Daily Archives: 29/07/2018
IMAN YANG BEKERJA OLEH KASIH
Galatia 5:6 Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih.
Yohanes 14:15 “Jikalau kamu mengasihi Aku, kamu akan menuruti segala perintah-Ku”
I Yohanes 5:3-5 3Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, 4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. 5 Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?
Dalam Galatia 5:6 merupakan suatu ketegasan dari Paulus untuk jemaat Galatia supaya mereka memahami tentang iman dan bagaimana iman itu bekerja, daripada hanya mempersoalkan hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan iman percaya.
Paulus juga pernah menegur Petrus dihadapan umum, mengenai sungkanisme yang dimiliki Petrus lebih besar daripada prinsip iman.
Hal ini tidak berbeda dengan keberadaan orang Kristen. Cara kebanyakan orang Kristen memahami apa makna iman yang sesungguhnya, sangat memprihatinkan.
Iman bukan hanya sekedar jawaban doa untuk suatu permintaan, iman bukan dipaksakan hadir untuk menjawab suatu masalah, iman bukan hanya menghadirkan barang yang tidak ada menjadi ada. Ini semua adalah pemahaman yang sangat keliru, yang bisa membelokkan orang percaya dari rancangan Allah yang mulia.
Kita harus memahami bahwa dalam Roma 1:17 Tuhan telah menetapkan bahwa setiap orang benar akan hidup oleh iman, tidak ada ketetapan lain. Iman adalah ketaatan tanpa syarat terhadap perintah-perintah Tuhan.
Format hidup orang Kristen harus berbeda sebelum ia lahir baru dan sesudah ia lahir baru. Setelah lahir baru ia harus hidup oleh iman dimana semua realita hidup didikendalikan oleh iman bukannya unsur jiwani.
Kalau kita sudah lahir baru tapi kita tetap memilih untuk hidup dengan cara yang lama hal ini akan menyiksa kita.
Kita tidak boleh “dipermain-mainkan” oleh pergumulan hidup. Semua pergumulan hidup harus diselesaikan sesuai dengan apa kata firman. Ada sesuatu yang dahsyat yang dimiliki oleh orang percaya jika mau hidup oleh iman.
Ibrani 11: 1 Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.
Dalam Roma 10:17 tertulis bahwa iman timbul dari pendengaran oleh firman Kristus, tetapi proses yang terjadi dalam diri seseorang adalah dimulai dari setitik pengharapan.
Jika kita hanya mengambil sepotong ayat untuk menjadi pegangan semata-mata tanpa mempelajari lebih lanjut, maka yang akan terjadi adalah: kalau bukan menjadi pribadi yang ekstrim maka akan kecewa pada Tuhan.
Dalam Ibrani 11 kita menemukan ada pribadi-pribadi yang menerima janji Tuhan karena iman dan ketaatan. Tetapi begitu kita membaca bagian akhir, kita juga menemukan bahwa ada orang-orang yang yang sampai akhir hayatnya tidak menerima jawaban doa, tapi alkitab mengatakan mereka adalah pahlawan-pahlawan iman. Inilah ketaatan tanpa syarat. Mari renungkan! Jika kita sudah taat tetapi tidak menerima apa yang dijanjikan, apakah kita masih tetap melakukan ketaatan?
Mengembalikan persepuluhan milik Tuhan hanya karena takut tidak diberkati atau usaha bisa gagal. Alat penguji iman yang paling ampuh adalah uang. Karena uang itu melekat dengan kita. Ketika kita tidak beres dalam hal keuangan, maka semua kegiatan rohani kita hanyalah omong kosong, semua tidak ada nilainya. Semua kegiatan ibadah kita dihapus oleh Tuhan. Janganlah memberi hanya karena kebiasaan, tetapi memberilah karena kita mengasihi Tuhan dan memberilah dengan iman.
Pergi beribadah hanya karena takut Tuhan “pukul”
Mari dengan jujur menyatakan: apakah ketaatan yang selama ini kita lakukan hanya karena takut Tuhan “pukul”?
Berarti ketaatan kita masih bersyarat.
Apa masalahnya?
I Yohanes 5:3-5 3Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya. Perintah-perintah-Nya itu tidak berat, 4 sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. 5 Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?
Ayat diatas diawali dengan kalimat “Inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintah-Nya” Apa hubungannya dengan “Iman kita yang mengalahkan dunia”?
Dalam sebuah syair lagu berkata “Bila iman kita lemah tak berdaya, bila iman kita bagai tembok roboh”. Ini bisa membantu kita untuk intropeksi, apakah iman kita mempunyai kekuatan? Apakah iman kita berdaya atau tidak? Apakah yang menyebabkan iman kita lemah tak berdaya bahkan seperti tembok roboh?
Rasul Yohanes membawa kita pada pemahaman bahwa semua ketaatan tanpa syarat terhadap perintah-perintah Tuhan dasarnya adalah kasih AGAPE.
Kalau kasih bermasalah maka imanpun akan bermasalah. Jadi ketika iman seperti tembok roboh berarti kasih kita sedang bermasalah.
