KARENA NILA SETITIK RUSAK SUSU SEBELANGA
GppsPalu – Peribahasa yang cukup bagus untuk menggambarkan akibat dari sedikit yang buruk maka semua yang baik menjadi rusak. Dalam KBBI, nila adalah bahan pewarna dari daun tarum yang menghasilkan warna biru untuk pembuatan tekstil seperti batik. Banyak orang Kristen beranggapan bahwa kerohanian hanya ditentukan oleh hal-hal yang rohani saja. Dari bangun pagi berdoa,baca firman,saat teduh, aktif dikegiatan-kegiatan gereja karena mungkin ia adalah seorang pelayan Tuhan, hamba Tuhan atau pun jemaat biasa. Hal ini sudah cukup bagus, hanya saja seringkali melupakan hal-hal praktis dalam kesehariannya yang berakibat hidupnya tidak menjadi berkat. jika hidup hanya memperhatikan hal-hal yang rohani dan melupakan hal-hal praktis, hidup kekristenan tidak akan menjadi berkat.Kita masih bersosialisasi dengan banyak orang , dengan kata lain kita adalah makhluk sosial.
Tidak ada yang salah dengan hal-hal rohani karena itu memang keharusan tetapi harus ada Keseimbangan. Orang yang selalu hanya fokus kepada hal-hal yang rohani saja adalah orang yang vertikalis, tidak merasa butuh bersosialisasi dengan orang lain, tidak hidup sewajarnya. Ada seorang hamba Tuhan yang sangat vertikalis sehingga ia lupa bahwa ia adalah makhluk sosial dan kepercayaan besar yang Tuhan berikan kepadanya juga berhubungan dengan jiwa-jiwa yang ada disekitarnya. Dari pagi sampai malam hanyadi kamar terus untuk berdoa dan berdoa,hanya keluar pada saat ada tugas-tugas pelayanan, tidak bersosialisasi dengan jemaat.Akibatnya “roh”yang lain merasuk sehingga banyak keanehan-keanehan yang terjadi. Bagi tetangga atau jemaat yang ada disekitar gereja itu, mereka tidak merasa diberkati dan akhirnya kesaksian hidupnya, pelayanannya menjadi tidak ada nilai rohaninya.Hal rohani yang dilakukan tanpa melakukan kehendak Tuhan secara keseluruhan, maka hal-hal tersebut tidak akan bernilai rohani di hadapan Tuhan.
Apa Tujuan Allah menciptakan manusia?
Yesaya 43:7 Semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang kubentuk dan yang juga Kujadikan!
Tujuan Allah menciptakan manusia adalah untuk kemuliaan-Nya. Hidup memuliakan Tuhan dalam segala aspek, menjadi berkat dan kesaksian bagi orang-orang yang ada disekitar kita.Dimana pun kita berada dan apa pun yang kita perbuat pribadi Kristus yang dimuliakan bukan pribadi kita sehingga jangan sampai kita hidup mencuri kemuliaan nama Tuhan.
Surat Terbuka
2 Korintus 3:2 Kamu adalah surat pujian kami yang tertulis dalam hati kami dan yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang
Sebagai orang percaya yang sudah lahir baru, Yesus hidup di dalam kita, kita hidup bersama-sama dengan Dia dan menghidupi-Nya dalam kehidupan sehari-hari maka kita adalah suratan terbuka dimana semua orang dapat melihat kehidupan kita, yaitu pribadi Yesus yang ada dalam diri kita. Jika orang hanya melihat pribadi kita maka pada akhirnya kita hanya akan mencuri kemuliaan Tuhan. Tetapi yang benar ialah bahwa kita rindu hidup kita ini memuliakan nama Tuhan, baik hidup mau pun mati hanya untuk Tuhan.
Garam danTerang Dunia
Matius 5:13,14 13Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 14Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.
