This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

TUGAS SEORANG MURID

GppsPalu – Matius 28:19,20 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.

Menjadi orang kristen tidak hanya bangga tentang berapa lama masuk gereja untuk berbakti, berapa banyak pelayanan yang sudah kita lakukan, namun hal yang paling esensi di dalam kekristenan adalah seberapa dalam kita memahami dan melakukan segala sesuatu yang terkait dengan kapasitas kita sebagai murid- murid Yesus. Ketika Tuhan menyampaikan deklarasi pengutusan kepada gereja-Nya untuk seseorang mendapat predikat sebagai murid Yesus harus menjalani proses pembelajaran. Oleh sebab itu siapa pun kita, berapa pun umur kita, selagi masih ada pengakuan, pemahaman tentang jati diri sebagai murid Yesus, mau tidak mau proses pembelajaran harus tetap menjadi kegiatan yang tidak pernah putus dalam kehidupan kita. Kadang-kadang kita sebagai orang Kristen merasa bangga dengan status kekristenan yang sudah lama, sudah mengambil bagian dalam berbagai bentuk pelayanan dan sudah banyak melayani banyak orang. Tetapi apakah sampai hari ini kita sebagai murid-murid Yesus masih tetap aktif untuk belajar?
Mungkin kita bertanya pemahaman apa lagi?Belajar apa lagi yang harus kita lakukan sebagai murid Yesus. Khususnya bagi yang sudah senior, yang merasa dirinya sudah tua berpikir mau belajar apalagi? Sebab orientasinya adalah belajar formal yaitu belajar teori-teori. Konsep pendidikan internasional yang dicanangkan oleh PBB melalui lembaga yang membidangi pendidikan dijelaskan bahwa dalam proses belajar memiliki 4 tujuan utama yaitu:
1. Belajar untuk tahu (learning to know)
2. Belajar untuk mencontoh/menjadi (learning to be)
3. Belajar untuk berkarya (learning to do)
4. Belajar untuk hidup bersama (learning to together)
1. Belajar untuk tahu (Learning to know)
Berapa puluh tahun pun saudara menjadi orang kristen, pengetahuan tidak akan pernah berhenti untuk dipelajari. Yang mengkhawatirkan ialah banyak orang kristen yang sudah merasa puas, sudah merasa tahu semuanya di dalam hidup kekristenannya.

a. Tahu identitas dan jati diri
Tahu identitas dan jati diri adalah hal yang sangat berguna dalam membangun mental dan karakter. Baik secara individu maupun komunitas/kelompok masyarakat, ketika seseorang memahami jati dirinya akan menjadi pijakan untuk membangun mental dan karakternya. Sebagai contoh, Bangsa Jepang memiliki mental yang sangat kuat yang mencakup segala bidang untuk kemajuan bangsanya dimana mereka sangat bangga dengan jati dirinya yang merasa adalah keturunan dewa Amaterasu(dewa matahari) yang menyinari seluruh dunia. Kebanggaan inilah yang membangun suatu pemahaman,mental dan karakter jati diri mereka. Orang kristen akan mempunyai mental yang kuat, membangun karakter yang benar, yang baik, ketika salah satunya menyadari memahami siapa jati dirinya.

1 Petrus 2:9 Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.
Orang pilihan pasti memiliki kualitas lebih di dalam setiap pribadi dan kehidupan yang seringkali diri sendiri pun kurang memahami dan mengenal jati dirinya. Dengan memahami 1 Petrus 2:9, siapapun kita, apapun status sosial budaya yang melatarbelakangi kehidupan kita, tetap kita adalah umat pilihan Allah.

Efesus 2:2-10 Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup didalamNya.
Tidak mungkin Allah membuat sesuatu tanpa kualitas yang luar biasa. Kualitas perabotan ditentukan oleh siapa yang membuatnya. Kita adalah buatan Allah, pilihan Allah, bukankah hal ini dahsyat? Jika pada awalnya Allah menciptakan manusia serupa dan segambar dengan-Nya dimana citra diri Allah ada di dalam kehidupan manusia dan akhirnya hancur lebur oleh karena dosa, tentunya hal ini merusak jati diri kita. Kita adalah umat ciptaan yang sudah diperbaharui di dalam Yesus Kristus, sehingga dengan demikian, kesadaran akan hal ini akan menjadi suatu kontrol yang kuat di dalam diri kita menjalani kehidupan keseharian ketika kita mau melangkah, apapun pikiran yang akan memutuskan langkah-langkah kehidupan kita, tentunya ada standar yang harus dipahami, apakah langkah pikiran perbuatan saya ini sudah selaras dengan identitas saya sebagai seorang umat pilihan dan sebagai ciptaan Allah yang berkualitas? Tanpa memiliki dasar yang kuat atas kesadaran pribadinya akan membuat manusia melangkah begitu saja, arah pikiran dan perbuatannya tidak terkontrol, maka tidak heran penjara di negeri kita masih banyak dihuni oleh orang-orang Kristen karena mereka tidak memiliki kontrol yang kuat atas pemahaman jati dirinya. Jika seseorang mau memutuskan apa yang dipikirkan/dilakukan dengan memahami akan jati dirinya, ini akan menjadi rem bagi orang tersebut untuk bisa mengatur langkah kehidupannya juga akan membangun mental seorang anak Tuhan, seorang bangsa pilihan yang menjadikannya beda dengan umat yang lain.
Seringkali seorang anak bangga akan posisi jabatan bapaknya karena menunjukkan jati diri anak tersebut. Anak bupati, anak gubernur, anak jenderal dan lain lain. Tetapi kita adalah anak-anak Tuhan dimana seharusnya jati diri ini membangun mental kita sebagai seorang umat pilihan Allah yang harus mempertahankan kualitas hidup karena kita buatan Allah. Dalam kitab Kejadian dikatakan bahwa manusia diciptakan sangat baik tetapi nilai tersebut hancur setelah manusia jatuh kedalam dosa. Pemahaman tahu identitas jati diri sangat berguna dalam membangun mental dan karakter. Sampai hari ini, teruslah belajar untuk tahu, semakin tahu akan jati diri dan mengerti akan identitas kita sebagai anak Tuhan.

b. Tahu kebenaran
Hal ini sangat berguna dalam membangun kedewasaan.
Yohanes 8:32 dan kamu akan mengetahui kebenaran dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu

Efesus 4:14,14sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, 15tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.
Kebenaran akan memerdekakan seseorang. Sehingga ketika orang semakin paham dan tahu akan kebenaran-kebenaran yang tertulis di dalam Alkitab yang diyakini sebagai Firman Allah yang berkuasa, orang itu makin merdeka didalam kehidupannya, makin tipis keterikatannya dengan berbagai-bagai ikatan yang ada di dunia ini termasuk ikatan budaya. Hal ini seringkali dialami oleh banyak gereja Tuhan. Di negeri ini masih banyak gereja-gereja yang sifatnya oikumenikal, perhimpunan dari kelompok-kelompok masyarakat/etnis-etnis tertentu yang hanya memfasilitasi kegiatan mereka karna hal ini sulit bagi mereka untuk melepaskan dari ikatan-ikatan kebudayaan. Masih banyaknya keterikatan-keterikatan ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap kebenaran masih sedikit sehingga belum mampu melepaskan dia dari berbagai bentuk ikatan, hidupnya belum benar-benar merdeka. Semakin kita mau belajar untuk mengetahui kebenaran semakin kita dimerdekakan oleh kebenaran itu.

