Daily Archives: 05/08/2018
AGAPE (1)
1 Yohanes 5:3 “Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat”
1 Korintus 14:1 “Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.”
“Agape adalah cinta tanpa syarat”. Dan jika kita mempelajari mengenai iman di dalam Ibrani pasal 11, kita akan menemukan ada pahlawan-pahlawan iman yang karena imannya memperoleh kemenangan yang Tuhan janjikan. Namun di bagian akhir Ibrani pasal 11 kita juga menemukan ada pahlawan-pahlawan iman yang sekalipun mereka beriman, mereka tidak memperoleh apa yang Tuhan janjikan selama mereka hidup di dunia – mereka justru mengalami aniaya dan kematian karena iman. Maka dari keseluruhan Ibrani pasal 11 kita memperoleh definisi yang lengkap tentang iman yaitu “Iman adalah ketaatan tanpa syarat”.
Sayangnya banyak orang percaya yang memiliki pemahaman iman yang sangat dangkal yaitu iman hanya sebatas jawaban doa. Akibatnya, orang percaya yang lahir baru dari benih Agape (melalui pengorbanan Yesus di kayu salib), tidak menjalani hidup barunya yaitu “Hidup Oleh Iman” atau “Hidup Dalam Dimensi Iman” (Roma 1:17).
Hidup oleh iman berarti hidup melakukan perintah Tuhan tanpa syarat. Orang percaya seharusnya berkata, “Siap! Laksanakan!” terhadap segala perintah Allah. Namun banyak orang percaya yang tidak melakukannya karena perintah Allah itu tidak masuk akal. Contohnya: Dalam Perjanjian Lama, Tuhan memerintahkan Nuh membangun bahtera di tempat yang tidak ada air. Ini perintah yang tidak masuk akal sehingga Nuh diolok-olok. Dalam Perjanjian Baru, ada perintah “Kasihilah (Agapao) musuhmu!”. Ini tidak masuk akal. Lalu bagaimana mungkin kita bisa melakukan Firman Tuhan yang tidak masuk akal? Itulah Hidup Oleh Iman!
Hidup manusia diikat oleh hukum logika. Secanggih apapun teknologi yang dibuat manusia, namun semuanya masih berdasarkan hukum logika dan tidak akan dapat menembus hukum iman.
Kasih dalam bahasa aslinya memiliki 4 macam yaitu Eros, Storge, Philia, dan Agape:
1. Eros.
Remaja yang telah akil balig akan mengalami perasaan ketertarikan kepada lawan jenis dan menganggapnya cinta/kasih. Padahal perasaan itu hanyalah eros. Eros itu adalah asmara yang mengarah kepada sentuhan-sentuhan fisik. Apakah eros itu tidak boleh? Boleh, tetapi pada tempatnya, yaitu di dalam ikatan pernikahan. Para pembicara motivasi (umum) maupun pembicara rohani seringkali memakai istilah umum “pacaran”, padahal Alkitab sebenarnya tidak pernah memakai istilah “pacaran” melainkan “tunangan”. “Pacaran” sebenarnya adalah istilah yang kurang baik karena merupakan sarana penyaluran eros. Padahal Eros sebenarnya adalah nafsu birahi antara laki-laki dan perempuan di dalam ikatan pernikahan yaitu antara suami istri.
2. Storge.
Storge adalah kasih antar keluarga. Kasih orangtua kepada anak termasuk storge. Ada pepatah berkata bahwa “surga di bawah telapak kaki ibu” namun berita akhir-akhir ini menunjukkan bahwa ibu dan ayah justru menyiksa anaknya. Meskipun kasih storge itu terkadang mengagumkan, namun ada batasnya. Di dalam kehidupan rohani, kadang kita hanya mengasihi Tuhan dengan kualitas Storge karena saat kita memanggilnya “Bapa”, kita menganggap Tuhan hanya cukup dikasihi dengan Storge. Padahal Tuhan menghendaki kita mengasihi-Nya lebih dari itu.
3. Philia.
Philia adalah kasih persahabatan. Meskipun kasih persahabatan itu terkadang juga mengagumkan, namun kasih ini juga ada batasnya. Ada lagu rohani yang berkata “Yesus adalah Sobat kita”. Namun yang Tuhan mau kita dalam mengasihi-Nya tidak hanya sebatas philia. Memang dalam Alkitab, Tuhan juga menyuruh kita mengasihi-Nya dengan kasih philia namun ada tempatnya.
1 Korintus 16:22 “Siapa yang tidak mengasihi (PHILEO) Tuhan, terkutuklah ia. Maranata!”
Maksudnya ayat ini adalah jika seorang percaya tidak mencapai Philia kepada Tuhan, maka terkutuklah dia. Namun Tuhan menghendaki agar kasih kita meningkat kadarnya kepada tingkat kasih Agape, karena hanya Agape yang dapat melakukan perintah-perintah Tuhan yang tidak masuk akal!
1 Yohanes 5:3 “Sebab inilah kasih (AGAPE) kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat”
4. Agape.
Jadi kita bisa melakukan segala perintah Tuhan dengan kualitas kasih Agape, bukan karena takut hukuman Tuhan. Tak heran jika kita menjalani hidup baru bukan dengan kasih Agape, kita akan menjadi orang Kristen yang hidup dibawah tekanan! Kita merasa tertekan/disusahkan dalam melakukan perintah Tuhan, ini bukan Agape!
Dalam 1 Korintus 13 ada banyak tindakan-tindakan hebat yang dilakukan namun bukan karena Agape.
1 Korintus 13:1-3 “Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.
Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.
Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.”
Lalu dengan apa mereka melakukan tindakan-tindakan hebat jika bukan karena Agape? Tanpa menghakimi, semua tindakan itu bisa dilakukan untuk kepujian diri, atau dilakukan karena mengalami keputusasaan, dll.
Dalam bahasa Indonesia, “Kasih/Cinta” itu identik dengan “memberi”. Namun Agape lebih dari itu. Agape bukan saat seorang suami membelikan tas seharga ratusan juta atau mobil yang seharga milyaran Rupiah kepada istrinya, ataupun sebaliknya. Agape ada didalam air mata, penderitaan, dan siksaan – yang semuanya dapat kita simpulkan sebagai “Pengorbanan”.
1 Korintus 13:4 “Kasih itu sabar…”
Berarti jika kita mengasihi (agapao), kita akan sabar, karena kasih itu panjang sabar. Pernahkah kita menyakiti Tuhan? Lalu bagaimana kesabaran Tuhan atas kita? Kita harus memahami bahwa Tuhan begitu sabar kepada kita.
Dalam hubungan kita dengan sesama, terkadang ada orang yang begitu menjengkelkan. Misalnya anak yang menjengkelkan hati orangtuanya, pengendara yang ugal-ugalan di jalan sehingga membahayakan orang lain, dll. Untuk menahan sabar dan tidak mengata-ngatai orang itu tidak mudah! Namun kasih itu panjang sabar.
Maka dengan kualitas kasih Agape (kasih tanpa syarat) kepada Tuhan, kita akan dapat melakukan perintah-perintah-Nya sekalipun perintah itu tidak masuk diakal kita. Namun kita melakukannya bukan karena tertekan melainkan karena Agapao kepada Tuhan.
By : Pdt. DR. R. F. Martino













