MENJADI PRIBADI YANG TANGGUH
GppsPalu – Efesus 6:10 “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”
Filipi 4:10-13 “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Menjadi pribadi yang tangguh adalah wujud nyata hasil dari didikan Tuhan terhadap kita. “Kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya”, bukan bicara tentang kekuatan fisik dari seorang manusia, bukan kemampuan intelektualnya, bukan kemampuan finasialnya, bukan kemampuan kedudukannya, atau segala kemampuan yang dimiliki secara lahiriah. Bukan juga bicara mengenai hal-hal yang aneh atau yang membingungkan. Tuhan memberikan ayat itu supaya kita yang sudah lahir baru tidak lagi dipermain-mainkan oleh realita hidup yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak kita jumpai orang yang dipermainkan oleh realita hidup, anak membunuh ibu kandungnya, istri membunuh suaminya sendiri dan banyak contoh lainnya. Banyak orang yang menghadapi realita hidup tapi tidak bisa mengatasinya, sebagian bisa mengatasinya dengan analisa logika, tapi logika manusia sangat terbatas.
Masalah apa yang saat ini kita alami? Yang kemudian mengganggu bahkan menyita pikiran kita. Tuhan tahu persis keberadaan kita, oleh sebab itu Tuhan menghendaki umat-Nya menjadipribadi-pribadi yang tangguh.
“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan”.
Paulus mengajarkan manajemen kehidupan yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa kesulitan yang menimpa dirinya bisa diatasi dengan mencukupkan diri dalam segala keadaan.
Realita hidup juga adalah didikan Tuhan. Minggu lalu kita sudah belajar bahwa realita hidup bisa jadi masalah jika di dalamnya ada pelanggaran yang kita lakukan. Kapan segala keadaan ini berubah menjadi masalah? Yaitu ketika kita tidak mencukupkan diri dalam segala keadaan disinilah aspek finasial berubah menjadi masalah. Kita harus tahu batas-batas apa saja yang tidak boleh dilanggar. Kita juga sudah pernah diajar bahwa jangan membeli apa yang diinginkan sebelum membeli apa yang dibutuhkan. Cukupkanlah diri dalam segala hal!
Apa hasil dari mencukupkan diri?
Filipi 4:12 “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan”.
Oleh karena kita yang menjadi penyebab, dengan mengubah realita menjadi masalah, itu adalah suatu kebodohan, kita harus mempunyai kecakapan untuk me-manage realita hidup supaya hal itu tidak mempermainkan kita. Dan dengan kekuatan dari Tuhan untuk menyelesaikannya sehingga masalah itu tidak membuat kita semakin terpuruk.
Kita tidak boleh mengubahnya menjadi masalah, karena kondisi realita hidup itu sudah bermasalah.
Kita perlu pahami juga, apakah berubahnya realita hidup menjadi masalah karena memang kita yang menjadi penyebab ataukah hal alamiah yang menimpa kita dan Tuhan ijinkan hal ini tejadi sebagai pembelajaran kita? Jika hal ini diijinkan oleh Tuhan berarti Tuhan sedang membawa kita menjadi pribadi-pribadi yang tangguh.
Penderitaan tidak tahan tinggal dalam pribadi yang ulet, jadi tetaplah bersama Tuhan ketika semuanya terjadi.
Bukan hanya dalam masa kekurangan kita membutuhkan Tuhan, justru dalam masa kelimpahanpun kita butuh Tuhan. Dalam masa kekurangan harus tetap melatih diri mengandalkan Tuhan, supaya ketika kita berada dalam masa kelimpahan, dalam hal apa saja, kita tetap bisa merendahkan hati. Dibutuhkan kekuatan dari Tuhan, supaya kita bisa me-manage dalam masa kelimpahan.
Filipi 4:13 “… Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Paulus sadar bahwa dia bisa menanggung semuanya bukan karena kekuatan atau kemampuan intelektualnya. Dia tahu bahwa semua kekuatan yang dia perolehnya hanyalah berasal dari Tuhan. Kekuatan Tuhan-lah yang harus bekerja di dalam kita menghadapi segala realita hidup, kalau tidak, kita tidak akan pernah mampu menghadapinya sendiri.
Apa yang Paulus alami?
I Timotius 1:12 “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku.”
Pernahkah kita menguapkan sebuah kalimat “Tuhan kuatkan saya!” Apakah yang sesungguhnya sedang terjadai dalam diri kita? Kalimat ini keluar karena kita sudah tidak mampu menghadapi persoalan yang sedang kita alami. Mau bertindak, tapi sudah tidak punya kemampuan.
Paulus mengalami betapa beratnya beban pelayanan yang ia pikul dan Tuhan menganggap Paulus setia dan mempercayakan pelayanan kepada Paulus.
