This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

MENJADI PELAKU-PELAKU FIRMAN TUHAN (2)

GppsPalu – Matius 7:24-27 “24Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 25Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 26Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 27Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.” Dalam kalimat “rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya”, perumpamaan ini menggambarkan keberadaan orang percaya yang hanya mendengar firman tapi tidak melakukannya. Ini adalah perumpamaan, bagaimana jika perumpamaan ini terjadi di kehidupan nyata. Lukas 10:25-37 25Pada suatu kali berdirilah seorang ahli Taurat untuk mencobai Yesus, katanya: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 26Jawab Yesus kepadanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?” 27Jawab orang itu: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 28Kata Yesus kepadanya: “Jawabmu itu benar; perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” 29Tetapi untuk membenarkan dirinya orang itu berkata kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” 30Jawab Yesus: “Adalah seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho; ia jatuh ke tangan penyamun-penyamun yang bukan saja merampoknya habis-habisan, tetapi yang juga memukulnya dan yang sesudah itu pergi meninggalkannya setengah mati. 31Kebetulan ada seorang imam turun melalui jalan itu; ia melihat orang itu, tetapi ia melewatinya dari seberang jalan. 32Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu; ketika ia melihat orang itu, ia melewatinya dari seberang jalan. 33Lalu datang seorang Samaria, yang sedang dalam perjalanan, ke tempat itu; dan ketika ia melihat orang itu, tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. 34Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. 35Keesokan harinya ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan itu, katanya: Rawatlah dia dan jika kaubelanjakan lebih dari ini, aku akan menggantinya, waktu aku kembali .36Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”37Jawab orang itu: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”.” Mari kita memahami hal yang mendasar dari hal MENJADI PELAKU FIRMAN. Kisah dalam Injil Lukas 10:25-37 adalah kisah nyata. Ada seorang ahli taurat yang motivasi pertanyaannya adalah untuk mencobai Yesus. Karena ia adalah seorang ahli, maka semua pertanyaan dapat dijawabnya. Ketika Yesus bertanya apa yang tertulis dalam hukum taurat, ia dapat menjawabnya, hanya saja untuk membenarkan dirinya ia kembali bertanya “siapakah sesamaku manusia?” Ini adalah pertanyaan konyol yang dilontarkan oleh ahli taurat itu. Dia bertanya seperti itu hanya karena ingin membenarkan dirinya, karena ternyata ia tidak melakukan hal yang horizontal (mengasihi sesama). Ia hanya melakukan hal yang vertikal saja (mengasihi Tuhan). Seorang imam dan seorang Lewi yang dalam kesehariannya adalah orang-orang yang tahu tentang firman, tapi ia tidak melakukan firman dalam kehidupan sehari-hari, ia hanya membiarkan dan mengabaikan orang yang setengah mati itu. Hal seperti ini sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak ada yang dapat menilai keberadaan kita dengan Tuhan (vertikal), tetapi orang di sekitar kita tahu bahwa kita adalah seorang percaya atau bahkan pelayan Tuhan. Ingatlah bahwa KUALITAS IMAN SESEORANG TIDAK DILIHAT DARI TANDA-TANDA LAHIRIAH, TAPI BAGAIMANA IA MENJADI PELAKU FIRMAN DALAM KESEHARIANNYA KHUSUSNYA DALAM BERINTERAKSI DENGAN SESAMA. Jangan anggap remah pekerjaan iblis, ia tidak pernah berhenti mengincar kita untuk menjerat kita supaya mati dalam dosa. Contoh: ketika ada pertanyaan: “Apakah Anda yakin bahwa Anda sudah lahir baru dan ditebus dari semua dosa?” Anda Menjawab: “Amin”. Ketika ada pertanyaan lanjutan: “Apakah Anda sudah tidak berbuat dosa lagi? Anda menjawab: “Iya”. Mengapa hal ini bisa terjadi? Sekarang ini ada banyak ajaran-ajaran yang “meringankan” hukum-hukum Tuhan. Meringankan firman Allah yang melebihi pengajaran-pengajaran yang pernah dilakukan bapa-bapa pencipta theologia. Ada ajaran yang mengatakan bahwa bunuh diri bisa masuk surga. Padahal Alkitab tidak membenarkan hal ini. Ajaran Hyper Grace yang menyatakan “sekali selamat, tetap selamat”. Anugerah keselamatan memang tidak akan pernah beranjak, tidak akan pernah berubah, tapi kita sebagai penerima anugerah itu, yang masih hidup harus tetap melakukan firman dalam kehidupan sehari-hari, agar keselamatan itu tetap menjadi bagian kita. DOSA KETIDAKTAATAN Yakobus 4:17 “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” Sangat sederhana, jika kita tidak melakukan firman maka yang kita lakukan adalah dosa. Berdosa secara tidak langsung. Berdosa bukan karena melakukan dosa, tapi karena tidak melakukan firman. Ini adalah jebakan iblis, terjadi tanpa kita sadari karena kita tidak menganggapnya sebagai dosa. Inilah yang dinamakan dengan DOSA KATIDAKTAATAN, bukan dosa perbuatan, sudah tahu tapi tidak mau melakukan. Matius 19:16-24 “16Ada seorang datang kepada Yesus, dan berkata: “Guru, perbuatan baik apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” 17Jawab Yesus: “Apakah sebabnya engkau bertanya kepada-Ku tentang apa yang baik? Hanya Satu yang baik. Tetapi jikalau engkau ingin masuk ke dalam hidup, turutilah segala perintah Allah.” 