This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

Monthly Archives: June 2017

DOMBA YANG HILANG

Lukas 15:1-7 1 Para pemungut cukai dan orang-orang berdosa biasanya datang kepada Yesus untuk mendengarkan Dia. 2 Maka bersungut-sungutlah orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, katanya: “Ia menerima orang-orang berdosa dan makan bersama-sama dengan mereka.” 3 Lalu Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: 4 “Siapakah di antara kamu yang mempunyai seratus ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor di antaranya, tidak meninggalkan yang sembilan puluh sembilan ekor di padang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya? 5 Dan kalau ia telah menemukannya, ia meletakkannya di atas bahunya dengan gembira, 6 dan setibanya di rumah ia memanggil sahabat-sahabat dan tetangga-tetangganya serta berkata kepada mereka: Bersukacitalah bersama-sama dengan aku, sebab dombaku yang hilang itu telah kutemukan. 7 Aku berkata kepadamu: Demikian juga akan ada sukacita di sorga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih dari pada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.”

Sebenarnya perikop ini bukan ditujukan untuk orang yang belum mengenal Yesus. Domba adalah gambaran untuk orang-orang yang sudah percaya dan mengenal Yesus. (Yohanes 10:1-6)

A. “Domba yang tidak hilang”
Yohanes 10:4-5 4 Jika semua dombanya telah dibawanya ke luar, ia berjalan di depan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya. 5 Tetapi seorang asing pasti tidak mereka ikuti, malah mereka lari dari padanya, karena suara orang-orang asing tidak mereka kenal.”

a. “Berjalan di depan mereka”
Ini berarti orang yang selalu mengedapankan Tuhan dalam hidupnya, menomorsatukan Tuhan dan menjadikan Tuhan yang utama dan terutama. Kita boleh berencana mengenai apapun, tapi apakah kita selalu melibatkan Tuhan didalamnya?
Bagi pasangan muda mudi yang rindu dipertemukan dengan jodoh, apakah sudah bertanya pada Tuhan? Jangan asal “main sabet”, ternyata bukan jodoh yang dikehendaki Tuhan.
Bagi Saudara yang akan membuka usaha baru, jangan asal ikut-ikutan buka usaha ini itu, berdoalah terlebih dahulu, libatkan Tuhan dalam awal usaha!
Bagi orang tua yang akan memasukkan anak-anaknya ke sekolah, jangan hanya memilih sekolah karena sekolah itu terkenal, tapi yang menjadi pertimbangan apakah sekolah itu mengajarkan hal-hal yang berhubungan dengan kerohanian anak didiknya (pengajaran Alkitab Firman Tuhan). Jangan menyepelekan hal mendidik anak. Anak adalah harta titipan dari Tuhan buat orang tua. Jangan sembrono dalam mendidiknya, termasuk dalam hal pemberian gadget dan mainan-mainan yang berbahaya bagi anak tersebut. Bijaklah dalam mendidik anak-anak kita.

b. “Mengikuti dia”
Laukan apa saja yang Tuhan perintahkan! Jangan pernah terpanguruh dengan godaan-godaan dunia yang mengalihkan perhatian dan fokus kita pada Tuhan.

c. “Mengenal suaranya”
Mengenal suara Tuhan tidak lepas dari bentuk ketaatan kita untuk melakukan perintah-Nya. Bagaimana kita bisa mengenal suara Tuhan? Yaitu dengan membaca Alkitab. Bacalah Alkitab dengan teratur dan berusalah untuk mengerti isi Alkitab.

d. “Tidak mengikuti orang asing”
Pribadi yang mengenal gembalanya tidak akan mudah terpengaruh dengan suara-suara asing yang menyesatkan. Ia tahu betul gembalanya dengan baik.

B. “Domba yang hilang”
1. Domba tersesat ringan
Tipe domba seperti ini adalah menggambarkan orang-orang percaya yang masih ada di seputaran kegiatan-kegiatan rohani. Kelihatannya tidak jauh dari Tuhan, masih tetap beribadah dan melayani Tuhan. Tapi hatinya tidak sungguh-sungguh beribadah dan tidak sungguh-sungguh melayani.

2. Serigala berbulu domba
Hati-hati dengan serigala–serigala yang akan menerkam kita setiap saat. “Serigala perzinahan”, “serigala pornografi”, “serigala percabulan”, “serigala perselisihan”, “serigala narkoba”, dan masih banyak “serigala-serigala berbulu domba” yang tanpa kita sadari sudah menerkam banyak orang percaya.

3. Domba tersesat jauh
Ini adalah gambaran pribadi yang sudah sangat jauh dengan Tuhan, Total sudah tidak pernah baca Alkitab, tidak pergi beribadah, tapi masih menyandang status Kristen.

4. Domba yang sudah jatuh ke jurang
Jangan berpikir posisi kita “aman” ketika kita masih melayani Tuhan, melayani sebagai usher, worship leader, kolektan, dll. Tapi ternyata Tuhan menolak kita. Dan kita didapati sudah terjerumus dalam jurang dosa.

Wahyu 2:4 “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula”.

C. Apa yang harus kita lakukan
Wahyu 2:5 Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.

Minta Tuhan ingatkan dan pulihkan apa yang pernah awal kita lakukan pada saat berjumpa dengan Yesus. Cepat dan segeralah berbalik supaya tidak terlalu jauh terjatuh.
Diperlukan kerendahan hati untuk bertobat. Mintalah Tuhan menyelidiki hati dan ungkapkan segala pelanggaran dan dosa kita minta Tuhan mengangkat kita dari jurang.

By : Pdt. Mediati Martino

FENOMENA KARUNIA-KARUNIA ROH KUDUS

1 Korintus 13:1-13 1Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih,aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing. 2Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.3Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku. 4Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. 5Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. 6Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi ia bersukacita karena kebenaran. 7Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu. 8Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap. 9Sebab pengetahuan kita tidak lengkap dan nubuat kita tidak sempurna. 10Tetapi jika yang sempurna tiba, maka yang tidak sempurna itu akan lenyap. 11Ketika aku kanak-kanak,aku berkata-kata seperti kanak-kanak, aku merasa seperti kanak-kanak, aku berpikir seperti kanak-kanak. Sekarang sesudah aku menjadi dewasa , aku meninggalkan sifat kanak-kanak itu. 12Karena sekarang kita melihat dalam cermin suatu gambaran yang samar-samar, tetapi nanti kita akan melihat muka dengan muka. Sekarang aku hanya mengenal dengan tidak sempurna, tetapi nanti aku akan mengenal dengan sempurna, seperti aku sendiri dikenal.13Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih.

1 Korintus 14:1 Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karuniaRoh, terutama karunia untuk bernubuat.

Ketika fenomena dijadikan doktrin maka akan mengakibatkan dampak negatif termasuk fenomena baptisan Roh Kudus. Jemaat Korintus pada masa rasul Paulus terdiri dari orang-orang pintar dari latar belakangnya tetapi juga mempunyai banyak sekali permasalahan di dalamnya, dimana hal tersebut dapat menjadi pembelajaran bagi kita saat ini.Cara Paulus mengajar, menasehati, membimbing dan menegor jemaat di Korintus menunjukkan seperti apa karakter jemaat yang ada di Korintus. Sekalipun kasih adalah pengorbanan tetapi ada pengorbanan palsu. Kasih yang dijelaskan disini tidak hanya dinyatakan dengan kata-kata tetapi disertai dengan perbuatan yang palsu. Kasih menunjukkan kualitasdiri seseorang. Ada ayat yang berkata “marilah kita mengasihi bukan hanya dengan perkataan melainkan dengan perbuatan.” Secara logika, orang yang berkorban adalah orang yang memiliki kasih di dalam dirinya. Nilai-nilai rohani yang dimiliki oleh seseorang maupun karunia-karunia rohani yang diberikan kepada seseorang dituntut memiliki standar kehidupan dari orang tersebut. Apakah kita dapat mendeteksi orang yang bernubuat itu tidak memiliki kasih? Hal ini tidak dapat dideteksi. Benar bahwa semua karunia rohani mrnghilangkan kekurangan orang yang memiliki karunia-karunia tersebut. Paulus menyadari bahwa semua perbuatan-perbuatan yang dikategorikan sebagai kasih ternyata bukanlah segala karunia-karunia rohani yang luar biasa yang dimiliki seseorang.

1 Korintus 14:1 Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.

Paulus dengan hikmat Allah mengungkap tentang karunia-karunia Roh dan identitas jati diri dari setiap orang percaya supaya kita tidak terjebak, pemahaman kita terbuka dan kita tahu mana yang utama dalam kehidupan kita sebagai orang percaya. Kebenaran ini membuka bahwa apa yang namanya fenomena, hal-hal spektakuler terhadap suatu peristiwa nyata, perlu kita dalami dan pahami sehingga tidak terjebak didalamnya apalagi sampai menjadikannya sebuah doktrin. Firman Allah dengan jelas mengajar kita untuk menyikapi fenomena-fenomena yang ada termasuk fenomena baptisan Roh Kudus dengam menguji segala roh. Jika kita tidak pahami kebenaran-kebenaran Firman, maka suatu fenomena dapat kita jadikan sebuah doktrin. Orang-orang yang tidak memahami Firman akan sangat mudah mengidolakan orang yang memiliki karunia-karunia. Oleh sebab itu harus ada keseimbangan antara karunia-karunia dan kasih. Allah sudah memberikan karunia kepada setiap orang hanya saja berbeda-beda dan tidak boleh kita bangga diri karena itu adalah pemberian Tuhan bukan dari diri kita. Sikap bijak dalam menyikapi fenomena karunia Roh:
1. Harus ada keseimbangan
Nilai-nilai rohani dari karunia tersebut bisa dihancurkan oleh perbuatan-perbuatan yang tidak baik, cara hidup yang tidak bagus jika karunia tidak dimbangi dengan kasih.
2. Tidak mengagungan atau mengkultuskan orang yang mempunyai karunia.
Hal ini banyak terjadi, Paulus pun mengingatkan bahwa hal ini dapat menghasilkan nabi-nabi dan Rasul palsu. Fenomena ini menjadi pegangan dari orang tersebut yang menghasilkan nabi-nabi/rasul palsu. Karunia tidak punya nilai lebih dari buah roh.

Kita perlu memahami kebenaran Firman Tuhan dimana sebagai orang percaya yang diberikan karunia oleh Roh Kudus bukan karena kita istimewa tetapi untuk dinyatakan supayadalam menjalani hidup, kita dapat menjalani seperti Yesus dan menjadi berkat bagi orang lain. Karunia Roh Kudus diberikanmenurut kehendak Roh kepada orang yang berbeda-beda. Kita perlu memahami supaya tidak terjebak oleh fenomena, karena fenomena bisa terjadi tetapi tidak berkepanjangan/terus-menerus. Dalam Kisah Para Rasul pasal pasal 2 dituliskan mengenai fenomena yang menggemparkan dimana pada saat itu orang-orang Yahudi saleh dari segala bangsa berkumpul di Yerusalem dan mereka mendengar rasul-rasul berbicara dalam bahasa mereka sendiri,juga ada lidah-ladah api. Fenomena pertama yang terjadi tetapi tidak dijadikan doktrin oleh para rasul. Roh kudus bekerja dalam diri kita yaitu menyertai tetapi tidak merasuk. Orang sadar sepenuhnya. Yang berbahaya ialah jika fenomena dipertahankan. Sebab kita sadar 100% Roh Allah menyatu dengan roh kita. Karunia nabi tunduk kepada nabi. Dampak yang bisa terjadi, orang bisa menganggap sesat atau orang tidak menganggap karunia-karunia Roh. Ketika dibiarkan, akan menjadi ekstrim dann bisa menghasilkan nabi-nabi, rasul-rasul palsu. Karunia bukan untuk status diri atau status rohani. Hal ini mendatangkan keuntungan di pihak iblis, padahal gereja melakukan untuk kepentingan-kepentingan jemaat agar jemaat dapat dibangun.

1 korintus 14:14-1714Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. 15Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku.16Sebab jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan “amin” atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? 17Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya.

1 Korintus 14:1 Kejarlah kasih itu dan usahakanlah dirimu memperoleh karunia-karunia Roh, terutama karunia untuk bernubuat.

Untuk mencapai karunia-karunia roh ini tidaklah bisa menggunakan cara-cara kita sendiri
1 Korintus 14:26Jadibagaimanasekarang, saudara-saudara? Bilamanakamuberkumpul, hendaklahtiap-tiap orang mempersembahkansesuatu: yang seorangmazmur, yang lain pengajaran, ataupenyataan Allah, ataukaruniabahasaroh, ataukaruniauntukmenafsirkanbahasaroh, tetapisemuanyaituharusdipergunakanuntukmembangun.

Karunia tidak lebih besar nilainya dari buah roh, karena buah roh menghasilkan karakter pribadi jati diri orang tersebut yang mencerminkan kasih. Nubuat kita tidak sempurna walaupun itu adalah bagian pekerjaan/karya Roh Kudus. Sebab Roh Kudus bekerja tidak merasuk manusia ketika karunia berfungsi di dalam diri seseorang, semua unsur jiwani manusia itu masih berfungsi. Roh Kudus memakai keadaan manusia untuk menyatakan kehendakNya. Kita tidak dirasuk dan orang yang berkarunia belum punya pemahaman tentang hal ini bisa mengakibatkan fenomena-fenomena yang berdampak negatif. Silahkan karunia berfungsi, tetapi kita sadar bahwa kita tidak dirasuk.

By : Pdt. R.F. Martino

PESAN PERTOBATAN BAGI GEREJA TUHAN

Kita telah belajar selama 10 hari berturut-turut tentang Roh Kudus. Galatia pasal 5 berkata bahwa hiduplah oleh Roh, dipimpin oleh Roh.
Tuhan memberi pesan kepada saya untuk disampaikan kepada jemaat yaitu pesan untuk BERTOBAT! Perintah Tuhan untuk bertobat seringkali kita pahami hanya ditujukan kepada orang yang belum percaya padaYesus. Padahal perintah untuk bertobat juga adalah perintah Tuhan kepada gereja-Nya! Kita akan belajar dari Wahyu pasal 2 dan 3 yang merupakan pesan Tuhan bagi gereja-Nya untuk bertobat. Pesan pertobatan di kitab Wahyu ini berkaitan erat dengan kedatangan Tuhan Yesus kedua kali.

I. Gereja Efesus
Gereja ini dulunya merupakan “gereja bintang lima” – kerohaniannya, pelayanannya, semuanya bagus. 30 tahun pertama gereja Efesus adalah gereja nomor satu dalam jemaat mula-mula di Asia Kecil.

Wahyu 2:2-3 “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah.”

Tuhan berkata bahwa gereja ini telah berjerih payah dalam Tuhan dan tidak mengenal lelah, berarti gereja ini adalah gereja yang melayani dengan segenap tenaganya. Di pemandangan manusia gereja ini sungguh luar biasa. Namun apa yang ada di pemandangan Tuhan seringkali berbeda dengan apa yang di pemandangan manusia.
Bagaimana dengan kondisi kita? Di hadapan manusia dan pemandangan kita sendiri, mungkin kita baik-baik saja karena kita sudah rajin beribadah bahkan sudah sangat aktif dalam pelayanan. Tetapi keaktifan ibadah dan pelayanan tidak menjamin bahwa kita berkenan di hadapan Tuhan. Tolak ukurnya adalah pemandangan Tuhan, bukan pemandangan manusia.

Wahyu 2:4-5 “Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat.”

Ternyata Tuhan mencela mereka (bahasa aslinya: menghardik/menegur dengan sangat keras) bukan karena mereka malas beribadah dan melayani, bukan karena mereka berzinah dan melakukan dosa yang lain, namun karena mereka meninggalkan kasih mula-mula! Tuhan berkata, “Betapa dalamnya engkau telah jatuh!” Berarti meninggalkan dosa mula-mula adalah dosa yang serius di hadapan Tuhan. Tuhan memberi solusinya yaitu kembali kepada kasih semula, kembali melakukan apa yang semula kita lakukan. Saat pertama kali menerima Yesus (cinta mula-mula) kita bisa baca Alkitab dan doa berjam-jam. Bagaimana dengan sekarang? Orang yang makin aktif pelayanan umumnya meninggalkan kasih mula-mula, karena begitu aktif pelayanan dan kelelahan sehingga tidak bisa membaca Alkitab lagi. Kasih dan ketaatan itu berkaitan erat. Jika kasih mula-mula kepada Tuhan sudah luntur, pasti ketaatan kita setengah-setengah bahkan bisa jadi sudah tidak taat lagi. Sebenarnya ada beberapa situasi kondisi yang bisa mengubah kasih mula-mula:
1. Pekerjaan
Saat belum bekerja kita mungkin bisa doa berjam-jam. Namun saat sudah memiliki jabatan dalam pekerjaan maka kita sudah tidak bisa lagi setia berdoa.
2. Hidup berumah tangga
Saat masih single masih bisa baca Firman berjam-jam tetapi saat sudah berumah tangga kita sudah tidak lagi setia membaca Firman. Saat tanggung jawab semakin banyak, kita harus mengatur waktu dengan baik. Manfaatkan juga kecanggihan teknologi untuk memutar Alkitab Bersuara sehingga kita tetap selalu terhubung dengan Firman. Apa akibatnya jika tidak bertobat? Kaki dian akan diangkat. Kita bisa saja aktif melayani: berkhotbah, Worship Leader, dll, tetapi jika kaki dian sudah diangkat maka tidak ada urapan dalam pelayanan kita, orang-orang tidak akan terjamah melalui pelayanan kita. Jangan anggap remeh kehilangan kasih mula-mula. Kelihatannya sepele sudah tidak bersaat teduh. Namun itu adalah dosa yang serius dan kejatuhan yang dalam! Kembalilah melakukan apa yang dulunya kita lakukan sewaktu masih didalam kasih mula-mula.

II. Gereja Pergamus
Wahyu 2:13-16 “Aku tahu di mana engkau diam, yaitu di sana, di tempat takhta Iblis; dan engkau berpegang kepada nama-Ku, dan engkau tidak menyangkal imanmu kepada-Ku, juga tidak pada zaman Antipas, saksi-Ku, yang setia kepada-Ku, yang dibunuh di hadapan kamu, di mana Iblis diam. Tetapi Aku mempunyai beberapa keberatan terhadap engkau: di antaramu ada beberapa orang yang menganut ajaran Bileam, yang memberi nasihat kepada Balak untuk menyesatkan orang Israel, supaya mereka makan persembahan berhala dan berbuat zinah. Demikian juga ada padamu orang-orang yang berpegang kepada ajaran pengikut Nikolaus. Sebab itu bertobatlah! Jika tidak demikian, Aku akan segera datang kepadamu dan Aku akan memerangi mereka dengan pedang yang di mulut-Ku ini.”

Jemaat Pergamus mengalami banyak penganiayaan namun mereka mempertahankan iman. Mereka adalah jemaat yang memiliki ketangguhan iman. Namun mereka mendapat teguran. Apa teguran Tuhan bagi mereka? 1. Karena beberapa dari mereka menganut ajaran Bileam.
Bileam adalah nabi Tuhan tetapi ia mata duitan. Saat ini banyak Hamba Tuhan yang pasang tarif pelayanan, yang tidak mau pelayanan ke gang-gang sempit. Ada juga anak-anak Tuhan yang mata duitan, yang suka korupsi dan mencuri. Orang-orang ini harus bertobat!
2. Menganut ajaran sesat Nikolaus
Kita harus berhati-hati dalam hal penyesatan rohani seperti teologi “hyper grace”, teologi kemakmuran, saksi yehova. Namun kita juga harus berhati-hati terhadap penysatan lain seperti ada orang yang mengajak kita untuk lebih memilih hiburan/jalan-jalan daripada beribadah. Jika kita mengajak orang yang dekat dengan Tuhan untuk menjauh dari Tuhan, maka kita adalah penyesat! Bertobatlah karena jika tidak bertobat maka kita akan berhadapan dengan Tuhan sendiri!

III. Gereja Tiatira
Wahyu 2:19-20 “Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama. Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala.”

Jemaat ini pekerjaannya lebih banyak daripada yang pertama. Ini luar biasa. Namun Tuhan menghardik (menegur dengan keras) karena ada perzinahan di dalam jemaat mereka.
1. Perzinahan jasmani
Apa saja yang bisa dikategorikan sebagai perzinahan jasmani?
a. Pornografi
Jika ada jemaat bahkan pelayan Tuhan yang suka menonton pornografi. Bertobat!
b. Perzinahan
Jika ada di dalam gereja anak-anak muda yang belum menikah tetapi melakukan praktek seks bebas. Bertobat! c. Perzinahan sesama jenis (homoseks)
Saya pernah mendengar bahwa di suatu gereja di suatu kota ada worship leader-nya yang homoseks tetapi tetap diizinkan pelayanan oleh gembalanya. Ini tanggung jawab gembalanya di hadapan Tuhan.
d. Perselingkuhan
Jika di dalam gereja ada orang-orang yang sudah menikah namun berselingkuh, bertobat! Perselingkuhan biasanya dimulai dari media sosial (medsos). Bercumbu-cumbu di media sosial, ini sudah merupakan bentuk perzinahan! Jika anda melayani tetapi terus menyimpan dosa, maka semua pelayanan menjadi nol di hadapan Tuhan!

2. Perzinahan rohani
Merupakan bentuk tradisi, kepercayaan, adat istiadat nenek moyang yang tidak sesuai Firman Tuhan namun terus dilakukan.
Hati-hati dengan penginjilan kontekstual jangan sampai kebablasan. Bermaksud ingin menjangkau jiwa-jiwa dengan pendekatan budaya tetapi telah melakukukan perzinahan rohani.
Wahyu 2:21-22 “Dan Aku telah memberikan dia waktu untuk bertobat, tetapi ia tidak mau bertobat dari zinahnya. Lihatlah, Aku akan melemparkan dia ke atas ranjang orang sakit dan mereka yang berbuat zinah dengan dia akan Kulemparkan ke dalam kesukaran besar, jika mereka tidak bertobat dari perbuatan-perbuatan perempuan itu.”

Ini akibatnya jika kita tidak mau bertobat. Segeralah bertobat saat Tuhan masih berbicara dengan lembut, daripada peristiwa menimpa kita.

IV. Gereja Sardis
Wahyu 3:1-3 “Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Sardis: Inilah firman Dia, yang memiliki ketujuh Roh Allah dan ketujuh bintang itu: Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati! Bangunlah, dan kuatkanlah apa yang masih tinggal yang sudah hampir mati, sebab tidak satu pun dari pekerjaanmu Aku dapati sempurna di hadapan Allah-Ku. Karena itu ingatlah, bagaimana engkau telah menerima dan mendengarnya; turutilah itu dan bertobatlah! Karena jikalau engkau tidak berjaga-jaga, Aku akan datang seperti pencuri dan engkau tidak tahu pada waktu manakah Aku tiba-tiba datang kepadamu.”

Gereja ini dari luar (di pandangan manusia) kelihatan hidup tetapi didalamnya mati. Sesama manusia tidak bisa melihat sampai kedalaman hati kita namun Tuhan bisa melihatnya. Jangan di hadapan manusia kita dipuji-puji namun di hadapan Tuhan adalah rohani kita ternyata mati. Ini berarti kemunafikan. Semua aktivitas rohani dan pelayanan jangan menjadi topeng untuk menutupi kebusukan kita. Jika keadaan kita seperti gereja Sardis, bertobatlah! Jika tidak, maka saat Tuhan datang seperti pencuri, kita kedapatan tidak siap dan akan tertinggal dalam pengangkatan. Sekali lagi, semua peringatan ini berkaitan erat dengan kedatangan Tuhan.

V. Gereja Laodikia
Wahyu 3:15-17 “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku. Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang”

Laodikia adalah jemaat suam-suam kuku, ikut Tuhan setengah-setengah, kompromi kepada dosa. Tuhan berkata jika tidak bertobat maka mereka akan Tuhan muntahkan. Artinya, Tuhan jijik jika kita suam-suam kuku.
Wahyu 3:18-19 “maka Aku menasihatkan engkau, supaya engkau membeli dari pada-Ku emas yang telah dimurnikan dalam api, agar engkau menjadi kaya, dan juga pakaian putih, supaya engkau memakainya, agar jangan kelihatan ketelanjanganmu yang memalukan; dan lagi minyak untuk melumas matamu, supaya engkau dapat melihat. Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”

Alasan Tuhan menegur dan menghajar adalah karena Tuhan sayang! Tuhan tidak menghendaki 1 jiwapun yang binasa. Seringkali kita mau Tuhan maklum dengan alasan-alasan kita. Padahal cinta tidak mengenal alasan! Orang yang sedang jatuh cinta maka ia akan melakukan apa saja. Begitupun jika kita mencintai Tuhan, maka kita akan melakukan apa yang Tuhan (Pribadi yang kita cintai) perintahkan.

VI. BERSIAPLAH UNTUK KEDATANGAN TUHAN
Menjelang kedatangan Tuhan, kita juga diingatkan untuk:
1. Mengejar kekudusan.
Ini adalah syarat untuk melihat Tuhan.
Ibrani 12:14 “Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Tuhan.”
2. Bersiap sedia sebagai mempelai Kristus
Wahyu 19:7-8 “Marilah kita bersukacita dan bersorak-sorai, dan memuliakan Dia! Karena hari perkawinan Anak Domba telah tiba, dan pengantin-Nya telah siap sedia. Dan kepadanya dikaruniakan supaya memakai kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih!” [Lenan halus itu adalah perbuatan-perbuatan yang benar dari orang-orang kudus.] ”

Jadi sebagai pengantin-Nya kita harus telah siap sedia, bukan sedang mau persiapkan diri. Karena kedatangan Tuhan sangat cepat, jika kita tidak siap sedia maka kita akan ditinggal. Baju putih rohani kita harus dijaga baik-baik. Begitu ada noda sedikit harus segera dicuci. Semakin lambat dibersihkan, nodanya akan semakin susah dihilangkan. Jadi jika ada dosa sekecil apapun langsung segera dibereskan. Jangan tunda-tunda. Bertobatlah! Bertobat bukan hanya saat pertama kali kita menerima Yesus, tetapi harus terus menerus kita lakukan sampai kita berjumpa dengan Tuhan.

By : Pdt. dr. Mediati Martino

FENOMENA BAPTISAN ROH KUDUS

Kisah Para Rasul 2:1-13 “Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?” Tetapi orang lain menyindir: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.””

I. BERBAGAI PEMAHAMAN YANG KELIRU MENGENAI FENOMENA BAPTISAN ROH KUDUS
Orang percaya mutlak perlu dibaptis Roh Kudus karena Roh Kudus menggantikan peran Yesus secara fisik di dunia. Roh Kudus adalah Penolong supaya kita bisa hidup oleh Roh dan menikmati hidup oleh Roh karena manusia secara alamiah dimotori oleh unsur jiwani tetapi unsur jiwani itu dapat ditaklukkan di bawah kehendak Roh.
Fenomena adalah peristiwa yang luar biasa. Ketika para murid berkumpul di loteng Yerusalem, tepat pada hari Pentakosta (hari ke-50) terjadi pencurahan Roh Kudus. Apa fenomena yang terjadi saat itu? Terjadi suatu tiupan angin yang keras, lalu tampak lidah-lidah api di atas kepala tiap-tiap murid yang dibaptis Roh Kudus, kemudian mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa yang lain yang tidak mereka mengerti tetapi dimengerti oleh orang-orang yang melihat mereka. Orang-orang yang melihat mereka ini adalah orang-orang Yahudi yang saleh dari berbagai penjuru dunia yang datang ke Yerusalem untuk merayakan hari Pentakosta. Orang-orang tersebut mendengar para murid berbicara dalam berbagai bahasa. Ini fenomena yang luar biasa. Saat itu terjadilah penginjilan dunia, dimana Allah dipermuliakan dalam berbagai bahasa.
Namun apa kesimpulan orang-orang yang menyaksikan fenomena awal baptisan Roh Kudus? Mereka berkata satu sama lain mengenai murid-murid Yesus: “mereka sedang mabuk oleh anggur manis” (Kis 2:13).
Galatia 3:14 “Yesus Kristus telah membuat ini, supaya di dalam Dia berkat Abraham sampai kepada bangsa-bangsa lain, sehingga oleh iman kita menerima Roh yang telah dijanjikan itu.”
Saat pencurahan kembali Roh Kudus di awal abad ke-21 yang kemudian melahirkan gerakan Pentakosta, juga terjadi fenomena-fenomena yang ajaib dengan berbagai macam bentuknya.
Fenomena-fenomena seperti ini perlu kita pahami dengan benar karena hal ini bisa membawa kesimpulan yang positif maupun negatif. Peristiwa-peristiwa ajaib ini jika tidak dipahami dengan benar akan menimbulkan pengaruh yang tidak baik yaitu menjadi doktrin.Ada berbagai peristiwa yang terjadi selama baptisan Roh Kudus misalnya “holy laughter” yang pernah terjadi. Namun kita harus berhati-hati agar fenomena tidak boleh menjadi doktrin/standar patokan/pedoman. Tetapi kenyataannya, inilah yang banyak terjadi.
Ada hamba Tuhan yang mengajarkan bahwa baptisan Roh Kudus baru terjadi setelah orang percaya menangis. Ini adalah contoh fenomena yang menjadi doktrin! Karena itu tidak heran ada hamba-hamba Tuhan tertentu yang setelah berkhotbah mereka berusaha “berpuisi” dengan kata-kata yang menyedihkan untuk mengobok-obok perasaan/unsur jiwani jemaat supaya jemaat menangis. Jika jemaat menangis, ia berpikir bahwa Roh Kudus sedang bekerja. Sedangkan saat jemaat tidak menangis ia menghakimi bahwa jemaat itu tidak memiliki Roh Kudus.
Kita harus berhati-hati bahwa fenomena-fenomena yang terjadi itu bukan pekerjaan manusia, itu adalah kedaulatan Tuhan – apa yang Tuhan mau kerjakan. Jadi fenomena tersebut tidak boleh dibuat-buat/diciptakan oleh kita. Karena itu pembimbingan demi pembimbingan harus selalu ada dan sesuai Firman. Yang perlu kita perhatikan adalah: Fenomena tidak selamanya ada, suatu fenomena akan ada saatnya berakhir.
Kita harus mengakui secara jujur bahwa dulu di kalangan kita, doktrin mengenai baptisan Roh Kudus didasarkan pada fenomena. Jadi dulu, “bahasa roh” baru bisa diucapkan setelah ada gejolak emosional dan tangisan. Saat gerakan neo-pentakosta yang juga disebut gerakan kharismatik lahir, dimana orang-orang berbahasa roh tanpa melalui gejolak emosional, orang-orang pentakosta pada saat itu awalnya terkejut dan terheran-heran mengapa ada orang yang bisa berbahasa roh tanpa menangis?
Di sisi lain, ada juga orang-orang dikalangan Pentakosta dan Kharismatik yang tidak tahu kapan saatnya berbahasa roh. Ada orang yang saat doa makan disuatu acara yang dihadiri oleh banyak kalangan, doanya menggunakan bahasa roh. Ini contoh berbahasa roh yang tidak pada tempatnya. Jadi semua pemahaman yang keliru ini harus diluruskan.

II. BAHASA ROH MENURUT ALKITAB
Bahasa lidah (dalam bahasa Indonesia diterjemahkan: “bahasa roh”), menurut Alkitab ada 2 macam:
1. Xenolalia (Kisah Para Rasul 2) adalah kemampuan yang diberikan Roh Kudus untuk berbicara dalam bahasa lain yang tidak ia ucapkan, yang tidak ia pahami. Contohnya seperti pencurahan Roh Kudus di loteng Yerusalem. Orang-orang mendengar para murid berbicara mempermuliakan Allah dalam berbagai bahasa: Arab, Mesopotamia, dlsbnya.
2. Glossolalia (Kisah Para Rasul 10) adalah karunia yang Roh Kudus berikan untuk berkata-kata dengan lidah yang tidak dimengerti oleh seorangpun dimana ia berbicara hal-hal rahasia yang hanya dimengerti oleh Allah. Bahasa roh disini berbeda dengan di Kisah 2, bahasa roh disini tidak dimengerti oleh seorangpun.
Perlu juga kita memahami bahwa:
1. “Bahasa roh” disini ditulis dengan “roh” (r huruf kecil), bukan “Roh” (R huruf besar), berarti roh kita yang berkata-kata.
2. Bahasa roh yang merupakan tanda baptisan Roh Kudus tidak perlu diartikan. Namun bahasa roh yang merupakan “Karunia bahasa roh” harus disertai oleh “Karunia menafsirkan bahasa roh” untuk membangun jemaat.

III. BERBAHASA ROH DALAM PERTEMUAN JEMAAT / PERSEKUTUAN
Di Korintus, Paulus menertibkan penggunaan bahasa roh yang tidak tepat di kalangan jemaat. 1 Korintus 14:2-19 “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorang pun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran? Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi — bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda? Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang? Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara! Ada banyak — entah berapa banyak — macam bahasa di dunia; sekalipun demikian tidak ada satu pun di antaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti. Tetapi jika aku tidak mengetahui arti bahasa itu, aku menjadi orang asing bagi dia yang mempergunakannya dan dia orang asing bagiku. Demikian pula dengan kamu: Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun Jemaat. Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia untuk menafsirkannya. Sebab jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan “amin” atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan? Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya. Aku mengucap syukur kepada Allah, bahwa aku berkata-kata dengan bahasa roh lebih dari pada kamu semua. Tetapi dalam pertemuan Jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa roh.”
Bagaimana berbahasa roh di dalam persekutuan bersama?
1. Saat kita berbahasa roh, karena tidak ada orang yang mengerti, maka tidak perlu keras-keras, volume suara cukup yang bisa didengar oleh telinga. Bahasa roh ini digunakan untuk berkomunikasi secara pribadi dengan Tuhan.
2. Saat kita berbahasa roh dalam pertemuan/persekutuan jemaat, mungkin kita terdorong untuk bersuara sedikit lebih keras. Saat itu kita harus berdoa supaya Tuhan memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh. Jika Tuhan memberikan karunia pada seseorang untuk mengartikan bahasa roh yang kita ucapkan, maka pesan Tuhan akan tersampaikan. Namun jika saat itu Tuhan tidak memberikan karunia menafsirkan bahasa roh, maka kita bisa mengecilkan suara kita saat berbahasa roh.
Dari ayat diatas kita juga belajar bahwa:
1. Bagi kita yang sudah dibaptis Roh Kudus, maka kita bisa memahami bagaimana berdoa dengan roh tanpa melibatkan akal budi.
2. Begitupun jika kita rindu dibaptis Roh Kudus, maka kita harus menerima Roh Kudus dengan iman, yaitu berdoa dengan roh tanpa melibatkan akal budi.

IV. PEMAHAMAN YANG BENAR MENGENAI FENOMENA BAPTISAN ROH KUDUS
1. Kita tidak boleh menciptakan fenomena, karena fenomena tersebut merupakan pekerjaan Tuhan, bukan pekerjaan manusia. Maka:
a. Tidak benar jika ada hamba Tuhan yang bertepuk tangan keras-keras dan berteriak-teriak supaya jemaat yang hadir tersulut emosinya (unsur jiwaninya) untuk menjadi histeris dan menangis baru kemudian berbahasa roh. Ini sama dengan mau menciptakan fenomena.
b. Tidak benar jika bahasa roh dipengaruhi oleh musik yang hingar bingar. Musik yang pelan bahkan tanpa musik sekalipun tidak mempengaruhi kita untuk dibaptis Roh Kudus maupun untuk berbahasa roh.
c. Tidak benar jika ada suatu gereja mengajarkan cara berbahasa roh, atau berbahasa roh mengikuti apa yang dikatakan orang yang sudah dibaptis Roh Kudus. Ini berarti dibuat-buat/pekerjaan manusia.

2. Andaikan fenomena terjadi, fenomena itu tidak boleh menjadi doktrin. Maka:
a. Tidak benar bahwa bahasa roh baru bisa diucapkan setelah ada gejolak unsur jiwani.
b. Tidak benar bila suatu fenomena menjadi patokan standar karena pengalaman pribadi seseorang dibaptis Roh Kudus berbeda-beda.
c. Tidak benar jika gereja membuat suatu doktrin bahwa bahasa roh adalah syarat untuk terikut dalam pengangkatan, juga doktrin bahwa orang yang berbahasa roh lebih rohani daripada orang yang belum bisa berbahasa roh. Karena yang penting adalah pembentukan karakter. Dengan memahami dasar-dasar kebenaran Firman Tuhan ini, maka kita akan memiliki pemahaman yang benar akan fenomena baptisan Roh Kudus.

By : Pdt. DR. RF. Martino