Category Archives: KOTBAH
IMAN DAN PENGALAMAN IMAN (4): UJIAN IMAN
Roma 14:23 “Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.”
1 Yohanes 5:4-5 “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?”
Minggu ini kita akan mempelajari topik tentang Ujian Iman. Saat seseorang baru pertama kali percaya Yesus, ia mengalami pengalaman iman awal yaitu kasih Allah dalam bentuk kelembutan seperti kedahsyatan Tuhan, doa yang cepat dikabulkan Tuhan.
Pengalaman ini adalah dasar bagi seseorang untuk mengenal akan kedahsyatan Tuhan. Namun pengalaman berikutnya setelah ia semakin bertumbuh dalam iman adalah ujian iman berupa nyala api siksaan.
1 Petrus 4:12 “Saudara-saudara yang kekasih, janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu.”
Ujian iman ini membingungkan orang percaya. Bukankah Tuhan itu baik? Bukankah Tuhan sudah berjanji? Mengapa seolah-olah janji Tuhan tidak terjadi? Bukankah Tuhan mendengar doa? Ya, Tuhan mendengar setiap doa namun bagaimana Tuhan menjawab itu tergantung kedaulatan Tuhan. Jika orang percaya tidak memahami hal ini sebagai ujian iman, maka mereka akan heran. Karena itu Petrus berkata, “Janganlah kamu heran”. Namun yang lebih lanjut adalah orang percaya tersebut bisa kecewa kepada Tuhan. Padahal ada maksud Tuhan dalam ujian iman.
Ibrani 12:5-6 “Dan sudah lupakah kamu akan nasihat yang berbicara kepada kamu seperti kepada anak-anak: “Hai anakku, janganlah anggap enteng didikan Tuhan, dan janganlah putus asa apabila engkau diperingatkan-Nya; karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.””
Dari ayat diatas kita memahami bahwa Tuhan menghajar dan menyesah orang yang dikasihi dan diakui-Nya sebagai anak. “Mengajar” beda dengan “Menghajar”. “Mengajar” itu dengan kata-kata, “Menghajar” dengan pukulan/cambukan. Tidak ada orangtua yang tidak pernah “menghajar” anaknya. Dalam pendidikan formal di sekolah, ada ujian SD, SMP, SMA. Jika lulus ujian barulah si murid naik ke jenjang pendidikan berikutnya.
Begitupun ujian iman. Kita tidak perlu berusaha menghindar dari ujian iman karena tidak seorangpun yang bisa luput. Namun setiap orang yang lulus dari ujian tersebut akan naik ke jenjang berikutnya.
APA TUJUAN UJIAN IMAN?
1 Petrus 1:6-7 “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu — yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api — sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”
Tujuan ujian iman adalah untuk membuktikan kemurnian iman kita sampai sejauh mana ketaatan kita: Apakah ketaatan kita masih ketaatan bersyarat atau sudah mencapai ketaatan tanpa syarat. Ketaatan bersyarat adalah kita melakukan bagian kita dan Tuhan akan melakukan bagian-Nya (menggenapi janji-Nya). Sedangkan yang Tuhan kehendaki agar kita mencapai ketaatan tanpa syarat seperti di Ibrani 11 dimana tetap taat sekalipun tidak menerima yang Tuhan janjikan. Mengapa bisa? Karena kita mencintai Tuhan.
Iman orang percaya umumnya hanya siap untuk hal-hal sehari-hari. Tetapi kita harus mempersiapkan iman kita untuk sesuatu yang luar biasa, yang tidak pernah kita duga:
* Orang yang tidak kita duga ternyata melakukan sesuatu yang jahat pada kita.
* Disakiti anak sendiri lebih menyakitkan daripada disakiti oleh anak tetangga.
* Disakiti suami/istri tercinta. Hal ini dapat membuat kita kecewa / tawar hati.
APA YANG HARUS KITA LAKUKAN?
1 Petrus 4:13-14 “Sebaliknya, bersukacitalah, sesuai dengan bagian yang kamu dapat dalam penderitaan Kristus, supaya kamu juga boleh bergembira dan bersukacita pada waktu Ia menyatakan kemuliaan-Nya. Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu.”
Saat menghadapi ujian iman ini, Firman Tuhan berkata, “Bersukacitalah!”. Saat menghadapi nyala api siksaan, kadang kita berpikir bahwa mujizat itu hanya pada saat Tuhan melepaskan kita dari pergumulan, padahal mujizat juga terjadi jika kita bisa bersukacita di dalam ujian iman. Bisakah kita tidak mendendam saat disakiti oleh orang lain? Jika bisa, maka itulah mujizat! Saat menghadapi ujian iman, Roh Allah yang ada di dalam kita yang akan menguatkan kita.
1 Petrus 4:15-16 “Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau. Tetapi, jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah dalam nama Kristus itu.”
Tuhan juga memperingatkan kita supaya penderitaan yang kita alami bukan penderitaan yang disebabkan karena kita berbuat dosa namun karena kita melakukan Firman Allah.
Ibrani 12:7-11 “Jika kamu harus menanggung ganjaran; Allah memperlakukan kamu seperti anak. Di manakah terdapat anak yang tidak dihajar oleh ayahnya? Tetapi, jikalau kamu bebas dari ganjaran, yang harus diderita setiap orang, maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang. Selanjutnya: dari ayah kita yang sebenarnya kita beroleh ganjaran, dan mereka kita hormati; kalau demikian bukankah kita harus lebih taat kepada Bapa segala roh, supaya kita boleh hidup? Sebab mereka mendidik kita dalam waktu yang pendek sesuai dengan apa yang mereka anggap baik, tetapi Dia menghajar kita untuk kebaikan kita, supaya kita beroleh bagian dalam kekudusan-Nya. Memang tiap-tiap ganjaran pada waktu ia diberikan tidak mendatangkan sukacita, tetapi dukacita. Tetapi kemudian ia menghasilkan buah kebenaran yang memberikan damai kepada mereka yang dilatih olehnya.”
Ujian iman hadir untuk membersihkan kita dari semua pencemaran iman. Orang percaya yang tidak mengalami didikan Tuhan adalah “anak-anak gampang” (Terjemahan Lama: anak-anak haram). Jika kita tidak memahami tujuan ujian iman maka rohani kita dan pelayanan kita menjadi lemah. Saat seorang percaya mengalami kelemahan seperti itu, umumnya orang mencari penyebabnya, dan begitu dia dapatkan penyebabnya adalah orang lain, maka ia menyalahkan orang lain atas apa yang ia alami. Tuhan memperingatkan kita: Jangan pernah menyalahkan orang lain atas kelemahan yang kita alami, karena Tuhan tidak berurusan dengan orang lain, namun Ia berurusan dengan diri kita!
Ibrani 12:12-13 “Sebab itu kuatkanlah tangan yang lemah dan lutut yang goyah; dan luruskanlah jalan bagi kakimu, sehingga yang pincang jangan terpelecok, tetapi menjadi sembuh.”
Tuhan menghendaki supaya kita menguatkan diri kita sendiri, jangan jadikan orang lain sebagai alasan kita menjadi lemah. Dalam Yudas 1:20 Tuhan memerintahkan kita untuk membangun diri kita sendiri. Jangan bergantung pada orang lain. Saat kita lemah dan terjatuh, bangkitlah! Kuatkan kembali tangan dan lutut kita yang goyah! Sumber kekuatan kita berasal dari Tuhan sendiri.
ADA JALAN YANG LEBIH BAIK!
2 Korintus 13:5 “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.”
Inilah jalan yang lebih baik. Tuhan memberi kesempatan untuk kita menguji diri sendiri sehingga tidak perlu ada sesuatu yang luar biasa terjadi dalam hidup kita.
Apa yang mau kita uji? Dalam hal hidup oleh iman yaitu hidup dalam ketaatan tanpa syarat karena kita mengasihi Tuhan.
Latih diri kita untuk menguji diri sendiri dalam hal ketaatan dalam hidup sehari-hari, dengan demikian kita telah menguji diri kita. Kehidupan kita dalam setiap harinya akan ada realitas yang hadir dihadapan kita namun disaat yang sama juga hadir Firman. Saat Firman hadir maka taatilah. Setiap realitas hidup yang terjadi, jadikanlah sebagai realitas iman. Taatilah Firman Tuhan maka iman kita akan terus bertumbuh.
By. : Pdt. R.F. Martino
IMAN DAN PENGALAMAN IMAN (3)
Roma 1:17 “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”
1 Yohanes 5:4-5 “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? ”
Saat sebelum menjadi orang percaya kita hidup dalam 1 dimensi yaitu dimensi lahiriah, dan dimensi lahiriah ini yang mudah sekali diterobos oleh iblis. Namun saat kita menjadi orang percaya, adalah ketetapan Tuhan bahwa setiap orang percaya hidup oleh iman, maka seharusnya kita hidup dalam dimensi iman. Jika sebagai orang percaya kita tetap bertahan untuk menjalani hidup dalam dimensi lahiriah saja, maka kita menyiksa diri kita sendiri karena semua ketaatan kepada Tuhan adalah ketaatan di dalam tekanan karena takut mendapat hukuman dari Tuhan. Namun jika kita hidup oleh iman / dalam dimensi iman maka kita akan mengalami pengalaman-pengalaman iman!
Bentuk-bentuk pengalaman iman:
1. Pengalaman iman akan kedahsyatan Allah.Pengalaman awal kita mengenal Kristus adalah pengalaman akan kedahsyatan Tuhan. Saat kita berdoa, cepat sekali Tuhan menjawab doa kita. Selain itu, kedahsyatan Tuhan ini juga bisa berbentuk mujizat. Sayangnya banyak orang menganggap bahwa hidup oleh iman itu mengenai mujizat saja. Padahal hidup oleh iman bukan hanya mengenai mujizat / doa yang dijawab melainkan melakukan Firman Tuhan. Selain itu, orang yang menginginkan mujizat seringkali tidak menyadari bahwa mujizat itu baru hadir setelah ada peristiwa-peristiwa tragis, misalnya vonis dokter mengenai suatu penyakit, dll. Jadi jika seseorang ingin mengalami mujizat, ia harus terlebih dulu mengalami peristiwa-peristiwa tragis.
2. Pengalaman iman tentang ketaatan. Setiap janji Tuhan diikat dengan ketaatan, yaitu saat kita melakukan bagian kita untuk taat melakukan Firman Tuhan maka Tuhan melakukan bagian-Nya memberkati kita. Namun yang lebih berkualitas lagi adalah taat sekalipun tidak mendapatkan penggenapan janji Allah di dunia ini. Orang-orang yang mengalami hal ini juga termasuk dalam kategori “pahlawan-pahlawan iman” (Ibrani 11).
3. Pengalaman iman tentang perbuatan iman. Saat kita dibaptis Roh Kudus, Ia akan memberi kita kemampuan untuk melakukan kebenaran Allah dalam hidup kita. Secara alamiah format yang mengontrol hidup manusia adalah unsur jiwani. Namun setelah menjadi orang percaya, formatnya berbeda: yaitu unsur iman. Untuk mengubah format alamiah ke format yang baru ini tidak otomatis. Maka tempat kita melatih diri hidup oleh iman adalah kehidupan kita sehari-hari.
Galatia 2:20 “namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah HIDUP OLEH IMAN dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”
Dari ayat diatas Paulus memberi teladan bahwa setiap orang percaya yang masih hidup di dalam tubuh jasmaninya, ternyata BISA hidup oleh iman. Karena Tuhan tidak akan memberikan perintah yang tidak bisa kita lakukan.
Roma 8:11-13 “Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup.”
Dari ayat diatas, kita semakin memahami jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini: Bagaimana kita bisa hidup oleh iman secara manusia lahiriah? Bagaimana kita bisa membuktikan Roh Kudus ada di dalam diri kita secara manusia lahiriah? Rasul Paulus menjelaskan dengan cara yang sangat sederhana: hidup oleh iman adalah hidup oleh Roh. Bagaimana caranya? Yaitu kita memang masih hidup secara lahiriah, namun di dalam hidup kita yang kita hidupi/jalani di dalam tubuh kita, kita dipimpin oleh Roh Kudus, mematikan keinginan-keinginan daging.
Yakobus 2:14 “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?”
Ayat ini menjadi perdebatan diantara beberapa gereja. Ada gereja yang menganggap bahwa perbuatan tidak terlalu penting, menganggap sekali terima Yesus dan sudah selamat, akan tetap selamat sekalipun melakukan dosa. Yang kemudian berkembang lebih parah lagi yaitu pengajaran “Hyper Grace”. Sementara gereja-gereja yang lain menekankan bahwa iman harus disertai perbuatan.
Yakobus 2:15-16 “Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? ”
Camkanlah: iman itu berkaitan dengan hal-hal lahiriah. Jadi iman dibuktikan bukan dalam angan-angan dan bukan dibuktikan dengan hal-hal rohani seperti berdoa, ibadah, pelayanan. Iman dibuktikan saat diperhadapkan dengan realitas hidup!
Melalui ayat diatas Alkitab langsung memberi contoh dalam kehidupan sehari-hari bagaimanakah seharusnya iman disertai perbuatan iman. Namun pembuktian iman bukan hanya mengenai kegiatan-kegiatan sosial seperti contoh diatas. Karena intinya adalah semua yang kita hadapi dalam kehidupan riil, itulah yang menjadi pembuktian iman kita. Jangan menilai kerohanian seseorang hanya dari aktivitas rohaninya karena didalam gereja semua orang seperti malaikat. Pembuktian imannya dibuktikan dalam kehidupan sehari-hari dimulai dari rumahnya. Yang paling tahu karakter seseorang adalah orang rumahnya, termasuk pembantu (helper)nya di rumah. Sesungguhnya melatih diri untuk melakukan Firman bisa dilakukan, hanya kita mau atau tidak. Ubahlah setiap pengalaman hidup kita menjadi pengalaman iman, karena iman selalu diperhadapkan dengan kondisi real dan dibuktikan dengan perbuatan iman. Kesimpulannya: Isi iman kita akan dibuktikan melalui perbuatan iman!
Ilustrasi: Ada seorang Kristen yang melalui suatu jalan. Tiba-tiba ia melihat ada pecahan beling yang hampir mengenai kakinya dan dengan segera ia menghindar dari beling itu. Ia bersyukur kepada Tuhan karena meluputkannya dari celaka, lalu ia melanjutkan perjalanan. Setelah itu lewatlah seorang biksu di jalan tersebut. Begitu sang biksu melihat ada pecahan beling, ia mengambilnya dan membuangnya ke tempat yang aman supaya tidak mengenai pejalan kaki berikutnya. Orang Kristen itupun bersaksi betapa dahsyat Tuhan meluputkannya dari celaka, apalagi ia mendengar sebelumnya ada orang yang terkena pecahan beling namun ia sendiri terluputkan. Bagaimana pendapat saudara mengenai orang Kristen pada ilustrasi diatas? Bisakah disebut perbuatan iman jika ia hanya menyelamatkan diri sendiri namun tidak peduli pada keselamatan orang lain? Etiskah ia bersaksi Tuhan meluputkannya dari bahaya sedangkan ada orang lain yang celaka?
Yakobus 2:19-22 “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.”
Perbuatan-perbuatan iman ada beberapa bentuknya:
1. Melakukan Firman untuk hal-hal yang belum melampaui hukum logika
2. Melakukan Firman untuk hal-hal yang melampaui hukum logika.
Kita harus melatih diri sehingga terbiasa melakukan Firman tentang hal-hal umum dalam kehidupan sehari-hari. Jika kita sudah terbiasa melakukannya, maka kita bisa jika Tuhan memerintahkan kita melakukan hal-hal yang diluar logika yaitu ketaatan tanpa syarat. Tuhan tidak memberi ujian melampaui kemampuan kita. Tetapi iblis mau melakukan berbagai cara agar kita kecewa dengan Tuhan dan undur dari Tuhan saat kita menghadapi masalah yang melampaui hukum logika. Saat menghadapi masalah yang melampaui hukum logika maka kita membutuhkan mujizat! Namun kita harus memahami bahwa mujizat tidak terjadi dengan sendirinya tetapi ada hal-hal yang harus dilakukan yaitu tindakan-tindakan iman oleh si penerima mujizat. Sebagai contoh: Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang dipaksa untuk menyembah patung Nebukadnezar. Mereka menolak untuk menyembah patung tersebut sekalipun ancamannya adalah hukuman mati. Secara manusia apa yang mereka hadapi sangat berat. Namun mereka bertiga sepakat dan berkata, “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.”
Inilah tindakan iman yang mereka lakukan. Maka rajapun menjadi sangat marah dan ia memerintahkan supaya dapur api dipanaskan sampai 7 kali lalu Sadrakh, Mesakh, dan Abednego pun dimasukkan ke dalam dapur api tersebut.
Saat mereka menghadapi masalah yang melampaui hukum logika inilah maka mujizat Allah dinyatakan! Ada malaikat Allah yang menyertai mereka dan merekapun selamat tanpa terbakar sedikitpun. Dari kisah ini kita juga memahami bahwa iman bukan hanya skedar keyakinan sungguh tetapi juga ketaatan tanpa syarat! Sayangnya banyak hamba Tuhan yang memberi penghiburan palsu: “Percaya saja pasti akan menerima”, “Kalau iman itu tanpa kata jika”, dll.
Setelah memahami semua ini, marilah kita melakukan Firman Tuhan yaitu iman kita harus disertai perbuatan-perbuatan iman dalam seluruh kehidupan kita.
By. : Pdt.R. F. Martino
IMAN DAN PENGALAMAN IMAN (2)
Roma 14:23 “Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.”
I Yohanes 5:4-5 Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?
Pendahuluan
Kita sudah belajar mengenai “Iman” dan “pengalaman iman”. Tuhan sudah menetapkan bagi setiap orang yang sudah lahir baru harus hidup oleh iman, seperti yang terulis dalam Roma 1:17 “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”
Ternyata tidak semua orang percaya hidup oleh iman. Sebagian besar beriman kepada Tuhan Yesus Kristus supaya jika meninggal masuk surga (hanya untuk urusan akhirat). Bukankah kita masih hidup di dunia? Oleh sebab itu Tuhan menetapkan harus hidup oleh iman. Di luar dari itu adalah dosa (Roma 14:23).