18Kata orang itu kepada-Nya: “Perintah yang mana?” Kata Yesus: “Jangan membunuh, jangan berzinah, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, 19hormatilah ayahmu dan ibumu dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” 20Kata orang muda itu kepada-Nya: “Semuanya itu telah kuturuti, apa lagi yang masih kurang? 21Kata Yesus kepadanya: “Jikalau engkau hendak sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan berikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku.” 22Ketika orang muda itu mendengar perkataan itu, pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya. 23Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. 24Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”” Seorang muda yang bertanya pada Yesus bukan hanya seorang yang kaya tapi ia juga sangat rohani, tapi pemuda itu gagal dalam melakukan firman. Secara vertikal orang tidak akan tahu apa yang kita lakukan, karena hal itu bersifat pribadi dengan Tuhan, yang orang lain dapat lihat adalah “apakah kita sudah menjadi pelaku firman atau tidak dalam kehidupan sehari-hari khususnya dalam berinteraksi dengan sesama” Seorang yang mempunyai posisi rohani tapi gagal dalam menjadi pelaku firman, Tuhan berkata: “Hebatlah kerusakannya”. Iblis berhasil membawa kita kembali ke status sebagai orang berdosa. Dosa ketidaktaatan adalah dosa yang terselubung, kita tidak melakukan dosa secara langsung, tetapi firman yang kita tahu tapi tidak dilakukan. Tuhan memperhadapkan orang Lewi dan seorang imam dengan orang yang setengah mati karena dirampok dan dianiaya, tetapi tidak mau menolong si korban bahkan menghindari korban itu. Mereka tidak merasa telah melakukan dosa karena bukan mereka yang menjadi pelaku perampokan dan penganiayaan tersebut. Karena merasa bukan pelaku, maka merasa “aman-aman” saja dari dosa. Inilah DOSA KETIDAKTAATAN. Hal ini bisa terjadi setiap saat di kehidupan nyata sehari-hari. Mengapa kita terkadang kita diperhadapkan dengan kasus seperti di atas? Apakah hal ini hanyalah suatu kebetulan? Ataukah kita dapat memahami bahwa setiap realita hidup apapun yang kita hadapi, Tuhan bisa memakainya untuk membentuk diri kita. FIRMAN ALLAH: HIDUP DAN BERKUASA II Timotius 3:16 “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.” Firman Allah bukan hanya sekedar tulisan, Firman Allah adalah hidup. Yang disayangkan adalah banyak orang percaya yang mengakui bahwa firman itu hidup dan berkuasa hanya sebatas terjadinya mujizat-mujizat yang dialami, yang dibayangkan adalah hal-hal yang luar biasa (sakit disembuhkan, buta melihat, tuli mendengar, bahkan mati dibangkitkan) Ibrani 4:12 “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita. Kalimat: “hidup dan kuat” akan muncul dalam kehidupan nyata sehari-hari melalui realita hidup. Hal itu akan teraplikasikan dalam keseharian kita. Sebenarnya, dalam melakukan firman itulah kesempatan kita untuk membentuk karakter kita agar serupa dengan Kristus. IMAN MENJADI SEMPURNA KETIKA KITA MENJADI PELAKU FIRMAN Yakobus 2:19-22 “19Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setan pun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar. 20Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong? 21Bukankah Abraham, bapa kita, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia mempersembahkan Ishak, anaknya, di atas mezbah? 22Kamu lihat, bahwa iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna.” Yakobus 2:24-26 “24Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman. 25Dan bukankah demikian juga Rahab, pelacur itu, dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya, ketika ia menyembunyikan orang-orang yang disuruh itu di dalam rumahnya, lalu menolong mereka lolos melalui jalan yang lain? 26Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” Kita melakukan perbuatan-perbuatan dari iman kita, tapi sayang dunia nyata membuktikan bahwa orang tanpa Kristuspun lebih cakap dalam melakukan perbuatan baik. Ada sebuah contoh yang bisa menjadi pembelajaran bagi kita. Dalam sebuah perjalanan seorang Kristen melihat ada kulit pisang yang, tapi ia menghindar dan tidak memungutnya, padahal dia tahu jika kulit pisang itu tidak diambil dan dibuang ke tempat sampah, hal itu akan membuat orang lain akan terpeleset. Kemudian muncullan seorang yang lain, yang bukan orang percaya, tapi memungut kulit pisang tersebut agar orang lain tidak menjadi korban. Orang dunia berbuat baik supaya bisa selamat, tapi kita yang sudah diselamatkan karena iman percaya lakukanlah perbuatan-perbuatan iman. Latihlah diri kita untuk taat dari hal-hal yang kecil sampai dengan hal-hal yang merupakan tantangan iman. Kalau kita sudah tahu apa yang harus kita lakukan, jangan menundanya untuk segera melakukan. Pdt. R.F. Martino

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *