This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Daily Archives: 10/11/2019

PELIHARALAH KASIH PERSAUDARAAN (2)

Ibrani 13:1 “Peliharalah kasih persaudaraan!”

Setiap orang percaya lahir dari benih Agape dan setiap orang percaya harus mempraktekkan Agape. Namun kita tidak mungkin bisa mempraktekkan Agape jika kasih persaudaraan (filia) saja tidak bisa kita lakukan.

A. PERSATUAN DAN KESATUAN
Persatuan dan kesatuan adalah pola Allah.

1. Kejadian 1:26 “Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” ”

Kata “Kita” pada ayat diatas bermakna bahwa Allah kita adalah Allah Tritunggal yaitu Bapa, Putra, Roh Kudus. Jadi persatuan dan kesatuan adalah pola Allah.

Namun kita perlu berhati-hati karena di akhir zaman ini muncul angin-angin pengajaran yang mau menggoyahkan doktrin Tritunggal, yaitu pengajaran “Jesus Only” dan pengajaran Dwi Tunggal. Karena itu penting bagi kita untuk mengikuti pemuridan.

2. Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan kemudian mempersatukan mereka sehingga keduanya menjadi satu daging dan menghasilkan keturunan.

3. Doa didalam kesatuan bukan hanya didengar tetapi dikabulkan Tuhan.
Matius 18:19 “Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apa pun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga.”

4. Tuhan hadir di tengah-tengah umat-Nya yang berada dalam kesatuan.
Matius 18:20 “Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”

5. Kesatuan dapat menghasilkan sesuatu yang sangat besar. Saat manusia masih satu bahasa, mereka mendirikan menara Babel yang tingginya sampai ke langit. Ini luar biasa. Namun Tuhan mengacaukan bahasa mereka.

Iblis tidak takut saat orang percaya banyak berdoa dan berpuasa. Iblis takut jika gereja bersatu. Iblis memahami dengan baik seperti peristiwa menara babel, bahwa jika komunikasi terganggu maka kesatuan tidak mungkin terjadi. Maka iblis pun berusaha menghancurkan komunikasi agar tidak terjadi kesatuan.

Matius 5:23-24 “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.”

Ayat diatas mengajarkan bahwa penyelesaian konflik lebih baik daripada melayani. Namun banyak jemaat yang bisa tenang-tenang beribadah padahal sedang berkonflik dengan sesamanya. Begitupun pelayan Tuhan yang bisa tenang-tenang melayani padahal sedang bermasalah dengan orang lain. Bahkan ada hamba Tuhan yang didisiplinkan dari pelayanan oleh organisasi gereja supaya ia dapat menyelesaikan konflik, namun ia justru mencari pelayanan diluar gerejanya.

Matius 5:25-26 “Segeralah berdamai dengan lawanmu selama engkau bersama-sama dengan dia di tengah jalan, supaya lawanmu itu jangan menyerahkan engkau kepada hakim dan hakim itu menyerahkan engkau kepada pembantunya dan engkau dilemparkan ke dalam penjara. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya engkau tidak akan keluar dari sana, sebelum engkau membayar hutangmu sampai lunas.”

Ayat diatas mengingatkan kita bahwa penyelesaian konflik bisa saja diselesaikan secara hukum, dan ini tidak berdosa.

B. CARA MEMBANGUN KESATUAN

1. Memahami Siapa Kita/identitas kita.

Kita adalah saudara di dalam Tuhan karena memiliki satu Bapa yaitu Allah Bapa.
Maleakhi 2:10 “Bukankah kita sekalian mempunyai satu bapa? Bukankah satu Allah menciptakan kita? Lalu mengapa kita berkhianat satu sama lain dan dengan demikian menajiskan perjanjian nenek moyang kita?”

Jika kita tidak memahami hal ini maka kita akan mudah menghakimi orang lain.
Matius 7:1-5 “Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi.
Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Bagaimanakah engkau dapat berkata kepada saudaramu: Biarlah aku mengeluarkan selumbar itu dari matamu, padahal ada balok di dalam matamu.
Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”

Ayat diatas mengajarkan bahwa kita tidak usah mengurus kekurangan/urusan orang lain, karena itu urusannya sendiri. Banyak orang yang hanya pandai melihat kekurangan orang lain (melihat selumbar di mata saudaranya) tetapi tidak pandai melihat kekurangan dirinya sendiri (balok di matanya sendiri). Karena itu orang ini akan suka mengoreksi orang lain namun ia tidak mengoreksi diri sendiri. Uruslah kekurangan diri kita sendiri.

2. Saling mengasihi

Roma 12:9-10 “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.”

Dalam ayat diatas kita diajari nilai-nilai etis. Untuk itu jangan jadi orang yang vertikalis (kelihatannya sangat rohani tetapi mengabaikan nilai-nilai etis dengan sesama). Camkanlah: jangan sampai nilai-nilai rohani menjadi alasan untuk tidak memiliki nilai-nilai etis. Mengapa? Karena sesungguhnya nilai-nilai ilahi yang kita terima bertujuan supaya kita memiliki sifat-sifat ilahi dan dipraktekkan di alam nyata sebagai nilai-nilai etis.

Pura-pura mengasihi itu mudah dilakukan sehingga banyak orang yang melakukannya. Padahal Tuhan memperingatkan kita melalui ayat diatas agar jangan mengaishi hanya untuk diperagakan.

3. Perlu selalu introspeksi diri. Jangan menganggap diri terlalu berarti.
Galatia 6:3-4 “Sebab kalau seorang menyangka, bahwa ia berarti, padahal ia sama sekali tidak berarti, ia menipu dirinya sendiri. Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.”

4. Kita perlu menyenangkan semua orang tanpa kompromi dengan dosa.
Jangan menyenangkan sesama karena ada udang dibalik batu/ada maunya. Kita harus mengasihi tanpa ada keinginan terselubung.
1 Korintus 10:32 “Janganlah kamu menimbulkan syak dalam hati orang, baik orang Yahudi atau orang Yunani, maupun Jemaat Allah.”

5. Memikirkan kepentingan orang lain.
Filipi 2:3-4 “dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.”

By : Pdt. R. F. Martino