Daily Archives: 09/06/2019
MENJALANI HIDUP BARU BERSAMA ROH KUDUS
Roma 8:15-16 “Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!”
Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah.”
Hari ini adalah peringatan hari Pentakosta yaitu hari pencurahan Roh Kudus, yang merupakan hari ke-50 setelah kebangkitan Tuhan Yesus.
Sudah lama gereja hanya menekankan tentang baptisan Roh Kudus dan berbahasa roh. Namun tidak diajarkan bagaimana menjalani hidup baru bersama Roh Kudus.
Ada lagi gereja yang mengajarkan bahwa orang yang dibaptis Roh Kudus seakan-akan otomatis sudah menjadi orang suci dan steril dari dosa. Namun kemudian hal ini menjadi cemoohan karena orang-orang menemukan bahwa orang-orang yang sudah dibaptis Roh Kudus masih melakukan dosa.
Ada lagi gereja yang mengajarkan bahwa hanya orang yang dibaptis Roh Kudus yang akan mengalami pengangkatan sedangkan yang tidak dibaptis Roh Kudus tidak ikut terangkat.
Padahal pengajaran tentang bagaimana menjalani hidup baru bersama Roh Kudus adalah pengajaran yang penting.
I. PENGALAMAN AWAL BERSAMA ROH KUDUS
Kisah Para Rasul 2:1-6, 12-13
“Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat.
Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk;
dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.
Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.
Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit.
Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.
Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?”
Tetapi orang lain menyindir: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”
Kita membaca dari peristiwa di atas bahwa saat Roh Kudus dicurahkan terjadi fenomena tiupan angin keras, lidah-lidah api, dan para murid berbicara dalam bahasa-bahasa yang diberikan oleh Roh Kudus. Namun banyak gereja yang berhenti hanya sampai disini. Padahal kita melihat bahwa lawatan Allah Roh Kudus membawa para rasul menjadi saksi-saksi Kristus. Sebelum dibaptis Roh Kudus, semua murid lari meninggalkan Yesus saat Yesus ditangkap para prajurit Romawi. Namun setelah dibaptis Roh Kudus, mereka berani menjadi saksi Kristus. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena para murid menjalani hidup baru bersama Roh Kudus.
Jika kita telah dibaptis Roh Kudus maka seharusnya kita merasakan dan menikmati kehadiran Roh Kudus yang menyatu dengan roh kita.
Bahasa roh (bahasa lidah) adalah tanda awal dibaptis Roh Kudus, yaitu bahasa yang diberikan oleh Roh Kudus dimana kata-kata yang kita ucapkan tidak kita mengerti karena tidak disusun oleh otak/pikiran kita.
Pada tempo dulu di kalangan kita, doa baptisan Roh Kudus hampir selalu ditandai dengan gejolak emosional: berteriak-teriak, menangis, memukul-mukul kursi, dan tubuh yang bergetar. Fenomena itu bisa saja terjadi namun tidak boleh didoktrinkan. Karena saat kita dibaptis Roh Kudus, Roh Kudus tidak merasuk kita. Saat kita berbahasa roh, kita dalam kondisi sadar 100%. Alkitab juga berkata bahwa Roh Kudus itu tertib dan teratur.
Karena Tuhan mau menyempurnakan gerakan Pentakosta, maka sekitar tahun 1970-an lahir gerakan Kharismatik (Neo Pantekosta). Dalam gerakan Kharismatik, orang bisa berbahasa roh dimana saja: sambil berjalan, menyetir, dlsbnya. Sedangkan pemahaman kalangan Pantekosta sebelumnya adalah harus emosional dulu baru bisa berbahasa roh. Padahal kita tidak perlu emosional untuk berbahasa roh.
1 Korintus 14:2 “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia.”
Maka setelah dibaptis Roh Kudus kita seharusnya memahami bahwa roh kita tidak lagi hanya digunakan untuk bernafas namun saat ini juga digunakan untuk berkomunikasi dengan Tuhan. Saat kita berbahasa roh, kita sedang berkomunikasi dengan Allah. Hasilnya roh kita semakin kuat.
Rahasia itu disampaikan kepada orang yang dekat dan dapat dipercaya. Saat kita berbahasa roh, oleh Roh Kudus kita mengucapkan hal-hal yang rahasia.
II. PENGALAMAN LANJUTAN BERSAMA ROH KUDUS
Roh kita mulai beraktivitas dengan Roh Kudus. Jadi kita tak hanya merasakan kehadiran Roh Kudus, namun juga mengalami pimpinan Roh Kudus.
1. Peka akan kehendak Allah
1 Korintus 6:17 “Tetapi siapa yang mengikatkan dirinya pada Tuhan, menjadi satu roh dengan Dia.”
Saat roh kita menyatu dengan Roh Kudus, hasilnya muncul “kepekaan” dengan kehendak Allah. Roh Kudus yang menyatu dengan roh kita akan berkomunikasi dengan roh kita dan berkata-kata menyampaikan kebenaran-kebenaran Firman Allah. Setelah dibaptis Roh Kudus seharusnya kita pasti sudah pernah mengalami dimana Roh Kudus berkata-kata kepada kita dan mengingatkan Firman Allah, hanya saja mungkin kita tidak memperhatikannya. Kita harus semakin mempertajam kepekaan itu.
Roma 8:26 “Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.”
Untuk berdoa saja kita membutuhkan pertolongan Roh Kudus.
2. Memiliki roh yang menyala-nyala untuk melayani Tuhan
Ada kalanya hamba Tuhan separuh waktu ataupun sepenuh waktu (full time) yang menjadi panutan kita melakukan suatu kesalahan. Kita harus memahami bahwa mereka juga adalah manusia biasa, sekalipun mereka tidak boleh menjadikan hal itu sebagai alasan. Jangan karena kita melihat panutan kita lemah, kita juga menjadi lemah. Kita melihat mereka berhenti pelayanan, kita juga berhenti pelayanan. Kita harus memahami bahwa pada prinsipnya kita jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain, tetapi kita juga jangan menjadi korban batu sandungan orang lain. Karena setiap manusia bertanggungjawab akan dirinya sendiri di hadapan Allah.
Roma 12:11 “Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.”
Pernahkah kita jenuh dan letih melayani Tuhan? Semua yang melayani Tuhan pasti pernah mengalaminya. Bisa jadi karena kita mengalami suatu masalah. Ingatlah: Jalan buntu bagi orang dunia adalah keputusasaan, tetapi jalan buntu bagi orang percaya adalah kesempatan memperbaiki penyerahan hidup kepada Tuhan. Di saat kita hendak meninggalkan pelayanan, justru saat itulah Tuhan menetapkan panggilan-Nya atas kita pada pelayanan tersebut. Hanya Roh Kudus yang bisa membangkitkan kembali roh kita dan membakar roh kita agar menyala-nyala untuk melayani Tuhan. Tuhan mengizinkan peristiwa tersebut menimpa kita agar kita menyadari bahwa kita bisa kembali bangkit bukan karena kekuatan kita namun karena kekuatan Roh Kudus.
3. Hidup sebagai manusia baru
Efesus 4:17-25 “Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia dan pengertiannya yang gelap, jauh dari hidup persekutuan dengan Allah, karena kebodohan yang ada di dalam mereka dan karena kedegilan hati mereka.
Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.
Tetapi kamu bukan demikian. Kamu telah belajar mengenal Kristus.
Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus,
yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan,
supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu,
dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.
Karena itu buanglah dusta dan berkatalah benar seorang kepada yang lain, karena kita adalah sesama anggota.”
Semua sifat-sifat buruk ini secara alamiah sudah melekat dengan diri kita (kita sudah terbiasa melakukannya). Lalu bagaimana caranya menjadi manusia baru? Ketika Roh Kudus berkata kepada kita untuk melakukan kebenaran, maka kita harus segera melakukannya, jangan menunda-nunda. Kita harus mengerjakan bagian kita untuk membuang sifat-sifat buruk kita.
Salah satu sifat sebagai manusia baru adalah menguasai diri. Alkitab dalam Amsal 16:32 berkata “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”
Maka setelah kita memahami semua hal ini, marilah kita tak hanya dibaptis Roh Kudus dan bisa berbahasa lidah (berbahasa roh), namun kita perlu menjalani hidup baru bersama Roh Kudus.
By : Pdt. R. F. Martino