Biarpun kota kecil tetapi terang, kota itu akan terlihat karna terangnya. Sama halnya dengan suatu kebenaran. Kita tidak perlu takut dengan apa pun juga karena Firman Tuhan berkata bahwa jalan hidup orang benar seperti rembang tengah hari, kebenaran akan tetap nyata sebagai kebenaran. Iblis tidak pernah menghendaki kita manusia untuk hidup memuliakan Tuhan. itu Sebabnya jika kita mengetahui strategi si jahat ini berarti kita juga tahu sepanjang malam kita tidur, keesokannya kita bangun kembali masih bernafas dan kita melakukan kegiatan selama 24 jam dan setiap hari berikutnya, maka kita tidak akan menyia-nyiakan waktu yang ada. Kita pasti akan berjaga-jaga, menjaga hidup kita dan tidak memberikan kesempatan kepada sijahatdan tidak buka celah. Rumah kita tertutup rapat. Jika ada celah dalam hidup, Iblis punya hak sah untuk masuk mengobrak-abrik sehingga kita tidak menjadi pribadi yang hidup memuliakan Tuhan.
Bagaimana caranya supaya hidup kita menjadi kesaksian?
Efesus 4:27 Dan janganlah beri kesempatan kepada iblis.
Dimana ada kesempatan, disitu ada peluang untuk si jahat menghancurkan pribadi kita. Setiap hari seharusnya kita menutup celah sehingga hidup menjadi suatu kesaksian berkat dan pribadi Kristus yang dinyatakan. Bukan menjadi batu sandungan, dimana orang lain tidak melihat kesaksian hidup kita yang memberkati walaupun kita sudah lama menjadi orang percaya.
Bagaimana caranya menutup celah?
- Menjaga Kekudusan
Kita perlu menutup celah dalam hal menjaga kekudusan. Berbicara kekudusan, kita tentu berpikir tentang tidak berzinah dan tidak memikirkan hal-hal yang cabul. Lebih dari itu kekudusan yang utama adalah berbicara tentang kekudusan hati.
Amsal 4:23 Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Amsal 22:11 Orang yang mencintai kesucian hati dan yang manis bicaranya menjadi sahabat raja
Hati adalah tempat berkumpul semua keinginan, hasrat yang akan mendorong kita melakukan segala seuatu yang kita ingin lakukan. Sebagai orang percaya kita harus benar-benar menjaga hati kita supaya kita tidak tercemari hal-hal yang dapat menyebabkan hidup tidak memuliakan Tuhan.
Dampak dari kesucian hati :
- Kesucian pikiran (2 Kor. 10:5)
- Kesucian perkataan (Ef. 4:29)
Seringkali kita terkecoh, kita merasa hidup benar dan memuliakan Tuhan karena kita tidak pernah berzinah. Jika hati kita yang adalah sumber segala sesuatu sudah bermasalah maka akan tersambung ke dalam pikiran kita yang akan menghasilkan suatu tindakan atau perbuatan.
Filipi 1:20 Sebab yang sangat kurindukan dan kuharapkan ialah bahwa aku dalam segala hal tidak akan beroleh malu, melainkan seperti sediakala, demikian pun sekarang, Kristus dengan nyata dimuliakan di dalam tubuhku, baik oleh hidupku, maupun oleh matiku.
