yang sama istrinya sedang bersabar dan berdoa untuk suaminya. Karena sang suami menjadi “tak berdaya”, disitulah menjadi titik balik pertobatannya. Sabar dalam kesesakan sesungguhnya untuk melatih ketahanan iman dan mental untuk bisa kita nikmati hasilnya pada akhirnya.

III. BAGAIMANA CARA BERSABAR DALAM KESESAKAN?
1. Cara untuk bersabar dalam kesesakan adalah rendahkan hati dan diri dihadapan Tuhan dan berdoalah. Karena itu kalimat selanjutnya setelah “sabarlah dalam kesesakan” adalah “bertekunlah di dalam doa”. Tekun nilainya lebih tinggi daripada rajin. Masuk ke dalam hadirat Tuhan melalui doa dan pujian penyembahan. Di dalam hadirat Tuhan kita bisa melampiaskan gejolak emosional dari unsur jiwani kita, lalu iman kita bangkit dan berharap kepada Tuhan. Setelah kita mendapatkan sesuatu di hadirat Tuhan, hal itu harus kita gunakan di alam nyata. Hubungan dengan Tuhan harus nampak dalam kehidupan horizontal. Jadi jika di dalam kamar doa kita bisa bersabar, maka kesabaran itu harus kita pakai di dunia nyata. Bagaimana dengan cara kita berbicara saat kita dalam kesesakan? Masakkan orang dunia lebih etis berbicara daripada kita?

2. Kita bisa membaca Alkitab, khususnya Mazmur. Banyak sekali Mazmur yang ditulis saat pemazmur berada di dalam kesesakan, yang dapat menjadi berkat bagi kita

Mazmur 81:7-8 “Aku telah mengangkat beban dari bahunya, tangannya telah bebas dari keranjang pikulan; dalam kesesakan engkau berseru, maka Aku meluputkan engkau; Aku menjawab engkau dalam persembunyian guntur, Aku telah menguji engkau dekat air Meriba. Sela”

Dalam ayat ini Tuhan berjanji bahwa Ia akan menjawab kita di dalam kesesakan kita, mengangkat beban dari bahu kita, serta meluputkan kita.

3. Kita harus belajar menyerahkan dan mempercayakan hidup kita kepada Tuhan. Karena pada saat kita menyembah mengangkat tangan, Tuhan akan turun tangan; pada saat kita bersabar, Tuhan yang akan bertindak. Persoalan yang tidak bisa terselesaikan dengan kekuatan kita, begitu mudahnya Tuhan selesaikan dengan cara yang tak terduga.
Kita harus memahami bahwa Tuhan sangat mengasihi kita. Ayam dan sapi yang mati ada harganya, tetapi orang yang mati tidak ada nilainya di hadapan manusia. Namun Tuhan berkata bahwa “Berharga di mata Tuhan kematian orang yang dikasihi-Nya.” Maka kita akhirnya memahami bahwa: Jika Tuhan menolong kita, itu bukan karena beratnya/besarnya persoalan kita, melainkan karena kita adalah anak yang dikasihi-Nya!

By : Pdt. R. F. Martino

 

MELATIH DIRI MENRUH HARAPAN KEPADA TUHAN

Roma 12:12 “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”

1 Petrus 1:21 “Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.”

I. APAKAH KITA MEMILIKI PENGHARAPAN?

Banyak orang yang hanya sekedar menjalani rutinitas hidup: bangun tidur, beraktivitas, dan kembali tidur-tanpa memiliki tujuan dan harapan. Maka hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan seterusnya berlalu tanpa ada sesuatu yang ia capai. Orang yang tidak memiliki tujuan/harapan akan menjadi orang yang tidak bersemangat menjalani hidup. Pada akhirnya orang seperti ini akan menjadi orang yang tidak berguna baik bagi dirinya sendiri, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negaranya.

Mengapa ada orang-orang yang tidak memiliki pengharapan?
1. Memang ada orang yang gaya hidupnya seperti itu karena tidak pernah diajarkan. Kita mungkin menemukan orang-orang seperti ini:
– Suami/istri yang hanya duduk-duduk di warung kopi atau meja judi untuk menghabiskan waktu.
– Pemuda/remaja yang hanya duduk-duduk di deker-deker dan sibuk dengan urusan yang tak berguna.

2. Orang yang kehilangan pengharapan / putus pengharapan karena tidak mempunyai dasar pengharapan. Dalam menghadapi masalah pekerjaan, rumah tangga, kesehatan, dsbnya mengakibatkan banyak orang yang kehilangan harapan. Saat bencana di Palu terjadi banyak orang yang kehilangan anggota keluarga, pekerjaan, harta benda, juga mengalami sakit dan cacat. Namun kita yang selamat dari bencana patutlah bersyukur. Selama kita masih hidup dan sehat, semua benda materi masih bisa dicari asal kita tidak malas bekerja.

II. SIAPAKAH DASAR PENGHARAPAN KITA?

Orang yang berpengharapan pasti memiliki dasar pengharapan. Siapakah/apakah yang menjadi dasar pengharapan kita? Alkitab berkata bahwa Kristus Yesus adalah dasar pengharapan kita (1 Tim 1:1).

Sudahkah Tuhan menjadi dasar pengharapan kita? Ataukah kita seperti kebanyakan orang yang menjadikan orang lain sebagai dasar pengharapannya karena orang itu memiliki kekuatan secara finansial, kekuasaan, kemampuan, dll. Akhirnya pengharapan kita bergeser kepada manusia. Secara rohani ini sangat berbahaya!

Jika kita menjadikan seseorang/sesuatu sebagai dasar pengharapan kita, maka kita akan mudah kehilangan pengharapan. Banyak kita jumpai orang-orang yang tidak menemukan dasar pengharapan atau kehilangan pengharapan sehingga mereka putus asa. Dan puncaknya adalah mereka bunuh diri. Akhirnya kita menemukan bahwa penderitaan tidak selamanya dalam bentuk finansial. Kalau penderitaan hanya dalam bentuk finansial, maka tidak ada orang-orang ternama dan kaya yang bunuh diri.

Penyebab seseorang kehilangan pengharapan adalah karena tidak punya dasar untuk berharap. Maka kita harus terbiasa menaruh pengharapan kita kepada Tuhan. Menaruh pengharapan kita kepada Tuhan bukan hanya didalam doa, namun harus dinyatakan didalam kehidupan nyata.

Saat kita melayani Tuhan, seharusnya itu karena kita mempunyai pengharapan kepada Tuhan. Begitupun pengharapan kita akan keselamatan melalui salib Kristus. Kita percaya akan salib Kristus sekalipun kita tidak melihatnya secara langsung.

Ada juga orang-orang yang beralih pengharapannya. Bukan karena tidak ada dasar baginya untuk berharap, namun karena ia melupakan Tuhan! Ini biasanya terjadi pada orang-orang yang hidup makmur. Ia merasa tidak membutuhkan Tuhan lagi karena semua sudah ia miliki, semua yang ia harapkan sudah ia peroleh. Apakah dasar pengharapan kita telah beralih?

III. SUDAHKAH KITA MELATIH DIRI MENARUH PENGHARAPAN KEPADA TUHAN SETIAP HARI?

1 Petrus 1:13 “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan LETAKKANLAH PENGHARAPANMU SELURUHNYA atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.”

Roma 15:13 “Semoga ALLAH, SUMBER PENGHARAPAN, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.”

Sadarkah kita bahwa hidup kita sehari-hari digerakkan oleh pengharapan kita yaitu apa yang hendak kita tuju dan kita hasilkan?

Dalam surat Yakobus, ada perumpamaan orang yang memiliki perencanaan yang sangat baik:
– Ia hendak berangkat ke kota anu
– Ia akan berdagang
– Ia menganalisa bahwa selama 1 tahun ia akan mendapat untung
Ini merupakan pemikiran yang brilian. Ia sudah melakukan survey terhadap market di kota tujuan, juga survey terhadap produk yang akan dijual. Ini hal yang sangat baik. Namun sayangnya ia tidak melibatkan Tuhan dalam perencanaannya sehingga Tuhan menegur bahwa hidup orang itu hanyalah seperti uap yang kelihatan sebentar lalu lenyap. Tetapi sayangnya banyak orang percaya yang hidup terbalik dari perumpamaan diatas, yaitu hanya berdoa saja namun tidak pernah melakukan survey dan perencanaan, akhirnya usahanya tidak bertahan lama. Padahal kedua-duanya perlu: mengandalkan Tuhan dan melakukan perencanaan.

Rutinitas sebenarnya adalah hal yang baik supaya mekanisme manajemen berjalan dengan baik, apalagi jika manajemen kita sudah terformat dengan baku. Ayat diatas berkata: “Siapkanlah akal budimu”. Berarti “The Power of Mind” memang perlu dan harus dipakai dalam urusan manajemen. Meskipun demikian, “The Power of Mind” saja tidak cukup, harus ada “The Power of Faith”. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan (Ibr 11:1) atau dengan kata lain: “Iman dimulai dari setitik pengharapan”.

Pengharapan adalah apa yang kita ingin untuk capai dan miliki. Karena itu latih diri kita untuk memiliki pengharapan. Apa pekerjaan kita? Apa pengharapan dalam pekerjaan kita? Jangan hanya berharap agar pekerjaan kita “lebih baik” dari sebelumnya – ini tidak jelas. Pengharapan kita harus konkrit.

Contoh pengharapan dalam bisnis:
– Kita berdoa “Tuhan berkati saya”. Ini hanya sebatas ucapan doa namun tidak ada pengharapan didalamnya.
– Kita berdoa “Tuhan saya minta omset Rp ….. hari ini”. Ini adalah pengharapan yang konkrit! Maka sepanjang hari kita berpengharapan untuk mengejar omset seperti yang kita doakan.

Karena itu Alkitab mengajarkan agar kita “meletakkan pengharapanmu seluruhnya kepada Tuhan”. Ini adalah kata kerja aktif. Jadi kita-lah yang harus aktif untuk menaruh pengharapan kepada Tuhan. Begitupun dalam aspek lainnya.

Pengharapan yang memiliki dasar adalah pengharapan yang ada di dalam Alkitab. Jika manusia menjadi dasar pengharapan kita, maka kita akan mengandalkan manusia. Namun jika pengharapan kita tertuju kepada Tuhan, maka kita akan mengandalkan Tuhan. Sekecil apapun yang kita kerjakan, maka kita akan terus berharap kepada Tuhan. Karena itu, bangkitlah dengan pengharapan karena Yesus adalah sumber pengharapan kita!

IV. APA AKIBATNYA JIKA KITA TIDAK TERBIASA MELATIH DIRI HIDUP DALAM PENGHARAPAN KEPADA TUHAN?

Roma 5:1-4 “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”

Jika kita tidak mau melatih diri menghadirkan pengharapan dan menaruhnya kepada Tuhan maka kita akan mengalami tekanan dan sengsara supaya kita belajar berharap kepada Tuhan. Jika kita memahami hal ini, maka jangan tunggu sengsara baru berharap kepada Tuhan.

Setiap hari saat bangun tidur, jangan hanya sekedar bangun tanpa pengharapan dan memakai bahasa rohani “mengalir saja”. Tetapi langsung taruh pengharapan kepada Tuhan! Maka tidak ada lagi wajah yang murung tetapi wajah yang bersukacita. Mengapa? Karena pengharapan membuat kita bisa hidup bersukacita.

By : Pdt. R. F. Martino

HIDUP YANG MENGANDALKAN TUHAN (2)

Yeremia17:7-8 7 Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! 8 Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Kolose 2:6-7 6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. 7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

Pendahuluan
Minggu yang sudah dijelaskan hal-hal praktis mengenai apa yang harus kita lakukan dalam mengandalkan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa petunjuk praktis sudah diberikan dan juga telah dijelaskan apa sesungguhnya pengertian mengandalkan Tuhan.

Apa yang terjadi ketika ayat yang digaris bawahi berikut dihilangkan: Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Hal ini akan membuat orang menjadi ekstrim karena bisa saja orang tersebut memahami makna mengandalkan Tuhan berarti menjadi pribadi yang pasif, pesimis dan menyerah pada nasib. Karena arti menyerah pada nasib dan menyerah pada Tuhan sangat tipis perbedaannya, tergantung dari pemahaman orang tersebut. Jika kita salah memahami hal ini maka kita akan salah bersikap dan salah bertindak.

Tapi dalam ayat tersebut tidak meghilangkan kalimat ini: “…yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air…” Ini menunjukkan ada pergerakan dan aktifitas dari pohon itu, karena pohon itu hidup.
Akibat ada pergerakan dari pohon itu maka hasilnya adalah daun pohon itu tetap hijau dan tetap berbuah.
Jadi hal ini menunjukkan bahwa ada bagian yang harus kita kerjakan dan tidak boleh tinggal diam.
Mengandalkan Tuhan dimulai dari sikap batin. Pemahaman kita tentang mengandalkan Tuhan secara iman akan menghasilkan sikap iman.

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!”

Dalam kamus, kita akan mendapatkan bahwa “mengandalkan” tidak dapat dipisahkan dengan “mengharapkan”. Harapan berarti suatu keinginan yang mau dicapai.
Mengandalkan berarti mempercayakan, menggantungkan, mengunggulkan, menyandarkan. Contohnya: orang yang pintar akan mengandalkan kepintarannya, orang kaya akan mengandalkan harta kekayaannya, dll.
Jadi jika kita adalah orang yang mengandalkan Tuhan berarti kita adalah pribadi yang menaruh semua pengharapan kita kepada Tuhan, tidak boleh bercabang lagi. Kita tidak bisa mengatakan bahwa kita mengandalkan Tuhan tapi sikap hati dan sikap hidup kita berbeda.

Mengapa Tuhan menetapkan bahwa setiap orang percaya dalam hal mengandalkan dan mengharapkan suatu tidak boleh ditaruh pada manusia dan dalam bentuk kekuatan apapun? Karena itu akan menghancurkan iman percayanya, menghancurkan harga dirinya, dan bisa-bisa ia menjual harga dirinya semurah-murahnya. Dirinya tidak ada nilainya, karena mental berharap kepada manusia. Itu akan merubah seluruh eksistensi dirinya. Sehingga pergaulannya-pun tidak akan dengan orang yang “biasa-biasa” saja, supaya ia bisa kebagian juga. Ini berbahaya, karena ada tertulis bahwa Alah adalah Allah yang cemburu. Tanpa disadari kita sudah menghambakan diri pada manusia dan akan melakukan apa saja yang diperintahkan.
Ini tidak boleh terjadi pada orang yang sudah lahir baru, karena kita sudah punya iman untuk menikmati dan mengalami kekuatan kuat kuasa Tuhan secara nyata dalam kehidupan kita.

Ibrani 11:1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

Kita harus menikmati bagaimana iman kita punya kemampuan, bisa menggerakkan hati Tuhan dan melakukan sesuatu dan menghadirkan yang tidak ada menjadi ada. Ini tidak ada urusannya dengan manusia
Kita sudah belajar pada minggu yang lalu bahwa kita tidak boleh tinggal diam dengan situasi dan kondisi yang ada. Akar dari pohon itu merambatkan akarnya ke tepi air, ada pergerakan ada aktifitas dari pohon itu karena pohon itu hidup. Begitupula dengan kita semua, pasca bencana kita semua masih diberikan kesempatan untuk hidup, itu berarti kita harus bisa bergerak seperti akar pohon itu. Bergerak berarti tidak boleh tinggal diam, ini juga akan menolong segala bentuk trauma.

Tuhan bisa bekerja melalui orang-orang yang ada di sekitar kita dan itu bagian anugrah Tuhan bagi orang-orang tersebut. Tetapi dikatakan disini orang yang mengandalkan Tuhan adalah orang yang menaruh harapannya kepada Tuhan ia akan menaruh harapannya pada Tuhan bukan pada manusia.

Kolose 2:6 Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia.
Hidup kita harus tetap di dalam Tuhan bukan pada orang lain, bukan pada andalan-andalan lahiriah yang ada pada kita (hikmat, akal budi, kebijaksnaan, kepintaran, kekuasaan, kekuatan, kekayaan, dll)

Kolose 2:7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.

Jika kita sudah lahir baru di dalam Kristus tindak lanjutnya adalah kita harus brakar di dalam Dia. Itu sebabnya ada pemuridan (belajar firman Tuhan), supaya orang percaya itu berakar.
Kata berakar bukan hanya punya akar. Ketika belajar ilmu tumbuh-tumbuhan kita akan mempelajari apa fungsi akar. Dalam Yeremia 17:8 dijelaskan bahwa akar bukan hanya untuk menguatkan berdirinya pohon tapi yang paling utama adalah akar itu merambat ke dalam mencari makan.

Markus 4:16 16 Demikian juga yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu, ialah orang-orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira ,17 tetapi mereka tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila kemudian datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, mereka segera murtad.

Banyak orang yang menerima dan menyambut firman dengan gembira tapi karena firman itu tidak berakar, maka orang itu segera kecewa/murtad.