c. Tahu kehendak Tuhan
Hal ini sangat berguna untuk menjalankan tugas pokok setiap anggota jemaat/orang kristen. Ketika kita seorang Kristen tidak tahu tentang kehendak Tuhan, seringkali kita tidak tahu harus berbuat apa. Dalam hal ini pun harus terus belajar. Tugas pokok gereja bukan hanya dirangkum dalam tritugas (koinonia,marturia,diakonia). Bersekutu, bersaksi dan melayani memang harus menjadi gaya hidup dalam seluruh aspek kehidupan. Jika kita menyadari bahwa segala sesuatu adalah dari Dia, maka setiap saat kita dapat memberikan kesaksian. Karena keseluruhan hidup kita ada karena semata-mata oleh kasih karunia dari Tuhan. Sehingga tidak ada istilah orang kristen kehabisan bahan saksi. Di dalam melayani (diakonia),dalam berbagai bentuk pelayanan, layanilah sesuai dengan talenta dan jangan ada yang menganggap bahwa dirinya tidak mendapatkan talenta karena kita yang adalah tubuh Kristus sudah diberikan talenta masing-masing

2. Belajar untuk mencontoh/menjadi (Learning to be)
Setiap orang Kristen yang sudah tahu tugas pokok dan fungsinya, tahu kehendak Tuhan, penjabaran didalam kehidupan sehari-hari dia akan menjalankan fungsi hidupnya sebagaimana Tuhan kehendaki.

Matius 5:13,14 13 Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah dia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang. 14 Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

Garam dan terang mempunyai fungsi yang sangat vital di dalam kehidupan masyarakat. Garam yang sudah tidak berfungsi akan dibuang dan diinjak orang. Terang tidak mungkin disembunyikan. Dimana pun terang itu ada di situ pasti kelihatan. Selain tritugas pokok gereja, kita pun harus berfungsi sebagai garam dan terang.

2 Korintus 3:3Karena telah ternyata, bahwa kamu adalah surat Kristus, yang ditulis oleh pelayanan kami, ditulis bukan dengan tinta, tetapi dengan Roh dari Allah yang hidup, bukan pada loh-loh batu, melainkan pada loh-loh daging, yaitu di dalam hati manusia.

Firman yang telah menyatu dalam kehidupan akan menjadi satu pijakan dalam kita menjalani kehidupan. Sehingga apa yang dikeluarkan dari kehidupan seseorang menjadi tindakan atau buah pemikiran adalah Firman karena hidup kita menjadi surat yang rela dibaca oleh semua orang. Orang yang belum pernah membaca firman Tuhan, seharusnya, dengan “membaca” hidup orang Kristen akan tahu bahwa di dalam hidup orang kristen itu ada kebenaran-kebenaran yang bersumber dari firman Tuhan. Proses belajar tidak pernah berhenti. Semakin kita harus tahu kebenaran, semakin kita tahu fungsi kebenaran itu di dalam kehidupan kita.Tidak ada orang kristen yang hidup di dunia ini tanpa berfungsi karena Tuhan sudah menetapkannya kepada tiap-tiap orang percaya.
Belajar untuk mencontoh, yaitu mencontoh Yesus untuk dapat menjadi seperti Yesus. Hidup kekristenan itu terus melalui pelatihan dan belajar untuk sampai memiliki target akhir menjadi seperti Kristus.

Matius 11:29Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.

Belajar kepada Yesus sehingga sampai kepada target.
Roma 8:29Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran anak-Nya, supaya Ia, anak-Nya itu menjadi yang sulung diantara banyak saudara.

Jika hari ini kita belum serupa dengan Kristus, maka harus terus belajar makin hari makin serupa dengan Kristus. Tugas seorang murid tidaklah mudah, maka harus terus belajar. ketika seseorang berjalan dibelakang seseorang, pandangan dan fokusnya pasti kepada orang yang ada di depannya dengan memperhatikan semua yang dilakukannya untuk dicontoh, semua yang diucapkannya untuk ditanggapi dan disikapi. Belajar untuk mencontoh Yesus berarti berjalan di belakang Yesus, memandang perilaku dan ucapan Yesus yang menjadi fokus kehidupan kita. Tidak ada pribadi lain yang menjadi pusat keteladanan kita.

3. Belajar untuk berkarya (Learning to do)
Hal ini berarti memiliki kehidupan yang berbuah. Seorang murid ada saatnya menghadapi ujian baik dalam bentuk praktek maupun tertulis. Supaya ini dapat menjadi tolak ukur sejauh mana dia mampu menangkap segala apa yang dipelajari. Seringkali hidup kekristenan mendapat ujian untuk diketahui seberapa banyak buah roh yang dihasilkan didalam menjalani hidup kekristenan sehari-hari. Hal ini dapat dilihat dari pekerjaan Roh Kudus yang berkarya di dalam kehidupan kita. Untuk dapat menghasilkan buah roh dalam kehidupan, maka manusia dan Roh kudus bekerja sama. Roh kudus berkarya dan kita rela untuk Dia mengerjakan di dalam kita, maka akan menghasilkan buah roh. Kita tidak akan melangkah tanpa memahami kebenaran sebab Roh kudus akan memimpin kita kepada seluruh kebenaran. Jangan pernah menghindar ketika kita diuji sebagai orang kristen. Belajar untuk berkarya memiliki dampak yang sangat luas di dalam pelayanan kita sebagai bagian dari gereja. Memiliki kehidupan kristen yang berbuah adalah sangat penting. Hal ini menunjukkan tingkat kedewasaan kita.

Yohanes 15:16bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu.

Karena setiap orang kristen untuk menghasilkan buah, itu bukan atas kehendaknya sendiri tetapi sudah di atur Tuhan sendiri yang sudah memilih kita. Alkitab mengatakan bahwa usia manusia sampai 70 tahun saja, maka hidup harus dimaksimalkan untuk berkarya seperti rasul Paulus yang berkata “aku sudah mengakhiri pertandingan dengan baik”. Ada satu target sampai ketemu Tuhan Yesus dan berjuang sampai nafas terakhir.

4. Belajar untuk bersama (Learning to together)
Kebersamaan sebagai tubuh Kristus untuk dapat menghasilkan satu prestasi. Banyak orang Kristen tidak mampu bersosialisasi dengan baik bahkan bekerja sama satu dengan yang lainnya karena kurangnya kesadaran bahwa hidup kekristenan terikat dalam satu kebersamaan yang tidak bisa dihindari. Konteks satu tubuh dari atas sampai kaki terikat dengan sistem saraf yang saling berhubungan. Kesempurnaan di dalam satu tubuh membangun keseimbangan dan keselarasan dalam rangka untuk mencapai hasil karya yang maksimal. Di dalam hidup bergereja semuanya harus merasa bertanggung jawab untuk mencapai program gereja yang sudah ditetapkan. Gereja yang kudus dan am (gereja yang satu) menjadi doa Tuhan Yesus yakni menjadi saksi di tengah-tengah dunia ini. Hal Ini menjadi harapan kita bersama agar tidak pasif sebagai anggota gereja. Jangan pula ada yang iri terhadap peran serta tubuh Kristus yang lain yang dipakai lebih banyak karena masing-masing punya peran. Seringkali kecemburuan dalam pelayanan adalah tanpa alasan. Ini adalah tanda-tanda yang tidak baik didalam pertumbuhan gereja. Rancangan Tuhan sudah diatur sedemikian rupa, masing-masing punya kekhususan sampai semua dapat berjalan dengan baik. Sehingga semakin kita memahami konsep ini semakin kita dapat bekerjasama di dalam pelayanan perkembangan tubuh Kristus. Yang muda harus memiliki keterbebanan didalam pelayanan. Yang tua dapat berdoa bagi pelayanan yang ada karena dalam pelayanan gereja ada 3 hal utama yaitu Doa, Daya, Dana. Jika sudah tidak kuat daya dan dana, saudara pun masih dapat berdoa. Mari terus belajar untuk menjadi murid-murid Yesus yang sejati.

Pdt. Samuel Agung Santoso, M.Th

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *