Kuat Dalam Kekuatan Kuasa-Nya
Efesus 6:10-12 10 Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya. 11 Kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah, supaya kamu dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis; 12 karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
Nyata bahwa ayat diatas tidak hanya berbicara secara umum, tapi bagi tiap-tiap orang percaya. Kuat di dalam kekuatan kuasa Tuhan, kata “kuat” bukan karena filosofi dari dunia sekuler, tapi menjadi pribadi yang kuat di dalam kekuatan kuasa Tuhan, artinya: setiap kita sebagai orang percaya harus menemukan, bahwa saat kita menerima Yesus secara pribadi, sesungguhnya kita punya hak untuk menikmati kuat kuasa Tuhan di dalam diri kita, karena saat itulah pribadi Yesus yang masuk dalam hati dan menyatu dengan roh kita sekaligus kedahsyatan, kekuatan kuasa Tuhan yang sudah menjadi bagian kita.
Pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa tahu, memahami dan sekaligus mengalami bahwa kita ini memiliki kedahsyatan kekuatan kuasa Allah dalam hidup kita?
Kita tahu dalam teori secara umum/alamiah, produk-produk yang akan dipakai pasti akan melalui pengujian. Misalnya sebuah mobil sebelum dijual akan melalui tes kekuatan, dengan cara ditabrakan pada suatu tempat yang memang khusus dipakai untuk pengujian. Disitu akan dipelajari bagian-bagian yang masih lemah, termasuk juga yang berhubungan dengan keselamatan penumpang mobil tersebut dan kemudian di desain kembali sehingga layak untuk dijual dan dipakai.
Tidak berbeda dengan kita, bagaimana kita tahu bahwa kita sudah mempunyai kuat kuasa Allah dalam diri kita? Kita harus diuji juga! Beberapa waktu lalu kita sudah belajar mengenai hidup oleh iman dan bentuk-bentuk ujian iman. Iblis tidak punya urusan dengan keluarga dan kekayaan Ayub, tapi mengapa semua dimusnahkan oleh Iblis atas seijin Tuhan? Iblis punya tujuan supaya Ayub menyangkal Tuhan.
Begitu juga ketika kita kehilangan rumah, keluarga bahkan kehilangan segala-galanya, Iblis tidak berurusan dengan semuanya itu. Iblis mau melihat sejauh mana ketaatan kita, apakah kita tetap bertahan? beribadah kepada-Nya? tetap memuji Tuhan? Ingatlah, kesukaran tidak akan pernah bertahan lama pada diri orang yang ulet.
Bersyukurlah bahwa setelah kita memiliki kuat kuasa Tuhan dan kita mengalaminya, tapi ada yang yang memiliki tapi tidak mengalami, karena pada saat diuji dan dihadapkan dengan realitas hidup ternyata ia rapuh.
I Yohanes 5:4-5 4sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita 5 Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah?
Inilah hal yang sudah kita buktikan. Bukan karena kekuatan lain yang membuat pribadi seseorang kuat, dengan realitas apapun yang hadir dalam kehidupannya, yang membuat dia tetap berdiri tegar, teguh, kokoh, kuat oleh iman kepada Allah. Inilah yang harus kita alami dan nikmati. Jadi, kalau kita bicara tentang kuasa Allah, masih sulit membayangkannya jika kita belum mengalami. Tapi dengan apa yang sudah kita alami. Disitu kita melihat dan mengakui bahwa Allah itu dahsyat dan luar biasa.
Apa sebab kita harus kuat di dalam kekuatan kuasa Allah?
Firman-Nya berkata bahwa perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara. Jadi sementara di bumi ini terjadi segala sesuatu, baik alamnya dalam segala peristiwa, baik manusianya yang hidup di atasnya, jangan lupa bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam nyata dikendalikan dari alam roh kita akan mengerti setelah membaca ayat ini:
Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Apa yang sudah kita baca dalam Efesus 6:12 dan Roma 8:28 membawa kita untuk melihat gambaran jelas bahwa ketika terjadi sesuatu di bumi ini, rancangan Allah bagi kita adalah mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Tuhan.
Tapi ada sebagian orang sudah memahami Roma 8:28 tapi belum sampai pada pemahaman Efesus 6:12. Bahkan dalam I Petrus 5:8 Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya.
Dari pihak Tuhan semua perkara dirubah menjadi kebaikan, tapi Iblis membuat segala yang dialami oleh manusia menjadi lebih buruk bahkan sampai menggurkan imannya. Maka dari itulah kita disuruh untuk memakai selengkap senjata Allah supaya dapat bertahan melawan tipu muslihat Iblis. Tipu muslihat Iblis membalikan segala kebenaran Allah. Yang tadinya kita menangkap bahwa dibalik semua yang terjadi ada maksud baik Tuhan, Iblis dapat membuat dengan menggocoh jiwa kita (pikiran, perasaan dan kehendak) untuk membawa kita tidak mempercayai apa yang sudah Tuhan tetapkan bahwa segala sesuatu yang terjadi mendatangkan kebaikan.
Jika tidak dipahami, hal ini akan jauh lebih berbahaya dari bencana bentuk apapun. Ketika segala sesuatu habis dan musnah, maka jiwa kita akan menganalisa sesuai dengan apa kata orang dan realitas yang tejadi dan hasilnya tetap nol disitulah Iblis mengambil kesempatan untuk membuat iman hancur. Tapi Firman mengatakan bahwa iman yang mengalahkan dunia. Kita juga harus ingat bahwa hidup kita ditentukan oleh apa kata Firman bukan oleh kata orang. Bukannya kita tidak realistis atau “menutup mata” untuk analisa logika yang benar-benar jelas tidak ada harapan, justru kita harus punya iman yang realistis untuk menyelesaikan segala yang realistis itu, sehingga iman kita bukan hanya iman dengan mimpi dan angan-angan yang kosong tapi iman yang memiliki suatu keyakinan.
