This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

MEMBENTUK MENTALITAS MELALUI IMAN (2)

GppsPalu -1 Korintus 10:13 “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya”.
1 Yohanes 5:4 “sebab semua yang lahir dari Allah, mengalahkan dunia. Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita”.

Dalam kehidupan kita sebagai manusia lahiriah dan sebagai orang percaya, akan ada pembentukan mentalitas yang harus kita lalui melalui realitas hidup yang terjadi. Pembentukan mentalitas ini adalah hal yang biasa, karena bukan hanya orang percaya saja yang dikatakan akan mengalami pencobaan-pencobaan, tetapi semua manusia akan mengalaminya dan pencobaan tersebut dikatakan tidak melebihi kekuatan manusia. Mengapa Tuhan mengatakan bahwa yang kita alami adalah pencobaan yang biasa? Karena dalam ayat tersebut yang Tuhan pakai adalah standar kemampuan/kekuatan manusia pada umumnya, bukan standar kemampuan/kekuatan orang percaya yang memiliki iman.
Setiap pembentukan mentalitas yang berhasil dilalui, atau orang yang lulus dari ujian pembentukan mentalitas tersebut, akan menghasilkan mentalitas yang terpuji. Oleh karenanya pembentukan mentalitas ini tidak boleh kita anggap remeh, apalagi sampai tidak bersedia dibentuk, karena mau atau tidak mau setiap orang akan mengalaminya, dan sikap mentalitas inilah yang akan menentukan sikap seseorang didalam menghadapi suatu masalah atau realita, jadi setiap pribadi tidak akan pernah luput dari pembentukan mentalitas ini.
Pencobaan dalam bentuk realitas hidup yang dimaksud bukanlah hanya soal penderitaan, kemiskinan, penyakit yang tidak bisa disembuhkan ataupun masalah-masalah hidup lainnya yang mungkin terjadi, tetapi setiap godaan-godaan duniawi dan kehidupan daging juga adalah pencobaan. Sering kali terjadi orang-orang ketika sudah memiliki semua harta, kekayaan, jabatan dan kekuasaan imannya malah menjadi hancur bahkan sampai melawan Tuhan.
Ayat ini berkata cukup keras dengan maksud supaya kita sebagai orang percaya tidak memiliki mental yang cengeng, Tuhan menginginkan semua orang percaya menjadi pribadi yang tegar, tidak gampang putus asa dan jangan sampai mengasihani diri sendiri.
Ketika kita mempelajari realitas-realitas yang dihadapi oleh beberapa orang yang mengalami kekurangan fisik baik karena bawaan dari lahir atau karena mengalami musibah, maka kita akan menemukan di balik keterbatasan mereka yang membuat mereka tidak dapat menjalankan aktifitas seperti orang-orang normal, mereka mau menggali sisa-sisa kekuatan dan kemampuan dari dirinya untuk terus menjalani hidupnya, sisa-sisa kemampuan yang ada yang keluar dari dalam dirinya bahkan menjadi prestasi. Harusnya kita malu terhadap orang-orang seperti ini, karena ada orang-orang percaya yang memiliki fisik yang sempurna bahkan memilki iman tetapi mentalitasnya cengeng/rapuh. Secara kebenaran iman yang membentuk mentalitas ini harusnya melebihi kemampuan manusia biasa, karena kemampuan manusia secara lahiriah ada batasnya, tetapi iman kita dikatakan dapat mengalahkan dunia. Olehnya kita harus memberdayakan segenap kemampuan kita. Logikanya adalah jika kita tidak bisa menemukan sisa-sisa kekuatan yang ada pada diri manusia kita secara alamiah, bagaimana iman kita bisa bekerja kalau yang menjadi kekuatan alamiah tidak kita keluarkan dengan maksimal, padahal yang alamiah harus tetap berjalan hanya tinggal ditaklukan di bawah iman.
Mengapa kita seringkali merasa tidak mampu menjalani pembentukan mentalitas ini? Penyebabnya ada dua yaitu karena kesalahan diri sendiri dan karena sedang dicobai oleh iblis, contohnya hal yang terjadi pada Ayub, ketika dia dicobai Iblis hanya hal-hal lahiriah berupa harta benda dan keluarga yang hilang dan meninggalkan dia, tetapi iman percayanya kepada Tuhan tidak tergoncangkan, ini membuktikan cobaan yang dia alami tidak melebihi batas kekuatannya, karena Tuhan hanya akan mencobai sampai pada batasnya dan tidak akan bahkan tidak pernah melewati batas.
Tuhan akan memberikan jalan keluar pada waktu kita sedang mengalami pencobaan tersebut, jadi Tuhan akan ijinkan kita mengalaminya baru kita akan diberikan jalan keluar supaya kita dapat menanggungnya, hal ini Tuhan rancangkan dalam hidup kita bukan karena Tuhan tidak manusiawi, tetapi Tuhan mau memberikan jalan keluar dengan cara memberikan kita pelajaran dalam hidup. Apapun peristiwa yang kita hadapi melalui pencobaan, jangan pernah menggantungkan hidup pada orang lain, tetapi gantungkan hidup kita pada Tuhan, karena iman adalah masalah kita pribadi dengan Tuhan dan masing-masing orang akan mengalaminya. Kalau kita sudah memahami hal ini barulah kita bisa belajar lebih dalam tentang membentuk mentalitas melalui iman.
Setiap orang sejak lahir memiliki temperamen/sifat dasar manusia yang berbeda-beda satu sama lain, yang mana temperamen/sifat tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing, ketika kita sudah menemukan apa yang menjadi kelemahan kita, hal itu tidak bisa kita biarkan karena semua kelemahan-kelemahan yang ada dalam temperamen kita yang dapat membuat kita gagal dalam pembentukan mentalitas. Tetapi semua temperamen yang baik itu yang harus kita pakai bekerjasama dengan Allah.
Ayat diatas berkata Dan inilah kemenangan yang mengalahkan dunia: iman kita. Iman kita tidak boleh kalah dengan mentalitas, kenapa tiap orang beda-beda mentalitasnya karena itulah perlu dibentuk melalui iman percaya, supaya teruji dan terpuji.
Belajar dari kasus di Markus 14
Markus 14:43-52 “Waktu Yesus masih berbicara, muncullah Yudas, salah seorang dari kedua belas murid itu, dan bersama-sama dia serombongan orang yang membawa pedang dan pentung, disuruh oleh imam-imam kepala, ahli-ahli Taurat dan tua-tua. Orang yang menyerahkan Dia telah memberitahukan tanda ini kepada mereka: “Orang yang akan kucium, itulah Dia, tangkaplah Dia dan bawalah Dia dengan selamat”.Dan ketika ia sampai di situ ia segera maju mendapatkan Yesus dan berkata: “Rabi,” lalu mencium Dia. Maka mereka memegang Yesus dan menangkap-Nya. Salah seorang dari mereka yang ada di situ menghunus pedangnya, lalu menetakkannya kepada hamba Imam Besar sehingga putus telinganya. Kata Yesus kepada mereka: “Sangkamu Aku ini penyamun, maka kamu datang lengkap dengan pedang dan pentung untuk menangkap Aku? Padahal tiap-tiap hari Aku ada di tengah-tengah kamu mengajar di Bait Allah, dan kamu tidak menangkap Aku. Tetapi haruslah digenapi yang tertulis dalam Kitab Suci”. Lalu semua murid itu meninggalkan Dia dan melarikan diri. Ada seorang muda, yang pada waktu itu hanya memakai sehelai kain lenan untuk menutup badannya, mengikuti Dia. Mereka hendak menangkapnya, tetapi ia melepaskan kainnya dan lari dengan telanjang”.
Pelajaran yang kita dapati :
1. Yudas. Dia adalah murid Yesus tetapi dia bisa menjual gurunya sendiri, hal ini berkaitan dengan mentalitasnya yang tidak baik, imannya sudah tidak lagi berfungsi dalam dirinya untuk mengalahkan mentalitasnya yang sudah dirasuk iblis. Iblis dapat menerobos mentalitas yang ada di unsur jiwani ketika ada celah yang di buat oleh Yudas, celah yang dibuat Yudas adalah hal yang berhubungan dengan uang, yang terjadi adalah Yudas sering mengambil uang dari kas mereka. Yudas melakukan hal ini (menjual Yesus) hanya demi 30 keping perak. Ini adalah salah satu bentuk pencobaan bagi Yudas, karena 30 keping perak dia menjual Yesus yang adalah gurunya.
Dari peristiwa ini Kita kembalikan pada diri kita bagaimana sikap hati kita terhadap keuangan? Karena jika sikap hati kita tidak benar dalam hal keuangan maka rohani kita adalah omong kosong, karena nilai rohani dan kualitas iman dinilai dari sikap kita terhadap uang, bukan dari banyaknya berdoa atau aktifitas rohani yang dilakukan.

2. Petrus. Ketika Yesus ditangkap Petrus langsung bereaksi dengan cepat memotong telinga hamba imam besar. Mengapa Petrus melakukan hal tersebut? karena ini merupakan temperamen Petrus yang menyikapi sesuatu tanpa berpikir akan akibatnya. Padahal Petrus sudah mengetahui bahwa peristiwa ini (penangkapan Yesus) akan terjadi. Hal ini juga sering terjadi dalam hidup kita, ketika sesuatu peristiwa terjadi, temperamen yang tidak baik yang keluar sehingga menyesali hal tersebut.

3. Murid-murid lain. Mereka lari meninggalkan Yesus (Ay.50) ketika Yesus akan ditangkap,
Bahkan ada yang lari dengan telanjang tanpa rasa malu, hanya supaya tidak ditangkap bersama-sama Yesus. Hal ini terjadi karena mentalitas mereka tidak terpuji dan tidak teruji. Jika kita mencoba lari dari masalah pembentukan mentalitas, maka kita tidak akan pernah lulus dari hal tersebut. Firman Tuhan mengingatkan kita kembali, yaitu yang dapat megalahkan dunia adalah iman, iman datang dari mendengar firman dan Iman adalah ketaatan. Jadi jika kita tidak melatih diri kita melakukan firman sehari-hari mulai dari hal-hal kecil, maka iman kita tidak akan punya kekuatan untuk menaklukkan temperamen yang tidak baik, dan juga kita tidak akan terlatih untuk bekerjasama dengan Tuhan untuk menggunakan temperamen yang baik untuk menghadapi hidup hari-hari karena kita tidak terlatih melakukan firman. Jadi ketika masalah tidak/belum selesai jangan menganggap masalah akan selesai dengan sendirinya, karena tujuannya adalah untuk membuat kita menjadi cakap, sehingga kita harus terus mengikuti ujian sampai kita lulus dan membentuk mentalitas melalui iman.

Pdt. R.F.Martino

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *