This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Daily Archives: 09/12/2018

MELATIH DIRI MENRUH HARAPAN KEPADA TUHAN

Roma 12:12 “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!”

1 Petrus 1:21 “Oleh Dialah kamu percaya kepada Allah, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati dan yang telah memuliakan-Nya, sehingga imanmu dan pengharapanmu tertuju kepada Allah.”

I. APAKAH KITA MEMILIKI PENGHARAPAN?

Banyak orang yang hanya sekedar menjalani rutinitas hidup: bangun tidur, beraktivitas, dan kembali tidur-tanpa memiliki tujuan dan harapan. Maka hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan seterusnya berlalu tanpa ada sesuatu yang ia capai. Orang yang tidak memiliki tujuan/harapan akan menjadi orang yang tidak bersemangat menjalani hidup. Pada akhirnya orang seperti ini akan menjadi orang yang tidak berguna baik bagi dirinya sendiri, keluarganya, masyarakat, bangsa dan negaranya.

Mengapa ada orang-orang yang tidak memiliki pengharapan?
1. Memang ada orang yang gaya hidupnya seperti itu karena tidak pernah diajarkan. Kita mungkin menemukan orang-orang seperti ini:
– Suami/istri yang hanya duduk-duduk di warung kopi atau meja judi untuk menghabiskan waktu.
– Pemuda/remaja yang hanya duduk-duduk di deker-deker dan sibuk dengan urusan yang tak berguna.

2. Orang yang kehilangan pengharapan / putus pengharapan karena tidak mempunyai dasar pengharapan. Dalam menghadapi masalah pekerjaan, rumah tangga, kesehatan, dsbnya mengakibatkan banyak orang yang kehilangan harapan. Saat bencana di Palu terjadi banyak orang yang kehilangan anggota keluarga, pekerjaan, harta benda, juga mengalami sakit dan cacat. Namun kita yang selamat dari bencana patutlah bersyukur. Selama kita masih hidup dan sehat, semua benda materi masih bisa dicari asal kita tidak malas bekerja.

II. SIAPAKAH DASAR PENGHARAPAN KITA?

Orang yang berpengharapan pasti memiliki dasar pengharapan. Siapakah/apakah yang menjadi dasar pengharapan kita? Alkitab berkata bahwa Kristus Yesus adalah dasar pengharapan kita (1 Tim 1:1).

Sudahkah Tuhan menjadi dasar pengharapan kita? Ataukah kita seperti kebanyakan orang yang menjadikan orang lain sebagai dasar pengharapannya karena orang itu memiliki kekuatan secara finansial, kekuasaan, kemampuan, dll. Akhirnya pengharapan kita bergeser kepada manusia. Secara rohani ini sangat berbahaya!

Jika kita menjadikan seseorang/sesuatu sebagai dasar pengharapan kita, maka kita akan mudah kehilangan pengharapan. Banyak kita jumpai orang-orang yang tidak menemukan dasar pengharapan atau kehilangan pengharapan sehingga mereka putus asa. Dan puncaknya adalah mereka bunuh diri. Akhirnya kita menemukan bahwa penderitaan tidak selamanya dalam bentuk finansial. Kalau penderitaan hanya dalam bentuk finansial, maka tidak ada orang-orang ternama dan kaya yang bunuh diri.

Penyebab seseorang kehilangan pengharapan adalah karena tidak punya dasar untuk berharap. Maka kita harus terbiasa menaruh pengharapan kita kepada Tuhan. Menaruh pengharapan kita kepada Tuhan bukan hanya didalam doa, namun harus dinyatakan didalam kehidupan nyata.

Saat kita melayani Tuhan, seharusnya itu karena kita mempunyai pengharapan kepada Tuhan. Begitupun pengharapan kita akan keselamatan melalui salib Kristus. Kita percaya akan salib Kristus sekalipun kita tidak melihatnya secara langsung.

Ada juga orang-orang yang beralih pengharapannya. Bukan karena tidak ada dasar baginya untuk berharap, namun karena ia melupakan Tuhan! Ini biasanya terjadi pada orang-orang yang hidup makmur. Ia merasa tidak membutuhkan Tuhan lagi karena semua sudah ia miliki, semua yang ia harapkan sudah ia peroleh. Apakah dasar pengharapan kita telah beralih?

III. SUDAHKAH KITA MELATIH DIRI MENARUH PENGHARAPAN KEPADA TUHAN SETIAP HARI?

1 Petrus 1:13 “Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan LETAKKANLAH PENGHARAPANMU SELURUHNYA atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.”

Roma 15:13 “Semoga ALLAH, SUMBER PENGHARAPAN, memenuhi kamu dengan segala sukacita dan damai sejahtera dalam iman kamu, supaya oleh kekuatan Roh Kudus kamu berlimpah-limpah dalam pengharapan.”

Sadarkah kita bahwa hidup kita sehari-hari digerakkan oleh pengharapan kita yaitu apa yang hendak kita tuju dan kita hasilkan?

Dalam surat Yakobus, ada perumpamaan orang yang memiliki perencanaan yang sangat baik:
– Ia hendak berangkat ke kota anu
– Ia akan berdagang
– Ia menganalisa bahwa selama 1 tahun ia akan mendapat untung
Ini merupakan pemikiran yang brilian. Ia sudah melakukan survey terhadap market di kota tujuan, juga survey terhadap produk yang akan dijual. Ini hal yang sangat baik. Namun sayangnya ia tidak melibatkan Tuhan dalam perencanaannya sehingga Tuhan menegur bahwa hidup orang itu hanyalah seperti uap yang kelihatan sebentar lalu lenyap. Tetapi sayangnya banyak orang percaya yang hidup terbalik dari perumpamaan diatas, yaitu hanya berdoa saja namun tidak pernah melakukan survey dan perencanaan, akhirnya usahanya tidak bertahan lama. Padahal kedua-duanya perlu: mengandalkan Tuhan dan melakukan perencanaan.

Rutinitas sebenarnya adalah hal yang baik supaya mekanisme manajemen berjalan dengan baik, apalagi jika manajemen kita sudah terformat dengan baku. Ayat diatas berkata: “Siapkanlah akal budimu”. Berarti “The Power of Mind” memang perlu dan harus dipakai dalam urusan manajemen. Meskipun demikian, “The Power of Mind” saja tidak cukup, harus ada “The Power of Faith”. Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan (Ibr 11:1) atau dengan kata lain: “Iman dimulai dari setitik pengharapan”.

Pengharapan adalah apa yang kita ingin untuk capai dan miliki. Karena itu latih diri kita untuk memiliki pengharapan. Apa pekerjaan kita? Apa pengharapan dalam pekerjaan kita? Jangan hanya berharap agar pekerjaan kita “lebih baik” dari sebelumnya – ini tidak jelas. Pengharapan kita harus konkrit.

Contoh pengharapan dalam bisnis:
– Kita berdoa “Tuhan berkati saya”. Ini hanya sebatas ucapan doa namun tidak ada pengharapan didalamnya.
– Kita berdoa “Tuhan saya minta omset Rp ….. hari ini”. Ini adalah pengharapan yang konkrit! Maka sepanjang hari kita berpengharapan untuk mengejar omset seperti yang kita doakan.

Karena itu Alkitab mengajarkan agar kita “meletakkan pengharapanmu seluruhnya kepada Tuhan”. Ini adalah kata kerja aktif. Jadi kita-lah yang harus aktif untuk menaruh pengharapan kepada Tuhan. Begitupun dalam aspek lainnya.

Pengharapan yang memiliki dasar adalah pengharapan yang ada di dalam Alkitab. Jika manusia menjadi dasar pengharapan kita, maka kita akan mengandalkan manusia. Namun jika pengharapan kita tertuju kepada Tuhan, maka kita akan mengandalkan Tuhan. Sekecil apapun yang kita kerjakan, maka kita akan terus berharap kepada Tuhan. Karena itu, bangkitlah dengan pengharapan karena Yesus adalah sumber pengharapan kita!

IV. APA AKIBATNYA JIKA KITA TIDAK TERBIASA MELATIH DIRI HIDUP DALAM PENGHARAPAN KEPADA TUHAN?

Roma 5:1-4 “Sebab itu, kita yang dibenarkan karena iman, kita hidup dalam damai sejahtera dengan Allah oleh karena Tuhan kita, Yesus Kristus.

Oleh Dia kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.

Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.”

Jika kita tidak mau melatih diri menghadirkan pengharapan dan menaruhnya kepada Tuhan maka kita akan mengalami tekanan dan sengsara supaya kita belajar berharap kepada Tuhan. Jika kita memahami hal ini, maka jangan tunggu sengsara baru berharap kepada Tuhan.

Setiap hari saat bangun tidur, jangan hanya sekedar bangun tanpa pengharapan dan memakai bahasa rohani “mengalir saja”. Tetapi langsung taruh pengharapan kepada Tuhan! Maka tidak ada lagi wajah yang murung tetapi wajah yang bersukacita. Mengapa? Karena pengharapan membuat kita bisa hidup bersukacita.

By : Pdt. R. F. Martino