Tuhan juga tidak hanya bicara tentang tanaman, tapi Tuhan juga memperjelas dalam Kolose 2:7 Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia,

I Korintus 3:10-11 10 Sesuai dengan kasih karunia Allah, yang dianugerahkan kepadaku, aku sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memperhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya. 11 Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus.

Tidak ada orang yang bisa mengukur iman kita, tapi hal itu akan nampak apakah rohani kita tumbuh subur dan apakah iman kita teguh atau tidak, semuanya tergantung kita. Seperti sebatang pohon yang mempunyai akar yang kuat, akan tetap berdiri kokoh dan tidak tumbang ketika ada diterpa angin/badai.

“Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN.”
Mengandalkan Tuhan dan menaruh pengharapan pada Tuhan adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan dalam bukti riilnya dan dalam pengertiannya.

Kita akan terkejut ketika kita baca dalam Kitab Ayub, kita menemukan bagaimana Tuhan menghancurkan harapan-harapan manusia.

Ayub 8:13-14 13 Demikianlah pengalaman semua orang yang melupakan Allah; maka lenyaplah harapan orang fasik, 14 yang andalannya seperti benang laba-laba, kepercayaannya seperti sarang laba-laba.

Pengharapan manusia seperti sarang laba-laba, sebentar saja bisa lenyap.
Coba kita renungkan ada orang-orang yang ada didunia yang seolah-olah tidak akan pernah tumbang? Atau ada orang-orang yang mungkin kita kenal/tahu bahwa hidupnya sangat sombong, tapi Tuhan tidak melakukan apa-apa. Tuhan berkata dalam Amsal 24:1 Jangan iri kepada orang jahat, jangan ingin bergaul dengan mereka.
Itu semua bukan urusan kita, ketahuilah bahwa andalan mereka seperti benang laba-laba. Dan bagaimana Tuhan menghancurkan pengharapan manusia supaya berharap kepada-Nya?

Batu yang keras ditetes dengan air, tanpa sadar lama-kelamaan batu itu akan terbelah dimulai dengan lobang. Begitulah cara Tuhan menghancurkan harapan andalan manusia.
I Timotius 1:1 Dari Paulus, rasul Kristus Yesus menurut perintah Allah, Juruselamat kita, dan Kristus Yesus, dasar pengharapan kita,
Dasar pengharapan kita ada Kristus Yesus, berarti berharap dan menaruh harap kita kepada Tuhan ada dasarnya. Sama seperti seorang kaya yang mengandalkan kekayaannya, orang pintar mengandalkan kepintarannya, orang berkuasa mengandalkan kekuasaannya.

Jadi sekarang, setelah kita menerima Yesus, semua yang kita harapkan untuk menjadi kenyataan harus kita taruh kepada Tuhan, karena sudah ada jaminan dan yang menjadi dasarnya adalah Kristus.
Taruh pengharapan itu kepada Kristus, andalkanlah Dia!

Mengandalkan Tuhan berarti memang tidak boleh dengan kekuatan/kemauan diri sendiri, tetapi tetap ora et labora, berdoa dan bekerja. Jadi kalau sudah berdoa, bekerjalah.
Artinya melibatkan Tuhan dalam segala apa yang kita kerjakan. Jadi hati kita selalu ada kontak dengan Tuhan, sambil melakukan segala sesuatu, iman kita juga selalu kepada Tuhan.

Ibrani 6:19 Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita, yang telah dilabuhkan sampai ke belakang tabir,

Pengharapan itu adalah sauh/jangkar yang kuat, semua kapal mempunyai itu, ini sangat menolong kapal berlabuh sehingga tetap pada tempatnya.
Ada sesuatu kekuatan dahsyat yang akan kita alami hasilnya disaat kita mulai menaruh harapan kita pada Tuhan. Karena Tuhan bisa melakukan segala perkara.

Ada bukti nyata dari sikap hidup kita, bukan hanya pengakuan bahwa kita mengandalkan Tuhan, tapi perilaku kehidupan mengandalkan yang lain. Sangat jelas, ketika kita membuat pengakuan iman bahwa kita mengandalkan Tuhan, maka sikap hidup kita sehari-hari selalu menaruh pengharapan kita kepada Tuhan.
Hasilnya adalah “…tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

By : Pdt. RF. Martino