This is default featured slide 3 title
This is default featured slide 4 title
Test 1

MENEMUKAN KEHENDAK ALLAH DALAM KEPUTUSASAAN

GppsPalu – II Korintus 1:8 “Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami.”

II Korintus 4:8 “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa.”

Kita sudah belajar bagaimana menjadi pribadi yang tangguh. Sering kita menjumpai ada orang yang kita jadikan panutan dalam hal rohani, suatu ketika jatuh dan rapuh dalam menghadapi realita hidup. Di sini kita menemukan bahwa ketangguhan dan ketahanan setiap orang berbeda-beda dalam menghadapi realita hidup. Hal ini harus kita pahami, supaya kita tidak menghakimi. Kebenaran Firman yang sudah kita pelajari untuk menjadi pribadi yang tangguh memang mutlak kita miliki supaya kita bisa tangguh secara mentalitas dan tangguh secara iman juga.
Contoh kasus:
Seorang hamba Tuhan muda yang masih muda dengan penampilannya yang gagah, pernah mengadakan pencobaan bunuh diri sampai dua kali, hampir mati tapi masih bisa diselamatkan. Adalagi seorang hamba Tuhan senior yang pelayanannya memberkati banyak orang, salah satu anaknya melakukan bunuh diri sampai mati.
Dari kedua contoh kasus di atas, apa yang akan kita komentari? Apakah kita dengan cepat menghakimi, karena kita tahu bahwa Firman Tuhan tidak membenarkan hal itu? Ataukah kita belajar dan mengambil nilai Ilahi dari peristiwa tersebut?

II Korintus 1:8 “Sebab kami mau, saudara-saudara, supaya kamu tahu akan penderitaan yang kami alami di Asia Kecil. Beban yang ditanggungkan atas kami adalah begitu besar dan begitu berat, sehingga kami telah putus asa juga akan hidup kami.”
Paulus hanya berharap supaya jemaat tahu apa yang sedang dialami. Mungkin saja pada saat itu ada jemaat yang tidak mau tahu akan keberadaan Paulus, yang jemaat tahu adalah Paulus adalah hamba Tuhan yang kuat dan memang harus menanggung semuanya itu. Tentu tidak ada orang yang mau menghadapi pengalaman putus asa seperti yang Paulus alami. Pauluspun sebenarnya tidak mengharapkan demikian, namun semuanya sudah terjadi. Setiap realita sudah menjadi persoalan. Tapi selama semangat hidup masih ada, beban apapun yang dipikul masih bisa dihadapi dan dijalani.
Contoh kasus:
Seorang ibu yang nampaknya sehat dan kuat serta masih bersemangat menjalani aktifitas sehari-hari, suatu hari memeriksakan diri ke dokter karena ada keluhan. Hasil pemeriksaan dia mengidap kanker. Ketika dokter memvonis dia dengan penyakit kanker, semangat hidupnya hilang, tidak lama kemudian kesehatannya mulai menurun dan akhirnya meninggal dunia. Dia sudah tidak punya semangat untuk hidup lagi.
Contoh lain lagi yang menimpa seorang pencipta lagu rohani yang mengalami sakit serupa dan sepertinya sudah tidak ada jalan keluar lagi. Tuhan memulihkannya dalam jangka waktu yang cukup panjang. Akhirnya Tuhan menyembuhkannya. Dia bersaksi bahwa yang ia kagumi bukan saat Tuhan menyembuhkannya tapi karena Tuhan menyertainya menghadapi realita.
Mujizat pasti terjadi, tapi Tuhan menghendaki juga supaya kita menjadi pribadi yang tangguh karena kita sudah diperlengkapi dengan kuasa-Nya untuk melakukan semuanya.

Dua ayat yang sudah kita baca di awal tadi sepertinya bertentangan. Di satu sisi Paulus berkata bahwa ia sudah putus asa, tapi disisi lain dia berkata bahwa dia tidak putus asa. Inilah kebenaran Firman Tuhan, bahwa dalam diri manusia lahiriah kita ada keputusasaan. Setiap kita pasti pernah mengalami putus asa. Tapi orang di sekeliling kita tidak mau tahu, mereka hanya tahu kita adalah orang yang kuat dan tangguh.
Ketika ada orang yang curhat dengan kita, jadilah pendengar yang baik. Adakalanya, ketika ada orang yang curhat kepada kita, dia tidak mengharapkan kita berbicara banyak, ia hanya butuh kita dengar dan mengerti dan ingin dipahami. Tetapi karena terbiasa menjawab setiap keluhan dan curhatan orang lain, akhirnya munculah kata nasihat: “Anda harus begini!”, Anda harus begitu!”, Anda harus…!”, Anda harus…! Dan akhirnya muncul kata-kata penghakiman. Kita harus menyadari bahwa tidak semua masalah langsung ada jalan keluar pada saat itu juga.
II Korintus 4:8 “Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa.”
Setiap orang percaya akan dibawa masuk ke dalam pengalaman putus asa. Itu adalah saat-saat yang berbahaya. Secara rohani ini adalah kesempatan bagi kita untuk menemukan Tuhan, karena kita sudah kehabisan akal. Kitab Mazmur berkata: “Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu.” Mazmur 119:71
Hal ini tidak berarti kita mencari-cari masalah tapi dalam menjalani hidup sebagai orang percaya, suatu saat kita akan diperhadapkan oleh suatu persoalan yang kita tidak bisa analisa dengan akal logika kita (habis akal). Berusahalah mengetahui kehendak Allah dalam keputusasaan.
Setelah pernah berkata bahwa ia putus ada dalam pelayanannya, Paulus bisa berkata kembali bahwa ia habis akal tapi ia tidak putus asa. Mengapa bisa demikian? Karena dalam keputusasaannya, ia menemukan kehendak Tuhan. Ingatlah! Jalan buntu bagi dunia adalah keputusasaan, tapi jalan buntu bagi orang percaya adalah memperbarui komitmen diri di hadapan Allah.Tidak ada masalah yang tidak dapat diselesaikan bersama Tuhan. Buatlah diri kita setegar-tegarnya di hadapan Iblis dan buatlah diri kita tidak berdaya di hadapan Allah, maka Ia akan bertindak bagi kita.
YESUS
Apakah Yesus juga pernah mengalami kondisi putus asa?

