MENJADI PELAKU-PELAKU FIRMAN TUHAN
GppsPalu – Matius 7:24-27 “24Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. 25Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. 26Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. 27Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya.”
Yakobus 1:22-25 “22Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri. 23Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. 24Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya. 25Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.”
Dari ayat Matius 7:24-27 disimpulkan bahwa orang yang mendengar dan melakukan firman maka hasilnya adalah orang yang bijaksana tetapi sebaliknya ketika orang itu hanya mendengar tetapi tidak melakukan maka hasilnya adalah orang yang bodoh.
Mari kita memahami apa yang dimaksud dengan kata “bodoh”. Bodoh bukan berarti ia pintar dalam bidang studi matematika dan bodoh dalam bidang studi lainnya, ini bukan bicara tentang kesanggupannya dalam hal akademik.
Kita perlu memperhatikan dan menjadi pelaku-pelaku firman, sebab ketika kita sudah lahir baru dan menjadi orang percaya, kita bukan hanya sekedar beribadah. Kita perlu memahami segala sesuatu mengenai firman-Nya. Jika ada yang tidak kita pahami atau ada yang tidak kita mengerti dari firman yang kita baca, disitulah kita perlu belajar firman Tuhan.
Ketika seseorang sudah belajar firman tapi tidak nampak dalam kehidupan sehari-hari ini juga tidak ada artinya apa-apa bahkan bisa dikatakan “Kemanakah semua firman yang sudah didengar?”. Kegiatan rohanipun bisa menjadi berbahaya jika kita hanya menjadi pendengar firman saja. Kita harus hati-hati dengan strategi kelicikan iblis. Iblis tidak pernah menghalangi kita untuk mendengar firman, silahkan mendengar semua firman, tetapi hanya sebagai pengetahuan saja. Memang kita harus tahu terlebih dahulu mengenai firman Tuhan, tetapi yang berbahaya adalah ketika kita hanya sampai pada tahap mendengar saja tapi tidak melakukannya.
Memang benar bahwa firman Tuhan adalah dasar yang kuat, tapi kapan kekuatan firman itu dapat terbukti kekuatan-Nya? Dari segala penjuru kehidupan, secara alamiah kita diperhadapkan dengan realitas hidup (Dalam Matius 7:24-27 digambarkan sebagai hujan, banjir, angin). Semua realitas hidup itu harus dihadapi, kecakapan kita menghadapinya dengan firman Tuhan, disitulah akan nampak kekuatan firman itu bekerja. Alasan inilah yang membuat kita harus memahami dan mengerti semua firman, bukan hanya sekedar diketahui dan didengar saja.
Dalam Yakobus 1:22-25 dikatakan bahwa orang yang hanya mendengar saja dan tidak menjadi pelaku Firman ia dikatakan “menipu diri sendiri”. Menipu diri sendiri sama artinya dengan membohongi diri sendiri. Jangan anggap remeh dengan dosa berbohong, ini akan membuat gambar diri seseorang akan rusak. Menipu diri sendiri adalah sesuatu yang hina. Banyak orang menganggap remeh bahwa tidak melakukan firman tidak apa-apa. Memang kita juga sudah bersyukur ketika seseorang tersebut sudah mendengar firman/sudah mempunyai firman. Tapi sangat disayangkan jika ia tidak melakukan firman yang sudah ia miliki itu. Sudah tahu firman tapi tidak melakukan maka akibatnya dalam Matius 7:27 dikatakan “hebatlah kerusakannya”
Apakah hubungan antara iman dan perbuatan? Melakukan firman termasuk kategori perbuatan iman
Sebagai orang percaya yang sudah mendengar firman, firman itu dilakukan di dunia nyata dalam kehidupan sehari-hari bukan untuk dunia akhirat. Iman selalu diperhadapkan dengan kondisi riil.
Yakobus 2:14-17 “14Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? 15Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, 16dan seorang dari antara kamu berkata: “Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? 17Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.”
Ayat diatas menggambarkan orang percaya yang diperhadapkan dengan kondisi riil yaitu orang kelaparan yang membutuhkan makanan dan pakaian, tetapi orang percaya itu, bukannya memberi pertolongan tapi menjawabnya dengan hal-hal rohani.
Kita sudah mempunyai firman maka kita akan mempunyai iman. Kita melakukan firman berarti iman kita sudah disertai dengan perbuatan.
Yakobus 2:18 “Tetapi mungkin ada orang berkata: “Padamu ada iman dan padaku ada perbuatan”, aku akan menjawab dia: “Tunjukkanlah kepadaku imanmu itu tanpa perbuatan, dan aku akan menunjukkan kepadamu imanku dari perbuatan-perbuatanku.””
Yakobus 2:20 “Hai manusia yang bebal, maukah engkau mengakui sekarang, bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong?”
Bagaimana jika kita tidak mau melakukan firman?
1. Kita tidak akan peka dengan realita yang ada
2. Semua realita hanya berlalu saja tanpa kita bisa memetik nilai rohaninya
3. Kita akan memiliki hati dan telinga yang tertutup, padahal kita melihatnya secara riil dan menyentuh hati
4. Firman yang kita dengar hanya masuk dalam unsur jiwani tetapi tidak masuk dalam roh dan kita akan menjadi sama seperti orang Farisi
Apa yang kita perlukan supaya bisa melakukan firman
Matius 26:41 “Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah.”
Melakukan firman dengan hanya mengandalkan kekuatan sendiri akan menghasilkan suatu kesombongan. Menyombongkan kesabarannya, menyombongkan kerendahan hatinya, segala hal yang baik yang ada padanya dia sombongkan. Tuhan sangat memahami bahwa memang roh penurut tapi daging kita lemah, oleh karena itulah Tuhan Yesus mengutus Roh Kudus untuk menolong kita serta mengingatkan Firman yang sudah kita dengar.
Yohanes 14:26 “tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu.”
Aplikasi firman bukan hanya di kehidupan rohani, tetapi dalam kehidupan sehari-hari di saat kita berinteraksi dengan orang lain. Mintalah Roh Kudus memenuhi hidup kita, sekalipun beban yang kita hadapi begitu berat, Roh Kudus yang akan menuntun bahkan memberi penghiburan serta mengingatkan semua janji-janji Tuhan yang ada dalam firman-Nya.
Pdt. R.F. Martino










Leave a Reply