Kita hidup di dunia tidak pernah bisa lari dan menghindar ataupun juga tidak mau menghadapi realitas. Sekecil apapun dan apapun bentuknya, tapi semua kembali dari pribadi orang tersebut, bagaimana hubungannya dengan Tuhan, sejauh mana kekuatan kuasa Allah itu dialami.
Kasus Daud ketika dikejar-kejar oleh Saul
I Samuel 21:1 Sampailah Daud ke Nob kepada Ahimelekh, imam itu. Dengan gemetar Ahimelekh pergi menemui Daud dan berkata kepadanya: “Mengapa engkau seorang diri dan tidak ada orang bersama-sama dengan engkau?”
I Samuel 21:10 Kemudian bersiaplah Daud dan larilah ia pada hari itu juga dari Saul; sampailah ia kepada Akhis, raja kota Gat.
Waktu itu Daud lari karena ia sedang dikejar-kejar Saul, ini sama saja Daud dikejar-kejar oleh maut karena akan dibunuh. Bentuk peristiwanya yaitu:dikejar-kejar maut. Ini adalah masalah serius.
I Samuel 21:11 Pegawai-pegawai Akhis berkata kepada tuannya: “Bukankah ini Daud raja negeri itu? Bukankah tentang dia orang-orang menyanyi berbalas-balasan sambil menari-nari, demikian: Saul mengalahkan beribu-ribu musuh, tetapi Daud berlaksa-laksa?”
Kepopularitasan Daud sudah terkenal hingga kemana-mana. Mengapa Daud lari? Karena siapa tahu dia mendapat tempat persembunyian yang aman dari kejaran Saul dan berharap tidak ada yang mengenalnya, tetapi ternyata pegawai-pegawai Akhis mengenalnya.
I Samuel 21:12 Daud memperhatikan perkataan itu, dan dia menjadi takut sekali kepada Akhis, raja kota Gat itu.
Ketika banyak orang sudah mengenal dia dalam persembunyiannya maka Daud menjadi takut sekali. Alkitab dengan jujur menjelaskan faktor alamiah Daud sebagai manusia pada umumnya. Daud yang terkenal dengan kepahlawanannya-pun ternyata punya rasa takut. Perasaan takut itu adalah manusiawi, tapi bukannya Tuhan tidak menjadikan hal itu sebagai bahan pertimbangan, justru dijelaskan secara riil supaya firman Tuhan bisa menjawab bagaimana mengalahkan faktor manusiawi ini dengan iman? Bagaimana pikiran-pikiran analisa logika ini dapat ditaklukkan dengan iman, hal ini tidak berarti membuang analisa logika itu.
I Samuel 21:13 Sebab itu ia berlaku seperti orang yang sakit ingatan di depan mata mereka dan berbuat pura-pura gila di dekat mereka; ia menggores-gores pintu gerbang dan membiarkan ludahnya meleleh ke janggutnya.
Daud yang gagah perkasa itu mempunyai ide supaya tidak dikenal orang, maka ia membuat dirinya seperti orang hilang ingatan, ini adalah tekanan depresi yang terberat, betul-betul menyakitkan. Gila berarti lupa ingatan, tapi pura-pura menjadi gila itu menyakitkan karena dalam kondisi sadar. Tuhan menghargai dan memperhitungkan faktor-faktor manusiawi sampai ke titik yang paling rendah, tetapi kalau Tuhan menolong kita bukan karena hal itu, tetapi karena Tuhan mengasihi pribadi kita yang sudah diselamatkan oleh darah Yesus.
1 Samuel 22:1 Lalu Daud pergi dari sana dan melarikan diri ke gua Adulam. Ketika saudara-saudaranya dan seluruh keluarganya mendengar hal itu, pergilah mereka ke sana mendapatkan dia.
Keluarga dan saudara-saudaranya tahu tempat persembunyiannya. Ternyata bukan hanya itu saja, kita lihat siapa lagi yang ikut dengan Daud dalam pengungsiannya?
I Samuel 22:2 Berhimpunlah juga kepadanya setiap orang yang dalam kesukaran, setiap orang yang dikejar-kejar tukang piutang, setiap orang yang sakit hati, maka ia menjadi pemimpin mereka. Bersama-sama dengan dia ada kira-kira empat ratus orang.
Ternyata dalam pengungsian-pun Daud menjadi pemimpin orang-orang yang bermasalah, bukan setelah masalahnya selesai. Justru dengan pengalaman yang dia alami dengan kedahsyatan Tuhan, itulah yang dia pakai untuk mengkonselingi orang-orang yang bermasalah tersebut.
Ketika kita alami hal-hal yang dahsyat, ketahuilah Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk juga menjadi berkat bagi banyak orang dan pemimpin bagi orang-orang yang susah. Ini jauh lebih besar nilainya dari peristiwa itu sendiri. Tidak ada satu orangpun yang dapat lari dari kenyataan. Lari dari kenyataan bukan menyelesaikan masalah tetapi awal bencana baru.
Akibat bencana gempa yang terjadi beberapa dari kita hanya kehilangan hal-hal materi (kata “hanya” bukan berarti mengentengkannya), tetapi Tuhan masih memberikan nafas kehidupan untuk menjalani kehidupan yang nilainya lebih dari materi yang hilang itu. Hidup ini adalah kesempatan, kesempatan yang masih ada ini mari kita pakai dan Tuhan akan memakai kita untuk hal yang lebih dahsyat lagi. Dan semua yang kita saksikan dan apapun yang kita bagikan akan menjadi berkat buat orang lain dan membangkitkan harapan yang baru.
By : Pdt. R.F. Martino