Kolose1:29 “Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.”
Pergumulan hidup yang disertai dengan kuasa Allah akan membawa kita pada pengalaman-pengalaman Ilahi yang luar biasa. Dengan kekuatan Tuhan kita akan melihat kekuatan yang dahsyat.
Bagaiman Paulus mengalaminya?
II Timotius 4:16 “Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku — kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka”.
Riilnya adalah tidak ada orang yang mau sepenanggungan dengan kita, meskipun mungkin ada yang berkata bahwa ia sangat simpati dengan keadaan yang sedang kita alami, tapi persoalan itu t idak bisa diambil oleh orang lain. Ini bukti bahwa setiap pribadi harus menanggungnya. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain karena tidak sepenaggungan dengan kita, kita perlu menyadari bahwa masing-masing orang punya pergumulang masing-masing.
Jangan jadikan pengalaman ditinggalkan oleh orang lain kita jadikan alasan untuk kita berputus asa. Justru masuk dalam pengalaman ditinggalkan oleh semua orang adalah kesempatan emas bagi kita untuk menikmati kepribadian bersama Tuhan, kita bisa mengenal lebih intim siapa Yesus yang mengasihi kita.
Bukti penyertaan Tuhan
II Timotius 4:17 “tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa.”
Paulus telah mengalami penyertaan Tuhan yang luar biasa. Begitupula dengan kita, tidak ada alasan bagi kita untuk berputus asa ketika semua oarang meninggalkan kita.
II Timotius 4:18 “Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.”
Hanya pribadi yang tangguh yang bisa bertahan dalam menghadapi realita hidup, bukan orang yang mengandalkankekuatannya sendiri, tapi kekuatan dari Tuhan.
Efesus 6:10 “Akhirnya, hendaklah kamu kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya.”
Filipi 4:10-13 “Aku sangat bersukacita dalam Tuhan, bahwa akhirnya pikiranmu dan perasaanmu bertumbuh kembali untuk aku. Memang selalu ada perhatianmu, tetapi tidak ada kesempatan bagimu. Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Menjadi pribadi yang tangguh adalah wujud nyata hasil dari didikan Tuhan terhadap kita. “Kuat di dalam Tuhan, di dalam kekuatan kuasa-Nya”, bukan bicara tentang kekuatan fisik dari seorang manusia, bukan kemampuan intelektualnya, bukan kemampuan finasialnya, bukan kemampuan kedudukannya, atau segala kemampuan yang dimiliki secara lahiriah. Bukan juga bicara mengenai hal-hal yang aneh atau yang membingungkan. Tuhan memberikan ayat itu supaya kita yang sudah lahir baru tidak lagi dipermain-mainkan oleh realita hidup yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Banyak kita jumpai orang yang dipermainkan oleh realita hidup, anak membunuh ibu kandungnya, istri membunuh suaminya sendiri dan banyak contoh lainnya. Banyak orang yang menghadapi realita hidup tapi tidak bisa mengatasinya, sebagian bisa mengatasinya dengan analisa logika, tapi logika manusia sangat terbatas.
Masalah apa yang saat ini kita alami? Yang kemudian mengganggu bahkan menyita pikiran kita. Tuhan tahu persis keberadaan kita, oleh sebab itu Tuhan menghendaki umat-Nya menjadipribadi-pribadi yang tangguh.
“Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan”.
Paulus mengajarkan manajemen kehidupan yang sangat luar biasa. Ia mengatakan bahwa kesulitan yang menimpa dirinya bisa diatasi dengan mencukupkan diri dalam segala keadaan.
Realita hidup juga adalah didikan Tuhan. Minggu lalu kita sudah belajar bahwa realita hidup bisa jadi masalah jika di dalamnya ada pelanggaran yang kita lakukan. Kapan segala keadaan ini berubah menjadi masalah? Yaitu ketika kita tidak mencukupkan diri dalam segala keadaan disinilah aspek finasial berubah menjadi masalah. Kita harus tahu batas-batas apa saja yang tidak boleh dilanggar. Kita juga sudah pernah diajar bahwa jangan membeli apa yang diinginkan sebelum membeli apa yang dibutuhkan. Cukupkanlah diri dalam segala hal!
Apa hasil dari mencukupkan diri?
Filipi 4:12 “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan”.
Oleh karena kita yang menjadi penyebab, dengan mengubah realita menjadi masalah, itu adalah suatu kebodohan, kita harus mempunyai kecakapan untuk me-manage realita hidup supaya hal itu tidak mempermainkan kita. Dan dengan kekuatan dari Tuhan untuk menyelesaikannya sehingga masalah itu tidak membuat kita semakin terpuruk.
Kita tidak boleh mengubahnya menjadi masalah, karena kondisi realita hidup itu sudah bermasalah.
Kita perlu pahami juga, apakah berubahnya realita hidup menjadi masalah karena memang kita yang menjadi penyebab ataukah hal alamiah yang menimpa kita dan Tuhan ijinkan hal ini tejadi sebagai pembelajaran kita? Jika hal ini diijinkan oleh Tuhan berarti Tuhan sedang membawa kita menjadi pribadi-pribadi yang tangguh.
Penderitaan tidak tahan tinggal dalam pribadi yang ulet, jadi tetaplah bersama Tuhan ketika semuanya terjadi.
Bukan hanya dalam masa kekurangan kita membutuhkan Tuhan, justru dalam masa kelimpahanpun kita butuh Tuhan. Dalam masa kekurangan harus tetap melatih diri mengandalkan Tuhan, supaya ketika kita berada dalam masa kelimpahan, dalam hal apa saja, kita tetap bisa merendahkan hati. Dibutuhkan kekuatan dari Tuhan, supaya kita bisa me-manage dalam masa kelimpahan.
Filipi 4:13 “… Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”
Paulus sadar bahwa dia bisa menanggung semuanya bukan karena kekuatan atau kemampuan intelektualnya. Dia tahu bahwa semua kekuatan yang dia perolehnya hanyalah berasal dari Tuhan. Kekuatan Tuhan-lah yang harus bekerja di dalam kita menghadapi segala realita hidup, kalau tidak, kita tidak akan pernah mampu menghadapinya sendiri.
Apa yang Paulus alami?
I Timotius 1:12 “Aku bersyukur kepada Dia, yang menguatkan aku, yaitu Kristus Yesus, Tuhan kita, karena Ia menganggap aku setia dan mempercayakan pelayanan ini kepadaku.”
Pernahkah kita menguapkan sebuah kalimat “Tuhan kuatkan saya!” Apakah yang sesungguhnya sedang terjadai dalam diri kita? Kalimat ini keluar karena kita sudah tidak mampu menghadapi persoalan yang sedang kita alami. Mau bertindak, tapi sudah tidak punya kemampuan.
Paulus mengalami betapa beratnya beban pelayanan yang ia pikul dan Tuhan menganggap Paulus setia dan mempercayakan pelayanan kepada Paulus.
Kolose1:29 “Itulah yang kuusahakan dan kupergumulkan dengan segala tenaga sesuai dengan kuasa-Nya, yang bekerja dengan kuat di dalam aku.”
Pergumulan hidup yang disertai dengan kuasa Allah akan membawa kita pada pengalaman-pengalaman Ilahi yang luar biasa. Dengan kekuatan Tuhan kita akan melihat kekuatan yang dahsyat.
Bagaiman Paulus mengalaminya?
II Timotius 4:16 “Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak seorang pun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku — kiranya hal itu jangan ditanggungkan atas mereka”.
Riilnya adalah tidak ada orang yang mau sepenanggungan dengan kita, meskipun mungkin ada yang berkata bahwa ia sangat simpati dengan keadaan yang sedang kita alami, tapi persoalan itu t idak bisa diambil oleh orang lain. Ini bukti bahwa setiap pribadi harus menanggungnya. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain karena tidak sepenaggungan dengan kita, kita perlu menyadari bahwa masing-masing orang punya pergumulang masing-masing.
Jangan jadikan pengalaman ditinggalkan oleh orang lain kita jadikan alasan untuk kita berputus asa. Justru masuk dalam pengalaman ditinggalkan oleh semua orang adalah kesempatan emas bagi kita untuk menikmati kepribadian bersama Tuhan, kita bisa mengenal lebih intim siapa Yesus yang mengasihi kita.
Bukti penyertaan Tuhan
II Timotius 4:17 “tetapi Tuhan telah mendampingi aku dan menguatkan aku, supaya dengan perantaraanku Injil diberitakan dengan sepenuhnya dan semua orang bukan Yahudi mendengarkannya. Dengan demikian aku lepas dari mulut singa.”
Paulus telah mengalami penyertaan Tuhan yang luar biasa. Begitupula dengan kita, tidak ada alasan bagi kita untuk berputus asa ketika semua oarang meninggalkan kita.
II Timotius 4:18 “Dan Tuhan akan melepaskan aku dari setiap usaha yang jahat. Dia akan menyelamatkan aku, sehingga aku masuk ke dalam Kerajaan-Nya di sorga. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.”
Hanya pribadi yang tangguh yang bisa bertahan dalam menghadapi realita hidup, bukan orang yang mengandalkankekuatannya sendiri, tapi kekuatan dari Tuhan.
By: Pdt. R.F. Martino