SebuahKesaksian
Saya pribadi (Lea Novitasari) dari kecil setelah tahu kebenaran firman karena diajar di sekolah minggu bahwa kita adalah suratan terbuka harus hidup menjadi saksi, menjadi garam dan terang, sudah punya kerinduan untuk hidup memuliakan Tuhan dan berusaha supaya nama Kristus tidak dipermalukan. Ketika saya masih sekolah, saya rindu bisa menjadi berkat bagi orang lain dalam segala hal termasuk dalam studi dan bisa menyenangkan orangtua.Dari SD sampai SMP saya belajar untuk hidup takut akan Tuhan. Saya belajar untuk menjadi pelajar yang memuliakan nama Tuhan. Saya ingat satu peristiwa dimana saya pernah mengalami pengalaman karena nila setitik rusak susu sebelanga. Bagi saya, peristiwa ini adalah suatu peristiwa yang tidak terlupakan dan saya tahu bahwa Tuhan ijinkan itu terjadi dalam hidup saya agar saya dapat mengetahui, merasakan yang namanya hidup mempermalukan nama Tuhan dan juga untuk dapat membuat saya memiliki kerendahan hati. Saat itu saya kelas 2 SMA dan saya adalah seorang pelajar yang punya prinsip anti mencontek dan memberikan contekan karena saya tahu hal itu adalah dosa. Guru-guru tahu akan hal itu sehingga setiap kali ujian, pasti dipindah di bangku depan dekat meja guru supaya aman. Saat itu ujian pelajaran EKOP (Ekonomi dan Koperasi). Saya punya keinginan bahwa saya harus mendapatkan nilai tertinggi di kelas. Seperti biasa saya belajar pada malam hari sebelum ujian setelah melakukan pelayanan. Ketika ujian, saya baru menjawab satu pertanyaan, dan yang empat lainnya saya blank dan waktu terus berjalan.Lalu guru mengatakan bahwa waktunya sisa30 menit lagi. Guru saya saat itu adalah guru terbaik, guru yang paling sabar. Setiap kali ujian EKOP, siswa jarang belajar karena mudah sekali bagi mereka untuk mencontek. Hati saya saat itu sudah mulai bermasalah, saya tengok kanandankiri, saya melihat teman-teman saya yang lain sudah banyak yang mencontek dan jawaban mereka sudah terisi semua. Saya pikir ini tidak adil jika saya dapat nilai jelek sedangkan teman-teman dapat nilai bagus karena mencontek. Pikiran saya mulai jalan dan dengan mudah saya mengambil buku EKOP saya dan mulai menulis jawabannya di lembar ujian. Satu nomor terjawab. Soal berikutnya pun dapat terjawab. Sisa dua nomor lagi yang belum terjawab tetapi hati saya tidak tenang. Saat jawaban soal ketiga saya akan tulis, saya kaget karena dari belakang saya berkata “Sudah mbak? Sudah selesai isinya?” dan itu adalah guru saya. Teman satu kelas tertawa melihat saya. Soal ujian saya diambil oleh guru saya sambil ia mengatakan hal tersebut. Saat itu saya mau menangis, rasanya ingin langsung keluar dari kelas dan teman saya berkata bahwa ekspresi muka saya seperti kepiting rebus dan sangat tegang. Bel berbunyi dan semua lembar jawaban dikumpul. Ketika saya berjalan ke toilet, teman saya berkata : “ternyata pendeta pun bisa mencontek ya..”. Selama sekolah, saya tidak pernah kompromi dengan hal mencontek. Jujur, saat itu saya merasa malu karena gagal menyenangkan hati Tuhan, saya berpikir bahwa saya sudah menghancurkan kesaksian hidup saya sendiri dan teman-teman tidak akan tertarik dengan kekristenan. Saya kemudian bertemu dengan pembimbing rohani saya dan mengatakan kalau saya mau istirahat dulu dari pelayanankarena sudah melakukan hal yang tidak benar. Saya kehilangan damai sejahtera. Saya berkata “Tuhan ampuni saya karena sudah mempermalukan nama Tuhan.”Di kamar mandi saya menangis dan besoknya ketika saya pergi ke sekolah dan ketika akan memasuki pintu gerbang, saya pikir teman-teman akan bersikap lain kepada saya, ternyata tidak. Mereka cukup akrab dan mengatakan dengan senda gurau “Ibu Pendeta sebaiknya jangan coba-coba nyonteklah..,” rupanya julukan “Ibu pendeta” adalah nubuatan ya…karena akhirnya saya menjadi pendeta juga…
Akibat hati yang bermasalah menyebabkan pikirin jadi tidak suci maka menghasilkan tindakan tersebut. Jadi kesucian bukan hanya mengenai hal-hal badani, fisik saja, tetapi juga mengenai perkatan dan pikiran. Banyak orang yang tidak pernah berzinah secara badani, tetapi perkataannya itu sangat buruk, sangat tidak memberkati, suka membicarakan orang dan pikirannya negatif. Rasul Paulus mengajarkan bahwa iblis selalu berusaha merasuki pikiran kita.