Jika kita tidak melakukan firman maka yang kita lakukan adalah dosa, dan sebaliknya selama kita lakukan firman kita tidak akan berbuat dosa.
Ketika kita hidup oleh iman itu menunjukkan kita sudah lahir baru dan melanjutkannya dengan hidup baru.
Hidup oleh iman hidup berarrti melakukan ketaatan atas firman Tuhan karena kita mengasihi Tuhan bukan karena tekanan atau “takut Tuhan pukul”. Tapi yang nampak dalam perjalanan hidup secara riil, masih banyak kepercayaan lama yang mengikat dan dipelihara begitu rupa padahal ia adalah seorang Kristen. Ini membuktikan bahwa ia tidak hidup oleh iman. Orang seperti ini tidak akan pernah mengalami pertumbuhan iman/pertumbuhan rohani, tidak akan pernah punya pengalaman, ia hanya punya pengalaman hidup.
Pengalaman hidup bisa dibahasakan seperti ini: Jika ia senang maka ia katakan ia lagi beruntung (hoki), tetapi jika kena masalah ia berkata bahwa ia lagi sial. Inilah filosofi umum. Tetapi bagi orang yang hidup oleh iman ia akan mengelola setiap realita hidup ini (dengan iman), darimana ia mendapatkan jawaban-jawaban? tentunya dari firman karena dikatakan dalam Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Setiap orang percaya harus punya kempuan merubah pengalaman hidup menjadi pengalaman iman. Maksudnya adalah setiap realita hidup yang menghadapinya adalah iman, makanya selalu ada jawaban karena firman Allah adalah jawaban.
Pengalaman-pengalaman iman memiliki berbagai macam bentuk
Kita harus memahami bahwa pengalaman iman itu ada berbagai macam bentuknya. Jika kita tidak memahami ini, kita bisa kecewa bukan hanya pada manusia tapi bisa kecewa pada Tuhan, padahal hanya karena kita tidak memahami. Mari mengingat kembali penjelasan mengenai: pemahaman yang keliru akan memproduksi sikap yang keliru dan sikap yang keliru akan memproduksi tindakan yang keliru. Jadi kita harus benar-benar memahami hal ini.
Ketika kita sudah mulai hidup oleh iman itupun masih banyak pergumulan-pergumulan yang kadangkala membingungkan. “Mengapa saya harus mengalami hal ini?”, “Mengapa Tuhan tidak bela saya?”, “Katanya Tuhan tidak pernah berdusta!”, kalimat-kalimat inilah yang sering terucapkan. Dan ketika kita pergi kepada pembimbing-pembing rohani jawaban yang biasa didapat adalah kita harus lebih banyak berdoa dan harus lebih sungguh-sungguh dalam berdoa. Lama kelamaan kita akan menjadi lelah dan bingung.
Kedahsyatan Tuhan adalah pengalaman awal ketika lahir baru
Minggu lalu kita sudah belajar satu bentuk pengalaman iman tentang kedahsyatan Tuhan. ini adalah pengalaman awal. Ketika seseorang yang baru saja mengalami pengalaman lahir baru, ia akan mendapat pengalaman iman tentang kedahsayatan Tuhan yaitu doa-doanya dengan sangat mudah dijawab bahkan perkara sulit sekalipun Tuhan melakukan mujizat. Setelah lewat beberapa bulan kemudian dia memberi kesaksian dan kali ini kalimat yang dikeluarkan sudah berbeda dari yang semula. Dia berkata bahwa semakin ia serius mengikuti Tuhan semakin banyak pergumulan. Mengapa kita dibawa pada pengalaman seperti ini? Tentu Tuhan punya maksud dan tujuan Tuhan memperkenalkan dirinya yang begitu dahsyat dan begitu mudah menjawab doa, mengadakan mujizat yang tidak dapat ditangani oleh pikiran manusia yang tidak dapat diselesaikan oleh hukum analisa logika. Tatapi banyak anak Tuhan tidak memahami maksud dan tujuan Tuhan melakukan ini. Tidak beda dengan umat Israel, ada sekian banyak malapetakan menimpa Mesir, Tuhan sedang memperlihatkan kedahsyatan-Nya, tapi merekapun tidak taat kepada Tuhan. Mereka menjadi umat yang paling menyakitkan hati Tuhan. Bahkan hanya untuk membentuk mereka mengerti siapa itu Tuhan, untuk membentuk karakter mereka, Tuhan butuh 40 tahun lamanya untuk membuat umat Israel sadar dan bertobat.
Oleh karena itulah sesungguhnya pengalaman iman yang awal ini sudah merupakan dasar yang paling kuat, boleh dikatakan pengalaman awal ini Tuhan mendemonstrasikan kedahsyatan-Nya kepada orang percaya. Tapi mengapa perjalanan berikutnya dalam hidup oleh iman, kita jadi bingung, bimbang, ragu dsb? Salah satunya adalah karena kita tidak memahami bahwa ada berbagai pengalaman iman dan semua pengalaman hidup kita sesungguhnya harus menjadi pengalaman iman.
Kita hanya mau seumur hidup kita Tuhan melakukan kedahsyatan, kita hanya mau hidup dimanjakan oleh Tuhan, tetapi dalam menjalani hidup kita tidak mau menjalani ketaatan. Kita hanya mau Tuhan melakukan mujizat, bahkan sampai perkara kecil sekalipun yang semestinya bisa dilakukan dengan mudah kita masih mengharapkan mujizat. Saya tidak anti mujizat, tapi jika kita menganggap Tuhan hanya bekerja dengan melakukan mujizat, berarti kita bersedia menerima peristiwa-peristiwa tragis, karena mujizat bersaudara kembar dengan peristiwa-peristiwa tragis. Mujizat terjadi ketika akal pikiran sudah tidak mampu melakukan apapun karena terbatas dengan hukum logika yang tidak bisa menembus hukum iman, tetapi hukum iman bisa menembus hokum logika.
Ketika Tuhan memerintahkan untuk mengalahkan kota Yeriko berbeda dengan ketika Tuhan memerintahkan untuk mengalahkan Kota Ai. Kota Yeriko Tuhan memerintahkan untuk mengelilingi kota itu tanpa bersuara hingga hari yang ketujuh baru bersuara/bersorak dan robohlah tembok Yeriko. Tapi peperangan berikutnya berbeda, ketika Yosafat tak berdaya dikepung oleh tiga suku bangsa, ia berseru kepada Tuhan dan Tuhan mengatakan padanya tidak usah berperang dan akan melihat saja bagaimana Tuhan bekerja. Dan ketika menyusun pasukan untuk berperang, Tuhan mengatur bahwa yang ada di barisan depan adalah penyanyi dan para pemusik. Inilah pengalaman yang Tuhan berikan.
Nah inilah yang perlu kita pahami. Jadi setelah kita belajar tetang kedahsyatan Allah, setelah Tuhan memperkenalkan diri-Nya secara pribadi kepada kita untuk dapat memiliki, mengetahui dan mengalami bagaimana dahsyatnya Tuhan, bukankah ini adalah dasar yang paling kuat untuk menjadi dasar perjalanan/pengalaman berikutnya, karena dari awal kita sudah alami kedahsyatan Tuhan.
Pengalaman berikutnya bukan Tuhan itu tidak dahsyat tetapi Tuhan mengajar kita. Sama dengan setiap hari pengalaman yang dialami pasti berbeda tegantung realitas hidup apa yang kita hadapi. Semuanya bervariasi, jangankan pengalaman hidup, makanan yang kita konsumsi saja setiap hari bervariasi, tidak akan mungkin seminggu atau sebulan kita makan dengan menu yang sama. Ketika kita bicara tingkat usia, pengalam anak sekolah minggu akan berbeda dengan pengalaman anak remaja, anak muda, orang tua, bahkan lansia, semuanya pasti punya pengalaman yang berbeda. begitupun pertumbuhan fisik, mental, kejiwaannya semuanya berbeda.
Pengalaman tentang ketaatan
Oleh karena itu sesudah kita semua mengalami kedahsyatan Tuhan, ini semua belum selesai, Tuhan membawa kehidupan kita untuk lebih mengenal Dia dan juga membawa iman kita bertumbuh, sebab sudah ditetapkan hidup oleh iman sedangkan yang terformat secara alamiah manusia hidup oleh unsur jiwani yang meng-hanlde semuanya.
Makanya tidak berkesudahan lebih lanjut perjalanan hidup kita, oleh sebab imanlah yang harus meng-handle setiap realitas hidup. Karena ketika iman kita meng-handle atau mengelola akan realitas hidup itu di dalam firman itu selalu muncul firman Allah, inilah yang menjadi jawaban atas segala masalah kita.
Dengan demikian kita terus bertumbuh dan semakin teguh. Kita tidak boleh dipermain-mainkan dengan masalah hidup. “…Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus…”
Sejauh mana kita memahami iman itu sendiri maupun pengalaman iman?
I Petrus 1:14 Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu.
Ini menunjukkan bahwa ketika kita tidak taat berarti kita sedang dalam kebodohan. Sebab Tuhan sudah berikan jawaban tetapi kita tidak ikuti.
Apa itu ketaatan
Menurut KBBI taat berarti: berpegang teguh, betah, fanatik, kuat, loyal, pasrah, patuh, setia, takwa, taslim, tawaduf, dll. Tapi yang jelas taat itu patuh. Taat berarti ada suatu ketentuan yang harus diikuti.
Pengalaman apa yang pernah Anda alami dalam konteks ketaatan?
Sejauh mana Anda memahami ketaatan dalam konteks janji Allah?
Ketaatan dalam berbagai bentuk pengalamannya.
1. Ketaatan untuk kepastian janji Allah
Itu yang sudah biasa kita pahami karena ini hal yang ringan. Maksudnya adalah ketika kita taat berarti kita sudah melakukan bagian kita dan Tuhan melakukan bagian-Nya. Biasanya pengajaran ini hanya sampai disini, tapi sekarang kita akan mendalaminya lebih lagi. Kita akan masuk kedalam ketaatan yang sedikit membingungkan tapi itu juga bagian dari pengalaman iman
Ulangan28:1-15 “1Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. 2 Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu: 3 Diberkatilah engkau di kota dan diberkatilah engkau di ladang. 4 Diberkatilah buah kandunganmu, hasil bumimu dan hasil ternakmu, yakni anak lembu sapimu dan kandungan kambing dombamu. 5 Diberkatilah bakulmu dan tempat adonanmu. 6 Diberkatilah engkau pada waktu masuk dan diberkatilah engkau pada waktu keluar. 7 TUHAN akan membiarkan musuhmu yang maju berperang melawan engkau, terpukul kalah olehmu. Bersatu jalan mereka akan menyerangi engkau, tetapi bertujuh jalan mereka akan lari dari depanmu. 8 TUHAN akan memerintahkan berkat ke atasmu di dalam lumbungmu dan di dalam segala usahamu; Ia akan memberkati engkau di negeri yang diberikan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu. 9 TUHAN akan menetapkan engkau sebagai umat-Nya yang kudus, seperti yang dijanjikan-Nya dengan sumpah kepadamu, jika engkau berpegang pada perintah TUHAN, Allahmu, dan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya. 10 Maka segala bangsa di bumi akan melihat, bahwa nama TUHAN telah disebut atasmu, dan mereka akan takut kepadamu. 11 Juga TUHAN akan melimpahi engkau dengan kebaikan dalam buah kandunganmu, dalam hasil ternakmu dan dalam hasil bumimu — di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu untuk memberikannya kepadamu. 12 TUHAN akan membuka bagimu perbendaharaan-Nya yang melimpah, yakni langit, untuk memberi hujan bagi tanahmu pada masanya dan memberkati segala pekerjaanmu, sehingga engkau memberi pinjaman kepada banyak bangsa, tetapi engkau sendiri tidak meminta pinjaman. 13 TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, 14 dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.”
By. : Pdt. R.F. Martino
IMAN DAN PENGALAMAN IMAN
Roma 14:23 Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkaniman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.
1 Yohanes 5:4-5 Sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?
Segala sesuatu harus dilakukan dengan iman bahkan memperbaiki finansial pun harus dilakukan dengan iman. Tindakan-tindakan untuk menabur pun harus dilakukan dengan iman. Tidak ada latar belakang lain yang mendasari motivasi daripada yang kita lakukan tersebut yaitu dengan iman. Sebab jika tidak didasari oleh iman maka kita akan kecewa.
Kesiapan iman dalam menghadapi hal-hal apa yang akan terjadi karena kita tau sebelum Tuhan Yesus datang ada hal-hal dahsyat yang akan terjadi dalam kehidupan orang-orang percaya. Segala sesuatu yang dilakukan tanpa iman adalah dosa. Karena tidak ada satu pun manusia dapat menebus kita dari segla dosa. Segala kebajikan tidak bisa menghapus dosa, sebab tidak seorang pun sampai kepada Bapa di Sorga tanpa percaya Yesus.
Kita memulai iman kita ketika lahir baruinilah awal dari iman kita kepada Kristus. Doa terima Yesus tidak dapat dilakukan hanya sebagai mantra dan sesudah itu sudah beres karena sudah pasti masuk Sorga. Tetapi sewaktu-waktu kita masih dapat terjebak dalam dosa. Sebab dosa bukan hanya melakukan hal-hal yang najis atau melakukan hal yang sadis sebab firman Tuhan katakan bahwa segala sesuatu tanpa iman adalah dosa. Ini berarti ketika kita tidak melakukan dengan iman, kita sudah berbuat dosa dan upah dosa adalah maut.
Iman bukan hanya untuk urusan akhirat, karena orang percaya yang belum mati ditetapkan oleh Tuhan untuk hidup oleh iman.
Roma 1:17 Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.”
Sebagian umat percaya hanya memahami iman sebagai suatu jawaban doa atas sebuah permintaan. Banyak orang maju bersaksi di depan jemaat bahwa Tuhan sudah menyembuhkan penyakitnya, sudah menjawab kerinduannya untuk memiliki tempat tinggal/rumah juga kendaraan dan lain sebagainya karena dikatakan “imani, imani, imani”. Iman tidak “semurah” itu tetapi itulah yang diajarkan gereja, oleh para hamba Tuhan sehingga orang yang lemah berusaha sekuat-kuatnya agar apa yang dia inginkan itu terkabul. Memang benar dibutuhkan iman untuk suatu keinginan tetapi bukan berarti seluruh iman mencakup akan hal itu.
Ini sangat berbahaya karena banyak anak Tuhan dengan begitu mudah bisa beralih kepercayaan. Kita dapat melihat dalam kehidupan sehari-hari, apakah ada “penyangkalan-penyangkalan iman” yang tidak terdeteksi, yang kita anggap biasa saja seperti tradisi dan kebiasaan yang dianggap tidak ada hubungannya dengan iman.
Setiap orang percaya tidakbisa hanya punyaiman saja tetapi jugaharuspunya pengalaman iman supaya tidak kecewa kepada Tuhan. Jika kecewa kepada manusia adalah masuk di akal karena manusia mengecewakan tetapibagiaman jika kecewa kepada Tuhan?
Elia minta mati kepada Tuhan ketika Izebel mengancam hendak membunuhnya. Yunus minta mati setelah seluruh penduduk kota Niniwe bertobat. Kita belum pernah mengalami pengalaman seperti Elia dimana ia berdoa dan api turun dari langit, tetapi hanya oleh suatu gertakan dari perempuan lalu ia ketakutan dan minta mati. Mungkin kita tidak sampai terucap untuk minta mati tetapi ada kekecewaan yang begitu mendalam dimana hal ini jauh lebih berbahaya. Hal ini banyak terjadi dimana-manakarena mereka hanya tahu doa terima Yesus tetapi lupa bahwa Allah sudah menetapkan bahwa mereka harus menjalani hidup dengan iman. Iman di dalam Yesus Kristus ketika kita mati sudah mengantar kita masuk Sorga tapi hidup di dunia ini adalah suatu pergumulan bukan lagi pergumulan hidup tapi pergumulan iman karena harus hidup oleh iman.
Hidup sehari-hari dengan masih melakukan tradisi-tradisi kepercayaan lama adalah suatu bukti bahwa hidup yang dijalani bukanlah hidup lahir baru walupun sudah terima Tuhan Yesus dan doa kelepasan. Contohnya masih ada yang melakukan doa tiga malam, sepuluh malam dan empat puluh malam bagi yang berduka. Hal ini tidak sesuai dengan kebenaran firman sehingga tidak perlu dilakukan dan harus ditinggalkan. Hal seperti ini memang tidak membuat seseorang pindah kepercayaan tetapi ini jelas menunjukkan bahwa orang tersebut belum menjalani hidup barunya.
Roma 10:17 Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.
Untuk menjalani hidup oleh iman, hal ini tidak dapat dipisahkan dengan firman Allah. Pada mulanya adalah firman, dan firman bersama-sama dengan Allah dan firman itu adalah Allah sendiri. Alkitab itu adalah firman Allah. Hidup oleh iman itu sederhana yaitu ketaatan didalam melakukan firman Tuhan tanpa syarat. Mendengar firman Tuhan pakai telinga yaitu ketika kita sedang mendengarkan pengajaran firman oleh orang lain dan mendengar tidak pakai telinga yaitu ketika kita membacanya. Hidup kita sehari-hari tidak dapat dipisahkan dengan firman Tuhan. Realita apa pun yang kita hadapi sehari-hari adalah pengalaman hidup. Tetapi sebagai orang percaya tidak cukup hanya mengandalkan pada pengalaman hidup. Setiap orang yang hidup oleh iman akan menghasilkan pengalaman iman dan pengalaman iman akan menghasilkan pertumbuhan iman. Seharusnya kita bersyukur dengan adanya realita hidup yang kita hadapi karena tidak seorangpun dapat melarikan diri dari kenyataan hidup, apa pun bentuk peristiwanya. Lari dari kenyataan hidup bukan menyelesaikan masalah tetapi awal dari sebuah bencana baru. Secara manusia walaupun ia punya iman tetapi jika ia tidak cakap dalam menghadapi realitas hidup, beberapa orang bisa bingung untuk mengambil keputusan. Oleh karena tu dalam menjalani hidup sehari-hari, fungsikanlah iman. Bukan hanya fungsi tubuh dan jiwani saja melainkan iman yang terlebih harus difungsikan karena iman tidak ada dalam pikiran kita melainkan menyatu dengan roh kita. Segala sesuatu yang dapat dikelola oleh pikiran kita hanya sebatas hukum logika tidak melebihi dari itu sedangkan realita-realita yang dihadapi seringkali tidak bisa dijawab oleh analisa oleh pikiran kita karena terbatas karena hukum logika tidak bisa menembus hukum iman tetapi hukum iman bisa menembus hukum logika makanya Tuhan menetapkan kita untuk hidup oleh iman. Setiap orang percaya harus punya kemampuan mengubah pengalaman hidup menjadi pengalamn iman. Jika tidak, kita tidak akan bertumbuh dan bisa menjadi kecewa kepada Tuhan karena tidak mengerti. Kita tidak memahami bahwa iman bukan hanya sekedar jawaban doa untuk suatu permintaan.
Bagaimana merubah pengalaman hidup menjadi pengalaman iman?
Tuhan sudah mengajarkan kita bahwa iman tidak bisa dipisahkan dari firman. Ketika realitas hidup hadir, firman juga hadir karena firman itu hidup dan berkuasa. Ia menyatakan dirinya. Ketika ada realitas hidup diperhadapkan kepada kita, firman itu juga sudah hadir sebagai jawaban atas realitas hidup itu sendiri. Tetapi seringkali manusia lupa bahwa firman itu sudah hadir, lupa bahwa Allah hadir dalam setiap masalah. Itulah format alamiah manusia yang harus kita kalahkan. Jadi kita harus melatih iman kita sehingga tidak menjadi kecewa dan dengan mudah berpindah kepercayaan. Apalagi jika imannya hanya sebatas jawaban doa, dan doanya tidak dijawab. Tuhan menjawab doanya dengan cara lain. Semua perintah Tuhan “tidak masuk akal”. Orang melakukan firman tidak dengan kekuatan jiwani melainkan dengan iman.
Ketika masalah hadir, firman juga hadir sebagai jawaban atas realitas tergantung apakah manusia mau membangkitkan iman yang ada di dalam unsur rohnya dimana firman ada dalam roh tersebut? Hak memilih bukanlah urusan Tuhan tetapi manusia itu sendiri. Tuhan hanya memberikan jalan. Itu sebabnya peran Roh Kudus mengingatkan kepada kita segala firman yang sudah pernah kita dengar. Melakukan firman yaitu mengasihi musuh tidak dapat dilakukan dengan unsur jiwani/akal logika manusia. Hal ini tidak mungkin dilakukan tanpa ketaatan akan firman. Pada saat kita lakukan firman yang tidak masuk diakal, itulah yang menjadi pengalaman iman, dan pengalaman-pengalaman iman ini menghasilkan pertumbuhan iman. Jadi kita harus melatih diri untuk selalu merubah pengalaman hidup menjadi pengalaman iman. Ketika terjadi sesuatu, cari dulu firman sebagai jawaban baru kemudian berdoa untuk masalah itu. Bukan berdoa dulu lalu mencari jawaban. Firman Tuhan katakan “Datanglah pada Tuhan dengan iman.” Jadi kita tidak menjadikan Tuhan sebagai tempat untuk melampiaskan emosional. Secara unsur jiwani manusia akan merasa lega ketika sudah tersalurkan emosionalnya karena tekanan-tekanan jiwa sudah ia tumpahkan walau sebenarnya persoalannya belum terjawab.
Ibrani 11:6 Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Dia.
Bentuk-bentuk pengalaman Iman
Iman bukan hanya sebatas terjawabnya suatu doa. Pengalaman pertama pada saat seseorang lahir baru adalah terjawabnya doa.
Ibrani 11:1-34Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. 2Sebab oleh imanlah telah diberika kesaksian kepada nenek moyang kita. 3Karena iman kita mengerti, bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat. 4Karena iman Habel telah mempersembahkan kepada Allah korban yang lebih baik dari pada korban Kain. Dengan jalan itu ia memeperoleh kesaksian kepadanya, bahwa ia benar, karena Allah berkenan akan persembahannya itu dan karena iman ia masih berbicara, sesudah ia mati. 5Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah. 6Tetapi tanpa iman tidak mungkin orang berkenan kepada Allah. Sebab barangsiapa berpaling keada Allah, ia harus percaya bahwa Allah ada, dan bahwa Allah memberi upah kepada orang ynag sungguh-sungguh mencari Dia. 7Karena iman, maka Nuh-dengan petunjuk Allah tentang sesuatu yang belum kelihatan – dengan taat mempersiapkan bahtera untuk menyelamatkan keluarganya; dan karena iman itu ia menghukum dunia, dan ia ditentukan untuk menerima kebenaran, sesuai dengan imannya. 8Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. 9Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. 10Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Allah. 11Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. 12Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya. 13Dalam iman mereka semua ini telah mati sebagai orang-orang yang tidak memperoleh apa yang dijanjikan itu, tetapi yang hanya dari jauh melihatnya dan melambai-lambai kepadanya dan yang mengakui, bahwa mereka adalah orang asing dan pendatang di bumi ini. 14Sebab mereka yang berkata demikian menyatakan, bahwa mereka dengan rindu mencari suatu tanah air. 15Dan kalau sekiranya dalam hal itu mereka ingat akan tanah asal, yang telah mereka tinggalkan maka mereka cukup mempunyai kesempatan untuk pulang ke situ. 16Tetapi sekarang mereka merindukan tanah air yang lebih baik yaitu suatu tanah air sorgawi. Sebab itu Allah tidak malu disebut Allah mereka, karena ia telah mempersiapkan sebuah kota bagi mereka. 17Karena iman maka Abraham, tatkala ia dicobai, mempersembahkan Ishak. Ia, yang telah menerima janji itu, rela mempersembahkan anaknya yang tunggal, 18walaupun kepadanya telah dikatakan: “Keturunan yang berasal dari Ishaklah yang akan disebut keturunanmu.” 19Karena ia berpikir, bahwa Allah berkuasa membangkitkan orang-orang sekalipun dari antara orang mati. Dan dari sa ia seakan-akan telah menerimanya kembali. 20Karena iman maka Ishak, sambil memandang jauh ke depan, memberikan berkatnya kepada Yakub dan Esau. 21Karena iman maka Yakub, ketika hampir waktunya akan mati, memberkati kedua anak Yusuf, lalu menyembah sambil bersandar pada kepal tongkatnya. 22Karena iman maka Yusuf menjelang matinya memberitakan tentang keluarnya orang-orang Israel dan memberi pesan tentang tulang belulangnya. 23Karena iman maka Musa, setelah ia lahir, disembunyikan selama tiga bulan oleh orang tuanya, karena mereka melihat, bahwa anak itu elok rupanya dan mereka tidak takut akan perintah raja. 24Karena iman maka Musa, setelah dewasa, menolak disebut anak puteri Firaun, 25karena ia lebih suka menderita sengsara dengan umat Allah dari pada untuk sementara menikmati kesenangan dari dosa. 26Ia menganggap penghinaan karena Kristus sebagai kekayaan yang lebih besar dari pada semua harta Mesir, sebab pandangannyaia arahkan kepada upah. 27Karena iman maka ia telah meninggalkan Mesir dengan tidak takut akan murka raja. Ia bertahan sama seperti ia melihat apa yang tidak kelihatan. 28Karena iman maka ia mengadakan Paskah dan pemercikan darah, supaya pembinasa anak-anak sulung jangan menyentuh mereka. 29Karena iman maka mereka telah melintasi tanah kering, sedangkan orang-orang Mesir tenggelam, ketika mereka mencobanya juga. 30Karena iman maka runtuhlah tembok-tembok Yerikho, setelah kota itu dikelilingi tujuh hari lamanya. 31Karena iman maka Rahab, perempuan sundal itu, tidak turut binasa bersama-sama dengan orang-orang durhaka, karena ia telah menyambut pengintai-pengintai itu dengan baik. 32Dan apakah lagi yang harus aku sebut? Sebab aku akan kekurangan waktu, apabila aku hendak menceritakan tentang Gideon, Barak, Simson, Yefta, Daud dan Samuel dan para nabi, 33yang karena iman telah menaklukkan kerajaan-kerajaan, mengamalkan kebenaran, memperoleh apa ynag dijanjikan, menutup mulut singa-singa, 34memadamkan api yang dahsyat. Mereka telah luput dari mata pedang, telah beroleh kekuatan dalam kelemahan, telah menjadi kuat dalam peperangan dan telah memukul mundur pasukan-pasukan tentara asing.
Ayat-ayat diatas menunjukkanbentuk iman dalam sebuah jawaban doa. Iman untuk suatu penggenapan janji Allah. Itulah pengalaman pertama sebagai orang percaya ketikalahir baru. Makanya banyak orang lahir baru dapat bersaksi tentang perbuatan-perbuatan Allah yang dahsyat, mujizat-mujizat yang ia alami, pertolongan Tuhan dan cara-cara Tuhan melakukan segala sesuatu dengan luar biasa tujuannya ialah untuk meyakinkan kita bahwa Allah yang kita yakini adalah Allah yang dahsyat. Tetapi ada pengalaman berikutnya yaitu pengalaman ketika Tuhan menghajar kita. Namun didalamnya kita tahu, apa pun bentuknya tidak terlepas dari ketaatan. Masih banyak bentuk pengalaman iman yang tujuannya membuat kita tetap teguh berdiri, kokoh, kuat dan tidak tergoyahkan.
Yudas 1:20 Akan tetapi kamu, saudara-saudarku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus.
By. : Pdt. R.F Martino
MENGANTISIPASI KEMAPANAN HIDUP (4)
1 Yohanes 2:15-17 “Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia. Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”
Minggu ini kita akan melanjutkan belajar kebenaran Firman Tuhan mengenai apa yang telah kita pelajari beberapa minggu yaitu:
1. Memahami bahwa kemapanan hidup adalah rancangan Tuhan bagi setiap orang percaya. Tuhan menghendaki agar kita hidup mapan.
2. Sikap iman kita sebagai orang percaya adalah tidak perlu bercita-cita untuk menjadi kaya karena Tuhan sudah menetapkan setiap orang percaya untuk hidup mapan, dan kita harus berhati-hati supaya kita tidak melupakan Tuhan saat Tuhan membawa kita kepada kehidupan yang mapan. Saat Tuhan memberkati kita, itu hanyalah fasilitas supaya segala sesuatu yang kita kerjakan menjadi lancar. Namun yang banyak terjadi adalah orang percaya membuat hatinya menjadi “gudang barang/materi” sehingga segala hal duniawi tersebut menggantikan / mengambilalih posisi Tuhan dalam hatinya. Firman Tuhan berkata jika seseorang mencintai dunia maka kasih (AGAPE) akan Bapa tidak ada dalam diri orang itu. Seseorang yang tidak memiliki kasih AGAPE kepada Tuhan maka ia melakukan segala ketaatannya dibawah tekanan. Ia taat karena takut Tuhan hukum, bukan karena mengasihi Tuhan.
3. Tindakan kita dalam meresponi rancangan Tuhan adalah dengan melakukan 2 hukum:
Pertama, Hukum alamiah yaitu dengan cara:
a. Bekerja karena cara Tuhan menghadirkan uang dalam hidup kita melalui bekerja. Orang yang tidak mau bekerja janganlah ia makan. Melalui bekerja maka kita akan mendapatkan hasil.
b. Manajemen yang baik. Urus/kelola dan kembangkan dengan baik dengan segala hikmat akal budi. Jangan membuang waktu. Orang dunia saja mempunyai filosofi “Waktu adalah uang”. Kita memang tidak mau tertekan dengan uang namun kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu.
Karena itu camkan: “Jika kita sudah umur 40 tahun masih tinggal dirumah orangtua/mertua maka selamanya kita tidak akan punya rumah sendiri.” Mengapa? Karena saat umur 40 tahun kekuatan fisik dan pikiran kita melemah. Maka sebelum umur 40 tahun kita harus berjuang untuk mencapai kemapanan hidup seperti yang Tuhan rancangkan.
Kedua, Hukum Firman yaitu dengan melakukan Firman Tuhan yaitu mengembalikan milik Tuhan dan menabur.
Kita harus memahami bahwa IMAN BERSIFAT SANGAT PRIBADI. Jika si A menjadi penyebab kita menjadi lemah, maka Tuhan tidak berurusan dengan si A namun dengan diri kita mengapa kita menjadi lemah. Karena itu Tuhan memerintahkan kita dalam Yudas 1:20-21 “Akan tetapi kamu, saudara-saudaraku yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci dan berdoalah dalam Roh Kudus. Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal.” Begitupun karena iman itu bersifat sangat pribadi, janganlah kita menghakimi orang lain, karena itu bukan urusan kita namun urusan/hak Tuhan, apalagi jika orang tersebut mempunyai pergumulan hidup. Karena itu kita harus menjaga hati. Dalam Roma 14:23 “Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa.”
Hidup oleh iman adalah hidup melakukan Firman. Berarti SEGALA SESUATU YANG KITA LAKUKAN HARUS SESUAI FIRMAN. Sederhananya: jika kita tidak melakukan Firman, maka kita melakukan dosa. Saat kita bekerja dan mendapatkan hasil, maka dari hasil tersebut ada 10% yang merupakan milik Tuhan yang harus dikembalikan.
Maleakhi 3:10 “Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.” Dari ayat diatas Tuhan berjanji akan melimpahkan berkat. Tuhan tidak hanya memberkati secukupnya namun BERKELIMPAHAN. Tuhan menantang kita untuk “mencobai Tuhan” dalam hal mengembalikan persepuluhan maka Tuhan akan memberkati sampai berkelimpahan. Sekalipun demikian, kita mengembalikan persepuluhan bukan karena mengharap balasan Tuhan. Lakukanlah dengan IMAN dan KASIH kepada Tuhan. Mengembalikan persepuluhan tidak membuat hamba Tuhan menjadi kaya, sebaliknya jika kita tidak mengembalikan persepuluhan tidak membuat hamba Tuhan menjadi miskin. Karena Tuhan bisa memberkati hamba Tuhan dengan berbagai cara. Tuhan memelihara Elia dengan cara mengirim roti melalui burung gagak. Padahal kita tahu bahwa burung gagak adalah burung yang najis. Berarti Tuhan bisa memberkati hamba Tuhan dengan berbagai cara bahkan bisa dari luar jemaat.
Jika kita tidak mengembalikan milik Tuhan, uang tersebut tetap tidak akan ada pada kita karena Tuhan akan datang ambil sendiri milik-Nya dengan berbagai cara. Setelah mengembalikan milik Tuhan, kita harus memahami hal berikutnya: Mengapa Tuhan memberkati kita sampai berkelimpahan? Supaya kita bisa menabur.
2 Korintus 9:9-11 “Seperti ada tertulis: “Ia membagi-bagikan, Ia memberikan kepada orang miskin, kebenaran-Nya tetap untuk selamanya.”Ia yang menyediakan BENIH bagi penabur, dan ROTI untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami.”
Jadi setelah kita mengembalikan milik Tuhan yaitu 10% dari penghasilan kita, di tangan kita masih ada 90%. Di dalam 90% yang kita pegang itu ada:
1. Roti untuk dimakan.
2. Benih untuk ditabur. Karena itu jangan “memakan” semua 90% itu, karena ada benih yang harus ditabur.
Menabur adalah investasi masa depan. Karena itu latih diri kita untuk mengembalikan milik Tuhan dan menabur sejak masa muda!
Galatia 6:7-8 “Jangan sesat! Allah tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Karena apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barangsiapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu.”
Dari ayat diatas kita memahami bahwa:
– Apa yang kita tabur, itu yang akan kita tuai. Jika kita menabur biji mangga, maka yang akan tumbuh adalah tanaman mangga. Maka:
– Siapa menabur rohani, akan menuai rohani. Jika kita menabur “doa”, yang akan kita tuai adalah iman kita menjadi kuat
– Siapa menabur materi/uang, akan menuai materi/uang.
Berarti: jika kita menuai doa, jangan mengharap akan menuai uang. Karena apa yang kita tabur, itu yang akan kita tuai. Namun banyak terjadi bahwa orang rohani menjadi semakin kikir, baik kikir kepada Tuhan maupun kepada dirinya sendiri. Mengapa? Karena mereka mendispensasikan hukum tabur tuai dengan hal-hal rohani yang sudah mereka lakukan. Karena itu tidak heran ada orang-orang rohani yang hidupnya melarat. Tentu kita tidak mau hidup seperti nyanyian, “Biar saya miskin di dunia asalkan kaya di surga.” Karena ketetapan Tuhan adalah di dunia kita diberkati, dan kekekalan kita ada di surga.
Selanjutnya yang perlu kita pahami: Kemana kita harus menabur? Tuhan sudah menetapkan pos-posnya:
1. Persembahan kasih (tatangan) untuk pekerjaan Tuhan contohnya pembangunan gereja, kolekte, dll. Hal ini dapat kita baca di 2 Korintus 8 & 9.
2. Menabur untuk hamba Tuhan. Galatia 6:6-7 “Dan baiklah dia, yang menerima pengajaran dalam Firman, membagi segala sesuatu yang ada padanya dengan orang yang memberikan pengajaran itu.”
Mungkin ada yang berkata “Untuk apa memberi kepada hamba Tuhan karena hamba Tuhan juga bisa membeli sendiri.” Namun ingatlah bahwa kita melakukan ini karena Firman Tuhan yang mengatakannya / memerintahkannya.
3. Menabur untuk orang miskin (persembahan diakonia / sedekah). Matius 6:1-4 “Ingatlah, jangan kamu melakukan kewajiban agamamu di hadapan orang supaya dilihat mereka, karena jika demikian, kamu tidak beroleh upah dari Bapamu yang di sorga. Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya. Tetapi jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu. Hendaklah sedekahmu itu diberikan dengan tersembunyi, maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu.”
BAGAIMANA MENABUR?
1. Jangan tunggu sampai kaya / berkelimpahan baru menabur. Latih diri lakukan dari sekarang. Salah satu aplikasi praktis yang bisa kita lakukan adalah membuat 4 macam celengan kecil
– Celengan pertama adalah persepuluhan. Begitu mendapat penghasilan langsung kita masukkan ke celengan tersebut 10% untuk kita kembalikan ke gereja
– Celengan kedua adalah untuk hamba Tuhan
– Celengan ketiga adalah untuk pekerjaan Tuhan.
-Celengan keempat adalah untuk diakonia/orang miskin. Karena celengan ke-2, 3, dan 4 tidak ditetapkan jumlahnya, maka kita bisa memulai dengan hal sederhana setiap hari. Saat hari ini ada uang didompet Rp.5.000 maka kita bisa masukkan ke salah satu celengan dimana Tuhan menggerakkan hati kita. Saat besok ada uang Rp.10.000 maka kita masukkan ke salah satu celengan lagi dimana Tuhan gerakkan hati kita. Demikian seterusnya sampai suatu ketika celengan tersebut sudah penuh maka bisa kita berikan/tabur sesuai tujuannya.
2. Untuk pekerjaan Tuhan di gereja ini, gereja mengadakan amplop partisipasi. Berapapun yang bisa kita berikan, kita berikan. Tidak harus jumlah yang besar namun apa yang bisa kita berikan. Di gereja ini tidak diizinkan pencarian dana dengan bazar. Mengapa? Karena misalkan modal bazar makanan Rp.10.000, lalu dijual dengan harga Rp.20.000, berarti sesungguhnya yang kita tabur bukan Rp.20.000 namun Rp.10.000. Apakah tanpa membeli bazar kita tidak bisa menabur Rp.20.000? Tentu bisa, bukan? Jadi tidak perlu melakukan pencarian dana dengan bazar, KECUALI pelayanan kategorial remaja/pelajar. Karena remaja/pelajar mempunyai dana yang terbatas dan belum bekerja, maka untuk melatih mereka untuk tidak memiliki mental meminta-minta, maka mereka boleh melakukan pencarian dana dengan “menjual tenaga” misalnya cuci motor, jaga parkir, termasuk bazar.
3. Menaburlah dengan IMAN dan KASIH. Dengan iman, berarti saat kita menabur kita percaya kita pasti menuai. Dengan kasih, berarti saat menabur bukan menuai yang menjadi tujuan/motivasi kita, namun karena kita mengasihi Tuhan. Jadi jika kita membangun gedung gereja, jangan berpikir untuk meminta sumbangan dari gereja lain. Bukan kita sombong, namun kita mau jemaat ini yang menabur supaya jemaat ini juga yang diberkati. Ingatlah, siapa menabur ia akan menuai. Jika kita melakukan Firman dalam hal hukum tabur tuai, maka kita akan melihat kelimpahan yang Tuhan janjikan.
By. : Pdt. R. F. Martino
TETAP BERDIRI
Efesus 6:10-17 “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan TETAP BERDIRI, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah”
Apa itu berdiri? BERDIRI adalah bertahan tanpa menyerah, menjaga posisi, tetap memegang kebenaran, melawan musuh, berhadapan muka dengan muka. Dalam ayat diatas, Paulus tidak hanya berkata, “Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan” karena jika hanya berkata demikian, artinya menjadi kabur dan kita cenderung menggunakan kekuatan sendiri untuk tetap kuat. Namun Paulus melanjutkan, “… di dalam kekuatan kuasa-Nya.” Membuktikan bahwa tidak ada seorang pun yang tetap kuat hanya dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Kita kuat karena Tuhan yang memberikan kekuatan-Nya kepada kita. Setiap kita tidak bisa bertahan – dalam hidup berumahtangga, dunia pekerjaan, pelayanan, dan lain sebagainya – kalau bukan kekuatan dari Tuhan. Terutama hamba-hamba Tuhan. Hamba-hamba Tuhan dalam pelayanan sangat butuh kekuatan dari Tuhan. Mengapa Paulus berkata demikian? Karena dalam keseharian kita mau tidak mau, siap atau tidak siap, kita masuk dalam peperangan dan peperangan itu bukan melawan darah dan daging (yang kelihatan) melainkan melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap, melawan roh-roh jahat di udara.
Secara “de jure” kemenangan sudah menjadi milik kita karena Panglima kita (Tuhan Yesus Kristus) sudah memenangkan peperangan. Ia telah melucuti panglima musuh kita (Iblis).
Kolose 2:15 “Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.”
Peperangan sudah dimenangkan tetapi bukan berarti tidak ada pertarungan, masih ada “battle”, ada bagian yang harus kita tundukkan, kita kuasai. Bangsa Israel sewaktu Tuhan berkata “tanah perjanjian ini milikmu” secara “de jure” tanah itu sudah menjadi milik mereka tetapi mereka masih perlu pergi menaklukkan dan mengusir musuh yang menduduki tanah mereka. Oleh sebab itu kita perlu menghidupi kemenangan kita di dalam setiap area kehidupan kita.
Klaim kemenangan kita dalam: kesehatan, keuangan, pernikahan, dan masa depan. Jadi jika sakit di dada jangan berkata “jangan-jangan sakit jantung”. Yang pernikahannya dalam goncangan jangan kuatir karena Tuhan pasti berikan kemenangan. Begitupun yang sedang berjuang dengan masa depan. Iblis tidak bisa membatalkan kemenangan yang telah Kristus berikan di atas kayu salib. Yang dia bisa coba lakukan adalah menghalangi kita, menipu kita sehingga kita tidak menghidupi kemenangan yang telah menjadi bagian hidup kita, yaitu lewat “TIPU MUSLIHAT”nya – senjata satu-satunya yang dia lepaskan seperti panah api dari jarak jauh. Saat kita tidak punya perisai maka panah api itu akan tembus dan menghancurkan hidup kita.
Efesus 6:11 “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan TIPU MUSLIHAT Iblis”
Bagaimana tipu muslihatnya bekerja? Panah api tipu muslihat iblis cukup dengan mendatangkan badai dalam hidup orang-orang percaya. Badai adalah angin kencang yang punya kemampuan menggoncangkan, memporak-porandakan, bahkan menghancurkan, memusnahkan, dan membinasakan semua yang ada di sekitarnya. Badai hidup bukan hanya saat kita dalam masa kesulitan saja tetapi dalam zona kemapanan hidup, disitu juga bisa ada badai atau terjadi badai.
I. KEMAPANAN HIDUP
Mapan adalah stabil, permanen, lebih baik dari keadaan semula. Kehidupan yang lebih baik dari semula itu yang Tuhan rancangkan dan terus kerjakan dalam hidup kita (ada proses perjalanan) tetapi apabila hidup mapan/sukses sudah menjadi tujuan hidup maka disitulah panah api tipu muslihat iblis berhasil kena pada sasaran. John Maxwell berkata, “Kesuksesan bukanlah tujuan tetapi perjalanan.” Jadi jangan jadikan kesuksesan sebagai tujuan.
Seorang hamba Tuhan pernah berkata, “Jika kesuksesan menjadi tujuan, maka itu adalah awal kemunduran.” Sebagai orang percaya jangan jadikan kesuksesan sebagai tujuan hidup tetapi perjalanan hidup, maka kita tidak akan terlena dengan kesuksesan yang kita alami, kita tetap akan mengarah pada tujuan.
Lukas 12:16-21 “Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”
Dalam ayat diatas kita melihat bahwa saat kemapanan menjadi tujuan, maka kemapanan itu menyebabkan kebinasaan. Ayat dalam Perjanjian Baru tersebut sinkron dengan peringatan Tuhan dalam Perjanjian Lama.
Ulangan 8:7-11 “Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga. Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu. Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini”
Musa memperingatkan bangsa Israel yaitu saat mereka masuk dalam masa kelimpahan, “Hati-hatilah supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu.” Sampai disini mungkin kita berpikir bahwa kita tidak melupakan Tuhan karena kita masih setia beribadah, setia melayani, setia memberi persepuluhan, dll. Namun peringatan tersebut dilanjutkan, “dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini.” Maka dari peringatan ini kita mengetahui bahwa perihal “melupakan Tuhan” bukan berbicara mengenai urusam ibadah dan pelayanan saja namun berbicara tentang kehidupan keseharian kita, yaitu dalam berumahtangga, dalam berbisnis, dalam studi, dll apakah kita melakukan perintah Tuhan atau tidak? Camkanlah, BERKAT dapat menjadi BADAI dalam hidup kita karena ia mampu menggoncangkan iman kita bahkan menghancurkan hidup kita. Karena itu berwaspadalah. Kita semua pasti punya kerinduan untuk berjumpa dengan Yesus. Namun kita harus berhati-hati karena berkat bisa menghancurkan iman pengiringan kita kepada Yesus. Jika saat ini kita menikmati berkat yang berkelimpahan, puji Tuhan. Namun iblis tidak berhenti melancarkan panah apinya untuk menjadikan berkat menjadi badai yang menggoncangkan iman kita. Banyak orang yang lengah dengan kemapanan hidup, dengan menjadikan kemapanan menjadi tujuan hidup. Sedangkan Paulus berkata bahwa pengenalan akan Kristus jauh lebih berharga daripada semuanya! Tanyakan pada diri kita sendiri. Apakah dalam zona kemapanan kita masih “TETAP BERDIRI” yaitu Tetap berpegang kepada kehendak-Nya? Berkat melimpah, usaha diberkati, apakah menyebabkan persekutuan dengan Tuhan semakin kendor? Banyak orang berpikir bahwa didalam kemapanan ia tidak kendor karena masih memberi persembahan untuk pekerjaan Tuhan. Namun Tuhan lebih menginginkan diri kita daripada persembahan kita karena semua isi dunia ini milik Tuhan.
II. MASA KESULITAN / PADANG GURUN
Jika dalam masa kelimpahan ada badai, demikian juga dalam masa padang gurun. Padang gurun yang kering berbicara tentang masa kesusahan / kesulitan. Di tengah badai tersebut, apakah kita masih bisa “TETAP BERDIRI” – tetap berpegang pada perintah-Nya? Badai apa di padang gurun?
1. Krisis kasih.
Kunci untuk menang atas keadaan ini adalah Kolose 3:14 “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”
“Kenakanlah kasih” berarti kasih itu dipakai, dihidupi dalam hidup sehari-hari. Lebih lanjut dikatakan bahwa kasih adalah pengikat yang “mempersatukan” dan “menyempurnakan”.”Mempersatukan” itu mudah namun “Menyempurnakan” berbicara mengenai proses. Saat dalam pernikahan ada gesekan antara suami istri, maka kasih tidak boleh sampai menjadi dingin. Jika kasih menjadi dingin maka itu berbahaya. Ada pasangan yang sudah lama menikah tidak lagi merasa sebagai sepasang kekasih tetapi kini merasa seperti kakak adik, ini tidak boleh terjadi. Ada lagi yang menyebut istri/suaminya sebagai “mantan kekasih”nya. Ini keliru karena semakin lama kita menikah, seharusnya istri/suami kita tetap menjadi kekasih kita. Saat ada masalah dalam pernikahan, kita tidak boleh membiarkan Iblis memporak-porandakan pernikahan kita. Umumnya Ego/kesombongan yang menjadi penghalang hubungan dalam rumah tangga dipulihkan. Namun ayat diatas tidak hanya berbicara mengenai pernikahan tetapi juga segala bentuk hubungan (relationship). Begitupun dalam hubungan antara anak dan orangtua harus mengenakan kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.
2. Krisis ekonomi
Perekonomian mungkin saat ini memang susah, namun jangan katakan “susah” karena perkataan kita adalah perkataan profetik yang punya kuasa.
3. Sakit penyakit. Ketika dokter memvonis seseorang mengidap suatu penyakit, ini juga adalah badai dalam hidupnya.
4. Menghadapi sesuatu yang sepertinya mustahil
Apa kata Alkitab saat kita berada dalam masa “padang gurun”?
Ulangan 8:2 “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.”
Dalam ayat ini kita menemukan bahwa: – Perjalanan kita berputar-putar di padang gurun adalah atas kehendak Tuhan. – Masa padang gurun adalah proses Tuhan dengan maksud merendahkan hati kita. – … dan untuk mengetahui apa yang ada dalam hati kita yakni apakah kita berpegang pada perintah-Nya atau tidak.
III. BAGAIMANA SUPAYA KITA TETAP BISA BERDIRI DI TENGAH BADAI?
Ambil dan kenakan selengkap senjata Allah! Rasul Paulus menggunakan ilustrasi pakaian perang prajurit Romawi untuk menjelaskan tentang “Selengkap Senjata Allah” yaitu:
1. Ikat pinggang kebenaran
Ikat pinggang adalah alat satu-satunya yang mempertahankan semua pakaian dan peralatan yang dipakai ada pada tempatnya, supaya ia bebas bergerak. Ikat pinggang prajurit Romawi terbuat dari tembaga yang dapat menahan serangan dari benda tajam. Kita tidak punya kekuatan melawan musuh dengan pedang roh dan perisai iman kalau hidup kita tidak ada KEBENARAN. Namun jika kita hidup dalam kebenaran, kita akan dapat melawan dan menang atas bapa pendusta yaitu iblis dan roh-roh jahatnya. Yesus adalah kebenaran (Yoh 14:6) dan kita telah dibenarkan oleh ketaatan Kristus (Roma 5:19) karena itu tetaplah hidup dalam kebenaran: – Dalam bisnis apakah kita melakukan cara-cara dunia (kecurangan) atau kebenaran? – Apakah kita memiliki utang yang belum dibayar? Dalam hidup berjemaat dimana-mana, ada banyak antar jemaat yang menjadi bermasalah karena permasalahan utang yang tidak dibayar
2. Berbajuzirahkan keadilan
Baju zirah menutupi organ-organ vital dari seorang prajurit (jantung, paru-paru, hati, dsbnya). Dengan melindungi organ-organ vital, maka baju zirah menambah keyakinan prajurit untuk menghadapi musuh tanpa takut. Keadilan akan ada dalam hidup seseorang kalau orang tersebut hidup dalam kebenaran. Kasih Allah itu sifatnya adil artinya Tuhan mengasihi semua umat manusia tanpa kecuali. Kenakanlah baju zirah keadilan maka tak ada rasa benci dari hati kita terhadap sesama kita sekalipun ia pernah menyakiti kita.
3. Kasut kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera. Sepatu/kasut prajurit Romawi terbuat dari kulit dan mengikat tali pusat kaki dan ke atas pergelangan kaki, paku sepatu yang terbuat dari besi dipalu untuk menambah kekuatan juga supaya tidak licin. Karena tentara Romawi dilengkapi dengan alas kaki yang memiliki paku di telapak, kasut ini memberikan mereka sikap cukup kuat dan keseimbangan yang memberi mereka sikap unggul dalam pertempuran di bukit-bukit dan medan yang tidak rata. Kasut menunjukkan dalam keadaan SIAP. Kemanapun kita pergi selalu menggunakan kasut. Kemanapun kita melangkah tidak akan lupa untuk memberitakan Injil, membawa orang-orang menjadi warga negera kerajaan sorga, hidup dalam damai sejahtera (tidak egois).
4. Perisai Iman. Perisai adalah senjata pertahanan biasanya dibawa di tangan kiri dan digunakan untuk melindungi seluruh tubuh prajurit. Permukaannya dijaga tetap berkilau dengan minyak yang merefleksikan cahaya matahari untuk membutakan musuh. Perisai juga membantu mengalihkan gerakan musuh. Seringkali iblis tidak menyerang tubuh kita, bukan juga roh kita karena Roh Tuhan ada dalam kita, tetapi jiwa kita yaitu: hati, pikiran, perasaan, dan kehendak kita, melalui panah api keraguan, ketakutan, dan ketidakpercayaan
5. Ketopong Keselamatan
Kepala merupakan bagian vital yang terpenting sehingga harus mengenakan ketopong. Bagian vital yang dijaga utamanya adalah mata dan bagian otak. Firman Tuhan berkata bahwa mata adalah pelita tubuh karena itu jagalah penglihatan kita tetap suci, bersih dan berkenan pada Tuhan. Selain itu ketopong juga melindungi bagian otak artinya ketopong tersebut akan menjaga pikiran kita terhadap hal-hal negatif. Saat pikiran-pikiran negatif menyerang milikilah prinsip: “…tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar..” (Flp 2:12). Bagian Tuhan memberikan keselamatan. Bagian kita adalah menjaganya. Mengapa iblis menyerang pikiran kita dengan panah api? Pikiran ada di alam yang tidak kelihatan tetapi pikiran punya kekuatan yang dahsyat untuk mengendalikan apa yang kelihatan. Pikiran bisa membuat frustrasi dan depresi, juga bisa membuat prestasi kerja. Nafsu seksual juga dikendalikan oleh pikiran. Karena itu jagalah pikiran kita.
6. Pedang roh
Pedang adalah senjata untuk bertahan dan menyerang. Pedang menahan prajurit dari serangan musuh dan digunakan untuk melukai atau membunuh musuh. Pedang dibawa di tangan kanan dan merupakan lambang dari kuasa dan otoritas. Pedang roh adalah Firman Tuhan yang dipertajam dan dihidupkan oleh Roh Kudus. Pengunaan pedang ini hanya efektif bila perlengkapan senjata yang lain ada pada tempatnya. Kita membutuhkan Firman Tuhan untuk melawan serangan dari si jahat. (Mazmur 119:92; 105)
IV. TETAP BERDIRI TETAP BERDIRI
Ambil dan kenakan seluruh perlengkapan senjata Allah SETIAP HARI. Peperangan rohani bukan hanya suatu acara atau saat-saat tertentu tetapi setiap saat dalam keseharian kita. “Kenakan” berarti hidup kita menghidupi Firman. Apa saat ini kita merasa teguh berdiri? 1 Kor 10:12 “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” Berhati-hatilah. Kita kuat karena Tuhan yang memberikan kekuatan-Nya kepada kita. Kita harus dengan kerendahan hati berkata bahwa kita membutuhkan kekuatan dari Tuhan.
1 Korintus 15:58 “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, BERDIRILAH TEGUH, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”
By. : Pdt. Lea Novitasari













