Daily Archives: 07/06/2020
THE POWER OF NEW LIFE: HIDUP OLEH ROH (2)
Galatia 5:22-23 “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.
Ada kecenderungan pada umat Tuhan dimana mereka tidak bisa membedakan antara “BUAH ROH” dan “KARUNIA ROH”. Selain itu umat Tuhan banyak yang lebih tertarik dan menghargai orang-orang yang memiliki “KARUNIA ROH” daripada yang memiliki “BUAH ROH”. Bahkan umat Tuhan tersebut terlalu memuja-muja sampai mengkultuskan orang-orang yang berkarunia. Mengapa demikian? Karena umat Tuhan tidak memiliki kepentingan dengan orang yang memiliki buah Roh, namun mereka memiliki kepentingan dengan orang-orang yang berkarunia yaitu minta untuk didoakan dlsbnya, kemudian umat Tuhan menjadikan orang berkarunia itu nabi, rasul, bahkan “dukun”, atau “Tuhan Allah ke-2”.
A. PEMAHAMAN TENTANG BUAH ROH
1. Buah dihasilkan melalui proses pembuahan, barulah buah keluar
2. Sebelum buah keluar, bunga harus berguguran.
3. Menghasilkan karakter ilahi
Jadi buah dihasilkan melalui proses. Semua jenis buah Roh ini tidak akan didapatkan di kamar doa. Mengapa? Karena karakter kita tidak diproses di dalam kamar doa. Karakter kita diproses dalam kehidupan seharu-hari sampai mengeluarkan karakter Kristus.
B. PEMAHAMAN TENTANG KARUNIA ROH
1. Karunia adalah pemberian cuma-cuma. Terserah Tuhan kepada siapa Ia berikan karunia tersebut (Kedaulatan Tuhan).
Contoh kedaulatan Tuhan:
– Pada masa nabi Elia, terjadi kelaparan. Namun burung gagak yang merupakan binatang haram dalam hukum Taurat justru dipakai Allah untuk memberi makan nabi Elia. Mengapa Tuhan tidak memakai burung merpati? Itu kedaulatan Tuhan.
– Tuhan memakai perempuan sundal untuk menyembunyikan para pengintai di Yerikho. Apakah kurang perempuan baik-baik sehingga Tuhan memakai perempuan sundal? Itu kedaulatan Tuhan.
– Sewaktu di Samaria terjadi kelaparan, Tuhan memakai orang kusta untuk membebaskan Samaria. Padahal orang kusta najis menurut hukum Taurat. Mengapa Tuhan memakai orang kusta? Itu kedaulatan Tuhan.
Maka dari sini kita memahami:
2. Karunia Roh tidak bernilai lebih tinggi daripada Buah Roh.
Namun sayangnya banyak umat Tuhan yang menganggap orang yang berkarunia lebih penting daripada orang yang memiliki buah Roh, dan banyak orang yang berkarunia merasa dirinya hebat.
3. Karunia Roh berfungsi menurut kehendak Roh Kudus bekerja, bukan menurut kehendak orang yang bersangkutan. Tidak seperti saklar lampu (bisa dinyalakan dan dimatikan sekehendak hati manusia).
Karena itu sekalipun ada hamba Tuhan yang berkarunia marifat, jangan datang kepadanya dan bertanya mengenai jodoh dan lain sebagainya, karena karunia Roh bekerja bukan menurut kehendak hamba Tuhan itu namun kehendak Roh Kudus. Maka mengherankan karena banyak pula gereja yang menetapkan seorang hamba Tuhan sebagai nabi. Memang di Alkitab ada jawatan nabi, tetapi itu “jawatan”, bukan “jabatan”. Karena banyak hamba Tuhan yang dulunya berkarunia, dan suatu ketika karunianya sudah tidak lagi berfungsi, ia berlaku seolah-olah karunianya masih berfungsi karena kuatir orang akan berkata bahwa ia sudah tidak berkarunia.
Sebagai contoh: dulu ada hamba Tuhan yang berkarunia, orang-orang tumbang dalam pelayanannya. Namun karena karunianya sudah tidak berfungsi, ia memaksakan mendorong-dorong orang supaya tumbang. Ini adalah kebohongan. Dalam pelayanan Hamba Tuhan harus mengandalkan Roh Kudus, bukan mengandalkan karunia.
4. Ketika karunia Roh berfungsi, orang tersebut tetap sadar 100% (karena ia tidak dirasuk), maka faktor jiwaninya juga berfungsi.
5. Karena itu Alkitab berkata “Ujilah semua roh”. Baik hamba Tuhan tersebut maupun jemaat Tuhan harus menguji apakah yang dilakukan tersebut berasal dari faktor jiwani manusia yang berlaku seolah-olah berkarunia ataukah benar karunia Roh. Karena itu kita mengetahui ada nubuat palsu, penglihatan palsu, dll. Jadi jangan menganggap orang yang berkarunia sudah sakti dan steril dari dosa. Sebaliknya, jika ada orang yang dulunya berkarunia dan sekarang sudah tidak berkarunia, tidak perlu menghakimi bahwa ia sudah melakukan dosa, karena karunia memang hanya pemberian dan kedaulatan Tuhan, dan kita tidak bisa komplain kepada Tuhan.
Dengan memahami ini maka kita tidak akan kecewa saat kita menemukan orang-orang berkarunia tetapi karakternya tidak sesuai dengan karunianya. Dalam Injil Matius dikatakan bahwa ada orang-orang berkarunia: bernubuat, mengusir setan, melakukan mujizat; namun pada akhirnya ditolak Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan berkata bahwa orang-orang itu adalah pembuat kejahatan. Berarti sekalipun melakukan mujizat, karakter orang itu rusak. Karena karakternya rusak dan belum diubahkan, dengan sendirinya pelayanannya dilakukan untuk kepujian diri. Mengapa karakternya tidak berubah? Karena ia sendiri yang tidak mau berubah. Di dalam pembentukan karakter, ada bagiannya Tuhan dan ada bagian orang tersebut.
Dalam pengalaman rohani mereka sangat luar biasa. Namun dalam hidup sehari-hari barulah kita memahami apakah mereka memiliki kasih, kemurahan, penguasaan diri, atau sebaliknya. Jadi kita tidak perlu heran dan kecewa ketika mendapati orang-orang seperti itu, karena orang-orang tersebut tidak mau berubah. Orang-orang tersebut lebih mementingkan karunia Roh daripada pembentukan karakternya untuk memiliki karakter Kristus (Buah Roh). Kita pun tidak dapat komplain ke Tuhan karena Tuhan berdaulat untuk memberikan karunia kepada siapa yang dikehendaki-Nya.
C. BAGAIMANA TERJADINYA PROSES PEMBUAHAN YANG MENGHASILKAN BUAH ROH
Proses pembuahan juga disebut proses pembentukan karakter untuk menghasilkan karakter ilahi Kristus.
1. Tuhan menghadirkan bentuk realitas hidup dari jenis buah Roh itu sendiri.
Alkitab berkata “Besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya”. Orang-orang di sekitar kita, dan bentuk realitas apapun dipakai Tuhan untuk membentuk kita.
2. Buah Roh tidak diperoleh melalui doa, puasa dan lain sebagainya, yang tiba-tiba secara ajaib kita sudah memilikinya.
3. Jenis-jenis buah itu akan hadir dalam bentuk peristiwa nyata/realitas hidup.
Salah satu contoh: “Sabar”. Apakah “sabar” diperoleh secara ajaib? Tidak! Tuhan menghadirkan hal-hal menjengkelkan sampai kita menghasilkan buah Roh kesabaran. Ada menantu yang mengeluh karena mertuanya cerewet dan menjengkelkan. Ia sudah berdoa minta Tuhan kesabaran dan berharap ia menjadi sabar dengan sendirinya namun ia tidak memahami bahwa Tuhan justru sedang membentuk karakternya untuk menjadi sabar.
Contoh lainnya: “Kesetiaan”. Buah Roh kesetiaan dihasilkan saat hadir realitas hidup berupa pengkhianatan.
Contoh berikutnya: “Kasih”. Buah Roh ini dihasilkan saat hadir realitas hidup berupa kebencian.
Semua orang bisa menjadi rohani saat di dalam kamar doa, namun kita dibentuk saat di dalam kehidupan sehari-hari.
II. APA ITU HIDUP OLEH ROH?
A. JANGAN KELIRU MEMAHAMI:
1. Hidup oleh Roh bukanlah pengalaman rohani aneh-aneh, melainkan gaya hidup sehari-hari.
2. Hidup oleh Roh bukan memanipulasi Roh Kudus untuk kepentingan tertentu dari pribadi kita.
Contoh: seseorang berkata “Roh Kudus berkata begini” padahal untuk kepentingan dirinya sendiri.
3. Hidup oleh Roh bukanlah suatu tingkatan reputasi pelayanan seseorang.
Contoh: umat Tuhan menganggap orang yang berkarunia marifat lebih tinggi daripada orang berkarunia tertentu.
B. PAHAMILAH DENGAN BENAR BAHWA:
1. Hidup oleh Roh adalah kebenaran mendasar yang harus dijalani oleh setiap orang percaya, jadi bukan hal yang luar biasa yang tidak bisa dijalani.
2. Hidup oleh Roh bukanlah suatu karunia, tetapi adalah keharusan bagi setiap orang percaya.
3. Setiap orang percaya/terima Yesus telah memiliki roh yang baru.
4. Kita tidak hanya memakai roh kita untuk bernafas, melainkan berinteraksi saat kita menghadapi realita hidup apapun bentuknya.
III. BAGAIMANA PROSESNYA HIDUP OLEH ROH?
1. Menyadari dengan iman bahwa roh kita telah diganti dengan roh yang baru.
2. Bahwa pada saat kita mengalami baptisan Roh Kudus maka Roh Kudus menyatu dengan roh kita.
3. Di dalam roh kita ada iman yang berisi firman Tuhan.
4. Kita tidak hanya memakai roh kita untuk bernafas, melainkan berinteraksi saat kita menghadapi realita hidup apapun bentuknya.
5. Menyadari bahwa di dalam diri kita ada format alamiah manusia lahiriah yaitu faktor jiwani yang secara alamiah bereaksi secara otomatis terhadap setiap bentuk apapun realitas hidup tersebut.
6. Faktor jiwani ini harus ditaklukkan di bawah kehendak Roh Kudus yang ada di dalam roh kita agar Roh Kudus bisa mengambil alih peranan jiwani alamiah.
7. Roh Kudus sebagai penolong akan menolong kita melakukan kehendak Tuhan dalam menyelesaikan realitas hidup yang sedang kita hadapi.
Hadapi dan selesaikan realita hidup sesuai apa kata Firman Tuhan.
1. Roh Kudus mengajarkan segala sesuatu. (Ketika realita hidup hadir, Roh Kudus akan mengajarkan apa yang harus kita lakukan). Yoh 14:26
2. Roh Kudus menuntun kepada seluruh kebenaran. (Roh Kudus menuntun kita untuk melakukan yang benar, bukan hanya apa yang baik). Yoh 16:13
3. Roh Kudus mengingatkan Firman yang sudah pernah didengar. (Roh Kudus menghadirkan firman Tuhan sebagai jawaban yang harus kita lakukan untuk menjawab dan menyelesaikan realitas hidup tersebut). Yoh 14:26.
4. Apa respon kita terhadap peranan Roh Kudus?
a. Mau menaati kehendak Roh Kudus yang memimpin kita hidup oleh Roh?
b. Tetap bertahan dengan kehendak sendiri, pikiran sendiri, perasaan sendiri yang adalah faktor jiwani?
c. Berhasil tidaknya kita hidup oleh Roh, tergantung respon apa yang kita berikan.
Jadi sebenarnya “HIDUP OLEH ROH” adalah “HIDUP OLEH IMAN”.
Roma 1:17 “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.””
APAKAH HIDUP OLEH IMAN ITU?
A. Beberapa pemahaman yang memprihatinkan:
1. Iman adalah jawaban doa
2. Iman adalah mengalami hal-hal yang spektakuler
3. Iman adalah hak untuk mengklaim janji-janji Tuhan
4. Iman adalah mewujudkan keinginan-keinginan yang Tuhan harus ikuti.
Inilah yang menyebabkan umat Tuhan tidak berhasil hidup oleh iman.
Ibrani 11:1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”
B. KEBENARAN FIRMAN ALLAH TENTANG IMAN
1. Iman bukanlah sekedar jawaban doa
2. Iman bukanlah sekedar mengalami hal-hal spekatakuler.
3. Iman bukanlah hak untuk mengklaim janji-janji Allah.
4. Iman bukanlah untuk mewujudkan keinginan-keinginan yang harus Tuhan wujudkan.
5. Baca seluruhnya Ibrani pasal 11 maka akan kita temukan bahwa IMAN ADALAH KETAATAN TANPA SYARAT.
Bagian awal Ibrani 11 mengisahkan orang-orang yang melakukan apa yang Tuhan perintahkan dan memperoleh apa yang Tuhan janjikan. Tetapi bagian akhir mengisahkan orang-orang yang melakukan apa yang Tuhan perintahkan tetapi tidak memperoleh apa-apa. Namun semuanya dikategorikan sebagai “pahlawan iman”. Maka akhirnya kita menemukan bahwa “Iman adalah Ketaatan tanpa Syarat”.
By : Pdt. R. F. Martino