Markus 14:32-33 “Lalu sampailah Yesus dan murid-murid-Nya ke suatu tempat yang bernama Getsemani. Kata Yesus kepada murid-murid-Nya: “Duduklah di sini, sementara Aku berdoa.” Dan Ia membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes serta-Nya. Ia sangat takut dan gentar.”

Yesus ketika berada di dunia keberadaannya adalah 100% Allah, juga 100% manusia. Alkitab jujur bahwa dalam kemanusiaanNya dikatakan bahwa Yesus takut dan gentar karena pada saat itu Ia akan segera disalibkan dan dibunuh.

Markus 14:34-35 “lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah. Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin, saat itu lalu dari pada-Nya. Kata-Nya: “Ya Abba, ya Bapa, tidak ada yang mustahil bagi-Mu, ambillah cawan ini dari pada-Ku, tetapi janganlah apa yang Aku kehendaki, melainkan apa yang Engkau kehendaki”.”

Inilah pergumulan Yesus pada saat itu. Pergumulan itu sangat menyiksa dan menekan Yesus. Pergumulan yang sangat sengit yaitu antara kehendak sendiri dan kehendak Bapa. Ini kadang yang terjadi pada kita, dimana kehendak sendiri harus takluk pada kehendak Bapa. Mujizat memang masih berlaku, tapi kita tidak bisa memaksakan kehendak kita pada kedaulatan Tuhan.

Efesus 5:17 “Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.”
Kita harus terus melatih diri untuk mengerti kehendak Tuhan. Filosofi dunia mengatakan bahwa pengalaman adalah guru yang berharga dan lebih baik belajar dari pengalaman orang lain daripada harus menimpa kita.
Sebagai orang percaya, meskipun dalam diri kita ada kehendak diri yang merupakan bagian dari jiwa kita, tapi Tuhan juga sudah menaruh kehendak-Nya dalam roh kita (bukan jiwa kita) agar supaya kita tidak sulit dalam menemukan kehendak Tuhan bagi kita. Kita harus melatih diri menaklukan diri kita dalam kehendak roh kita. Selama kita tidak melatihnya, kita tidak akan mungkin mendapatkan kehendak Tuhan. Firman Tuhan bukanlah pengetahuan bagi jiwani. Iman datang dari mendengar Firman Tuhan. Kekuatan Allah ada pada iman percaya kita.
Disinilah kita menemukan bagiamana proses yang terjadi dalam menaklukkan unsur jiwani kita pada roh kita yang sudah taruh dalam iman kita.

Apa yang menjadi kehendak kita? Ingatlah bawah ada banyak kehendak Tuhan yang sudah Ia taruh dalam roh kita. Jangan membuat roh kita terpuruk oleh persoalan, sehingga semua keberadaan kita tersita pada persoalan itu. Jangan pernah berharap persoalan kita akan selesai jika kita belum membawa diri kita yang punya persoalan. Jangan bawa persoalan kita pada Tuhan. Tuhan tidak pernah berurusan dengan persoalan kita, Dia hanya berurusan dengan kita.
Sayapun pernah punya pengalaman dimana saya harus bergumul dalam doa semalam suntuk semalam 3 bulan berturut-turut. Setiap orang percaya akan dibawa masuk dalam pengalaman keputusasaan.
Markus 14:37 “Setelah itu Ia datang kembali, dan mendapati ketiganya sedang tidur. Dan Ia berkata kepada Petrus: “Simon, sedang tidurkah engkau? Tidakkah engkau sanggup berjaga-jaga satu jam?

Dalam menghadapi pergumulan, terkadang kita butuh seseorang untuk menemani kita. Tapi terkadang juga orang di sekitar kita tidak bisa membri perhatian seperti yang kita harapkan.

Markus 14:39 “Lalu Ia pergi lagi dan mengucapkan doa yang itu juga.”

Pergumulan Yesus yang sangat sengit, yaitu kehendak-Nya sendiri atau kehendak Bapa di Surga. Tapi Yesus tetap taat menaklukkan kehendak diri-Nya karena Dia tahu kehendak Bapa-lah yang terbaik.
Kembali pada diri kita masing-masing untuk belajar mengerti kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan dapat kita temukan di saat kita mengalami keputusasaan, di saat kita tidak mampu menghadapi dan menjawabnya. Jangan pernah membuat keputusan sebelum menemukan kehendak Tuhan.

By. Pdt. RF Martino