This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

TETAP BERDIRI

Efesus 6:10-17 “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat mengadakan perlawanan pada hari yang jahat itu dan TETAP BERDIRI, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu. Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran dan berbajuzirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah”

Apa itu berdiri? BERDIRI adalah bertahan tanpa menyerah, menjaga posisi, tetap memegang kebenaran, melawan musuh, berhadapan muka dengan muka. Dalam ayat diatas, Paulus tidak hanya berkata, “Hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan” karena jika hanya berkata demikian, artinya menjadi kabur dan kita cenderung menggunakan kekuatan sendiri untuk tetap kuat. Namun Paulus melanjutkan, “… di dalam kekuatan kuasa-Nya.” Membuktikan bahwa tidak ada seorang pun yang tetap kuat hanya dengan menggunakan kekuatannya sendiri. Kita kuat karena Tuhan yang memberikan kekuatan-Nya kepada kita. Setiap kita tidak bisa bertahan – dalam hidup berumahtangga, dunia pekerjaan, pelayanan, dan lain sebagainya – kalau bukan kekuatan dari Tuhan. Terutama hamba-hamba Tuhan. Hamba-hamba Tuhan dalam pelayanan sangat butuh kekuatan dari Tuhan. Mengapa Paulus berkata demikian? Karena dalam keseharian kita mau tidak mau, siap atau tidak siap, kita masuk dalam peperangan dan peperangan itu bukan melawan darah dan daging (yang kelihatan) melainkan melawan pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghulu-penghulu dunia yang gelap, melawan roh-roh jahat di udara.
Secara “de jure” kemenangan sudah menjadi milik kita karena Panglima kita (Tuhan Yesus Kristus) sudah memenangkan peperangan. Ia telah melucuti panglima musuh kita (Iblis).

Kolose 2:15 “Ia telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa dan menjadikan mereka tontonan umum dalam kemenangan-Nya atas mereka.”

Peperangan sudah dimenangkan tetapi bukan berarti tidak ada pertarungan, masih ada “battle”, ada bagian yang harus kita tundukkan, kita kuasai. Bangsa Israel sewaktu Tuhan berkata “tanah perjanjian ini milikmu” secara “de jure” tanah itu sudah menjadi milik mereka tetapi mereka masih perlu pergi menaklukkan dan mengusir musuh yang menduduki tanah mereka. Oleh sebab itu kita perlu menghidupi kemenangan kita di dalam setiap area kehidupan kita.
Klaim kemenangan kita dalam: kesehatan, keuangan, pernikahan, dan masa depan. Jadi jika sakit di dada jangan berkata “jangan-jangan sakit jantung”. Yang pernikahannya dalam goncangan jangan kuatir karena Tuhan pasti berikan kemenangan. Begitupun yang sedang berjuang dengan masa depan. Iblis tidak bisa membatalkan kemenangan yang telah Kristus berikan di atas kayu salib. Yang dia bisa coba lakukan adalah menghalangi kita, menipu kita sehingga kita tidak menghidupi kemenangan yang telah menjadi bagian hidup kita, yaitu lewat “TIPU MUSLIHAT”nya – senjata satu-satunya yang dia lepaskan seperti panah api dari jarak jauh. Saat kita tidak punya perisai maka panah api itu akan tembus dan menghancurkan hidup kita.
Efesus 6:11 “Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan TIPU MUSLIHAT Iblis”
Bagaimana tipu muslihatnya bekerja? Panah api tipu muslihat iblis cukup dengan mendatangkan badai dalam hidup orang-orang percaya. Badai adalah angin kencang yang punya kemampuan menggoncangkan, memporak-porandakan, bahkan menghancurkan, memusnahkan, dan membinasakan semua yang ada di sekitarnya. Badai hidup bukan hanya saat kita dalam masa kesulitan saja tetapi dalam zona kemapanan hidup, disitu juga bisa ada badai atau terjadi badai.
I. KEMAPANAN HIDUP
Mapan adalah stabil, permanen, lebih baik dari keadaan semula. Kehidupan yang lebih baik dari semula itu yang Tuhan rancangkan dan terus kerjakan dalam hidup kita (ada proses perjalanan) tetapi apabila hidup mapan/sukses sudah menjadi tujuan hidup maka disitulah panah api tipu muslihat iblis berhasil kena pada sasaran. John Maxwell berkata, “Kesuksesan bukanlah tujuan tetapi perjalanan.” Jadi jangan jadikan kesuksesan sebagai tujuan.
Seorang hamba Tuhan pernah berkata, “Jika kesuksesan menjadi tujuan, maka itu adalah awal kemunduran.” Sebagai orang percaya jangan jadikan kesuksesan sebagai tujuan hidup tetapi perjalanan hidup, maka kita tidak akan terlena dengan kesuksesan yang kita alami, kita tetap akan mengarah pada tujuan.

Lukas 12:16-21 “Kemudian Ia mengatakan kepada mereka suatu perumpamaan, kata-Nya: “Ada seorang kaya, tanahnya berlimpah-limpah hasilnya. Ia bertanya dalam hatinya: Apakah yang harus aku perbuat, sebab aku tidak mempunyai tempat di mana aku dapat menyimpan hasil tanahku. Lalu katanya: Inilah yang akan aku perbuat; aku akan merombak lumbung-lumbungku dan aku akan mendirikan yang lebih besar dan aku akan menyimpan di dalamnya segala gandum dan barang-barangku. Sesudah itu aku akan berkata kepada jiwaku: Jiwaku, ada padamu banyak barang, tertimbun untuk bertahun-tahun lamanya; beristirahatlah, makanlah, minumlah dan bersenang-senanglah! Tetapi firman Allah kepadanya: Hai engkau orang bodoh, pada malam ini juga jiwamu akan diambil dari padamu, dan apa yang telah kausediakan, untuk siapakah itu nanti? Demikianlah jadinya dengan orang yang mengumpulkan harta bagi dirinya sendiri, jikalau ia tidak kaya di hadapan Allah.”

Dalam ayat diatas kita melihat bahwa saat kemapanan menjadi tujuan, maka kemapanan itu menyebabkan kebinasaan. Ayat dalam Perjanjian Baru tersebut sinkron dengan peringatan Tuhan dalam Perjanjian Lama.

Ulangan 8:7-11 “Sebab TUHAN, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik, suatu negeri dengan sungai, mata air dan danau, yang keluar dari lembah-lembah dan gunung-gunung; suatu negeri dengan gandum dan jelainya, dengan pohon anggur, pohon ara dan pohon delimanya; suatu negeri dengan pohon zaitun dan madunya; suatu negeri, di mana engkau akan makan roti dengan tidak usah berhemat, di mana engkau tidak akan kekurangan apa pun; suatu negeri, yang batunya mengandung besi dan dari gunungnya akan kaugali tembaga. Dan engkau akan makan dan akan kenyang, maka engkau akan memuji TUHAN, Allahmu, karena negeri yang baik yang diberikan-Nya kepadamu itu. Hati-hatilah, supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu, dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini”

Musa memperingatkan bangsa Israel yaitu saat mereka masuk dalam masa kelimpahan, “Hati-hatilah supaya jangan engkau melupakan TUHAN, Allahmu.” Sampai disini mungkin kita berpikir bahwa kita tidak melupakan Tuhan karena kita masih setia beribadah, setia melayani, setia memberi persepuluhan, dll. Namun peringatan tersebut dilanjutkan, “dengan tidak berpegang pada perintah, peraturan dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini.” Maka dari peringatan ini kita mengetahui bahwa perihal “melupakan Tuhan” bukan berbicara mengenai urusam ibadah dan pelayanan saja namun berbicara tentang kehidupan keseharian kita, yaitu dalam berumahtangga, dalam berbisnis, dalam studi, dll apakah kita melakukan perintah Tuhan atau tidak? Camkanlah, BERKAT dapat menjadi BADAI dalam hidup kita karena ia mampu menggoncangkan iman kita bahkan menghancurkan hidup kita. Karena itu berwaspadalah. Kita semua pasti punya kerinduan untuk berjumpa dengan Yesus. Namun kita harus berhati-hati karena berkat bisa menghancurkan iman pengiringan kita kepada Yesus. Jika saat ini kita menikmati berkat yang berkelimpahan, puji Tuhan. Namun iblis tidak berhenti melancarkan panah apinya untuk menjadikan berkat menjadi badai yang menggoncangkan iman kita. Banyak orang yang lengah dengan kemapanan hidup, dengan menjadikan kemapanan menjadi tujuan hidup. Sedangkan Paulus berkata bahwa pengenalan akan Kristus jauh lebih berharga daripada semuanya! Tanyakan pada diri kita sendiri. Apakah dalam zona kemapanan kita masih “TETAP BERDIRI” yaitu Tetap berpegang kepada kehendak-Nya? Berkat melimpah, usaha diberkati, apakah menyebabkan persekutuan dengan Tuhan semakin kendor? Banyak orang berpikir bahwa didalam kemapanan ia tidak kendor karena masih memberi persembahan untuk pekerjaan Tuhan. Namun Tuhan lebih menginginkan diri kita daripada persembahan kita karena semua isi dunia ini milik Tuhan.

II. MASA KESULITAN / PADANG GURUN
Jika dalam masa kelimpahan ada badai, demikian juga dalam masa padang gurun. Padang gurun yang kering berbicara tentang masa kesusahan / kesulitan. Di tengah badai tersebut, apakah kita masih bisa “TETAP BERDIRI” – tetap berpegang pada perintah-Nya? Badai apa di padang gurun?

1. Krisis kasih.
Kunci untuk menang atas keadaan ini adalah Kolose 3:14 “Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.”
“Kenakanlah kasih” berarti kasih itu dipakai, dihidupi dalam hidup sehari-hari. Lebih lanjut dikatakan bahwa kasih adalah pengikat yang “mempersatukan” dan “menyempurnakan”.”Mempersatukan” itu mudah namun “Menyempurnakan” berbicara mengenai proses. Saat dalam pernikahan ada gesekan antara suami istri, maka kasih tidak boleh sampai menjadi dingin. Jika kasih menjadi dingin maka itu berbahaya. Ada pasangan yang sudah lama menikah tidak lagi merasa sebagai sepasang kekasih tetapi kini merasa seperti kakak adik, ini tidak boleh terjadi. Ada lagi yang menyebut istri/suaminya sebagai “mantan kekasih”nya. Ini keliru karena semakin lama kita menikah, seharusnya istri/suami kita tetap menjadi kekasih kita. Saat ada masalah dalam pernikahan, kita tidak boleh membiarkan Iblis memporak-porandakan pernikahan kita. Umumnya Ego/kesombongan yang menjadi penghalang hubungan dalam rumah tangga dipulihkan. Namun ayat diatas tidak hanya berbicara mengenai pernikahan tetapi juga segala bentuk hubungan (relationship). Begitupun dalam hubungan antara anak dan orangtua harus mengenakan kasih sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

2. Krisis ekonomi
Perekonomian mungkin saat ini memang susah, namun jangan katakan “susah” karena perkataan kita adalah perkataan profetik yang punya kuasa.

3. Sakit penyakit. Ketika dokter memvonis seseorang mengidap suatu penyakit, ini juga adalah badai dalam hidupnya.

4. Menghadapi sesuatu yang sepertinya mustahil
Apa kata Alkitab saat kita berada dalam masa “padang gurun”?
Ulangan 8:2 “Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.”
Dalam ayat ini kita menemukan bahwa: – Perjalanan kita berputar-putar di padang gurun adalah atas kehendak Tuhan. – Masa padang gurun adalah proses Tuhan dengan maksud merendahkan hati kita. – … dan untuk mengetahui apa yang ada dalam hati kita yakni apakah kita berpegang pada perintah-Nya atau tidak.

III. BAGAIMANA SUPAYA KITA TETAP BISA BERDIRI DI TENGAH BADAI?
Ambil dan kenakan selengkap senjata Allah! Rasul Paulus menggunakan ilustrasi pakaian perang prajurit Romawi untuk menjelaskan tentang “Selengkap Senjata Allah” yaitu:

1. Ikat pinggang kebenaran
Ikat pinggang adalah alat satu-satunya yang mempertahankan semua pakaian dan peralatan yang dipakai ada pada tempatnya, supaya ia bebas bergerak. Ikat pinggang prajurit Romawi terbuat dari tembaga yang dapat menahan serangan dari benda tajam. Kita tidak punya kekuatan melawan musuh dengan pedang roh dan perisai iman kalau hidup kita tidak ada KEBENARAN. Namun jika kita hidup dalam kebenaran, kita akan dapat melawan dan menang atas bapa pendusta yaitu iblis dan roh-roh jahatnya. Yesus adalah kebenaran (Yoh 14:6) dan kita telah dibenarkan oleh ketaatan Kristus (Roma 5:19) karena itu tetaplah hidup dalam kebenaran: – Dalam bisnis apakah kita melakukan cara-cara dunia (kecurangan) atau kebenaran? – Apakah kita memiliki utang yang belum dibayar? Dalam hidup berjemaat dimana-mana, ada banyak antar jemaat yang menjadi bermasalah karena permasalahan utang yang tidak dibayar

2. Berbajuzirahkan keadilan
Baju zirah menutupi organ-organ vital dari seorang prajurit (jantung, paru-paru, hati, dsbnya). Dengan melindungi organ-organ vital, maka baju zirah menambah keyakinan prajurit untuk menghadapi musuh tanpa takut. Keadilan akan ada dalam hidup seseorang kalau orang tersebut hidup dalam kebenaran. Kasih Allah itu sifatnya adil artinya Tuhan mengasihi semua umat manusia tanpa kecuali. Kenakanlah baju zirah keadilan maka tak ada rasa benci dari hati kita terhadap sesama kita sekalipun ia pernah menyakiti kita.

3. Kasut kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera. Sepatu/kasut prajurit Romawi terbuat dari kulit dan mengikat tali pusat kaki dan ke atas pergelangan kaki, paku sepatu yang terbuat dari besi dipalu untuk menambah kekuatan juga supaya tidak licin. Karena tentara Romawi dilengkapi dengan alas kaki yang memiliki paku di telapak, kasut ini memberikan mereka sikap cukup kuat dan keseimbangan yang memberi mereka sikap unggul dalam pertempuran di bukit-bukit dan medan yang tidak rata. Kasut menunjukkan dalam keadaan SIAP. Kemanapun kita pergi selalu menggunakan kasut. Kemanapun kita melangkah tidak akan lupa untuk memberitakan Injil, membawa orang-orang menjadi warga negera kerajaan sorga, hidup dalam damai sejahtera (tidak egois).

4. Perisai Iman. Perisai adalah senjata pertahanan biasanya dibawa di tangan kiri dan digunakan untuk melindungi seluruh tubuh prajurit. Permukaannya dijaga tetap berkilau dengan minyak yang merefleksikan cahaya matahari untuk membutakan musuh. Perisai juga membantu mengalihkan gerakan musuh. Seringkali iblis tidak menyerang tubuh kita, bukan juga roh kita karena Roh Tuhan ada dalam kita, tetapi jiwa kita yaitu: hati, pikiran, perasaan, dan kehendak kita, melalui panah api keraguan, ketakutan, dan ketidakpercayaan
5. Ketopong Keselamatan
Kepala merupakan bagian vital yang terpenting sehingga harus mengenakan ketopong. Bagian vital yang dijaga utamanya adalah mata dan bagian otak. Firman Tuhan berkata bahwa mata adalah pelita tubuh karena itu jagalah penglihatan kita tetap suci, bersih dan berkenan pada Tuhan. Selain itu ketopong juga melindungi bagian otak artinya ketopong tersebut akan menjaga pikiran kita terhadap hal-hal negatif. Saat pikiran-pikiran negatif menyerang milikilah prinsip: “…tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar..” (Flp 2:12). Bagian Tuhan memberikan keselamatan. Bagian kita adalah menjaganya. Mengapa iblis menyerang pikiran kita dengan panah api? Pikiran ada di alam yang tidak kelihatan tetapi pikiran punya kekuatan yang dahsyat untuk mengendalikan apa yang kelihatan. Pikiran bisa membuat frustrasi dan depresi, juga bisa membuat prestasi kerja. Nafsu seksual juga dikendalikan oleh pikiran. Karena itu jagalah pikiran kita.

6. Pedang roh
Pedang adalah senjata untuk bertahan dan menyerang. Pedang menahan prajurit dari serangan musuh dan digunakan untuk melukai atau membunuh musuh. Pedang dibawa di tangan kanan dan merupakan lambang dari kuasa dan otoritas. Pedang roh adalah Firman Tuhan yang dipertajam dan dihidupkan oleh Roh Kudus. Pengunaan pedang ini hanya efektif bila perlengkapan senjata yang lain ada pada tempatnya. Kita membutuhkan Firman Tuhan untuk melawan serangan dari si jahat. (Mazmur 119:92; 105)

IV. TETAP BERDIRI TETAP BERDIRI
Ambil dan kenakan seluruh perlengkapan senjata Allah SETIAP HARI. Peperangan rohani bukan hanya suatu acara atau saat-saat tertentu tetapi setiap saat dalam keseharian kita. “Kenakan” berarti hidup kita menghidupi Firman. Apa saat ini kita merasa teguh berdiri? 1 Kor 10:12 “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!” Berhati-hatilah. Kita kuat karena Tuhan yang memberikan kekuatan-Nya kepada kita. Kita harus dengan kerendahan hati berkata bahwa kita membutuhkan kekuatan dari Tuhan.

1 Korintus 15:58 “Karena itu, saudara-saudaraku yang kekasih, BERDIRILAH TEGUH, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia.”

By. :  Pdt. Lea Novitasari