Kenapa Alkitab berkata perintah-perintah-Nya tidak berat? Sedangkan kenyataannya bagi orang-orang percaya itu merupakan suatu yang berat.
Kebanyakan orang percaya hanya suka dan mau seperti pada Matius 11:28 “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu”
Kalau perintah-perintah-Nya tidak berat, pertimbangan dari manakah sehingga Alkitab berkata seperti itu. Jawabannya ada pada kasih AGAPE. Lahir dari Allah berarti lahir dari suatu benih Ilahi yang namanya AGAPE. Orang percaya yang memiliki AGAPE akan melakukan semua perintah Allah tanpa suatu tekanan. Ketika semua perintah Tuhan menjadi suatu tekanan bagi kita, maka kita harus membenahi AGAPE kita.
Agape: kasih tertinggi, yaitu kasih Allah. Filia: kasih persaudaraan/persahabatan: kasih antar sesama. Storge: kasih antara orangtua dan anak-anak, atau antara saudara kandung. Eros: kasih antara pasangan.
Kita semua mempunyai keempat jenis kasih di atas. Jenis yang mana yang kita pakai untuk mengasihi Tuhan?
Kasih eros, storge dan filia adalah kasih yang kesemuanya berdasarkan pertimbangan-pertimbangan. Mengapa kita menjumpai iman kita lumpuh, karena yang kita miliki hanya 3 jenis kasih (filia, storge, eros).
Lukas 10:30-37 30 Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31 Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32 Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33 Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34 Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35 Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali. 36 Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?” 37 Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Kaum Lewi merupakan simbol religius, tetapi ketika diperhadapkan dengan realitas seperti yang tertulis di atas, ternyata imannya tidak menghasilkan apa-apa untuk menjawab realitas tersebut.
Tetapi lewat orang Samaria, kita menemukan ada seseorang yang tergerak menolong karena hati nuraninya.
Markus 12:30 Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.
Kita harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, supaya hati kita terfokus pada Tuhan dan tidak ada bentuk cinta lain yang menggantikan posisi Tuhan dalam hati kita, hanya Dia satu-satunya.
Mengasihi Tuhan dengan segenap jiwa artinya unsur jiwani perlu dikuduskan dan hanya hanya diisi oleh agape.
Mengasihi Tuhan dengan segenap kekuatan juga harus disertai dengan agape. Kekuatan manusia sangat terbatas, tetapi ketika agape itu masuk maka itu akan menjadi kekuatan tanpa batas. Kita akan rela melakukan hal-hal yang tak terbatas. Dan ketika dilakukan dengan iman maka iman itu akan melakukan hal-hal yang melampaui batas kemampuan.
Kita harus memahami dan mendalami hal ini supaya dapat sungguh-sungguh memperhatikan kualitas rohani kita. Karena semua yang positif, Iblis punya kemampuan untuk membalikannya menjadi hal yang negatif.
I Korintus 13:1-3 1 Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing
2 Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.3 Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikit pun tidak ada faedahnya bagiku.
Mungkinkah berkorban tanpa kasih? Atau tanpa berdasarkan cinta? Lantas apa yang menggerakkan dia untuk bisa membagikan segala hartanya? Dapatkah semuanya dilakukan tanpa kasih? Jawabnya adalah bisa karena dia melakukan hanya untuk kepujian.
Jadi mulai sekarang belajarlah untuk mendeteksi apakah segala yang kita lakukan berdasarkan iman (kasih kepada Tuhan) atau hanya karena kepujian, supaya jangan sampai kita terjebak.
Wahyu 2:1-5 1 “Tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Efesus: Inilah firman dari Dia, yang memegang ketujuh bintang itu di tangan kanan-Nya dan berjalan di antara ketujuh kaki dian emas itu. 2 Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. 3 Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. 4 Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. 5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.
Apa yang kurang dari jemaat Efesus? Semua yang berkualitas ada pada jemaat ini, baik jerih payah maupun ketekunan bahan sabar menderita dan tidak mengenal lelah. Apakah semua ini bukan dikerjakan karena kasih?
Tuhan berkata: “… engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula”
Di sini kita menemukan bahwa jemaat di Efesus bermasalah dengan kasih mereka. Ada kasih yang lain dalam pelayanan mereka. Oleh sebab itu Tuhan menyuruh mereka untuk bertobat. Karena masalah ini adalah masalah yang serius. Kasih mula-mula itulah yang dinamakan AGAPE
Ada ketaatan tanpa syarat didalamnya. Mari kita menjadi dewasa melakukan ketaatan karena kita mengasihi Dia.
Pahamilah ketika Tuhan mau menolong kita, bukan karena permasalahan kita yang menggerakan-Nya tapi karena pribadi kita-lah yang sudah menggerakkan hati-Nya. Kalau kita sembuh, pahamilah bukan karena penyakit kita Tuhan mau menyembuhkan, tapi karena ia sangat berurusan dengan pribadi kita, karena kita adalah anak-anak-Nya.
By : Pdt. R.F.Martino