2 Korintus 10:5Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus.
Kita hidup diberi kehendak bebas untuk memilih. Sesuatu yang baik adalah pasti dari Tuhan dan sesuatu yang tidak baik pasti bukan dari Tuhan. Dalam kehidupan kita selalu mendengar dua suara yang akan membawa kita kepada kebenaran atau ketidakbenaran. Pada saat pikiran mulai dipengaruhi oleh hati dengan segala hasrat, keinginan akan hal apapun, kita akan mengalami suatu hal yang berbeda-beda. Firman Tuhan mengingatkan untuk menawan pikiran dan taklukkan kepada kehendak Kristus.
Dampak dari kesucian hati akan menghasilkan kesucian pikiran dan kesucian perkataan. Banyak orang berpikir bahwa ia hidup suci, hidup kudus entah masih sendiri atau pun sudah berumah tangga, tidak berzinah, tidak menonton video porno, tidak berkata-kata cabul, tetapi dalam perkataannya sangat tajam bahkan lebih tajam dari silet sehingga membunuh karakter sesamanya dan tidak terkontrol dalam berkata-kata.
Efesus 4:29 Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, dimana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia.
Dalam banyak hal kita berkerinduan hidup memuliakan Tuhan tetapi terkadang kita lupa mengendalikan perkataan. Perkataan yang sia-sia kita ucapkan dapat menjadi penyebab kesalahpahaman. Sesama pelayan Tuhan pun dapat salah paham hanya karena perkataan. Bagi mereka yang sudah dewasa rohaninya, mereka tidak akan membiarkan iblis mengambil keuntungan. Seringkali anak Tuhan kalah di dalam berkata-kata.
- Menutup celah dalam hal tanggung jawab
Hal ini berhubungan dengan keluarga. Dimana pun kita hidup, ada suatu hierarki atau tingkatan otoritas yang harus kita patuhi. Baik dalam keluarga maupun dunia kerja, pelayanan, otoritas itu ada dan Tuhan menghendaki agar kita menghargai/menghormati setiap otoritas yang ada. Anak harus menghormati orang tua, istri harus tunduk kepada suami dan suami mengasihi istri. Baik suami maupun istri mempunyai tugas dan tanggung jawab masing-masing.
Kolose 3:19 Hai suami-suami, kasihilah isterimu dan janganlah berlaku kasar terhadap dia.
Kolose 3:21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.
Mungkin kita adalah orang yang rohani, jemaat yang setia kepada Tuhan, pelayan Tuhan yang punya prestasi,tetapi apalah artinya jika dalam kehidupan praktis tidak memiliki nilai-nilai rohani.
1 Tesalonika 2:7 Tetapi kami berlaku ramah di antara kamu, sama seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya.
- Menutup celah dalam hal keuangan
Manusia selalu punya keinginan lebih dan lebih lagi. Jika hati bermasalah maka akan menghasilkan tindakan yang salah. Lukas 3:14 Dan prajurit-prajurit juga bertanya kepadanya: “Dan kami, apakah yang harus kami perbuat?” Jawab Yohanes kepada mereka: “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.”
Banyak anak Tuhan yang melayani Tuhan dengan setia tetapi lupa untuk mengembalikan persepuluhan. Bukan nilai uangnya tetapi nilai ketaatan kita yang Tuhan kehendaki. Tuhan senang akan anak-anak yang taat.
Setiap kita orang percaya tentunya memiliki kerinduan untuk hidup memuliakan nama Tuhan, tetapi jika mengandalkan kekuatan diri sendiri, kita tidak akan mampu, akan jatuh bangun. Kita membutuhkan Roh Penolong yaitu Roh Kudus.
Yohanes 14:26 Tetapi Penghibur,yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.
Roh Kudus akan menerangi hati dan pikiran kita jika kita mau bersama-sama dengan Dia menyiapkan hidup kita, hati, pikiran, telinga rohani untuk mau diajar dan dituntun.
Tuhan menghendaki kita hidup untuk memuliakan Tuhan, menjadi berkat dan kesaksian bagi banyak orang. Seperti ada pepatah berkata “karena nila setitik merusak susu sebelanga”, jangan sampai kesaksian hidup kita menjadi rusak hanya karena kesalahan sepeleh yang seringkali terjadi karena hati, pikiran dan perkataan kita.
Pdt. Lea Novitasari










Leave a Reply